I Am So Not Into Valentine’s Day

Pada dasarnya saya tidak terbiasa dengan perayaan jenis apa pun dan atas dasar apa pun. Saya tidak pernah merayakan ulang tahun saya (di keluarga) dengan definisi perayaan yang coba saya pikirkan telah menjadi kebiasaan di dunia ini. Hal yang paling mungkin saya lakukan bersama keluarga adalah makan bersama di rumah, dengan seluruh masakan yang dibuat oleh ibu saya, dan tentunya ada ikan mas arsik di sana. Cara saya merayakan ulang tahun saya berbeda dengan beberapa orang di sekitar saya. Saya bahkan tidak mengundang siapa pun.

Selain tidak pernah ‘merayakan’ ulang tahun di keluarga saya, saya juga tidak pernah mendapat hadiah ulang tahun dari keluarga saya. Terkait hadiah, saya juga tidak pernah mendapat apa-apa jika saya menjadi juara 1 di sekolah, atau ketika saya mendapatkan beasiswa sejak TK sampai SMP dan berkesempatan menjadi peserta olimpiade fisika di masa itu, atau ketika saya menjadi perwakilan sekolah memenangkan lomba matematika di kota saya, atau ketika saya masuk sekolah swasta terbaik di kota, serta berhasil masuk ke kelas unggulan di sana, atau berbagai prestasi baik lainnya–bahkan ketika saya masuk kampus yang bagus di negeri ini. Bagi saya, hal-hal tersebut adalah pencapaian-pencapaian yang bisa diapresiasi dengan ‘hadiah’ di masa itu, tetapi faktanya, saya tidak pernah mendapatkan apa-apa.

Kebiasaan tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang tidak menganggap satu hari lebih spesial dari hari yang lain, atau pencapaian yang satu menjadi lebih tinggi daripada pencapaian yang lain. Saya menyadari, sekalipun di masa itu saya sedih karena tidak mendapatkan apresiasi seperti teman-teman saya yang bisa dibelikan sepeda ketika dia naik kelas, I just keep going with my life. Saya menjadi orang yang bisa tetap berjuang meski tidak akan “diapresiasi” oleh orang lain. 

Salah satu perwujudan sikap saya terhadap perayaan terlihat ketika Valentine’s Day kemarin. Orang-orang mungkin akan berdebat tentang boleh/tidaknya merayakan Valentine, atau bagaimana seharusnya kita merayakan Valentine jika kita boleh merayakannya, atau mungkin memperdebatkan sejarah Valentine’s Day mana yang benar, yang sebenar-benarnya. I leave all the answers to them, karena sungguh, I don’t really care about it. 

Saya tidak merasakan apa-apa di hari Valentine kemarin; saya tidak merasa harus berbuat apa-apa di hari Valentine kemarin dan saya tidak sadar bahwa ternyata hari itu telah berlalu. Saya juga tidak sedang ingin menekankan bahwa setiap hari adalah Valentine, atau Valentine terbesar adalah ketika Tuhan rela menjadi kutuk demi menebus dosa-dosa umat-Nya. Saya tidak suka mensubstitusi satu budaya dengan makna lain. You got what I mean?

Tetapi saya tenang, karena dulu di setiap malam saya mendengar ibu saya berdoa kepada Tuhan untuk saya dan keluarga saya dengan begitu seriusnya, sampai dia menangis tersedu-sedu. Saya juga tenang karena ibu saya peka dengan memasak makanan kesukaan saya setiap kali saya pulang ke rumah. Saya juga tenang ketika ayah saya percaya kepada saya atas keputusan-keputusan penting yang saya ambil di dalam hidup saya. Saya juga dibentuk menjadi pribadi yang mensyukuri setiap hari dan setiap pencapaian, sebesar/sekecil apa pun dia menurut ukuran dunia ini. Saya juga tenang karena saya merasa tenang dengan keadaan yang seperti ini. 

Saya akui, hal-hal seperti ini yang sekarang membuat saya mudah belajar bersyukur di kondisi apa pun, sparkling or not, membuat saya selalu merasakan kasih sayang (khususnya) orang tua saya setiap harinya, serta membuat saya terbiasa dengan hal-hal sederhana yang tidak se-pinky Valentine’s Day.

I’m so not into Valentine’s day, karena pemaknaan saya pribadi terhadap hari ini tidak berbeda dengan hari-hari lain, dan ya, setiap orang berbeda-beda. Saya tidak sedang memusingkan hal lain selain, “what makes you feel the opposite with me, if that’s the case?” Karena setelah tahu jawabannyalah baru kita bisa memperdebatkan Valentine’s Day lebih jauh dan lebih dalam lagi.

But, don’t get it wrong. I am not an anti towards celebrations or gifts or something, because I personally really love to organize a celebration for my dearest people’s birthdays and I love to appreciate them with gifts, too! 

Goblin finale episode finally out, every buddy!

This drama captured my heart at its very first episode (it didn’t happen often to me) and always made me curious about what next. It also carried my feeling to what it tried to show–sadness, happiness, sorrow, or anything in between. I think that’s a sign of a good masterpiece could do.

I nominate this drama as the best Korean drama of all time (when I don’t even watch many Korean Dramas–but I bet you’ll agree with me). I like how it taught me about cherishing life and also about loving the ones you love, truly. Families, friends, lovers, everyone.

It has good original soundtracks too; Goblin is perfect–nah I think I was blinded by how I love this one so much–but whatever. I’d rather be blinded after all.

The ending tho, brought me in tears, but for a good reason. It was a happy ending, I mean the happiest ending that could ever happen to the Goblin & his bride.

Definitely will rewatch this, some time.

View on Path

Rewind 2016

Tulisan ini dibuat demi menjadi pengingat betapa besarnya penyertaan Tuhan di dalam hidup seorang Elisabeth–yang diwujudkan-Nya dalam berbagai bentuk, baik suka maupun duka. Tulisan ini akan menjadi tulisan yang (cukup) singkat, padat, jelas, dan jujur.

Januari

Saya memulai tahun 2016 dengan suatu perasaan takut; takut karena saya baru sekali di dunia alumni yang kata orang keras. Rengginang keleus, keras. Bulan ini adalah bulan ke-2 saya bekerja and yeah I was still that kind of cheerful newbie in my office. Saya juga sedang mempersiapkan Retreat Koordinator XV bersama teman-teman panitia kesayangan yang juga adalah para fresh-graduated. Ini juga adalah bulan di mana frekuensi pertanyaan “udah punya pacar belum?” mengalahkan pertanyaan “di mana kerjanya sekarang?” atau “gimana kerjaannya?”, yang selalu saya jawab dengan “masih kesasar kayaknya, hehehe” diiringi cengiran sok bahagia a la Elisabeth.

Februari

Semakin sering ditanya “kapan punya pacar?” membuat saya semakin termotivasi untuk mendoakan hal tersebut. “Tuhan, tahun ini punya pacarlah ya, yang terbaik dari Tuhan dan bisa main gitar”. Banyak yang mungkin nggak tau kenapa ‘bisa main gitar’ jadi salah satu permintaan. Mau tau ngga alasannya? Ah sudahlah, biarlah menjadi rahasia di antara langit dan saya #elah. Sebenarnya di bulan ini saya memulai proyek ketaatan “Konsistensi Doa yang Penuh Iman” khusus mendoakan pacar. He he he. Apalagi ceng-cengan punya pacar semakin membabi-buta di perhelatan Retreat Koordinator yang membuat saya semakin sering nyengir “masih kesasar kayaknya, hehehe”. Mendoakan hal perpacaran ini menjadi semakin sensitif dari biasanya buat saya, karena saya pernah mendoakan hal semacam ini beserta objeknya selama 2 tahun, yang dijawab-Nya dengan tidak. Akibatnya dibutuhkan iman dan semangat tingkat tinggi untuk mulai mendoakan lagi dengan serius dan konsisten.

Penyertaan Tuhan nyata sekali ketika RK XV selesai diadakan. Saya pribadi bersyukur ada di acara ini, menjadi yang mempersiapkan, terlebih lagi. Banyak berkat rohani dari Surga turun atas saya selama mempersiapkan dan mengikuti retreat ini. Pelayanan ini pun menjadi bukti bahwa bekerja di law firm tidak serta-merta membuat saya tidak bisa melayani di pelayanan mahasiswa. Ini menjadi cara Tuhan mengingatkan saya bahwa saya masih bisa memberikan diri saya untuk menjadi alat-Nya, dalam berbagai keterbatasan saya.

Maret

Saya mengalami perang dingin dengan salah satu rekan saya di kantor. Jika dia membaca ini (karena dia pernah bilang dia suka membaca blog saya) (yang saya yakini agak tipu-tipu wakaka), saya ingin mengingat momen ini sebagai momen terkonyol di 2016 yang nggak mau saya alami lagi di tahun yang baru. Perang dingin ini adalah bukti bahwa saya juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati~ Iya, saya gagal menjadi pembawa damai sebagai komitmen setelah menghadiri salah satu ibadah Natal di tahun 2015.

Saya diangkat menjadi junior associate di kantor dan mengalami kenaikan gaji. Puji Tuhan 🙂

Maret adalah salah satu bulan paling berkesan di tahun ini. Saya sudah mencatatnya dengan sangat detil di bit.ly/ceritaelisabeth. Ini adalah bulan yang membuat saya tidak berhenti terharu bahagia karena Tuhan menjawab doa dengan begitu detil dan indah.

April

Proyek pertama saya sebagai kapten pun dimulai. Saya juga sudah mencatat rangkumannya di sini. Saya juga memulai pelayanan di HUT salah satu lembaga pelayanan di Jakarta. Peran saya adalah ketua panitia–peran yang sering saya hindari dari dulu karena saya selalu pesimis dengan kapasitas kepemimpinan saya. Tetapi rupanya Tuhan ingin saya keluar dari zona nyaman saya untuk yang ke-sekian kali dan ini membuat saya sangat gentar dalam memulai perjalanan pelayanan ini.

Waktu itu di tanggal 22, seseorang yang pernah saya doakan sejak 22 April 2015 mampir ke rumah saya. Saya tanya, “ngapain ke sini?” Dia cuma ngejawab, “kan mau ngerayain ulang tahun doamu.”

Saya mau pingsan dan mimisan seketika. Aduh ini momen bikin berasa kayak lagi syuting FTV deh.

Mei

Saya terserang batuk setelah saya dibersinin muka-ke-muka oleh seorang ibu di KRL. Saya sedih sama orang-orang kayak gini; kenapa nggak mikirin orang lain sih… mbok ya pakai masker gitu, atau tutup mulutlah. Ini… emang dia pikir muka saya tempat penampungan bersin apa?

Sedihnya, pas banget saya juga lagi nggak pakai masker 😦 Padahal saya biasanya pakai masker 😦 Itu beneran deh, literally besoknya saya langsung sakit 😦

Bulan ini juga menjadi bulan yang manis karena bulan ini saya tidak perlu lagi nyengir “masih kesasar” sama orang-orang. Ehehe, tahulah ya apa.

Juni

Kehidupan di kantor menjadi agak berat karena beberapa hal. Peran sebagai kapten mulai membuat saya capek. Beberapa kali saya tidak tidur karena melanjutkan pekerjaan yang saya bawa dari kantor ke rumah, agar saya tidak perlu lembur di kantor. Buat apa lembur? Toh nggak ada uang lembur? Rumah jauh, pulangnya ribet, sendirian pula, ngapain lembur? Loh kok saya jadi marah? Oke, kalem.

Pokoknya ini bulan yang keras sis.

Pelayanan saya sebagai ketua panitia tadi pun mencapai puncaknya di bulan ini. Ah ya, saya belum pernah curhat tentang betapa mengujinya pelayanan ini ketika beberapa hal membuat saya begitu sedih dan kecewa di dalamnya, entah karena diri saya sendiri, maupun orang lain. Tapi sudahlah, di penghujung bulan ini saya benar-benar cuma bisa merendahkan diri dan memohon pengampunan Tuhan atas kesalahan dan ketidaksetiaan saya yang mungkin Ia dapati selama saya mempersiapkan pelayanan ini.

Juli

Ibadah ulang tahun lembaga pelayanan tadi berlangsung dengan baik, menurut saya :’) Saya terharu bagaimana Tuhan patahkan segala ketakutan saya dan mengubahnya menjadi sorak dan puji yang kembali saya naikkan bagi-Nya. Kalau boleh jujur, ibadah ini adalah ibadah yang puji-pujiannya paling melekat di hati saya dengan segala aransemennya yang rapih dan menarik. Ibadah ini membuat saya nggak ingin berhenti bernyanyi, saking hidupnya puji-pujian itu di dalam jiwa saya. Saya juga bersyukur atas firman yang diberitakan di ibadah ini–meskipun bagi beberapa orang ada evaluasi di sana-sini, tapi puji Tuhan, ada suara Tuhan yang saya tangkap dari firman yang disampaikan.

Driven by Vision, aku merasa sangat disertai Tuhan di sana.

Saya juga bersyukur atas penyertaan Tuhan ketika memakai saya sebagai pemimpin pujian di Konferensi Pengutusan Mahasiswa. Saya merasakan berkat yang banyak karena saya belum pernah hadir di konferensi sejenis yang sebelum-sebelumnya pernah diadakan. Saya ditegur dan dinasihati akan banyak hal, seperti saya sedang menjadi mahasiswa kembali melalui pelayanan saya kali ini.

Agustus

Ulang tahun ke-23 adalah ulang tahun yang sangat berkesan bagi saya. Saya terharu melihat beberapa teman saya meluangkan waktunya untuk bikin kejutan ini-itu untuk saya. Mereka baik sekali. Saya sangat bersyukur memiliki mereka. Ah ya, saya adalah tipikal orang yang akan selalu mengusahakan bond di antara saya dan teman-teman saya; saya sering menjadi inisiator pertemuan-pertemuan dengan teman-teman saya. Namun beberapa waktu ke belakang saya sudah jarang melakukan hal semacam itu–bahkan saya tidak lagi intens menjaga komunikasi saya dengan mereka. Tetapi mereka mau menunjukkan kasih dan kepedulian mereka bagi saya, huhuhu. Manis sekali.

September

Proyek kantor sebagai kapten pun menemui ujungnya. Akhirnya dia terselesaikan juga setelah melalui lika-liku perjuangan yang sebenarnya sampai saat ini masih membuat saya bertanya-tanya. Saya lega, karena kemuakan dan kelelahan saya paid off. Walaupun klien yang bersangkutan tidak mengajak saya gala dinner tapi ya sudahlah :’) yang penting kalian bahagia. :’) Aku senang kalau kalian senang. #apansi

Saya diminta menjadi pemimpin pujian di Natal salah satu lembaga pelayanan di Jakarta. Saya bersyukur sekali karena saya sudah mendoakannya sejak bulan Juli :’) Lagi-lagi Tuhan menjawab doa saya hehehe.

Oktober

Tugas di kantor sedang tidak begitu banyak. Kalau pun ada sifatnya lebih ke perbantuan, hahaha. Ini selalu membuat saya ‘ogah-ogahan’ mengerjakannya. Tidak boleh ditiru. Ternyata setelah cukup termotivasi selama hampir setahun, saya tiba juga di titik ‘jenuh’. Saya menghargai fase ini sebagai bagian dari proses yang harus saya lewati dan pelajari. Saya banyak mengevaluasi kehidupan pasca alumni ini dan beberapa kali tercetuslah rencana ini dan itu yang saya akan doakan di tahun 2017 untuk tidak menjadi wacana.

November

Masih bulan November namun aroma pulang kampung sudah mencuat ke permukaan.

Bulan ini adalah bulan di mana pergumulan hati cukup banyak–khususnya dalam pelayanan saya sebagai pemimpin pujian di Natal nanti. Sejujurnya, saya takut sekali. Tuhanlah yang tau betapa bergumulnya pagi dan malam saya dalam mempersiapkan pelayanan ini. Kalau boleh jujur, baru kali ini saya susah ngejayus di antara orang-orang baru (hehehe). Hm poinnya, baru kali inilah saya merasa susah dapat chemistry di antara rekan sepelayanan. Saya bingung apa yang sedang diajarkan Tuhan sama saya pada waktu itu. Satu hal yang saya imani, kesatuan itu adalah anugerah Tuhan, dan itu sudah ada di antara kami. Chemistry, apa itu chemistry?

Di bulan ini saya juga mengalami salah-paham di keluarga saya, hehehe. Saya sempat nangis sejadi-jadinya sampai saya malah terserang flu karena nangis di Trans-Jakarta. Ada hubungannya nggak? Nggak sih. Sebenarnya inilah yang membuat munculnya tulisan saya mengenai Pilek, Air mata, dan Iman kemarin.

Desember

Pelayanan menjadi pemimpin pujian pun selesai dan saya bersyukur bisa melewatinya karena Tuhan menyertai saya dan teman-teman pelayanan lain dengan…pas aja gitu. Memang saya tetap nggak bisa ngejayus seperti biasa dengan mereka, tetapi kesatuan yang Tuhan anugerahkan dan bagaimana Dia memakai kami untuk saling melengkapi dalam melayani-Nya jelaslah lebih indah dari chemistry apa pun. Kalau boleh jujur, saya ingin mengulang waktu dan berbalik dari keluhan-keluhan saya menuju sukacita demi sukacita.

Pulang kampung setelah 1,5 tahun mengajarkan saya bahwa rumah tetaplah tempat yang istimewa, keluarga adalah yang tidak akan pergi, dan Medan masih penuh dengan makanan enak.


Itulah beberapa peristiwa besar yang saya ingat selama 2016 ini dan saya tahu, beriringan dengan itu semua ada banyak momen kecil yang tetap tidak kalah berartinya karena saya tahu di sana pun Tuhan ada dan menyertai.

Saya bersyukur melewati tahun 2016 ini dengan berbagai ceritanya bersama Tuhan yang membuat saya mengimani bahwa Dia tetap akan menyertai tahun 2017 saya.

Ketika 2015 membuat saya harus menulis ini sebagai bentuk pengakuan diri bahwa saya lemah dan butuh dikuatkan Tuhan–dan Dia membuktikannya, saya pun tetap mengakui hal yang sama di akhir tahun ini, dan berdoa semoga Tuhan selalu menguatkan saya di tahun mendatang.

Amin.

Selamat menyambut tahun 2017!

Gemerlap Natal di Sedihnya Dunia

Aku memulai Desember tahun ini dengan melakukan daily challenge bertagar #capturingdecemberchallenge di Instagram. Aku punya panduannya dari akun Instagram salah satu temanku.

Jujur, sampai hari ke-29 ini, kebanyakan postingan tersebut merepresentasikan Desember yang penuh dengan ornamen dan tradisi Natal. Indah-indah sekali dipandang mata manusia. Kelap-kelip cahaya pohon natal memenuhi feed Instagramku. Pokoknya begitulah.

Beberapa hari menjelang tanggal 25 pun aku sudah menemukan berbagai foto perayaan Natal orang-orang yang dilakukan di hotel-hotel berbintang kejora, restoran-restoran mahal, dengan dress code dan bando-bando rusa. Aku pun termasuk yang melakukan foto-foto berbando rusa tersebut bersama AKK-ku, meski memang kemarin tujuannya bukan ‘merayakan Natal’.

Jujur, beberapa selebrasi Natal yang kuikuti lebih membuatku merenung daripada bersorak.

Tuker kado, is it wrong? Enggak juga. Tetapi apakah sudah memberikan ‘kado’ kepada bayi kudus yang lahir itu? Jika tuker kado adalah respon orang-orang yang telah menyadari ‘kado’ yang Tuhan kasih buat mereka, sehingga mereka rindu membagikan ‘kado’ juga buat sesama, aku lebih setuju itu.

Makan-makan besar, di hotel berbintang kejora (hehe) atau restoran-restoran heboh yang mengakomodir kepentingan #makancantik kita, bagaimana? Perenungannya, apakah setiap harinya sudah datang ke roti hidup itu dan sungguh-sungguh percaya kepada-Nya?

Bagiku secara pribadi dan sebutlah aku ‘kuno’, kalau benar-benar menghayati makna Natal yang sesungguhnya, kita nggak akan merayakannya dengan hedonisme dan narsisme (atau isme-isme lain yang tidak sejalan dengan makna Natal tersebut). Ya kalaupun tetap ada perwujudannya, semoga itu berdasar pada suatu pertimbangan teknis dan logis sehingga isme-isme tersebut tidak sedang menjadi paham yang mendasari perayaan kita. Pertimbangan esensinya tetap terpaut pada ‘bagaimana kita bisa menghayati kelahiran Yesus dengan baik dan memiliki iman serta komitmen nyata atasnya’.

Semacam itulah, ribet juga ngejelasinnya. (Butuh kebijaksanaan tingkat tinggi untuk hal-hal praktis kayak gini).

Intinya, dunia ini sangat gemerlap dengan perayaannya; aku pun tetap mensyukuri itu, karena setidaknya, di dalam keterbatasan kita, ada suatu kesadaran tentang bayi yang lahir ke dunia tersebut. Itu bisa jadi titik awal menuju pembaharuan/kedalaman makna selanjutnya.

Kupikir semuanya baik-baik saja sampai aku mendengar berita pembunuhan di Pulomas dan cerita hari ini, tentang teman lamaku yang mengucapkan selamat Natal namun tidak ber-Natal di hatinya.

Sebenarnya tidak pernah baik-baik saja, sih. Aku ingat peristiwa dugaan penistaan agama sampai saling menista sesama yang dilakukan penduduk dunia ini. (Aku heran, agama itu sesuatu yang ‘abstrak’ kan, tetapi kenapa dia seolah-olah lebih ‘dihargai’ daripada manusia-manusia pemeluknya yang jelas-jelas ‘nyata’ di depan mata seperti ini?)

Listrik dan lampu sudah ditemukan, tetapi kita masih saja tidak melihat. Hehe.

Benarlah bahwa diperlukan mata iman untuk bisa benar-benar melihat. Tidak kabur, tidak pilih kasih, tidak salah.

Dunia ini sedang sangat-sangat bersedih, aku bisa merasakan itu. Kekacauan di berbagai belahan bumi, luka di segala penjuru hati, tangis di negeri, dan ketiadaan kasih kian merajai.

Apakah kita yang merayakannya dengan gemerlap ini mampu melihat dan memberi hati untuk itu? 

Tidak mudah memadukan ‘sukacita’ dan ‘pengendalian diri’ di saat bersamaan, padahal keduanya adalah buah Roh. Maksudnya, tidak mudah untuk merayakan sukacita Natal ini dengan pengendalian diri yang tepat terhadap bagaimana cara merayakannya.

Selama segala sesuatunya dilakukan seperti untuk Tuhan, aku yakin…

Nggak akan berfokus pada baju dan sepatu baru,

Nggak akan berfokus pada make-up christmas tutorial terbaru,

Nggak akan berfokus pada mesti makan di mana,

Karena Tuhan mau lihat hati kita yang pertama; karena dari hati terpancar kehidupan kita.

Maybe our hearts really long for sparks so we celebrate His birth with lots of sparks; it explains much, no?

Apalagi di era digital saat ini yang mana seakan memaksa kita untuk menjadi live, menjadi online, sampai-sampai kita lupa untuk benar-benar ‘hadir’ saat merayakan kelahiran-Nya di dunia. 

Orang majus dan para gembala zaman dulu pastilah menikmati dengan maksimal gegap-gempita sesungguhnya dari kelahiran Sang Bayi itu. Ada takjub, haru, bahagia, takut, di saat bersamaan.

Untunglah mereka ngga punya Instagram atau Path dan ngga sibuk share ke sana. 

Hm, perenungan-perenungan ini yang muncul saat menghayati Natal tahun ini. Aku mesti menjaga hatiku dengan segala kewaspadaan agar aku tidak larut dalam definisi Natal dunia ini, atau definisi-definisi dunia lainnya.

Tuhan, ampunilah sikap hati dan caraku yang salah dalam menyambut hadir-Mu di dunia ini.

 

Pilek, Air Mata, dan Iman

Dari sekian banyak doa yang dijawab Tuhan dengan “ya”, doa kemarin malam adalah salah satu yang sangat mengharukan bagi saya. 

Sejak Kamis pagi saya kena flu. Pilek disertai air mata. Saya ngga tau apa kalian pernah mengalami ini/engga, tetapi saya selalu mengalami jenis ini setiap kali flu. Saya sedih sekali karena flu ini bikin saya capek. Ingus saya keluar, mengalir begitu santainya setiap 10 detik sekali. Bahkan saya pun sering ngga sadar, ternyata sudah ada ingus yang keluar. Ditambah, air mata saya pasti ikut juga keluar. Mata saya betul-betul berair dan sayu sekali. 

Saya juga takut flu ini akan berlangsung berminggu-minggu, mengingat yang sebelumnya berlangsung hampir 2 minggu. Kenapa takut? Minggu depan saya ada pelayanan sebagai pemimpin pujian. Saya sudah paham nggak enaknya memimpin pujian dengan kondisi seperti ini karena sebelumnya saya pernah mengalaminya. Suara saya sangat lemah, tenggorokan meradang, serta sakit kepala. 

Saya coba obati dengan minum air hangat selalu ditambah madu dan perasan jeruk nipis. Kali aja cepet sembuh. Tapi, Jumatnya malah makin parah. Saya hampir menyerah saja dan menunggu penyakit ini sembuh dengan sendirinya (katanya sih ini jenis penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya). 

Namun di Jumat malam, saya ingat bahwa saya hampir saja tidur dengan kondisi stress karena sakit ini dan tidak berdoa. Anehnya, suara Tuhan lebih kuat daripada suara setan pada waktu itu, sehingga saya meyakinkan diri untuk bangun dan berdoa. 

Saya mulai melipat tangan, menutup mata, dan mengumpulkan semangat saya. 

“Tuhan, aku tau ada kemungkinan pilek ini bertambah parah besok pagi dan ini akan membuat persiapan pelayanan serta aktivitasku lainnya tetap terganggu. Tapi aku juga tau bahwa lebih besar lagi kemungkinan pilekku akan sembuh besok pagi. Karena Tuhan bahkan sanggup menjadikan apa yang nggak mungkin. Aku bersyukur Tuhan izinkan pilek ini datang saat ini agar aku ingat untuk berserah pada Tuhan. Aku tau, bukan karena kesehatanku semata, aku melayani. Karena dalam sekejap pun, Tuhan bisa ambil itu, kalau Tuhan mau. Namun Tuhan menginginkan hati yang berserah dan mengandalkan Tuhan, untuk Tuhan pakai melayani sesuai kehendak Tuhan. Karena itu Tuhan, jika Tuhan berkenan, sembuhkanlah aku besok pagi. Amin”

Kira-kira begitulah yang saya doakan, lalu saya tidur. 

Tadi pagi, saya bangun dengan kondisi…sembuh. Tidak ada lagi ingus yang mengalir seperti sungai dan air mata yang seperti hujan. Mereka telah mengering! Kondisi yang benar-benar 180 derajat berbeda dari sehari (bahkan beberapa jam) sebelumnya. Ini bikin saya mau nangis :”) Tapi saya tahan, ntar pilek lagi. 

*ceritanya, sehari sebelum pilek, saya habis nangis parah gitu karena suatu hal

Saya bersyukur sekali. Pilek ini justru mengajarkan saya tentang iman dan bagaimana hubungan rohani seorang anak dengan Bapanya yang begitu transparan untuk hal se…ngga-banget pilek. Saya senang.

Saya jadi makin yakin bahwa Tuhan pun sanggup mengadakan kesembuhan-kesembuhan (khususnya) rohani bagi setiap hati yang terluka atau pun sedang merasa jauh dari Tuhan. Saya makin yakin bahwa minggu depan Tuhan BISA berbicara secara pribadi kepada setiap jemaat yang hadir di pelayanan saya. Tuhan BISA mendengar dan menjawab doa mereka, yang mungkin lebih “bermutu” daripada pilek. Saya makin yakin bahwa:

Bukan karena siapa yang melayani, yang terutama.

Bukan karena pakai apa mereka melayani, yang terutama.

Bukan karena sekompleks apa aransemen musik mereka, yang terutama.

Bukan karena seindah apa kata-kata mereka, yang terutama. 

Tapi kalau ada hati yang dipulihkan dan Tuhan yang dimuliakan, itu karena siapa yang memanggil dan apa yang dapat Dia kerjakan untuk menggenapi rencana-Nya, itu yang terutama. 

Di sanalah letak iman kita. 

Segala pujian bagi Tuhan. 

Bagi-bagi Cerita

Sesuai judulnya, hari ini saya akan membagikan beberapa hal yang saya pelajari ketika mengikuti rapat kerja komponen pelayanan suatu lembaga pelayanan kristiani di mana saya melayani di dalamnya.

Tulisan ini adalah tentang pelayanan kristiani yang mungkin membuat beberapa orang nggak nangkep “apa sih maksudnya?”, “apa sih tujuannya?”, “kok mau sih repot-repot ngelakuinnya?” Sebelum masuk ke poin-poin catatan saya dari rapat kemarin, saya mau bilang bahwa saya pribadi melakukan pelayanan kristiani atas kesadaran penuh bahwa hidup yang melayani adalah panggilan saya. Saya rasa perlu menekankan kalimat “kesadaran penuh” untuk menunjukkan bahwa saya melayani bukan karena ada waktu kosong, bukan karena saya dipaksa, dan bukan karena otak saya dicuci. Emang laundry-an?

Ketika saya memutuskan untuk percaya kepada Yesus Kristus, bertobat, berpaling dari cara-cara hidup saya yang dulu sebelum percaya kepada-Nya, dan berkomitmen memulai cara hidup yang baru yang dikaruniakan oleh-Nya, alasan utama saya melakukan pelayanan kristiani adalah karena saya punya mimpi di depan sana semakin banyak orang yang mengalami hal serupa dengan saya. Saya punya mimpi orang-orang di luar sana hidup bukan demi kepuasan dirinya sendiri, tapi hidup sebagaimana Yesus kehendaki. Saya muak lihat dunia yang begitu rakus.

Di mana saya memulainya? Di kampus saya. Kenapa? Karena kampus adalah tempat orang-orang pintar yang potensial untuk mengadakan perubahan baik dalam skala kecil maupun besar. Bisa bayangkan apa jadinya jika kampus diisi oleh orang-orang pintar yang hidup untuk kepuasan dirinya sendiri? Perubahan apa yang akan dia buat? Coba deh pikirin.

Seiring berjalannya waktu, pelayanan kristiani yang saya atau pun teman-teman lakukan pasti mengalami kesulitan yang menggeser nilai-nilai dasar pelayanan tersebut. Saya pernah mengalami hal tersebut namun saya bersyukur ada banyak reminder yang Tuhan sediakan untuk mengembalikan fokus saya tadi. Inilah yang saya ingin bagikan di cerita berikut:

Pelayanan kristiani yang tanpa visi adalah pelayanan yang cepat atau lambat hanya akan menjadi monumen. Tidak lagi bertumbuh, tidak lagi dinamis, hanya peninggalan. Penting bagi kita yang melayani untuk memiliki visi, mengalami visi, dan menyelidiki visi tersebut. Apa sih visi?

Visi itu melihat–melihat apa yang jauh di depan. Karena itu perlu bergantung pada firman Tuhan dan doa yang sungguh-sungguh meminta kepada Tuhan. Kalo dekat mah jalan kaki aja. Visi nggak sekadar bicara mengenai masuk sorga, namun juga moralitas yang diubahkan serta pertumbuhan spiritual yang dinamis. Tidak punya visi sama seperti orang buta menuntun orang buta–keduanya akan masuk jurang, sama dengan Alice in Wonderland (terima kasih Gohan untuk ilustrasinya), yang nggak tau mau ke mana–yang penting jalan. Sama juga kayak lagu “mau di bawa ke manaaah hubungan kitaaaah”. Makan bareng iya, nonton bareng iya, ke persekutuan bareng iya, tapi gitu-gitu doang, nggak ada ketegasan, wakakak.

Penting juga bagi kita untuk secara aktif dan berkesinambungan membagikan visi tersebut agar mereka yang kita bagikan visi mengerti respon seperti apa yang harus mereka berikan–semata-mata demi kita bersama-sama mengerjakan pelayanan atas visi tersebut. Nggak usah takut kalo sering curhat pelayanan, mungkin sampe nangis, bagi saya itu adalah salah satu cara membagikan visi. Ini akan mendorong orang lain untuk mengerti visi pelayanan yang kita punya dan mereka turut ambil bagian. Jangan kita hanya tergerak, namun juga mari bergerak.

Inilah pentingnya pelayanan kita memiliki leaders of vision yang melihat Tuhan, apa yang Tuhan lihat, dan melihat rencana Tuhan. Ciri-cirinya adalah mengalami panggilan Tuhan (dia tau bahwa dia adalah hamba Tuhan dan bukan hamba program, hamba manusia, hamba uang, apalagi hambalang), dia juga memiliki fokus ladang pelayanan; bukan semua pelayanan dikerjakan, berkomitmen berjuang mengerjakan misi menuju visi, serta dia pasti mengalami kuasa dan anugerah Allah bekerja di dalam diri dan pelayanannya.

Pelayanan kristiani yang digerakkan oleh visi pasti memiliki kehidupan persekutuan yang cinta firman Tuhan, suka berdoa, mau memberitakan Injil, rindu memuridkan orang lain, semangat dalam melayani, antusias, berjuang dalam kesulitan, dan juga on fire. *insert emote api here* Hati-hati dengan penggerak palsu yang bukan visi. Pastilah orientasinya adalah program atau tradisi dan bahkan keduanya.

Pelayanan kristiani adalah pelayanan kepada orang sehingga seharusnya dilahirkan persekutuan yang berkualitas. Persekutuan yang di dalamnya ada sukacita, relasi yang dalam, kesehatian, kuasa Tuhan dan berkat Tuhan yang melimpah. Bagaimana tidak? Ini adalah tubuh-Nya? Kehidupan persekutuan/persahabatan yang baik ditandai dengan banyak hal seperti relasi interpersonal yang dalam, ada teman-teman persekutuan di dalam hati dan doa kita (ada dia yang ketemunya di persekutuan juga boleh), ada saling berbagi, ada sharing visi yang kontinu. Hati-hati, kegembiraan games menggantikan sukacita persekutuan, familiarity menggantikan intimacy, dan basa-basi basi menggantikan perhatian dan doa.

Pelayanan kristiani juga sebaiknya mewujudkan good governance pula. Mau tidak mau mesti ada pengaturan yang baik, teliti, dan spesifik mengenai ordo, pengambilan keputusan, distribusi kepemimpinan meliputi hak dan tanggung jawab, job-description, dan aturan-aturan tertentu yang dibuat demi mencapai visi yang dimiliki.

Pelayanan kristiani tidak lepas dari tantangan  yang dapat datang dari mana saja dan kapan saja. Kita harus terus bergerak dan berdoa dalam menghadapi tantangan tersebut. Kita juga harus membuat strategi pelayanan yang jelas dan konkrit, melibatkan setiap anggota dalam pelayanan kita agar tidak ada yang hanya menjadi penonton, serta tetap mengerjakan bagian masing-masing dengan maksimal.

Saya pikir itulah poin-poin penting yang saya pelajari pada rapat kemarin dan saya berdoa siapa pun yang membacanya digerakkan Tuhan untuk melayani dengan lebih baik lagi di mana pun dia melayani.

Semangat!