Pelajaran dari Jalanan

Teringat pada sepenggal tulisan dari Ika Natassa dalam novelnya yang berjudul Critical Eleven, “Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying”, sontak mengkristallah kutipan ini dalam potret rutinitas pagi hari di jalanan pejalan kaki daerah Sudirman, dekat dengan kantor saya, ketika beberapa pagi yang lalu saya lewati jalan itu. Sudah kurang-lebih seratus hari saya melewatinya, tapi entah mengapa barulah kali ini hati saya didesak untuk membukakan diri pada satu lagi pelajaran hidup yang dititipkan Tuhan dari Surga.

Mulai tahun 2016 ini, Trans-Jakarta adalah angkutan umum yang selalu saya naiki menuju kantor. Saya naik di halte Departemen Pertanian (kadang-kadang juga halte Ragunan) lalu turun di halte Dukuh Atas 2 yang menjadi halte tujuan terakhir pada rute tersebut. Kantor saya berada tidak jauh dari halte Dukuh Atas 2. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 7-10 menit untuk tiba di kantor.

Pagi itu adalah pagi yang tidak biasa. Ada energi yang lebih banyak dan lebih berbahagia yang saya rasakan. Bahkan ketika berjalan dari halte Dukuh Atas 2 menuju kantor pun saya masih sempat-sempatnya bersenandung kecil lagu New Every Morning, yang dinyanyikan oleh Covenant Worship, sambil senyam-senyum di balik masker yang saya kenakan. Rasanya bahagia sekali–saya tidak tahu persis apa yang menjadi alasannya.

“This is the day You have made,

I’ll rejoice and praise You for

 new favor,

new power,

we move from strength to strength!”

Siapa yang tidak bersukacita menyanyikannya? Karena itulah saya tidak bisa menolak ajakan hati ini untuk turut berbahagia pada pagi itu.

Tapi tetap, saya lapar. Cacing-cacing di dalam perut saya seperti sudah melakukan demo. Saya pun memutuskan untuk membeli bubur ayam di abang-abang tukang bubur yang mangkal di tanjakan dari arah Dukuh Atas 2 menuju kantor. Saya sudah pernah membeli bubur ayam dari tempat itu dan rasanya enak sekali. Buburnya panas, kacangnya enak, ayamnya banyak, kaldunya pas, sausnya enak, ada emping, ada kerupuk remeh-temeh (?), ada kecap pastinya, ditambah saat itu saya juga memesan sate usus. Hmm, nikmat! Harganya? Cuma Rp10.000,- Ajaib. Karena itulah saya nagih!

Tapi kali ini saya tidak kebagian sate usus, karena sudah habis. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Tidak berpengaruh juga pada kepastian keselamatan saya.

Saya memberikan bayaran lebih kepada sang penjual yang seketika membuatnya tersenyum lebar bak habis memenangkan lotre. Padahal saya tidak merasa telah memberikan banyak. Saya memberikan uang Rp10.000,00 untuk total Rp8.000,00, tanpa sate usus.

Di sanalah letak perbedaan kami, awal pelajaran dari jalanan ini.

Bagi saya, itu bukanlah jumlah yang signifikan. Bahkan hampir tidak ada nilainya. Tapi bagi dia? Sepertinya itu sudah sanggup menambah 1 ons lagi semangatnya untuk berjualan. Mungkin telah menggenapkan sukacitanya pagi itu. Tampaknya betul, bahagia itu sederhana.

Di sanalah letak perbedaan kami. Bagaimana dia bisa bahagia, bagaimana saya bisa bahagia.

Saya berpikir, akankah saya bisa bahagia hanya dengan diberi dua ribu rupiah oleh orang lain? Akankah binar mata saya sebegitu terang karenanya, seperti si Abang Tukang Bubur? Akankah saya mampu tersenyum dengan begitu tulusnya?

Beberapa kali diperhatikan, ternyata si Abang Tukang Bubur sudah selesai berjualan sekitar pukul 08.30 WIB ke atas. Paling pagi, pernah saya melihat dia berjualan pukul 07.00 WIB. Sebutlah memang benar demikian, poin saya adalah dia sangat disiplin dalam mengatur waktunya untuk berjualan. Abang Tukang Bubur pasti bangun dan bersiap-siap pagi-pagi sekali. Lebih pagi dari saya dan dari beberapa orang kantoran di Jakarta ini. Tapi tidak pernah saya melihat dia bersungut-sungut dalam berjualan. Selalu tersenyum dengan manis dan ramah. Dia juga sangat cekatan dalam memasukkan bumbu-bumbu bubur ayam yang dijualnya. Secara khusus pada pagi itu, saya ditularkan semangat pagi olehnya. Saya akui, sering terlintas di pikiran saya godaan untuk mengeluh akan pola bekerja saya yang…ya begitulah. Tetapi saya jadi malu jika melihat si Abang Tukang Bubur yang tidak mengeluh.

“Karena di Jakarta, semua orang berada in the state of trying.”

Si Abang Tukang Bubur sedang mencoba bertahan hidup dengan berjualan bubur ayam. Tetapi tidak bisa saya bayangkan jika saya harus berada di posisinya–mencoba bertahan hidup dengan berjualan bubur ayam. Sulit sekali. Belum lagi, apakah penghasilannya cukup untuk hidup saya?

Tetapi toh, sekarang kita sama-sama hidup.

Seimbangkah jika alasan untuk bertahan hidup dijadikan variabel tetap akan mengapa orang harus bekerja? Saya yakin tidak.

Terlepas dari apa pun yang seharusnya menjadi alasan kita bekerja–mencari uang, saya percaya, tidak bijak jika uanglah yang menjadi tuannya. Apakah kita lebih rendah dari uang? Kita yang menciptakan uang, lho. Sama seperti, apakah kita mau dikendalikan oleh teknologi? Manusia juga kan yang menciptakan teknologi? Kita jelas lebih dari segala materi itu.

Terlepas dari apa pun yang menjadi alasan si Abang Tukang Bubur begitu bahagia kemarin itu, saya percaya, mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki adalah jalan untuk selalu bersyukur. Jadi, si Abang Tukang Bubur mungkin telah sebegitu bersyukurnya dengan apa yang dia miliki, sehingga ketika ada bonus–entah berapa pun itu–tak kuasa ia menahan luapan syukur itu sehingga mengalir keluar.

“Karena di Jakarta semua orang berada in the state of trying.”

Saya, sedang berada pada masa-masa mencoba; mencoba mencukupkan diri dengan apa yang saya punya.

Saya, sedang berada pada masa-masa mencoba; mencoba memahami segala sisi untuk saya tetap bisa bersyukur.

Sekian pelajaran dari jalanan kali ini. Saya tidak sabar menunggu pelajaran selanjutnya.

Advertisements

God’s Gracious Plan

I keep telling myself that I’m walking in God’s gracious plan right now. Why is that? Because if it’s not, I’m sure I will lose hope.

I never thought that being a lawyer could be this interesting and challenging at the same time. I never thought that law was so beautiful. Honestly, being a four-year law student had not made sense to me yet. But I now begin to think that being a lawyer is a fit-in kind of profession to me.

Funny how this is going on, huh?

My reason to start loving being a lawyer is not about money. Nor about popularity. Or maybe about pride or something. I just feel that I am doing just right and fine there. I love working hours to hours in front of my computer, doing some researches, reading regulations and stuff, analyzing cases, writing legal opinions, laughing at people who love to beat around the bush talking lawless things, and so on. Lol.

Is it too late to fall in love with something you’ve been with these four years? I want to say yes, but it’s better to say no. Haha :’)

I don’t know what’s going on my body or my brain so that every morning I wake up I never mumble or grumble about this lawyer thingy. But one thing I know for sure is that God work within me. He makes me so enthusiastic to work. I am also amazed on how God open up my heart to pray for my office and all the lawyers inside it. My Father puts His mercy to my office and says it to my heart. I still remember too that the Holy Spirit told me to pray about the cases whom we all try to solve. I am not bragging nor boasting. I am just telling you the truth that happened to me. This is His gracious plan, not mine.

In short, I am sure God really have a great plan for me. Even though I am like the prophet Micah; looks inferior to this world I am in, God can work through me, to do His will, as long as I humble myself before Him and His mighty words. As long as I walk in His light. As long as I rely on Him alone. This is a wonderful promise on how my great God prepare this sinful and weak girl to do good works for Him.

Long way to go!

image