#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Closing #5

Doing Justice in the Public Square

Penulis mengajak pembaca untuk terlebih dahulu melihat konteks public square di zaman modern di mana definisi keadilan sudah hampir rusak sama sekali. Pemahaman orang akan ‘kebebasan/kemerdekaan’ berbeda-beda. Makanya ada para ahli yang mengatakan bahwa ‘freedom is an empty concept’ seperti Klarman dan Peter Westen dari Harvard Law School. “We all agree that freedom should be curtailed if it harms people, but we can’t agree on what harm is, because we have different views of what healthy, flourishing human life looks like.” 

Ada 3 pandangan utama tentang keadilan menurut Sandel: maximizing welfare (greatest good to the greatest number of people), respecting freedom (menghargai pilihan hidup individu-individu) dan promoting virtue (adil adalah bertindak sesuai moralitas dan kebajikan). Kenapa sih ada macam-macam hambatan untuk mewujudkan keadilan? Karena ternyata di balik setiap pengertian tersebut terdapat asumsi-asumsi iman yang religius tetapi jarang diakui. Ini yang banyak diungkapkan oleh para profesor dan filsuf. Contohnya terkait martabat manusia. Tidak ada penemuan sains yang dapat membuktikan hal tersebut. Sehingga penegakan keadilan berdasarkan martabat manusia adalah kebodohan karena sebetulnya itu asumsi iman berdasarkan kepercayaan tertentu. “The rules of secular discourse led us to smuggle moral value judgments into our reasoning about justice without admitting it to others or even to ourselves. And so the deeper discussions over the true points of difference never happen.”

Sandel says, justice is always judgmental. Di balik setiap hal yang berkaitan dengan keadilan adalah asumsi-asumsi yang secara esensial religius dan dilarang untuk didiskusikan, serta karena itulah masyarakat tetap berada di deadlock terhadap isu-isu tersebut. We can’t agree on what justice is because we can’t talk about our underlying beliefs.

Kemudian penulis memberikan pembaca cara pandang yang tepat dalam menghadapi pelbagai perbedaan tentang asumsi-asumsi atas keadilan yang akan mereka temukan di ruang-ruang publik dan menjadi diskusi mendalam. Orang percaya harus melihat bahwa karena adanya kasih karunia umum dari Allah kepada tiap-tiap manusia ciptaan-Nya, maka mereka perlu rendah hati untuk mempertimbangkan beragam cara pandang terhadap keadilan. Cara-cara pandang tersebut sebagiannya benar. Namun perlu juga menantang dengan penuh hormat karena sebagiannya lagi salah di luar hikmat dari Injil.

Memang di dalam realitasnya, justice is inescapably judgmental. Setiap diskusi tentang keadilan menghilangkan referensi apapun ke moralitas dan kepercayaan agama sehingga kita tidak bisa berbicara tentang kenapa kita berpikir sesuatu itu benar dan adil. Ini berbahaya dalam jangka panjang bagi masyarakat. Liberal neutrality sebenarnya adalah suatu kemustahilan dalam mewujudkan keadilan. Sandel berkata, “justice is not only about the right way to distribute things. It is also about the right way to value things.”–dan untuk itulah akan selalu berdasarkan pada keyakinan-keyakinan akan tujuan hidup, natur manusia, benar dan salah—dan semuanya adalah moral dan religius.

Filsuf Yunani berkata kalau tidak tahu tujuan sesuatu, nggak akan bisa membuat judgment yang tepat apakah sesuatu itu baik atau buruk. Bagaimana caranya menentukan mana sikap/perilaku yang baik atau buruk dari manusia? Aristoteles dan pengikutnya menjawab: kalau kamu nggak tahu untuk apa manusia ada, maka kamu nggak akan bisa menjawab hal tersebut.

Penulis memberikan contoh tentang hak asasi manusia. Banyak yang mengatakan bahwa ide/concern terhadap hak asasi manusia muncul oleh pemikir-pemikir Enlightenment seperti Hobbes dan Locke. Padahal, menurut Brian Tierney dari Cornell University, kekristenanlah yang pertama kali memulai pemikiran tersebut; mengakar secara khusus dalam doktrin kristiani bahwa seluruh manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, dan karena itu memiliki martabat pada dirinya sendiri. 

Penulis menyebutkan pandangan Stephen Hawking, Stephen Pinker, dan John Gray, yang berkata bahwa tidak ada dasar yang netral dan ilmiah untuk menunjukkan bahwa manusia tanpa memandang apapun, memiliki nilai pada dirinya sendiri. Menurut mereka dan para filsuf ateis serta agnostik lain, konsep tentang hak asasi manusia menuntut adanya dimensi religius. Akan ada perbedaan besar terhadap bagaimana kita hidup di tengah-tengah dunia ini jika kita melihat manusia sebagai makhluk yang kehadirannya sekadar ‘accidental’  dibanding dengan karena dia merupakan ciptaan mulia dan pemberian dari Allah. 

Penulis menutup bagian ini dengan penegasan bahwa manusia harus mulai lagi berbicara tentang keyakinan moral serta kepercayaannya secara publik. Memang betul bahwa aturan-aturan sekuler tidak mengizinkan pembicaraan seperti itu terjadi karena ketakutan akan adanya pertentangan tanpa akhir. Padahal kita sesungguhnya sudah berada di pertentangan tanpa akhir tersebut dengan mempercayai bahwa kita bisa bersikap netral terhadap hal-hal moral dan religius.

“The pursuit of justice in society is never morally neutral but is always based on understandings of reality that are essentially religious in nature. Christians should not be strident and condemning in their language or attitude, but neither should they be silent about the biblical roots of their passion for justice.”

Peace, Beauty, and Justice

Penulis memulai bagian ini dengan menjelaskan bahwa pandangan Alkitab tentang keadilan adalah komprehensif dan praktikal, tinggi dan menakjubkan. Sebab keadilan berkaitan dengan apa yang Allah sedang lakukan di dalam sejarah. Dia membawa pembaca kembali ke tujuan Allah untuk memperdamaikan manusia dengan diri-Nya–dan dengan demikian memperdamaikan segala sesuatu dengan-Nya. Allah sedang membawa setiap hal di bumi dan di surga kepada Kristus (Kolose 1:20; Efesus 1:10). Karena itu dia mengawali dengan melihat The Artwork of God sejak penciptaan. Berbeda dengan kisah penciptaan berdasarkan mitos-mitos yang ada yang mengatakan bahwa alam semesta ini merupakan hasil dari konflik dan perebutan kekuasaan, Alkitab menunjukkan kisah penciptaan sebagai karya Allah tanpa satu pun pesaing. God is a craftsman, an artist. 

Penulis menggambarkan alam semesta ciptaan Allah dengan 2 gambaran: rumah/kediaman dan pakaian. Kedua gambaran ini merujuk pada apa yang Alkitab nyatakan ketika Allah menyebut alam ciptaan-Nya. Sebuah rumah karena ada fondasi/dasar dan dibangun bukan hanya sebagai tempat tinggal manusia melainkan juga kediaman Allah (Yesaya 66:1). Di dalam kitab Mazmur dikatakan bahwa ketika Allah menciptakan dunia ini, harus ada dasarnya, sama seperti rumah. Dasar tersebut ialah kebenaran dan keadilan. Melalui gambaran ini, dia menjelaskan bahwa karya penciptaan menunjukkan Allah yang menyusun hal-hal yang tadinya tidak beraturan, sama seperti ketika seseorang ingin membangun sebuah rumah dengan menempatkan segala alat dan bahan yang diperlukan agar tersusun dengan rapi dan kokoh. 

Demikian juga dengan pakaian sebagai gambaran kedua dari penulis. Alkitab sering menyebutkan bahwa laut, awan-awan, langit yang terang, dan segala kekuatan alam sebagai pakaian yang ditenun dan sekarang dikenakan oleh Allah. Penulis juga menyoroti tentang pentingnya relasi/kebergantungan melalui penggambaran ini. Sama seperti pakaian yang tercipta karena benang-benang dan seluruh material yang terjalin dengan rapi, demikian juga seluruh ciptaan. Jalinan inilah yang disebut Alkitab dengan shalom atau harmonous peace. 

Kata ‘shalom’ biasanya hanya diartikan sebagai ‘peace’ atau ‘damai sejahtera’. Tetapi makna sesungguhnya lebih daripada itu. “It means complete reconciliation, a state of the fullest flourishing in every dimension–physical, emotional, social, and spiritual–because all relationships are right, perfect, and filled with joy. 

Namun dunia telah kehilangan shalom karena relasi yang rusak dengan Allah. Dengan demikian semakin jelaslah definisi ‘justice’menurut Alkitab. Secara umum, melakukan keadilan adalah hidup dengan cara yang akan memperkuat komunitas di mana manusia akan terus berkembang. Secara khusus, melakukan keadilan berarti pergi ke tempat-tempat di mana jalinan damai sejahtera tersebut telah rusak, ke tempat di mana orang-orang yang paling lemah di masyarakat berada, dan berusaha memperbaikinya. Penulis berkata bahwa hal ini dapat terjadi jika kita fokus dan memenuhi kebutuhan orang-orang miskin. Bagaimana caranya? Ini yang saya juga tidak sanggup untuk terjemahkan. 

“The only way to reweave and strengthen the fabric is by weaving yourself into it. Reweaving shalom means to sacrificially thread, lace, and press your time, goods, power, and resources into the lives and needs of others. The strong must disadvantage themselves for the weak, the majority for the minority, or the community frays and the fabric breaks.”

Selanjutnya, penulis menjelaskan tentang Justice and Beauty dengan melihat pendapat dari 2 tokoh: Elaine Scarry dan Jonathan Edwards. Scarry berkata di dalam tulisannya ‘On Beauty and on Being Just’ bahwa keindahan dapat membawa manusia pada hidup yang lebih adil. Dia berargumen ada 2 hal yang terjadi jika seseorang melihat sesuatu yang indah yakni 1) tergerak untuk membagikan hal tersebut kepada orang lain dan 2) berhenti fokus terhadap dirinya dan mulai mengalihkan perhatian dari dirinya kepada hal lain. Scarry sendiri mendasarkan argumen kedua tersebut pada pendapat Iris Murdoch yang berkata bahwa ada seseorang yang tadinya diliputi oleh anxiety dan self-pity, namun emosinya berubah ketika dia melihat ke luar jendela dan menemukan burung-burung berterbangan dengan indah. 

Jonathan Edwards di dalam bukunya, ‘The Nature of True Virtue’, mengatakan bahwa, “human beings will only be drawn out of themselves into unselfish acts to others when they see God as supremely beautiful.” 

Berdasarkan kedua hal ini maka penulis melihat bahwa akan ada hambatan yang besar dalam melakukan keadilan yang tidak dapat dihilangkan serta merta melalui pendidikan, argumen, dan bahkan persuasi. “It takes an experience of beauty to knock out of our self-centeredness and induce us to become just”, katanya. Keindahan itulah yang ditunjukkan melalui kasih karunia dan kemurahan Allah di dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus—sekalipun di dalam gugurnya keadilan pada persidangan-Nya di Sanhedrin.

In all these ways, Jesus identifies with the millions of nameless people who have been wrongfully imprisoned, robbed of their possessions, tortured, and slaughtered. Yesus Kristus sangat tahu apa artinya menjadi korban atas ketidakadilan dan adanya sistem yang rusak, dan bahkan dibunuh karenanya. Penulis mengutip John Stott yang berkata, “I could never see myself believe in God if it were not for the Cross. In the real world of pain, how could one worship a god who was immune to it?”

Ayat penutup:

Matius 25:35-40:

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

“He not only became one of the actually poor and marginalized, but he also stood in the place of all of us in spiritual poverty and bankruptcy (Mat 5:3) and paid our debt. Now that is a thing of beauty. To take that into the center of your heart will make you one of the just. A life poured out in doing justice for the poor is the inevitable sign of any real, true gospel faith.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s