Categories
Life

Menjelang 28 #2

Sejak kapan berelasi menjadi tentang kewajiban memberi tahu orang lain apa yang sedang terjadi di hidupmu?

Menempatkan beban pada orang yang sudah berat menanggung hidupnya sendiri demi istilah “menjaga relasi”, baguskah begitu?

Jika dia diam, itu haknya. Kau tidak berhak marah.

Jika ketika sudah bertanya dan dia bercerita seperlunya, itu juga haknya. Tugasmu adalah memastikan, bahwa kau benar-benar peduli dengan pertanyaan-pertanyaanmu yang sebetulnya bisa saja semakin memberatkannya.

Apalagi jika kau terus-menerus mengajukannya.

Kalau dia kesal dan berhenti bercerita, itu urusannya. Tugasmu dengan pertanyaan-pertanyaan itu sudah selesai.

Sebab, katanya, hanya sebagian orang yang dapat menunjukkan dirinya sebagai ‘tempat aman’ untuk menampung cerita-cerita tertentu.

Tapi, coba kita pikirkan ulang. Benarkah ada yang sungguh-sungguh aman? Tahukah kita, apa yang muncul pertama kali di kepalanya ketika kita menceritakan ketololan kita? Sesuaikah ekspresi tenangnya dengan apa yang berkecamuk di pikirannya tentang kita?

Tidak ada yang benar-benar tahu.

Apakah istilah “tempat aman” pada sesama manusia hanyalah fatamorgana dan faktanya, bukan itu yang kita perlukan?

Bercerita kepada manusia adalah langkah yang berani–siapa pun mereka. Sehingga persoalan bercerita, bagiku, bukan tentang siapa yang akan mendengar, melainkan, kesiapan untuk menanggung risiko. Tidak ada telinga, hati, dan pikiran manusia yang benar-benar aman untuk menampung cerita-ceritaku. Tapi, jika benar bahwa bukan pada manusia aku menaruh harap dan nilai diri, aku tidak perlu takut untuk bercerita kepada siapa pun.

Siapa yang benar-benar tahu, mereka orang yang tepat atau tidak?

Siapa yang benar-benar tahu, cerita-cerita tertentu akan tetap aman dari prasangka buruk? Tidak ada, kan?

Sayangnya, manusia lebih banyak berlari kepada sesamanya manusia, daripada kepada Allah. Ditambah lagi, menjadi frustrasi karena tidak ada manusia yang mau mendengar, menerima, dan mengerti persoalan pelik di dalam hidupnya.

Bukankah itu sebuah kepastian?

Sejak kapan berelasi dengan manusia adalah tentang untuk selalu dimengerti? Kau pikir apa manusia yang lemah itu? Ilahi?

Menjelang 28, aku mengerti sedikit lagi tentang relasi. Akulah yang datang untuk memberi dan belajar mengerti. Jika pemberian dan prosesku untuk mengerti tidak dipahami, itu perjuangan pihak lain untuk mengerti, sedikit lagi tentang relasi.

Kalau tidak, semua ini hanya akan berujung pada frustrasi.

Categories
Life

Menjelang 28 #1

Ada beberapa keputusan yang saya ambil melalui proses berpikir yang panjang menjelang usia saya yang ke-28 tahun ini. Salah satunya adalah berhenti menulis hal-hal yang mengekspos saya secara pribadi. Artinya, saya tidak akan menulis hal-hal yang bersifat curhat yang dapat membuat orang berprasangka baik positif maupun negatif terhadap kehidupan saya. Apalagi, sebagian besar orang tersebut tidak mengenal saya dan sulit untuk mengonfirmasi prasangkanya terhadap realitas yang ada. Apa yang memicu saya memutuskan seperti ini? Bohong kalau saya bilang tidak ada atau sekadar iseng. Namun saya tidak merasa perlu menjelaskannya di blog ini.

Bukan hanya di blog ini, hal serupa juga akan saya lakukan terhadap akun media sosial saya yang lain seperti Instagram, WhatsApp, Facebook, dan Twitter. Saya tidak akan mengunggah apa pun yang berkaitan dengan kehidupan pribadi saya. Sebetulnya saya sudah mengambil langkah awal yakni mengurangi intensitas saya berbagi di akun-akun tersebut, sehingga tidak sulit bagi saya untuk berhenti sama sekali.

Jika suatu saat kamu rindu sama saya (buset pede betul bocah), hubungi saja. Kalau saya rindu kamu, saya pun akan menghubungimu. Selain dari itu, kita tidak akan tahu kabar apa pun lagi dari satu sama lain.

Kalau kamu tidak mengenal saya secara pribadi dan mungkin merasa akan merindukan saya, tenang, rindukanlah mereka yang lebih pantas kamu rindukan. (Eww! Geli sama kalimat sendiri asli)

Salam sehat!

(Salam edisi pandemi)

Categories
Life

Cuma Cerita

Dalam hitungan beberapa bulan lagi saya resmi menjalani 10 tahun sebagai anak kosan yang harus merantau jauh dari keluarga. Sepuluh tahun yang tidak mudah, bisa dibilang. Homesick demi homesick sudah dilalui sejak 2011. Sampai-sampai sudah terbiasa hidup tidak merasakan langsung kasih dan perhatian orang tua secara nyata. Kalau saya boleh memilih, terutama ketika saya menyimpulkan bagaimana rasanya 10 tahun ke belakang, ingin rasanya mengulang kembali waktu dan tinggal bersama mereka saja di kampung halaman.

Jakarta is not that great anyway, hehe.

Tapi, sudah jalan-Nya seperti ini. Semuanya sudah terjadi di dalam kedaulatan-Nya.

—-

Sepuluh tahun ini adalah tahun-tahun yang sulit; penuh dengan jatuh-bangun yang rumit. Di luar, saya bisa seperti baik-baik saja, tapi ketika tiba di kosan yang sunyi itu, nggak ada mamak yang bertanya, “kenapa baru pulang jam segini?”, “kok mutung mukamu?”, “udah makan belum?”, “itu mamak masak daging babi arsik tadi, makanlah”.

Saya mengurus diri sendiri. Saya yang bertanya ke diri sendiri, “mau makan apa kita di hari yang sulit ini, Beth?”

Atau, bapak yang selalu menelepon dan menyuruh pulang (entah dari mana pun) padahal jam baru menunjukkan pukul 19.00 WIB. Bapak yang standby di depan untuk menginterogasi kenapa baru nyampe rumah jam 9 malam.

Awalnya, hidup sendiri tampak sebagai kebebasan. Saya tidak memungkiri sisi itu, terutama jika melihat 10 tahun ke belakang yang lebih banyak dihabiskan di pelayanan mahasiswa. Mungkin, saya tidak akan bisa melayani sebebas itu kalau saya tinggal bersama orang tua. Mungkin akan terjadi banyak sekali konflik dengan mereka.

Namun ada dampak lain yang harus dialami dengan kebebasan itu. Ketiadaan perhatian yang konstan hari lepas hari, kritik dan protes yang dilontarkan langsung ketika akan pergi dan pulang pelayanan, atau, absennya konflik-konflik karena harus melayani, telah memberikan ketahanan yang nyata namun terkadang juga semu pada jiwa saya.

Hidup sendiri telah membuat saya mengurus semua kesulitan yang ada pun sendirian. Tidak ada sahabat yang mengetahui beban pikiran saya setelah sehari penuh yang membuat saya susah tidur di malam-malam tertentu. Pun ketika saya pada akhirnya ketiduran begitu saja karena memang terlalu lelah dengan seluruh perjuangan hidup hari itu. Mungkin sahabat-sahabat saya tahu beberapa hal yang saya alami, jika mereka bertanya atau saya bercerita, tapi jelas, kehadiran mereka pada saat itu tidak bisa menggantikan kebutuhan saya akan keluarga yang hadir dan tinggal bersama.

Selama 10 tahun ini ada banyak persoalan yang saya pikir sudah mampu saya hadapi—sekalipun benar, saya mengakuinya dalam kesadaran akan anugerah Allah. Namun sesungguhnya saya sudah melaluinya dengan sangat kesulitan. Tidak jarang, ketika persoalan yang satu belum selesai, sudah datang persoalan lain. Di saat yang bersamaan, kuliah, pelayanan, kerja, harus tetap berjalan.

Seringkali saya mau tidak mau harus menguatkan hati untuk tidak terlarut pada persoalan diri. Mengesampingkan kepentingan diri adalah perjuangan biasa hari lepas hari. Beberapa orang heran dengan cara hidup saya yang seperti ini. Namun beberapa orang lagi masih menuntut saya untuk memberi lebih.

Seperti sekarang ini. Just another day.

Namun apakah saya akan berhenti berjuang untuk hidup demikian? Tidak akan pernah. Saya akan terus belajar dan berjuang untuk tidak berhenti memberikan yang terbaik sekalipun itu berarti menguras diri saya sepenuh-penuhnya. Apakah saya akan dilemahkan oleh kegagalan saya memenuhi ‘tuntutan’ mereka? Apakah kegagalan dan kesalahan saya akan membuat saya menghilang dari panggilan Allah untuk hidup bagi sesama dan bukan diri sendiri? Tidak akan pernah. Saya akan terus memohon pertolongan-Nya untuk memampukan saya hari lepas hari supaya sekalipun saya lemah, saya menyaksikan pembentukan dan topangan-Nya.

Apakah saya akan berhenti menyaksikan bahwa saya adalah orang yang ‘rohani’ hanya karena tingkah laku saya kadang kala tidak sesuai dengan iman saya? Tidak akan pernah. Bagi saya itu bukan akhir dari segalanya, melainkan awal transformasi dari Allah.

Saya tidak akan takut jika saya melihat ke belakang dan menemukan kebodohan serta ketololan saya. Saya akan bilang dengan tegas, “wah kamu jatuh di bagian ini”, “wah kamu tidak jadi teladan di bagian itu”. Namun saya juga akan datang dengan berani ke hadapan Allah, melalui Kristus yang adalah Imam Besar saya. Saya akan memohon pengampunan-Nya dan bersedia ditegur, dididik, dan diajari-Nya, sekali lagi, dan berkali-kali lagi.

Saya tahu Allah mengasihi dan memanggil saya untuk hidup demikian bukan karena Dia yakin saya akan berhasil, namun karena Kristus telah menang. Kenapa saya harus hidup terintimidasi oleh kegagalan saya ketika Tuhan saya sudah menang?

Perjuangan saya untuk taat dan hidup demikian pun bukan saya mulai karena perhitungan logis bahwa saya yakin pada kemampuan saya. Ketika bagi beberapa orang saya belum menunjukkan teladan yang terbaik, saya kurang memberikan yang seharusnya saya berikan, baik, akan saya terima dan akan saya perbaiki. Saya akan menjadikan itu cambuk bagi diri saya sendiri untuk melihat kepada Kristus dan meneladani-Nya, sekuat tenaga saya, sesuai kasih karunia-Nya yang bekerja di dalam saya.

Namun saya sangat yakin, sebaik apa pun perbaikan itu nantinya, menantikan pujian dan terima kasih dari manusia tetap bukan tujuan saya. Saya melakukannya karena saya mau hidup menyenangkan-Nya. Jika karena 1 dan lain hal saya masih gagal dan kurang bagi sebagian orang, tidak masalah. Tuhan yang tahu apa yang saya perjuangkan. Saya tentu tidak diciptakan untuk menjadi pahlawan di seluruh timeline hidup orang-orang. Saya memiliki peran saya sendiri.

Kehadiran saya adalah penyalur kasih-Nya, ketidakhadiran saya ialah penunjuk bahwa hanya Allah yang akan selalu ada bagi mereka.

Saya tidak akan berhenti mengasihi. Saya tidak akan menuntut dikasihi. Saya tidak akan berhenti melayani. Saya tidak akan menuntut dilayani. Jika saya disalahmengerti, saya tidak akan membenci. Saya akan memaklumi dan mengampuni. Jika saya diberi kesempatan sekali lagi, saya akan berjuang lebih baik lagi.

Bukan cara hidup yang mudah dan enak untuk diungkapkan atau dituliskan. Namun inilah prinsip saya menghadapi realitas kehidupan ini melalui 10 tahun perjalanan panjang hidup sendirian. Saya sering wondering apakah hidup akan jadi lebih mudah jika kesulitan, kelemahan, dan kegagalan itu saya hadapi dengan kehadiran keluarga setiap hari. Namun, saya yakin, Tuhan telah mengizinkan ini semua terjadi, karena Dia ingin menyatakan Diri-Nya lebih lagi. Hidup sendiri makin membuat nyata, it’s always been Him from the very beginning to the end.

Saya yakin dan percaya, ada sikap hati yang akan Dia murnikan melalui ini semua. Ada kapasitas mengasihi yang sedang Ia luaskan. Ada pengenalan akan Allah yang sedang Ia terangkan.

More than that, saya semakin menyadari bahwa saya hanyalah manusia biasa yang selalu memerlukan-Nya. That mighty Elisabeth some people always thought about me is a myth. I’m a human being; wicked yet saved. Once lost, now found; was blind, now see. Saya pun dibuat mengerti, saya juga melayani manusia-manusia yang memerlukan-Nya. None of us is better at this. None of us needs Him less or more. We all have the same need of Him, of His grace, day by day.

Last but definitely not least, chin up, Elisabeth. God loves you at your darkest. Jadi sekarang, jika kamu bukan lagi di dalam kegelapan, apa yang kamu takutkan?

Dia tetap mengasihimu lebih dari yang dapat kamu bayangkan.

Categories
Life

I know what I’m doing

Selama bertahun-tahun sebelumnya gue nggak pernah segitunya sama artis. Biasa aja. Ada sih yang sangat gue antisipasi karyanya, tapi ya gitu. Nggak segitunya.

Beberapa orang mungkin tau kalo gue suka High School Musical. Tapi gue biasa aja sama artisnya. I mean, gue suka lagu-lagunya, disuruh nonton filmnya berkali-kali pun gue akan jabanin. Tapi gue nggak pernah kepo Zac Efron lagi nyiapin karya apa, gimana pendapat dia soal isu A isu B, dsb.

Atau, Camp Rock. Gue memang suka banget sama Jonas Brothers setelah gue nonton film ini. Tapi, ya udah, gitu aja. Gue masih hapal lagu-lagu lamanya kayak “When You Look Me in The Eyes”, tapi lagu barunya yang Sucker itu ya biasa aja. Gue memang sempat mengantisipasi mereka comeback di single itu, tapi ya udah. I think the excitement is still the same, tapi di benak gue setelah melihat mereka lagi, Joe, Nick, Kevin udah sangat berbeda. Gue sadar, excitement yang gue maksud pun sebetulnya hanya berdasar pada nostalgia saja. Makanya mungkin gue pikir masih sama padahal udah enggak sama sekali.

Intinya, sepanjang gue hidup dan bernapas, gue menikmati banyak karya seni dan sangat suka sama karya-karya itu, tapi nggak segitunya sama senimannya. If that makes sense.

Apalagi penyanyi. Nggak banyak suara yang gue suka segitunya di dalam hidup ini. Dulu sempet suka banget suaranya Adera. Sampe bela-belain nonton konsernya beberapa kali. Gue masih suka sampe sekarang, cuman ya gitu. Ga segitunya.

Sejak 2015 sampai pertengahan 2020 kemarin aja gue nggak punya lagu favorit. Out of nowhere gue nggak penasaran sama lagu apa sih yang lagi happening di 5 tahun itu? Gue cuma dengerin lagu-lagu yang memang udah gue denger sampai 2015 aja. Gue masih dengerin musik, tapi tiba-tiba ke-shuffle lagu baru, gue cuma akan dengerin dan lewatin. Nggak cari tau lebih lanjut setelah itu. Ga segitunya.

Nah, yuyur, kata ‘segitunya’ ini yang gue lagi coba proses juga di kepala ini. Apa ukurannya? Atau bisa diukur nggak? -_-

Sampailah gue dengerin lagu-lagu IU dan BTS (kalo nggak tau coba gugling)—yang gue lupa kapan persisnya, pokoknya tahun 2020 kemarin.

Sejak pandemi Maret 2020 lalu, gue jadi lebih punya banyak waktu luang. Kalo biasanya dalam 1 hari kerja bisa menghabiskan 3-4 jam hanya untuk perjalanan pulang-pergi, kerja di rumah membuat gue menghemat 3-4 jam itu dan mengisinya dengan hal lain. Nonton drama Korea contohnya.

Sama seperti pengalaman sebelum pandemi, gue sangat menikmati karya seni drama. Mau berbahasa apa pun, gue bisa enjoy, termasuk bahasa Korea. Film India dan Mexico aja gue nikmatin cuy, nggak jauh bedalah sama drama Korea. Apalagi, gue lebih bisa embrace konteks dan viewpoints mereka since masih sama-sama Asia. Poinnya, gue bukan newbie di perdrakoran, tapi, gue nggak pernah nonton lebih dari 2 drama dalam 1 tahun. Itu pun gue habisinnya bisa berhari-hari atau ya 2-3 hari untuk nonton kemudian di 6-7 bulan lagi.

Tapi jujur, tahun 2020 kemarin kayak banyak aja yang bisa ditonton sampe habis. Mulai dari Crash Landing on You, Hospital Playlist, dan The King: Eternal Monarch (3 itu banyak banget ya bund). Itu 3 drama baru yang gue bela-belain tonton pas lagi on-going. Terakhir kayak gini tahun 2016 pas drama Goblin tayang. Setelah itu gue kehilangan minat nonton drakor dan kalo pun nonton drama baru, gue nggak pernah bisa selesaiin. Berhenti di episode ke-6 atau 7.

Akhirnya gue mulai cari drama lama dan memutuskan nonton My Mister. Gue lupa kenapa gue nonton ini. Gue denger drama ini bagus dan menang sebagai drama terbaik di angkatannya dengan script terbaik pula. Jadi, ya gue coba aja. Ekspektasi gue setiap nonton drama memang cuma 2: kalo nggak sangat menghibur, ya pesannya deep. Bagus kalo dapat dua-duanya. Kalo salah satu pun biasanya gue masih punya dorongan yang kuat untuk nyelesaiin. Tapi gue nggak pernah nonton hanya untuk sekadar mengisi waktu luang. Karena gue akan memakai energi gue yang berharga di waktu luang itu; gue akan menatap layar selama beberapa puluh menit, gue akan membiarkan mindset gue ditantang/dibentuk, dan tentunya emosi gue diaduk-aduk. Jadi, gue nggak akan nonton untuk sekadar mengisi waktu luang atau so-called istirahat. Istirahat itu wajib, tapi istirahat hanya untuk dibuat letih lagi karena sesuatu yang nggak berguna ya gimana ya bund rasanya.

Gue senang gue memutuskan nonton My Mister. Ini drama yang menurut gue bagus untuk ditonton siapa pun yang mau merenungkan kehidupan dan realitasnya. Kalo yang nonton adalah orang-orang di usia 20-an akhir yang lagi struggle untuk bertahan hidup dan harus ngurusin keluarga, gue rasa drama ini akan membuat mereka merasa tidak sendiri. Bukan hanya itu, mungkin akan menolong mereka juga untuk tetap berjuang.

Singkat cerita, bukan hanya suka drama ini, gue pun jadi kepoin pemeran utamanya: IU (Lee Ji-eun), dan Lee Sun-Kyun. Khususnya IU, karena dulu sempet nonton Dream High, drama pertamanya, dan gue tau dia penyanyi, gue jadi kepoin lagu-lagunya—dan gue suka. Banget.

Setelah itu, gue jadi banyak cari tahu tentang dia dan entah kenapa bisa nemu fanmade video yang nge-ship dia dan salah satu member BTS, Jungkook. -_- Ternyata Jungkook ini sudah dikenal sebagai fanboy-nya IU. Makanya pas searching soal IU malah nyangkut di Jungkook. Jujur, itu kali pertama gue tahu wujud anggota-anggota BTS.

Akhirnya gue jadi kepoin BTS, berbarengan dengan gue kepoin IU, dan astaga… kombinasi IUxBTS itu bener-bener sesuatu. Di sinilah gue tau, gue akhirnya bisa segitunya sama artis.

Gue bukan hanya mencari informasi tentang karya-karya mereka, talenta mereka, tapi juga soal personality mereka. One thing I notice: khususnya IU & Jungkook, mereka berdua adalah artis yang dikenal sangat jujur dan apa adanya. Tentu, karena gue bukan kakaknya Jungkook atau sepupunya IU, gue nggak tahu seberapa akurat hal itu. Tapi setidaknya, soal ke-apa-adaannya seseorang, pasti bisa dilihat dari apa yang memang ditunjukkannya lewat perkataan atau tindakannya.

Gue memang senang orang-orang yang apa adanya. Gue pun berusaha untuk berlaku serupa. Bagi gue, nggak masalah kalo orang tahu kelemahan dan kesalahan atau kegagalan gue. Nggak masalah kalo gue harus menunjukkan vulnerability gue sampe titik tertentu yang proper dengan situasi dan kondisi yang ada. Gue selalu berusaha menyampaikan apa pun yang gue rasakan terhadap seseorang atau sesuatu. Sebisa mungkin, gap asumsi orang yang 1 dan yang lain—yang sama-sama kenal gue—tentang gue, harus sekecil itu. Tapi kalo pun ada yang salah mengerti gue, ya gapapa. Gue hidup bukan menuntut untuk dimengerti manusia.

Semakin gue mencari informasi tentang IU dan Jungkook, semakin gue merenungkan hidup gue; apa yang gue perjuangkan, cara gue memperjuangkannya, cara gue memperlakukan orang, cara gue memandang situasi, dan seterusnya. Salah satu yang gue suka dari IU adalah, dia orang yang filosofis dan puitis; dua kualitas yang gue suka dari seorang manusia. Dari salah satu wawancara IU juga gue berprinsip, “normalize getting excited at being older every year.”

Kenapa banyak orang yang memperlakukan usia-usia tertentu seperti hantu? Misal, memasuki kepala 3, kepala 4, dan seterusnya—dan being overly dramatic terhadap kemudaan? Nggak mau tua, nggak mau keriput, takut sama tanggung jawab karena usia?

Kalo kita menyadari bahwa Tuhan hadir di dalam hidup kita, seharusnya pertambahan usia pun disambut dengan penuh syukur—terlepas apa pun tuntutan lingkungan terhadap usia-usia tertentu. “Udah umur segini kok belum begini?”, tanya sebagian orang, memang. Akhirnya, berkat dan kesempatan yang sudah diberikan Tuhan di 1 tahun itu seolah menguap begitu saja gara-gara kesal dengan 1 pertanyaan tersebut. Dari IU gue belajar, normalize getting excited at being a year older every year…because it’s through that year God has been working in and outside of you. Shouldn’t you anticipate, and pray, and wait on Him to work more through you in the next year?

Gue rasa pelajaran itu sangat berkesan dan menolong gue menjalani hari-hari yang berat ini. Bukan untuk sekadar bertahan dan tidak pingsan, tapi untuk bertahan, tidak pingsan, dan tetap bahagia. Gue diciptakan untuk bekerja dan berkarya bagi Tuhan dan sesama. Gue hanya akan bahagia kalo gue hidup seturut tujuan gue diciptakan Tuhan. :3

Di sisi lain, dari Jungkook gue belajar untuk jadi sejujur itu terhadap apa yang ada di kepala gue. Tapi, nggak hanya itu, gimana caranya isi kepala gue adalah mostly amazing thoughts and principles. Wkwkwk, mirip-mirip IU. Gue perhatiin, banyak orang membenarkan diri untuk ngomong apa pun, atas nama apa adanya, dan akhirnya jadi beban pikiran buat orang lain. Ya gimana ya bund, no filter sih no filter, tapi kok bisa isi kepalanya begitu? Nah di bagian ini yang sulit.

Hasil observasi gue terhadap Jungkook mungkin hanya 1% dari gimana beliau aslinya. Tapi kalo 1% ini bagus, ya nggak ada salahnya dicontoh kan? Jujur gue bukan mengamati dari interview—apalagi BTS banyak bikin interview dari internal team—some may say itu scripted, tapi dari game-game di RUN BTS. Gue rasa sekalipun game-nya scripted, tapi how they behave during that game pasti jauh lebih realistis. Jadi memang setiap Selasa malam gue udah punya tontonan wajib: RUN BTS dan di situlah gue sangat mensyukuri kehadiran Jungkook di dunia ini. Sekocak itu, se-brilliant itu, dan apa adanya. Kayak memang nggak banyak kebusukan yang harus dia filter -_-. Selain itu dia juga pekerja keras. Dia dikenal sebagai salah satu member yang paling sering masih latihan di kala yang lain sudah istirahat. Idk apa motivasinya, tapi gue ambil aja poin kerja kerasnya.

Later on gue baru tau kalo emang udah jadi rahasia umum kalo BTS itu memang salah satu K-Pop idol yang dikenal jujur dan crackheads. Nggak jaim. Kira-kira gitu.

Gue nggak tau gimana artis Korea lain; gue nggak ngikutin, asli. Tapi seenggaknya di beberapa bulan terakhir gue sangat segitunya sama IU dan BTS. Selain karena gue mengizinkan mereka men-challenge prinsip-prinsip gue, mengizinkan mereka membentuk selera musik gue, mengizinkan mereka menambah informasi on how humans can live their lives, gue juga menabung untuk membeli barang-barang yang bisa mengidentifikasi gue sebagai penggemar mereka. Ini pertama kalinya gue menggunakan uang sendiri membeli hal-hal seperti itu. Itulah ukuran gue untuk kata segitunya.

And I think I know what I’m doing. Kalo gue ga hati-hati, gue bisa-bisa menjadi Elisabeth yang beragama IU dan BTS -_-. You are what you love, you worship what you love, bukan? Jadi, tulisan ini sekaligus menjadi pengingat untuk mengendalikan diri.

Gue akan menempatkan karya seni dan senimannya di mana mereka seharusnya: penunjuk kepada Allah, the ultimate Creator, yang sedang terus berkarya di dalam hidup gue. Yang constantly working bersama segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya. Semoga gue nggak berubah agama jadi IU dan BTS!

Categories
Life

27; it was what it was.

This is a conversation I start with myself,

Cuz I got no one right now, oh well

—-

Looking back, I feel like I’m ready to mock and pity myself so much. Not that I hate her, but I’m just excited enough to wake her up.

Days, even months passed away, no good memories to stay.

Ain’t I living myself to the fullest? Or is it just impossible? Why am I having regrets?

Who told you to be stressed out if some things just wouldn’t happen? Who forced you to figure out everything and scared of discovering mysteries in the end?

It was what it was. It was black, it was white. Somewhen grey, somewhere you stop calling it by its color. Because why should you?

It was just what it was.

It was as okay as it could be.

—-

The journey from 25-27 was rough, right? But maybe it was meant to remind you the beauty of being in a journey. You might find ways, you might get lost just as soon as you feel it’s gonna be alright.

You felt too deep, they said. You thought too much, you said. So what? There are times you didn’t even want to do anything, just sleeping.

It was what it was. As okay as it could be.

You are not bound to any of this world’s should haves or should have nots.

Categories
Life

Sarjana Hukum kok Jadi Hamba Tuhan?

Jawaban cepet-males-mikir:

lha bagus, daripada hamba Setan?

Jawaban panjang-serius-dikit-mayan-mikir:

Adalah suatu bukti nyata bahwa kita sangat terbatas dalam memahami hidup ketika keputusan beberapa orang atas hidupnya membuat kita bertanya-tanya. Sebetulnya aku ingin bilang bahwa itu adalah bukti nyata bahwa kita cenderung memiliki asumsi atas bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup daripada empati untuk melihat hidup dari sudut pandang orang tersebut.

Pertanyaan di atas hampir selalu diajukan oleh keluargaku sendiri dan bahkan, jangan sedih, oleh orang-orang yang baru semenit lalu berkenalan denganku. Saking seringnya pertanyaan tersebut diajukan, aku sampai-sampai sudah terlatih untuk memperkenalkan diriku sambil menjelaskan secara singkat mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Hamba Tuhan adalah sebutan umum yang disematkan oleh manusia kristiani terhadap orang-orang yang bekerja sebagai pengkhotbah, pastor, penginjil, dan sebagainya. Untuk memperjelasnya, kita menambahkan ‘penuh waktu’ di belakangnya. Secara biblikal, sebutan ini cukup keliru, jika hanya disematkan kepada orang-orang berprofesi tertentu. Sebab, siapa pun manusia yang hidup di dunia ini, semuanya adalah hamba Tuhan–dalam pengertian bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atas jalan hidupnya sendiri. Semua orang, mau tidak mau, tunduk di bawah otoritas ilahi. Kukenal Dia di dalam Kristus yang tersalib itu, dan bangkit pada hari ke-3 sebagai tebusan atas dosa-dosaku.

Sehingga, keputusanku menjadi seorang ‘hamba Tuhan’ tidak ada hubungannya dengan kelulusanku sebagai sarjana hukum. Setelah lulus 5 tahun lalu, aku bekerja sebagai asisten pengacara selama 2 tahun 2 bulan. Segera sesudahnya, aku memutuskan berhenti dan bekerja sebagai staf di sebuah yayasan yang bergerak di pelayanan Injil dan pemuridan kaum muda–sampai saat ini. Kedua keputusan tersebut kuambil di dalam kesadaran bahwa aku sebenar-benarnya, seutuh-utuhnya, adalah seorang hamba Tuhan. Bukan hanya dalam pengertian umum, melainkan dalam pengertian yang lebih dalam, ketika aku dibebaskan dari perbudakan dosa. Di dalam kebebasan tersebut, aku sangat merdeka untuk memutuskan apa pun pekerjaanku sebagai perwujudan nyata bahwa kini tuanku ialah Kristus. Bekerja sebagai asisten pengacara tidak lebih baik daripada bekerja sebagai staf di pelayanan kaum muda. Begitu juga sebaliknya. Sebab di dalam keterbatasanku, keduanya kuputuskan di dalam keinginan untuk mempersembahkan yang terbaik kepada Allah yang sudah sangat berbelas kasih kepadaku.

Pun demikian, betapa pun hebat kukatakan kualitas persembahan tersebut, tidak akan sanggup ‘membalas’ betapa mulia dan agung kebaikan-Nya di dalam hidupku. Bagaimana tidak? Bukan hanya hidupku di dunia ini diterangkan-Nya, Ia bahkan menjamin kehidupan kekalku nanti. Apa lagi yang lebih indah selain itu?

Tapi, toh, konsep ‘balas budi’ bukanlah hal yang ingin kujadikan dasar hidup sebagai hamba-Nya. Aku tidak membalas; aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.

Karena itu, untuk memeringati 3 tahun sudah keputusan ini kuambil, aku ingin menegur diriku jikalau ia sudah pernah merasa terlalu istimewa atas persembahan yang ia berikan kepada Allah. Tapi di saat bersamaan, aku juga ingin menyemangati diriku, bahwa kamu adalah seorang hamba yang benar jika kamu terus berjuang melakukan apa yang harus kamu lakukan.

Di mana pun engkau bekerja, Elisabeth, ketahuilah, semuanya hanya akan menunjukkan hamba seperti apa sebenarnya dirimu di hadapan Tuhan. Tapi tidak apa, sekalipun engkau pernah gagal, di dalam Kristus, kamu tetap diberi kesempatan sebagai hamba Tuhan. Itu jauh lebih baik daripada menjadi hamba setan.

Categories
Life

We love to stay away from troubles

As clear as the title, as easy as we nod.

But, who doesn’t? I think none in this world consciously loves troubles and even plans some things just to welcome troubles into their lives. We’re not here to clear up the mess, or think hard what have we done to get such unwanted miseries in this life.

None of our journal books is worthy of those thoughts tidying up sentences. We prefer gratitude list to why, why, and why, question marks.

No wonder most of our technology development goal is focused on making our lives easier. We love anything instant. We demand everything to come fast, faster. We are always in a rush, thinking that the earlier, the better. Or, it’s better late than never.

We define easy lives by how much we can do in a day. It means that all things seem to work alongside us and our timeline and so we like it. A late response chat would be so bothering to us because we become more sensitive and easily irritated by everything.

But, truth has to be spoken. It ain’t life if no troubles. It is either graveyard or heaven.

Categories
Life

Countdown

Hanya Engkau yang tahu, Tuhan, apa yang saat ini sedang terjadi. Hanya Engkau yang mengerti, Tuhan, setiap perasaan yang terpendam. Aku bahkan gagal menjelaskan apa pun, baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain. Ada yang bisa kuungkapkan, ada yang bisa terucapkan, tapi, apakah itu benar? Lagi, apakah itu sesuai dengan kehendak-Mu?

Di setiap persimpangan jalan, memang biasa aku menjadi kebingungan. Ke manakah aku harus melangkah?

Setiap kali pula aku perlu iman. Terlebih, iman yang mengungkapkan betapa pengecut dan pecundangnya diri ini. Iman yang membukakan bahwa aku sudah bersembunyi dengan nyaman.

Tidak, aku tidak akan menggugat Engkau untuk setiap pimpinan-Mu. Aku tahu, aku ini Engkau sayang. Tidak ada yang salah dari apa pun yang Engkau putuskan. Tidak pernah untuk mencelakakanku. Aku tahu itu dengan pasti.

Sehingga, setibanya pun aku di persimpangan ini, itu semua sudah merupakan perjalanan yang baik. Tidak ada jalan lain yang lebih baik dari itu. Itu semua adalah perjalanan yang sekalipun, menghancurkan sesuatu, namun membentuk yang lain. Sekalipun mengaburkan yang lain, namun menjelaskan sesuatu.

Aku sedang menghitung mundur. Tapi, ini semua waktu-Mu. Ini semua milik-Mu. Jika perhitunganku pun keliru, aku mohon ampun. Jika Engkau berkenan pada perhitunganku, kuatkanlah aku.

Aku membutuhkan-Mu.

Categories
Life

One day a little boy came to me and asked, “Miss, if I am not grateful for this life, is that a sin? Why? In fact, I did not ask to be born into this world.”

I was stunned by his question.

What happened in his life so he asked that?

Could it be because he doesn’t like his life?

If I’m the one asking that, what situations would prompt me to ask that question? I think the reason might be that I just didn’t like what happened in this life–mine and what happened around me. Or it might happen if I feel that I don’t need life. Just like when someone gives you something and you are not grateful for it, most likely it’s because you don’t like the gift, or you don’t feel like you need it right now.

But, it could also be….because you don’t like the person who gave it.

You probably know the person and still be ungrateful for the gift unless you really like the fact that he is the giver. Even if the gift is not something you like and need right in the moment, I think you will still be grateful and happy for the gift if you like the giver.

Think about your crush, giving you 1 pound of garlic on a sunny afternoon…

Sorry.

So, if I’m not grateful for a life in which I insist that I didn’t ask to be born, then, I think the main reason (probably) is that I don’t like the parents who gave birth to me and raised me–and more than that, I don’t like the real Life-Giver.

And, if this is the case, is that a sin?

Categories
Life

Ditemukan

Kupikir salah satu efek yang sangat nyata dari ‘keterhilangan manusia’ karena dosa adalah dorongan yang kuat–sekalipun jarang disadari–untuk ditemukan. Tentu saja, harus ada yang mencari. Terlebih lagi, pada hakikatnya, manusia tidak menyadari bahwa dia perlu dicari dan ditemukan.

Aku perlu ditemukan.

Kusebut Dia Tuhan. Namanya Yesus Kristus. Nama yang belakangan ini seringkali dijadikan bahan bercandaan oleh segelintir orang. Nama yang sering disandingkan dengan kata-kata lain untuk mengumpat. Nama yang dapat menimbulkan rasa jijik tak tertahankan bagi sebagian orang. Sosok yang, bahkan, kayu tempat mati-Nya saja bisa menggegerkan 1 negara. *jengjeng!

Kupikir cukup bagiku untuk berhenti pada 1 momen di masa lalu ketika aku sangat yakin bahwa aku sudah ditemukan oleh Tuhanku. Kupikir, mengandalkan nostalgia itu cukup untuk membekali perjalanan hidupku setelahnya. Ternyata aku salah.

Untuk sesaat rasanya tidak ada lagi hal yang dapat menggoyahkanku, jika kualami lagi perasaan-perasaan yang intimidatif yang menggempurku dengan pertanyaan-pertanyaan, “kamu siapa?”, “memangnya apa gunamu di dunia ini?”. Termasuk jika pertanyaan seperti ini muncul, “apa sih istimewanya kamu?”. Pertanyaan-pertanyaan yang mengakar dari ketidakyakinan seseorang bahwa ia sebenarnya tidak lagi terhilang.

Seringkali aku mencari acknowledgment dari segala sesuatu yang tidak akan pernah melakukannya dengan sempurna. Aku mencarinya dari sahabat-sahabatku. Aku mencarinya dari keluargaku. Aku mencarinya dari pekerjaanku. Aku mencarinya dari pencapaianku. Aku mencarinya dari diriku.

Acknowledgment atau secara singkat berarti penerimaan/pengakuan atas keberadaan sesuatu/kebenaran suatu hal merupakan kebutuhan mendasar manusia. Seperti kukatakan tadi, rasanya ini adalah dampak keterhilangan manusia. Tapi ternyata, sekalipun ia sudah ditemukan, ia tetap membutuhkan hal itu setiap hari. Ia, sederhananya, perlu terus mengingat dan mengatakan kepada dirinya, “hei, tenang, Tuhan sudah mencari dan menemukanmu.”

“Tenang, Dia mencarimu bukan hanya karena Ia menerima dan mengakui keberadaanmu pada saat ini saja. Dia mengasihimu dan menginginkanmu hidup kekal.”

Biar kuceritakan sedikit beberapa kesedihan yang muncul jika aku lupa akan hal itu.

Pernah beberapa kali aku tertegun pada absennya orang-orang yang kuanggap begitu mengasihi dan memerhatikanku. Kulalui hari-hari itu dengan merasa sendirian. Kusalahkan orang-orang tersebut. Kutimpakan seluruh tuduhan kepada mereka yang hanya datang jika memerlukanku. “Mereka pikir aku call center?”, begitu kataku.

Jika tidak ada yang mengapresiasi apa yang sudah kulakukan, tidak ada yang memerhatikan bahwa aku sudah sangat berjuang untuk sesuatu, aku menjadi lemah. Terlebih jika mereka yang, mungkin karena sudah terlalu mengenalku, akhirnya menganggap biasa saja setiap usahaku terhadap mereka. Padahal, aku telah menghabiskan malam-malam bercucuran air mata dan hari-hari berpeluh untuk mereka.

Bagiku itu belum yang paling menyedihkan. Justru titik terlemahku adalah ketika aku memutuskan berhenti melakukan semua upaya kasih itu kepada beberapa orang.

Sebenarnya ini pernah terjadi ketika aku masih duduk di bangku kuliah. Keyakinanku untuk terus setia dalam menunjukkan kasih dan pelayanan yang terbaik ternyata tidak selalu berakhir dengan pengakuan dan perlakuan yang sama dari orang lain. Namun saat itu, aku ingat bahwa aku bisa berkata, “tidak masalah, lakukan semuanya karena Tuhan sudah sangat mengasihimu.” Sepertinya itu bukan mantra penenang sementara, melainkan sebuah keyakinan iman pada kebenaran firman.

Buktinya, saat itu tidak banyak yang tahu bahwa aku berbeban berat. Beberapa orang bahkan bingung setelah waktu berlalu, ternyata banyak sekali yang sedang kupikul. Setidaknya, cukup banyak untuk ukuran anak kuliah yang hidup sendiri, jauh dari keluarga, dan mengandalkan beasiswa demi beasiswa untuk uang saku, uang gaul, dan tentunya, uang untuk ‘mengasihi dan melayani orang lain’-nya.

Memang, aku juga tidak seterbuka itu, pada dasarnya. Aku bahkan tidak ingat apakah ada 1 orang saja yang tahu dengan detail semua yang sedang kualami.

Tapi tentu saja, selalu ada Tuhan. Mungkin beberapa orang masih meragukan apakah, misalnya, kesehatan mental dan jiwa bisa betul-betul terpelihara jika dan hanya jika mengandalkan Tuhan dan relasi dengan-Nya. Beberapa orang bahkan merasa harus melengkapi relasi itu dengan tips-tips psikologi yang baik. Yang kutahu, saat itu tidak ada lagi yang bisa kuandalkan, termasuk diriku sendiri. Aku menyerah, semenyerah-menyerahnya kepada Tuhan.

Aku tidak meragukan itu, dulu, dan kuharap juga sekarang. Terlalu radikalkah? Entahlah. Yang jelas, aku mengalami sendiri ketenangan dan damai sejahtera yang melampaui segala akal yang Ia berikan bahkan di tengah pergumulan.

Kurasa kelekatan sang ranting pada pokoknya adalah analogi yang sangat baik untuk menggambarkan betapa mendasarnya relasiku dengan Yesus. Bukan hanya menggambarkan kesatuanku dengan-Nya yang sudah mencari dan menemukanku, namun juga menggambarkan bahwa setiap hari, hidup dan pertumbuhanku, kesehatan jiwaku, bersumber dari-Nya. Aku tidak boleh hanya bernostalgia bahwa aku sudah tidak lagi terhilang. That’s not a memory or merely a history alone.

Sekarang, aku sedang terus mencerna apa yang sedang terjadi sampai di usiaku yang ke-27 ini. Satu-satunya output yang tidak kuinginkan dari proses ini adalah sibuk menyalahkan keadaan dan orang lain. This is so yesterday. Tentu ini bukan berarti menutup mata terhadap hal-hal yang perlu diperingatkan dan ditegur. Hanya saja, ada perbedaan besar antara menginginkan evaluasi yang sehat dan simply marah/sinis saja. Untuk yang terakhir ini, aku berdoa jauhlah kiranya daripadaku.

Sehingga, sekalipun aku mengalami lagi hal-hal yang berpotensi membuatku berpikir ulang tentang acknowledgment dari orang-orang di sekitarku, aku tahu jawabannya.

“Tidak masalah, kok. Ketidaksempurnaan orang-orang untuk sesederhana melihat, mengakui, dan menunjukkan perhatiannya kepadamu seharusnya memperjelas bahwa benarlah adanya, ada Tuhan yang sudah menemukanmu. Hanya Dia yang sanggup berbicara pada jiwamu, bahwa kamu dan keberadaanmu diketahui dan dikenal-Nya.”

Tuhan juga melihat setiap kesetiaan dan perjuangan kasihmu–even those whom you have done unnoticed. Dia memerhatikan dan menyukai itu. :’)

Akhirnya, instead of being a cynical human being, I learn to love anyway. Inilah yang menguatkanku untuk terus belajar menunjukkan kepada orang lain, semengecewakan apa pun mereka menurut preferensiku, kehadiranku bukanlah for the sake of being a friend only to them. Aku di sini adalah seorang sahabat yang hadir untuk menunjuk kepada Sang Sahabat Sejati, Tuhan Yesus. Satu-satunya Sahabat yang memberikan definisi dan bukti ‘acknowledgment’ terbaik bagi mereka.

Karena kita, manusia, akan saling mengecewakan satu sama lain, pada saatnya masing-masing. Akan ada masa di mana kita, tidak peduli dengan keberadaan masing-masing.

Kita, akan saling melupakan, mungkin.