#Rangkul25: Tanpa Penyesalan

Suatu kali seseorang datang dan bertanya kepada perempuan itu, “apa yang membuatmu begitu kuat seperti ini, setelah semua yang telah kau alami?” Perempuan itu pun menjawab,

Aku tidak pernah berpikir bahwa aku telah begitu kuat. Karena yang sehari-hari aku lakukan adalah berdiam diri dan merenungkan berbagai pertanyaan. Aku bertanya-tanya, “kenapa harus seperti ini? Ternyata aku sesalah itu, ya? Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa orang-orang harus mengorbankanku dengan menimpakan kesedihan ini kepadaku? Tidak bisakah dipilihnya saja orang lain?”

Sehari-hari aku banyak menangis, meratapi nasib, kata orang. Bahkan, kadang-kadang air mata itu mengalir begitu saja tanpa pernah aku rencanakan. Aku lagi belajar, air mataku menetes. Aku lagi makan, air mataku juga menetes. Aku bahkan merasa jangan-jangan ketika aku tidur pun ada air mata yang menetes. Aku dikuras habis pada waktu itu.

Aku jadi bingung, kenapa kau bilang aku sekuat ini? Kalau kau tau yang sebenarnya, kau akan berpikir ulang untuk mengatakan itu.

Yang kuingat adalah aku telah menjadi begitu lemah. Tidak ada lagi bagian dari diriku yang sanggup aku andalkan. Seluruh akalku dipatahkan, segenap perasaanku diputarbalikkan. Semua yang kupikir akan terjadi, tidak terjadi. Aku betul-betul cupu pada waktu itu. Untuk menghadapi matahari pagi saja aku ragu. Begitu juga dengan malam, hampir selalu dapat kupastikan, aku melewati malam dengan tertidur karena menangis.

Aku makin bingung, di bagian mana kau lihat aku kuat?

Namun, ada 1 hal yang kusaksikan. Pada waktu itu aku betul-betul berserah kepada Allah, Tritunggal Maha Berkarya, dalam setiap pertanyaan dan air mataku. Dalam pertanyaan-pertanyaanku, aku menyerah bahwa aku tidak punya jawabannya. Sedikit pun. Dalam tetes demi tetes air mata itu aku menyerah bahwa aku tidak bisa mengendalikan apa pun. Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku menyerah, semenyerah-menyerahnya. Tidak bersisa.

Di saat itulah, dalam keraguanku menatap pagi, aku mampu juga melewatinya. Bahkan masih dengan senyum, yang sederhana. Di saat itulah, dalam keenggananku mendapatkan malam, aku tetap tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk apa pun.

Aku tidak ingin bilang bahwa aku bahagia pada waktu itu. Aku bukan orang yang pintar berpura-pura dan bermulut manis. Tetapi jika kau minta aku memilih untuk harus mengalami itu ataukah tidak, aku tetap akan memilih “harus”. Kulihat, dengan cara itulah Allah meneruskan karya-Nya di dalamku hingga aku tiba di usia ke-25 ini.

Aku akan terus berserah di hadapan-Nya. Karena aku tau, buahnya manis dan dengan ini kuingatkan kau, buah itu tidak dapat direka-reka. Orang-orang pun dapat membedakan, mana yang sejati, mana yang dibuat-buat. Penyerahan diri ini tidak akan meninggalkan penyesalan.

#Rangkul25

Advertisements

Three Reasons Why You Shouldn’t Do Social Media Detox

For some reasons, doing social media detox is a great idea, but there are some other reasons why you should not do that anymore. Or at least, too much. Please have your seat here, listening to this old grandma speaking.

1. You need social media to live

We can’t undo technology development. It goes somewhere each day. People use social media to socialize in this era. You also read news mostly through the link/share on social media these days and I am not planning to be left out by the world. Not because the fear of missing out but I need to socialize to live. Man is a homo-socius, right? Take it away of your life, and you somehow feel empty. We, human, are called to socialize, to have a companion, to create a relationship and yes to maintain it, and, today we do it through social media.

2. You’re called to share.

Following my first point above, in order to maintain a relationship, you have to share. We share our thoughts, to sharpen others’ and be sharpened. We share our encouragement to strengthen others’ faith. We share our struggle, to be cheered & strengthened. We share jokes, to feel joy. We share dreams, to recognize hope. And yes, we share love, to love. A relationship lasts because we share, and we can do it through social media.

3. You love through social media.

What is the biggest and the most important thing among faith, hope, and love? It is love. If I speak with human eloquence and angelic ecstasy but don’t love, I’m nothing but the creaking of a rusty gate. If I speak God’s Word with power, revealing all his mysteries and making everything plain as day, and if I have faith that says to a mountain, “Jump,” and it jumps, but I don’t love, I’m nothing. If I give everything I own to the poor and even go to the stake to be burned as a martyr, but I don’t love, I’ve gotten nowhere. So, no matter what I say, what I believe, and what I do, I’m bankrupt without love.

And believe it or not, social media is created for us also to love. Show your love when you see people’s need they’ve shown on social media. Don’t be busy judging them.

At least those are three reasons I found during my already half-way period of doing my social media detox. I feel drained. At first I thought this is a bad sign of me and my behavior, you know, am I taking social media use too much with bad motives or something?

But then I realize, it’s not. But commitment is a commitment, I will enjoy some days ahead still detoxing. I learn and experience many things tho lately.

Got a quest on AskFM: kenapa sih banyak orang yang suka nge-judge lewat media sosial? Padahalkan menebarkan kebaikan itu bisa lebih indah?

First of all, being judgmental in general terjadi karena manusia gagal mengenal dirinya sendiri–in deeper sense of recognizing ourselves. Kenal diri sendiri nggak cuma berarti tau bahwa kamu itu seorang yg introvert, koleris, ambivert, pemalu, pendiam, or whatsoever. Mengenal diri sendiri lebih dari itu. Bahkan sampai kepada, “untuk apa/siapa kamu hidup?”, “kenapa kamu (masih) hidup?”, “apa potensimu?”, “why you do certain things?”, “apa yg nge-drive kamu melakukan ini dan itu?” dan banyak pertanyaan mendalam lain.

 And it requires a lifetime journey.

Kenapa orang jadi judgmental karena alasan itu? Yes of course, karena kalau kamu kenal banget sama diri kamu, kamu nggak akan berani menghakimi orang lain–kebanyakan kita pasti melakukan hal yg sama–atau punya potensi melakukan hal yang sama. This behaviour kemudian mendapat ruang yang lebih besar dalam penggunaan sosial media.

What can you interprete from a filtery kind of picture on Instagram? It will never fully describe anything about that person. I mean, ketika kamu yang tidak mengenal dirimu sendiri dengan baik mulai menilai seseorang di sosmed yang tidak kamu kenal dengan baik (people tend to judge someone they barely know, right?) maka jadilah ini double-trouble. What measure will you use to do so?

The good news, the more you understand yourself, the less you judge. The more you understand others, the less you judge. Imagine if these two things combined together. The world will be less judgmental.

The next question is, how could we understand ourselves more each day? 🙂

The primary thought in the area of religion is— keep your eyes on God, not on people. Your motivation should not be the desire to be known as a praying person. Find an inner room in which to pray where no one even knows you are praying, shut the door, and talk to God in secret. Have no motivation other than to know your Father in heaven. It is impossible to carry on your life as a disciple without definite times of secret prayer.

Saturday, September 16.

utmost.org

EARC 2017 – Bagian 1

Ada yang menarik ketika saya mengetik judul tulisan ini: saya tersenyum lebar dan benar-benar merasa bahagia. Tidak seperti kebanyakan tulisan saya yang lain yang kemungkinan besar diawali dengan kening berkerut. Hehe :/

EARC (East Asia Regional Conference) 2017 adalah salah satu doa saya yang dikabulkan Tuhan. Tahun lalu, tepatnya pada bulan Oktober, saya sempat berbisik di dalam hati & berdoa agar saya diikutsertakan ke EARC 2017 yang diselenggarakan di Korea Selatan. Ketika itu saya spontan saja berdoa sehabis mendengar bahwa EARC akan diadakan kembali. Saya juga belum sempat menyelidiki apa motivasi saya di kala itu–dan nggak lama kemudian, saya berbisik lagi, "Ah, itu kan untuk mahasiswa. Kamu siapa, Beth?" Saya tidak berharap banyak dan memilih melupakannya saja.

Rupanya Tuhan menjawab doa tersebut dan mengizinkan saya diikutsertakan sebagai salah satu peserta perwakilan Indonesia untuk diperlengkapi dengan berlimpah-limpah melalui acara ini. Saya sangat yakin Tuhan nggak main-main melibatkan saya di sini. Ya sekalipun rencana-Nya tidak bergantung pada yakin/tidaknya saya, sih. Saya bersyukur dan tulisan ini adalah salah satu wujud rasa syukur saya kepada Tuhan karena di sini saya akan merangkum beberapa hal yang mengena di hati saya sebagai pengingat pribadi, serta berharap mereka yang membaca juga beroleh berkat.

Saya akan membaginya ke dalam 2 bagian: bagian 1 adalah tentang apa yang berkesan secara personal kepada saya melalui bible exposition & plenary session, dan bagian 2 adalah tentang all the fun I had in EARC.

Selamat membaca!

Karakter Nabi Yeremia
Yeremia adalah seorang nabi yang kreatif. Kreativitasnya ditunjukkan melalui caranya menyampaikan firman TUHAN: drawing pictures, making images, & using poetry. Ia juga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap kondisi masyarakat (punya passion terhadap orang-orang), serta memiliki keyakinan yang kuat akan panggilannya. Belajar dari Yeremia, saya perlu mengenali dan mengevaluasi diri sendiri, apa yang saya belum miliki? Saya rasa ini penting mengingat konteks yang ada saat ini tidak persis sama dengan yang dihadapi Yeremia. Sebagai utusan Tuhan dalam melayani sesama, saya yakin Tuhan ingin kita menjadi relevan agar firman-Nya tetap dapat diterima tanpa mengurangi kedalaman pesannya. Lagi, sudah jarang saya berpikir kreatif untuk menyampaikan firman Tuhan–padahal itu dapat mempermudah sesama saya dalam memahaminya. Saya memilih menyampaikannya plek-plek-an saja tanpa memerhatikan apakah cara itu membuat sesama saya mengerti maksud Tuhan dalam firman tersebut. Saya menyadari bahwa seseorang yang mau menyampaikan firman Tuhan adalah seseorang yang tidak boleh tidak berpikir panjang dan dalam, semata-mata demi keutuhan firman dapat tetap disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. It's not enough to be masters in the word of God, we need to be also masters in the world of God.

The Weeping Prophet
Lima puluh tahun Yeremia menyampaikan firman TUHAN dan tidak ada satu pun yang percaya. Mereka memilih percaya kepada nabi-nabi palsu yang menyampaikan hal-hal palsu. Tetapi Yeremia tetap bertahan pada panggilan Tuhan baginya: menyampaikan apa yang TUHAN taruh di dalam hatinya. Yeremia banyak menangis dan kesal di sepanjang pelayanannya karena perilaku orang-orang ke mana TUHAN mengutusnya. Sekalipun begitu, Yeremia terus saja menyampaikan kebenaran. Truth matters than popularity. Dia ditolak, mengalami kesendirian, dihina, bahkan dipenjara dan hampir dibunuh, namun hal itu tidak membuat Yeremia mencari jalan aman. Benar adanya bahwa, we cannot follow God and stay on the margins & we cannot be disciples while staying neutral.

God is a God that can be provoked into anger
Yeremia adalah nabi yang serius merespons dosa yang dilakukan bangsanya. Dia menyampaikannya dengan jelas dan eksplisit. Tidak ada yang diperindahnya. Dosa pada hakikatnya adalah busuk, dan itulah yang ia ungkapkan. Rupanya status "bangsa perjanjian" telah dilupakan oleh bangsa pilihan ini dan mereka hanya mau berkat Tuhan tanpa ketaatan. Sungguh mirip dengan kita, ya? Yeremia menjadi utusan TUHAN untuk menyampaikan bahwa Ia marah akan dosa-dosa mereka dan jangan pikir itu membuat Allah terlihat jahat; justru itu adalah konfirmasi kasih-Nya kepada umat.

Knowing God means doing justice
Eksploitasi orang-orang yang lemah bukanlah hal baru. Kitab Yeremia sudah mencatatkan hal itu sebagai dosa yang dilakukan oleh umat TUHAN dan Ia membenci hal tersebut. Ia adalah Allah yang adil. Siapa pun yang mengaku mengenal Allah haruslah menegakkan keadilan. You can't claim to know God while not caring for the poor. Tidak harus berlangsung di pengadilan atau lembaga-lembaga berbau hukum lain, ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang melakukan cinta-kasih dan keadilan.

Di mana Tuhan? Kenapa rasanya Dia diam saja?
TUHAN di sana, bersama orang-orang Israel: God speaks in exile, God is not a tribal/national God, God is not bound by geography/a building, and God is now in exile with His people. Saya jadi semakin yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan saya karena keberadaan-Nya tidak bergantung pada saya, melainkan pada Dia sendiri. Manusia terlalu sok tahu ketika menuding Tuhan sedang diam atau pergi padahal bagian yang seharusnya ia lakukan adalah mencari dan datang kepada Tuhan, serta terus menyediakan waktu untuk berbicara kepada-Nya, apa pun kondisinya.

"Seek the peace and prosperity of the city"
Sejak awal, bagian ini adalah salah satu yang susah saya mengerti dan lakukan. Sebutlah saya sedang mengalami "pembuangan" ke mana saya merasa "dibuang". Saya pasti tidak serta-merta dapat memikirkan kesejahteraan tempat tersebut. Boro-boro, saya pasti ingin langsung pergi saja dari sana. Puji Tuhan, saya bukan Tuhan. Tuhan saya justru meminta saya mengusahakan kesejahteraan tempat itu karena kesejahteraannya adalah kesejahteraan saya juga. Tuhan saya meminta untuk tidak membalas kejahatan yang saya terima di tempat itu. Seperti Daniel, misinya bukanlah misi Babel, misinya adalah misi ke Babel dan dia tahu, misi itu datangnya dari Tuhan. Tuhan menempatkan saya di berbagai tempat bukan untuk duduk diam dan protes, mengeluh sana-sini, melainkan untuk bekerja.

IT'S OKAY TO CRY
Beberapa orang malu menangis karena merasa itu adalah pertanda bahwa ia lemah. Tetapi ternyata kita tetap perlu menangis & meratap. Ada 4 makna ratapan: 1) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana adanya, 2) ratapan sebagai cara melihat sesuatu yang bukan sebagaimana adanya, 3) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana ia seharusnya, dan 4) ratapan sebagai cara melihat sesuatu sebagaimana jadinya nanti. Lament is not only about grief but also hope. Kalau kita nggak sedih, mungkin saja kita belum merasa helpless dan membutuhkan Tuhan. Seperti Yeremia, hati yang hancur miliknya adalah hati yang hancur karena hal-hal yang juga menghancurkan hati Tuhan.

Masih Ada Harapan!
Harapan menjadi mungkin karena natur Tuhan. Ia adalah Tuhan yang menepati janji dan Tuhan yang kasih. He is the betrayed lover who continues to love. :") Remember, God is making all things new, not making all new things. Tuhan sanggup membawa pembaharuan terhadap setiap kerusakan yang sudah terjadi (baik di diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan seluruh dunia). Namun, kita tetap memerlukan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita. Forgiveness is needed for any new beginnings dan itulah yang dianugerahkan kepada kita melalui Kristus. Dialah Mesias yang melakukan setiap hal yang gagal dilakukan oleh raja-raja sebelumnya. He will deal wisely, do justice, righteousness, salvation and dwell securely. Sehingga, sebagai seorang murid, sudah sepantasnyalah kita mengikuti teladan Guru kita; menjadi instrumen-Nya dalam membawa pembaharuan di bidang kita masing-masing.

(Cont'd)

The Fruitful Faith

2-peter-1-5-8-alt

Soon after I poured out all my worries about the upcoming days, God told me those things above: everything I need to be content has been provided by Him. You know what, He always does things like this to me. Every time my heart cries out for answers, He straightly provides them.

Just like this one.

I have to admit that I feel a bit burdened now about many things. One of them, it is about my life-calling; I am currently trying to re-focus my motivation & desires, because working looks more like a routine now and I was very hard to feel driven by God’s vision while doing that. This is my biggest struggle. For that very reason, I want to ask God to give me great strength, great joy, and great satisfaction that comes from Him, so that those tough days which will always make me go home at night, won’t feel too exhausting, if nothing of the opposites will happen.

He answered my prayer just…on time, while maybe it was too quick, in human’s sight.

I read 2 Peter 1:1-10 and got my eyes stuck on these parts:

  1. I am created and saved to participate in divine nature; that’s why I need God’s divine power. My workplace is a place I should see in the Christian World View–not a mere place, but a place in which God the Ruler also put His authority. I need to be more obedient to Him than to people and do every project I have been given as in I participate in divine nature. What does it mean? I need divine power, certainly. I shouldn’t overlook God’s power and try to live in my own strength to finish those projects; that’s not a true Christian.
  2. My faith in Jesus Christ needs to be a fruitful faith; a living faith, because only a living tree bears fruit, right? Moreover, a living faith is a faith which acts. That’s why we need to make every effort to add to our faith goodness; and to goodness, knowledge; and to knowledge, self-control; and to self-control, perseverance; and to perseverance, godliness; and to godliness, mutual affection; and to mutual affection, love. I need to work on these in every aspect of my life–include my life-calling. For if I possess these qualities in increasing measure, they will keep me from being ineffective and unproductive in my knowledge of our Lord Jesus Christ who is (to remind you again) also the Ruler in my workplace. Shortly, those qualities will make me an effective and productive one in knowing that the Lord wants me to be Christ-motivated and Spirit-desired to work.
  3. I should not be lazy. I’d rather have to make every effort to confirm my calling and election. For if I do these things, I will never stumble. Those tough days will never make me stumble. I shout amen for that.

Thank God, You really take care of me. 😦

Help me to do what You want me to do.

I am still confused. I honestly am. 😦

Pelajaran dari Jalanan

Teringat pada sepenggal tulisan dari Ika Natassa dalam novelnya yang berjudul Critical Eleven, “Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying”, sontak mengkristallah kutipan ini dalam potret rutinitas pagi hari di jalanan pejalan kaki daerah Sudirman, dekat dengan kantor saya, ketika beberapa pagi yang lalu saya lewati jalan itu. Sudah kurang-lebih seratus hari saya melewatinya, tapi entah mengapa barulah kali ini hati saya didesak untuk membukakan diri pada satu lagi pelajaran hidup yang dititipkan Tuhan dari Surga.

Mulai tahun 2016 ini, Trans-Jakarta adalah angkutan umum yang selalu saya naiki menuju kantor. Saya naik di halte Departemen Pertanian (kadang-kadang juga halte Ragunan) lalu turun di halte Dukuh Atas 2 yang menjadi halte tujuan terakhir pada rute tersebut. Kantor saya berada tidak jauh dari halte Dukuh Atas 2. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 7-10 menit untuk tiba di kantor.

Pagi itu adalah pagi yang tidak biasa. Ada energi yang lebih banyak dan lebih berbahagia yang saya rasakan. Bahkan ketika berjalan dari halte Dukuh Atas 2 menuju kantor pun saya masih sempat-sempatnya bersenandung kecil lagu New Every Morning, yang dinyanyikan oleh Covenant Worship, sambil senyam-senyum di balik masker yang saya kenakan. Rasanya bahagia sekali–saya tidak tahu persis apa yang menjadi alasannya.

“This is the day You have made,

I’ll rejoice and praise You for

 new favor,

new power,

we move from strength to strength!”

Siapa yang tidak bersukacita menyanyikannya? Karena itulah saya tidak bisa menolak ajakan hati ini untuk turut berbahagia pada pagi itu.

Tapi tetap, saya lapar. Cacing-cacing di dalam perut saya seperti sudah melakukan demo. Saya pun memutuskan untuk membeli bubur ayam di abang-abang tukang bubur yang mangkal di tanjakan dari arah Dukuh Atas 2 menuju kantor. Saya sudah pernah membeli bubur ayam dari tempat itu dan rasanya enak sekali. Buburnya panas, kacangnya enak, ayamnya banyak, kaldunya pas, sausnya enak, ada emping, ada kerupuk remeh-temeh (?), ada kecap pastinya, ditambah saat itu saya juga memesan sate usus. Hmm, nikmat! Harganya? Cuma Rp10.000,- Ajaib. Karena itulah saya nagih!

Tapi kali ini saya tidak kebagian sate usus, karena sudah habis. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Tidak berpengaruh juga pada kepastian keselamatan saya.

Saya memberikan bayaran lebih kepada sang penjual yang seketika membuatnya tersenyum lebar bak habis memenangkan lotre. Padahal saya tidak merasa telah memberikan banyak. Saya memberikan uang Rp10.000,00 untuk total Rp8.000,00, tanpa sate usus.

Di sanalah letak perbedaan kami, awal pelajaran dari jalanan ini.

Bagi saya, itu bukanlah jumlah yang signifikan. Bahkan hampir tidak ada nilainya. Tapi bagi dia? Sepertinya itu sudah sanggup menambah 1 ons lagi semangatnya untuk berjualan. Mungkin telah menggenapkan sukacitanya pagi itu. Tampaknya betul, bahagia itu sederhana.

Di sanalah letak perbedaan kami. Bagaimana dia bisa bahagia, bagaimana saya bisa bahagia.

Saya berpikir, akankah saya bisa bahagia hanya dengan diberi dua ribu rupiah oleh orang lain? Akankah binar mata saya sebegitu terang karenanya, seperti si Abang Tukang Bubur? Akankah saya mampu tersenyum dengan begitu tulusnya?

Beberapa kali diperhatikan, ternyata si Abang Tukang Bubur sudah selesai berjualan sekitar pukul 08.30 WIB ke atas. Paling pagi, pernah saya melihat dia berjualan pukul 07.00 WIB. Sebutlah memang benar demikian, poin saya adalah dia sangat disiplin dalam mengatur waktunya untuk berjualan. Abang Tukang Bubur pasti bangun dan bersiap-siap pagi-pagi sekali. Lebih pagi dari saya dan dari beberapa orang kantoran di Jakarta ini. Tapi tidak pernah saya melihat dia bersungut-sungut dalam berjualan. Selalu tersenyum dengan manis dan ramah. Dia juga sangat cekatan dalam memasukkan bumbu-bumbu bubur ayam yang dijualnya. Secara khusus pada pagi itu, saya ditularkan semangat pagi olehnya. Saya akui, sering terlintas di pikiran saya godaan untuk mengeluh akan pola bekerja saya yang…ya begitulah. Tetapi saya jadi malu jika melihat si Abang Tukang Bubur yang tidak mengeluh.

“Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying.”

Si Abang Tukang Bubur sedang mencoba bertahan hidup dengan berjualan bubur ayam. Tetapi tidak bisa saya bayangkan jika saya harus berada di posisinya–mencoba bertahan hidup dengan berjualan bubur ayam. Sulit sekali. Belum lagi, apakah penghasilannya cukup untuk hidup saya?

Tetapi toh, sekarang kita sama-sama hidup.

Seimbangkah jika alasan untuk bertahan hidup dijadikan variabel tetap akan mengapa orang harus bekerja? Saya yakin tidak.

Terlepas dari apa pun yang seharusnya menjadi alasan kita bekerja–mencari uang, saya percaya, tidak bijak jika uanglah yang menjadi tuannya. Apakah kita lebih rendah dari uang? Kita yang menciptakan uang, lho. Sama seperti, apakah kita mau dikendalikan oleh teknologi? Manusia juga kan yang menciptakan teknologi? Kita jelas lebih dari segala materi itu.

Terlepas dari apa pun yang menjadi alasan si Abang Tukang Bubur begitu bahagia kemarin itu, saya percaya, mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki adalah jalan untuk selalu bersyukur. Jadi, si Abang Tukang Bubur mungkin telah sebegitu bersyukurnya dengan apa yang dia miliki, sehingga ketika ada bonus–entah berapa pun itu–tak kuasa ia menahan luapan syukur itu sehingga mengalir keluar.

“Karena di Jakarta semua orang berada in the state of trying.”

Saya, sedang berada pada masa-masa mencoba; mencoba mencukupkan diri dengan apa yang saya punya.

Saya, sedang berada pada masa-masa mencoba; mencoba memahami segala sisi untuk saya tetap bisa bersyukur.

Sekian pelajaran dari jalanan kali ini. Saya tidak sabar menunggu pelajaran selanjutnya.