I Am So Not Into Valentine’s Day

Pada dasarnya saya tidak terbiasa dengan perayaan jenis apa pun dan atas dasar apa pun. Saya tidak pernah merayakan ulang tahun saya (di keluarga) dengan definisi perayaan yang coba saya pikirkan telah menjadi kebiasaan di dunia ini. Hal yang paling mungkin saya lakukan bersama keluarga adalah makan bersama di rumah, dengan seluruh masakan yang dibuat oleh ibu saya, dan tentunya ada ikan mas arsik di sana. Cara saya merayakan ulang tahun saya berbeda dengan beberapa orang di sekitar saya. Saya bahkan tidak mengundang siapa pun.

Selain tidak pernah ‘merayakan’ ulang tahun di keluarga saya, saya juga tidak pernah mendapat hadiah ulang tahun dari keluarga saya. Terkait hadiah, saya juga tidak pernah mendapat apa-apa jika saya menjadi juara 1 di sekolah, atau ketika saya mendapatkan beasiswa sejak TK sampai SMP dan berkesempatan menjadi peserta olimpiade fisika di masa itu, atau ketika saya menjadi perwakilan sekolah memenangkan lomba matematika di kota saya, atau ketika saya masuk sekolah swasta terbaik di kota, serta berhasil masuk ke kelas unggulan di sana, atau berbagai prestasi baik lainnya–bahkan ketika saya masuk kampus yang bagus di negeri ini. Bagi saya, hal-hal tersebut adalah pencapaian-pencapaian yang bisa diapresiasi dengan ‘hadiah’ di masa itu, tetapi faktanya, saya tidak pernah mendapatkan apa-apa.

Kebiasaan tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang tidak menganggap satu hari lebih spesial dari hari yang lain, atau pencapaian yang satu menjadi lebih tinggi daripada pencapaian yang lain. Saya menyadari, sekalipun di masa itu saya sedih karena tidak mendapatkan apresiasi seperti teman-teman saya yang bisa dibelikan sepeda ketika dia naik kelas, I just keep going with my life. Saya menjadi orang yang bisa tetap berjuang meski tidak akan “diapresiasi” oleh orang lain. 

Salah satu perwujudan sikap saya terhadap perayaan terlihat ketika Valentine’s Day kemarin. Orang-orang mungkin akan berdebat tentang boleh/tidaknya merayakan Valentine, atau bagaimana seharusnya kita merayakan Valentine jika kita boleh merayakannya, atau mungkin memperdebatkan sejarah Valentine’s Day mana yang benar, yang sebenar-benarnya. I leave all the answers to them, karena sungguh, I don’t really care about it. 

Saya tidak merasakan apa-apa di hari Valentine kemarin; saya tidak merasa harus berbuat apa-apa di hari Valentine kemarin dan saya tidak sadar bahwa ternyata hari itu telah berlalu. Saya juga tidak sedang ingin menekankan bahwa setiap hari adalah Valentine, atau Valentine terbesar adalah ketika Tuhan rela menjadi kutuk demi menebus dosa-dosa umat-Nya. Saya tidak suka mensubstitusi satu budaya dengan makna lain. You got what I mean?

Tetapi saya tenang, karena dulu di setiap malam saya mendengar ibu saya berdoa kepada Tuhan untuk saya dan keluarga saya dengan begitu seriusnya, sampai dia menangis tersedu-sedu. Saya juga tenang karena ibu saya peka dengan memasak makanan kesukaan saya setiap kali saya pulang ke rumah. Saya juga tenang ketika ayah saya percaya kepada saya atas keputusan-keputusan penting yang saya ambil di dalam hidup saya. Saya juga dibentuk menjadi pribadi yang mensyukuri setiap hari dan setiap pencapaian, sebesar/sekecil apa pun dia menurut ukuran dunia ini. Saya juga tenang karena saya merasa tenang dengan keadaan yang seperti ini. 

Saya akui, hal-hal seperti ini yang sekarang membuat saya mudah belajar bersyukur di kondisi apa pun, sparkling or not, membuat saya selalu merasakan kasih sayang (khususnya) orang tua saya setiap harinya, serta membuat saya terbiasa dengan hal-hal sederhana yang tidak se-pinky Valentine’s Day.

I’m so not into Valentine’s day, karena pemaknaan saya pribadi terhadap hari ini tidak berbeda dengan hari-hari lain, dan ya, setiap orang berbeda-beda. Saya tidak sedang memusingkan hal lain selain, “what makes you feel the opposite with me, if that’s the case?” Karena setelah tahu jawabannyalah baru kita bisa memperdebatkan Valentine’s Day lebih jauh dan lebih dalam lagi.

But, don’t get it wrong. I am not an anti towards celebrations or gifts or something, because I personally really love to organize a celebration for my dearest people’s birthdays and I love to appreciate them with gifts, too! 

The Fruitful Faith

2-peter-1-5-8-alt

Soon after I poured out all my worries about the upcoming days, God told me those things above: everything I need to be content has been provided by Him. You know what, He always does things like this to me. Every time my heart cries out for answers, He straightly provides them.

Just like this one.

I have to admit that I feel a bit burdened now about many things. One of them, it is about my life-calling; I am currently trying to re-focus my motivation & desires, because working looks more like a routine now and I was very hard to feel driven by God’s vision while doing that. This is my biggest struggle. For that very reason, I want to ask God to give me great strength, great joy, and great satisfaction that comes from Him, so that those tough days which will always make me go home at night, won’t feel too exhausting, if nothing of the opposites will happen.

He answered my prayer just…on time, while maybe it was too quick, in human’s sight.

I read 2 Peter 1:1-10 and got my eyes stuck on these parts:

  1. I am created and saved to participate in divine nature; that’s why I need God’s divine power. My workplace is a place I should see in the Christian World View–not a mere place, but a place in which God the Ruler also put His authority. I need to be more obedient to Him than to people and do every project I have been given as in I participate in divine nature. What does it mean? I need divine power, certainly. I shouldn’t overlook God’s power and try to live in my own strength to finish those projects; that’s not a true Christian.
  2. My faith in Jesus Christ needs to be a fruitful faith; a living faith, because only a living tree bears fruit, right? Moreover, a living faith is a faith which acts. That’s why we need to make every effort to add to our faith goodness; and to goodness, knowledge; and to knowledge, self-control; and to self-control, perseverance; and to perseverance, godliness; and to godliness, mutual affection; and to mutual affection, love. I need to work on these in every aspect of my life–include my life-calling. For if I possess these qualities in increasing measure, they will keep me from being ineffective and unproductive in my knowledge of our Lord Jesus Christ who is (to remind you again) also the Ruler in my workplace. Shortly, those qualities will make me an effective and productive one in knowing that the Lord wants me to be Christ-motivated and Spirit-desired to work.
  3. I should not be lazy. I’d rather have to make every effort to confirm my calling and election. For if I do these things, I will never stumble. Those tough days will never make me stumble. I shout amen for that.

Thank God, You really take care of me. 😦

Help me to do what You want me to do.

I am still confused. I honestly am. 😦

Pelajaran dari Jalanan

Teringat pada sepenggal tulisan dari Ika Natassa dalam novelnya yang berjudul Critical Eleven, “Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying”, sontak mengkristallah kutipan ini dalam potret rutinitas pagi hari di jalanan pejalan kaki daerah Sudirman, dekat dengan kantor saya, ketika beberapa pagi yang lalu saya lewati jalan itu. Sudah kurang-lebih seratus hari saya melewatinya, tapi entah mengapa barulah kali ini hati saya didesak untuk membukakan diri pada satu lagi pelajaran hidup yang dititipkan Tuhan dari Surga.

Mulai tahun 2016 ini, Trans-Jakarta adalah angkutan umum yang selalu saya naiki menuju kantor. Saya naik di halte Departemen Pertanian (kadang-kadang juga halte Ragunan) lalu turun di halte Dukuh Atas 2 yang menjadi halte tujuan terakhir pada rute tersebut. Kantor saya berada tidak jauh dari halte Dukuh Atas 2. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 7-10 menit untuk tiba di kantor.

Pagi itu adalah pagi yang tidak biasa. Ada energi yang lebih banyak dan lebih berbahagia yang saya rasakan. Bahkan ketika berjalan dari halte Dukuh Atas 2 menuju kantor pun saya masih sempat-sempatnya bersenandung kecil lagu New Every Morning, yang dinyanyikan oleh Covenant Worship, sambil senyam-senyum di balik masker yang saya kenakan. Rasanya bahagia sekali–saya tidak tahu persis apa yang menjadi alasannya.

“This is the day You have made,

I’ll rejoice and praise You for

 new favor,

new power,

we move from strength to strength!”

Siapa yang tidak bersukacita menyanyikannya? Karena itulah saya tidak bisa menolak ajakan hati ini untuk turut berbahagia pada pagi itu.

Tapi tetap, saya lapar. Cacing-cacing di dalam perut saya seperti sudah melakukan demo. Saya pun memutuskan untuk membeli bubur ayam di abang-abang tukang bubur yang mangkal di tanjakan dari arah Dukuh Atas 2 menuju kantor. Saya sudah pernah membeli bubur ayam dari tempat itu dan rasanya enak sekali. Buburnya panas, kacangnya enak, ayamnya banyak, kaldunya pas, sausnya enak, ada emping, ada kerupuk remeh-temeh (?), ada kecap pastinya, ditambah saat itu saya juga memesan sate usus. Hmm, nikmat! Harganya? Cuma Rp10.000,- Ajaib. Karena itulah saya nagih!

Tapi kali ini saya tidak kebagian sate usus, karena sudah habis. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Tidak berpengaruh juga pada kepastian keselamatan saya.

Saya memberikan bayaran lebih kepada sang penjual yang seketika membuatnya tersenyum lebar bak habis memenangkan lotre. Padahal saya tidak merasa telah memberikan banyak. Saya memberikan uang Rp10.000,00 untuk total Rp8.000,00, tanpa sate usus.

Di sanalah letak perbedaan kami, awal pelajaran dari jalanan ini.

Bagi saya, itu bukanlah jumlah yang signifikan. Bahkan hampir tidak ada nilainya. Tapi bagi dia? Sepertinya itu sudah sanggup menambah 1 ons lagi semangatnya untuk berjualan. Mungkin telah menggenapkan sukacitanya pagi itu. Tampaknya betul, bahagia itu sederhana.

Di sanalah letak perbedaan kami. Bagaimana dia bisa bahagia, bagaimana saya bisa bahagia.

Saya berpikir, akankah saya bisa bahagia hanya dengan diberi dua ribu rupiah oleh orang lain? Akankah binar mata saya sebegitu terang karenanya, seperti si Abang Tukang Bubur? Akankah saya mampu tersenyum dengan begitu tulusnya?

Beberapa kali diperhatikan, ternyata si Abang Tukang Bubur sudah selesai berjualan sekitar pukul 08.30 WIB ke atas. Paling pagi, pernah saya melihat dia berjualan pukul 07.00 WIB. Sebutlah memang benar demikian, poin saya adalah dia sangat disiplin dalam mengatur waktunya untuk berjualan. Abang Tukang Bubur pasti bangun dan bersiap-siap pagi-pagi sekali. Lebih pagi dari saya dan dari beberapa orang kantoran di Jakarta ini. Tapi tidak pernah saya melihat dia bersungut-sungut dalam berjualan. Selalu tersenyum dengan manis dan ramah. Dia juga sangat cekatan dalam memasukkan bumbu-bumbu bubur ayam yang dijualnya. Secara khusus pada pagi itu, saya ditularkan semangat pagi olehnya. Saya akui, sering terlintas di pikiran saya godaan untuk mengeluh akan pola bekerja saya yang…ya begitulah. Tetapi saya jadi malu jika melihat si Abang Tukang Bubur yang tidak mengeluh.

“Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying.”

Si Abang Tukang Bubur sedang mencoba bertahan hidup dengan berjualan bubur ayam. Tetapi tidak bisa saya bayangkan jika saya harus berada di posisinya–mencoba bertahan hidup dengan berjualan bubur ayam. Sulit sekali. Belum lagi, apakah penghasilannya cukup untuk hidup saya?

Tetapi toh, sekarang kita sama-sama hidup.

Seimbangkah jika alasan untuk bertahan hidup dijadikan variabel tetap akan mengapa orang harus bekerja? Saya yakin tidak.

Terlepas dari apa pun yang seharusnya menjadi alasan kita bekerja–mencari uang, saya percaya, tidak bijak jika uanglah yang menjadi tuannya. Apakah kita lebih rendah dari uang? Kita yang menciptakan uang, lho. Sama seperti, apakah kita mau dikendalikan oleh teknologi? Manusia juga kan yang menciptakan teknologi? Kita jelas lebih dari segala materi itu.

Terlepas dari apa pun yang menjadi alasan si Abang Tukang Bubur begitu bahagia kemarin itu, saya percaya, mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki adalah jalan untuk selalu bersyukur. Jadi, si Abang Tukang Bubur mungkin telah sebegitu bersyukurnya dengan apa yang dia miliki, sehingga ketika ada bonus–entah berapa pun itu–tak kuasa ia menahan luapan syukur itu sehingga mengalir keluar.

“Karena di Jakarta semua orang berada in the state of trying.”

Saya, sedang berada pada masa-masa mencoba; mencoba mencukupkan diri dengan apa yang saya punya.

Saya, sedang berada pada masa-masa mencoba; mencoba memahami segala sisi untuk saya tetap bisa bersyukur.

Sekian pelajaran dari jalanan kali ini. Saya tidak sabar menunggu pelajaran selanjutnya.

Waktu

Persoalan waktu sama sekali tidak elastis. Tidak peduli betapa tinggi permintaannya, pasokannya tidak akan naik. Tidak ada harga untuk waktu dan tidak ada kurva utilitas marjinal untuk itu. Selain itu, waktu habis dengan seketika dan tidak bisa disimpan. Waktu kemarin pasti hilang selamanya dan tidak akan pernah kembali. Maka, waktu selalu mengalami pasokan yang sangat kurang

Peter Drucker, The Effective Executive: The Definitive Guide to Getting the Right Things Done (New York: Harper Business, 2006), 26.

time_flies33
http://www.mrkate.com/wp-content/uploads/2013/04/time_flies33.jpg

Sebagai seorang yang sudah ditebus dengan darah yang mahal, pengorbanan yang mulia, serta kasih yang ajaib, saya tahu bahwa hidup saya harus dipersembahkan kepada Kristus, sang Penebus itu. Saya tidak terlalu paham bagaimana mempersembahkan hidup saya. Yang saya paham, selama saya hidup, saya berurusan dengan waktu. Baik hidup maupun waktu, dua-duanya tidak abadi. Bahkan waktu, ini adalah dimensi yang paling tidak saya pahami, yang diciptakan Tuhan bagi kita.

Melanjutkan kutipan di atas, waktu tidak pernah terikat pada manusia. Dia tidak pernah membuat kesepakatan kepada kita, melainkan Pencipta. Dua puluh empat jam di bumi adalah durasi rotasi bumi terhadap porosnya sendiri yang mana, mustahil kalau ada yang masih tidak mengakui bahwa itu adalah matematikanya Tuhan. Sama mustahilnya jika masih ada yang tidak percaya bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari manusia itu sendiri yang menjadi pengendali alam semesta.

Sungguh unik, manusialah yang secara sepihak mengikatkan dirinya kepada waktu, seperti, “Aku akan tidur selama 7 jam, karena itu adalah waktu yang paling cukup untuk kondisi tubuhku”. Sementara waktu? Apakah dia menyetujui itu? Bahkan sudah tidur 7 jam saja pun, kadang-kadang manusia masih terlelap.

Kerumitan waktu dan ketidakabadian manusia pantas membuat kita duduk, diam, dan berpikir tentang apa yang kita telah, sedang, dan akan lakukan dalam hidup ini. Akan ada banyak sudut pandang dalam hal ini. Mereka si tipe “You Only Live Once” akan berpendapat, justru karena itulah, mari lakukan hal-hal yang kau ingini. Menarik sekali, ketika titik tolak tindakan kita adalah ‘keinginan’–pusatnya di hati dan pikiran–yang kalau tidak dibereskan akan menghasilkan ratusan, bahkan ribuan, jutaan keinginan yang ‘elah, apaan sih?’ 

Kembali lagi, sebagai seorang yang sudah ditebus oleh Kristus, teladan-Nya selama Dia hidup di bumi adalah titik tolak kita. Yesus adalah manusia tersibuk dalam sejarah, saya yakin. Tapi Dia sibuk untuk hal yang mulia. Dia pun tahu prioritas, serta tidak pernah meninggalkan persekutuan pribadi-Nya dengan Bapa. Ketika membaca buku Crazy Busy, saya mengerti betapa kita perlu menyibukkan diri dalam melanjutkan misi pelayanan Kristus di bumi, yang dimulai-Nya 2000 tahun yang lalu.

Saya secara khusus ingin menyorot kaum perempuan kristiani (sekaligus mengingatkan saya) yang belakangan ini sibuk terlena dengan pencapaian studi, karir, dan bahkan sibuk memoles diri sendiri demi menjadi perempuan-idaman-lelaki-kristiani. Fokus ketiga hal ini sama, diri sendiri. Apa lagi hal terakhir, seolah-olah memang betul ada “Sekian Langkah Menjadi Calon Pengantin Wanita Kristen Sejati”. Padahal, itu semua adalah buah dari hidup yang dipersembahkan untuk mengikuti teladan Kristus, bukan tujuan hidup. Apakah hidup yang dipersembahkan tersebut? Hidup melanjutkan misi pelayanan Kristus di bumi.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah, siapa pun kamu, selama kamu telah ditebus-Nya, di mana pun kamu, apa pun yang kamu kerjakan, pikirkanlah di mana kamu akan melanjutkan misi pelayanan Kristus dan bagaimana caranya. Kabarkanlah kebaikan Tuhan. Jangan berdiam diri, tidak melakukan apa pun dan puas dengan titel-titel yang bahkan akan ikut lenyap seraya habisnya waktumu di bumi. Waktu, tidak pernah membuat kesepakatan dengan siapa pun, melainkan Pencipta.

 

Ngomongin Y dalam 2+Y=4

Dari dulu, aku selalu suka cerita tentang mama. Kalau orang-orang nanya, aku bisa dengan detil dan berulang-ulang nyeritain tentang mama. Ngga akan pernah bosan, ngga akan pernah berhenti. Ya, aku rasa sebagian besar anak juga merasakan hal yang sama denganku. Bagiku sendiri, menceritakan tentang mama adalah motivasi yang baik.

Aku tidak akan menceritakan siapa mamaku, seperti… namanya, umurnya, asal kampusnya, pekerjaannya, dan sebagainya. Tidak juga akan kuceritakan tentang bagaimana kepribadiannya. Aku tidak akan menceritakan kelebihan-kelebihan mamaku–karena aku sedang tidak ingin bermegah-megah di sana. Tidak bijak pula jika kuceritakan kelemahan-kelamahan mamaku–yang karenanya mungkin bisa kujadikan dalih sebagai ‘pembentukku’.

Aku hanya akan menceritakan missing-link di antara aku dan mama. Missing-link yang kumaksud di sini bukan semacam yang diungkapkan dalam teori pre-evolusi yang menghasilkan pemikiran bahwa semua makhluk hidup di bumi ini pada dasarnya saling berhubungan. Itu terlalu teoritis, hahaha. Tapi, missing-link yang kumaksud di sini adalah besaran nilai pengaruh mama dalam hidupku. Ah, pernah memikirkan hal ini tidak?

Seseorang dengan identitas lengkap mungkin memiliki tujuh puluh tujuh kali kelebihan. Namun, dia tidak ada pengaruhnya bagimu. Sama sekali. Seseorang dengan identitas lengkap tersebut pun mungkin pula memiliki seribu satu kelemahan. Namun, kau tidak akan pernah memedulikannya. Jadi, jikalau mama adalah “X” dengan nilai 2, dan aku adalah “X + Y” dengan nilai 4, maka yang akan kuceritakan adalah nilai Y tersebut.


Karena hidupku bukanlah jenis-jenis bilangan, maka sulit bagiku memberi nilai angka bagi pengaruh tersebut. Namun yang jelas, keberadaan mama sanggup memberikan rasa aman bagiku; aman dalam banyak hal. Tanpa bermaksud meletakkan keamanan tertinggi pada manusia,  aku rasa aku harus mengakuinya, bahwa keamanan tersebut adalah pengaruh pertama bagiku. Aku tidak pernah merasa terancam jika ada mama di dekatku. Untuk urusan pendidikan, keuangan, makanan-minuman, pakaian (aku telah sampai pada titik memercayakan proses pembuatan kebaya wisuda tanpa rasa kuatir sedikit pun akan ukuran, model, dan segala derivatif lainnya pada mama–tanpa aku beri tahu model kesukaanku, tanpa ada pengukuran ini dan itu, pokoknya aku aman kalau mama sudah ikut campur), sepatu (ah, ini juga, aku sangat terkejut ketika mama selalu membelikan sepatu yang sesuai dengan seleraku dan cocok dari segi ukuran serta warna), tempat tinggal, dan seterusnya. Nilai pertama yang terjadi sebagai salah satu faktor pembentuk Y di atas adalah rasa aman. Dan ini pastilah karena ada kepercayaan di dalam diriku akan diri mama. Ah, ya. Saking amannya, aku bahkan tidak pernah kuatir kalau-kalau di rumah terjadi kerusakan alat elektronik, hubungan arus pendek, guci-guci pecah atau retak–semua akan segera kembali berfungsi karena mama.

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, nilai pertama di atas adalah turunan dari rasa percaya yang kumiliki terhadap mama. Bagiku, ini adalah hal yang penting untuk dirasakan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Kalau tidak ada rasa percaya, maka sia-sialah segala kelebihan orang tua tersebut. Kalau tidak ada rasa percaya, maka terlalu jahatlah setiap kelemahan orang tua. Beberapa anak yang tumbuh dewasa sebagai sosok yang terlalu tertutup mungkin dulunya pernah memiliki trust issue–entah terhadap siapa pun–namun rasanya besar pengaruh dari orang-orang terdekat–termasuklah orang tua. Maka sekali lagi, aku bersyukur aku percaya kepada mama. Aku juga ingat, ada yang berkata bahwa, the best proof of love is trust. Bicara tentang rasa percaya, ada beberapa hal yang kuperhatikan; dia tidak didapat begitu saja, butuh bertahun-tahun untuk menghasilkannya, dan objeknya bukan semata pada perkataan maupun perbuatan, namun pada integrasi keduanya dalam pola berkehidupan seseorang. Singkatnya, rasa percaya timbul ketika kita melihat konsistensi integritas seseorang. Jadi, berbahagialah orang tua yang berhasil memberikan rasa percaya bagi anak-anak mereka. Serta sebaliknya, memiliki rasa percaya kepada anak-anak mereka pula; dan aku pun mengalami hal ini.

Keberadaan mama juga memberikan aku ruang untuk takut. Takut dalam hal ini bukanlah takut karena hal negatif, namun karena aku memiliki rasa hormat terhadap mama. Aku bersyukur diberikan ruang tersebut. Ruang bentukan mama yang aku masuki sendiri–sukarela. Aku bersyukur sejak kecil dididik dengan sedemikian rupa sehingga aku bisa nyaman berada di dalam ruangan ini. Salah satu hasilnya adalah masalah preferensi. Preferensi mama adalah salah satu preferensiku pula, tidak pernah aku berdaya mengabaikan pendapatnya. Namun di saat yang bersamaan, karena mama percaya, aku leluasa untuk tidak setuju pada preferensinya. Satu hal, respect is gained from character. Aku bisa menghormati mama tentu karena aku telah mengenal karakter mama, dan aku bersyukur akan hal tersebut. Mama adalah teladan seorang wanita yang sesungguhnya bagiku, dan itu yang membuatku menghormati teladan mama dengan belajar melakukannya pula di dalam hidupku. 


Aku rasa, ketiga hal di ataslah nilai Y di dalam persamaan 2+Y=4 tadi; rasa aman, rasa percaya, dan rasa hormat. Inilah yang menjadi missing-link-yang-sekarang-sudah-tidak-missed-lagi-hahaha di dalam relasiku dengan mama. Sekali lagi kukatakan, aku bersyukur bisa merasakan hal tersebut terhadap mama. Kalau kata salah satu quote, kesemua hal tersebut akan menghasilkan kesetiaan pada akhirnya. Doaku adalah, semoga aku akan setia sebagai anaknya.

…karena… apa lagi yang paling manis di dalam suatu relasi selain kesetiaan?

2015_0830_14510100
Mama, thank you for who I am. Thanks for being God’s tool to raise me and care for me.

And I think the core of that message — you’re not alone, we love you — has to be at every level of how we respond to addicts, socially, politically and individually. For 100 years now, we’ve been singing war songs about addicts. I think all along we should have been singing love songs to them, because the opposite of addiction is not sobriety. The opposite of addiction is connection.

Johann Hari on TEDTalks: Everything you think you know about addiction is wrong 🙂

That’s how I was reminded again that all we need is love. God’s love, for sure, which is shown concretely by us, His children. Thank God for enabling me see this thing and please help me show Your love to anyone You give around me. Amen.