Categories
Life

27; it was what it was.

This is a conversation I start with myself,

Cuz I got no one right now, oh well

—-

Looking back, I feel like I’m ready to mock and pity myself so much. Not that I hate her, but I’m just excited enough to wake her up.

Days, even months passed away, no good memories to stay.

Ain’t I living myself to the fullest? Or is it just impossible? Why am I having regrets?

Who told you to be stressed out if some things just wouldn’t happen? Who forced you to figure out everything and scared of discovering mysteries in the end?

It was what it was. It was black, it was white. Somewhen grey, somewhere you stop calling it by its color. Because why should you?

It was just what it was.

It was as okay as it could be.

—-

The journey from 25-27 was rough, right? But maybe it was meant to remind you the beauty of being in a journey. You might find ways, you might get lost just as soon as you feel it’s gonna be alright.

You felt too deep, they said. You thought too much, you said. So what? There are times you didn’t even want to do anything, just sleeping.

It was what it was. As okay as it could be.

You are not bound to any of this world’s should haves or should have nots.

Categories
Life

Sarjana Hukum kok Jadi Hamba Tuhan?

Jawaban cepet-males-mikir:

lha bagus, daripada hamba Setan?

Jawaban panjang-serius-dikit-mayan-mikir:

Adalah suatu bukti nyata bahwa kita sangat terbatas dalam memahami hidup ketika keputusan beberapa orang atas hidupnya membuat kita bertanya-tanya. Sebetulnya aku ingin bilang bahwa itu adalah bukti nyata bahwa kita cenderung memiliki asumsi atas bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup daripada empati untuk melihat hidup dari sudut pandang orang tersebut.

Pertanyaan di atas hampir selalu diajukan oleh keluargaku sendiri dan bahkan, jangan sedih, oleh orang-orang yang baru semenit lalu berkenalan denganku. Saking seringnya pertanyaan tersebut diajukan, aku sampai-sampai sudah terlatih untuk memperkenalkan diriku sambil menjelaskan secara singkat mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Hamba Tuhan adalah sebutan umum yang disematkan oleh manusia kristiani terhadap orang-orang yang bekerja sebagai pengkhotbah, pastor, penginjil, dan sebagainya. Untuk memperjelasnya, kita menambahkan ‘penuh waktu’ di belakangnya. Secara biblikal, sebutan ini cukup keliru, jika hanya disematkan kepada orang-orang berprofesi tertentu. Sebab, siapa pun manusia yang hidup di dunia ini, semuanya adalah hamba Tuhan–dalam pengertian bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atas jalan hidupnya sendiri. Semua orang, mau tidak mau, tunduk di bawah otoritas ilahi. Kukenal Dia di dalam Kristus yang tersalib itu, dan bangkit pada hari ke-3 sebagai tebusan atas dosa-dosaku.

Sehingga, keputusanku menjadi seorang ‘hamba Tuhan’ tidak ada hubungannya dengan kelulusanku sebagai sarjana hukum. Setelah lulus 5 tahun lalu, aku bekerja sebagai asisten pengacara selama 2 tahun 2 bulan. Segera sesudahnya, aku memutuskan berhenti dan bekerja sebagai staf di sebuah yayasan yang bergerak di pelayanan Injil dan pemuridan kaum muda–sampai saat ini. Kedua keputusan tersebut kuambil di dalam kesadaran bahwa aku sebenar-benarnya, seutuh-utuhnya, adalah seorang hamba Tuhan. Bukan hanya dalam pengertian umum, melainkan dalam pengertian yang lebih dalam, ketika aku dibebaskan dari perbudakan dosa. Di dalam kebebasan tersebut, aku sangat merdeka untuk memutuskan apa pun pekerjaanku sebagai perwujudan nyata bahwa kini tuanku ialah Kristus. Bekerja sebagai asisten pengacara tidak lebih baik daripada bekerja sebagai staf di pelayanan kaum muda. Begitu juga sebaliknya. Sebab di dalam keterbatasanku, keduanya kuputuskan di dalam keinginan untuk mempersembahkan yang terbaik kepada Allah yang sudah sangat berbelas kasih kepadaku.

Pun demikian, betapa pun hebat kukatakan kualitas persembahan tersebut, tidak akan sanggup ‘membalas’ betapa mulia dan agung kebaikan-Nya di dalam hidupku. Bagaimana tidak? Bukan hanya hidupku di dunia ini diterangkan-Nya, Ia bahkan menjamin kehidupan kekalku nanti. Apa lagi yang lebih indah selain itu?

Tapi, toh, konsep ‘balas budi’ bukanlah hal yang ingin kujadikan dasar hidup sebagai hamba-Nya. Aku tidak membalas; aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.

Karena itu, untuk memeringati 3 tahun sudah keputusan ini kuambil, aku ingin menegur diriku jikalau ia sudah pernah merasa terlalu istimewa atas persembahan yang ia berikan kepada Allah. Tapi di saat bersamaan, aku juga ingin menyemangati diriku, bahwa kamu adalah seorang hamba yang benar jika kamu terus berjuang melakukan apa yang harus kamu lakukan.

Di mana pun engkau bekerja, Elisabeth, ketahuilah, semuanya hanya akan menunjukkan hamba seperti apa sebenarnya dirimu di hadapan Tuhan. Tapi tidak apa, sekalipun engkau pernah gagal, di dalam Kristus, kamu tetap diberi kesempatan sebagai hamba Tuhan. Itu jauh lebih baik daripada menjadi hamba setan.

Categories
Life

We love to stay away from troubles

As clear as the title, as easy as we nod.

But, who doesn’t? I think none in this world consciously loves troubles and even plans some things just to welcome troubles into their lives. We’re not here to clear up the mess, or think hard what have we done to get such unwanted miseries in this life.

None of our journal books is worthy of those thoughts tidying up sentences. We prefer gratitude list to why, why, and why, question marks.

No wonder most of our technology development goal is focused on making our lives easier. We love anything instant. We demand everything to come fast, faster. We are always in a rush, thinking that the earlier, the better. Or, it’s better late than never.

We define easy lives by how much we can do in a day. It means that all things seem to work alongside us and our timeline and so we like it. A late response chat would be so bothering to us because we become more sensitive and easily irritated by everything.

But, truth has to be spoken. It ain’t life if no troubles. It is either graveyard or heaven.

Categories
Life

Countdown

Hanya Engkau yang tahu, Tuhan, apa yang saat ini sedang terjadi. Hanya Engkau yang mengerti, Tuhan, setiap perasaan yang terpendam. Aku bahkan gagal menjelaskan apa pun, baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain. Ada yang bisa kuungkapkan, ada yang bisa terucapkan, tapi, apakah itu benar? Lagi, apakah itu sesuai dengan kehendak-Mu?

Di setiap persimpangan jalan, memang biasa aku menjadi kebingungan. Ke manakah aku harus melangkah?

Setiap kali pula aku perlu iman. Terlebih, iman yang mengungkapkan betapa pengecut dan pecundangnya diri ini. Iman yang membukakan bahwa aku sudah bersembunyi dengan nyaman.

Tidak, aku tidak akan menggugat Engkau untuk setiap pimpinan-Mu. Aku tahu, aku ini Engkau sayang. Tidak ada yang salah dari apa pun yang Engkau putuskan. Tidak pernah untuk mencelakakanku. Aku tahu itu dengan pasti.

Sehingga, setibanya pun aku di persimpangan ini, itu semua sudah merupakan perjalanan yang baik. Tidak ada jalan lain yang lebih baik dari itu. Itu semua adalah perjalanan yang sekalipun, menghancurkan sesuatu, namun membentuk yang lain. Sekalipun mengaburkan yang lain, namun menjelaskan sesuatu.

Aku sedang menghitung mundur. Tapi, ini semua waktu-Mu. Ini semua milik-Mu. Jika perhitunganku pun keliru, aku mohon ampun. Jika Engkau berkenan pada perhitunganku, kuatkanlah aku.

Aku membutuhkan-Mu.

Categories
Life

One day a little boy came to me and asked, “Miss, if I am not grateful for this life, is that a sin? Why? In fact, I did not ask to be born into this world.”

I was stunned by his question.

What happened in his life so he asked that?

Could it be because he doesn’t like his life?

If I’m the one asking that, what situations would prompt me to ask that question? I think the reason might be that I just didn’t like what happened in this life–mine and what happened around me. Or it might happen if I feel that I don’t need life. Just like when someone gives you something and you are not grateful for it, most likely it’s because you don’t like the gift, or you don’t feel like you need it right now.

But, it could also be….because you don’t like the person who gave it.

You probably know the person and still be ungrateful for the gift unless you really like the fact that he is the giver. Even if the gift is not something you like and need right in the moment, I think you will still be grateful and happy for the gift if you like the giver.

Think about your crush, giving you 1 pound of garlic on a sunny afternoon…

Sorry.

So, if I’m not grateful for a life in which I insist that I didn’t ask to be born, then, I think the main reason (probably) is that I don’t like the parents who gave birth to me and raised me–and more than that, I don’t like the real Life-Giver.

And, if this is the case, is that a sin?

Categories
Life

Ditemukan

Kupikir salah satu efek yang sangat nyata dari ‘keterhilangan manusia’ karena dosa adalah dorongan yang kuat–sekalipun jarang disadari–untuk ditemukan. Tentu saja, harus ada yang mencari. Terlebih lagi, pada hakikatnya, manusia tidak menyadari bahwa dia perlu dicari dan ditemukan.

Aku perlu ditemukan.

Kusebut Dia Tuhan. Namanya Yesus Kristus. Nama yang belakangan ini seringkali dijadikan bahan bercandaan oleh segelintir orang. Nama yang sering disandingkan dengan kata-kata lain untuk mengumpat. Nama yang dapat menimbulkan rasa jijik tak tertahankan bagi sebagian orang. Sosok yang, bahkan, kayu tempat mati-Nya saja bisa menggegerkan 1 negara. *jengjeng!

Kupikir cukup bagiku untuk berhenti pada 1 momen di masa lalu ketika aku sangat yakin bahwa aku sudah ditemukan oleh Tuhanku. Kupikir, mengandalkan nostalgia itu cukup untuk membekali perjalanan hidupku setelahnya. Ternyata aku salah.

Untuk sesaat rasanya tidak ada lagi hal yang dapat menggoyahkanku, jika kualami lagi perasaan-perasaan yang intimidatif yang menggempurku dengan pertanyaan-pertanyaan, “kamu siapa?”, “memangnya apa gunamu di dunia ini?”. Termasuk jika pertanyaan seperti ini muncul, “apa sih istimewanya kamu?”. Pertanyaan-pertanyaan yang mengakar dari ketidakyakinan seseorang bahwa ia sebenarnya tidak lagi terhilang.

Seringkali aku mencari acknowledgment dari segala sesuatu yang tidak akan pernah melakukannya dengan sempurna. Aku mencarinya dari sahabat-sahabatku. Aku mencarinya dari keluargaku. Aku mencarinya dari pekerjaanku. Aku mencarinya dari pencapaianku. Aku mencarinya dari diriku.

Acknowledgment atau secara singkat berarti penerimaan/pengakuan atas keberadaan sesuatu/kebenaran suatu hal merupakan kebutuhan mendasar manusia. Seperti kukatakan tadi, rasanya ini adalah dampak keterhilangan manusia. Tapi ternyata, sekalipun ia sudah ditemukan, ia tetap membutuhkan hal itu setiap hari. Ia, sederhananya, perlu terus mengingat dan mengatakan kepada dirinya, “hei, tenang, Tuhan sudah mencari dan menemukanmu.”

“Tenang, Dia mencarimu bukan hanya karena Ia menerima dan mengakui keberadaanmu pada saat ini saja. Dia mengasihimu dan menginginkanmu hidup kekal.”

Biar kuceritakan sedikit beberapa kesedihan yang muncul jika aku lupa akan hal itu.

Pernah beberapa kali aku tertegun pada absennya orang-orang yang kuanggap begitu mengasihi dan memerhatikanku. Kulalui hari-hari itu dengan merasa sendirian. Kusalahkan orang-orang tersebut. Kutimpakan seluruh tuduhan kepada mereka yang hanya datang jika memerlukanku. “Mereka pikir aku call center?”, begitu kataku.

Jika tidak ada yang mengapresiasi apa yang sudah kulakukan, tidak ada yang memerhatikan bahwa aku sudah sangat berjuang untuk sesuatu, aku menjadi lemah. Terlebih jika mereka yang, mungkin karena sudah terlalu mengenalku, akhirnya menganggap biasa saja setiap usahaku terhadap mereka. Padahal, aku telah menghabiskan malam-malam bercucuran air mata dan hari-hari berpeluh untuk mereka.

Bagiku itu belum yang paling menyedihkan. Justru titik terlemahku adalah ketika aku memutuskan berhenti melakukan semua upaya kasih itu kepada beberapa orang.

Sebenarnya ini pernah terjadi ketika aku masih duduk di bangku kuliah. Keyakinanku untuk terus setia dalam menunjukkan kasih dan pelayanan yang terbaik ternyata tidak selalu berakhir dengan pengakuan dan perlakuan yang sama dari orang lain. Namun saat itu, aku ingat bahwa aku bisa berkata, “tidak masalah, lakukan semuanya karena Tuhan sudah sangat mengasihimu.” Sepertinya itu bukan mantra penenang sementara, melainkan sebuah keyakinan iman pada kebenaran firman.

Buktinya, saat itu tidak banyak yang tahu bahwa aku berbeban berat. Beberapa orang bahkan bingung setelah waktu berlalu, ternyata banyak sekali yang sedang kupikul. Setidaknya, cukup banyak untuk ukuran anak kuliah yang hidup sendiri, jauh dari keluarga, dan mengandalkan beasiswa demi beasiswa untuk uang saku, uang gaul, dan tentunya, uang untuk ‘mengasihi dan melayani orang lain’-nya.

Memang, aku juga tidak seterbuka itu, pada dasarnya. Aku bahkan tidak ingat apakah ada 1 orang saja yang tahu dengan detail semua yang sedang kualami.

Tapi tentu saja, selalu ada Tuhan. Mungkin beberapa orang masih meragukan apakah, misalnya, kesehatan mental dan jiwa bisa betul-betul terpelihara jika dan hanya jika mengandalkan Tuhan dan relasi dengan-Nya. Beberapa orang bahkan merasa harus melengkapi relasi itu dengan tips-tips psikologi yang baik. Yang kutahu, saat itu tidak ada lagi yang bisa kuandalkan, termasuk diriku sendiri. Aku menyerah, semenyerah-menyerahnya kepada Tuhan.

Aku tidak meragukan itu, dulu, dan kuharap juga sekarang. Terlalu radikalkah? Entahlah. Yang jelas, aku mengalami sendiri ketenangan dan damai sejahtera yang melampaui segala akal yang Ia berikan bahkan di tengah pergumulan.

Kurasa kelekatan sang ranting pada pokoknya adalah analogi yang sangat baik untuk menggambarkan betapa mendasarnya relasiku dengan Yesus. Bukan hanya menggambarkan kesatuanku dengan-Nya yang sudah mencari dan menemukanku, namun juga menggambarkan bahwa setiap hari, hidup dan pertumbuhanku, kesehatan jiwaku, bersumber dari-Nya. Aku tidak boleh hanya bernostalgia bahwa aku sudah tidak lagi terhilang. That’s not a memory or merely a history alone.

Sekarang, aku sedang terus mencerna apa yang sedang terjadi sampai di usiaku yang ke-27 ini. Satu-satunya output yang tidak kuinginkan dari proses ini adalah sibuk menyalahkan keadaan dan orang lain. This is so yesterday. Tentu ini bukan berarti menutup mata terhadap hal-hal yang perlu diperingatkan dan ditegur. Hanya saja, ada perbedaan besar antara menginginkan evaluasi yang sehat dan simply marah/sinis saja. Untuk yang terakhir ini, aku berdoa jauhlah kiranya daripadaku.

Sehingga, sekalipun aku mengalami lagi hal-hal yang berpotensi membuatku berpikir ulang tentang acknowledgment dari orang-orang di sekitarku, aku tahu jawabannya.

“Tidak masalah, kok. Ketidaksempurnaan orang-orang untuk sesederhana melihat, mengakui, dan menunjukkan perhatiannya kepadamu seharusnya memperjelas bahwa benarlah adanya, ada Tuhan yang sudah menemukanmu. Hanya Dia yang sanggup berbicara pada jiwamu, bahwa kamu dan keberadaanmu diketahui dan dikenal-Nya.”

Tuhan juga melihat setiap kesetiaan dan perjuangan kasihmu–even those whom you have done unnoticed. Dia memerhatikan dan menyukai itu. :’)

Akhirnya, instead of being a cynical human being, I learn to love anyway. Inilah yang menguatkanku untuk terus belajar menunjukkan kepada orang lain, semengecewakan apa pun mereka menurut preferensiku, kehadiranku bukanlah for the sake of being a friend only to them. Aku di sini adalah seorang sahabat yang hadir untuk menunjuk kepada Sang Sahabat Sejati, Tuhan Yesus. Satu-satunya Sahabat yang memberikan definisi dan bukti ‘acknowledgment’ terbaik bagi mereka.

Karena kita, manusia, akan saling mengecewakan satu sama lain, pada saatnya masing-masing. Akan ada masa di mana kita, tidak peduli dengan keberadaan masing-masing.

Kita, akan saling melupakan, mungkin.

Categories
Life

To Those I Don’t Deserve

My heart can’t handle its joy whenever I remember those days as they’re vividly shining to brighten my days–whenever I remember us. I don’t know how meaningful is our meeting to each of you, but to me it’s one of the heart-warming encounters to ever happened in my life.

I’m pretty sure as we’re growing older now, haha, and as time goes by, habits change, priorities vary, it’s hard now to even identify if we’re still that close to each other or not. Yes, some change is inevitable. Maybe it has to happen to mold us through its unique ways. But I believe that our path crossed for our good. And I know it’s true.

I still cherish what kind of friendship we had back then, everything at its finest and truest form. In fact, I’m grateful that we happen with every ‘story’ 🙂 that follows.

Thank you for being there, and here as the first ones to greet me at my 27th birthday. It is special and unforgettable. May God really shower us with His abundant grace and love whatever challenges we face right now. I believe He will.

Categories
Life

Kasih yang Begitu Menakjubkan

Oleh: Elisabeth Yosephine Maria Tambunan, SH. (FH UI 2011) Asisten Staf Mahasiswa Sebagai seseorang yang bertobat melalui pemberitaan Injil di persekutuan mahasiswa Kristen, satu ayat yang selalu saya ingat adalah Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan […]

Source: Kasih yang Begitu Menakjubkan

Categories
Life

Dear Guy: “My friends and I bond by complaining, but it’s getting me down” — ideas.ted.com

Welcome to “Dear Guy,” TED’s advice column from psychologist Guy Winch. Every month, he answers readers’ questions about life, love and what matters most. Please send them to dearguy@ted.com; to read his previous columns, go here. Dear Guy: By starting to examine my own life in the context of the thoughts that rise and fall…

via Dear Guy: “My friends and I bond by complaining, but it’s getting me down” — ideas.ted.com

Aku makin yakin bahwa Tuhan itu tahu setiap kegelisahan yang kualami. Bukan hanya tahu, Dia juga mau menolongku memahami dan menghadapi kegelisahan tersebut. Dia pun bisa menolongku dengan banyak cara, contohnya melalui artikel yang kutemukan di dashboard blog ini.

Belakangan ini aku sering berada pada suatu emosi yang jujur sulit untuk kuidentifikasi. Dibilang kesal, nggak juga. Dibilang marah, nggak juga. Dibilang stress, hmm, nggak juga. Intinya, emosi itu bukan emosi yang menyenangkan. Ketika kupikir-pikir apa yang menjadi pemicunya, aku sampai ke suatu kesimpulan: aku tidak tahan mendengar orang-orang yang suka complain–to be precise, yang kerjaannya hanya complain, complain, dan complain. 

Setiap aku membuka Twitter, emosi itu muncul. Setiap aku berbicara dengan sekelompok orang dan orang-orang tertentu, emosi yang sama juga muncul. Sebab kesamaan yang dimiliki Twitter dan sekelompok orang ini adalah: sebagian besar isinya hanyalah complain.

Sebelum membaca tulisan di atas, aku memang sempat berpikir, “lha, nggak mungkinlah hidup nggak ada complain-nya? Justru beberapa hal harus memang harus di-complain, bukan?”

Aku terus berpikir apa batasan sampai kemudian complain menjadi tidak sehat bagi seseorang dan bahkan membuat orang sepertiku tidak nyaman. Apakah aku tidak nyaman karena hidupku absen dari complain? Tidak juga. I complain too. Tapi ternyata penting untuk belajar how to complain and how to respond to complain, plus, when to stop. 

Aku senang, ternyata kegelisahanku bukan suatu keanehan, melainkan dapat dijelaskan secara ilmiah. Salah satu takeaway dari tulisan ini adalah: hidup yang melulu berisi keluhan ternyata bisa menjadi pertanda bahwa seseorang sedang mengalami depresi dan/atau gangguan kecemasan.

Kalian juga perlu membaca artikel ini supaya diri dan lingkungan kita jadi lebih sehat dan less-depressing. Please!

Categories
KDrama Life

Dear, Ik-Jun:

1

Do you think it’ll work the way you’ve planned?

Don’t you think it’s too late?

Where was that courage you’ve probably needed the most?

Song-Hwa must’ve been tired all this time and I don’t think she will ever come back to you–again.

But, I’m glad that, you, at least, try.