#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Justice in the Old and New Testament #3

Kekristenan memiliki kitab yang secara konsisten menunjukkan bahwa Allah sangat mencintai keadilan sosial. Beberapa peraturan yang disampaikan di dalam firman-Nya justru bertujuan untuk menghasilkan suatu komunitas yang adil. Perhatian-Nya sangat serius terhadap hal ini sehingga jika firman tersebut dipegang dan dilakukan oleh manusia yang menerimanya, maka jumlah kelompok-kelompok rentan pun akan berangsur-angsur berkurang. Tidak akan ada kemiskinan yang berkepanjangan di tengah-tengah mereka karena Allah menyediakan hukum yang berisi kewajiban-kewajiban tertentu untuk memenuhi hak-hak tertentu di pihak lain. Contoh: hukum tentang memungut hasil tuaian (Imamat 19:9-10), hukum tentang perpuluhan (Ulangan 14:28), dan tahun Yobel (Imamat 25:8-55).

Berbicara tentang kemiskinan yang merupakan fokus sasaran penulis di dalam buku ini, ia merujuk ke Alkitab untuk melihat apa saja yang menjadi penyebabnya. Faktornya bermacam-macam, antara lain: penindasan, bencana, dan kegagalan moral pribadi. Ketiganya pun saling berkaitan. Beragamnya faktor penyebab kemiskinan ini sering membuat kita skeptis untuk mempedulikan dan memperhatikan mereka. Kita mungkin akan berkelit, “itu kan kesalahannya!” atau, “bagaimana kalau dia menyalahgunakan pertolongan yang kita berikan?”, dan sebagainya. 

Karena itulah, penulis meyakinkan pembaca bahwa mustahil memang mencari dorongan yang kuat dari dalam diri untuk tetap membantu orang-orang miskin jika percaya bahwa itulah yang harus dilakukan untuk mewujudkan keadilan sosial. Hal yang sama juga terjadi jika kita berusaha menilai layak/tidak layaknya mereka yang miskin menerima pertolongan kita berdasarkan siapa diri mereka dan apa yang telah mereka lakukan di dalam hidupnya—khusunya yang mungkin menyebabkan kemiskinan itu menimpa mereka.

Dengan demikian, jawabannya tidak terletak di dalam diri kita yang skeptis maupun pada mereka yang mungkin saja bersalah dan mendatangkan kemiskinan tersebut. Jawabannya ada di dalam kasih karunia Kristus. Itulah kunci dari segalanya. Sama seperti apa yang dicatat dalam Imamat 5:11-13, bukan kurban terbaik kita yang membuat Allah mengampuni dosa, melainkan kemurahan hati-Nya. Di dalam keadilan-Nya, Ia bermurah hati agar orang-orang miskin dapat tetap datang ke hadapan-Nya. Karena itulah, mereka yang miskin pun sama diterimanya di hadapan Allah dengan mereka yang kaya. Sehingga, jika Allah saja berlaku demikian terhadap manusia, masakan kita tidak? Kemurahan hati Allah, betapa cuma-cumanya keselamatan dari-Nya, itulah yang membangun dasar bagi perwujudan keadilan bagi seluruh masyarakat, securiga apa pun kita.

Bukan hanya di dalam perjanjian lama, di dalam perjanjian baru pun kita melihat dengan jelas betapa pedulinya Allah terhadap orang-orang yang rentan dan lemah. He really has an intense interest in and love for the same kinds of vulnerable people (Matius 11:4-5). Kesimpulan terbaik untuk menjelaskan hal tersebut dapat kita lihat dari perkataan Rasul Paulus di dalam Kisah Para Rasul 20:35, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

Masih berkaitan dengan upaya menjawab beberapa keengganan manusia untuk memperhatikan orang miskin, penulis mengajak pembaca untuk memikirkan ulang siapa yang mereka sebut sebagai sesama manusia—karena itulah ajaran yang sangat sentral di dalam kekristenan (kasihilah sesamamu manusia). Penulis menyarankan untuk melihat perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati untuk mengetahui siapa yang menjadi sesama kita manusia. 

Melalui perumpamaan tersebut Yesus menunjukkan kepada ahli Taurat hidup seperti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah (what kind of perfect righteousness) sehingga ia akan melihat bahwa ia tidak akan berdaya untuk memenuhi hukum tersebut dengan kekuatannya sendiri. Ketika ahli Taurat itu mencoba membenarkan dirinya, dia kemudian bertanya, “siapakah sesamaku manusia?”. Maksudnya ialah untuk mengetahui apakah dia bisa memenuhi hukum tersebut dengan semakin spesifik. Yesus menjawab pertanyaan itu dengan mengisahkan bagaimana orang Samaria tersebut menolong orang Yahudi yang sedang sekarat di tengah jalan. Dia memenuhi kebutuhan yang riil diperlukan oleh orang tersebut pada saat itu. 

Melalui perumpamaan ini Yesus ingin menegaskan bahwa tidak ada batasan apa pun untuk menunjukkan siapa yang menjadi sesama kita manusia. Tidak ada syarat agama, suku, ras, atau apapun untuk menyatakan belas kasih kepada manusia. Ini penting untuk dipahami karena manusia seringkali membuat batasannya sendiri tentang bagaimana menolong orang miskin atau yang membutuhkan. Ada yang sering menolak memberikan bantuan kepada mereka karena merasa mereka belum semiskin atau semenderita itu. Tetapi kenapa kita harus menunggu sampai orang semenderita itu baru kita menolong mereka? Berikutnya, kita tidak mau menolong orang lain tanpa membebani diri kita sendiri. Kita juga hanya ingin menolong orang miskin yang baik moralitasnya serta yang bukan mengalami kemiskinan ini karena kesalahan atau kebodohannya sendiri. Namun hal seperti ini sangat sulit untuk ditemukan mengingat penyebab kemiskinan itu ada banyak dan saling berkaitan satu sama lain. 

Penulis merujuk pada cara Jonathan Edwards menjawab beberapa penolakan di atas di mana Edwards menjadikan Injil sebagai dasar jawabannya“Christ loved us and was kind to us and was willing to relieve us, though we were very hateful persons, of an evil disposition, not deserving of any good… so we should be willing to be kind to those who are… very undeserving.”

Manusia perlu terlebih dahulu menerima belas kasih yang seperti itu agar dia dapat mengasihi sesamanya manusia tanpa batasan apapun. Hanya ketika kita melihat bahwa kita telah diselamatkan oleh kasih karunia yang begitu besar dari Kristuslah kita dapat melakukannya. 

Once we receive this ultimate, radical neighbor-love through Jesus, we can start to be the neighbors that the Bible calls us to be.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s