Thank God It’s Monday

Thanking God in this Monday for speaking to my heart.

Firstly from the live-experience this morning when I wanted to buy my breakfast. I was tempted to use online application just because it offered me discount. The problem is, if I was about to buy breakfast online because I ran out of cash money, I could only think about junk-food, like the Big Mac one or the Big Breakfast. Uh-huh, I knew it, I knew it. And, it surely would be more expensive than buying some at Warteg nearby.

I only had 12.000 rupiahs in my pocket. What could I buy with this money?

But I remembered the coins! LOL I have so many coins in my other little pocket for coins and I can even buy Big Mac with those coins but no. So I decided not to buy any junk-food or firstly not using that online application that will exceed my ‘instant’ habit and not testing my patience. I started to take some coins I might need and went out finding breakfast. Turned out, that breakfast worth only 12.000 rupiahs. -_-

God provides indeed. I even still have my coins. Hahahaha.

And the second is from today’s devotional from Jeremiah 9:23-26. From these verses I know that God to whom my praise and devotion go, the God I serve in Jesus name, is the God who indeed exercises kindness, justice, and righteousness. For in these He delights. So if I have any doubt of Him just because I look at my situation that maybe doesn’t look like there is no kindness, justice, or righteousness, that’s not His fault. That’s my limit or my ignorance of not knowing who He says He is.

Therefore, saying that I serve the Lord as such should make me also inherit the attitude of His heart towards what He delights. I must be a servant who delights in goodness, justice and truth. I must hate crime, injustice, and lies. If I am numb about these things, there is something wrong with my understanding of what God has revealed in His word.

Through this contemplation, I am also more convinced of who I am before God. I’m not someone who should boast in my wisdom, in my intelligence, especially in my wealth, because to be honest I’m not rich, friends. Those are not the first ones God delights in, compared to the understanding of Himself. No matter how wise and smart someone is, if she/he doesn’t live a life that pursues God & the understanding of Him in His word, it’s a ‘no’.

This is what makes me love serving students. So that they are not only wise and clever in sciences, but more importantly, they know God, the true and living God, in Jesus name, and that inspires how they use their wisdom and intelligence in this life.

Advertisements

Menyerah

Ketika mengingat bahwa aku akan menyampaikan perenungan firman di weekend doa panitia Retret Koordinator XVIII besok, aku takut. Aku berusaha mengelak. Aku tidak berani mengambil tugas yang begitu penting di tengah kondisiku yang sedang tidak baik ini. Apa yang harus kubagikan? Keyakinan akan bagian firman mana yang harus aku sampaikan? Masalahnya, aku sedang ragu. Aku sedang tidak punya kepercayaan yang kuat bahwa Tuhan sanggup menyelesaikan ini bagiku. Aku sedang bertanya-tanya, apakah ini semua sesuai dengan kehendak Tuhan? Aku bertanya-tanya, Tuhan ada di mana di dalam persiapan retret ini? Kenapa aku sering merasa sendirian dalam mengerjakannya? Kenapa aku sering tertekan di dalam jiwaku setiap kali aku memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan retret ini?

Aku tidak tahu dengan panitia yang lain, tapi ini yang sedang kurasakan. Aku tidak malu mengakuinya. Aku betul-betul sedang berada dalam fase aneh yang jarang sekali terjadi padaku. Aku sampai lupa kapan terakhir kali seperti ini. Beberapa malam belakangan ini kulalui dengan berurai air mata, setiap kali aku mengingat betapa besar tanggung jawab yang kupikul di dalam retret ini. Air mata kian mengalir setiap kali aku menyadari ada begitu banyak ekspektasi yang tidak sesuai dengan realitas. Aku kecewa terhadap beberapa kondisi dan di saat bersamaan aku mengecewakan beberapa orang, mungkin. Aku menangis tiap kali menghadapi pergantian hari karena itu berarti semakin dekatlah hari penyelenggaraan retret ini.

Dalam kondisi yang seperti ini, sulit sekali untukku datang kepada Tuhan di dalam doa yang jujur. Jujur mengakui bahwa si hamba ini telah menjadi begitu lemah dan ragu saat ini. Di kepalanya muncul berjuta tudingan iblis yang berbisik, “berani-beraninya kamu membuat retret dengan tema “Berjumpa dengan Kristus, Memimpin bagi Kristus”? “Kau pikir itu adalah sesuatu yang bisa kau pastikan?” “Kau tahu, kan, perjumpaan itu kedaulatan Allah?”

Sekilas pertanyaan-pertanyaan itu tidak begitu bertentangan dengan firman Tuhan, kecuali 1 kata ulang pertama. “Berani-beraninya”. Kata inilah yang telah mematahkan semangatku berulang-ulang tiap kali aku mengingat apa yang menjadi tema retret ini. Kata inilah yang dimanipulasi iblis menjadi pengguncang imanku.

“Berani-beraninya.”

Di tengah keraguan dan ketakutan yang ada, aku bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apakah Engkau menerima keberadaanku saat ini, yang sedang terus bertanya-tanya kepada-Mu? Tuhan apakah Engkau akan memaklumi kondisiku & membawaku keluar dari sini? Tuhan, adakah seorang hamba tidak boleh mengalami kebingungan-kebingungan akan pelayanannya?”

Aku melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu sambil terus membuka Alkitabku, sekilas membaca judul-judul perikop yang tertangkap mataku.

Sampai kemudian aku tiba pada Mazmur 131. Hanya 3 ayat, namun 3 ayat yang menyimpulkan apa yang kuperlukan saat ini.

Menyerah kepada TUHAN, itulah judul perikop ini. Itulah aku, itulah yang sebenarnya dilontarkan hatiku yang terdalam. Itulah yang sebenarnya menjadi ucapan batinku di balik semua ragu & tanya yang tersampaikan mulutku. Aku menyerah kepada-Mu, Tuhan. 

Mazmur 131

Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Bagian pembuka Mazmur ini menggambarkan kerendahan hati layaknya seorang yang beriman: hati & matanya tidak ia angkat sebagaimana ekspresi dari kesombongan dan kebanggaan diri. Dia juga tidak menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang terlalu besar dan ajaib baginya–dalam arti–segala hal di luar kesanggupan pemahaman manusia. Seperti apa yang dimaksudkan di dalam ayat ini:

Ulangan 29:29 

Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.

Hal-hal besar dan ajaib bagi Pemazmur bukan tentang apa yang bisa dilihat mata, bukan hal yang masih berada dalam jangkauannya sebagai manusia, melainkan sebaliknya, apa yang tidak lagi menjadi bagiannya. Aku teringat dengan lagu ini: I stand in awe of You.

You are beautiful beyond description. Tuhan, Engkau indah, melampaui segala deskripsi.
Too marvelous for words. Terlalu menakjubkan untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Too wonderful for comprehension. Terlalu hebat untuk dipahami.
Like nothing ever seen or heard. Bagaikan sesuatu yang tidak pernah dilihat atau didengar.
Who can grasp you infinite wisdom? Siapa yang bisa memahami hikmat-Mu yang tak terbatas?
Who can fathom the depth of your love? Siapa yang bisa mengukur kedalaman cinta-Mu?
You are beautiful beyond description. Engkau indah, melampaui segala deskripsi.
Majesty enthroned above. Keagungan yang dinobatkan di surga.

And I stand, I stand in awe of you. Dan aku berdiri, berdiri dalam kekaguman akan Engkau.
I stand, I stand in awe of you. Aku berdiri, berdiri dalam kekaguman akan-Mu.
Holy God to whom all praise is due. Allah yang Kudus, yang kepada-Nya seluruh pujian disampaikan. 
I stand in awe of you. Aku berdiri dalam kekaguman akan Engkau. 


Aku mengizinkan iblis menakut-nakutiku dengan tudingan “berani-beraninya kamu membuat retret dengan tema “Berjumpa dengan Kristus, Memimpin bagi Kristus”? “Kau pikir itu adalah sesuatu yang bisa kau pastikan?” “Kau tahu, kan, perjumpaan itu kedaulatan Allah?”

Sekali lagi kutekankan, kata “berani-beraninya”. Kata-kata ini seolah membuatku memikirkan ulang apa yang sudah kudoakan dan kupersiapkan dalam retret ini. Dalam beberapa malam ketika tudingan ini terlintas, aku mengakui bahwa aku menjawabnya dengan “aku tidak berani, aku takut.” Padahal, yang pertama-tama adalah, itu sama sekali bukan tudingan yang tepat dalam konteks retret ini. Ini bukan tentang berani atau tidak berani, ternyata.

Perjumpaan dengan Kristus jelas bukan dalam kendaliku. Perjumpaan dengan Kristus jelas tidak pernah bergantung padaku, itu betul, sepenuhnya kedaulatan Allah. Ini adalah salah satu hal yang sudah jelas, seperti pemazmur katakan, hal yang terlalu besar dan terlalu ajaib bagiku, dan aku tidak sepatutnya menyibukkan diriku dengan itu.

Berani-beraninya? Ini bukan tentang berani/tidak. Ini tentang mengerti betul bahwa semuanya adalah kedaulatan Allah, dan kami sebagai panitia hanyalah mereka yang mempersiapkan ruang bagi perjumpaan itu. Berjumpa dengan Kristus dan Memimpin bagi Kristus adalah doa kami seraya kami mempersiapkan ruang-ruang perjumpaan.

Yesaya 55:6-7

Seperti kata Ulangan 29:29 tadi, apa yang dinyatakan ialah bagi kita… maka inilah salah satu yang Ia nyatakan: umat diminta mencari-Nya selama Ia berkenan ditemui, diminta berseru kepada-Nya selama Ia dekat…. sebab Ia memberi pengampunan dengan limpah-Nya.

Kami hanyalah orang-orang yang menyediakan akomodasi, transportasi, ruang-ruang ibadah, pelayan firman, pemimpin pujian, pemusik, dan pendoa di mana peserta dapat mencari Allah, di mana peserta dapat terus berseru kepada Allah. Kami hanyalah orang-orang yang menyiapkan tempat tidur terbaik serta makanan dan minuman yang bergizi agar mereka bisa beristirahat dengan baik dan bisa mencari Allah dengan segenap kekuatannya.

Kami hanyalah orang-orang yang mencari dana agar semua ini dapat disediakan.


Aku tidak perlu takut lagi. Ini bukan tentang berani-beraninya, atau tidak berani-tidak beraninya. Ini adalah soal mengerti betul apa yang Allah nyatakan dalam firman-Nya dan mengimani hal tersebut. Karena yang kutahu, terlalu tidak terbatas hikmat-Nya dan terlalu dalam kasih-Nya. Ketakterbatasan dan kedalaman itu pun melampaui apa yang bisa kuukur dan kubayangkan. Di luar deskripsi apa pun tentang berhikmat dan kasih. “Berjumpa dengan Kristus, Memimpin bagi Kristus” adalah doa yang kami sampaikan sebagai anak-anak Allah kepada Bapa kami di surga. Kami tahu relasi inilah yang membuat kami dapat menaikkan doa dan kerinduan hati kami kepada-Nya.

Kami anak-anak-Nya, Dia adalah Bapa kami.


“Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.”

Pemazmur telah menenangkan dan mendiamkan dirinya seperti seorang bayi yang begitu tenang dalam pelukan ibunya, hanya dengan adanya kehadiran sang ibu di dekatnya. Seperti itulah sepatutnya orang yang benar dan yang beriman kepada Allah di mana ia dapat tenang dalam hadirat Allah, bahkan sekalipun ia memiliki banyak hal yang ia harapkan dapat dijelaskan Tuhan kepada-Nya.

Ketenangan dan keyakinan seperti itulah yang membuat pemazmur dapat mengatakan ayat ke-3 ini: Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya! Ia meletakkan pengharapannya pada seorang Pribadi, Pribadi yang tepat, bukan pada hal-hal yang ia sibukkan. Bukan pada hal yang bukan Allah.

Tentu, inilah yang juga kini menjadi keyakinanku dalam mempersiapkan retret ini. Aku tidak akan lagi menyibukkan diriku dengan perkara-perkara yang tersembunyi yang merupakan milik Allah. Aku akan berdiam dengan tenang di dalam hadirat-Nya dan berharap penuh kepada Allah, Pribadi yang setia, Pribadi yang tidak berubah. Pribadi yang tetap mencari anak-anak-Nya yang hilang, Gembala yang tetap mencari domba-dombanya yang hilang, yang mungkin saja ada di daftar peserta retret ini.

Aku berharap kepada-Mu, Tuhan!

Aku menyerah, untuk berserah, pasrah sempurna kepada Allah.

Soli Deo Gloria.

 

 

AUSSIE 2018

I wanted to post this picture to my Instagram feed, thought it was really beautiful and yeah quite fancy but I didn’t. Because I want to keep this ‘excitement’ just for me and that means, I am the one & only human being who knows what’s behind these pictures (and many more pictures in my gallery).

First of all, this is not a holiday for me. I was attending a training for student ministry in Australia located in Canberra, specifically in Exhibition Park in Canberra, or EPIC. And yes that’s superbly epic to be one of more than 2000 participants in this training. Second, I think some people think this was for free and I just need to get my bags off and, voila! This is Australia. No, it wasn’t. Me & my friends do fundraising and use our own (little) money because we’re not going to Bogor. Third, it’s not full exciting experiences I had there actually, to be honest, some are sad and on some nights my heart screamed “I want to go homeeee!” I still remember those days in Clovelly. Oh and that screaming happened in Randwick Avenue Apartment by the way.

But, I still want to thank God for this opportunity. You know guys, there was a lot of things happened that made me feel like it’s not going to happen. Even right before our departure, I left my phone in online car transportation, overweighed baggage, late check-in, but He made it through. I also thank God for speaking to me in every kind of situation there. I went with questions and thankfully go back with answers. I have faith that this training will help me much here in Indonesia.

Sincerely,

Missing Macquarie and Epping so much.

16.43 WIB

My life is being surrounded by influencers. Entah itu di dunia maya atau pun tidak. Mereka adalah orang-orang yang aktif di bidangnya masing-masing dengan kesukaannya masing-masing. Mereka membuat instagram story tentang kegiatan yang mereka ikuti atau tentang pendapat mereka atas sebuah isu (atau beragam isu). Mereka mengunggah foto-foto likeable di feed instagram mereka–foto-foto yang sangat inspiratif, menggugah keinginan untuk membaca caption mereka yang panjang-panjang dan kemudian meletakkan komentar: “panutanqu”, atau “junjunganqu”, atau “inspirasiqu” di unggahan tersebut. Sorry, not being sarcastic, I try.

Sementara aku? Jika kulihat-lihat lagi feed instagram-ku, kebanyakan isinya adalah foto diriku sendiri dengan caption yang mengundang emosi: karena tidak lucu. Belakangan ini aku memang jarang berminat nge-post sesuatu yang serius-serius dengan caption panjang-panjang andalanku, atau menunjukkan isi kegiatanku (yang kebanyakan adalah pelayanan ke sekolah/kampus di sekitaran Jakarta), atau opiniku terhadap isu-isu yang sedang banyak di bangsa ini. Jujur saja, aku tidak tertarik lagi melakukannya. Aku juga bingung apa alasannya.

Berulangkali aku ingin seperti teman-teman yang aktif tersebut, misalnya dengan menceritakan apa yang sedang kukerjakan di sepanjang hari, merekam jejak-jejak pelayananku setiap hari, mengunggah foto-foto inspiratif berjudul pendapatku terhadap situasi terkini bangsa, dan sebagainya, namun kuurungkan juga niat itu. Entahlah, aku sedikit bermasalah dengan motivasiku belakangan ini. Setelah kutelaah lagi isi hatiku, tidak kutemukan ketulusan di beberapa motivasi tersebut. Tidak jarang bahkan, aku hanya ingin memeroleh ‘perhatian’ lewat respons orang-orang; baik melalui like maupun komentar mereka. Bahkan, pernah juga aku ingin melakukannya agar followers-ku bertambah. Ya, ini adalah salah satu kelemahanku. Sejak kecil aku sering berada di mana ‘spot-light’ berada sehingga aku mudah tergiur untuk melakukan hal-hal yang mengundang perhatian seperti itu.

But please don’t mess my sharing with any comment like “tapi kan sebagai seorang Kristen kamu memang harus ‘terlihat’?” Karena ini bukan tentang itu, namun tentang motivasi. Ini mirip dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus ketika Ia berkhotbah di bukit tentang ‘tidak melakukan kewajiban-kewajiban agama (seperti bersedekah dan berdoa) dengan tujuan untuk dilihat orang’. So, to me, if I do something, it has to be such work that I do with enthusiasm, as to the Lord and not for people. Masalahnya bukan terletak pada ‘aku tidak mau dilihat orang’ namun terletak di ‘kenapa aku mau dilihat orang’, dan yang terakhir ini benar-benar menggangguku.

Not saying it’s everyone’s problem, maybe it’s just me, but I’d rather stop than continuing in such manner. To be honest, I’m done thinking myself to influence people, that’s not the case. My being is already influential, because I’m saved and I’m the salt and the light of the world. It’s not what I do that makes me influential, it’s why & how I do it. Itu yang membedakan semua buah yang akan dihasilkan dan kepada siapa hormat & kemuliaan itu dihaturkan. God knows, surely knows, buddies.

Ini sangat membebaskanku. Aku tidak lagi tertekan terhadap tuntutan-tuntutan generasi atau zaman di dunia tanpa batas ini, aku dianugerahkan hikmat dan Roh Kudus yang terus-menerus sanggup memurnikanku dari segala motivasi buruk dan menuntunku kepada apa yang harus kulakukan di dalam hidup ini, serta tentunya bagaimana aku melakukannya.

Kalau aku hidup, aku hidup untuk memberi buah dan itu tidak bergantung pada platform mana yang kugunakan (sekalipun setiap platform dapat berkontribusi sesuai levelnya masing-masing).

I don’t want to just influence, I want to give, to truly give my life to other people. I don’t want to just influence, I want to sow even if none truly cares, none considered it’s influential.

Not Bewilderment

I don’t know how it feels to be crucified on a cross. Yet I know that it was the worst form of executing and I feel terribly sad. My Lord was accused of being a criminal by the real criminals. I can’t hold my tears. But, the torment of Him, though being anticipated by him at the garden Gethsemane, which was the way He had to go through, fulfilling His purpose on coming down to this earth, really inconceivable.

What then happened? The curtain between the Holy Place and the Most Holy place was torn in two. At the same time, earthquake. God’s wrath and His love for the world He created was shown. He offers forgiveness to the world by forsaking his only Son on that gloomy Friday.

Did my Lord die just to make me cry this time?

Did my Lord die just to make me realise no other love like that?

No.

My Lord died for me to come into the fellowship with God the Father, to embrace the plan He has for me eternally.

Hari-hari Kelabu

Apa yang selama ini kuantisipasi akhirnya terjadi. Sayangnya, aku tidak berhasil menghadapinya dengan bijak. Kupikir perasaanku bahwa keputusan ini adalah tepat cukup untuk menjadi modal dalam menghadapi apa yang terjadi kemarin. Kupikir imanku bahwa ini adalah jalan yang harus kutempuh membebaskanku dari situasi sulit yang menghadang di sepanjang perjalanan ini.

Aku salah besar.

Lelah juga aku melewati malam-malam yang mendung dan harus kuisi dengan tangisan. Sebagai seseorang yang memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bagi orang lain, aku tidak bisa memungkiri bahwa sisa-sisa waktu yang seharusnya dapat kupakai untuk ‘merawat’ diri ini harus kulewati dengan sedih.

Cukup menyakitkan.

Aku bertanya-tanya, kenapa ini harus terjadi? Bukankah mama sudah setuju? Bukankah mama sudah sepakat akan mendukungku di sini? Kenapa perdebatan ini harus terjadi lagi? Aku lelah menghadapinya karena itu berarti menghadapi kekecewaannya–perempuan yang paling kukasihi.

Seumur hidup, sebelum akhir-akhir ini, memang hampir tidak pernah kami berselisih paham terhadap berbagai keputusan yang kuambil. Mama selalu mengenalku sebagai anaknya yang paling dapat dipercaya dan diandalkan. Bagaimana tidak? Pencapaian dan prestasi-prestasiku di masa lampau yang kuperoleh dengan mandiri bahkan tanpa harus diawasi orang tua telah membuatnya begitu berharap akan masa depanku.

“Harusnya kan kau bisa masuk sana”

“Kalau waktu itu kau gagal aku yakin itu bukan karena kau bodoh tapi karena kau memang nggak mau masuk ke sana, kan?”

“Kau nggak ingat dulu kita bahagia sekali waktu lihat pengumuman masuk kuliah?”

“Apa sih yang ada di pikiranmu sampai kau nggak mau bekerja di dunia hukum?”

“Mama nggak habis pikir.”

😥

Bahkan untuk mengetik kalimat-kalimat di atas sudah membuat hatiku sangat sesak. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan mama. Dia sangat pantas untuk melontarkannya. Yang membuatku juga sesak untuk menjawab satu per satu pertanyaan itu adalah karena aku juga tidak dapat mendeskripsikan dengan jelas kenapa semuanya berubah. Satu hal yang kutahu, perubahan tersebut pun lumayan menyakiti diriku tatkala membayangkan apa-apa saja yang harus kutinggalkan untuk saat ini.

Yang juga membuatku sesak adalah pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku yang seolah menudingku sebagai orang yang tidak mau berpartisipasi di lahan yang sulit di bidang-bidang hukum, menudingku bahwa aku memang tidak mau berjuang lebih keras, karena aku memilih menyangkali kemampuan dan kekuatan Tuhan, menudingku seolah aku hanya memilih jalan yang lebih mudah.

Lebih mudah? Siapa bilang pilihan ini lebih mudah daripada berbakti di bidang hukum? Sama sekali tidak. Bahkan aku lebih banyak stress menghadapi tanggung jawabku di pilihan ini dibandingkan dulu ketika aku masih di kantor hukum.

Namun sesakit apa pun batin ini menghadapi hari-hari, satu hal yang selalu kurindu adalah bergerak seturut pimpinan-Nya. Ke mana pun dan kapan pun, aku hanya ingin menjalaninya dengan iman. Karena sejatinya, hidupku adalah karena kasih karunia. Di dalam tiap-tiap detiknya, aku tahu kemuliaan hanya bagi-Nya, baik aku di gedung nan megah di daerah elit ibukota, atau pun di sekolah dan kampus-kampus sederhana. Baik aku dipuji orang maupun dipertanyakan orang. Baik aku berlebih maupun pas-pasan. Yang kutahu Tuhan tetap pegang tanganku.

Hari-hari kelabu ini tidak akan pernah sanggup mengaburkanku dari keyakinan bahwa terlebih utama Dia yang memanggilku sebelum pilihan-pilihan itu. Akhir hidupku dalam apa pun pilihan tersebut, adalah kekekalan bersama-Nya.

#Rangkul25: Tanpa Penyesalan

Suatu kali seseorang datang dan bertanya kepada perempuan itu, “apa yang membuatmu begitu kuat seperti ini, setelah semua yang telah kau alami?” Perempuan itu pun menjawab,

Aku tidak pernah berpikir bahwa aku telah begitu kuat. Karena yang sehari-hari aku lakukan adalah berdiam diri dan merenungkan berbagai pertanyaan. Aku bertanya-tanya, “kenapa harus seperti ini? Ternyata aku sesalah itu, ya? Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa orang-orang harus mengorbankanku dengan menimpakan kesedihan ini kepadaku? Tidak bisakah dipilihnya saja orang lain?”

Sehari-hari aku banyak menangis, meratapi nasib, kata orang. Bahkan, kadang-kadang air mata itu mengalir begitu saja tanpa pernah aku rencanakan. Aku lagi belajar, air mataku menetes. Aku lagi makan, air mataku juga menetes. Aku bahkan merasa jangan-jangan ketika aku tidur pun ada air mata yang menetes. Aku dikuras habis pada waktu itu.

Aku jadi bingung, kenapa kau bilang aku sekuat ini? Kalau kau tau yang sebenarnya, kau akan berpikir ulang untuk mengatakan itu.

Yang kuingat adalah aku telah menjadi begitu lemah. Tidak ada lagi bagian dari diriku yang sanggup aku andalkan. Seluruh akalku dipatahkan, segenap perasaanku diputarbalikkan. Semua yang kupikir akan terjadi, tidak terjadi. Aku betul-betul cupu pada waktu itu. Untuk menghadapi matahari pagi saja aku ragu. Begitu juga dengan malam, hampir selalu dapat kupastikan, aku melewati malam dengan tertidur karena menangis.

Aku makin bingung, di bagian mana kau lihat aku kuat?

Namun, ada 1 hal yang kusaksikan. Pada waktu itu aku betul-betul berserah kepada Allah, Tritunggal Maha Berkarya, dalam setiap pertanyaan dan air mataku. Dalam pertanyaan-pertanyaanku, aku menyerah bahwa aku tidak punya jawabannya. Sedikit pun. Dalam tetes demi tetes air mata itu aku menyerah bahwa aku tidak bisa mengendalikan apa pun. Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku menyerah, semenyerah-menyerahnya. Tidak bersisa.

Di saat itulah, dalam keraguanku menatap pagi, aku mampu juga melewatinya. Bahkan masih dengan senyum, yang sederhana. Di saat itulah, dalam keenggananku mendapatkan malam, aku tetap tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk apa pun.

Aku tidak ingin bilang bahwa aku bahagia pada waktu itu. Aku bukan orang yang pintar berpura-pura dan bermulut manis. Tetapi jika kau minta aku memilih untuk harus mengalami itu ataukah tidak, aku tetap akan memilih “harus”. Kulihat, dengan cara itulah Allah meneruskan karya-Nya di dalamku hingga aku tiba di usia ke-25 ini.

Aku akan terus berserah di hadapan-Nya. Karena aku tau, buahnya manis dan dengan ini kuingatkan kau, buah itu tidak dapat direka-reka. Orang-orang pun dapat membedakan, mana yang sejati, mana yang dibuat-buat. Penyerahan diri ini tidak akan meninggalkan penyesalan.

#Rangkul25