Semua Karena Keripik Pisang

Ini adalah cerita tentang pengalaman saya menjalani operasi kecil pencabutan gigi yang diakibatkan oleh kebanyakan makan keripik pisang. Saya akan berusaha menceritakannya sesingkat dan sejelas mungkin. Bersiaplah, jika akhirnya tidak singkat dan agak kurang jelas. -_-


Beberapa tahun lalu gigi geraham bungsu sebelah kiri saya mulai tumbuh. Tumbuhnya tidak sakit, hanya ngilu-ngilu sedikit. Menurut beberapa orang, tumbuhnya gigi geraham bungsu akan menimbulkan rasa sakit yang cukup mengesalkan, namun saya rasa hal itu tidak terjadi pada saya. Memang ada hal yang sedikit aneh ketika gigi itu tumbuh: dia seperti tidak bisa keluar sepenuhnya karena ada gusi di atasnya. Akhirnya, gusi itu pun seperti sedikit menutupi permukaan mahkota gigi geraham bungsu saya. Saya pengen kasih gambarnya, tapi lebih baik tidak. Ngeri.

Saya tidak pernah terlalu peduli dengan kondisi itu karena saya nggak ngerasain ada gangguan apa pun juga (meskipun sebenarnya gusi yang menutupi geraham tadi semacam bisa dibuka-buka kayak tudung saji gitu, kebayang nggak?). Pengabaian itu berlangsung sampai beberapa waktu lalu terjadilah hal yang tidak diinginkan.

Ceritanya saya lagi makan (((keripik pisang))) super keras, lebih keras dari kehidupan ini. Makannya cukup banyak. Pas lagi ngunyah, rasanya seperti ada yang sakit gitu, tapi saya biarin aja. Saya tetap makan dengan bersemangat. Pesona keripik pisang memang luar biasa. Keesokan harinya, saya ngerasa gusi sebelah kiri saya tadi sakit dan agak bengkak, tapi lagi-lagi, saya biarin begitu saja. Hari berikutnya bengkaknya pun mulai membuat khawatir, sampai kelihatan dari luar pipi kiri–semacam ada buah sawo nempel di dinding mulut. Males banget :{

Akhirnya saya cuma minum ponstan. Saya nggak kepikiran macem-macem karena…ya elah gusi bengkak mah biasa. Yang bikin saya khawatir sebenarnya 2 hari ke depan saya akan memimpin ibadah alumni dan gimana coba kalau gusinya makin bengkak. :”( Saya nggak mau disangka lagi makan mic…

Saya tetap latihan walaupun dengan kondisi gusi bengkak dan pipi agak gembung (biasanya juga gembung sih). Saya berdoa sama Tuhan; yang saya minta cuma supaya gusinya nggak bengkak lagi waktu saya mimpin ibadah nanti. Tuhan mengabulkan doa saya dan beneran deh, gusinya nggak bengkak (bahkan nggak ngilu sama sekali) di hari Jumat itu–hari di mana saya harus memimpin ibadah. Memang Tuhan bisa aja. Ajaib.

Lalu saya mulai merasa di atas angin. Hari Sabtunya saya memutuskan untuk makan McD, minum es krim, dan minum chatime–tanpa saya sadari ternyata gusi tadi belum sepenuhnya sembuh–dan saya tidak berhati-hati ketika mengunyah sehingga gigi atas saya berulangkali menggigit gusi saya tersebut dan jadilah di hari Minggunya pipi saya gembung lagi. *hosh* *tarik napas* *panjang juga* Saya sedih.

Sakit kali ini berbeda dengan yang kemarin–ini lebih parah. Kalau yang kemarin saya masih bisa latihan alias harus nyanyi-nyanyi tanpa gangguan berarti, kali ini bahkan untuk membuka mulut pun rasanya cukup sakit. Tetapi saya memang susah dibilangin, saya malah tetap makan Ikkudo Ichi pedas dan panas serta minum ocha dingin. Saya pikir tidak akan terjadi apa-apa.

Hari Rabu pagi–hari pertama libur lebaran kantor saya–saya mendapati pembengkakan gusi tadi semakin menjadi-jadi; kali ini disertai darah dan ada bagian yang sudah menghitam. ūüė• Saya histeris karena saya juga ngeri melihat gigi geraham bungsu tadi seperti akan tenggelam karena ditutupi gusi yang semakin membengkak. Saya langsung berpikiran yang aneh-aneh. Hari pertama libur pun saya jalani dengan konsultasi ke dokter gigi di bagian periodental Paviliun Khusus RSGM UI Salemba (hasil rekomendasi teman saya).

Konsultasi di bagian periodental – Paviliun Khusus RSGM UI Salemba

Mulut saya dibuka lebar-lebar–saya tidak pernah ingat pernah membuka mulut selebar itu–ya iyalah–dan dokter pun memeriksa bagian gusi yang bengkak. Beliau mengatakan bahwa terjadi infeksi di gusi saya yang diakibatkan oleh terlalu tajamnya gigi bagian atas yang sejajar dengan gusi itu sehingga ketika mengunyah, akan terasa sakit karena mereka bersinggungan. Dokter juga bilang tumbuhnya gigi geraham bungsu di balik gusi itu sebenarnya tidak pada posisi yang tepat karena ruangan yang sempit sehingga dia membuat gusi saya membengkak. Berdasarkan rekomendasi dokter, saya diminta melakukan observasi dulu selama seminggu sambil menggunakan obat kumur Tantum Verde sepanjang observasi. Jika masih sakit, maka saya harus menjalani operasi kecil pencabutan gigi geraham bungsu. Katanya, harus ada sedikit gusi dan sedikit tulang yang dipotong. Saya ngeri membayangkannya.

Tapi saya tidak puas. Saya merasa lebih baik sekarang saja dioperasi. Di sisi lain saya memilih mengikuti kata dokter untuk observasi dulu selama seminggu ini. Tiba-tiba saya kepikiran untuk scalling gigi karena sudah lama tidak scalling. Ya, biar sepulangnya dari RSGM ini ada sesuatu yang signifikan terjadi di rongga mulut saya. Dokter itu pun mengizinkan scalling keseluruhan gigi saya dan saya bisa pulang dengan sedikit bahagia.

Sesampainya di kost, saya makan nasi padang yang saya sudah beli sebelumnya. Bisa-bisanya saya berani memutuskan untuk makan nasi dan rendang yang pedas itu. Saya nggak habis pikir. Jangan ditiru ya. Akibatnya gusi saya makin pedih. Saya mencoba menggunakan obat kumur tadi dan berharap ada sesuatu yang signifikan terjadi, misalnya, gusi saya langsung kempes dan sakitnya hilang–ha ha ha–bercanda.

Sore harinya, kondisi gusi saya bukan membaik, malahan memburuk dan saya menyaksikan sendiri ada darah keluar dari bagian gusi yang bengkak itu. Saya makin histeris dan akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi kecil keesokan harinya. Apalagi setelah berkonsultasi dengan teman-teman saya yang lulusan FKG UI, kondisi gusi karena gigi impaksi (itu namanya) tadi memang cepat/lambat akan menimbulkan keluhan dan mau tidak mau harus tetap dilakukan pencabutan gigi yang impaksi. Saya mengumpulkan keberanian karena… pertama kali dalam hidup ini, saya berurusan dengan dokter dan rumah sakit, harus operasi (meskipun namanya operasi kecil), lalu… jauh dari orang tua dan keluarga. Saya bersyukur Gohan mau nemenin saya untuk operasi dan bahkan ngebawain makanan buatan mamanya untuk saya makan di hari operasi itu. Katanya saya akan kesulitan makan setelah operasi sehingga sebelum operasi dilangsungkan saya harus makan yang banyak.

Operasi Kecil di Bagian Bedah Mulut Residen RSGM UI Salemba

Yang paling saya takutkan adalah saya tidak bisa menahan kengerian yang divisualisasikan otak saya sepanjang proses operasi berlangsung.

“Yak.. kita potong dulu ya Mbak gusinya sedikit…”

“Sekarang kita mau potong tulangnya sedikit dulu ya Mbak…”

“Nah udah deh, sekarang kita mau cabut giginya ya Mbak…”

Saya ngeri membayangkan itu di kepala saya. Saya menangis di sepanjang operasi karena saya takut mereka tidak memberikan obat bius yang baik, peralatannya tidak steril… atau mereka salah potong. ūüė• Bukan underestimate sih, tapi namanya manusia bisa aja salah, kan…

Saya berdoa sama Tuhan dan berharap Tuhan yang lancarkan proses operasi ini dan memberikan dokter terbaik, peralatan terbaik, dan obat bius terbaik untuk membawa kebaikan dan kesembuhan bagi saya. Saya juga berdoa supaya Tuhan memberikan obat anti radang dan antibiotik terbaik untuk saya supaya gusi saya tidak membengkak pasca operasi. Saya tidak tahu proses biologisnya, yang saya tahu dan saya mau, jangan sampai ada pembengkakan dan jangan ada rasa sakit yang terlalu menyedihkan pasca operasi. Tuhan tahu banget saya ngeri membayangkan kalau sampai pembengkakan itu terjadi karena 5 orang yang saya tanya (yang pernah mengalami hal yang sama dengan saya) bilang bahwa mereka selalu mengalami pembengkakan pasca operasi. Sebenarnya adalah hal yang wajar sebagai reaksi dari tubuh.

Pasca Operasi

Efek anestesi masih terasa selama beberapa hari ke depan (disuntikkan cukup banyak karena saya nangis kesakitan mulu katanya) sehingga saya masih bisa makan tanpa keluhan yang cukup berarti. Hanya sedikit perih kalau bagian bekas operasi tadi terkena minuman/makanan. Tapi saya tetap cuma bisa makan yang lembut, dingin, tidak pedas dan tidak asam. Sulit banget untuk nyari makanan yang seperti itu di tengah bulan puasa kemarin. Yang bikin sulit sebenarnya entah kenapa nafsu makan saya tidak berkurang sama sekali. Bahkan meningkat. ūüė•

Saya terus memerhatikan manakala ada pembengkakan yang tidak diinginkan pasca operasi ini seperti yang teman-teman saya bilang. Ternyata, tidak ada pembengkakan sama sekali sampai saya kembali ke RSGM UI untuk buka jahitan. Saya jadi bingung. Saya bertanya ke dokter yang menangani operasi saya, ke teman-teman FKG saya, dan bahkan ke teman saya yang dokter umum–apakah kondisi yang saya alami ini termasuk wajar atau malah ada sesuatu yang aneh. Saya bersyukur dari jawaban mereka sebenarnya kondisi saya adalah hal yang wajar yang bisa terjadi jika memang peralatan yang digunakan ketika operasi steril, tidak terlalu banyak gusi/tulang yang dipotong–sehingga radangnya sedikit, obat anti radangnya bagus, antibiotiknya bekerja dengan bagus, dan tentunya sanitasi di rongga mulut yang juga bagus (saya jadi ingat sebelumnya saya memutuskan untuk scalling gigi dan saya benar-benar teratur kumur-kumur).

Selain karena hal-hal itu, saya percaya bahwa pemulihan gusi saya terjadi karena Tuhan sendiri yang bekerja bersama segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi saya. Saya masih ingat doa yang saya ucapkan di setiap pagi dan malam pasca operasi,

“Tuhan, buatlah obat anti radang dan antibiotik ini bekerja dengan bagus supaya bekas operasi ini bisa pulih dengan cepat tanpa menimbulkan rasa sakit yang parah. Tuhan, aku takut kalau sampai bengkak, itu pasti sakit banget, kan? Karena itu, sepanjang biusnya masih ada, tolong Tuhan percepat regenerasi tulang dan gusi yang dipotong tadi serta beberapa luka yang disebabkan sepanjang operasi tadi. Berikanlah sel terbaik untuk mengganti apa yang sudah dipotong tadi dan izinkanlah aku mengalami kesembuhan total dengan cepat. Aku percaya, Tuhan yang membentuk setiap sel dalam tubuhku dan Tuhan pasti tahu cara untuk memulihkannya dengan sempurna seperti sedia kala.”

Begitulah kira-kira. Saya memang khawatir sekali pasca operasi kemarin. Mungkin berlebihan bagi sebagian orang–tapi saya bersyukur memiliki Tuhan yang mengerti kekhawatiran saya & memberi kelegaan untuk saya. Tuhanku baik! :’) Puji Tuhan.

Sekarang

Saya makin memerhatikan kebersihan rongga mulut saya. Saya tidak mau lagi membiarkan keluhan/keanehan di gusi/gigi yang mungkin akan saya rasakan di depan nanti. Saya juga makin memerhatikan apa yang saya makan dan minum karena selama ini saya sudah mengabaikan kesehatan gigi dan gusi saya,

…dan kini, saya tidak bisa lagi memandang keripik pisang dengan cara yang sama.

Monolog

“Udah mau 1 Juni, nih. Udah jadi nulis buat Hari Pancasila?”

— Gohan Parningotan.


Aku bimbang, apakah aku harus menulisnya sekarang di kala pengetahuanku belum cukup untuk menulis tentang Pancasila sesuai dengan tujuan dan poin-poin sasaran yang ingin kubahas, ataukah aku tunda saja dan membiarkan momentum hari lahirnya Pancasila di tahun ini berlalu?

Tanpa perlu berlama-lama, nurani langsung menyuarakan maksudnya.

“Tidak usahlah menulis untuk tepat 1 Juni ini. Bukankah kau baru saja kepikiran beberapa hal lain yang mau diriset dan dianalisis lagi tentang Pancasila? Lagian, kalau mengandalkan buku-buku itu saja, tulisanmu nanti tak ubahnya salin-tempel saja. Sedihnya, kau sendiri belum paham betul. Kau juga masih menyisakan banyak halaman yang belum dibaca, kan? Keputusan terbijak yang bisa kauambil adalah menundanya. Kalau kau memaksakan menulis sekarang dengan waktu hanya 1 hari, kurasa kau hanya ingin mengejar ‘target’ dan momentum. Kasihan pembaca, 5 menitnya terbuang dengan tidak terlalu berkualitas. Sekalipun ini momen yang baik untuk menulis tentang Pancasila, hati-hati, jika terlalu kaku pada prinsip ini, kau tidak menganggap hari dan momen lain juga baik untuk membahas Pancasila. Hati-hati, semangatmu hanya semangat rutinitas perayaan. Padahal jauh sebelum Pak Jokowi protes soal terlalu monoton dan rutinitasnya kita, Bung Karno sudah mengingatkan dunia tentang itu di tahun 1960.

Lagi, kamu punya kesempatan untuk membaca-baca terlebih dahulu ulasan orang-orang terkait hari Pancasila nanti–percaya deh, pasti akan ada banyak tautan yang akan mengarahkanmu ke sana. Setelah kaubaca, kau bisa berusaha menambal lubang yang masih ada dari tulisan-tulisan mereka. Bukankah dengan begitu, kalian semua akan saling memperlengkapi? Asalkan kau tidak merasa tulisanmu yang paling benar. Sebab, perasaan paling benar seperti ini, berbahaya. Kau sudah lihat sendiri buktinya.

Selain karena alasan-alasan tersebut di atas, kau juga masih belum beres dalam menilai dan merespons tekanan. Kau tidak ingat kemarin kau baru saja bercerita panjang sambil menahan tangis yang akhirnya membuatmu sesak, tentang beberapa tekanan yang kaurasa? Tidak ingat berapa banyak kau mengeluh, marah, dan begitu egois kemarin? Iya, aku tahu, kau masih bingung apakah kondisi seperti ini adalah kondisi yang benar yang harus tetap kausyukuri dengan cara yang tepat, ataukah ini pertanda bahwa kau harus menghindari tekanan-tekanan seperti itu–entahkah kau harus berontak, atau pergi saja. Aku tahu kau bingung. Maka dari itu aku tak menyarankanmu untuk menulis di tengah tekanan dan kebingungan seperti itu. Apalagi kau punya topik yang kompleks seperti ini untuk ditulis. Jangan, tidak usah menulis dulu. Aku takut, kau menulis sebagai bentuk pelarian diri dari prioritas yang sesungguh-sungguhnya harus kauselesaikan. Aku takut, pikiranmu tidak jernih, tidak logis, dan tidak rendah hati dalam menulis nanti. Lagi-lagi, kasihan pembaca.

Wah, barusan lagi otakmu berargumen, “kau tidak sedang mengejar kesempurnaan pada tulisanmu nanti, kan?” Kau mau tahu jawabanku? Aku tidak akan pernah menjadi sempurna di dunia ini, pun tulisan-tulisanku juga demikian. Tetapi kalau kubilang aku mau mengejar kesempurnaan, itu berarti sebaik-baiknya aku menulis apa yang sesuai dengan maksud dan tujuanku, itu saja. Tidak perlu lagi berdebat soal kesempurnaan. Kau tidak sadar, memperdebatkan kesempurnaan berarti kau membuka ruang bahwa tidak ada satu cacat pun yang terjadi di dunia ini? Belum lagi berbicara tentang apa yang menjadi standarmu tentang kesempurnaan. Bagaimana bisa manusia yang tidak sempurna membuat standar tentang kesempurnaan? Atau jangan-jangan, kau merasa sempurna? Baiklah, otak, kau sudah tahu jawabannya sekarang. Aku hanya mau belajar lagi saja. Oh, ya. Juga, bersabar. Kau tahu karya yang dibuat dengan terburu-terburu sebenar-benarnya tengah melukai pembuatnya?

Lalu, apakah ini pembenaran bahwa aku gagal menulis hari ini? Bukan, ini adalah alasan mengapa aku gagal menulis hari ini. Aku bisa saja memaksakan diri. Tetapi untungnya, aku masih mau mengedukasi diri sendiri. Aku sadar, aku ini impulsif. Maka dari itu aku selalu waspada manakala monolog semacam ini tidak terjadi di jiwaku. Demikian juga bagi setiap orang, siapa pun yang mengaku manusia di dunia ini. Usahakan selalu berpikir dan memikirkan ulang sebelum melakukan apa pun, termasuk berkata-kata. Kita harus menguji segala sesuatunya, termasuk apa yang hendak kita perkatakan. Ujilah, ujilah dirimu, keinginanmu, motivasimu, ambisimu. Uji, ujilah ilmumu. Kendalikan dirimu. Kasihan pembaca jika tidak mendapat pengetahuan yang benar dari tulisanmu. Jika ia tidak mendapat arahan emosi yang tepat dari ulasanmu. Jika sudah demikian, tekunlah di dalam kesemuanya–dalam saling mencintai satu dengan yang lain: kau dan mereka yang akan membaca. Iya, kau tak pernah tahu seberapa baik tulisan bisa menjadi caramu mencintai. Mungkin juga, menjadi alasan mengapa kau dicintai.¬†

Kalau pun kau harus memaknai hari lahirnya Pancasila dengan bermonolog seperti ini, berterima kasihlah pada semesta dan Pencipta.

Monolog ini adalah inisiatif dan cara-Nya untuk memenuhi ‘kebutuhan’-mu (mungkin juga orang lain) hari ini.

Mazmur 131 dan 138: Kerendahan hati, Pengharapan, dan Iman Pak Ahok akan Janji Tuhan

605548_620
Sumber: Tempo

Saya memutuskan untuk mempelajari dan merenungkan firman Tuhan dalam Mazmur 131 dan Mazmur 138–Mazmur mana yang ayat-ayatnya dikutip oleh Pak Ahok dalam suratnya dari Rumah Tahanan Depok kemarin (Minggu, 21 Mei 2017).

Saya memutuskan untuk belajar dari kesaksian Pak Ahok tersebut pada hari kenaikan Tuhan Yesus Kristus ini–hari di mana pada masa itu Yesus juga berpesan kepada murid-murid-Nya untuk menjadi saksi bagi-Nya sampai ke ujung dunia.

Mari kita mulai!

[Teman-teman bisa sambil mendengarkan lagu (seperti) Doa Kami РTrue Worshippers untuk mengarahkan emosi teman-teman ke perenungan akan kondisi bangsa Indonesia dan orang-orang di dalamnya.] 

Mazmur 131

  1. Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. 
  2. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
  3. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Mazmur 131 ditulis oleh Daud, seorang Raja Israel yang sangat berjaya di zamannya. Mazmur ini termasuk ke Buku V (terdiri atas Pasal 107-150) dalam pembagian kitab Mazmur. Pasal 120-134 dimulai dengan kata-kata “Nyanyian Ziarah” atau¬†“Songs of Ascent”; disebut juga¬†nyanyian pendakian. Kemungkinan para pemazmur dalam pasal-pasal ini (termasuk Daud) menyanyikannya dalam perjalanan (pendakian) menuju Yerusalem untuk festival keagamaan¬†tahunan umat Yahudi.

Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul “Menyerah kepada Tuhan” untuk pasal ini; judul yang jelas untuk menunjukkan kondisi dan kedalaman hati Daud pada saat itu. Menurut saya, tinggi hati¬†dan¬†sombong¬†dalam ayat 1 identik dengan suatu sikap hati yang menganggap diri lebih hebat (superior) dari orang lain; juga sikap hati menafikan keberadaan dan kehadiran Tuhan di dalam hidup seseorang.

Hm, pernah dengar istilah,¬†“biar miskin, yang penting sombong?”¬†atau,¬†“biar jelek yang penting sombong?”¬†Saya sering mendengar itu di kantor, hahaha. Kalimat-kalimat ini sering diucapkan oleh rekan-rekan saya sebagai semacam sinisme terhadap diri sendiri. Misalnya, seorang rekan senior di kantor pernah bilang bahwa dia tidak akan sekali-kali menerima bantuan orang lain untuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan pernikahannya–meskipun nggak sanggup, yang penting sombong dulu. Memikirkan perkataan itu, mungkin saja¬†tinggi hati dan sombong dapat juga diartikan dengan sikap hati yang tidak mau mengakui keterbatasan dan ketidakmampuan diri–munculnya sikap¬†overestimate¬†terhadap kemampuan diri sendiri. Begitulah kura-kura. Boleh setuju, boleh tidak. Yang penting kita tetap bersaudara.

Dalam pasal ini Daud mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang seperti itu. Dia mengaku di hadapan TUHAN bahwa dia bukanlah orang yang tinggi hati atau pun sombong. Melanjutkan¬†pengakuannya tersebut, Daud juga menyatakan bahwa dia tidak mengejar hal-hal yang¬†terlalu¬†besar atau¬†terlalu¬†ajaib baginya, karena dia tidak mampu–itu tidak¬†sesuai dengan kapasitasnya. Daud sadar dan realistis terhadap dirinya. NET Bible menerjemahkan bagian ini demikian, “I do not have great aspirations, or concern myself with things that are beyond me.”¬†Daud tidak punya cita-cita besar yang terlalu sulit baginya atau pun menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang di luar jangkauannya.

Lalu, apa yang dilakukan Daud? Apa yang ia sibukkan?

Sesungguhnya, Daud telah menenangkan dan mendiamkan jiwanya. Mungkin ada banyak hal yang membuat jiwanya ‘berisik’. Mungkin ada banyak hal yang ‘menggoda’ Daud; banyak hal yang seolah-olah meminta dipikirkan dan dikejar oleh Daud. Namun di titik ini, Daud tahu dia tidak mampu, maka dia memilih menenangkan dan mendiamkan jiwanya. Keputusan yang diambil Daud merupakan salah satu tanda kedewasaan sekaligus kerendahan hatinya. Tidak banyak orang bisa mengenal kemampuannya dan mengakuinya di hadapan Tuhan. Tidak banyak orang berpikir bahwa menenangkan dan mendiamkan jiwa juga merupakan pilihan. Gambaran yang diberikan Daud di sini adalah seorang bayi yang berbaring di dekat ibunya; seperti itulah jiwa Daud. Begitu tenang seolah belum mengenal keruwetan dunia.

Ayat ke-3 dalam pasal ini menunjukkan apa dan siapa yang menjadi ‘sandaran’ Daud untuk ‘berbaring’–ke mana ia menenangkan dan mendiamkan jiwanya, sebagaimana digambarkannya pada ayat sebelumnya. Dialah TUHAN, kepada siapa Daud dan seluruh umat Israel sepatutnya berharap tidak hanya saat ini melainkan selama-lamanya.

Perhatikan baik-baik, Daud punya ‘pelarian’ yang tepat di tengah kondisi yang ia alami. Dia tahu bahwa hal-hal yang terlalu besar maupun terlalu ajaib untuk dirinya bukanlah sumber pengharapan bagi jiwanya. TUHAN yang menjadi sumber pengharapan Daud pun dipercayainya sebagai TUHAN yang penuh kasih sayang dan kepedulian, serta yang begitu menenangkan, layaknya seorang ibu.

Dari 3 ayat di atas saya belajar pentingnya memiliki kerendahan hati untuk mengenal kemampuan diri sendiri dan mengakui keterbatasan diri–serta apa yang harus kita lakukan dalam merespons hal tersebut. Orang yang seperti ini tidak lantas berhenti di situ, dia perlu menenangkan jiwanya di dalam Tuhan yang menjadi tempat berharap bukan hanya pada saat ini melainkan untuk selama-lamanya.

Mazmur 138

  1. Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.
  2. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
  3. Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
  4. Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu;
  5. mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.
  6. TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.
  7. Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku.
  8. TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Mazmur ini juga ditulis oleh raja Daud. Bedanya, kali ini bukan merupakan nyanyian ziarah. 

Mazmur ini dimulai dengan kerinduan Daud untuk bersyukur dengan segenap hati kepada TUHAN dan sujud ke arah bait-Nya yang kudus dan memuji Dia. Dikatakan juga bahwa Daud akan bermazmur bagi TUHAN di hadapan para allah dunia ini. Bisa jadi allah dunia yang dimaksud Daud adalah para raja lain, hakim-hakim lain, maupun patung-patung dan berhala yang ada di masanya.

Daud melakukan hal-hal tersebut karena TUHAN menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya kepada Daud; sebab TUHAN menjawab seruan dan doa Daud yang membuat kuasa nama TUHAN dan janji-janji TUHAN nyata di dalam hidupnya. Menarik bagi saya, ketika Daud menyatakan bahwa jawaban doa dari TUHAN tidak hanya berisi penggenapan janji melainkan juga kekuatan rohani yang ditambahkan kepada jiwanya. 

Daud berharap bahwa kesaksiannya akan kebaikan dan kehebatan TUHAN yang menjawab doanya akan membuat raja-raja lain juga bersyukur kepada TUHAN dan bahkan memuji TUHAN karena kemuliaan TUHAN telah nyata bagi mereka.

Di bagian berikutnya Daud menyatakan bahwa meskipun TUHAN itu ‘tinggi’; begitu mulia¬†dan hebat, Dia tetap memerhatikan orang-orang yang hina dan bahkan mengenal orang yang sombong dari jauh. Inilah keyakinan iman bahwa TUHAN tidak tidur.¬†Keyakinan Daud akan TUHAN yang seperti ini membuatnya percaya bahwa TUHAN akan membangkitkannya di tengah kesesakan dan bahkan menolong dan melepaskannya dari amarah musuh-musuhnya.¬†TUHAN akan menyelesaikan semua pergumulannya bagi Daud; TUHAN yang akan berperang untuknya, Daud akan diam saja. Sekali lagi di penutup pasal ini Daud menyatakan bahwa kasih dan kesetiaan TUHAN adalah untuk selama-lamanya.


Setelah membaca dan merenungkan kedua bagian ini tampaknya bukanlah suatu kebetulan jika Pak Ahok mengangkat 2 ayat dari pasal-pasal ini dalam merespons kejadian yang menimpanya dan situasi yang sedang dihadapinya. Pada bagian pertama dia mengisyaratkan kepada bangsa ini bahwa sesungguhnya apa yang sekarang terjadi di luar kemampuan dan kapasitasnya. Saya terharu sekali membayangkan pergumulan hati Pak Ahok ketika memutuskan untuk menyatakan bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang dapat diandalkannya di tengah pidana penistaan agama yang dijatuhkan atasnya. Dia¬†seolah-olah mau bilang bahwa dia tidak bisa mengharapkan¬†banding¬†yang akan diajukannya nanti. Dia memutuskan untuk mundur dari ‘kebisingan’ kasus ini dan memilih mendiamkan dan menenangkan jiwanya di balik jeruji besi–dalam pangkuan Tuhan yang diyakininya tetap mengasihi dan peduli padanya. Tuhan, satu-satunya yang diharapkannya.

Selanjutnya saya membayangkan bahwa Pak Ahok mengimani janji Tuhan bahwa Tuhan akan terus memerhatikan beliau dan mendengar teriak minta tolong beliau yang mungkin tidak didengar oleh satu orang pun di balik jeruji besi itu. Pak Ahok memang memutuskan untuk mundur dari pertarungan ini dan percaya bahwa sekalipun ia mundur, ia diam, Tuhan tetap akan menyelesaikan perkara-perkara ini baginya. Tuhan akan berperang untuknya.

Inilah arah pengharapan Pak Ahok di bagian pertama tadi.¬†Berharaplah kepada Tuhan, hai Indonesia, dari sekarang sampai selama-lamanya!”¬†karena¬†“Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya Tuhan, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya.”


Mengagumkan sekali imanmu, Pak Ahok. :’ Semoga kau¬†tetap setia,¬†sebagai respons atas kesetiaan-Nya yang sampai selama-lamanya itu. Penjara bukanlah halangan untukmu tetap menjadi alat-Nya bagi bangsa ini, melainkan Tuhan merancangkan semua ini karena Dia ingin memakaimu dengan lebih signifikan lagi, saat ini dan di masa depan.

Terima kasih telah mengingatkan saya melalui kutipan ayat-ayat yang kaupilih ini–pasti Tuhan sendiri yang menyatakannya padamu untuk kausampaikan kepada kami.

“Kuberjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia.”

(semoga Roh Kudus menyempurnakan keterbatasan dan kelemahan saya dalam membagikan perenungan atas dua pasal Mazmur ini–di dalam hati masing-masing pembaca).

Transformasi Digital dari Kacamata Seorang Awam

Di era digitalisasi yang tengah berkembang di dunia (secara umum) dan Indonesia (secara khusus), tampaknya aneh jika kita tidak menaruh perhatian terhadap transformasi digital padahal kita ada di dalam ekosistem yang dibangun (secara sadar atau tidak) oleh transformasi tersebut.

Transformasi digital tidak sesederhana membuat online-shop atau memiliki website perusahaan yang bahkan tidak terlalu dipedulikan. Transformasi digital adalah sebuah ide besar yang sebaiknya tidak disimplifikasi. ‚ÄúDigital transformation is a visible wholesale restructure to avoid a tipping point caused by digital technologies and downstream market effects‚ÄĚ, kata Howard King.

Transformasi digital terasa sangat jelas di dunia bisnis. Hal ini terlihat dari produk-produk bisnis yang kita rasakan sehari-hari seperti Go-Jek, Uber, Grab, yang kini memudahkan kita untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bagi kita yang menganggapnya memudahkan.

Tidak hanya itu, Instagram, Path, Facebook, dan bahkan setiap perangkat keras yang kita gunakan adalah produk-produk bisnis yang telah dan akan terus menerapkan transformasi digital dalam pengembangannya.

Karena transformasi digital dekat dengan kehidupan kita, ada baiknya kita mengenal lebih jauh apa yang ditawarkannya kepada kita dan bagaimana kita menyikapinya.

What matters most?

Bagi pebisnis, transformasi digital tidak lain dan tidak bukan akan memberikan manfaat ekonomis bagi mereka. Meski tampaknya dunia bisnis saat ini seperti tengah mewujudkan transformasi digital, sebuah riset menemukan ternyata ada 40% perusahaan yang tidak siap dengan transformasi digital sekalipun 86%-nya berharap transformasi digital akan berperan penting bagi perusahaan mereka di masa depan. Ada 4 pilar utama yang harus ada dalam suatu bisnis untuk dikatakan telah mengalami transformasi digital: engaging customer, empowering employee, optimizing operations, dan transforming product.

Hal pertama yang tentunya mereka harus kuasai adalah pengenalan akan pelanggan/pengguna produk mereka. Cakupannya seperti menganalisis kesukaan, kebiasaan, ketidaksukaan, perilaku, dan karakter customer mereka. Customer mereka: saya.

Saya setuju dengan gagasan yang mengatakan bahwa transformasi/revolusi digital sebenarnya bukan tentang teknologinya yang terutama, melainkan orang-orangnya, entahkah pekerjanya maupun penggunanya. However, as most digital transformation across industries and countries continues to unfold, the people dimension of these transformations has emerged as the key to unlocking value and ensuring the sustainability of the changes.

Pekerja dan pengguna diharapkan memastikan keberlangsungan perubahan yang terwujud melalui transformasi digital tersebut. Inilah poin pembahasan saya yang sebenarnya.

Oke, saya persempit menjadi ‚Äúpengguna dari transformasi ini muncul sebagai kunci untuk menemukan nilai dan memastikan keberlangsungan perubahan-perubahan yang sudah ada.‚ÄĚ

Transformasi digital bisa memberi manfaat maupun mudharat bagi setiap pengguna, tergantung bagaimana si pengguna menyikapinya. Oh ya, definisi manfaat dan mudharat yang saya maksud tentunya berada di tatanan normatif dan spiritual sesuai dengan iman saya.

Ada banyak karakter pengguna yang akhirnya tampak akibat transformasi digital ini. Ada yang narsis, ada yang humoris. Ada yang jaim, ada yang alim. Ada yang seperti Karin Novilda, ada yang seperti Rachel Vennya, dan masih banyak lagi.

Jika pengguna adalah kunci bagi para pebisnis, maka saya asumsikan pemilik Instagram akan terus melakukan inovasi untuk terus mengeksplor karakter-karakter penggunanya. Saya ambil contoh: narsisme. Melihat kesuksesan Snapchat dengan fitur video-chat-nya, Instagram pun melakukan imitasi dengan Instagram Story-nya. Kenapa? Ternyata banyak pengguna yang senang menggunakan fitur-fitur yang membuat pengguna bisa bernarsis-ria. Saat ini, para pekerja di bagian product development Instagram pasti sedang sibuk meng-import data penggunanya dan melakukan analisis: fitur apa lagi ya yang harus kami keluarkan?

Tetapi, siapa sangka, ternyata ada juga pengguna yang menggunakan fitur live (seperti di Facebook) untuk merekam dirinya yang akan bunuh diri atau pun membunuh orang lain? Ya, ternyata ada pengguna yang menggunakan fitur tersebut entah untuk mencari perhatian atau karena dia adalah seorang psikopat. Hal-hal minor seperti ini mungkin tidak pernah mendapat perhatian khusus dari pebisnis.

Okelah, toh tentu itu bukan sepenuhnya miskalkulasi dari pebisnis, melainkan mungkin ketidaksiapan beberapa pengguna untuk menghadapi transformasi digital.

Perubahan akan terjadi juga, siap atau tidak siap. Transformasi digital akan terjadi juga, siap tidak siap. Tidak ada yang sedang berusaha menghentikannya‚ÄĒdan ternyata kita membutuhkannya demi alasan-alasan, misalnya, efisiensi. Karena itu penting bagi pengguna untuk belajar dan beradaptasi dengan transformasi digital agar mereka bisa memanfaatkan sebanyak-banyaknya keuntungan yang lahir dari transformasi ini.

Memanfaatkan Transformasi Digital

Tidak semua produk transformasi digital harus kita gunakan: itu kunci pertamanya. Kenali diri kita dengan baik dan kenali motivasi kita untuk menggunakan produk-produk tersebut. Titik awal inilah yang jarang dipikirkan oleh pengguna. Setiap inovasi yang ada rasanya ingin segera dicicipi. Saya masih ingat betapa impulsifnya saya dan teman-teman sekantor untuk menginstal aplikasi IMO dan melakukan group-call padahal kami berada di ruangan yang sama. Meski tak lama setelah itu, sebagian besar dari kami pun menghapus aplikasi tersebut karena merasa tidak perlu menggunakannya.

Tidak semua aplikasi belanja online, sosial media, atau ojek online perlu di-install. Percaya tidak percaya, ini akan memudahkan kita untuk menentukan pilihan, menghemat biaya, waktu, dan juga tenaga. Pilih satu atau dua aplikasi yang kalian tahu terbaik sesuai dengan spesifikasi yang kalian inginkan.

Selanjutnya, gunakan aplikasi-aplikasi tersebut dengan bijaksana: misalnya aplikasi media sosialmu. Keberadaanmu di sana seharusnya menjadi manfaat untuk orang-orang yang ada di sana. Bila perlu saya tegaskan, kamu harus tetap di sana jika di sanalah kamu bisa menyebarkan sebanyak-banyaknya kebenaran bagi orang banyak. Jangan hapus akunmu, jangan hapus aplikasimu. Imbangi dan bahkan kalahkan pengaruh buruk yang disebarkan (yang sedihnya selalu disebarkan) oleh akun-akun yang tidak bertanggungjawab dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ciptakan konten yang menarik orang-orang untuk terus-menerus menantikan manfaat yang akan kamu tawarkan. Serius. Pikirkan ini baik-baik.

Dunia tempat kita diutus adalah dunia yang jorok. Media sosial di mana kita bersosialisasi adalah media yang telah jatuh dalam dosa. Karena itu, keberadaan kebenaran sangat penting di sana. Tetap tinggal di sana, hanya jangan menjadi sama. Acuhkan saja orang-orang sekitar yang mungkin akan melabeli kamu dengan kata ‚Äúpencitraan‚ÄĚ. Tahu apa sih soal pencitraan? Kalau bisa terus mencitrakan gambar Allah, kenapa harus peduli? Di saat yang bersamaan, uruslah motivasi dan targetmu ketika melakukannya. Itu saja. Jangan jadi takut menyebarkan apa yang benar karena takut dianggap pencitraan.

Menjadi pengguna dalam tranformasi digital adalah peran yang diberi bagi kita di suatu ruang bernama “hikmat”.

Smart City

Transformasi digital juga sedang gencar dilakukan di pemerintahan–tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Konsep ‚Äúkota pintar‚ÄĚ atau smart-city sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kota pintar memerlukan data yang akan diubah menjadi informasi sehingga memberikan pengetahuan bagi penduduknya. Data-data ini nantinya berguna untuk banyak hal, termasuk menyoroti masalah-masalah potensial di kota tersebut bahkan sebelum ia terjadi, seperti kata Tuan Totty, seorang editor berita di The Journal Report, San Fransisco. Baca uraian selengkapnya di sini.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Pak Ahok telah menunjukkan kepeduliannya akan konsep ‚ÄėJakarta Kota Pintar‚ÄĚ yang diberi nama Jakarta Smart City. Tidak hanya itu, ada juga aplikasi Qlue yang terintegrasi dengan sistem Jakarta Smart City yang berguna untuk mengumpulkan data demi data yang nantinya sangat bermanfaat bagi kota Jakarta. Salah satu harapan saya pasca kepemimpinan Pak Ahok nanti adalah, konsep Jakarta Smart City ini bisa terus dikembangkan. Jangan diabaikan, please banget. :‚Äô

Bagian kita adalah, mari kita gunakan aplikasi Qlue dengan seefektif mungkin. Kita bisa menyampaikan berbagai keluhan/kritik/masukan/saran melalui aplikasi ini. Jangan hanya itu, kita juga bisa menyampaikan apresiasi kepada Jakarta melalui aplikasi ini. Informasi tambahan, saat ini Qlue tidak hanya beroperasi di Jakarta, warga kota Manado pun sudah dapat menggunakan aplikasi ini dengan adanya konsep Manado Smart City. Bahkan sebentar lagi kota Probolinggo dan Cilegon pun akan mengadopsi aplikasi ini. :‚ÄĚ

Jadi?

Transformasi digital sedang dan akan terus terjadi dan kita berperan untuk menentukan transformasi seperti apa yang kita harapkan akan terjadi bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita, bahkan bagi kota dan bangsa kita. Kita perlu beradaptasi‚ÄĒingat ya, beradaptasi‚ÄĒdengan transformasi ini. Jangan sampai transformasi digital hanya memberikan untung bagi pegiat bisnis saja, kita juga bisa mendapatkan manfaat melaluinya.

Selamat Pak Ahok!

Siang yang sangat terik itu menjadi puncak pemberian suara di pemilihan gubernur DKI Jakarta untuk periode jabatan 5 tahun ke depan. Saya sudah menggunakan hak pilih saya sebagai warga DKI Jakarta dan juga sudah mendoakan pilihan saya. Baru kali ini saya mendoakan–sungguh-sungguh mendoakan–calon pemimpin daerah di sepanjang hidup saya. Hal seperti ini tidak pernah terlalu saya pedulikan dulunya, sebelum Pak Jokowi dan Pak Ahok duduk di pemerintahan kota Jakarta sebagai gubernur & wakil gubernur.

Kali ini saya akan menyampaikan isi hati saya terkait Pak Ahok pasca kekalahannya di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Menyaksikan quick count dan menanti-nantikan hasilnya tidak pernah semendebarkan itu. Tidak pernah membuat saya se-lesu itu. Menjelang sore, saya melihat juga langit di luar agak murung. Tak lama kemudian ia menangis. Ah kebetulan yang menyayat hati. Saya sedih sekali. Benar-benar sedih sampai saya menangis mengetahui hasil QC yang menunjukkan kekalahan paslon 2 jagoan saya ini.

Saya mencoba berpikir positif di tengah lontaran-lontaran pertanyaan yang mucul di kepala saya akibat hasil QC tersebut. Apa ya maksud Tuhan mengizinkan kekalahan Pak Ahok ini terjadi? Tentu saya tidak punya jawabannya.

Saya hanya mengira-ngira: kondisi ini ada untuk menunjukkan beberapa hal yang ujungnya adalah kebaikan. Pertama, apakah paslon 3 akan berhasil membuat Jakarta lebih baik dengan cara-cara yang benar? Kedua, apakah kredibilitas paslon 3 akan teruji selama 5 tahun ke depan? Ketiga, apa rencana damai sejahtera yang Tuhan sedang siapkan untuk Pak Ahok?

Lima tahun ini pasti akan menjadi tahun-tahun yang membuat mata pendukung paslon 2 terbuka lebar, jika mereka adalah yang sungguh-sungguh ingin Jakarta lebih baik lagi. Akan ada banyak orang yang mengawasi jalannya kepemimpinan paslon 3. Saya melihat ini sebagai suatu kebaikan: titik tolak pedulinya warga Jakarta akan kota tempat tinggalnya.

Sekalipun semangat saya agak berkurang mengingat kekalahan jagoan saya, saya tetap bersyukur sudah mendapatkan banyak berkat melalui kepemimpinannya selama ini. Seperti ada suatu teladan baik yang dapat saya ikuti kebaikan-kebaikannya dalam berkontribusi bagi Jakarta.

Antusiasme warga DKI Jakarta akan pembangunan kotanya tidak boleh tidur. Matanya harus senantiasa mengawasi. Mulutnya tidak boleh nyinyir. Tidak usahlah lagi nyinyir soal DP-DP paslon 3 itu. (Mental-mental nyinyir ini bahaya banget, loh. Komen-komen kita akhirnya jadi mentok di emosi. Akhirnya minim diskusi yang esensial, minim solusi, dan ya habislah).

Saya setuju sama Pak Ahok bahwa tidak ada kekuasaan yang tanpa seizin Tuhan. Kalau saat ini paslon 3 telah unggul dan akan memimpin Jakarta, jadilah warga yang baik, yang juga tetap bekerja dan berdoa membantu pemerintahan mereka memajukan Jakarta. Doakan mereka agar tidak membawa kemunduran. Kritisi kinerjanya, kasih saran & masukan.

Ah, berat sekali ya mendoakan yang tidak didukung :”

Rencana Tuhan pasti indah untuk Pak Ahok. Orang sebagus beliau pasti bisa dipakai Tuhan dengan signifikan. Karena itu, selamat Pak Ahok! Ladang barumu sedang disiapkan Tuhan.

Selamat bekerja lagi!

Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

Berbagai pikiran muncul manakala melihat diri maupun orang lain tidak melakukan hal yang berkenan kepada Tuhan. Alih-alih menghakimi orang lain, saya terduduk diam, termenung-menung, menelisik diri sendiri, dan bertanya, “apa penyebabnya?”

Sudah sejak lama saya gelisah dan banyak berpikir apakah pertumbuhan rohani yang Tuhan sedang kerjakan mengalami hambatan karena dosa dan ketidaktaatan saya. Saya lalu terhenti pada ayat firman Tuhan pada Mazmur 1:1-3 yang berbunyi sebagai berikut:

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Dari 150 pasal di kitab Mazmur, pernyataan berkat atas mereka yang suka Firman Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam mengambil posisi pertama untuk disampaikan. Saya suka membayangkan betapa Allah ingin saya dan kamu mengingat hal ini dengan baik. Boro-boro bicara kasih, pengampunan, pengorbanan, dan sebagainya, kalau hal ini saja tidak beres, begitu pikir saya.

Sejak menyadari bisingnya dunia saat ini pun, saya jadi gelisah memikirkan bagaimana suara Tuhan dalam firman-Nya dapat tetap kita dengar dengan jelas. Karena kalau suara-Nya saja tidak jelas kita dengar, bagaimana kita bisa bilang bahwa kita suka pada firman-Nya itu? Lebih tidak masuk akal lagi kalau kita bilang kita bisa merenungkan firman itu siang dan malam.

Suka tanpa mendengar, merenung tanpa mendengar jelas, hm, saya meragukan kebenarannya.

Sekarang, saya akan fokus pada ayat 3 yang berkata, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”¬†

Ada 3 ciri orang yang suka firman Tuhan & merenungkannya siang dan malam:

  1. menghasilkan buahnya pada musimnya;
  2. tidak layu daunnya;
  3. apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Keren banget ngga, tuh?

Menghasilkan buah pada musimnya. Saya suka memikirkan buah seperti apa yang dimaksud di sini. Lalu saya teringat pada Galatia 5:22-23 yang menyampaikan tentang buah Roh.

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Orang ini pastilah orang yang kasihnya meluas, menembus lapisan sosial, agama, suku, dan ras apa pun yang ada. Pastilah dia dimampukan mengampuni orang yang bersalah sekalipun tidak pernah meminta maaf–bahkan tidak tahu bahwa ia salah–kepadanya. Dia bukanlah orang yang pemurung & tidak mampu bersyukur. Dalam kesehariannya, kondisi tidak enak tidak bisa merampas sukacita dan damai sejahtera yang dikerjakan Tuhan baginya. Meskipun ada orang-orang yang sangat membuatnya kesal, dia dimampukan untuk bersabar terhadap orang tersebut. Dia tidak pelit bantuan, entah materi atau pun non-materi, ketika dia memang bisa memberikannya. Dia berjuang untuk memberi pertolongan dan kebaikan bagi orang-orang yang memerlukannya. Sekalipun banyak alasan untuk membuatnya tidak setia, namun ia memilih setia, pada Tuhan dan pekerjaan baik yang disiapkan Tuhan baginya. Meski tampaknya taburan benih firman yang dikerjakannya belum berbuah, serta ia tidak tahu apakah dia bisa menuai/tidak, dia tetap setia. Dia tidak tenggelam dan larut dalam kesulitan yang ada, dia tetap berfokus pada Tuhan dan apa yang ingin dikerjakan Tuhan baginya. Kadangkala dia merasa sudah mencapai puncaknya dan ingin marah saja melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini (hehe), tetapi dia bisa menguasai diri dan tetap lemah lembut dalam berkata dan bertindak. Sekalipun bisa hidup dengan amburadul, dia memilih menguasai diri. Seperti itulah kira-kira buah yang terlihat dari mereka yang suka pada firman Tuhan serta yang merenungkannya siang dan malam. Tidak ada hukum yang menentang itu. Tidak ada pengadilan yang bisa memutus bersalah atas itu.

Tidak layu daunnya. Kalau membayangkan daun pada bagian ini adalah daun hijau yang memiliki klorofil, kita akan berbicara mengenai fotosintesis yang dilakukan di sana. Ini menarik karena melalui fotosintesis inilah terjadi transformasi air dan karbondioksida dengan pertolongan sinar matahari. Kalau tidak ada fotosintesis, tidak akan ada buah. Saya menghayati mereka yang suka firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam akan mengalami transformasi hidup–karena melalui itulah Roh Kudus dapat bekerja dengan optimal–sehingga orang ini pun berbuah. Mereka yang tidak layu daunnya, menurut saya adalah mereka yang terus mengandalkan Roh Kudus dalam setiap aspek hidupnya.

Apa saja yang diperbuatnya berhasil. Manis dan membangkitkan iman sekali, bukan? Orang ini tidak perlu mengejar keberhasilan; keberhasilan akan menjadi miliknya ketika dia meletakkan kesukaannya pada firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam. Ini tidak bisa dibalik karena kita juga mau meletakkan keberhasilan yang dimaksud sebagai keberhasilan yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Belum tentu mereka yang berhasil adalah berhasil dalam kehendak Tuhan. Iya, kan?

Karena itu, mari mengevaluasi diri sendiri. Sudahkah firman Tuhan menjadi kesukaan kita dan kita mau merenungkan firman itu siang dan malam?

Tambahan:
Persekutuan Besar Penilik yang diselenggarakan oleh Tim Pendamping Pelayanan Mahasiswa juga baru saja membahas mengenai bible movement. Kami menyusun Buku Acara yang di dalamnya terdapat 2 artikel yang membahas mengenai Disiplin Rohani dan Merenungkan Firman Tuhan Siang dan Malam. Silakan download di bawah ini, ya!
Buku Acara PB Penilik Maret 2017
Semoga menjadi berkat!

4995CCB9F53313CFBA768152C9B576B6