I Once Thought I Knew So Much About This Samaritan Woman

Samaritan…turns out I’m wrong. Masih ada banyak sekali yang belum saya ketahui dan dapat saya pelajari serta terapkan melaluinya.

Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria ini “stands out” setidaknya karena 3 hal:

  • Percakapan terpanjang yang dicatat antara Yesus dan siapa pun bahkan dengan murid-murid-Nya
  • Letak pasal ini setelah percakapan Yesus dengan Nikodemus. Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi. Namanya dicatat di Yohanes 3. Dia pasti religius, bermoral, dan berpengaruh. Sedangkan perempuan Samaria ini, tidak diketahui namanya, satu-satunya highlight tentang dia dari perikop kita adalah ketidakbermoralannya. Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa “there’s no one beyond the needs of grace and there’s no one beyond the rich of grace”. Nikodemus dan perempuan Samaria, dua tipe orang yang paling berlawanan; bermoral dan tidak, berpengaruh, serta bahkan harus menimba di sumur di jam-jam paling sepi.
  • Mengonfirmasi tujuan Injil Yohanes dicatat: Yohanes 20:30-31. Supaya pembaca percaya bahwa Yesuslah Mesias yang dinantikan itu, Dialah Anak Allah, yang menyelamatkan pendosa-pendosa, dan supaya oleh iman, mereka yang percaya itu beroleh hidup di dalam nama-Nya

Beroleh hidup di dalam nama-Nya. Ini mengindikasikan bahwa mereka, siapa pun, yang di luar Kristus, pada hakikatnya adalah mati. Tentu bukan mati secara jasmani, melainkan secara rohani. Injil Yohanes menunjukkan betapa pentingnya Yesus Kristus untuk diberitakan, bahwa Ia adalah Mesias yang memberikan hidup dan itulah yang dialami oleh perempuan Samaria ini; hidup.

Yohanes memulai catatannya dengan menjelaskan setting/latar dari percakapan tersebut, pada ayat 1-3. Catatan ini mengingatkan kita pada apa yang terjadi sebelumnya di pasal 3:25-26 tentang murid-murid Yohanes Pembaptis yang berselisih karena melihat banyak yang dibaptis oleh Yesus (yang kemudian di perikop hari ini kita ketahui bahwa bukan Yesus yang membaptis melainkan murid-murid-Nya). Kemudian, Yesus memutuskan meninggalkan Yudea untuk kembali ke Galilea. Kita tahu, di awal Injil Yohanes dicatatkan bahwa Yesus telah melayani di Galilea dan mengadakan mukjizat air menjadi anggur di Kana.

Yesus memilih rute tercepat untuk berangkat ke Galilea, yakni melalui Samaria. Rute tercepat ini bukan rute yang biasa diambil oleh orang Yahudi karena harus melintasi Samaria. Hal itu terjadi karena mereka tidak mau tercemar dengan orang Samaria yang bukan Yahudi asli. Sudah ada percampuran budaya dengan non-Yahudi dan pernikahan dengan para penjajah Mesopotamia. Akibatnya, orang Yahudi biasanya harus memutar dari sebelah timur menyeberangi sungai Yordan untuk tiba di Galilea.

Namun, penggunaan kata ‘harus’ atau ‘had to pass’ mengindikasikan adanya kepentingan ilahi. Kata ‘dei’ dalam bahasa Yunani untuk kata ‘harus’ ini sering digunakan untuk menunjukkan kepentingan ilahi. Yesus memiliki rencana di dalam kedaulatan Allah. Sehingga keputusan Yesus untuk melewati Samaria bukan semata karena geographical reason, melainkan kerena Dia sedang on mission.

Ketika Yesus tiba di sebuah kota di Samaria, yakni Sikhar, yang letaknya di dekat tanah yang diberikan Yakub kepada anaknya, Yusuf, Yohanes mencatat bahwa Yesus sangat letih. Panas terik, tidak hujan badai, jam 12 siang, pasti haus sekali. Ingat, dulu belum ada Go-Jek atau Go-Food. Yesus kemungkinan berjalan kaki di siang hari, dan itu pasti sangat melelahkan. Ini menunjukkan meskipun Dia adalah Mesias, Anak Allah yang memberi hidup, Dia adalah manusia sejati. Dia bisa letih, bisa haus. Firman menjadi daging.

Ibrani 4:15, “sebab Imam Besar yang kita miliki, yaitu Yesus Kristus, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Saya dikuatkan oleh ayat ini dan catatan Yohanes yang mengonfirmasi bahwa Yesus yang memanggil kita untuk melayani-Nya adalah Yesus yang dapat merasakan keletihan kita, kelaparan dan kehausan kita. Dia mengerti dan karena itu kita dapat terus dengan penuh keberanian, menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Itulah setting sebelum percakapan di antara Yesus dan perempuan Samaria itu dimulai. Percakapan tersebut dapat kita lihat di ayat 7-26. Percakapan itu sendiri dapat dibagi menjadi 2 bagian besar: 1) 7-15 tentang air hidup, 2) 16-26 tentang penyembahan.

Kita melihat di ayat 7 perempuan Samaria yang datang hendak menimba air, siang-siang, sekitar pukul 12. Mungkin dia nggak expect akan ketemu Yesus. Tapi di sanalah Yesus, memutuskan melewati Samaria, karena ada perempuan ini yang membutuhkan hidup. Sebenarnya tidak ada masalah dengan jam yang ia pilih. Hanya saja, itu bukanlah waktu yang umum di mana perempuan pergi untuk menimba air. Biasanya perempuan pergi pagi-pagi atau sore-sore. Yang lebih menarik dari masalah jamnya adalah, apa yang dikatakan Yesus kepada perempuan itu.

“Berilah Aku minum.” Yesuslah yang memulai percakapan tersebut. Percakapan ini sebenarnya sangat kontroversial. Ibarat kata kalau zaman sekarang mungkin bisa masuk ke Instagram gossip seperti Lambe Turah. Kontroversialnya bisa kita lihat dari jawaban perempuan itu berikutnya, penegasan dari Yohanes, dan juga dari respons murid-murid Yesus sekembalinya mereka dari shopping.

Respons perempuan itu terdapat di ayat 9 yang ditegaskan lagi oleh Yohanes, seolah-olah respons perempuan ini belum cukup untuk menunjukkan betapa tidak biasanya hal tersebut. Setidaknya ada beberapa alasan: Yesus orang Yahudi, perempuan itu orang Samaria, Yesus laki-laki, perempuan itu ya perempuan (-.-). Alasan ini masing-masing saja sudah tidak biasa dan mengherankan, apalagi digabung: laki-laki Yahudi meminta minum dari perempuan Samaria. Tidak ada di pikiran Yesus tentang pencemaran karena asimilasi budaya whatsoever.

Namun yang menarik lagi di ayat 10 kita melihat tadinya Yesus asking for water, sekarang malah offering water. Dari percakapan sederhana tentang air minum, menjadi sebuah percakapan yang deep dan bermakna. “Jika kamu tahu…. niscaya engkau telah meminta.” If you knew…. you would have asked.” Karunia Allah = the gift of God. Kalau kamu tahu, berarti kamu telah meminta. Jadi, air hidup yang Yesus berikan membuat perempuan ini tahu pemberian dan membuatnya tahu siapa Yesus Kristus. Di dalam Yohanes 17:3 dikatakan hidup kekal adalah mengenal Bapa dan Kristus yang Ia utus, itulah hidup yang kekal. Jadi ayat 10 ini tidak sekadar berbicara tentang air biasa, melainkan dikatakan air hidup, karena berarti hidup yang kekal.

Namun tidak berbeda dengan Nikodemus yang sangat beragama sekalipun, perempuan Samaria ini juga tidak dapat mengerti apa yang dibicarakan oleh Yesus. Yesus berbicara tentang hal-hal rohani, namun perempuan ini menyangka bahwa Yesus masih berbicara tentang air dari sesuatu seperti sumur Yakub. Mungkin perempuan ini berpikir, “lah, bukannya dia tadi minta air minum sama gue, kenapa sekarang dia mau ngasih air? Berarti dia sebenarnya punya timba atau mungkin dia lebih hebat kali ya dari Yakub, punya tanah sendiri yang sumur yang airnya lebih berlimpah?”

Yesus melanjutkan pembicaraan di ayat 13-14 tentang sumber dan natur air hidup itu. Pertama, itu bersumber dari Diri-Nya sendiri, Dialah yang memberikannya. Kedua, air hidup itu akan sangat memuaskan bahkan membuat hidup orang yang memilikinya seperti mata air yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Tidak akan haus untuk selama-lamanya, tapi bahkan segar seperti mata air yang terus-menerus, memancar sampai kehidupan kekal. Enak kali ya, minum sekali, puas selama-lamanya dan tetap segar seperti mata air, tidak dehidrasi.

Apa yang dimaksud dengan air hidup ini adalah Roh Kudus, Allah sendiri (Yoh 7:37-38). Begitulah hidup seseorang yang memiliki Roh Kudus di dalam hidupnya. Tidak akan haus untuk selama-lamanya, dan menjadi mata air yang terpancar terus lewat buah Roh dan karunia-karunia Roh di dalam hidupnya. Saya sangat diingatkan lewat bagian ini, terutama ketika saya mulai mencari lagi air minum rohani di tempat lain selain Yesus. Ini tuh bukan kayak minum air biasa yang mana ada masa akan haus lagi, lalu butuh minum. Ini adalah kebenaran identitas mereka yang percaya. Jadi, kalau ada perasaan-perasaan “apa aku mulai mencari kepuasan di tempat lain?” melawannya adalah dengan mengingat ayat ini bahwa kita sudah dipuaskan, ada Roh Kudus di dalam kita. Bagian kita adalah berserah untuk dipimpin-Nya tiap-tiap hari.

Di ayat 15 perempuan ini masih merespons, bahkan mengingat ucapan Yesus di ayat 10 untuk meminta. Namun dia masih belum mengerti. Jesus keeps talking about heavenly things, she keeps responding with earthly things.

Namun Yesus tabah, Dia meminta perempuan itu memanggil suaminya. Tentu, ini dilakukan Yesus dengan tujuan untuk membuka realita terdalam dari perempuan tersebut. Untuk mengalami indahnya kabar baik, kehidupan kekal dari Allah, kita perlu menyadari busuknya dosa-dosa kita. H. B. Charles mengatakan “Good news, if it’s to be enjoyed, must be preceded by us embracing the bad news of sins.” Untuk bisa melihat amazing grace, kita perlu melihat dan mengakui betapa kita adalah pendosa yang besar.

Itulah yang Yesus lakukan selanjutnya, menolong si perempuan ini melihat kenyataan hidupnya. Dia berkata “aku tidak bersuami” dan benar, tepat, itulah jawaban yang dikehendaki Yesus. Sehingga Yesus berkata “tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami.” Dari sinilah Yesus menunjukkan keilahiannya. Yesus tahu dahaga jiwa perempuan yang ingin diberikan-Nya hidup ini.

Apa yang menjadi respons perempuan tersebut? Dia mulai melihat Yesus sebagai nabi. Yesus yang kelelahan dan kehausan ini adalah juga Allah, karena Ia maha tahu. Bahkan masa lalu seseorang pun Ia tahu. Begitu perempuan ini menganggap Yesus sebagai nabi, ia mulai switch ke masalah penyembahan. Namun di ayat ke-21-24 Yesus menegaskan, bahwa penyembahan yang sejati tidak bergantung pada tempat. Penyembahan sejati dilakukan di dalam roh dan kebenaran, dilakukan karena pengenalan kepada Allah yang menyelamatkan. Itu terjadi ketika Allah berinkarnasi, Sang Firman yang menjadi daging, menjumpai pendosa-pendosa yang sering menggali kolam bocor bagi dirinya. Penyembahan dimulai karena Allah yang mencari manusia-manusia berdosa, memberikan karunia-Nya, melahirkan kembali, memberi Roh-Nya, untuk dapat menyembah Allah yang adalah Roh. Karena Allah adalah Roh, maka penyembahan kepada-Nya tidak dapat dibatasi oleh ritual, tempat, upacara keagamaan, budaya, seperti yang dipahami oleh perempuan Samaria tersebut. Bukankah itu memberikan kejutan baginya dan bagi orang-orang Yahudi yang membaca? Dengan demikian, dengan percaya kepada Kristus (21), semua orang, tanpa sekat-sekat suku dan ras, golongan dan stereotip, adalah penyembah-penyembah Allah yang benar. Ini mengantisipasi keesaan gereja secara universal. (Saya bertanya-tanya apakah Yesus akan menanyakan “apa denominasi gerejamu?” ketika orang percaya berjumpa dengan-Nya muka dengan muka).

Menyembah di dalam kebenaran berarti berdasarkan pada penyataan ilahi Allah melalui firman-Nya, melalui Yesus Kristus Sang Firman yang hidup, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Penyembahan orang percaya didasarkan pada iman kepada Kristus. Di luar itu, mungkin ada banyak yang menyebut dirinya sebagai penyembah, namun Alkitab menegaskan, itu bukanlah penyembah Allah yang benar.

Di ayat ke-25 dan 26 kita melihat perempuan ini mulai berpikir apakah Yesus itulah Kristus, Mesias yang dinantikan yang akan memberitakan segala sesuatu kepada manusia. Tadi dia mengatakan bahwa Yesus adalah nabi, kini Ia mulai berpikir apakah Yesus itu Mesias? Kemudian Yesus mengonfirmasi di ayat 26. “I am He”, Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau. Inilah yang mengawali 7 I am di dalam Injil Yohanes. Pasal 6, I am the bread of life, Pasal 8 dan 9, I am the light of the world, Pasal 10, I am the door of the sheep, I am the good shepherd, Pasal 11, I am the resurrection and the life, Pasal 14, I am the way, the truth, and the life, Pasal 15, I am the true vine. Tujuh kali Injil Yohanes mencatat bahwalah Jesus is The Great I Am. Ia ada bahkan sebelum Abraham ada (Yoh 8:58), Dialah Firman yang ada sejak semula, yang bersama-sama dengan Allah, dan yang adalah Allah. The Great I am itu datang untuk memberi hidup kekal bagi mereka yang percaya, the great sinners.

Kiranya Dialah yang selalu menjadi berita yang kita bagikan di dalam pelayanan kita. Kiranya kita bisa menolong orang yang seperti perempuan ini ‘bercakap-cakap’ dengan Yesus. Mereka yang immoral, broken reality, atau mereka yang seperti Nikodemus, sangat beragama dan terpandang, namun kedua mati di luar Kristus.

#Rangkul25: Tanpa Penyesalan

Suatu kali seseorang datang dan bertanya kepada perempuan itu, “apa yang membuatmu begitu kuat seperti ini, setelah semua yang telah kau alami?” Perempuan itu pun menjawab,

Aku tidak pernah berpikir bahwa aku telah begitu kuat. Karena yang sehari-hari aku lakukan adalah berdiam diri dan merenungkan berbagai pertanyaan. Aku bertanya-tanya, “kenapa harus seperti ini? Ternyata aku sesalah itu, ya? Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa orang-orang harus mengorbankanku dengan menimpakan kesedihan ini kepadaku? Tidak bisakah dipilihnya saja orang lain?”

Sehari-hari aku banyak menangis, meratapi nasib, kata orang. Bahkan, kadang-kadang air mata itu mengalir begitu saja tanpa pernah aku rencanakan. Aku lagi belajar, air mataku menetes. Aku lagi makan, air mataku juga menetes. Aku bahkan merasa jangan-jangan ketika aku tidur pun ada air mata yang menetes. Aku dikuras habis pada waktu itu.

Aku jadi bingung, kenapa kau bilang aku sekuat ini? Kalau kau tau yang sebenarnya, kau akan berpikir ulang untuk mengatakan itu.

Yang kuingat adalah aku telah menjadi begitu lemah. Tidak ada lagi bagian dari diriku yang sanggup aku andalkan. Seluruh akalku dipatahkan, segenap perasaanku diputarbalikkan. Semua yang kupikir akan terjadi, tidak terjadi. Aku betul-betul cupu pada waktu itu. Untuk menghadapi matahari pagi saja aku ragu. Begitu juga dengan malam, hampir selalu dapat kupastikan, aku melewati malam dengan tertidur karena menangis.

Aku makin bingung, di bagian mana kau lihat aku kuat?

Namun, ada 1 hal yang kusaksikan. Pada waktu itu aku betul-betul berserah kepada Allah, Tritunggal Maha Berkarya, dalam setiap pertanyaan dan air mataku. Dalam pertanyaan-pertanyaanku, aku menyerah bahwa aku tidak punya jawabannya. Sedikit pun. Dalam tetes demi tetes air mata itu aku menyerah bahwa aku tidak bisa mengendalikan apa pun. Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku menyerah, semenyerah-menyerahnya. Tidak bersisa.

Di saat itulah, dalam keraguanku menatap pagi, aku mampu juga melewatinya. Bahkan masih dengan senyum, yang sederhana. Di saat itulah, dalam keenggananku mendapatkan malam, aku tetap tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk apa pun.

Aku tidak ingin bilang bahwa aku bahagia pada waktu itu. Aku bukan orang yang pintar berpura-pura dan bermulut manis. Tetapi jika kau minta aku memilih untuk harus mengalami itu ataukah tidak, aku tetap akan memilih “harus”. Kulihat, dengan cara itulah Allah meneruskan karya-Nya di dalamku hingga aku tiba di usia ke-25 ini.

Aku akan terus berserah di hadapan-Nya. Karena aku tau, buahnya manis dan dengan ini kuingatkan kau, buah itu tidak dapat direka-reka. Orang-orang pun dapat membedakan, mana yang sejati, mana yang dibuat-buat. Penyerahan diri ini tidak akan meninggalkan penyesalan.

#Rangkul25

Three Reasons Why You Shouldn’t Do Social Media Detox

For some reasons, doing social media detox is a great idea, but there are some other reasons why you should not do that anymore. Or at least, too much. Please have your seat here, listening to this old grandma speaking.

1. You need social media to live

We can’t undo technology development. It goes somewhere each day. People use social media to socialize in this era. You also read news mostly through the link/share on social media these days and I am not planning to be left out by the world. Not because the fear of missing out but I need to socialize to live. Man is a homo-socius, right? Take it away of your life, and you somehow feel empty. We, human, are called to socialize, to have a companion, to create a relationship and yes to maintain it, and, today we do it through social media.

2. You’re called to share.

Following my first point above, in order to maintain a relationship, you have to share. We share our thoughts, to sharpen others’ and be sharpened. We share our encouragement to strengthen others’ faith. We share our struggle, to be cheered & strengthened. We share jokes, to feel joy. We share dreams, to recognize hope. And yes, we share love, to love. A relationship lasts because we share, and we can do it through social media.

3. You love through social media.

What is the biggest and the most important thing among faith, hope, and love? It is love. If I speak with human eloquence and angelic ecstasy but don’t love, I’m nothing but the creaking of a rusty gate. If I speak God’s Word with power, revealing all his mysteries and making everything plain as day, and if I have faith that says to a mountain, “Jump,” and it jumps, but I don’t love, I’m nothing. If I give everything I own to the poor and even go to the stake to be burned as a martyr, but I don’t love, I’ve gotten nowhere. So, no matter what I say, what I believe, and what I do, I’m bankrupt without love.

And believe it or not, social media is created for us also to love. Show your love when you see people’s need they’ve shown on social media. Don’t be busy judging them.

At least those are three reasons I found during my already half-way period of doing my social media detox. I feel drained. At first I thought this is a bad sign of me and my behavior, you know, am I taking social media use too much with bad motives or something?

But then I realize, it’s not. But commitment is a commitment, I will enjoy some days ahead still detoxing. I learn and experience many things tho lately.

Got a quest on AskFM: kenapa sih banyak orang yang suka nge-judge lewat media sosial? Padahalkan menebarkan kebaikan itu bisa lebih indah?

First of all, being judgmental in general terjadi karena manusia gagal mengenal dirinya sendiri–in deeper sense of recognizing ourselves. Kenal diri sendiri nggak cuma berarti tau bahwa kamu itu seorang yg introvert, koleris, ambivert, pemalu, pendiam, or whatsoever. Mengenal diri sendiri lebih dari itu. Bahkan sampai kepada, “untuk apa/siapa kamu hidup?”, “kenapa kamu (masih) hidup?”, “apa potensimu?”, “why you do certain things?”, “apa yg nge-drive kamu melakukan ini dan itu?” dan banyak pertanyaan mendalam lain.

 And it requires a lifetime journey.

Kenapa orang jadi judgmental karena alasan itu? Yes of course, karena kalau kamu kenal banget sama diri kamu, kamu nggak akan berani menghakimi orang lain–kebanyakan kita pasti melakukan hal yg sama–atau punya potensi melakukan hal yang sama. This behaviour kemudian mendapat ruang yang lebih besar dalam penggunaan sosial media.

What can you interprete from a filtery kind of picture on Instagram? It will never fully describe anything about that person. I mean, ketika kamu yang tidak mengenal dirimu sendiri dengan baik mulai menilai seseorang di sosmed yang tidak kamu kenal dengan baik (people tend to judge someone they barely know, right?) maka jadilah ini double-trouble. What measure will you use to do so?

The good news, the more you understand yourself, the less you judge. The more you understand others, the less you judge. Imagine if these two things combined together. The world will be less judgmental.

The next question is, how could we understand ourselves more each day? 🙂

The primary thought in the area of religion is— keep your eyes on God, not on people. Your motivation should not be the desire to be known as a praying person. Find an inner room in which to pray where no one even knows you are praying, shut the door, and talk to God in secret. Have no motivation other than to know your Father in heaven. It is impossible to carry on your life as a disciple without definite times of secret prayer.

Saturday, September 16.

utmost.org

EARC 2017 – Bagian 1

Ada yang menarik ketika saya mengetik judul tulisan ini: saya tersenyum lebar dan benar-benar merasa bahagia. Tidak seperti kebanyakan tulisan saya yang lain yang kemungkinan besar diawali dengan kening berkerut. Hehe :/

EARC (East Asia Regional Conference) 2017 adalah salah satu doa saya yang dikabulkan Tuhan. Tahun lalu, tepatnya pada bulan Oktober, saya sempat berbisik di dalam hati & berdoa agar saya diikutsertakan ke EARC 2017 yang diselenggarakan di Korea Selatan. Ketika itu saya spontan saja berdoa sehabis mendengar bahwa EARC akan diadakan kembali. Saya juga belum sempat menyelidiki apa motivasi saya di kala itu–dan nggak lama kemudian, saya berbisik lagi, "Ah, itu kan untuk mahasiswa. Kamu siapa, Beth?" Saya tidak berharap banyak dan memilih melupakannya saja.

Rupanya Tuhan menjawab doa tersebut dan mengizinkan saya diikutsertakan sebagai salah satu peserta perwakilan Indonesia untuk diperlengkapi dengan berlimpah-limpah melalui acara ini. Saya sangat yakin Tuhan nggak main-main melibatkan saya di sini. Ya sekalipun rencana-Nya tidak bergantung pada yakin/tidaknya saya, sih. Saya bersyukur dan tulisan ini adalah salah satu wujud rasa syukur saya kepada Tuhan karena di sini saya akan merangkum beberapa hal yang mengena di hati saya sebagai pengingat pribadi, serta berharap mereka yang membaca juga beroleh berkat.

Saya akan membaginya ke dalam 2 bagian: bagian 1 adalah tentang apa yang berkesan secara personal kepada saya melalui bible exposition & plenary session, dan bagian 2 adalah tentang all the fun I had in EARC.

Selamat membaca!

Karakter Nabi Yeremia
Yeremia adalah seorang nabi yang kreatif. Kreativitasnya ditunjukkan melalui caranya menyampaikan firman TUHAN: drawing pictures, making images, & using poetry. Ia juga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kondisi masyarakat (punya passion terhadap orang-orang), serta memiliki keyakinan yang kuat akan panggilannya. Belajar dari Yeremia, saya perlu mengenali dan mengevaluasi diri sendiri, apa yang saya belum miliki? Saya rasa ini penting mengingat konteks yang ada saat ini tidak persis sama dengan yang dihadapi Yeremia. Sebagai utusan Tuhan dalam melayani sesama, saya yakin Tuhan ingin kita menjadi relevan agar firman-Nya tetap dapat diterima tanpa mengurangi kedalaman pesannya. Lagi, sudah jarang saya berpikir kreatif untuk menyampaikan firman Tuhan–padahal itu dapat mempermudah sesama saya dalam memahaminya. Saya memilih menyampaikannya plek-plek-an saja tanpa memerhatikan apakah cara itu membuat sesama saya mengerti maksud Tuhan dalam firman tersebut. Saya menyadari bahwa seseorang yang mau menyampaikan firman Tuhan adalah seseorang yang tidak boleh tidak berpikir panjang dan dalam, semata-mata demi keutuhan firman dapat tetap disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. It's not enough to be masters in the word of God, we need to be also masters in the world of God.

The Weeping Prophet
Lima puluh tahun Yeremia menyampaikan firman TUHAN dan tidak ada satu pun yang percaya. Mereka memilih percaya kepada nabi-nabi palsu yang menyampaikan hal-hal palsu. Tetapi Yeremia tetap bertahan pada panggilan Tuhan baginya: menyampaikan apa yang TUHAN taruh di dalam hatinya. Yeremia banyak menangis dan kesal di sepanjang pelayanannya karena perilaku orang-orang ke mana TUHAN mengutusnya. Sekalipun begitu, Yeremia terus saja menyampaikan kebenaran. Truth matters than popularity. Dia ditolak, mengalami kesendirian, dihina, bahkan dipenjara dan hampir dibunuh, namun hal itu tidak membuat Yeremia mencari jalan aman. Benar adanya bahwa, we cannot follow God and stay on the margins & we cannot be disciples while staying neutral.

God is a God that can be provoked into anger
Yeremia adalah nabi yang serius merespons dosa yang dilakukan bangsanya. Dia menyampaikannya dengan jelas dan eksplisit. Tidak ada yang diperindahnya. Dosa pada hakikatnya adalah busuk, dan itulah yang ia ungkapkan. Rupanya status "bangsa perjanjian" telah dilupakan oleh bangsa pilihan ini dan mereka hanya mau berkat Tuhan tanpa ketaatan. Sungguh mirip dengan kita, ya? Yeremia menjadi utusan TUHAN untuk menyampaikan bahwa Ia marah akan dosa-dosa mereka dan jangan pikir itu membuat Allah terlihat jahat; justru itu adalah konfirmasi kasih-Nya kepada umat.

Knowing God means doing justice
Eksploitasi orang-orang yang lemah bukanlah hal baru. Kitab Yeremia sudah mencatatkan hal itu sebagai dosa yang dilakukan oleh umat TUHAN dan Ia membenci hal tersebut. Ia adalah Allah yang adil. Siapa pun yang mengaku mengenal Allah haruslah menegakkan keadilan. You can't claim to know God while not caring for the poor. Tidak harus berlangsung di pengadilan atau lembaga-lembaga berbau hukum lain, ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang melakukan cinta-kasih dan keadilan.

Di mana Tuhan? Kenapa rasanya Dia diam saja?
TUHAN di sana, bersama orang-orang Israel: God speaks in exile, God is not a tribal/national God, God is not bound by geography/a building, and God is now in exile with His people. Saya jadi semakin yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya karena keberadaan-Nya tidak bergantung pada saya, melainkan pada Dia sendiri. Manusia terlalu sok tahu ketika menuding Tuhan sedang diam atau pergi padahal bagian yang seharusnya ia lakukan adalah mencari dan datang kepada Tuhan, serta terus menyediakan waktu untuk berbicara kepada-Nya, apa pun kondisinya.

"Seek the peace and prosperity of the city"
Sejak awal, bagian ini adalah salah satu yang susah saya mengerti dan lakukan. Sebutlah saya sedang mengalami "pembuangan" ke mana saya merasa "dibuang". Saya pasti tidak serta-merta dapat memikirkan kesejahteraan tempat tersebut. Boro-boro, saya pasti ingin langsung pergi saja dari sana. Puji Tuhan, saya bukan Tuhan. Tuhan saya justru meminta saya mengusahakan kesejahteraan tempat itu karena kesejahteraannya adalah kesejahteraan saya juga. Tuhan saya meminta untuk tidak membalas kejahatan yang saya terima di tempat itu. Seperti Daniel, misinya bukanlah misi Babel, misinya adalah misi ke Babel dan dia tahu, misi itu datangnya dari Tuhan. Tuhan menempatkan saya di berbagai tempat bukan untuk duduk diam dan protes, mengeluh sana-sini, melainkan untuk bekerja.

IT'S OKAY TO CRY
Beberapa orang malu menangis karena merasa itu adalah pertanda bahwa ia lemah. Tetapi ternyata kita tetap perlu menangis & meratap. Ada 4 makna ratapan: 1) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana adanya, 2) ratapan sebagai cara melihat sesuatu yang bukan sebagaimana adanya, 3) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana ia seharusnya, dan 4) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana jadinya nanti. Lament is not only about grief but also hope. Kalau kita nggak sedih, mungkin saja kita belum merasa helpless dan membutuhkan Tuhan. Seperti Yeremia, hati yang hancur miliknya adalah hati yang hancur karena hal-hal yang juga menghancurkan hati Tuhan.

Masih Ada Harapan!
Harapan menjadi mungkin karena natur Tuhan. Ia adalah Tuhan yang menepati janji dan Tuhan yang kasih. He is the betrayed lover who continues to love. :") Remember, God is making all things new, not making all new things. Tuhan sanggup membawa pembaharuan terhadap setiap kerusakan yang sudah terjadi (baik di diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan seluruh dunia). Namun, kita tetap memerlukan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita. Forgiveness is needed for any new beginnings dan itulah yang dianugerahkan kepada kita melalui Kristus. Dialah Mesias yang melakukan setiap hal yang gagal dilakukan oleh raja-raja sebelumnya. He will deal wisely, do justice, righteousness, salvation and dwell securely. Sehingga, sebagai seorang murid, sudah sepantasnyalah kita mengikuti teladan Guru kita; menjadi instrumen-Nya dalam membawa pembaharuan di bidang kita masing-masing.

(Cont'd)

The Fruitful Faith

2-peter-1-5-8-alt

Soon after I poured out all my worries about the upcoming days, God told me those things above: everything I need to be content has been provided by Him. You know what, He always does things like this to me. Every time my heart cries out for answers, He straightly provides them.

Just like this one.

I have to admit that I feel a bit burdened now about many things. One of them, it is about my life-calling; I am currently trying to re-focus my motivation & desires, because working looks more like a routine now and I was very hard to feel driven by God’s vision while doing that. This is my biggest struggle. For that very reason, I want to ask God to give me great strength, great joy, and great satisfaction that comes from Him, so that those tough days which will always make me go home at night, won’t feel too exhausting, if nothing of the opposites will happen.

He answered my prayer just…on time, while maybe it was too quick, in human’s sight.

I read 2 Peter 1:1-10 and got my eyes stuck on these parts:

  1. I am created and saved to participate in divine nature; that’s why I need God’s divine power. My workplace is a place I should see in the Christian World View–not a mere place, but a place in which God the Ruler also put His authority. I need to be more obedient to Him than to people and do every project I have been given as in I participate in divine nature. What does it mean? I need divine power, certainly. I shouldn’t overlook God’s power and try to live in my own strength to finish those projects; that’s not a true Christian.
  2. My faith in Jesus Christ needs to be a fruitful faith; a living faith, because only a living tree bears fruit, right? Moreover, a living faith is a faith which acts. That’s why we need to make every effort to add to our faith goodness; and to goodness, knowledge; and to knowledge, self-control; and to self-control, perseverance; and to perseverance, godliness; and to godliness, mutual affection; and to mutual affection, love. I need to work on these in every aspect of my life–include my life-calling. For if I possess these qualities in increasing measure, they will keep me from being ineffective and unproductive in my knowledge of our Lord Jesus Christ who is (to remind you again) also the Ruler in my workplace. Shortly, those qualities will make me an effective and productive one in knowing that the Lord wants me to be Christ-motivated and Spirit-desired to work.
  3. I should not be lazy. I’d rather have to make every effort to confirm my calling and election. For if I do these things, I will never stumble. Those tough days will never make me stumble. I shout amen for that.

Thank God, You really take care of me. 😦

Help me to do what You want me to do.

I am still confused. I honestly am. 😦