Got a quest on AskFM: kenapa sih banyak orang yang suka nge-judge lewat media sosial? Padahalkan menebarkan kebaikan itu bisa lebih indah?

First of all, being judgmental in general terjadi karena manusia gagal mengenal dirinya sendiri–in deeper sense of recognizing ourselves. Kenal diri sendiri nggak cuma berarti tau bahwa kamu itu seorang yg introvert, koleris, ambivert, pemalu, pendiam, or whatsoever. Mengenal diri sendiri lebih dari itu. Bahkan sampai kepada, “untuk apa/siapa kamu hidup?”, “kenapa kamu (masih) hidup?”, “apa potensimu?”, “why you do certain things?”, “apa yg nge-drive kamu melakukan ini dan itu?” dan banyak pertanyaan mendalam lain.

 And it requires a lifetime journey.

Kenapa orang jadi judgmental karena alasan itu? Yes of course, karena kalau kamu kenal banget sama diri kamu, kamu nggak akan berani menghakimi orang lain–kebanyakan kita pasti melakukan hal yg sama–atau punya potensi melakukan hal yang sama. This behaviour kemudian mendapat ruang yang lebih besar dalam penggunaan sosial media.

What can you interprete from a filtery kind of picture on Instagram? It will never fully describe anything about that person. I mean, ketika kamu yang tidak mengenal dirimu sendiri dengan baik mulai menilai seseorang di sosmed yang tidak kamu kenal dengan baik (people tend to judge someone they barely know, right?) maka jadilah ini double-trouble. What measure will you use to do so?

The good news, the more you understand yourself, the less you judge. The more you understand others, the less you judge. Imagine if these two things combined together. The world will be less judgmental.

The next question is, how could we understand ourselves more each day? 🙂

Advertisements

Bukan Kebetulan

Ini adalah salah satu lagu terbaru Sari Simorangkir dalam album terbarunya “Sovereign” yang sangat memberkatiku–selain “Kuserahkan Segalanya”. Judulnya, “Tuhan yang Besar medley Doa Yabes”.

Lagu ini menceritakan tentang pengakuan seorang manusia akan Allah yang besar–dan bahkan berani meng-klaim-Nya sebagai kepunyaan-Nya.

“Aku punya Tuhan yang besar yang t’lah berjanji dan sanggup menggenapi. Imanku bersepakat percaya kuasa-Nya. Ku’trima s’karang kemenangan dari-Mu.”

Lagu ini berisi keyakinan iman yang kuat dari seseorang yang percaya bahwa pengharapan hanya ada di dalam Allah. Pengharapan ini yang memampukannya untuk berkata bahwa meskipun dalam kesesakan, ia tidak akan menyerah. Allah yang menggenggam seluruh hidupnya.

Ini adalah bagian yang sangat indah. Allah itu setia dan Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya–kabar baik bagi kita. Jadi, hati Allah tidak bergantung pada kita, pada kondisi kita. Bagian ini sangat menguatkanku yang sedang menghadapi pergumulan–terbesar sepanjang hidup, seingatku.

Aku sedang mendengar lagu ini ketika sedang membaca saat teduh dari Our Daily Bread, yang semakin membuatku kuat; renungan yang berbicara juga tentang Tuhan yang besar:

Aku bersyukur selalu merasakan penjagaan-Nya, bahkan di tengah ketidaktaatanku. Seperti saat ini (dan masih banyak lagi saat lainnya), bagaimana Ia tidak pernah meninggalkanku, tidak mau aku salah jalan, dan dengan lembut Ia selalu memimpinku. Dia tahu aku selalu butuh kepastian dan Dia datang dengan segala kepastian yang tidak sanggup disangkal hatiku.

Dan… ya, terima kasih Tuhan untuk kekuatan ini. :”)

It Isn’t Me

When I did my morning devotion about two days ago from Our Daily Bread, I was moved by the insights I got from 1 Corinthians 15:1-11, especially what I learned from Paul’s example.

Paul is the one who never took God’s credits and cheers though he was such an inspiring & influencing apostle in his context & era. His faithfulness, his encouraging words, his firm & sound doctrines, his father-mother kind of love, and his determined & passionate heart to preach & teach, have been blessings to many of Christians now & then. He could boast & be absolutely proud of those qualities but he didn’t.

Not that he underestimated those excellent qualities, but he knew where he got it and realize much where the applause should fly to: God himself.

“But by the grace of God I am what I am: and his grace which was bestowed upon me was not in vain; but I laboured more abundantly than they all: yet not I, but the grace of God which was with me.”

This example is good for anyone especially for those who feel they have done many things for God (call it in a Christian ministry or on a daily basis), for those who sacrifice everything to God, who do their best in everything God called them to, for those who feel that they are spiritually healthy, for those who may see the fruit of their every faithfulness in following Christ.

Paul’s example is balance–uhm I think ‘balance’ is not quite suitable for what I mean. He didn’t stuck on these two extremes: first, being too proud of himself, or the second feeling too inferior (until it frustrates him) because of God’s grace.

I mean, God’s grace that is with us–is truth–and I always believe that truth sets us free. We know we can do many things with God’s grace & strength (I might add) without feeling superior when we’re fruitful, but we also won’t be ashamed & embarrassed if we’re not fruitful yet–by any reasons we could mention. Because our fruitfulness is also according to God’s grace–nothing we can do to decide when or where we could see that.

This is freedom, the true one: I’m just His messenger–yet not I, but the grace of God that is with me. Acknowledging God’s grace in everything is the sign of our spirituality–how we understand and know God in a way He wants us to.

Thus saith the LORD, Let not the wise man glory in his wisdom, neither let the mighty man glory in his might, let not the rich man glory in his riches: But let him that glorieth glory in this, that he understandeth and knoweth me, that I am the LORD which exercise lovingkindness, judgment, and righteousness, in the earth: for in these things I delight, saith the LORD.

Soli Deo Gloria.

Typically Me

Setelah melakukan social media detox yang ke-3 seperti pada post ini, saya memutuskan untuk melakukan social media detox kembali. Detox ini sudah dimulai sejak hari ini (Rabu, 6 Desember 2017) dan akan berlangsung selama 20 hari ke depan. Media sosial yang akan saya detox penggunaannya adalah Facebook, Instagram, WhatsApp Story, dan Twitter.

Cheers & see you!

P.S.:

Saya lagi nonton drama Korea “Two Cops” dan suka banget sama scene ini:

Penting nggak?

#latenightpost

Okay, ini bukan waktu yang cukup bijak untuk menulis sesuatu karena seharusnya saya tidur. Sekarang sudah pukul 12.20 AM, ngomong-ngomong. Tapi, saya belum ngantuk & sayangnya, ada sesuatu yang ingin saya tulis (mumpung saya lagi inget). Jadi, kita mulai saja!

Belakangan ini, saya lagi banyak berpikir tentang “perempuan”. Sebagai orang yang tingkat imajinasinya cukup tinggi (#percayadiri), saya suka membayangkan tentang “perempuan gimana sih yang saya kagumi?” Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Saya termasuk salah satu orang yang suka mengagumi sesuatu/seseorang, meski itu adalah hal yang kelihatannya biasa-biasa saja. Saya juga suka menyusun kriteria “idaman” saya (apa yang dapat membuat saya kagum) akan sesuatu/seseorang agar saya bisa mencari untuk memperolehnya.

Untuk kali ini, kriteria idaman tentang perempuan ini muncul ketika saya membayangkan tentang masa depan. Jika Tuhan berkehendak saya menikah dengan seseorang yg sudah dipastikan-Nya, saya membayangkan, kira-kira pasangan hidup seperti apa yang didambakan dan didoakan oleh pasangan hidup saya, ya? Anyway, saya tidak bicara soal pacaran. Saya bicara soal menikah. Ada lebih dari 1001 perbedaan yang akan kita alami ketika kita pacaran dan menikah. Meski saya belum menikah, saya bisa pastikan itu. Itu cukup logis untuk diperkirakan.

Selanjutnya, saya suka membayangkan, jika Tuhan berkehendak saya memiliki anak, kira-kira ibu seperti apa ya, yang didambakan oleh anak saya?

Mungkin sebagian orang bertanya, “kenapa harus memikirkan apa yang didambakan orang lain?” Pertama, pendekatan ini adalah pendekatan yang sering saya lakukan kepada orang-orang di sekitar saya–pendekatan yang memikirkan apa yang menjadi ekspektasi seseorang terhadap saya. Bukan untuk mengimitasi terang-terangan ekspektasi tersebut, tapi pertama-tama mengujinya dengan firman Tuhan dan menggunakan hasil ujian tersebut dalam menjalin relasi.

Di saat yang bersamaan, tidak dipungkiri, saya tetap rindu berserah kepada Sang Pembentuk kriteria, dihancurkan dan dibentuk kembali, menjadi seperti yang Ia dambakan saja.

Proses ini berjalan beriringan dan tidak seharusnya saling bertentangan–ketika semuanya dilakukan bersama Tuhan & firman-Nya. Semuanya ini saya lakukan demi semata-mata kasih dapat dinyatakan dengan tepat, tidak menimbulkan kecurigaan, kekhawatiran, dan sebagainya.

Karena, kadang-kadang kamu bermaksud mengasihi, namun beberapa orang tidak bisa handle & salah mengerti. It’s important to know your ‘audience’.

Lalu, setelah membayangkan kriteria-kriteria perempuan tersebut, saya tersenyum pada 1 puzzle yang sudah tersusun di kepala dan hati saya. Puzzle itu membentuk sebuah doa, “saya mau menjadi pasangan hidup yang terbaik untuk pasangan saya, menjadi ibu terbaik untuk anak(-anak) saya, demi hormat & kemuliaan Tuhan yang sudah dan selalu membentuk saya, amin.”

Catatan:

Kalau kekaguman pada seseorang membuatmu tidak semakin mengasihi Tuhan & melakukan perintah-Nya, membuatmu jauh dari logika, waspadalah. Kekaguman itu sudah menjadi berhala.

Tuhan Sembuhkanku

“Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan. Kekuatan perbuatan-perbuatan-Mu yang dahsyat akan diumumkan mereka, dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan.” – Mazmur 145:5-6

Seminggu lalu aku merasakan sakit di bagian dada yang membuatku cukup khawatir. Sakitnya tidak terlalu memberatkanku karena hanya timbul sesekali saja, misalnya jika aku meregangkan badan, jika aku tidur, jika aku menekuk badan, jika aku terlalu banyak berbicara, serta jika aku ingin bernapas kuat-kuat. Di luar itu, semuanya seperti baik-baik saja.

Aku sempat berpikir aneh-aneh, apakah ini angin duduk, TBC, ataukah beberapa penyakit lain yang di dalam keterbatasanku kupikir bisa saja sedang kuderita.

Tapi ada yang tidak biasa pada Selasa, 31 Oktober 2017 lalu. Kalau biasanya sakitnya hanya muncul sesekali, saat itu sakitnya malah konstan kurasakan, tidak peduli aku sedang apa. Aku tidak tenang karena kala itu sakitnya cukup menggangguku yang sedang berada di kantor. Salah seorang temanku menyarankan agar aku melakukan medical-checkup, manakala ada hal-hal yang lebih baik kuketahui sejak dini. Oke, saran itu akan kulakukan, tetapi permasalahannya saat itu aku butuh sesuatu untuk setidaknya meredakan rasa sakit yang ada.

Malamnya pun, aku jadi ragu apakah aku datang ke konser JPCC Worship “Made Alive” atau aku pulang saja dan beristirahat. Aku enggan pulang karena tidak nyaman jika kondisi sakitku harus kulewati sendirian di kamar. Tetapi pergi ke konser juga sebenarnya tidak terlalu baik karena itu berarti aku akan berdesak-desakan dengan banyak orang (setidaknya untuk masuk ke hall-nya) serta aku akan kena AC lagi. Masuk angin lagi deh.

Tapi aku tetap datang karena dorongan yang kuat untuk memuji Tuhan melalui beberapa lagu yang secara personal telah menjadi sarana-Nya dalam menguatkan satu keputusan yang telah kuambil saat itu.

Sakitnya belum membaik apalagi hilang.

Pada beberapa lagu di awal konser itu pun aku masih bernyanyi sambil meringis sakit dan memegangi sweater yang kupakai menutupi bagian depan badanku. Aku masih ingat saat itu aku bergumam kira-kira, “Lha, kok sakitnya malah jadi ngeselin, ya?”

Sampailah pada saat salah satu personil JPCC Worship mengajak kami untuk berdoa dan menyatakan syukur kepada Tuhan. Di saat yang lain mungkin sedang memanjatkan syukur, aku memutuskan berdoa memohon kesembuhan dari Tuhan.

Aku ingat pada saat itu aku bilang, “Tuhan, aku tahu saat ini Tuhan bisa sembuhkan sakit yang sedang kurasakan ini. Aku mohon, angkatlah sakit ini dan pulihkanlah aku ya Tuhan. Sakit ini membuatku khawatir sekali, Tuhan tahu itu, dan membuatku berpikir yang aneh-aneh. Tuhan, aku tahu Tuhan adalah Tabib di atas segala tabib dan Tuhan sanggup menyembuhkanku pada saat ini. Namun, jika pun Tuhan berkehendak lain, berilah aku kekuatan untuk melaluinya. Amin.”

Selesai berdoa, aku kembali menikmati konser seperti biasa. Masih ada sekitar 1,5 jam lagi sampai selesainya konser tersebut; waktu yang cukup panjang untuk kulewati jika masih harus dengan rasa sakit tadi. Aku memilih tidak mengkhawatirkan rasa sakitnya karena aku sudah menyerahkannya kepada Tuhan dan fokus menyanyikan lagu-lagu di sepanjang konser tadi. Aku tidak lantas menunggu-nunggu kapan doaku dijawab Tuhan dan lalu berhenti menyembah Tuhan melalui lagu-lagu di konser itu.

Selang beberapa menit, aku mulai tidak merasakan rasa sakit itu. Aku berpikir, “Hm, oke, jangan senang dulu, jangan banyak gerak dulu, nikmati saja kalau saat ini Tuhan memang sedang mengerjakan kesembuhan yang kau doakan tadi.” Meski begitu, tidak bisa kupungkiri aku jadi banyak senyum di sepanjang lagu. Sempat terucap, “Secepat itukah?” Sembari terus bernyanyi dan tidak berfokus pada rasa sakit tadi (dan bahkan kesembuhan yang mulai kurasakan), aku merasakan Tuhan menguatkanku dan benar-benar meneguhkanku atas keputusan yang telah kuambil beberapa waktu lalu serta mendapati diriku begitu rendah dan tidak bisa tidak memanjatkan syukur dan sembahku pada-Nya–tujuan awal aku bersemangat datang ke konser ini.

Ini lagu yang paling kuat berbicara untukku:

Konser pun selesai dan aku pulang. Biasanya di kamar aku akan mulai diganggu oleh rasa sakit itu tapi kali ini tidak. Tidak ada sedikit pun sakit bahkan ketika kucoba meregangkan badanku. Aku terharu. Aku berkata di dalam hati, “jika besok dan seterusnya tidak lagi kurasakan sakit itu, aku berjanji akan menceritakan ini kepada orang lain.”

Benar saja, bahkan sampai sekarang tidak ada lagi rasa sakit yang kurasakan. Bagaimana aku menjelaskan ini? Aku tidak melakukan pengobatan apa pun di sepanjang konser ketika rasa sakit itu masih nyata kurasakan. Bukan berarti pengobatan dan medical-checkup menjadi tidak penting, tetapi kalau memang Tuhan berkenan dan berkehendak menyembuhkan, dengan atau pun tanpa itu, kurasakan dia bisa hadirkan kesembuhan bagi kita.

Mungkin manusia bisa menjelaskan secara medis kesembuhan yang kualami, tetapi aku tetap akan percaya bahwa perbuatan tangan Tuhan sangat ajaib dan dahsyat, dan dengan ini kuumumkan kepada kalian.

Aku berdoa, semoga siapa pun yang membaca cerita ini, baik yang sedang sakit jasmani/rohani, atau pun memiliki orang-orang terkasih yang sedang mengalami sakit, tetap percaya dan mengandalkan Tuhan, tetap berserah dan tidak berhenti menyembah dan memuji Tuhan. Semoga kita yang dalam penantian akan kesembuhan-kesembuhan itu bisa mengenal Pribadi Tuhan dan dimampukan berserah kepada-Nya. Dengan begitu, sembuh atau pun tidak, kita sudah kenal bahwa Tuhan tidak bersalah dalam setiap keputusan-Nya. Itu adalah yang terbaik untuk kita.

Soli Deo Gloria.