#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Closing #5

Doing Justice in the Public Square

Penulis mengajak pembaca untuk terlebih dahulu melihat konteks public square di zaman modern di mana definisi keadilan sudah hampir rusak sama sekali. Pemahaman orang akan ‘kebebasan/kemerdekaan’ berbeda-beda. Makanya ada para ahli yang mengatakan bahwa ‘freedom is an empty concept’ seperti Klarman dan Peter Westen dari Harvard Law School. “We all agree that freedom should be curtailed if it harms people, but we can’t agree on what harm is, because we have different views of what healthy, flourishing human life looks like.” 

Ada 3 pandangan utama tentang keadilan menurut Sandel: maximizing welfare (greatest good to the greatest number of people), respecting freedom (menghargai pilihan hidup individu-individu) dan promoting virtue (adil adalah bertindak sesuai moralitas dan kebajikan). Kenapa sih ada macam-macam hambatan untuk mewujudkan keadilan? Karena ternyata di balik setiap pengertian tersebut terdapat asumsi-asumsi iman yang religius tetapi jarang diakui. Ini yang banyak diungkapkan oleh para profesor dan filsuf. Contohnya terkait martabat manusia. Tidak ada penemuan sains yang dapat membuktikan hal tersebut. Sehingga penegakan keadilan berdasarkan martabat manusia adalah kebodohan karena sebetulnya itu asumsi iman berdasarkan kepercayaan tertentu. “The rules of secular discourse led us to smuggle moral value judgments into our reasoning about justice without admitting it to others or even to ourselves. And so the deeper discussions over the true points of difference never happen.”

Sandel says, justice is always judgmental. Di balik setiap hal yang berkaitan dengan keadilan adalah asumsi-asumsi yang secara esensial religius dan dilarang untuk didiskusikan, serta karena itulah masyarakat tetap berada di deadlock terhadap isu-isu tersebut. We can’t agree on what justice is because we can’t talk about our underlying beliefs.

Kemudian penulis memberikan pembaca cara pandang yang tepat dalam menghadapi pelbagai perbedaan tentang asumsi-asumsi atas keadilan yang akan mereka temukan di ruang-ruang publik dan menjadi diskusi mendalam. Orang percaya harus melihat bahwa karena adanya kasih karunia umum dari Allah kepada tiap-tiap manusia ciptaan-Nya, maka mereka perlu rendah hati untuk mempertimbangkan beragam cara pandang terhadap keadilan. Cara-cara pandang tersebut sebagiannya benar. Namun perlu juga menantang dengan penuh hormat karena sebagiannya lagi salah di luar hikmat dari Injil.

Memang di dalam realitasnya, justice is inescapably judgmental. Setiap diskusi tentang keadilan menghilangkan referensi apapun ke moralitas dan kepercayaan agama sehingga kita tidak bisa berbicara tentang kenapa kita berpikir sesuatu itu benar dan adil. Ini berbahaya dalam jangka panjang bagi masyarakat. Liberal neutrality sebenarnya adalah suatu kemustahilan dalam mewujudkan keadilan. Sandel berkata, “justice is not only about the right way to distribute things. It is also about the right way to value things.”–dan untuk itulah akan selalu berdasarkan pada keyakinan-keyakinan akan tujuan hidup, natur manusia, benar dan salah—dan semuanya adalah moral dan religius.

Filsuf Yunani berkata kalau tidak tahu tujuan sesuatu, nggak akan bisa membuat judgment yang tepat apakah sesuatu itu baik atau buruk. Bagaimana caranya menentukan mana sikap/perilaku yang baik atau buruk dari manusia? Aristoteles dan pengikutnya menjawab: kalau kamu nggak tahu untuk apa manusia ada, maka kamu nggak akan bisa menjawab hal tersebut.

Penulis memberikan contoh tentang hak asasi manusia. Banyak yang mengatakan bahwa ide/concern terhadap hak asasi manusia muncul oleh pemikir-pemikir Enlightenment seperti Hobbes dan Locke. Padahal, menurut Brian Tierney dari Cornell University, kekristenanlah yang pertama kali memulai pemikiran tersebut; mengakar secara khusus dalam doktrin kristiani bahwa seluruh manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, dan karena itu memiliki martabat pada dirinya sendiri. 

Penulis menyebutkan pandangan Stephen Hawking, Stephen Pinker, dan John Gray, yang berkata bahwa tidak ada dasar yang netral dan ilmiah untuk menunjukkan bahwa manusia tanpa memandang apapun, memiliki nilai pada dirinya sendiri. Menurut mereka dan para filsuf ateis serta agnostik lain, konsep tentang hak asasi manusia menuntut adanya dimensi religius. Akan ada perbedaan besar terhadap bagaimana kita hidup di tengah-tengah dunia ini jika kita melihat manusia sebagai makhluk yang kehadirannya sekadar ‘accidental’  dibanding dengan karena dia merupakan ciptaan mulia dan pemberian dari Allah. 

Penulis menutup bagian ini dengan penegasan bahwa manusia harus mulai lagi berbicara tentang keyakinan moral serta kepercayaannya secara publik. Memang betul bahwa aturan-aturan sekuler tidak mengizinkan pembicaraan seperti itu terjadi karena ketakutan akan adanya pertentangan tanpa akhir. Padahal kita sesungguhnya sudah berada di pertentangan tanpa akhir tersebut dengan mempercayai bahwa kita bisa bersikap netral terhadap hal-hal moral dan religius.

“The pursuit of justice in society is never morally neutral but is always based on understandings of reality that are essentially religious in nature. Christians should not be strident and condemning in their language or attitude, but neither should they be silent about the biblical roots of their passion for justice.”

Peace, Beauty, and Justice

Penulis memulai bagian ini dengan menjelaskan bahwa pandangan Alkitab tentang keadilan adalah komprehensif dan praktikal, tinggi dan menakjubkan. Sebab keadilan berkaitan dengan apa yang Allah sedang lakukan di dalam sejarah. Dia membawa pembaca kembali ke tujuan Allah untuk memperdamaikan manusia dengan diri-Nya–dan dengan demikian memperdamaikan segala sesuatu dengan-Nya. Allah sedang membawa setiap hal di bumi dan di surga kepada Kristus (Kolose 1:20; Efesus 1:10). Karena itu dia mengawali dengan melihat The Artwork of God sejak penciptaan. Berbeda dengan kisah penciptaan berdasarkan mitos-mitos yang ada yang mengatakan bahwa alam semesta ini merupakan hasil dari konflik dan perebutan kekuasaan, Alkitab menunjukkan kisah penciptaan sebagai karya Allah tanpa satu pun pesaing. God is a craftsman, an artist. 

Penulis menggambarkan alam semesta ciptaan Allah dengan 2 gambaran: rumah/kediaman dan pakaian. Kedua gambaran ini merujuk pada apa yang Alkitab nyatakan ketika Allah menyebut alam ciptaan-Nya. Sebuah rumah karena ada fondasi/dasar dan dibangun bukan hanya sebagai tempat tinggal manusia melainkan juga kediaman Allah (Yesaya 66:1). Di dalam kitab Mazmur dikatakan bahwa ketika Allah menciptakan dunia ini, harus ada dasarnya, sama seperti rumah. Dasar tersebut ialah kebenaran dan keadilan. Melalui gambaran ini, dia menjelaskan bahwa karya penciptaan menunjukkan Allah yang menyusun hal-hal yang tadinya tidak beraturan, sama seperti ketika seseorang ingin membangun sebuah rumah dengan menempatkan segala alat dan bahan yang diperlukan agar tersusun dengan rapi dan kokoh. 

Demikian juga dengan pakaian sebagai gambaran kedua dari penulis. Alkitab sering menyebutkan bahwa laut, awan-awan, langit yang terang, dan segala kekuatan alam sebagai pakaian yang ditenun dan sekarang dikenakan oleh Allah. Penulis juga menyoroti tentang pentingnya relasi/kebergantungan melalui penggambaran ini. Sama seperti pakaian yang tercipta karena benang-benang dan seluruh material yang terjalin dengan rapi, demikian juga seluruh ciptaan. Jalinan inilah yang disebut Alkitab dengan shalom atau harmonous peace. 

Kata ‘shalom’ biasanya hanya diartikan sebagai ‘peace’ atau ‘damai sejahtera’. Tetapi makna sesungguhnya lebih daripada itu. “It means complete reconciliation, a state of the fullest flourishing in every dimension–physical, emotional, social, and spiritual–because all relationships are right, perfect, and filled with joy. 

Namun dunia telah kehilangan shalom karena relasi yang rusak dengan Allah. Dengan demikian semakin jelaslah definisi ‘justice’menurut Alkitab. Secara umum, melakukan keadilan adalah hidup dengan cara yang akan memperkuat komunitas di mana manusia akan terus berkembang. Secara khusus, melakukan keadilan berarti pergi ke tempat-tempat di mana jalinan damai sejahtera tersebut telah rusak, ke tempat di mana orang-orang yang paling lemah di masyarakat berada, dan berusaha memperbaikinya. Penulis berkata bahwa hal ini dapat terjadi jika kita fokus dan memenuhi kebutuhan orang-orang miskin. Bagaimana caranya? Ini yang saya juga tidak sanggup untuk terjemahkan. 

“The only way to reweave and strengthen the fabric is by weaving yourself into it. Reweaving shalom means to sacrificially thread, lace, and press your time, goods, power, and resources into the lives and needs of others. The strong must disadvantage themselves for the weak, the majority for the minority, or the community frays and the fabric breaks.”

Selanjutnya, penulis menjelaskan tentang Justice and Beauty dengan melihat pendapat dari 2 tokoh: Elaine Scarry dan Jonathan Edwards. Scarry berkata di dalam tulisannya ‘On Beauty and on Being Just’ bahwa keindahan dapat membawa manusia pada hidup yang lebih adil. Dia berargumen ada 2 hal yang terjadi jika seseorang melihat sesuatu yang indah yakni 1) tergerak untuk membagikan hal tersebut kepada orang lain dan 2) berhenti fokus terhadap dirinya dan mulai mengalihkan perhatian dari dirinya kepada hal lain. Scarry sendiri mendasarkan argumen kedua tersebut pada pendapat Iris Murdoch yang berkata bahwa ada seseorang yang tadinya diliputi oleh anxiety dan self-pity, namun emosinya berubah ketika dia melihat ke luar jendela dan menemukan burung-burung berterbangan dengan indah. 

Jonathan Edwards di dalam bukunya, ‘The Nature of True Virtue’, mengatakan bahwa, “human beings will only be drawn out of themselves into unselfish acts to others when they see God as supremely beautiful.” 

Berdasarkan kedua hal ini maka penulis melihat bahwa akan ada hambatan yang besar dalam melakukan keadilan yang tidak dapat dihilangkan serta merta melalui pendidikan, argumen, dan bahkan persuasi. “It takes an experience of beauty to knock out of our self-centeredness and induce us to become just”, katanya. Keindahan itulah yang ditunjukkan melalui kasih karunia dan kemurahan Allah di dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus—sekalipun di dalam gugurnya keadilan pada persidangan-Nya di Sanhedrin.

In all these ways, Jesus identifies with the millions of nameless people who have been wrongfully imprisoned, robbed of their possessions, tortured, and slaughtered. Yesus Kristus sangat tahu apa artinya menjadi korban atas ketidakadilan dan adanya sistem yang rusak, dan bahkan dibunuh karenanya. Penulis mengutip John Stott yang berkata, “I could never see myself believe in God if it were not for the Cross. In the real world of pain, how could one worship a god who was immune to it?”

Ayat penutup:

Matius 25:35-40:

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

“He not only became one of the actually poor and marginalized, but he also stood in the place of all of us in spiritual poverty and bankruptcy (Mat 5:3) and paid our debt. Now that is a thing of beauty. To take that into the center of your heart will make you one of the just. A life poured out in doing justice for the poor is the inevitable sign of any real, true gospel faith.”

#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – #1

Konsep keadilan yang murah hati seperti yang diulas di dalam buku ini merupakan hal yang tidak terlalu asing, namun juga tidak terlalu familiar dengan pemikiran saya. Karena tampaknya natur dari kata ‘adil’ dan ‘murah hati’ sedikit bertentangan. Jika ‘adil’ adalah seorang manusia, maka saya akan langsung berimajinasi bahwa dia adalah sosok yang kaku, sedikit kejam, dan suka mengernyitkan dahi. Sebaliknya, si ‘murah hati’ adalah dia yang selalu tersenyum dan tidak pernah marah kepada dunia sekalipun kelingking kakinya kepentok kaki meja. Mereka bagaikan 2 orang yang aneh jika ditemukan berjalan dan tertawa bersama. 

Belum lagi kalau membaca tulisan-tulisan filsuf ternama. Keadilan adalah sesuatu yang abstrak bagi kebanyakan orang. Konon lagi ingin disandingkan dengan kemurahan hati. Namun, sebagai seseorang yang perlu berpihak dan menentukan sikap, maka saya memutuskan untuk membaca buku ini dan (mencoba) menuangkan apa yang menurut saya patut dipikirkan lebih lanjut. 

Ada empat kategori pembaca yang disasar oleh penulis:

  1. Orang-orang yang menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap isu keadilan, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi kehidupan pribadi mereka, seperti penggunaan uang, memilih karir, hidup bersesama, dan termasuk, siapa yang mereka cari sebagai teman. Menurut penulis, orang-orang di dalam kategori ini belum memiliki motivasi yang diperlukan untuk mendorongnya konsisten dalam antusiasme terhadap isu-isu keadilan di sekitarnya. 
  2. Orang-orang yang melihat usaha-usaha untuk mewujudkan keadilan dengan penuh kecurigaan. 
  3. Orang-orang yang berpikir bahwa perubahan pendekatan terhadap doktrin-doktrin agama diperlukan jika manusia ingin terlibat di dalam penegakan keadilan.
  4. Orang-orang yang menganggap agama menjadi racun bagi segala sesuatu, terutama agama Kristen. Orang-orang di kategori ini biasanya menganggap bahwa agamalah yang justru menyebabkan maraknya ketidakadilan dan kekerasan di dunia ini.

Keempat kategori ini sebetulnya memiliki kesamaan, yakni, sama-sama gagal pada level tertentu untuk melihat bahwa ada suatu peristiwa historis yang memiliki daya luar biasa untuk mendorong seseorang (yang percaya pada peristiwa tersebut) begitu bergairah untuk mewujudkan keadilan di dunia ini, yakni karya keselamatan kekal melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. 

Penulis juga menegaskan bahwa Alkitab ialah buku yang sangat berkomitmen bagi penegakan keadilan di tengah dunia ini, dari awal sampai akhir. Alkitab tidak hanya memberikan pembacanya panggilan untuk peduli terhadap keadilan, melainkan juga memberikan segala yang diperlukan untuk mewujudkannya: motivasi, tuntunan, sukacita, dan kuasa. Ternyata, dibutuhkan sukacita untuk konsisten mewujudkan kehidupan yang adil. 

Penulis juga menjelaskan bahwa ada pengalaman pribadi yang membuatnya telah sangat serius mempelajari isu keadilan dan bahkan menuliskannya menjadi sebuah buku. Ia pernah menjauhi seorang teman yang menurutnya sangat miskin—kemiskinan yang tidak dapat didefinisikan atau dikategorikan—saking miskinnya. Hal tersebut dilakukannya karena ia tidak ingin diasosiasikan terhadap temannya itu. Di saat yang bersamaan, penulis juga ingin meningkatkan statusnya di tengah pergaulan. Beranjak dewasa, penulis juga menyaksikan kekerasan sistematis yang dilakukan oleh orang-orang berkulit putih terhadap ras kulit hitam di sekitarnya. Persoalannya, meskipun penulis dibesarkan secara ‘Kristen’, tetapi kekristenan kehilangan daya tariknya karena justru orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristuslah yang lebih passionate terhadap isu-isu keadilan yang ditemukan oleh penulis. Gereja ortodoks malah menganggap bahwa terlalu berharga energi yang dibuang untuk membahas isu-isu keadilan semacam itu. Bahkan, tokoh seperti Martin Luther King, Jr. pun dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat oleh gereja-gereja tersebut. 

Ketika penulis berkuliah, ia bertemu dengan sekelompok orang yang sangat bersemangat mengintegrasikan iman mereka dengan upaya-upaya untuk mewujudkan keadilan. Mereka berada pada suatu kelompok studi Alkitab di kampus. Ketika baru bergabung dengan kelompok tersebut, penulis hanya semacam memasukkan pemahamannya tentang keadilan dan menambahkannya kepada teologi yang dimilikinya. Barulah beberapa waktu kemudian penulis menyadari bahwa Alkitablah yang menyediakan dasar-dasar utama yang penting untuk mewujudkan keadilan. Contoh, kisah penciptaan di Alkitab merupakan ide awal dari hak asasi manusia di Barat, tulisan-tulisan nubuatan di dalam kitab nabi-nabi menggaungkan dengan jelas panggilan untuk melakukan keadilan. Bahkan, Civil Rights Movement pada tahun 1950-1960-an jauh lebih didasarkan pada pandangan kekristenan terhadap dosa dan keselamatan daripada pandangan sekularisme. 

Menurut pengamatan dan kesaksian yang didengarnya, orang-orang yang betul-betul mengalami dan meyakini karya keselamatan oleh Injil Yesus Kristus sebagai anugerah di dalam hidupnya adalah mereka yang paling sensitif terhadap ketidaksetaraan di sekitar mereka.

“I have observed over the decades that when people see the beauty of God’s grace in Christ, it leads them powerfully toward justice.” 

#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Apa yang Dimaksud dengan Keadilan? #2

Tidak seperti kelas filsafat hukum semasa kuliah dulu, buku ini langsung menegaskan apa yang dimaksud dengan ‘melakukan keadilan’. Justice is care for the vulnerable (keadilan adalah kepedulian terhadap mereka yang rentan). Itulah arti keadilan yang disimpulkan oleh penulis berdasarkan Mikha 6:8 yang berbunyi, 

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Bagi penulis, ayat ini menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara hidup yang mengenal Allah dan perjuangan untuk mewujudkan keadilan. Keterkaitan seperti itulah yang dikehendaki Yang Mahakuasa untuk dialami dan dilakukan oleh manusia. 

Di dalam Bahasa Inggris, ayat ini berbunyi demikian, 

“He has shown you, O mortal, what is good. 

And what does the Lord require of you? 

To act justly and to love mercy 

and to walk humbly with your God.

Kata ‘mercy’ di dalam Bahasa Ibrani adalah ‘chesedh’ yang artinya kasih karunia dan belas kasih Allah yang tanpa syarat. Sedangkan ‘justice’ atau ‘mishpat’ adalah memperlakukan setiap orang dengan setara atau memberikan apa yang harus diterima oleh seseorang; apakah itu hukuman ataukah perlindungan dan kepedulian.

Sehingga, untuk hidup di hadapan Allah, seseorang seharusnya merupakan pribadi yang berjuang untuk keadilan yang didorong oleh kemurahan hati Allah di dalam hidupnya. 

“To walk with God, then, we must do justice, out of merciful love.” 

Yang menarik dari hal ini, penulis langsung mengajak pembaca fokus kepada siapa yang kemudian menjadi sasaran perhatian jika mereka memang ingin memperjuangkan keadilan. Sasarannya adalah janda-janda, anak yatim, imigran, dan orang-orang miskin. Merekalah yang sering disebut sebagai ‘the quartet of the vulnerable’. 

Alkitab menunjukkan bahwa keadilan seringkali diuji atau dievaluasi dari bagaimana cara seseorang dan masyarakat dalam memperlakukan kelompok rentan tersebut. Di dalam buku ini, penulis lebih fokus kepada orang-orang miskin sebagai sasaran perhatian pembaca. Karena itu, absennya kepedulian atas kebutuhan dan kepentingan mereka bukan sekadar berarti kurangnya belas kasihan, melainkan suatu perkosaan terhadap keadilan. Sebab Alkitab menyatakan bahwa karena Allah mencintai dan membela mereka yang paling lemah baik secara ekonomi maupun status sosial, manusia pun harus demikian.

 Justice reflects the character of God. He identifies with the powerless, He takes up their cause. He is a God on the side of justice for the poor. 

Karena, di dalam banyak situasi, orang-orang yang paling rentan ditindas oleh penguasa dengan sewenang-wenang ialah mereka yang sejak awal tidak memiliki kekuatan apa-apa, khususnya, karena kemiskinannya. Inilah yang membedakan Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab dengan allah-allah lain di dunia kuno yang mengidentifikasi dirinya dengan kalangan elit, bangsawan, dan penguasa. Sehingga, kalau keadilan adalah refleksi atas karakter Allah, maka siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya. Sedangkan siapa yang menaruh belas kasih kepada orang miskin, memuliakan Dia.

Selain merupakan refleksi atas karakter Allah, keadilan tampak melalui hidup dengan relasi yang benar dengan sesama manusia. Boom! Hidup menjadi manusia yang benar itu tidak sesempit hidup suci dalam disiplin-disiplin rohani saja, melainkan juga bagaimana kehidupan hari lepas hari di mana seseorang berelasi dengan satu sama lain (keluarga, teman, masyarakat) dengan menunjukkan kesetaraan dan kemurahan hati.

Penulis mengambil contoh dari kehidupan Ayub untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang yang benar pada praktiknya (Ayub 29:12-17 dan Ayub 31:13-28). Perbuatan-perbuatan Ayub menunjukkan bahwa dia bukan hanya sekadar memberikan handouts kepada orang-orang yang membutuhkan tentang bagaimana keluar dari situasi mereka. Ayub bahkan menyerahkan dirinya sendiri untuk membawa mereka keluar dari situasi itu. Ayub tidak ingin menganggap bahwa kondisi orang-orang tersebut merupakan hal yang permanen sehingga tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk mereka. Dia betul-betul ingin memenuhi kebutuhan mereka agar mereka tidak lagi berada pada kategori kelompok rentan. 

Itulah ulasan awal penulis untuk menunjukkan bahwa kekristenan sangat mendukung upaya-upaya perwujudan keadilan sosial, lebih dalam daripada konsep apa pun yang dapat dijelaskan oleh doktrin-doktrin lain terkait hal yang sama. 

“The just person lives a life of honesty, equity, and generosity, in every aspect of his/her life.” 

#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Justice in the Old and New Testament #3

Kekristenan memiliki kitab yang secara konsisten menunjukkan bahwa Allah sangat mencintai keadilan sosial. Beberapa peraturan yang disampaikan di dalam firman-Nya justru bertujuan untuk menghasilkan suatu komunitas yang adil. Perhatian-Nya sangat serius terhadap hal ini sehingga jika firman tersebut dipegang dan dilakukan oleh manusia yang menerimanya, maka jumlah kelompok-kelompok rentan pun akan berangsur-angsur berkurang. Tidak akan ada kemiskinan yang berkepanjangan di tengah-tengah mereka karena Allah menyediakan hukum yang berisi kewajiban-kewajiban tertentu untuk memenuhi hak-hak tertentu di pihak lain. Contoh: hukum tentang memungut hasil tuaian (Imamat 19:9-10), hukum tentang perpuluhan (Ulangan 14:28), dan tahun Yobel (Imamat 25:8-55).

Berbicara tentang kemiskinan yang merupakan fokus sasaran penulis di dalam buku ini, ia merujuk ke Alkitab untuk melihat apa saja yang menjadi penyebabnya. Faktornya bermacam-macam, antara lain: penindasan, bencana, dan kegagalan moral pribadi. Ketiganya pun saling berkaitan. Beragamnya faktor penyebab kemiskinan ini sering membuat kita skeptis untuk mempedulikan dan memperhatikan mereka. Kita mungkin akan berkelit, “itu kan kesalahannya!” atau, “bagaimana kalau dia menyalahgunakan pertolongan yang kita berikan?”, dan sebagainya. 

Karena itulah, penulis meyakinkan pembaca bahwa mustahil memang mencari dorongan yang kuat dari dalam diri untuk tetap membantu orang-orang miskin jika percaya bahwa itulah yang harus dilakukan untuk mewujudkan keadilan sosial. Hal yang sama juga terjadi jika kita berusaha menilai layak/tidak layaknya mereka yang miskin menerima pertolongan kita berdasarkan siapa diri mereka dan apa yang telah mereka lakukan di dalam hidupnya—khusunya yang mungkin menyebabkan kemiskinan itu menimpa mereka.

Dengan demikian, jawabannya tidak terletak di dalam diri kita yang skeptis maupun pada mereka yang mungkin saja bersalah dan mendatangkan kemiskinan tersebut. Jawabannya ada di dalam kasih karunia Kristus. Itulah kunci dari segalanya. Sama seperti apa yang dicatat dalam Imamat 5:11-13, bukan kurban terbaik kita yang membuat Allah mengampuni dosa, melainkan kemurahan hati-Nya. Di dalam keadilan-Nya, Ia bermurah hati agar orang-orang miskin dapat tetap datang ke hadapan-Nya. Karena itulah, mereka yang miskin pun sama diterimanya di hadapan Allah dengan mereka yang kaya. Sehingga, jika Allah saja berlaku demikian terhadap manusia, masakan kita tidak? Kemurahan hati Allah, betapa cuma-cumanya keselamatan dari-Nya, itulah yang membangun dasar bagi perwujudan keadilan bagi seluruh masyarakat, securiga apa pun kita.

Bukan hanya di dalam perjanjian lama, di dalam perjanjian baru pun kita melihat dengan jelas betapa pedulinya Allah terhadap orang-orang yang rentan dan lemah. He really has an intense interest in and love for the same kinds of vulnerable people (Matius 11:4-5). Kesimpulan terbaik untuk menjelaskan hal tersebut dapat kita lihat dari perkataan Rasul Paulus di dalam Kisah Para Rasul 20:35, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

Masih berkaitan dengan upaya menjawab beberapa keengganan manusia untuk memperhatikan orang miskin, penulis mengajak pembaca untuk memikirkan ulang siapa yang mereka sebut sebagai sesama manusia—karena itulah ajaran yang sangat sentral di dalam kekristenan (kasihilah sesamamu manusia). Penulis menyarankan untuk melihat perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati untuk mengetahui siapa yang menjadi sesama kita manusia. 

Melalui perumpamaan tersebut Yesus menunjukkan kepada ahli Taurat hidup seperti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah (what kind of perfect righteousness) sehingga ia akan melihat bahwa ia tidak akan berdaya untuk memenuhi hukum tersebut dengan kekuatannya sendiri. Ketika ahli Taurat itu mencoba membenarkan dirinya, dia kemudian bertanya, “siapakah sesamaku manusia?”. Maksudnya ialah untuk mengetahui apakah dia bisa memenuhi hukum tersebut dengan semakin spesifik. Yesus menjawab pertanyaan itu dengan mengisahkan bagaimana orang Samaria tersebut menolong orang Yahudi yang sedang sekarat di tengah jalan. Dia memenuhi kebutuhan yang riil diperlukan oleh orang tersebut pada saat itu. 

Melalui perumpamaan ini Yesus ingin menegaskan bahwa tidak ada batasan apa pun untuk menunjukkan siapa yang menjadi sesama kita manusia. Tidak ada syarat agama, suku, ras, atau apapun untuk menyatakan belas kasih kepada manusia. Ini penting untuk dipahami karena manusia seringkali membuat batasannya sendiri tentang bagaimana menolong orang miskin atau yang membutuhkan. Ada yang sering menolak memberikan bantuan kepada mereka karena merasa mereka belum semiskin atau semenderita itu. Tetapi kenapa kita harus menunggu sampai orang semenderita itu baru kita menolong mereka? Berikutnya, kita tidak mau menolong orang lain tanpa membebani diri kita sendiri. Kita juga hanya ingin menolong orang miskin yang baik moralitasnya serta yang bukan mengalami kemiskinan ini karena kesalahan atau kebodohannya sendiri. Namun hal seperti ini sangat sulit untuk ditemukan mengingat penyebab kemiskinan itu ada banyak dan saling berkaitan satu sama lain. 

Penulis merujuk pada cara Jonathan Edwards menjawab beberapa penolakan di atas di mana Edwards menjadikan Injil sebagai dasar jawabannya“Christ loved us and was kind to us and was willing to relieve us, though we were very hateful persons, of an evil disposition, not deserving of any good… so we should be willing to be kind to those who are… very undeserving.”

Manusia perlu terlebih dahulu menerima belas kasih yang seperti itu agar dia dapat mengasihi sesamanya manusia tanpa batasan apapun. Hanya ketika kita melihat bahwa kita telah diselamatkan oleh kasih karunia yang begitu besar dari Kristuslah kita dapat melakukannya. 

Once we receive this ultimate, radical neighbor-love through Jesus, we can start to be the neighbors that the Bible calls us to be.”

#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Why and How Should We Do Justice? #4

Why Should We Do Justice?

Alasan manusia untuk melakukan keadilan ialah kasih karunia Kristus. Itulah yang mengubah sikap serta motivasi manusia bahkan sebelum manusia itu berjumpa dengan kasus nyata. Bagi penulis, motivasi adalah hal yang krusial. Karena kebanyakan masalah yang ada di masyarakat bukanlah persoalan tahu/tidak tahu atau percaya/tidak percaya bahwa mereka perlu berbelas kasih secara khusus kepada orang miskin/yang membutuhkan. Persoalannya adalah mereka tidak memiliki motivasi yang cukup dan tepat untuk melakukannya. 

Salah satu alasannya adalah karena kita hidup di dunia yang menjunjung tinggi relativisme. Sulit bagi kita untuk berkata bahwa seseorang harus melakukan ini dan itu berdasarkan sebuah standar kebenaran yang kita percaya. Alhasil, kita mencoba mendorong manusia untuk berbuat baik hanya berdasarkan alasan-alasan superfisial dan praktis. Faktanya, hal itu tidak pernah cukup untuk memotivasi seseorang. 

Penulis berkata bahwa Alkitab memberikan orang percaya 2 motivasi mendasar untuk melakukan keadilan yakni kekaguman yang penuh sukacita atas kebaikan ciptaan Allah dan pengalaman akan kasih karunia di dalam penebusan Allah. Melihat kembali kepada karya penciptaan Allah yang menciptakan manusia seturut gambar dan rupa Allah memberikan kita alasan untuk memperlakukan setiap manusia sebagai pribadi yang bermartabat. 

“So, we must treasure each and every human being as a way of showing due respect for the majesty of their owner and Creator.”

Ada 1 kutipan yang tidak sanggup saya terjemahkan ke Bahasa Indonesia, mengingat saya tidak ingin kehilangan kepenuhan dan kesungguhan makna aslinya. Kali ini berbicara tentang gambar Allah dan hak asasi manusia. Berikut saya kutip langsung:

“The load, or weight, or burden of my neighbor’s glory should be laid daily on my back, a load so heavy that only humility can carry it, and the backs of the proud will be broken… This does not mean that we are to be perpetually solemn. We must play. But our merriment must be of that kind (and it is, in fact, the merriest kind) which exists between people who have, from the outset, taken each other seriously–no flippancy, no superiority, no presumption. And our charity must be a real and costly love, with deep feeling for the sins despite which we love the sinner–no mere tolerance or indulgence which parodies love as flippancy parodies merriment…”

Selain itu penulis juga mengajak pembaca untuk melihat bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan. Kita bukan pemilik, melainkan pengelola. Karena itu orang yang adil akan hidup bermurah hati kepada sesamanya/komunitasnya. 

A lack of generosity refuses to acknowledge that your assets are not really yours, but God’s. Therefore, if you have been assigned the goods of this world by God and you don’t share them with others, it isn’t just stinginess, it’s injustice.”

Melalui ayat-ayat di dalam Ulangan 10:16-19 kita melihat bahwa hidup yang memenuhi kebutuhan para yatim, janda, serta pendatang yang miskin adalah tanda relasi Israel sebagai umat Allah dengan Allah. Grace should make you just. Hal yang sama juga tercermin dalam Yakobus 2:15-16 bahwa, “…life poured out in deeds of service to the poor is the inevitable sign of any real, true, justifying, gospel-faith. Grace makes you just. If you are not just, you’ve not truly been justified by faith.”

Beberapa perubahan cara pandang akan terjadi di dalam diri orang-orang yang mengalami pembenaran Allah melalui kasih karunia di dalam Injil, di antaranya:

  1. A higher view of God’s law. People who believe strongly in the doctrine of justification by faith alone will have this high regard for God’s law and justice. They will be passionate about seeing God’s justice honored in the world.
  2. A new attitude towards the poor, dan
  3. A new attitude for the poor.

Penulis meyakini bahwa sebetulnya concern terhadap orang miskin dan terlantar seperti ini sedang ‘tertidur’ di dalam hati setiap orang percaya. Dia berkata bahwa tampaknya kesalahannya terletak pada para pendeta dan pemimpin-pemimpin rohani yang merasa sanggup membangunkan kesadaran masyarakat akan perlunya keadilan melalui cara-cara yang dunia ini lakukan yakni guilt atau menimbulkan rasa bersalah di dalam diri orang percaya. Sebab, manusia memiliki mekanisme pertahanan diri terhadap pendekatan seperti itu. Karena itu jika keadilan bagi orang miskin dikaitkan dengan kasih karunia dan Injil, maka kesadaran tersebut pun dapat dibangunkan. 

How Should We Do Justice? 

Pertama: selalu memikirkan keadilan (Ayub 29:14). Allah tidak ingin kita sekadar memberikan bantuan kepada orang miskin, melainkan merenungkan dan berpikir sedemikian rupa tentang bagaimana memperbaiki keadaan mereka seutuhnya. 

Kedua: memahami bahwa ada tingkatan-tingkatan pertolongan yang perlu kita perjuangkan bersama-sama (levels of help): 

  1. Reliefbantuan langsung yang sesuai dengan kebutuhan fisik, materi, maupun ekonomi. 
  2. Development: membawa mereka yang dibantu berpindah dari dependency ke self-sufficiency. Artinya, orang-orang yang berada di dalam komunitas yang dibantu haruslah menjadi pelaku utama dari perubahan yang diinginkan. Orang-orang yang bertempat tinggal di komunitas tersebut haruslah menjadi tempat analisis dan perencanaan utama dari perubahaan yang diinginkan dan mereka memiliki kendali atas jenis dan kecepatan perubahan yang akan mempengaruhi mereka, keluarganya, kehidupan pribadi, serta perekonomiannya. 
  3. Social reform: jenis pertolongan ini bergerak dari relief dan development kepada suatu perubahan kondisi dan struktur sosial yang dapat menyebabkan kebergantungan awal. Pendekatan ini lebih dari sekadar menolong individu per individu. Pendekatan ini betul-betul menargetkan perubahan kehidupan sosial dan institusi-instusi di dalamnya. Bahkan dalam beberapa kasus, ini juga berarti mengubah hukum yang berlaku. 

Penulis kemudian mencoba melihat isu tentang pemberitaan Injil dan melakukan keadilan sosial yang seringkali dipandang secara terpisah oleh gereja. Ada yang mengatakan bahwa gereja melakukan keadilan sosial sebagai alat untuk pemberitaan Injil. Hal ini tidak sesuai dengan firman Tuhan terutama yang telah diumpamakan melalui kisah orang Samaria yang murah hati. Sebab, itu berarti kita melakukan keadilan karena ada maksud tertentu yakni menambah jumlah orang percaya. Padahal, pada intinya, perumpamaan tersebut sedang menunjukkan bahwa berlaku adillah dengan kemurahan hati tanpa menuntut balas. Di sisi lain ada juga yang berpikir bahwa usaha-usaha melakukan keadilan sosial itu sendiri adalah pemberitaan Injil. Ini jelas sekali pemikiran yang fatal. Karena itu penulis mengusulkan pendekatan yang berbeda, yakni dengan melihat bahwa penginjilan dan keadilan sosial harus ada dalam keterkaitan yang meski tidak simetris namun tidak terpisahkan. Apa maksudnya?

Penginjilan ialah pelayanan yang paling mendasar dan radikal terhadap umat manusia. Bukan karena spiritual lebih penting daripada fisik, melainkan karena yang kekal lebih penting daripada yang sementara. Sebab, jika benar ada Allah dan jika hidup bersama-Nya di dalam kekekalan didasarkan pada relasi dengan-Nya, maka, hal yang paling penuh kasih yang dapat dilakukan seseorang kepada sesamanya ialah menolongnya melihat kepada iman yang menyelamatkan di dalam Allah yang demikian, yakni Yesus Kristus. 

Namun sebagaimana yang telah kita lihat, melakukan keadilan tidak terpisahkan dengan memberitakan kasih karunia. Karena kasih karunia itulah yang menghasilkan kepedulian terhadap orang miskin, dan keadilan sosial yang diperjuangkan oleh seseorang berarti akan memberikan kredibilitas terhadap pemberitaan Injil tersebut. 

In other words, justification by faith leads to doing justice, and doing justice can make many seek to be justified by faith.”

Lima puluh lima hari

Rasanya perjalanan menuju usia ke-29 ini berlalu begitu cepat!

Apa mungkin karena aku sangat menikmatinya, seperti kata orang-orang?

Mungkin memang demikian. Bersama dengan segala ‘kelucuan’ hidup yang ada di 55 hari ke belakang, aku menikmati prosesnya. Rasanya seperti benar-benar bersahabat dengan hidup. Langkah-langkah terasa ringan. Hati terasa lega.

Uniknya, kepalaku masih penuh dengan tujuan. Justru dengan langkah dan hati yang seperti itu, tujuan-tujuan tersebut tampak semakin indah. Mereka bukan musuh yang harus kutakutkan. Bukan lawan yang harus membuatku minder. Bahkan, bukan pula orang asing, sehingga aku seolah boleh mengabaikannya begitu saja.

Tujuan-tujuan tersebut adalah bagian dari keberadaanku. Seberharga itu.

Perjalanan menuju ke sana harusnya menjadi perjalanan yang membuatku bertumbuh. Apalagi sukacita setiap yang bernapas, jika bukan pada kenyataan bahwa ia bertumbuh?

Pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang seolah dapat mendikte hidupku tidak lagi membuatku sinis. Betul-betul terlepas dari beban yang tidak perlu, seperti keyakinanku pada 55 hari lalu.

Apakah 55 hari ini tidak sulit untuk dijalani? Siapa bilang? Tetapi justru, aku belajar banyak dari semuanya. Untuk apa repot-repot memberi label bahwa hari ini sulit atau hari kemarin mudah?

Sudah kubilang, yang kubutuhkan adalah pertumbuhan.

Semoga semakin hari semakin dewasa.

Menuju 29 di 1-9

Rasanya lega memasuki tahun ke-29 di bumi tanpa beban yang tidak perlu. Bukan karena nggak ada yang membebani, tetapi kurasa aku udah lebih ngerti gimana menghadapinya. Entah kenapa, hatiku sangat tenang dan damai sejahtera menjalani hari setelah 28 tahun sudah berkutat dengan berbagai disintegrasi ekspektasi dan realitas. Sampai rasanya, nggak akan terlalu banyak lagi hal yang bisa bikin aku kaget setelah ini.

Aku sudah terbiasa mengalami banyak hal dan aku nggak mau mundur lagi. Karena aku harus siap menghadapi beberapa hal yang baru nantinya.

Slow response chats tidak lagi menggangguku. Short response chats sudah biasa. Tidak diperlakukan sama seperti yang kulakukan terhadap seseorang tidak membuatku kenapa-kenapa lagi. Dianggap mengecewakan tidak lagi menghancurkanku. Tidak diingat perbuatan-perbuatan baiknya tidak lagi membuatku bingung.

Dilupakan tidak lagi membuatku kesal.

Aku tidak berharap apa-apa lagi dari orang lain. Tidak ada lagi hal signifikan yang kugantungkan pada siapapun saat ini. Aku tidak berharap disukai. Aku tidak berharap dikagumi. Pujian tidak lagi membuatku berbunga-bunga. Semua itu hanya sementara. Bahkan, beberapa kali aku berharap dianggap bodoh, untuk tahu rasanya diremehkan. Supaya aku tidak meremehkan siapapun.

Aku tidak merasa perlu membuktikan apa-apa. Aku hanya berusaha sekuat tenaga. Aku tidak selalu termotivasi, tidak selalu bersemangat. Tetapi aku nggak merasa itu hal yang terlalu pelik.

Hidup masih seperti semangkuk sup panas dan aku masih seperti sebuah garpu.

Bekerja tetaplah sulit, tetapi itu tidak lagi mengejutkanku. Berelasi dengan manusia adalah menabung risiko dan potensi sakit hati, tetapi aku nggak peduli lagi. Semua sakit hati itu pun hanya sementara. Untuk apa dijadikan beban seolah selamanya?

28 tahun ini adalah perjuanganku menghadapi diri sendiri. Ternyata memang seperti itu adanya. Aku sangat bahagia ada di titik ini. Anehnya, bukan karena apa yang ada padaku, melainkan karena apa yang kini tidak ada lagi padaku, karena ada yang tahu, itu tidak perlu.

Yang kusebut berkat ialah ketika aku tidak memiliki apa yang tidak perlu itu.

Sehingga, kurasa perjalanan ke depan akan lebih tentang membuang terus apa yang tidak perlu; hal-hal buatan sendiri yang membebani. Biarlah yang terus dikejar ialah apa yang tidak akan sementara.

I want to celebrate every opportunity light-heartedly.

P.S.:

Happy birthday too, Jeon Jungkook! What an unexpected journey of knowing someone who lives his life so genuinely like you. The idea you constantly give about how someone should BE really inspires me. I’m still processing how I become so sure about my admiration (not romantically) toward someone I barely know. But, it’s something wonderful about human connection, isn’t it?

#Komentar “You Are Not Enough (and That’s Okay): Escaping the Toxic Culture of Self-Love” oleh Allie Beth Stuckey

Buku ini merupakan upaya Stuckey untuk membahas 5 mitos tentang diri yang sering membahayakan kaum milenial, Kristen dan non-Kristen. Dia menyebut bahwa buku ini adalah tentang membongkar berbagai kebohongan atas budaya ‘self-love’ dan menggantinya dengan kebenaran firman Tuhan di dalam Alkitab. Ada 5 hal yang disebutnya sebagai mitos, yaitu: 1) you are enough, 2) you determine your truth, 3) you’re perfect the way you are, 4) you’re entitled to your dreams, dan 5) you can’t love others until you love yourself.

Mitos #1 You are enough

Penulis memulai tulisannya dengan mengatakan bahwa proses menjadi ‘orang dewasa’ membuat manusia merasa bahwa ternyata mereka tidak memiliki hal-hal yang diperlukan untuk mencapai impiannya. Berbeda dengan masa kanak-kanak di mana kebanyakan anak kecil biasanya sangat percaya diri terhadap cita-cita, ambisi, dan impiannya. Walaupun menurut saya tidak semuanya demikian, namun ide ini tidak asing bagi saya. Saya ingat saya tidak pernah ragu mengatakan ingin jadi apa saya ketika besar nanti. Saya memang seorang pemimpi ulung. Buku harian saya penuh dengan daftar cita-cita dan impian. Saya tidak terlalu memikirkan apakah itu realistis atau tidak. Namun setelah beranjak remaja dan dewasa, keraguan akan kapasitas diri pun tampak nyata. Mendadak impian yang tadinya tidak terkesan memalukan sama sekali menjadi begitu memalukan ketika saya melihatnya dengan kacamata keterbatasan saya.

Namun dunia berusaha memberikan ‘obat’ untuk perasaan ‘tidak cukup’ tersebut dengan menolaknya sama sekali. “You are enough”, katanya. Menurut penulis, obat ini datang bersamaan dengan resep ‘self-love’ yang dipakai untuk menguatkan manusia dengan berkata bahwa mereka tidak membutuhkan siapapun untuk mencintai dirinya dan membuat dirinya merasa puas. Manusia diajar untuk memantrai dirinya bahwa mereka hanya membutuhkan diri mereka sendiri untuk merasa cukup dan sempurna. 

Penulis menjelaskan bahwa berkaitan dengan mitos pertama ini, budaya ‘self-love’ seperti di atas akan memberikan siklus yang melelahkan. Siklusnya seperti ini: ketika seseorang merasa insecure/anxious atas dirinya (bergumul dengan ketidakcukupannya), datanglah kebohongan yang berkata, “tidak, kamu cukup apa adanya, kamu tidak memerlukan orang lain untuk menolongmu di situasi ini”. Untuk semakin meyakini bahwa itulah resep yang tepat atas insecurity, maka muncullah berbagai buku, video, podcast, bahkan lagu-lagu masa kini yang memperkenalkan apa itu ‘self-love’ dan bagaimana manusia dapat mengaktualisasikannya di dalam kehidupannya. Tetapi anehnya, manusia tidak pernah merasa benar-benar sembuh dari insecurity-nya. Pergaulan yang erat dengan berbagai guru ‘self-love’ yang dunia ini berikan tidak sanggup membuat manusia berhenti merasa tidak cukup dengan dirinya sendiri. 

Penulis berkata, kalau benar kita cukup dengan apa adanya kita, seharusnya kita tidak perlu berusaha terlalu keras untuk meyakinkan orang lain bahwa itu benar. Sementara, hal inilah yang terjadi di dalam siklus yang melelahkan itu. 

Mitos ini perlu dihentikan. Karena itu penulis dengan sangat yakin menegaskan bahwa manusia tidak diciptakan untuk merasa cukup dengan dirinya sendiri. Jika demikian, manusia tidak akan pernah merasa membutuhkan Allah dan sesamanya. Hal inilah yang bertentangan dengan rancangan penciptaan Allah atas manusia berdasarkan iman kristiani. 

Namun saya pikir penulis perlu mengelaborasi lebih lanjut ide tersebut. Penulis perlu mengasumsikan bahwa pembaca adalah orang-orang dari berbagai latar belakang keyakinan. Saya sendiri memiliki argumen berkaitan dengan hal ini. Menurut saya, ada pendekatan lain yang lebih tepat terutama jika ditujukan kepada orang-orang percaya, apalagi mereka yang sudah dimuridkan lebih jauh di dalam kekristenan. 

Melihat apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus melalui percakapannya dengan Perempuan Samaria di dalam Injil Yohanes 4:14, “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal“, in a sense of being ‘content’, atau merasa puas dan tenang, seorang yang percaya kepada Kristus adalah pribadi-pribadi yang cukup.

Memang benar bahwa kecukupan/ketidakcukupan yang dimaksud oleh penulis sebelumnya lebih ke arah hal-hal teknis seperti keahlian, talenta, kesempatan-kesempatan, dan seterusnya. Namun jika penulis kemudian mengarahkan jawabannya kepada rancangan penciptaan Allah (bahwa manusia membutuhkan Allah dan sesama), pendekatan ini harus ditambahkan. Artinya, orang percaya harus melihat keberadaan dirinya sebagai ciptaan yang ditebus oleh Kristus dan dengan demikian memberikannya rasa cukup dan puas yang dibutuhkan jiwanya. 

Orang percaya tidak boleh dilihat sebagai pribadi yang terpisah dari Allah penciptanya, sebab kini Kristuslah yang hidup di dalamnya, Roh kudus berkuasa di dalamnya. 

And Christ lives within you, so even though your body will die because of sin, the Spirit gives you life because you have been made right with God. The Spirit of God, who raised Jesus from the dead, lives in you. And just as God raised Christ Jesus from the dead, he will give life to your mortal bodies by this same Spirit living within you. Romans 8:10-11.

Dengan demikian pernyataan “we are not enough” tentu valid dalam pengertian jika manusia tidak percaya kepada Kristus. Ini menjadi titik tolak yang membuat manusia baru dan manusia lama akan berbeda dalam memandang talenta, bakat, kesempatan, dan apapun yang ada di dalamnya. Di saat bersamaan, tidak menolak kebenaran bahwa yang namanya kerja keras dalam mengembangkan dan mengusahakannya tetaplah diperlukan. Namun semuanya dilakukan dengan kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita yang percaya. Jika orang Kristen tidak secara sadar dan intensional mengingatkan dirinya bahwa Kristuslah yang hidup di dalamnya, maka perlahan tapi pasti dia dapat lupa bagaimana seharusnya dia memandang dirinya sebagai seorang pribadi–individual dan sosial di saat yang bersamaan.

Mitos #2: You Determine Your Truth

Dunia ini membuat kita tunduk pada kebenaran subjektif yang tidak memerhatikan ukuran apa pun, baik secara ilmiah, alkitabiah, sejarah, dan seterusnya. Sementara, apa yang kita percaya akan memengaruhi keputusan-keputusan pribadi yang kita ambil serta relasi-relasi yang kita bangun. Penulis berkata jika manusia tunduk pada kebenaran subjektif tersebut, maka yang terjadi hanyalah hal-hal yang buruk. Inilah mitos kedua yang muncul bersama dengan budaya ‘self-love’. 

Dia memberikan contoh melalui kisah seseorang bernama Chloe. Singkat cerita, Chloe mengalami pelecehan seksual semasa kuliah, lalu dia frustrasi dan mengatasinya dengan alkohol, seks bebas, serta obat-obatan terlarang. Dia pun masuk panti rehabilitasi dan di sana dia mulai membaca Alkitabnya lagi (karena dia dibesarkan sebagai Kristen). Setelah rehab, dia mulai bingung bagaimana caranya memperbaiki ulang hidupnya; apa yang harus dilakukannya, dan bagaimana dia mengenal kehendak Tuhan. Sayangnya, kebingungan tersebut diisinya dengan mengikuti cara teman-temannya menemukan tujuan hidup: travelling. Dia merasa itulah cara supaya dia menemukan dirinya dan tujuan hidupnya sesungguhnya. Namun, di setiap kota yang dia kunjungi, dia terlibat hubungan seksual dengan laki-laki di sana. Sampai akhirnya dia hamil di luar nikah dan memutuskan kembali ke Texas, kota asalnya. Dia melahirkan anaknya dan menjadi seorang ibu. Namun dia berkata bahwa dia menyesal kenapa ia masuk ke kehidupan seorang ibu melalui cara tersebut. Dalam upayanya menemukan dirinya, dia malah tersesat. 

Kisah Chloe ini menunjukkan bahwa kita tidak cukup baik dalam menciptakan kebenaran kita sendiri. Sebab pikiran-pikiran kita seringkali membingungkan kita sendiri. Intuisi kita seringkali salah. Perasaan-perasaan kita sering menipu kita. Keinginan-keinginan kita seringkali salah tempat. Sederhananya, mendasarkan kebenaran pada persepsi pribadi seringkali membuat kita tidak tahu harus melangkah ke mana. Kita mungkin berpikir kita sudah berada di jalan yang tepat, terutama kalau kita merasa senang berada di sana. Namun ternyata ujungnya maut.

Penulis berkata bahwa manusia perlu mengganti kebenarannya dengan Allah dan kebenaran-Nya. Kebenaran manusia biasanya terasa baik, sedangkan kebenaran Allah sudah pasti baik. Kebenaran Allah di dalam perkataan-perkataan-Nya tidak pernah berubah, melainkan tetap selama-lamanya. Artinya, tetap baik, selama-lamanya. 

Menurut saya ini adalah hal yang kompleks. Pertama, keyakinan bahwa manusia adalah ciptaan yang dengan demikian memiliki kemampuan berpikir dan menciptakan ide pun berarti bagian dari rancangan penciptaan yang membuat manusia harus menyadari bahwa ide-ide tersebut perlu diterangi oleh firman Allah. Saya melihat banyak orang memiliki kemampuan berpikir yang baik dan itu selalu membuat saya sadar bahwa kalau bukan Allah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya, tidak akan mungkin manusia dapat berpikir sedemikian rupa. Ini tidak melulu benar pada orang Kristen saja, melainkan seluruh manusia yang adalah ciptaan Allah. 

Sehingga saya kurang setuju dengan cara penulis menyatakan bahwa kebenaran kita (our truths) biasanya adalah kebohongan-kebohongan dari Setan. Mengatakan itu sebagai hal yang ‘biasanya’ tampak keliru jika melihatnya dari kacamata manusia baru. Di dalam Kristus kita sekarang mengenal kebenaran yang sejati sebab Dialah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Siapapun yang mengalami kesatuan dengan-Nya diberikan kepekaan untuk tahu membedakan mana yang benar dan mana yang salah–dan lebih dalam lagi–mana yang sempurna dan sesuai dengan kehendak Allah.

Kepekaan itu muncul ketika manusia-manusia baru yang mengalami kuasa Roh Kudus tersebut membaca dan merenungkan firman-Nya. Disiplin ini sangat penting dalam memperbarui cara pandang manusia, mengoptimalkan kemampuan berpikirnya, dan terutama mempersembahkannya bagi kemuliaan nama Tuhan. Inilah disiplin yang perlu dilakukan dengan ketekunan dan makna yang jelas setiap harinya. Sebab perubahan pola pikir dan bahkan keyakinan untuk tunduk pada kebenaran tersebut bukanlah hal yang otomatis, melainkan pekerjaan Allah yang dinamis dan berdaulat berdasarkan hikmat dan rencana-Nya bagi kita. Inilah hal yang tidak dapat dilakukan jika manusia masih menjadi hamba dosa yang hanya akan memercayai iblis, bapa segala dusta. 

Penulis menyorot 2 trend yang ada di masyarakat berkaitan dengan mitos kedua ini: cancel culture dan social justice warrior. Keduanya dapat muncul sebagai usaha-usaha untuk membenarkan diri sendiri atau sekelompok orang berdasarkan pada kebenaran subjektif, bukan kebenaran mutlak di dalam Alkitab. Sehingga semua orang tanpa terkecuali, apa pun agamanya, dapat terjebak dalam kesalahan-kesalahan trend tersebut. 

Manusia kerapkali menjadikan opini publik sebagai legitimasi atas perlakuannya terhadap seseorang maupun sekelompok orang. Itulah mengapa muncul budaya ‘cancel’. Terlepas perlu diujinya opini publik itu, yang namanya sudah membudaya, artinya hal itu sudah mempersempit ruang untuk mendengar dan memaafkan serta memberi kesempatan kedua kepada orang-orang yang cancelled. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan prinsip kebenaran mutlak di dalam firman Allah. Sementara itu, social justice yang dimengerti oleh dunia ini adalah kerapkali adalah upaya untuk menyamakan hasil akhir dari sesuatu, bukan menyamakan kesempatan menuju ke sana. Sehingga upaya-upaya menegakkan keadilan yang seperti ini malah akan sangat rentan terhadap ketidakadilan bagi pihak lain yang tidak diperjuangkan.

While most people build their value system based on what feels good and what’s convenient, Christians are called to a higher standard—one that guarantees self-denial and difficulty. That means there will always be tension between us and the world. That’s good. We’re supposed to be uncomfortable here. This isn’t our home; heaven is. And as we work to ensure that God’s will is done “on earth as it is in heaven,” we can expect pushback and persecution.

The toxic culture of self-love tells us that we are “enough” to determine our own truths. But as we’ve discussed, this just leads to unsustainable confusion. It’s not our or society’s truth that matters, it’s God’s. That’s because he’s perfect, and we’re not.

Allie Beth Stuckey

Mitos #3: You’re Perfect the Way You Are

Penulis membuka penjelasannya terkait mitos ke-3 ini dengan mengungkapkan paradoks perfeksionisme. Apa maksudnya? Mirip dengan apa yang sudah diutarakannya di mitos pertama tentang siklus meletihkan dari ‘self-love’, kali ini dia menjelaskan bahwa perempuan, khususnya, seringkali terjebak di dalam paradoks perfeksionisme. Maksudnya, para perempuan terbiasa mendengar dan percaya bahwa mereka sempurna apa adanya, namun di saat bersamaan ada sesuatu lain yang perlu mereka lakukan atau miliki untuk membuat mereka sempurna. Untuk mendukung hal tersebut, penulis mengutip perkataan seorang penulis buku bernama Jon Sincero: who you are on the inside—who you really are— is perfect. And all you have to do is manifest that perfection, and you’ll be happy, successful, and whole. 

Menurut penulis, yang memotivasi paradoks ini ialah adanya filosofi yang memandang bahwa self-discovery adalah jalan untuk menerima diri sendiri atau aktualisasi dari kesempurnaan manusia. Berdasarkan perspektif seperti ini, manusia dibuat percaya bahwa sebetulnya mereka tidak memiliki kekurangan apa pun, yang ada hanyalah kualitas-kualitas yang kurang dihargai sebelumnya. 

Kalimat seperti “you’re perfect the way you are” membuat kita menerima bagian-bagian diri kita yang sebenarnya harus kita tolak. Ini juga membiasakan kita membuat excuses pada hal-hal yang seharusnya kita tinggalkan dan menolak bertobat atas hal tersebut. Budaya ‘self-love’ dengan mengatakan bahwa manusia sempurna apa adanya ini adalah budaya yang toxic dan hanya akan memberikan kesenangan sementara. Kita merasa tidak ada yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan ditinggalkan. 

Penulis mengarahkan pembaca untuk melihat kepada firman Allah yang menyatakan bahwa di dalam Alkitab hanya ada 2 jenis kepribadian: manusia lama dan manusia baru. Manusia lama diperbudak dosa, mencari cinta dan kepuasan di tempat-tempat yang salah, musuh Allah, dan memerlukan penebus. Manusia baru ialah pribadi yang telah ditebus melalui pengorbanan Kristus dan dengan demikian bebas dari ikatan dan belenggu dosa. Manusia baru ialah mereka yang diperdamaikan dengan Allah dan dibenarkan di hadapan-Nya, untuk selama-lamanya. 

Sehingga jika kita adalah orang-orang percaya, maka perlu bagi kita untuk menyadari kepribadian diri seperti apa yang seharusnya kita rindukan untuk terwujud: yaitu manusia yang hidupnya semakin sesuai dengan panggilan Injil. Allah memiliki rencana bagi kita: pengudusan kita. Untuk mencapai itu kita perlu taat pada kehendak Allah dan memandangnya sebagai ‘batasan’ yang akan membawa kebaikan bagi kita–ditetapkan oleh Bapa yang mengasihi kita. The true self is the person God calls us to be. 

Di saat bersamaan, Alkitab juga tetap mengajarkan, karena itu, setiap manusia baru seharusnya memerhatikan bagaimana dia hidup dan melakukan hal-hal yang secara praktis adalah keputusan-keputusan bijaksana yang akan sangat berguna bagi hidupnya dan memuliakan Allah. Namun itu bukan berarti menjamin apa yang dunia maksud sebagai ‘our best life’. Itu adalah buah dari ketaatan kita sebagai manusia baru, bukan manifestasi dari our best self.

Salah satu hal menarik di dalam bab ke-3 ini ialah pendapat penulis tentang Enneagram Personality Type. Penulis sangat tegas mengatakan bahwa ini tidak alkitabiah sama sekali. Enneagram test di dalam lingkungan orang Kristen ini bermula dari ide untuk melihat kehidupan Yesus dan menemukan ada 9 sisi di dalam diri Yesus Kristus. Penulis mengatakan ide bahwa Allah, sang Pencipta ini, dibatasi oleh 9 tipe kepribadian buatan manusia adalah sangat konyol dan suatu bentuk penghujatan. Dia menambahkan bahwa enneagram bukanlah sumber pengetahuan kita tentang Allah, melainkan firman-Nya. Introspeksi, seperti yang muncul di dalam praktik enneagram ini, bukanlah jalan yang harus kita tempuh kepada pengudusan. Itu adalah suatu peninggalan dari filosofi New Age. 

Selain itu, penulis juga menambahkan bahwa seseorang bernama Oscar Ichaso dan muridnya, Claudio Naranjo, mengembangkan ide tentang kepribadian berdasarkan enneagram ini yang dipandang sebagai alat untuk menganalisis kepribadian dengan tujuan untuk menolong observasi terhadap diri sendiri dan menghadapi penderitaan. Ichaso mengklaim bahwa enneagram ini dinyatakan kepadanya oleh “Metatron, pangeran dari malaikat agung”, ketika dia sedang kesurupan. Murid-murid Naranjolah yang kemudian membawa enneagram ini ke komunitas Katolik dan masih dipromosikan saat ini di gereja-gereja Katolik, demikian juga di tengah-tengah orang Kristen injili.

As it turns out, the Enneagram is a relic of New Age philosophy. It was first made known by the early twentieth-century Russian-Armenian mystic philosopher and occultist George Gurdjieff, who believed that humans exist in what he called “waking sleep,” and that they can awaken the true, full self by learning the discipline of uniting body, mind, and spirit to achieve a higher consciousness.

Allie Beth Stuckey

Jujur jika ini benar, maka saya adalah orang yang paling perlu bertobat. Sebab saya pernah memberikan teman-teman saya buku ‘rohani’ dari toko buku ‘rohani Kristen’ yang mempromosikan buku tentang enneagram ini. Sebetulnya saya tidak tahu bahwa ada sejarah seperti ini di balik tes kepribadian menggunakan enneagram. Saya juga tidak cari tahu apa tipe saya. Saya sudah lama tidak peduli dengan tes-tes kepribadian seperti ini, seperti MBTI, enneagram, dan satu tes lain yang pernah saya ikuti namun saya lupa namanya. 

Menurut saya, jalan menemukan siapa diri ini dan harus seperti apa diri ini cukup dengan mengenal Sang Pencipta dan kehendak-kehendak-Nya. Tentu ini saya yakini setelah beberapa kejenuhan saya terhadap penemuan-penemuan akan diri yang sepertinya semakin membuat saya fokus pada diri sendiri dan bukan pada Allah serta kehendak-Nya. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh penulis di dalam bagian ini: 

To constantly focus on our unique attributes is to totally miss the point of what God calls us to do. God calls each of us not to be our “best selves,” but to be filled with the fruit of the spirit, which, according to Galatians, is made up of love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, and self-control. We are called to embody all of these qualities, not only the ones that come naturally to us. No matter how much we introspect, we will never find our good and perfect selves, because they don’t exist.

The call for Christians is not to be the best version of their personality type, but to be like Christ. No matter what our natural inclinations, strengths, or deficits may be, we are all called to live holy lives. We are all to repent sin. We are all to be obedient. No quirk or characteristic makes us exempt from the standards God has set for us.

Allie Beth Stuckey

Kecuali manusia menyadari bahwa alasan keberhargaan dirinya ialah karena Allah menciptakan mereka dan mengutus Kristus untuk mati bagi mereka, manusia akan terus-menerus berlari di lintasan menuju kesempurnaan yang semu. 

Namun menurut saya penulis terlalu ekstrem dengan berkata bahwa manusia tidak dipanggil untuk introspeksi diri. Karena pemazmur sendiri melakukan hal tersebut. Pemazmur meminta agar Allah menyelidiki hatinya. Inilah cara yang tepat untuk introspeksi diri di dalam kekristenan: melakukannya di dalam kebergantungan kepada Allah.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! (Mazmur 139:23-24)

Ketika kita melihat ke dalam diri kita sendiri, kita menemukan diri kita yang tidak sanggup tanpa Penciptanya. Identitas, signifikansi, serta kepercayaan diri kita bukan datang dari apa yang kita lihat di depan cermin atau apa yang kita temukan di media sosial kebanyakan, melainkan dari Allah yang berkata bahwa kita adalah ciptaan-Nya yang berharga. 

Mitos #4: You’re Entitled to Your Dreams

Mitos ke-4 karena budaya ‘self-love’ ialah manusia dibuat percaya bahwa mereka berhak atas mimpi-mimpi mereka. Mereka yang percaya pada mitos ini merasa tidak perlu terlalu bekerja keras dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai cita-citanya. Berkaitan dengan mitos sebelumnya, karena mereka merasa mereka sempurna apa adanya, mereka tinggal ikuti kata hatinya dan terapkan saja ‘kebenaran-kebenaran subjektif’ yang menyukakan telinga mereka. 

Penulis menceritakan bahwa dia mengalami sendiri bahwa dia tidak berhak atas mimpi-mimpinya. Dia merasa dia sangat baik di bidang yang ditekuninya di pekerjaan tetapi itu bahkan tidak cukup untuk menjamin kesuksesannya di bidang tersebut. Sebelumnya dia berpikir bahwa kesuksesan itu terjadi begitu saja dan dengan cara itu dia akan merasa puas atas pekerjaannya. “I thought I was enough to get what I wanted on my own terms, on my own timeline”, katanya. 

Penulis menegaskan beberapa hal penting terkait hal ini berdasarkan firman Allah:

  1. Tidak terlalu penting apakah pekerjaan tersebut ‘bermakna’–jika dimengerti sebagai sesuatu yang dilakukan karena itulah impian kita. Pekerjaan yang baik ialah pekerjaan yang dilakukan untuk Allah dan untuk sesama, memenuhi apa yang menjadi kebutuhan sesama. Dia berkata bahwa dia tidak harus menyukai atau mencintai pekerjaannya untuk menjadikan pekerjaan tersebut baik dan penting. 

Colossians 3:23 says, “Whatever you do, work heartily, as for the Lord and not for man.” We don’t have to have the perfect job to glorify God with our work.

The work that honors him only has to meet three qualifications: it’s done well, it meets a real need, and it contributes to the good of those around us.

Allie Beth Stuckey
  1. Bekerja itu sendiri adalah berkat dan baik adanya karena itulah panggilan Allah untuk manusia pertama di dalam rancangan penciptaan-Nya (Kejadian 2:15). Dosa yang ada dan merusak dunia membuat manusia dipanggil untuk bekerja tetapi tidak dijamin untuk sukses melaluinya. Budaya ‘self-love’ yang ada saat ini membawa manusia kepada 2 ekstrem yang berbahaya. Pertama, bahwa mereka tidak butuh bekerja untuk memiliki hidup yang bermakna. Kedua, pekerjaan kita ialah identitas kita. Sementara firman Allah mengatakan yang berbeda sama sekali: bekerja itu penting, tetapi itu tidak akan pernah cukup untuk memuaskan kita. 

You—your talents, your goal-reaching abilities, your dreams—still aren’t enough. If your plan is to make your success your identity, you’ll end up empty. No person and no role can replace the longing our Creator alone can meet.

Allie Beth Stuckey

Allah yang berdaulat atas hidup manusia berkata bahwa pekerjaan hadir untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan manusia. Selain itu Ia juga menjamin bahwa meskipun pekerjaan kita tidak selalu berhasil atau mencapai kesuksesannya, Dia tetap setia. Dia tidak berjanji bahwa seluruh impian kita akan menjadi kenyataan atau setiap target kita akan tercapai, tetapi dia tetap meminta agar kita taat kepada-Nya dan memberikan yang terbaik di dalam pekerjaan tersebut. Sekalipun itu bukanlah dream job kita. Apapun itu, kita bisa tenang karena kita tahu bahwa kita sanggup melakukan tujuan kita untuk memuliakan Allah melalui setiap peran yang dipercayakan kepada kita di pekerjaan.

Mitos #5: You can’t love others until you love yourself

Mitos ke-5 sekaligus terakhir dari buku ini akibat budaya ‘self-love’ ialah adanya ide bahwa manusia tidak dapat mengasihi orang lain sebelum ia mengasihi dirinya sendiri. Mitos yang beredar ialah bahwa mengasihi diri sendiri merupakan sebuah prerequisite atau prasyarat untuk bisa mengasihi orang-orang di sekitar kita. Menurut penulis, hal ini akan membuat excuse yang baik untuk manusia yang ingin fokus ke dirinya sendiri daripada melihat kebutuhan sesamanya di sekitar. Apalagi jika mereka mengklaim tindakannya tersebut dengan merujuk pada ajaran Yesus Kristus untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. 

Dia mengusulkan ide lain yang lebih baik daripada self-love yaitu ‘self-forgetfulness’. Dia menggunakan buku Timothy Keller berjudul The Freedom of Self Forgetfulness: The Path to True Christian Joy untuk mendukung argumennya. 

In this short and punchy book, best-selling author Timothy Keller, shows that gospel humility means we can stop connecting every experience, every conversation with ourselves and can thus be free from self condemnation. A truly gospel humble person is not a self-hating person or a self-loving person, but a self-forgetful person.

Amazon

Sementara itu, menurut saya, tetaplah penting bagi manusia untuk (belajar) mengasihi dirinya sendiri. Amsal 19:8 berkata, “Siapa memperoleh akal budi, mengasihi dirinya; siapa berpegang pada pengertian, mendapat kebahagiaan.” New English Translations memberi keterangan untuk ‘mengasihi dirinya’ ini sebagai bentuk bahwa dia memerhatikan kebutuhan-kebutuhannya dan mengurus hidupnya sendiri. Selain itu, orang yang mengasihi dirinya berarti menganggap dirinya adalah ‘his/her own best friend’–dalam pengertian karena dialah yang paling mengerti apa yang tepat dilakukannya atas hidupnya. Karena itu, mengasihi diri sendiri di dalam konteks ayat tersebut berkaitan dengan hikmat. Hanya mereka yang memiliki hikmatlah yang sanggup mengasihi dirinya dengan benar.  

Bicara hikmat, tidak mungkin dipisahkan dari takut akan Allah, karena itulah permulaan hikmat dan pengetahuan. Sehingga jika pengertian untuk mengasihi diri sendiri bukan lahir dari hikmat yang seperti ini, sudah pasti itu adalah bentuk-bentuk lain dari keegoisan. 

Takut akan Allah ditunjukkan dengan hidup yang tunduk kepada Kristus, Raja segala raja. Di dalam kerendahan hati dan penyerahan diri seperti inilah kita memahami perintah untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Yesus Kristus, melalui perintah tersebut, mengasumsikan pendengarnya sebagai orang-orang yang mengasihi diri sendiri. Karena itu, sebagaimana mereka mengasihi dirinya, kasihilah sesama yang lain. 

Contoh paling baik untuk menjelaskan bagaimana mengasihi sesama seperti diri sendiri dapat kita lihat di dalam Lukas 10:25-37 tentang orang Samaria yang baik hati. Di dalam perikop ini Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang bertanya untuk membenarkan dirinya setelah Yesus berkata, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” “Siapa sesamaku manusia?”, tanya ahli Taurat itu. Kemudian Yesus menjawab melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Poin dari perumpamaan itu adalah Yesus ingin menunjukkan bahwa mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah seperti orang Samaria yang digerakkan oleh belas kasih untuk menolong orang yang sudah setengah mati setelah dirampok dan dipukul habis-habisan oleh para penyamun. Dia membalut luka-lukanya sesudah menyiramnya dengan minyak dan anggur, menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Bahkan menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan untuk merawat orang tersebut. Kalau dua dinar itu kurang, ia berjanji akan menggantinya ketika ia kembali. Di dalam perumpamaan tersebut, Yesus bertanya kepada ahli Taurat itu, “menurut pendapatmu, siapakah di antara imam, orang Lewi, dan orang Samaria ini yang merupakan sesama manusia dari orang yang jatuh itu?” Dan ia pun menjawab, “orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kemudian Yesus berkata, “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan juga. Namun dosa telah merusak kesadaran itu, sehingga bahkan kita pun bisa saja menginginkan yang buruk terhadap diri kita sendiri. Banyak orang bahkan bunuh diri untuk menghilangkan rasa sakit di dalam hidupnya dan bayangkan jika itu dijadikannya ukuran yang baik untuk memperlakukan orang. Mungkin bunuh diri akan menjadi hal yang lumrah. Karena itu, asumsi Yesus bahwa manusia memiliki kesadaran untuk melakukan yang baik bagi dirinya perlu diterangi oleh Injil keselamatan.

Yesus Kristus telah menunjukkan bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan orang lain. Ia datang untuk melayani, bukan dilayani. Memberitakan kabar keselamatan ialah misi- Nya karena manusia akan binasa oleh dosanya, tanpa iman kepada Kristus. Kasih kepada sesama ditunjukkan-Nya bahkan dengan tidak menyayangkan Diri-Nya sendiri, ketika memang itulah yang harus Ia lakukan agar manusia yang percaya beroleh selamat. Tidak terpikir bagaimana jika Yesus memakai pengertian self-love seperti yang kita miliki di Instagram. Tidak terpikir bagaimana jika Yesus sangat menyayangkan Diri-Nya bahkan nyawa-Nya, dan tidak taat sampai mati di kayu salib demi keselamatan kamu dan saya.

Dengan demikian, menurut saya, pengertian ‘self-love’ yang ada saat ini sangat jauh dari apa yang seharusnya kita perjuangkan yakni: sacrificial-love. Kasih yang rela berkorban. Tuhan Yesus telah menunjukkannya bagi kita. Kita tidak perlu mencari sumber lain untuk mengerti bagaimana kita seharusnya memandang nilai diri kita. Harga yang dibayar untuk menebus kita dari dosa tidak sanggup diganti dengan timbunan emas, perak, atau apapun. Sebab kita ditebus oleh darah Kristus yang mahal dan tidak ternilai harganya. Dengan begitu, kamu tidak perlu kuatir akan kekurangan kasih untuk dirimu sehingga harus melakukan ini dan itu dalam upaya-upaya self-love yang keliru. Kamu diterima dan dikasihi oleh Allah di dalam Kristus. Namun Dia tidak ingin kita berhenti di sana. Dia ingin kita hidup mengasihi Dia dan sesama kita.

Rasul Paulus berkata di dalam Filipi 2:3. “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji- pujian yang sia-sia. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri tetapi kepentingan orang lain juga.”

Murid-murid Kristus dipanggil untuk mengutamakan sesamanya dengan tidak mencari kepentingan diri yang berujung pada puji-pujian yang sia-sia. Sebab self-love sering menjadi alasan kita tidak melayani dengan lebih giat, tidak berjuang lebih keras dalam mengasihi sesama. Karena self-love, kita lebih mengutamakan tidur-tiduran daripada membantu orang tua di rumah atau mempersiapkan pelayanan/pekerjaan dengan baik. Atau, justru self-love menjadi kamuflase untuk self-actualization ketika kita berada di pelayanan atau kegiatan-kegiatan/aktivitas sosial. Kita menjadikan pelayanan rohani dan kegiatan sosial sebagai sarana untuk menutupi insecurities kita atas nama self-love, tapi sebetulnya kita tidak sedang sungguh-sungguh melayani orang lain di sana.

Seperti Kristus yang mengasihi kita bahkan dengan tidak menyayangkan nyawa-Nya sendiri, demikian kita dipanggil untuk mengasihi sesama kita—bahkan jika nyawa pun menjadi taruhannya. Tentu ini adalah standar kasih yang jauh lebih tinggi dari pada apa pun yang pernah dirumuskan manusia. Apakah berat? Tentu. Apakah mustahil? Tidak. 

Sejarah kekristenan telah mencatatkan ada banyak sekali kesaksian bahwa para rasul pun telah hidup dalam sacrificial-love; kasih yang rela berkorban. Hidup di dalam belas kasih yang sangat dalam kepada sesamanya manusia, sampai-sampai kematian pun rela mereka hadapi, karena betapa besarnya kasih yang Kristus sudah berikan kepada mereka. Bagi para rasul yang mati sebagai martir, hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Inilah ajaran yang sangat mengakar kuat di dalam kekristenan. Sayangnya kita sering mengabaikannya atau bahkan memolesnya agar lebih nyaman untuk kita dengar. Kita bersembunyi di balik alasan “aku belum bisa mengasihi diriku, bagaimana bisa aku mengasihi orang lain?”, atau “aku belum bisa mengurus diriku, bagaimana bisa aku mengurus orang lain?”

Banyak orang tidak mau terlibat terlalu dalam di persekutuan/gereja karena merasa belum cukup baik untuk mengurus diri sendiri. Tentu, kita perlu diperlengkapi, perlu belajar, perlu berlatih, perlu hikmat bagaimana menjadi ‘sahabat terbaik’ diri kita sendiri. Namun bukan berarti kita menjadikan alasan ketidaksanggupan diri untuk lari dari panggilan Allah demi kasih dan pelayanan terhadap sesama kita. Mari kita ingat kembali, perintahnya ialah, “kasihilah sesamammu” bukan “kasihilah dirimu sendiri”. Untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, Kristus telah menunjukkan kepada kita ukuran belas kasih terbesar yang pernah ada di dunia. Dengan demikian, mintalah kekuatan dan pertolongan dari-Nya agar dimampukan hidup mengasihi sesama sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Jika mengasihi sesama dipandang sebagai sesuatu yang hanya dapat dilakukan sesudah kita merasa mengasihi diri sendiri maka ada 3 hal yang terjadi: kita tidak taat kepada Allah dengan menolak kebutuhan sesama, sesama kita terlantar di tengah kehadiran kita, dan ketiga, kita melewatkan pengalaman-pengalaman yang akan membawa kita semakin serupa dengan Kristus. 

Anytime we deny our own wants, needs, and priorities to show kindness and share Christ with someone else, we glorify God. And not only do we not have to wait until we’ve accomplished self-love to do it, helping others even when we feel our worst fosters a joy that self-absorption can’t give.

It is through the self-forgetfulness found in Christ and the humility of following his commands that we find life—nowhere else. When we recognize him as God, removing ourselves from the center, we find the “enoughness” we’ve been craving.

Allie Beth Stuckey

Demikianlah komentar ini saya tulis dengan cara saksama dan dalam tempo yang tidak singkat sama sekali. Semoga memberi insight bagi para pembaca budiman. Segala kemuliaan bagi Tuhan!

Not A ‘Murderer’

I agree with John Stott (like, who am I not to) when he said that 1 John is a letter about assurance, a brief book in which the Apostle John outlines (over and over) three signs that confirm what John already knows: namely, that the recipients of his epistles are beloved children of God.

  • The first sign is theological. You should have confidence if you believe in Jesus Christ the Son of God (5:11-13).
  • The second sign is moral. You should have confidence if you live a righteous life (3:6-9).
  • The third sign is social. You should have confidence if you love other Christians (3:14).

Of course these are not the things we do to earn the salvation, but the indicators that God has indeed saved us.

Starting from this chapter (1 John 3:11-24) we will look at the third sign, which of course is a unity with the other 2 signs, whether we are truly believers. You should have confidence if you love other Christians (1 John 3:14).

The lesson on loving others may be very familiar to us that sometimes we feel like we’re done with it and perhaps get a little bit bored. We have a tendency to think there is nothing else we need to respond to the same preaching. We feel like we have given the best response, to the point that it feels like we are done at that part and we can move on to another one. Whatever the reason, we need to be careful if God’s word no longer somehow causes us to be taught, declared wrong, and sadly, trapped in the complacency of our faith.

For the Apostle John, loving one another is essential in the life of a believer and needs serious reflection. He gave two profound examples of what it is not and what it is to love one another through Cain and Jesus Christ. These two examples are in stark contrast to each other.

The first example is about Cain who did not love his brother, Abel, so he killed him. The word ‘kill’ used there also has a very horrible feeling (brutally murdered, or to slaughter) which is more often used for animals. Full of violence and no mercy there. John even adds that Cain’s actions show that he actually came from the evil one. Cain is not of God, not a child of God, as we learned in the previous passage. For those who are of God will do righteousness. There is nothing in between. If it doesn’t come from God, it comes from the devil.

John chose to use Cain as a negative example appears to show that, apart from God, even one’s own siblings could commit such a heinous crime. No wonder that for the Jews and early Christians, Cain was often used as an example of how people behaved from the evil one. Humans can be that depraved without God.

Why did Cain kill Abel? This passage explains why: “And why did he murder him? Because his own actions were evil and his brother’s were righteous.” What does it mean? In the light of 1 John, we are familiar with the way John explains that a person’s deeds are the evidence of someone’s faith. Therefore, it seems that John just wants to emphasize once again that Cain and all his evil deeds are a man of the evil one, and Abel, with all his righteous deeds, is a man of God. Hebrews 11:4 even mentions that “by faith Abel offered God a greater sacrifice than Cain, and through his faith he was commended as righteous, because God commended him for his offerings.”

The evil one cannot stand it if the truth is being shown. The evil one will be disturbed to see the righteous doing something in line with Christianity. So the negative examples through Cain shouldn’t make us feel, “oh okay, I never really wanted to kill anyone, then I’m safe from this lecture.” Don’t we sometimes have a spirit like Cain? We hate those who are more righteous than ourselves. Therefore when we face our neighbor who shows us our sins or faults, we are uncomfortable. In fact, it is difficult for us to accept rebukes and process them with thanksgiving. “Wow, I need to learn more in this section. I need to grow and mature in this aspect.”

When the truth of God’s word conveyed by others is faced with our mistakes and omissions, there is always a desire to defend ourselves and justify ourselves. Some generations don’t like being compared to other generations. Some generations feel that what worked in their day must work in the same way today. So what will be blurry after these two tensions is the biblical truth—and that’s what the devil likes.

The devil can use any means to deceive believers. Jesus said the devil is the father of lies. He doesn’t like the truth. And do we realize that the fellowship of believers is the most disturbing place for the devil? Why? Because through a strong bond with each other, the truth of the Word learned together can be more strongly expressed. If someone is weak in understanding the Word, there is a spiritual sister/brother who will teach them. They will sharpen each other according to God’s truth. The fellowship with believers is a place where it seems that the devil will work harder to obscure God’s word.

We may not kill each other. However, we can cultivate the spirit of Cain with hatred which is actually quite similar to killing. Remember when we find it hard to love certain people. Ain’t we sometimes hope not to see that person? It feels like life is better if you don’t meet him or don’t see him. In short, it’s better not to have him around than to suffer all the time to love them. We are not murderers, but we hate their presence around us—because we don’t love them the way we should. I remember this saying I heard years ago, “I don’t hate you. I am just not necessarily excited about your existence.” You know, that’s the spirit of Cain.

Later on, it says, “don’t be surprised if the world hates you.” The word ‘world’ means something contrary to God—which is not from God. It is the clear consequence that will be experienced by God’s children who continue to strive to love and show the truth in their lives. Isn’t that what we see in the history of Jesus Christ’s ministry, where He was even rejected by His own because He had a different definition of love than they wanted? Isn’t that also what we see in the ministry of the apostles? They were hated and killed because they loved people so dearly that this world can’t understand. So dearly that the only way to do it is to share the Gospel so they will be saved from the eternal judgment. Your love for the truth, for people, is so disturbing that somehow this wicked world will hate you because of it.

And we often think we can make a different deal with the world. We messed up the truth and love. We don’t take the right path because it’s hard to do both and prefer one over the other. We adopt a world-view of loving others which is actually half-true of what the Lord Jesus taught us.

Verses 14-15 says, “We know that we have crossed over from death to life because we love our fellow Christians.The one who does not love remains in death. Everyone who hates his fellow Christian is a murderer, and you know that no murderer has eternal life residing in him.”

In evangelism, we need to preach the Gospel, so they will be saved by grace, through faith, transferred from death to life. So that loving others becomes something that appears in the lives of those we evangelize. Even if they don’t kill, they long for the presence of the most unlovely, undeserving, and ungrateful brothers and sisters around them. In discipleship, for those of us who are continually being discipled and making disciples. Let’s ask God’s help, so our lives continue to radiate love for others with a quality that is renewed day by day; become the living testimony that we are God’s children who have been given eternal life.

After giving a negative example through Cain, the Apostle John then invites us to look at the positive example of Jesus Christ himself. We will look at the quality of love for neighbor that should emerge in the believer.

Verses 16-17, “We have come to know love by this: that Jesus laid down his life for us; thus we ought to lay down our lives for our fellow Christians. But whoever has the world’s possessions and sees his fellow Christian in need and shuts off his compassion against him, how can the love of God reside in such a person? But whoever has worldly possessions and sees his brother in need but closes the door of his heart to his brother, how can the love of God remain in him? My children, let us love neither in word nor with the tongue, but in deed and in truth.

Instead of taking His brothers’ lives, Jesus gives His own life to them, so they live. Jesus Christ was hated but He still loved them. He still loves me. He still loves you. That’s how we learn that we are not called to love those we think we can love only. Even our enemies are the recipients of love with the quality that is equal to our own lives. Therefore, we will not know what true love is outside of Christ.

When I listen to BTS’s speech and songs about love, there is a kind of confusion to find out where the true one is. By the way, I am their fan. BTS was invited by UNICEF to speak in the Love Yourself campaign. BTS themselves have started their Love Myself campaign with their albums. 

What kind of confusion is depicted in the songs? They realize that they need to love themselves to know how to look at life properly and to love others. So far, it seems that it is in line with the truth of God’s word. But then, they think they find the answer through music, through this universe, through their fans, and so on. They think it is music that primarily makes them known, recognized, and therefore valuable.

But, true love is only found in Jesus Christ. Our ability to see ourselves right, to love ourselves right, never starts with anything but Jesus Christ. The life He gave is what makes us live and function as He created us, for His glory. Other than that, there will always be inconsistencies in our lives. Like BTS who later said to their fans, “Thank you for loving us. It looks a bit like we use you to love ourselves. So please use us to love yourself.”

While this may seem very romantic, it actually shows that apart from Christ, love for other people will look like a trade-off. We seem to use those who love us to love ourselves, thinking it is how we produce the seeds of love within us. In fact, we will only have exclusive love, only to those we like and find beneficial. We will also have this tendency to close our hearts to those who hate us.

What is interesting? Many of this generation are deeply comforted and strengthened by their songs that speak of this kind of love. Some people even confess that they stopped suicidal thoughts because they finally felt loved through BTS songs.

What does it mean? This generation, like other generations, is in desperate need of true love, unlike a profit-and-loss transaction. Something that will make us continue to love even though we can’t get anything in return–and we think we had found it somewhere else and not in Jesus Christ.

When I listen to their songs, I amazingly reflect on Jesus Christ, who loves me and makes me convinced that I am known, seen, and acknowledged by the Owner of this life. I don’t need anyone’s approval to feel accepted and loved because Jesus Christ has shown me very clearly how much I am loved. But most people who listen to their songs have not heard that the answer to what they are looking for is in Jesus Christ only.

We won’t know what love truly is apart from Jesus. Of course, we can’t love one another as we should, apart from Him.

What’a next? Loving our neighbor as Christ loved us asks us to die to ourselves. Even though life is difficult, we are carrying various wounds, the burdens of life are crushing, the calling remains the same: love one another. Love those who will even take advantage of you without using them back, not because you can’t, but because you don’t want to.

The Apostle John makes a very concrete application of love for one’s neighbor that is not comparable to what Christ gave previously. If you have worldly possessions and see that your neighbor suffers from a need, but you close your heart and refuse to help them, it is doubtful that you have experienced God’s love through Christ’s sacrifice. The point is, to love others is to love them in deeds and in truth. Not always asking for our lives right away, but never less than that.

We need to constantly ask God how we can help our neighbors. Sometimes it’s not that we refuse to be generous, but we don’t know there are actually people who need our generosity around us. Because it turns out that our heart is closed to them—especially those we find hard to love. We enjoy our individual life too much and we become so ignorant.

Verses 19-24 says, “This is how we know that we belong to the truth and how we set our hearts at rest in his presence: If our hearts condemn us, we know that God is greater than our hearts, and he knows everything. Dear friends, if our hearts do not condemn us, we have confidence before God and receive from him anything we ask, because we keep his commands and do what pleases him. And this is his command: to believe in the name of his Son, Jesus Christ, and to love one another as he commanded us. The one who keeps God’s commands lives in him, and he in them. And this is how we know that he lives in us: We know it by the Spirit he gave us.”

This is the conclusion of what we have learned earlier. If we love one another, we have confidence before God that we are children of God, people of God, and God dwells in us. Our love for others is God’s work through His Spirit. It is also the basis of our courage to come and pray before God to wait for Him to reveal His will through us. Therefore, our presence should help people around us to grow and bear fruit in their love for others. And that is very possible because the all-powerful God dwells in those who believe in Christ.

This generation needs true love, and in fact, needs to love one another with biblical understanding. Please show them you don’t have the spirit of Cain–you are not a ‘murderer’.

Soli Deo Gloria.