Categories
Life

Countdown

Hanya Engkau yang tahu, Tuhan, apa yang saat ini sedang terjadi. Hanya Engkau yang mengerti, Tuhan, setiap perasaan yang terpendam. Aku bahkan gagal menjelaskan apa pun, baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain. Ada yang bisa kuungkapkan, ada yang bisa terucapkan, tapi, apakah itu benar? Lagi, apakah itu sesuai dengan kehendak-Mu?

Di setiap persimpangan jalan, memang biasa aku menjadi kebingungan. Ke manakah aku harus melangkah?

Setiap kali pula aku perlu iman. Terlebih, iman yang mengungkapkan betapa pengecut dan pecundangnya diri ini. Iman yang membukakan bahwa aku sudah bersembunyi dengan nyaman.

Tidak, aku tidak akan menggugat Engkau untuk setiap pimpinan-Mu. Aku tahu, aku ini Engkau sayang. Tidak ada yang salah dari apa pun yang Engkau putuskan. Tidak pernah untuk mencelakakanku. Aku tahu itu dengan pasti.

Sehingga, setibanya pun aku di persimpangan ini, itu semua sudah merupakan perjalanan yang baik. Tidak ada jalan lain yang lebih baik dari itu. Itu semua adalah perjalanan yang sekalipun, menghancurkan sesuatu, namun membentuk yang lain. Sekalipun mengaburkan yang lain, namun menjelaskan sesuatu.

Aku sedang menghitung mundur. Tapi, ini semua waktu-Mu. Ini semua milik-Mu. Jika perhitunganku pun keliru, aku mohon ampun. Jika Engkau berkenan pada perhitunganku, kuatkanlah aku.

Aku membutuhkan-Mu.

Categories
Life

One day a little boy came to me and asked, “Miss, if I am not grateful for this life, is that a sin? Why? In fact, I did not ask to be born into this world.”

I was stunned by his question.

What happened in his life so he asked that?

Could it be because he doesn’t like his life?

If I’m the one asking that, what situations would prompt me to ask that question? I think the reason might be that I just didn’t like what happened in this life–mine and what happened around me. Or it might happen if I feel that I don’t need life. Just like when someone gives you something and you are not grateful for it, most likely it’s because you don’t like the gift, or you don’t feel like you need it right now.

But, it could also be….because you don’t like the person who gave it.

You probably know the person and still be ungrateful for the gift unless you really like the fact that he is the giver. Even if the gift is not something you like and need right in the moment, I think you will still be grateful and happy for the gift if you like the giver.

Think about your crush, giving you 1 pound of garlic on a sunny afternoon…

Sorry.

So, if I’m not grateful for a life in which I insist that I didn’t ask to be born, then, I think the main reason (probably) is that I don’t like the parents who gave birth to me and raised me–and more than that, I don’t like the real Life-Giver.

And, if this is the case, is that a sin?

Categories
Life

Ditemukan

Kupikir salah satu efek yang sangat nyata dari ‘keterhilangan manusia’ karena dosa adalah dorongan yang kuat–sekalipun jarang disadari–untuk ditemukan. Tentu saja, harus ada yang mencari. Terlebih lagi, pada hakikatnya, manusia tidak menyadari bahwa dia perlu dicari dan ditemukan.

Aku perlu ditemukan.

Kusebut Dia Tuhan. Namanya Yesus Kristus. Nama yang belakangan ini seringkali dijadikan bahan bercandaan oleh segelintir orang. Nama yang sering disandingkan dengan kata-kata lain untuk mengumpat. Nama yang dapat menimbulkan rasa jijik tak tertahankan bagi sebagian orang. Sosok yang, bahkan, kayu tempat mati-Nya saja bisa menggegerkan 1 negara. *jengjeng!

Kupikir cukup bagiku untuk berhenti pada 1 momen di masa lalu ketika aku sangat yakin bahwa aku sudah ditemukan oleh Tuhanku. Kupikir, mengandalkan nostalgia itu cukup untuk membekali perjalanan hidupku setelahnya. Ternyata aku salah.

Untuk sesaat rasanya tidak ada lagi hal yang dapat menggoyahkanku, jika kualami lagi perasaan-perasaan yang intimidatif yang menggempurku dengan pertanyaan-pertanyaan, “kamu siapa?”, “memangnya apa gunamu di dunia ini?”. Termasuk jika pertanyaan seperti ini muncul, “apa sih istimewanya kamu?”. Pertanyaan-pertanyaan yang mengakar dari ketidakyakinan seseorang bahwa ia sebenarnya tidak lagi terhilang.

Seringkali aku mencari acknowledgment dari segala sesuatu yang tidak akan pernah melakukannya dengan sempurna. Aku mencarinya dari sahabat-sahabatku. Aku mencarinya dari keluargaku. Aku mencarinya dari pekerjaanku. Aku mencarinya dari pencapaianku. Aku mencarinya dari diriku.

Acknowledgment atau secara singkat berarti penerimaan/pengakuan atas keberadaan sesuatu/kebenaran suatu hal merupakan kebutuhan mendasar manusia. Seperti kukatakan tadi, rasanya ini adalah dampak keterhilangan manusia. Tapi ternyata, sekalipun ia sudah ditemukan, ia tetap membutuhkan hal itu setiap hari. Ia, sederhananya, perlu terus mengingat dan mengatakan kepada dirinya, “hei, tenang, Tuhan sudah mencari dan menemukanmu.”

“Tenang, Dia mencarimu bukan hanya karena Ia menerima dan mengakui keberadaanmu pada saat ini saja. Dia mengasihimu dan menginginkanmu hidup kekal.”

Biar kuceritakan sedikit beberapa kesedihan yang muncul jika aku lupa akan hal itu.

Pernah beberapa kali aku tertegun pada absennya orang-orang yang kuanggap begitu mengasihi dan memerhatikanku. Kulalui hari-hari itu dengan merasa sendirian. Kusalahkan orang-orang tersebut. Kutimpakan seluruh tuduhan kepada mereka yang hanya datang jika memerlukanku. “Mereka pikir aku call center?”, begitu kataku.

Jika tidak ada yang mengapresiasi apa yang sudah kulakukan, tidak ada yang memerhatikan bahwa aku sudah sangat berjuang untuk sesuatu, aku menjadi lemah. Terlebih jika mereka yang, mungkin karena sudah terlalu mengenalku, akhirnya menganggap biasa saja setiap usahaku terhadap mereka. Padahal, aku telah menghabiskan malam-malam bercucuran air mata dan hari-hari berpeluh untuk mereka.

Bagiku itu belum yang paling menyedihkan. Justru titik terlemahku adalah ketika aku memutuskan berhenti melakukan semua upaya kasih itu kepada beberapa orang.

Sebenarnya ini pernah terjadi ketika aku masih duduk di bangku kuliah. Keyakinanku untuk terus setia dalam menunjukkan kasih dan pelayanan yang terbaik ternyata tidak selalu berakhir dengan pengakuan dan perlakuan yang sama dari orang lain. Namun saat itu, aku ingat bahwa aku bisa berkata, “tidak masalah, lakukan semuanya karena Tuhan sudah sangat mengasihimu.” Sepertinya itu bukan mantra penenang sementara, melainkan sebuah keyakinan iman pada kebenaran firman.

Buktinya, saat itu tidak banyak yang tahu bahwa aku berbeban berat. Beberapa orang bahkan bingung setelah waktu berlalu, ternyata banyak sekali yang sedang kupikul. Setidaknya, cukup banyak untuk ukuran anak kuliah yang hidup sendiri, jauh dari keluarga, dan mengandalkan beasiswa demi beasiswa untuk uang saku, uang gaul, dan tentunya, uang untuk ‘mengasihi dan melayani orang lain’-nya.

Memang, aku juga tidak seterbuka itu, pada dasarnya. Aku bahkan tidak ingat apakah ada 1 orang saja yang tahu dengan detail semua yang sedang kualami.

Tapi tentu saja, selalu ada Tuhan. Mungkin beberapa orang masih meragukan apakah, misalnya, kesehatan mental dan jiwa bisa betul-betul terpelihara jika dan hanya jika mengandalkan Tuhan dan relasi dengan-Nya. Beberapa orang bahkan merasa harus melengkapi relasi itu dengan tips-tips psikologi yang baik. Yang kutahu, saat itu tidak ada lagi yang bisa kuandalkan, termasuk diriku sendiri. Aku menyerah, semenyerah-menyerahnya kepada Tuhan.

Aku tidak meragukan itu, dulu, dan kuharap juga sekarang. Terlalu radikalkah? Entahlah. Yang jelas, aku mengalami sendiri ketenangan dan damai sejahtera yang melampaui segala akal yang Ia berikan bahkan di tengah pergumulan.

Kurasa kelekatan sang ranting pada pokoknya adalah analogi yang sangat baik untuk menggambarkan betapa mendasarnya relasiku dengan Yesus. Bukan hanya menggambarkan kesatuanku dengan-Nya yang sudah mencari dan menemukanku, namun juga menggambarkan bahwa setiap hari, hidup dan pertumbuhanku, kesehatan jiwaku, bersumber dari-Nya. Aku tidak boleh hanya bernostalgia bahwa aku sudah tidak lagi terhilang. That’s not a memory or merely a history alone.

Sekarang, aku sedang terus mencerna apa yang sedang terjadi sampai di usiaku yang ke-27 ini. Satu-satunya output yang tidak kuinginkan dari proses ini adalah sibuk menyalahkan keadaan dan orang lain. This is so yesterday. Tentu ini bukan berarti menutup mata terhadap hal-hal yang perlu diperingatkan dan ditegur. Hanya saja, ada perbedaan besar antara menginginkan evaluasi yang sehat dan simply marah/sinis saja. Untuk yang terakhir ini, aku berdoa jauhlah kiranya daripadaku.

Sehingga, sekalipun aku mengalami lagi hal-hal yang berpotensi membuatku berpikir ulang tentang acknowledgment dari orang-orang di sekitarku, aku tahu jawabannya.

“Tidak masalah, kok. Ketidaksempurnaan orang-orang untuk sesederhana melihat, mengakui, dan menunjukkan perhatiannya kepadamu seharusnya memperjelas bahwa benarlah adanya, ada Tuhan yang sudah menemukanmu. Hanya Dia yang sanggup berbicara pada jiwamu, bahwa kamu dan keberadaanmu diketahui dan dikenal-Nya.”

Tuhan juga melihat setiap kesetiaan dan perjuangan kasihmu–even those whom you have done unnoticed. Dia memerhatikan dan menyukai itu. :’)

Akhirnya, instead of being a cynical human being, I learn to love anyway. Inilah yang menguatkanku untuk terus belajar menunjukkan kepada orang lain, semengecewakan apa pun mereka menurut preferensiku, kehadiranku bukanlah for the sake of being a friend only to them. Aku di sini adalah seorang sahabat yang hadir untuk menunjuk kepada Sang Sahabat Sejati, Tuhan Yesus. Satu-satunya Sahabat yang memberikan definisi dan bukti ‘acknowledgment’ terbaik bagi mereka.

Karena kita, manusia, akan saling mengecewakan satu sama lain, pada saatnya masing-masing. Akan ada masa di mana kita, tidak peduli dengan keberadaan masing-masing.

Kita, akan saling melupakan, mungkin.

Categories
Life

To Those I Don’t Deserve

My heart can’t handle its joy whenever I remember those days as they’re vividly shining to brighten my days–whenever I remember us. I don’t know how meaningful is our meeting to each of you, but to me it’s one of the heart-warming encounters to ever happened in my life.

I’m pretty sure as we’re growing older now, haha, and as time goes by, habits change, priorities vary, it’s hard now to even identify if we’re still that close to each other or not. Yes, some change is inevitable. Maybe it has to happen to mold us through its unique ways. But I believe that our path crossed for our good. And I know it’s true.

I still cherish what kind of friendship we had back then, everything at its finest and truest form. In fact, I’m grateful that we happen with every ‘story’ 🙂 that follows.

Thank you for being there, and here as the first ones to greet me at my 27th birthday. It is special and unforgettable. May God really shower us with His abundant grace and love whatever challenges we face right now. I believe He will.

Categories
Life

Kasih yang Begitu Menakjubkan

Oleh: Elisabeth Yosephine Maria Tambunan, SH. (FH UI 2011) Asisten Staf Mahasiswa Sebagai seseorang yang bertobat melalui pemberitaan Injil di persekutuan mahasiswa Kristen, satu ayat yang selalu saya ingat adalah Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan […]

Source: Kasih yang Begitu Menakjubkan

Categories
Life

Dear Guy: “My friends and I bond by complaining, but it’s getting me down” — ideas.ted.com

Welcome to “Dear Guy,” TED’s advice column from psychologist Guy Winch. Every month, he answers readers’ questions about life, love and what matters most. Please send them to dearguy@ted.com; to read his previous columns, go here. Dear Guy: By starting to examine my own life in the context of the thoughts that rise and fall…

via Dear Guy: “My friends and I bond by complaining, but it’s getting me down” — ideas.ted.com

Aku makin yakin bahwa Tuhan itu tahu setiap kegelisahan yang kualami. Bukan hanya tahu, Dia juga mau menolongku memahami dan menghadapi kegelisahan tersebut. Dia pun bisa menolongku dengan banyak cara, contohnya melalui artikel yang kutemukan di dashboard blog ini.

Belakangan ini aku sering berada pada suatu emosi yang jujur sulit untuk kuidentifikasi. Dibilang kesal, nggak juga. Dibilang marah, nggak juga. Dibilang stress, hmm, nggak juga. Intinya, emosi itu bukan emosi yang menyenangkan. Ketika kupikir-pikir apa yang menjadi pemicunya, aku sampai ke suatu kesimpulan: aku tidak tahan mendengar orang-orang yang suka complain–to be precise, yang kerjaannya hanya complain, complain, dan complain. 

Setiap aku membuka Twitter, emosi itu muncul. Setiap aku berbicara dengan sekelompok orang dan orang-orang tertentu, emosi yang sama juga muncul. Sebab kesamaan yang dimiliki Twitter dan sekelompok orang ini adalah: sebagian besar isinya hanyalah complain.

Sebelum membaca tulisan di atas, aku memang sempat berpikir, “lha, nggak mungkinlah hidup nggak ada complain-nya? Justru beberapa hal harus memang harus di-complain, bukan?”

Aku terus berpikir apa batasan sampai kemudian complain menjadi tidak sehat bagi seseorang dan bahkan membuat orang sepertiku tidak nyaman. Apakah aku tidak nyaman karena hidupku absen dari complain? Tidak juga. I complain too. Tapi ternyata penting untuk belajar how to complain and how to respond to complain, plus, when to stop. 

Aku senang, ternyata kegelisahanku bukan suatu keanehan, melainkan dapat dijelaskan secara ilmiah. Salah satu takeaway dari tulisan ini adalah: hidup yang melulu berisi keluhan ternyata bisa menjadi pertanda bahwa seseorang sedang mengalami depresi dan/atau gangguan kecemasan.

Kalian juga perlu membaca artikel ini supaya diri dan lingkungan kita jadi lebih sehat dan less-depressing. Please!

Categories
KDrama Life

Dear, Ik-Jun:

1

Do you think it’ll work the way you’ve planned?

Don’t you think it’s too late?

Where was that courage you’ve probably needed the most?

Song-Hwa must’ve been tired all this time and I don’t think she will ever come back to you–again.

But, I’m glad that, you, at least, try.

Categories
Life

Virus Corona & Menikah (1)

Diem. Jangan ketawa. Aku tau judulnya emang kurang indah untuk disandingkan bersama.

Sabar. Jangan marah. Aku juga bukan bermaksud membuat clickbait. 

Tulisan ini bener-bener tentang kaitan antara virus corona dan pernikahan–something I never thought I’d ever written about. 


Salah satu hal yang tidak dijelaskan dengan detail tentang pernikahan ketika aku menghadiri seminar-seminar atau pembinaan-pembinaan rohani adalah betapa berisikonya pernikahan itu. Saking berisikonya, mungkin seseorang harus lebih berjaga-jaga saat akan memikirkan pernikahan, merencanakan atau bahkan akan menjalaninya–ketimbang saat ia mengawasi nilai investasi sahamnya.

Hm, begini, secara umum, adanya risiko dalam suatu hubungan pernikahan memang bukan hal yang asing bagi banyak orang. Namun sebagian besar risiko yang dimaksud adalah ketidakmampuan secara ekonomi dan pendidikan untuk membangun sebuah keluarga serta adanya kemungkinan perceraian di masa depan. Ternyata banyak sekali orang yang menjadikan alasan finansial sebagai dasar penundaan pernikahan atau bahkan untuk hidup selamanya sendirian.

Jujur, seminar-seminar dan pembinaan yang pernah kuikuti tidak terlalu banyak membahas mengenai hal itu. Sehingga sekalipun tahu, aku pribadi tidak pernah begitu memikirkannya dan menjadikan ‘iman’ dan ‘pemeliharaan Allah’ sebagai tamengku. Tanpa bermaksud mengecilkan iman dan pemeliharaan Allah, aku harus berkata, tanpa disadari, kebiasaan menutup diskusi dan pembahasan tentang hal-hal seperti itu ternyata menimbulkan keyakinan semu di kemudian hari.

Namun, yang ingin aku bahas di sini bukanlah risiko dalam pengertian di atas. Sebab, dan inilah kaitannya, wabah virus corona ini telah memberikan suatu kesempatan langka untukku dalam memikirkan risiko lain dalam pernikahan–yang bagiku, jauh lebih menakutkan daripada yang sebelumnya. Dikarantina karena corona selama berminggu-minggu ternyata bisa berdampak segininya.

Aku memulai dengan kalimat ini, “pernikahan menjadi menakutkan karena manusia telah jatuh ke dalam dosa dan bahkan tinggal di dunia yang belum sempurna karena dosa.”

Kesatuan yang dimiliki oleh Adam dan Hawa sebelum Kejadian 3 adalah kesatuan indah yang seharusnya menjadi pembuka bagi masa-masa indah bukan hanya bersama satu sama lain, namun juga bersama anak-anak mereka kelak, serta tentunya Allah. Ironis, kesatuan sempurna yang tidak akan pernah dialami oleh manusia-manusia berikutnya selama tinggal di dunia yang berdosa ini.

Dosa telah membuat maut menjadi satu-satunya kepastian bagi sang pembuat lagi penikmatnya. Pun mereka yang kemudian berbalik kepada Allah yang benar oleh Kristus, tidak dapat menghindari pertentangan antara keingingan daging dan keinginan Roh yang begitu nyata–sampai-sampai tidak jarang menjadi sama menyeramkannya dengan berada di ambang kematian. Kondisi ini benar-benar menjadikan pernikahan sebagai sebuah perjuangan panjang lagi berat sekalipun ada kesadaran bahwa Kristus yang memahami perjuangan tersebut–mendasari pernikahan orang percaya tersebut.

Aku akan membagi tulisan ini menjadi 2 bagian berdasarkan poin di atas, 1) maut sebagai kepastian dan 2) pertentangan antara keinginan daging-Roh dalam pernikahan yang banyak kupikirkan selama masa karantina ini.

Bagian (1): Maut sebagai Kepastian

Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku bergumam, “aku takut menikah.”

Bahkan jika boleh jujur, aku sempat bertanya, “haruskah aku menikah?”

Padahal dulu, bersama dengan segala risiko yang ada, aku tetap sangat excited memikirkan pernikahan (entah dengan siapa pun nanti, pikirku). Rasa-rasanya sudah tidak sabar mengurus rumah tangga sekalipun baru ada tangganya. -_-

Tapi, itu dulu.

Sekarang, bagiku, memasuki pernikahan berarti berkata “siap” untuk menguburkan siapa pun yang mendahului kita nantinya. Bukan hanya pasangan suami-istri, bahkan anak-anak yang kemudian menjadi keturunan di dalam pernikahan tersebut. Kalau ini hanya urusan teknis, mungkin mudah saja. Banyak seksi acara dan calon panitia yang bisa membantu. Kita bisa mendelegasikannya kepada mereka.

Tapi, bukankah sangat berat menjadi pihak yang ditinggalkan lebih dulu? Hati siapa yang tidak akan sesak mengetahui kekasih hatinya pergi selama-lamanya? Tubuh siapa yang tidak melemah ketika berpisah dengan anak-anak atau orang tuanya karena maut tersebut?

Aku, aku selalu kelu berbicara tentang kematian. Sekalipun aku tahu bahwa kematian bukanlah akhir di dalam iman Kristen, tapi dalamnya pengetahuan dan hebatnya praktik tetap bukanlah suatu hal yang otomatis terjadi. Ada banyak proses dan waktu yang diperlukan untuk menjalani hidup yang  pasti tidak sama lagi. Ada banyak pertanyaan-tanpa-jawaban yang setiap hari mungkin harus diutarakan sampai letih sendiri.

Namun aku bersyukur aku kelu membicarakannya. Sebab kematian bukanlah hal yang patut dimulia-muliakan–justru harus direngkuh kebenarannya, bahwa ia adalah sesuatu yang karena dosa, tidak bisa kita hindari. Itu adalah hukuman. Kematian adalah pengingat paling nyata bahwa ada kudeta terbesar dan tertua terjadi di dalam sejarah; manusia yang tidak cukup diciptakan dalam rupa Allah dan ingin menjadi Allah–upaya merebut kuasa Allah atas dirinya.

Pernikahan juga membuatku harus berpikir serius, mau dibawa ke mana keturunanku nantinya? Menghadapi kematian tanpa Kristus atau dengan Kristus? Tampak seperti biasa-biasa dan sama saja, terutama bagi mereka yang tidak memiliki pengharapan akan langit baru & bumi baru, tapi ya… pikirkan sajalah. Please, doubt your doubts. 

Saat ini aku masih terus memikirkan hal di atas. Ketika menulis pun aku sedang berproses, jauh dari mengerti dan menerima bahkan keyakinan-keyakinan iman yang ada. Masa-masa dan virus corona ini sendiri telah membuat hampir sebagian besar manusia harus menerima sekali lagi, bahwa kematian itu memang tidak enak. Kalau enak, kenapa sulit-sulit membuat kebijakan ini-itu? Kenapa stress kalau orang masih aja kumpul-kumpul?

Aku sedang terus menghadapi fakta dan pendapat kepalaku sendiri tentang kematian & mimpi buruk yang ia tawarkan. Masih tidak ingin mengulang kesalahan yang sama yakni membiarkan hal-hal nyata namun sulit ini berlalu begitu saja dan menimbun pasir-pasir keyakinan semu yang gampang terbawa angin dan arus nantinya.

Saat ini bisa dikatakan, prosesnya ternyata too intense to be true. Aku menyimpulkannya dalam 1 kalimat, “I think, in life, it’s better to attach nothing but files”. Aku jadi memikirkan ulang attachment yang sudah dan mungkin ada di dalam hidupku. Buat yang nggak ngeh, attachment yang kumaksud itu kira-kira bersinonim dengan pengertian ‘kedekatan” atau “keterikatan”. 

Semakin banyak kedekatan dan keterikatan dengan orang lain, semakin sulit menepis mimpi buruk karena kematian. Bukan begitu? Tentu saja, sebaliknya. Semakin sedikit attachment dengan orang lain, semakin kecil kemungkinan akan mengalami mimpi buruk tersebut.

Namun ketika memikirkan ini, aku juga ingat bahwa tidak ada kekristenan tanpa attachment yang proporsional dengan sesamanya. Sebab, ketika percaya kepada Kristus, kasih menjadi kata kerja wajib yang melekat dengan kita sebagai subjek. Sehingga, harus kuakui bahwa ketakutan untuk memiliki attachment ternyata erangan yang kuat dari daging yang lemah yang tidak mau berjuang mengasihi. Tidak mau berjuang hidup dalam relasi dengan orang lain karena sadar harus bertatapan dengan betapa pastinya kematian. 

Aku belum sanggup melanjutkannya. Aku masih terus merenungkan paragraf terakhir di atas. Tapi aku bersyukur bisa berbagi sampai di sini. Aku tidak takut memperlihatkan pergumulan ini karena aku percaya bukan hanya aku yang patut memikirkannya. Pernikahan dan hidup pada umumnya memanglah hal yang kompleks, dan aku hanya sedang menguraikan satu benang kecil yang kadang-kadang menjadi penyebab pernikahan tidak dipandang sebagaimana seharusnya.

Rangkullah suka dan dukanya, jika sedang mempertimbangkan untuk menikah.

Doakanlah, agar suka-duka itu menemukan maknanya di dalam Kristus. Semua ada waktunya, semua ada masanya. Tapi satu yang pasti, relasi pernikahan hanya ada di dunia ini. Di langit baru dan bumi yang baru tidak ada pernikahan. Bukankah terlalu sementara untuk memikirkan bahwa pernikahan itu bertujuan for the sake of pernikahan itu saja?

There’s something more to marriage–perhaps many divinely things.

Kalau kata salah satu buku berjudul Sacred Marriage, “pernikahan adalah sarana pengudusanmu sebagai anak Allah”.  Setiap orang yang diselamatkan Allah pasti akan dibentuk hari lepas hari, menikah atau tidak menikah. Jika menikah, pandanglah itu sebagai ‘arena’ pengudusan yang paling nyata yang bisa ditemukan oleh tiap-tiap ‘peserta janji’ di dalamnya.

Aku,

Aku mau melihatnya demikian.

 

 

Categories
Jesus Life

“Oleh Karena Nama-Nya”

Yesaya 48:9-11

Oleh karena nama-Ku Aku menahan amarah-Ku
dan oleh karena kemasyhuran-Ku Aku mengasihani engkau,
sehingga Aku tidak melenyapkan engkau.
Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak,
tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.
Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri,
sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan?
Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!”

 

Allah sudah tahu sejak awal bahwa bangsa yang menyebut dirinya Israel dan keturunan Yakub adalah bangsa yang tegar tengkuk. Artinya, pemberontakan dan kedegilan hati mereka bukanlah hal baru yang mengagetkan bagi Allah. Tetapi Allah tetap memilih mereka. Allah bahkan menahan amarah-Nya terhadap Israel karena nama-Nya dibawa oleh bangsa ini.

Pernah melihat orang tua yang tidak jadi menghukum anaknya di depan umum karena ‘malu’ orang lain akan melihat dia sebagai orang tua yang tidak baik? Tentu ilustrasi ini tidak sempurna dalam memahami apa yang Allah katakan bahwa Ia tidak ingin “kemuliaan-Nya” diberikan kepada orang lain atau hal lain. Tapi kira-kira seperti itu.

Bagi umat perjanjian baru, amarah mutlak yang Allah miliki akibat dosa umat-Nya harus ditumpahkan ke atas Diri-Nya sendiri–Kristus, anak Bapa menanggung semuanya bagi orang yang percaya. Benar, itu semua karena kasih-Nya kepada dunia. Namun, penghukuman tidak diberikan juga karena nama-Nya yang kudus yang telah menciptakan manusia sebagai gambar dan rupa-Nya.

Sehingga, kita tidak pernah bisa menghayati penebusan Kristus sebelum kita memahami betapa sentral diri kita sebagai gambar dan rupa Allah. Bagaimana Allah tidak menyayangkan ciptaan-ciptaan yang Ia maksudkan untuk menyatakan kemuliaan-Nya di muka bumi ini?

Jadi, aku pertama-tama mau menghayati, dalam kasih-Nya, ada kemuliaan-Nya yang Ia tidak ingin berikan kepada ilah-ilah dunia ini. Menghayati penebusan Kristus hanya karena kasih-Nya akan membuat kita menjadi pengikut-pengikut yang susah berdisiplin. Karena, bukankah enak sekali dikasihi begitu rupa sampai Seseorang harus mati bagi kita? Namun ketika kita menghayati penebusan Kristus karena kasih dan kemuliaan Allah yang Ia mau nyatakan, kita akan menjadi pengikut-pengikut yang berjuang menghidupi tujuan penebusan itu: pemulihan sang ciptaan yang dimampukan oleh kasih karunia-Nya untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Karena itu penting bagi kita mengingat, kita ini yang percaya kepada Kristus, adalah ciptaan baru. Sebab yang lama telah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Sumber belajar:

For the Sake of God’s Name

Categories
Life

Life-updates (1): Elisabeth loves to cook!

You rock!

Halo semua! Apa kabar? Setelah lama tidak berjumpa, sekalinya nge-post malah foto makanan! Terhitung sejak Desember 2019 lalu, memasak sudah menjadi kebiasaanku. Yang dulunya hanya sekadar angan-angan, kini bisa juga jadi kenyataan! Ini adalah masakanku hari ini, guys! Bubur kacang ijo resep rumah, daging babi saksang (tanpa darah), dan kue-cokelat-yang-harusnya-muffin-tapi-ngga-ada-cup-nya-jadinya-begini. These three-meal are approved by my mom, not only because of her recipe alone, but also it turned out great and delicious! I’m so proud of my self (and my mom, of course). Anyway, aku juga belajar banyak hal selama beberapa bulan terakhir sejak rajin memasak. Setelah ini akan kubagikan ya!

기대 해주세요! 🙂