Persembahan Seorang Janda: Kemurahan Hati yang Melampaui Perpuluhan

poor-widow
Source: Pinterest

Saya hampir lupa kapan terakhir kali sharing hasil Pendalaman Alkitab tentang Tokoh Perempuan dalam Perjanjian Baru yang masih tersisa 7 bab lagi ini. Saya tidak tahu apakah saya harus minta maaf karena penundaan ini (seperti yang biasa dilakukan oleh beauty vlogger favorit saya kepada followers atau subscribers-nya) atau berhenti sok-sok terkenal dan langsung saja memulai sharing-nya.

Kalau begitu, saya meminta maaf sama diri sendiri saja karena sudah menunda-nunda pekerjaan baik ini.

Maafin ya, Beth.

Oke, Beth!


Baca Markus 12:38-44.

Cerita tentang Persembahan Janda Miskin adalah salah satu kisah yang sangat terkenal dalam kehidupan kekristenan umat manusia. Saya mendengarnya untuk pertama kali ketika saya masih sangat cilik dan belum gendut, tepatnya ketika saya berusia sekitar 7 tahun. Waktu itu saya merasa kagum ketika Tuhan Yesus memuji sikap si janda miskin dalam memberikan persembahannya–yang sempat membuat saya juga merasa bangga hanya dengan memberi 2 keping uang logam 100 rupiah (ceritanya saya sotoy itu sama dengan 2 peser di kisah Alkitab ini, huft) sewaktu sekolah minggu pada saat itu. Namanya juga anak kecil.

Malam ini saya mau share prinsip apa yang sebenarnya terdapat pada sikap janda miskin tersebut. Sebelum itu, bagi kalian semua yang lagi main ke blog ini, silakan ambil posisi paling enak, ambil cemilannya, ambil Alkitabnya, kemudian ambil buluh sebatang… potong sama panjang, raut dan ikat dengan benang, eh kok kita jadi main layang-layang ya…?

#maaf


Coba ingat dan renungkan kembali suatu waktu ketika seseorang yang kelihatannya lebih membutuhkan daripada kita (secara emosi, kerohanian, fisik, atau bahkan keuangan), tetapi sangat bermurah hati kepada kita! 


Pendalaman Alkitab ini dimulai dengan nasihat Yesus untuk berhati-hati terhadap para ahli Taurat. Ahli Taurat yang bagaimana? Mereka adalah para ahli Taurat yang:

  • suka berjalan-jalan memakai jubah panjang (ih kebayang deh, ini pasti jalannya sambil ngeletakin kedua tangan di belakang badan, lalu langkahnya pelan-pelan biar berwibawa gitu, terus tatapannya angkuh berasa abis juara olimpiade);
  • suka menerima penghormatan di pasar (lah yang begini pasti yang nunggu-nunggu disapa gitu deh, ngga mau nyapa duluan, pura-pura main hape);
  • suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan (bangku yang berada di depan tabut yang berisi gulungan, dan ((karena bangkunya menghadap ke orang-orang)) merupakan lokasi yang sangat diinginkan kalau memang mau dilihat orang);
  • menelan rumah janda-janda (maksudnya menggasak/mengganyang rumah janda-janda. Bagian ini mau ngejelasin bahwa selain sikap angkuh dan pamer di atas, ternyata moralitas mereka juga rusak);
  • mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang (salah satu penafsir berkata bahwa mereka pura-pura doa panjang-panjang supaya dikira sangat mengasihi Allah, padahal mereka kayak gitu supaya jemaat menyukai mereka).

Di bagian ini Tuhan Yesus mau mengingatkan bahwa para ahli Taurat tersebut tidak sedang memberikan teladan yang baik. Bukannya bertindak layaknya pelayan, mereka malah bertingkah seolah tuan. Motivasi mereka adalah kemuliaan diri mereka sendiri.

Membaca bagian ini membuat saya teringat akan bagian firman Tuhan yang lain dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi tentang nasihat untuk bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus:

“dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”

Filipi 2:3

Dengan melihat apa yang Yesus cela, kita dapat melihat nilai-nilai yang Yesus pegang. Dia berkata, mereka yang mencari status dan perhatian orang lain, melahap rumah janda-janda, dan berdoa hanya untuk pamer kerohanian, akan menerima hukuman yang lebih berat. Mereka menyukai kekuasaan, sementara Yesus menyalahkan sifat cinta kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan. Dia juga menyalahkan perbuatan pamer kesalehan mereka padahal dalam kenyataannya mereka menganiaya janda-janda. Kasihan banget ngga sih, para janda ini? Nggak heran kalau di dalam Alkitab, Tuhan sangat concern dengan nasib janda-janda; ternyata ada pihak-pihak yang memang memperlakukan mereka dengan tidak baik seperti para ahli Taurat ini.

Firman ini masih sangat relevan bagi dunia saat ini. Tidak terhitung sudah berapa kali kita sebenarnya sedang ‘berjalan-jalan memakai jubah panjang’ ala kita. Jubah panjang yang bisa berupa ambisi tidak sehat, perasaan benci tanpa alasan atas suatu hal, atau segala bentuk eksklusivisme yang kita bangun. Tidak terhitung sudah berapa kali kita mencari puji-pujian dari sesama kita dan merasa sangat ingin dihargai serta dipandang di masyarakat. Sadar atau tidak, jangan-jangan kita adalah ahli Taurat masa kini dengan beberapa penyesuaian terhadap budaya zaman saja. Ahli-ahli Taurat yang suka main Instagram dan Path, if you get what I mean. Untuk itu kita perlu memohon kepada Allah agar selalu sadar dan memercayai Dia untuk mengevaluasi motivasi kita yang salah. Rasa bertanggung jawab dan berdoa dengan orang lain dalam komunitas Kristen juga akan sangat menolong. Keterbukaan dan merasa hidup ini rapuh sama pentingnya dengan keinginan agar hidup kita termotivasi oleh nilai-nilai kekal Kerajaan Surga.

Terkait pesta demokrasi Jakarta yang sebentar lagi akan diadakan, saya rasa kita juga perlu mendoakan hal yang sama bagi calon gubernur yang akan memimpin ibukota negara ini ke depan. Kita perlu membangun awareness bahwa pilihan adalah bentuk keputusan yang diambil dalam kesadaran penuh–and that’s required pengenalan yang baik akan siapa yang kita pilih. Kita tentu tidak mau dipimpin oleh orang-orang yang cinta kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan, karena bukan masyarakat Jakarta yang akan dilayani, melainkan diri mereka sendiri. Kita juga perlu berdoa agar Tuhan menyatakan otoritas dan cinta-Nya untuk Jakarta dengan memberikan Jakarta pemimpin yang melayani rakyat dengan cara yang benar.

Selanjutnya kita membaca cerita tentang Yesus yang duduk di depan peti persembahan dan memerhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu; banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Di sinilah Yesus juga melihat janda miskin yang memasukkan 2 peser. Perempuan ini bukan hanya seorang janda, namun ia juga miskin. Mungkin itu terlihat jelas dari pakaiannya yang berbeda dengan orang-orang lain pada waktu itu–apalagi dari orang-orang kaya yang memberi banyak itu.

Berbeda dengan kita yang kalau kepo ngga tau mau diapakan hasil keponya, Yesus langsung memanggil murid-murid-Nya dan memberikan suatu pengajaran kepada mereka.

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Markus 12:43-44

Kisah ahli-ahli Taurat di atas dan janda yang miskin ini memiliki kesamaan. Dalam kisah yang pertama, kita melihat bagaimana para pemimpin yang seharusnya memberi perhatian bagi kebutuhan orang banyak dan memberikan diri untuk memenuhinya, malahan mengambil dari orang miskin untuk kekayaan pribadi dan lebih terobsesi dengan kekayaan, kekuasaan, dan jabatan daripada melayani. Dalam kisah janda ini, kita melihat bahwa perkara memberi berkaitan dengan kepemilikan harta pribadi. Kedua cerita ini berkaitan dengan memberi dan motivasi dalam memberi. Keduanya juga berkaitan dengan hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah, atau sebaliknya, menolak nilai-nilai tersebut. 

Salah satu artikel di desiringgod.com mengatakan:

One way to paraphrase this story would be to say, “The rich took no risk with their money for the cause of God, but the widow did.”

Now why did Jesus point this out? And why did Luke think the story important enough to record it for us? I think the reason is simple: Jesus wants his people to take risks with their money for the cause of God.

When we give our offerings, does it feel risky? 

Mungkin akan ada saat di mana memberi tidak membuat kita merasa ‘kesusahan’, tapi ada juga saat di mana ketika memberi rasanya sulit karena kita pun tidak punya banyak. Saya yakin saat ini Tuhan Yesus sedang mengajarkan sikap hati yang berani memberi dari keterbatasan kita–selama itu adalah apa yang kita miliki, tentunya.

Aplikasinya tidak hanya berkaitan dengan uang, uang, dan uang. Waktu juga bisa, misalnya.

Tahun 2016 adalah tahun di mana Tuhan menganugerahkan saya beberapa pelayanan yang membuat hampir semua weekends saya diisi dengan kegiatan pelayanan tersebut. Saya sangat bersyukur karena memang itulah yang saya doakan pada tahun 2015 ketika saya berada di penghujung tahun. Jujur saja, saya mengalami kelelahan dan ada beberapa hal yang belum bisa saya lakukan karena komitmen pelayanan tersebut. Itu sempat membuat saya berpikir apakah tahun ini saya masih akan mengambil kesempatan pelayanan demi pelayanan yang Tuhan sudah siapkan bagi saya atau tidak. Saya mempertimbangkan beberapa hal yang mostly berkaitan dengan karir dan cita-cita saya…

…sampai kemudian firman ini menampar saya–seolah sedang berkata bahwa saya sudah terlalu GR bahwa Tuhan masih akan mempercayakan pelayanan-Nya bagi saya, itu yang pertama–sehingga saya sok-sok-an langsung curi start untuk berpikir akankah saya mengambil kesempatan itu/tidak. Kedua, firman ini mengajarkan saya untuk memberi waktu saya bagi Tuhan, sekalipun rasanya itu beresiko bahwa saya akan kelelahan lagi dan sulit membagi waktu untuk mengejar cita-cita saya, dan bahkan keluarga saya. Tetapi harusnya saya melihatnya dari perspektif lain. Melayani adalah panggilan hidup setiap orang Kristen–dan melayani dalam pelayanan kristiani adalah panggilan dan janji saya kepada Tuhan jika Dia memberi saya kesempatan untuk berkuliah di UI. Saya tidak berniat untuk meninggalkan apa yang sudah menjadi bagian dari jiwa saya ini. Lalu apa? Hal yang saya harus pelajari adalah bagaimana menjadi perempuan yang berhikmat dalam hidup–khususnya dalam hal time and energy management. 

Saya percaya Tuhan tidak meminta apa yang tidak kita punya–kalau Dia meminta, dan itu yang kita imani, kita mesti percaya juga bahwa pasti ada sesuatu yang kita miliki untuk kita berikan. Maka dari itu, hal memberi dengan motivasi yang benar ini tidak pernah terlepas dari hal mengetahui kehendak Allah. Janda miskin tersebut tahu bahwa Allah mengkehendaki persembahan yang demikian–yang berangkat dari hati yang tulus dan keberserahan penuh kepada Allah (doi pasti yakin Allah akan mencukupkan dia, karena kalau ngga, pasti dia ngga akan mau ngasih dari kekurangannya), maka dia memberi. Dia tahu bahwa Allah yang memeliharanya adalah Pribadi yang murah hati, maka dia pun meneladani-Nya dengan juga bermurah hati. Sedangkan si ahli-ahli Taurat, memiliki banyak–setidaknya lebih banyak dari janda miskin ini, namun masih saja melahap bagian orang lain.


See? 

Giving is not just a state of mind–it’s an action. 

And to remind us, it’s more blessed to give than to receive. (Acts 20:35).

Selamat memberi dengan murah hati!

Perempuan yang Berbuat Dosa: Hati yang Diampuni

Hi!

Ketemu lagi bareng aku, Elisabeth, dalam acara…tralala-trililiiiiii~ *yeay *drum-roll *confetti *petasan *kembang api *tahu wakwaw

Tunggu.

Apa itu tadi?

Ah sudahlah~

Kali ini kita akan melanjutkan postingan belajar bersama dengan mempelajari kisah salah satu perempuan lain dalam Alkitab. Kita akan belajar dari Lukas 7:36-50. Kebalikan dari Herodias yang memilih dikungkung oleh kepahitan dan dosanya, ada seorang perempuan berdosa lain yang mencari dan menerima pengampunan dari Tuhan YesusYuk, dibaca dulu perikopnya! 🙂


Perempuan ini ditunjukkan sebagai seorang yang berdosa. Namanya Maria (Yohanes 12:3); apakah ini Maria saudara Marta, belum jelas demikian. Berdasarkan Injil Yohanes, peristiwa ini terjadi di Betania, tempat tinggal Lazarus, yang dibangkitkan Yesus dari kematian. Bagi kaum Farisi pada masa itu, seorang yang berdosa berarti seorang yang tidak melakukan hukum Tuhan dengan benar. Meski status sosial yang diberikan masyarakat padanya waktu itu adalah ‘orang berdosa’, Maria tidak malu untuk datang menghampiri Yesus begitu dia mendengar bahwa Yesus diundang makan di rumah Simon, orang Farisi, yang berpenyakit kusta itu (Matius 26:6). Sedangkan Simon, tampak sebagai orang yang lebih rohani dibanding perempuan ini, meski dia berpenyakit kusta. Tapi begitulah, kadang-kadang orang yang ‘dipandang rohani’ ternyata adalah orang yang paling tidak rohani dalam memandang orang lain.

Ketika mencoba menempatkan diri di posisi Maria, rasanya seperti berbeban berat banget sih. Kayak dapat serangan dari mana-mana; baik secara sosial (punya julukan sebagai si berdosa–hiy :(), secara budaya, secara psikologi, apalagi secara rohani. Rasanya kayak udah ngga layak bangetlah masuk sorga. Kayak neraka udah di depan mata (gosong dong). ‘Penderitaan’ yang dialami Zaskia Got*k karena salah sebut Pancasila jelas ngga sebanding dengan yang dirasakan Maria. Kalau aku jadi si perempuan ini… rasanya sulit untuk menunjukkan diri ke hadapan orang lain, apalagi harus sok-sok masuk ke rumah seorang Farisi tanpa diundang. Kalau kata Maudy Ayunda, tahu diri. Kalau pun memberanikan diri masuk ke rumahnya, aku rasa aku akan di pojokan aja deh…

Tapi Maria? Apa yang malah dilakukannya?

“Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.” (ayat 38)

Dia sudah mempersiapkan suatu pelayanan untuk Yesus. :’)

Tafsiran dalam SABDA mengatakan bahwa karena kasihnya kepada Yesus, perempuan ini membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Menangis dapat merupakan ungkapan kesedihan dan dukacita atau ungkapan kasih yang berterima kasih kepada Yesus. 

Catatan: Mari kita sama-sama langsung meletakkan kata ‘menangis’ pada tatanan ungkapan yang menunjukkan betapa seseorang begitu bersungguh-hati akan sesuatu, agar tidak perlu bias apakah ini tangisan buaya/tidak.

Tidak dituliskan dengan jelas apa yang membuat Maria sebegitunya kepada Yesus. Minyak wangi yang dipersiapkannya adalah minyak narwastu Murni yang mahal harganya (Markus 14:3). Namun tindakan Maria tersebut menunjukkan suatu sikap hati yang tunduk, hormat, dan penuh kasih kepada Yesus. Bandingin ajalah sama Simon sebagaimana yang dikatakan Yesus dalam perikop ini:

“Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku,  tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku  dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.”

  • Bagian barusan ini mengingatkan juga tentang bagaimana kita dalam menyambut kehadiran Yesus di dalam hati kita; apakah masih dengan sikap hati yang tunduk, hormat, serta penuh kasih? Ataukah sama kayak Simon, yang tidak melakukan apa-apa, tidak mempersiapkan “minyak narwastu murni yang mahal”–pelayanan terbaik–untuk Yesus? Bagian ini juga kembali mengingatkanku secara pribadi dalam pelayanan yang Tuhan percayakan kepadaku. Apakah karena sudah begitu sering melayani, lantas lupa memiliki sikap hati seperti Maria? Apakah karena merasa sudah diselamatkan, dan sudah ‘berjalan dalam hidup yang benar’ lantas lupa, betapa “seorang berdosa”-nya diri ini?

Respon yang hadir pada masa itu beragam-ragam. Simon, yang merasa tidak berdosa, lantas meragukan ke-Nabi-an Yesus dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” Dalam Injil Sinoptiknya yang lain juga dituliskan bahwa murid-murid menjadi gusar dan memarahi perempuan itu. Bahkan seorang murid yang bernama Yudas melontarkan keklisean masa itu dengan berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” (Yohanes 12:5-6), padahal itu karena dia mata duitan. Yud, Yud…

Sangat menarik ketika Yesus menunjukkan bukan hanya ke-Nabi-annya, namun juga ke-Allah-annya dengan mengetahui pikiran mereka (Matius 26:10) dan berkata kepada Simon, “ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Kira-kira Simon deg-deg-an ngga ya? Kayak dipanggil bos ke ruangannya gitu, misal… #oke

Kemudian Yesus menceritakan mengenai perumpamaan tentang dua orang yang berhutang dengan jumlah hutang yang berbeda (50 dinar dan 500 dinar) untuk menunjukkan bahwa Maria (yang dianggap berhutang banyak–berdosa banyak) telah diampuni sebab telah banyak dia berbuat kasih. Poin ini bukan menyatakan bahwa kita diampuni karena kasih kita, melainkan kasih kita kepada Yesus terjadi sebagai respon pengampunan yang telah kita terima. Dalam hal ini berarti Maria begitu merasakan pengampunan Yesus yang besar atas dosa-dosanya dan penerimaan Yesus yang luar biasa atas dirinya yang banyak ditolak orang. Hati yang diampuni itu… indah sekali… :”)

Kisah perempuan yang diampuni lain pun dapat kita lihat dalam Yohanes 8:1-11:

8:1 tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.  8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” 8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa , hendaklah ia yang pertama melemparkan batu  kepada perempuan itu.” 8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. 8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. 8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” 8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau .Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

  • “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” <– baca ini bikin nangis 😥 Merasa dibela banget sama Tuhan di kala semua orang benci, ngga suka, mau membunuh dengan batu-batu 😥 Di mana lagi mendapatkan penerimaan yang begitu besar seperti ini? Siapa yang punya kasih begitu besar yang bahkan sanggup mengampuni dosa sebesar apa pun selain Tuhan Yesus? 😥

Di kala orang lain heboh dengan apa yang dilakukan Maria kepada Yesus dan mengapa Yesus memperlakukan Maria seperti itu, bahkan sanggup berkata bahwa Ia mengampuni dosanya, Yesus malah berkata kepada Maria, “Imanmu telah menyelamatkan engkau,  pergilah dengan selamat!”. Ini memperjelas poin pengampunan yang diungkapkan Yesus melalui perumpamaannya, bahwa Maria diselamatkan karena imannya yang bertindak–menerobos orang-orang yang menolaknya demi menunjukkan kasihnya kepada Yesus melalui pengurapan yang dilakukannya dengan minyak terbaik, serta air mata yang menunjukkan kesungguhan hatinya. Orang lain tidak memiliki fokus seperti Yesus; bahwa Ia adalah Tuhan yang datang untuk menyelamatkan orang berdosa yang percaya dengan imannya.

Apa yang menjadi fokus pelayanan kita? Apakah kita masih sibuk memikirkan apakah ‘orang berdosa’ di sekitar kita tidak layak menerima pengampunan? Apakah pertobatan yang sejati tidak lagi menjadi fokus pelayanan kita? Apakah tidak ada lagi sikap mengurapi Yesus dengan minyak narwastu murni dan tangisan sebagai gambaran sikap hati yang sungguh-sungguh? 

.

.

.

…dan secara pribadi, apakah kita masih menghadirkan hati yang diampuni, dalam kehidupan kita bersesama melalui pengampunan yang kita berikan kepada orang yang bersalah kepada kita?

Mari belajar banyak hal dari perempuan yang berdosa ini.

 

Herodias: Buah dari Kepahitan

Baca: Markus 6:14-29.

Sewaktu membaca kembali cerita pembunuhan Yohanes Pembaptis ini, sejujurnya saya merasa sangat ngeri. Kayak, astaga, ternyata cerita-cerita macam ini bukan hanya ada di sinetron Indonesia atau telenovela-telenovela gitu ya…


Herodias. Dia adalah isteri Herodes, yang adalah isteri dari saudaranya sendiri, Filipus. Ngga kebayang sih perawakannya gimana, tapi hatinya itu, lho.. penuh dendam. Saya selalu berimajinasi soal hati yang penuh dendam itu bagaikan hati yang busuk, ada ulatnya, lalu berbau sangat amis.

“19 Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat” 

Padahal, Yohanes cuma bilang yang benar ke Herodes, suaminya. Bahwa, tidak baik jika Herodes mengambil Herodias sebagai isteri, yang adalah isteri Filipus. Kadang-kadang manusia itu gitu ya. Dikasih tahu yang benar, malah marah. Ngga dikasih tahu, dibilang ngga peduli. Jadi bingung kan, Jimmy Neutron…


Yak, tujuan PA Tokoh ke-3 ini adalah untuk mengerti bahwa buah kepahitan itu merusak, dan berkanjang dalam dosa akan menuntun kita kepada dosa-dosa berikutnya.

Kepahitan merupakan hasil dari kegagalan bersandar dan menanggapi kasih karunia Tuhan, yang kemudian disebarkan ke lingkungan sekitarnya. Musa membicarakan hal ini dalam Ulangan 29:18; ia memperingatkan seseorang yang hatinya berpaling dari Allah dan menyembah ilah lain dan menyebarkan racun yang mencemari seluruh jemaat.

Ketika hati kita berpaling dari kasih karunia Tuhan, kita juga berpaling dari saudara-saudara kita, maka kepahitan akan muncul. Selama masih ada kemarahan yang tidak terselesaikan dengan baik kepada Tuhan maupun kepada orang lain, kepahitan akan berlanjut. Di saat Herodias diperhadapkan kepada kasih karunia Tuhan melalui hidup dan pelayanan Yohanes Pembaptis, dia menjadi marah dan pahit kepada Yohanes.

Menurut saya, kepahitan bisa dikenali dari munculnya beberapa hal seperti hati yang penuh amarah akan seseorang/kondisi, merasa insecure atas keberadaan orang tersebut/adanya kondisi tersebut, merasa perlu mengalahkan mereka yang kepadanya kita merasa kepahitan, adanya ucapan-ucapan sarkas, sinis, penuh emosi yang tidak sehat, dan yang tadi, hati ini rasanya seperti ada yang mengganjal. Tidak damai sejahtera atas seseorang/beberapa orang/suatu kondisi yang membuat kita kepahitan.

Berdasarkan perikop ini, kita dapat mengetahui bahwa Yohanes Pembaptis adalah sosok yang tegas dalam menyatakan kebenaran, dia adalah orang yang benar dan suci–bahkan Herodes sendiri segan terhadapnya, ingin melindunginya, dan suka mendengarkannya. Herodes aja bisa gitu. Tapi, kok bisa-bisanya nih si Herodias aneh yak? Sampai tidak bisa objektif dalam menilai sosok Yohanes, karena disinggung hatinya atas ucapan yang sebenarnya benar, dari Yohanes? Padahal, kan, baik Herodes dan Herodias (btw, cie ngetz namanya kembaran gitu), mereka sama-sama tidak kenal Tuhan? Bisa bayangin, apa yang mungkin saja terjadi pada kerohanian Herodes jika Yohanes Pembaptis tetap hidup? Herodes senang mendengarnya, lho…

Huft, Herodias. Hati-hati juga tuh bagi kita. Kepahitan membuat kita jadi orang yang over-judging, undervaluing, dan tidak netral dalam menghadapi hal yang membuat kita kepahitan. Bahkan, jadi orang yang kejam. Syerem qaqa~

Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang menyimpan dendam yang akhirnya berujung pada kepahitan. Yang pasti, orang yang menyimpan dendam adalah orang yang sedang melayani keinginan dagingnya sendiri. Kenapa yang disimpen harus dendam? Sedih kan? Kembalilah menilik hati masing-masing, siapa yang sedang kita layani, Tuhan, ataukan diri sendiri. Kita ngga bisa mengontrol apa yang orang katakan/perbuat/apalagi pikirkan kepada dan terhadap kita. Tetapi kita bisa mengendalikan apa yang akan kita katakan, perbuat, dan bahkan pikirkan tentang orang dan kondisi sekitar kita dengan pertolongan Roh Kudus. Maka dari itu, biarlah Roh Kudus memimpin kita dalam kesemuanya itu agar buah Roh boleh tumbuh dari pohon hidup kita.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” – Galatia 5:22-26.

Di mana letak dendam, jika kita berserah penuh menjadi milik Kristus Yesus dan membiarkan kita dipimpin oleh Roh seperti penggalan ayat di atas?


Herodias dalam kepahitannya sangat menanti-nantikan kesempatan untuk membunuh Yohanes. Dendamnya tidak hanya pada hari ketika ia ‘disinggung’ oleh Yohanes. Tetapi sampai beberapa hari setelahnya. Maka dari itu, penting juga bagi kita untuk cepat-cepat minta ampun sama Tuhan by the time kita merasa tersinggung/marah atas ucapan/teguran seseorang regardless bagaimana pun tegurannya. Firman Tuhan sendiri berkata amarah manusia itu tidak mengerjakan apa pun yang benar di hadapan Allah dan sebaiknya cepat-cepat diselesaikan, kalaupun kita menjadi marah. (Yakobus 1:20 dan Efesus 4:26).

Kepahitan yang dirasakan oleh Herodias berdampak luas. Dimulai dari dirinya sendiri yang mencari-cari kesempatan untuk membunuh Yohanes, menghasut putrinya untuk menjadi jalan pembuka bagi dibunuhnya Yohanes, sampai seorang pengawal yang diperintahkan Herodes untuk memenggal kepala Yohanes di penjara–yang menyebabkan meninggalnya sosok yang benar dan suci di hadapan Tuhan tersebut. Begitulah cara kerja kepahitan, banyak dosa lanjutan yang mengikuti.

Karena itu, teman-teman. Mari kenakanlah kasih (karunia Kristus), sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kolose 3:14) dalam kehidupan kita bersesama dengan setiap orang.

BUANGLAH DENDAM PADA TEMPATNYA!

KALO PAHIT, KASIHIN GULA AJA!

Maria: Memercayai Hal yang Mustahil

“Kita sering mendengar atau menggunakan ungkapan “Bersama Tuhan tidak ada yang mustahil.” Maria tidak hanya mendengar atau memakai ungkapan ini, tetapi memercayainya. Kehamilan saudara sepupunya Elisabet merupakan tanda yang diberikan oleh malaikat Gabriel kepada Maria bahwa Tuhan dapat melakukan segala sesuatu. Jika mungkin bagi Allah perempuan mandul hamil, maka Dia juga dapat melakukan hal yang sama kepada seorang perawan. Iman dan kerajaan Allah merupakan tema utama dalam bagian ini.” 

Sebuah pengantar dari buku Pendalaman Alkitab “Tokoh Perempuan dalam Perjanjian Baru; yang Taat dan yang Sesat” karya Phyllis J. Le Peau, diterbitkan oleh Literatur Perkantas.

Pendalaman Alkitab kali ini dimulai dengan pertanyaan pembuka tentang, “kapan kita mengalami kesulitan untuk memercayai Allah?” Demikianlah juga saya berharap bahwa teman-teman sekalian mengingat kembali, kapan teman-teman mengalami kesulitan untuk memercayai Allah.

Baca: Lukas 1:26-38, 46-56. 

  1. Jika saya memosisikan diri sebagai Maria, seorang perawan yang mengalami pertemuan dengan malaikat Tuhan, Gabriel, mungkin saya akan pingsan terlebih dahulu. Kagetlah pasti. Sama seperti yang Maria alami ketika ia ditemui oleh Gabriel. Hm dia ngga pingsan sih, tapi kaget. Selain karena fakta bahwa ia dihampiri malaikat, yang lebih mengagetkan adalah pesan yang disampaikan oleh malaikat tersebut. Oh iya, di dalam Alkitab, Gabriel dikenal sebagai malaikat utusan Tuhan yang bertugas menyampaikan pewahyuan atau berita/pemberitahuan, dan sejenisnya. (Coba lihat Daniel 8:15-16; 9:21). Jadi, kalau teman-teman pernah ‘merasa’ seperti sedang ‘diberitahukan sesuatu’ oleh Tuhan, mungkin malaikat Gabriel juga sedang diutus Tuhan untuk kita. Puji Tuhan!
  2. Apa yang disampaikan oleh malaikat Gabriel tersebut? Pertama, bahwa Maria adalah perawan yang dikaruniai dan yang disertai Tuhan. Kedua, bahwa sesungguhnya Maria akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki yang harus dinamainya Yesus. Ketiga, Yesus akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Yesus akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya  tidak akan berkesudahan.
  3. Mendengar perkataan pertama dari malaikat Tuhan membangkitkan kekagetan Maria. Dalam Alkitab New English Translation bahkan diartikan sebagai greatly troubled; sangat kesusahan (29). Maria bertanya dalam hati apa arti perkataan itu–yang kemudian terjawab melalui perkataan berikutnya dari malaikat Gabriel. Setelah itu, Maria makin bingung bagaimana dia akan mengalami hal itu mengingat dia belum bersuami. 
  4. Malaikat Gabriel pun menyampaikan bagaimana caranya Maria, si perawan itu, akan mengandung seorang anak laki-laki. Tidak lupa disampaikannya cerita tentang saudaranya Elisabet, yang saat itu sedang memasuki 6 bulan masa kehamilannya. Malaikat Gabriel juga menyampaikan kalimat iman, “Sebab, bagi Allah tidak ada yang mustahil!” Setelah itu, Maria memiliki respon yang baik terhadap perkataan malaikat Gabriel tersebut dengan berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Ini menunjukkan Maria memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan yang melaluinya Maria sadar bahwa dirinya hanyalah seorang hamba Tuhan, serta dengan tegas bisa berkata, “jadilah kepadaku menurut perkataanmu itu” kepada malaikat Gabriel. Ini menujukkan suatu relasi yang dekat dan dalam antara Maria dan Tuhan. Dia memiliki keyakinan dan penyerahan diri kepada Tuhan yang menjadi tuannya, ketika sebenarnya dia tengah menghadapi suatu kondisi yang rumit; membingungkan dan berpotensi membangkitkan ketidakpercayaan. Coba deh yang perempuan bayangin kalau di usia muda begini, belum nikah pula, jangankan nikah, gebetan aja ngga punya, kita dikatakan akan melahirkan seorang anak laki-laki. Ga sanggup. Tetapi respon Maria selanjutnya ini membuatku terhenyuk; Maria yang awalnya kaget, ketakutan, bahkan sangat kesusahan ketika ditemui oleh malaikat, lalu memilih tidak menomorsatukan energi negatif itu dan mau percaya pada perkataan Tuhan melalui malaikat-Nya, serta berserah diri. Imannya berbuat, guys. 
  5. Yang perlu diingat lagi, kepercayaan Maria tadi tidak hanya berfokus pada pesan bahwa ia akan mengandung seorang anak dari Roh Kudus, namun juga mencakup kepercayaan atas pesan bahwa Putranya itu adalah Raja yang kerajaan-Nya tidak berkesudahan alias kekal selamanya. Ini adalah iman yang hebat yang dikaruniakan Allah kepada Maria. Iman yang jauh ke depan, iman yang berpengharapan. Penglihatan manusiawi tidak akan sanggup memercayai hal seperti ini. Sebagian orang bisa menganggap ini mustahil. Tetapi Maria memercayai Allah atas hal yang “mustahil” tersebut.
  6. Tidak berhenti di situ, iman Maria pun membuahkan nyanyian pujian kepada Allah atas apa yang telah diterimanya pada saat itu. Maria bisa saja menyombongkan diri atas perkataan malaikat yang disampaikan kepadanya. Bahaya juga kalau ada Path atau Facebook pada masa itu……. Syukurnya, Maria menunjukkan kerendahan hatinya dengan mengembalikan segala puji, hormat, dan syukur kepada Allah melalui pujiannya.
  7. “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya”. Luar biasa sekali syair ini. Ada jiwa yang memuliakan Tuhan, ada hati yang bergembira karena Allah, Sang Juruselamat. Ini mau menunjukkan bahwa Maria mengakui kebutuhannya sendiri akan keselamatan, dialah orang berdosa yang memerlukan Kristus sebagai “Juruselamat”. Jadi, kepercayaan bahwa Maria sendiri dikandung secara tak bernoda dan hidup tanpa dosa tidak pernah diajarkan di dalam Alkitab (bd. Rom 3:9,23). Di syair berikutnya Maria memuji Tuhan yang Maha Kuasa, yang melakukan perbuatan-perbuatan besar di dalam hidupnya, sepanjang sejarah nenek moyangnya, dan untuk selama-lamanya. Maria memuji Allah yang memakainya menjadi bagian dari rencana Tuhan dalam sejarah masa lalu maupun masa depan, yakni ibu yang mengandung Sang Juruselamat tersebut, Yesus Kristus. 

Demikianlah teladan yang dapat kita pelajari dari Maria; imannya dalam masa rumit dan kemustahilan, serta sikap hatinya dalam menerima karunia Tuhan. Kiranya kita juga bisa meneladani Maria di dalam kehidupan kita sehari-hari. Ingat, Maria memiliki relasi yang baik dengan Allah; kunci iman dan sikap hati yang baik. 

Selamat belajar dan mengaplikasikan!

Elisabet: Menerima Kebaikan Tuhan

Halo!

 

 

Halo Bandung..

Ibu kota periangan…

————————–Beth, please lah————————–

#okesip

Hari ini saya ingin berbagi dengan teman-teman semua (yang mungkin secara tidak sengaja atau pun disengaja telah mendarat di halaman ini) tentang suatu hal. Mulai dari postingan ini sampai beberapa postingan ke depan, saya akan berbagi mengenai teladan yang dapat dipelajari dari tokoh-tokoh perempuan dalam Perjanjian Baru. Pedomannya adalah Buku Pendalaman Alkitab yang diterbitkan oleh salah satu lembaga pelayanan mahasiswa Kristen di Indonesia. Saya rindu belajar sesuatu dari tokoh-tokoh tersebut, dan juga rindu membagikannya kepada orang lain; agar berkatnya tidak berhenti di satu orang saja, hehehe.

Postingan pertama akan dimulai dari Elisabet.

Kesatu, Elisabet: menerima kebaikan Tuhan.

(Baca: Lukas 1:5-25, 39-45, 57-66)

  1. Elisabet adalah seorang keturunan Harun dan istri dari seorang imam bernama Zakharia. Elisabet (dan juga suaminya) adalah orang yang benar di hadapan Tuhan (godly couple) dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat (wow). Menurut salah satu tafsiran, nama Elisabet memiliki arti yang (sebenarnya) tidak terlalu jelas, tetapi paling mungkin berarti God’s covenant atau perjanjian Allah. Tidak bercacat, blameless, berasal dari bahasa Yunani “amemptos”. Bukan berarti mereka tidak berdosa, melainkan mereka ‘menangani’ dosa mereka dengan cepat dan seperti apa yang diperintahkan Tuhan. Elisabet mandul dan pada masa itu sedang lanjut umurnya.
  2. Lalu pada suatu kesempatan di Bait Suci, malaikat Gabriel menyampaikan kepada Zakharia bahwa Elisabet akan mengandung seorang anak laki-laki yang harus dinamai Yohanes. Banyak orang yang akan bersukacita atas kelahirannya dan Yohanes akan besar di hadapan Tuhan. Ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim Elisabet. Yohanes akan membuat orang Israel berbalik kepada Tuhan dan menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.
  3. Alkitab mencatat respon yang berbeda antara Elisabet dan Zakharia dalam menerima kabar dari malaikat Gabriel tersebut. Zakharia merespon dengan bertanya, “bagaimana aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Ada banyak alasan yang menyebabkan Zakharia tampak ragu akan perkataan malaikat Tuhan. Ketidakpercayaan dan kurangnya keyakinan kepada Allah mungkin salah satunya. Sedangkan Elisabet merespon pada ayat ke-25, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapus aibku di depan orang.” 

Baik tetangga, keluarga, maupun suami Elisabet, semuanya belajar tentang kemurahan Allah melalui kelahiran Yohanes. Mereka dapat melihat dan mengalaminya karena Elisabet menerima dan mencerminkan kasih karunia Tuhan dalam hidupnya dengan apa adanya.

Zakharia belajar taat dan bertumbuh dalam iman. Perkataan Zakharia pada ayat 63, yakni “Namanya adalah Yohanes” merupakan tindakan ketaatan dan kerendahan hatinya. Dengan cara yang baru Dia mengalami dan mengenal Tuhan serta belajar banyak tentang pujian.

“. . . Zechariah and Elizabeth represent two different kinds of righteous people. Zechariah raises doubts about the angel’s message, for the prospective parents are now beyond normal childbearing age (v. 18). Sometimes even good people have doubts about God’s promise. . . .

“Elizabeth pictures the righteous saint who takes her burden to God and rejoices when that burden is lifted.”

“Hardly for the last time in Luke-Acts, a woman is put forward as a recipient of God’s favor and as a model of faithfulness to God’s purpose.”

Constable Notes.

Kadang-kadang terasa sukar untuk membicarakan pekerjaan baik yang Tuhan sedang kerjakan dalam diri seseorang karena mereka takut dianggap membual atau menyombongkan diri. Doronglah agar diri sendiri dan orang lain dapat berbicara dengan terbuka dalam meresponi setiap pekerjaan baik yang Tuhan kerjakan, tetapi berikan semua kemuliaan dan pujian hanya kepada Tuhan.