#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Why and How Should We Do Justice? #4

Why Should We Do Justice?

Alasan manusia untuk melakukan keadilan ialah kasih karunia Kristus. Itulah yang mengubah sikap serta motivasi manusia bahkan sebelum manusia itu berjumpa dengan kasus nyata. Bagi penulis, motivasi adalah hal yang krusial. Karena kebanyakan masalah yang ada di masyarakat bukanlah persoalan tahu/tidak tahu atau percaya/tidak percaya bahwa mereka perlu berbelas kasih secara khusus kepada orang miskin/yang membutuhkan. Persoalannya adalah mereka tidak memiliki motivasi yang cukup dan tepat untuk melakukannya. 

Salah satu alasannya adalah karena kita hidup di dunia yang menjunjung tinggi relativisme. Sulit bagi kita untuk berkata bahwa seseorang harus melakukan ini dan itu berdasarkan sebuah standar kebenaran yang kita percaya. Alhasil, kita mencoba mendorong manusia untuk berbuat baik hanya berdasarkan alasan-alasan superfisial dan praktis. Faktanya, hal itu tidak pernah cukup untuk memotivasi seseorang. 

Penulis berkata bahwa Alkitab memberikan orang percaya 2 motivasi mendasar untuk melakukan keadilan yakni kekaguman yang penuh sukacita atas kebaikan ciptaan Allah dan pengalaman akan kasih karunia di dalam penebusan Allah. Melihat kembali kepada karya penciptaan Allah yang menciptakan manusia seturut gambar dan rupa Allah memberikan kita alasan untuk memperlakukan setiap manusia sebagai pribadi yang bermartabat. 

“So, we must treasure each and every human being as a way of showing due respect for the majesty of their owner and Creator.”

Ada 1 kutipan yang tidak sanggup saya terjemahkan ke Bahasa Indonesia, mengingat saya tidak ingin kehilangan kepenuhan dan kesungguhan makna aslinya. Kali ini berbicara tentang gambar Allah dan hak asasi manusia. Berikut saya kutip langsung:

“The load, or weight, or burden of my neighbor’s glory should be laid daily on my back, a load so heavy that only humility can carry it, and the backs of the proud will be broken… This does not mean that we are to be perpetually solemn. We must play. But our merriment must be of that kind (and it is, in fact, the merriest kind) which exists between people who have, from the outset, taken each other seriously–no flippancy, no superiority, no presumption. And our charity must be a real and costly love, with deep feeling for the sins despite which we love the sinner–no mere tolerance or indulgence which parodies love as flippancy parodies merriment…”

Selain itu penulis juga mengajak pembaca untuk melihat bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan. Kita bukan pemilik, melainkan pengelola. Karena itu orang yang adil akan hidup bermurah hati kepada sesamanya/komunitasnya. 

A lack of generosity refuses to acknowledge that your assets are not really yours, but God’s. Therefore, if you have been assigned the goods of this world by God and you don’t share them with others, it isn’t just stinginess, it’s injustice.”

Melalui ayat-ayat di dalam Ulangan 10:16-19 kita melihat bahwa hidup yang memenuhi kebutuhan para yatim, janda, serta pendatang yang miskin adalah tanda relasi Israel sebagai umat Allah dengan Allah. Grace should make you just. Hal yang sama juga tercermin dalam Yakobus 2:15-16 bahwa, “…life poured out in deeds of service to the poor is the inevitable sign of any real, true, justifying, gospel-faith. Grace makes you just. If you are not just, you’ve not truly been justified by faith.”

Beberapa perubahan cara pandang akan terjadi di dalam diri orang-orang yang mengalami pembenaran Allah melalui kasih karunia di dalam Injil, di antaranya:

  1. A higher view of God’s law. People who believe strongly in the doctrine of justification by faith alone will have this high regard for God’s law and justice. They will be passionate about seeing God’s justice honored in the world.
  2. A new attitude towards the poor, dan
  3. A new attitude for the poor.

Penulis meyakini bahwa sebetulnya concern terhadap orang miskin dan terlantar seperti ini sedang ‘tertidur’ di dalam hati setiap orang percaya. Dia berkata bahwa tampaknya kesalahannya terletak pada para pendeta dan pemimpin-pemimpin rohani yang merasa sanggup membangunkan kesadaran masyarakat akan perlunya keadilan melalui cara-cara yang dunia ini lakukan yakni guilt atau menimbulkan rasa bersalah di dalam diri orang percaya. Sebab, manusia memiliki mekanisme pertahanan diri terhadap pendekatan seperti itu. Karena itu jika keadilan bagi orang miskin dikaitkan dengan kasih karunia dan Injil, maka kesadaran tersebut pun dapat dibangunkan. 

How Should We Do Justice? 

Pertama: selalu memikirkan keadilan (Ayub 29:14). Allah tidak ingin kita sekadar memberikan bantuan kepada orang miskin, melainkan merenungkan dan berpikir sedemikian rupa tentang bagaimana memperbaiki keadaan mereka seutuhnya. 

Kedua: memahami bahwa ada tingkatan-tingkatan pertolongan yang perlu kita perjuangkan bersama-sama (levels of help): 

  1. Reliefbantuan langsung yang sesuai dengan kebutuhan fisik, materi, maupun ekonomi. 
  2. Development: membawa mereka yang dibantu berpindah dari dependency ke self-sufficiency. Artinya, orang-orang yang berada di dalam komunitas yang dibantu haruslah menjadi pelaku utama dari perubahan yang diinginkan. Orang-orang yang bertempat tinggal di komunitas tersebut haruslah menjadi tempat analisis dan perencanaan utama dari perubahaan yang diinginkan dan mereka memiliki kendali atas jenis dan kecepatan perubahan yang akan mempengaruhi mereka, keluarganya, kehidupan pribadi, serta perekonomiannya. 
  3. Social reform: jenis pertolongan ini bergerak dari relief dan development kepada suatu perubahan kondisi dan struktur sosial yang dapat menyebabkan kebergantungan awal. Pendekatan ini lebih dari sekadar menolong individu per individu. Pendekatan ini betul-betul menargetkan perubahan kehidupan sosial dan institusi-instusi di dalamnya. Bahkan dalam beberapa kasus, ini juga berarti mengubah hukum yang berlaku. 

Penulis kemudian mencoba melihat isu tentang pemberitaan Injil dan melakukan keadilan sosial yang seringkali dipandang secara terpisah oleh gereja. Ada yang mengatakan bahwa gereja melakukan keadilan sosial sebagai alat untuk pemberitaan Injil. Hal ini tidak sesuai dengan firman Tuhan terutama yang telah diumpamakan melalui kisah orang Samaria yang murah hati. Sebab, itu berarti kita melakukan keadilan karena ada maksud tertentu yakni menambah jumlah orang percaya. Padahal, pada intinya, perumpamaan tersebut sedang menunjukkan bahwa berlaku adillah dengan kemurahan hati tanpa menuntut balas. Di sisi lain ada juga yang berpikir bahwa usaha-usaha melakukan keadilan sosial itu sendiri adalah pemberitaan Injil. Ini jelas sekali pemikiran yang fatal. Karena itu penulis mengusulkan pendekatan yang berbeda, yakni dengan melihat bahwa penginjilan dan keadilan sosial harus ada dalam keterkaitan yang meski tidak simetris namun tidak terpisahkan. Apa maksudnya?

Penginjilan ialah pelayanan yang paling mendasar dan radikal terhadap umat manusia. Bukan karena spiritual lebih penting daripada fisik, melainkan karena yang kekal lebih penting daripada yang sementara. Sebab, jika benar ada Allah dan jika hidup bersama-Nya di dalam kekekalan didasarkan pada relasi dengan-Nya, maka, hal yang paling penuh kasih yang dapat dilakukan seseorang kepada sesamanya ialah menolongnya melihat kepada iman yang menyelamatkan di dalam Allah yang demikian, yakni Yesus Kristus. 

Namun sebagaimana yang telah kita lihat, melakukan keadilan tidak terpisahkan dengan memberitakan kasih karunia. Karena kasih karunia itulah yang menghasilkan kepedulian terhadap orang miskin, dan keadilan sosial yang diperjuangkan oleh seseorang berarti akan memberikan kredibilitas terhadap pemberitaan Injil tersebut. 

In other words, justification by faith leads to doing justice, and doing justice can make many seek to be justified by faith.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s