#Rangkul25: Tanpa Penyesalan

Suatu kali seseorang datang dan bertanya kepada perempuan itu, “apa yang membuatmu begitu kuat seperti ini, setelah semua yang telah kau alami?” Perempuan itu pun menjawab,

Aku tidak pernah berpikir bahwa aku telah begitu kuat. Karena yang sehari-hari aku lakukan adalah berdiam diri dan merenungkan berbagai pertanyaan. Aku bertanya-tanya, “kenapa harus seperti ini? Ternyata aku sesalah itu, ya? Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa orang-orang harus mengorbankanku dengan menimpakan kesedihan ini kepadaku? Tidak bisakah dipilihnya saja orang lain?”

Sehari-hari aku banyak menangis, meratapi nasib, kata orang. Bahkan, kadang-kadang air mata itu mengalir begitu saja tanpa pernah aku rencanakan. Aku lagi belajar, air mataku menetes. Aku lagi makan, air mataku juga menetes. Aku bahkan merasa jangan-jangan ketika aku tidur pun ada air mata yang menetes. Aku dikuras habis pada waktu itu.

Aku jadi bingung, kenapa kau bilang aku sekuat ini? Kalau kau tau yang sebenarnya, kau akan berpikir ulang untuk mengatakan itu.

Yang kuingat adalah aku telah menjadi begitu lemah. Tidak ada lagi bagian dari diriku yang sanggup aku andalkan. Seluruh akalku dipatahkan, segenap perasaanku diputarbalikkan. Semua yang kupikir akan terjadi, tidak terjadi. Aku betul-betul cupu pada waktu itu. Untuk menghadapi matahari pagi saja aku ragu. Begitu juga dengan malam, hampir selalu dapat kupastikan, aku melewati malam dengan tertidur karena menangis.

Aku makin bingung, di bagian mana kau lihat aku kuat?

Namun, ada 1 hal yang kusaksikan. Pada waktu itu aku betul-betul berserah kepada Allah, Tritunggal Maha Berkarya, dalam setiap pertanyaan dan air mataku. Dalam pertanyaan-pertanyaanku, aku menyerah bahwa aku tidak punya jawabannya. Sedikit pun. Dalam tetes demi tetes air mata itu aku menyerah bahwa aku tidak bisa mengendalikan apa pun. Untuk pertama kalinya di dalam hidup, aku menyerah, semenyerah-menyerahnya. Tidak bersisa.

Di saat itulah, dalam keraguanku menatap pagi, aku mampu juga melewatinya. Bahkan masih dengan senyum, yang sederhana. Di saat itulah, dalam keenggananku mendapatkan malam, aku tetap tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi buruk apa pun.

Aku tidak ingin bilang bahwa aku bahagia pada waktu itu. Aku bukan orang yang pintar berpura-pura dan bermulut manis. Tetapi jika kau minta aku memilih untuk harus mengalami itu ataukah tidak, aku tetap akan memilih “harus”. Kulihat, dengan cara itulah Allah meneruskan karya-Nya di dalamku hingga aku tiba di usia ke-25 ini.

Aku akan terus berserah di hadapan-Nya. Karena aku tau, buahnya manis dan dengan ini kuingatkan kau, buah itu tidak dapat direka-reka. Orang-orang pun dapat membedakan, mana yang sejati, mana yang dibuat-buat. Penyerahan diri ini tidak akan meninggalkan penyesalan.

#Rangkul25

Semua Karena Keripik Pisang

Ini adalah cerita tentang pengalaman saya menjalani operasi kecil pencabutan gigi yang diakibatkan oleh kebanyakan makan keripik pisang. Saya akan berusaha menceritakannya sesingkat dan sejelas mungkin. Bersiaplah, jika akhirnya tidak singkat dan agak kurang jelas. -_-


Beberapa tahun lalu gigi geraham bungsu sebelah kiri saya mulai tumbuh. Tumbuhnya tidak sakit, hanya ngilu-ngilu sedikit. Menurut beberapa orang, tumbuhnya gigi geraham bungsu akan menimbulkan rasa sakit yang cukup mengesalkan, namun saya rasa hal itu tidak terjadi pada saya. Memang ada hal yang sedikit aneh ketika gigi itu tumbuh: dia seperti tidak bisa keluar sepenuhnya karena ada gusi di atasnya. Akhirnya, gusi itu pun seperti sedikit menutupi permukaan mahkota gigi geraham bungsu saya. Saya pengen kasih gambarnya, tapi lebih baik tidak. Ngeri.

Saya tidak pernah terlalu peduli dengan kondisi itu karena saya nggak ngerasain ada gangguan apa pun juga (meskipun sebenarnya gusi yang menutupi geraham tadi semacam bisa dibuka-buka kayak tudung saji gitu, kebayang nggak?). Pengabaian itu berlangsung sampai beberapa waktu lalu terjadilah hal yang tidak diinginkan.

Ceritanya saya lagi makan (((keripik pisang))) super keras, lebih keras dari kehidupan ini. Makannya cukup banyak. Pas lagi ngunyah, rasanya seperti ada yang sakit gitu, tapi saya biarin aja. Saya tetap makan dengan bersemangat. Pesona keripik pisang memang luar biasa. Keesokan harinya, saya ngerasa gusi sebelah kiri saya tadi sakit dan agak bengkak, tapi lagi-lagi, saya biarin begitu saja. Hari berikutnya bengkaknya pun mulai membuat khawatir, sampai kelihatan dari luar pipi kiri–semacam ada buah sawo nempel di dinding mulut. Males banget :{

Akhirnya saya cuma minum ponstan. Saya nggak kepikiran macem-macem karena…ya elah gusi bengkak mah biasa. Yang bikin saya khawatir sebenarnya 2 hari ke depan saya akan memimpin ibadah alumni dan gimana coba kalau gusinya makin bengkak. :”( Saya nggak mau disangka lagi makan mic…

Saya tetap latihan walaupun dengan kondisi gusi bengkak dan pipi agak gembung (biasanya juga gembung sih). Saya berdoa sama Tuhan; yang saya minta cuma supaya gusinya nggak bengkak lagi waktu saya mimpin ibadah nanti. Tuhan mengabulkan doa saya dan beneran deh, gusinya nggak bengkak (bahkan nggak ngilu sama sekali) di hari Jumat itu–hari di mana saya harus memimpin ibadah. Memang Tuhan bisa aja. Ajaib.

Lalu saya mulai merasa di atas angin. Hari Sabtunya saya memutuskan untuk makan McD, minum es krim, dan minum chatime–tanpa saya sadari ternyata gusi tadi belum sepenuhnya sembuh–dan saya tidak berhati-hati ketika mengunyah sehingga gigi atas saya berulangkali menggigit gusi saya tersebut dan jadilah di hari Minggunya pipi saya gembung lagi. *hosh* *tarik napas* *panjang juga* Saya sedih.

Sakit kali ini berbeda dengan yang kemarin–ini lebih parah. Kalau yang kemarin saya masih bisa latihan alias harus nyanyi-nyanyi tanpa gangguan berarti, kali ini bahkan untuk membuka mulut pun rasanya cukup sakit. Tetapi saya memang susah dibilangin, saya malah tetap makan Ikkudo Ichi pedas dan panas serta minum ocha dingin. Saya pikir tidak akan terjadi apa-apa.

Hari Rabu pagi–hari pertama libur lebaran kantor saya–saya mendapati pembengkakan gusi tadi semakin menjadi-jadi; kali ini disertai darah dan ada bagian yang sudah menghitam. 😥 Saya histeris karena saya juga ngeri melihat gigi geraham bungsu tadi seperti akan tenggelam karena ditutupi gusi yang semakin membengkak. Saya langsung berpikiran yang aneh-aneh. Hari pertama libur pun saya jalani dengan konsultasi ke dokter gigi di bagian periodental Paviliun Khusus RSGM UI Salemba (hasil rekomendasi teman saya).

Konsultasi di bagian periodental – Paviliun Khusus RSGM UI Salemba

Mulut saya dibuka lebar-lebar–saya tidak pernah ingat pernah membuka mulut selebar itu–ya iyalah–dan dokter pun memeriksa bagian gusi yang bengkak. Beliau mengatakan bahwa terjadi infeksi di gusi saya yang diakibatkan oleh terlalu tajamnya gigi bagian atas yang sejajar dengan gusi itu sehingga ketika mengunyah, akan terasa sakit karena mereka bersinggungan. Dokter juga bilang tumbuhnya gigi geraham bungsu di balik gusi itu sebenarnya tidak pada posisi yang tepat karena ruangan yang sempit sehingga dia membuat gusi saya membengkak. Berdasarkan rekomendasi dokter, saya diminta melakukan observasi dulu selama seminggu sambil menggunakan obat kumur Tantum Verde sepanjang observasi. Jika masih sakit, maka saya harus menjalani operasi kecil pencabutan gigi geraham bungsu. Katanya, harus ada sedikit gusi dan sedikit tulang yang dipotong. Saya ngeri membayangkannya.

Tapi saya tidak puas. Saya merasa lebih baik sekarang saja dioperasi. Di sisi lain saya memilih mengikuti kata dokter untuk observasi dulu selama seminggu ini. Tiba-tiba saya kepikiran untuk scalling gigi karena sudah lama tidak scalling. Ya, biar sepulangnya dari RSGM ini ada sesuatu yang signifikan terjadi di rongga mulut saya. Dokter itu pun mengizinkan scalling keseluruhan gigi saya dan saya bisa pulang dengan sedikit bahagia.

Sesampainya di kost, saya makan nasi padang yang saya sudah beli sebelumnya. Bisa-bisanya saya berani memutuskan untuk makan nasi dan rendang yang pedas itu. Saya nggak habis pikir. Jangan ditiru ya. Akibatnya gusi saya makin pedih. Saya mencoba menggunakan obat kumur tadi dan berharap ada sesuatu yang signifikan terjadi, misalnya, gusi saya langsung kempes dan sakitnya hilang–ha ha ha–bercanda.

Sore harinya, kondisi gusi saya bukan membaik, malahan memburuk dan saya menyaksikan sendiri ada darah keluar dari bagian gusi yang bengkak itu. Saya makin histeris dan akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi kecil keesokan harinya. Apalagi setelah berkonsultasi dengan teman-teman saya yang lulusan FKG UI, kondisi gusi karena gigi impaksi (itu namanya) tadi memang cepat/lambat akan menimbulkan keluhan dan mau tidak mau harus tetap dilakukan pencabutan gigi yang impaksi. Saya mengumpulkan keberanian karena… pertama kali dalam hidup ini, saya berurusan dengan dokter dan rumah sakit, harus operasi (meskipun namanya operasi kecil), lalu… jauh dari orang tua dan keluarga. Saya bersyukur Gohan mau nemenin saya untuk operasi dan bahkan ngebawain makanan buatan mamanya untuk saya makan di hari operasi itu. Katanya saya akan kesulitan makan setelah operasi sehingga sebelum operasi dilangsungkan saya harus makan yang banyak.

Operasi Kecil di Bagian Bedah Mulut Residen RSGM UI Salemba

Yang paling saya takutkan adalah saya tidak bisa menahan kengerian yang divisualisasikan otak saya sepanjang proses operasi berlangsung.

“Yak.. kita potong dulu ya Mbak gusinya sedikit…”

“Sekarang kita mau potong tulangnya sedikit dulu ya Mbak…”

“Nah udah deh, sekarang kita mau cabut giginya ya Mbak…”

Saya ngeri membayangkan itu di kepala saya. Saya menangis di sepanjang operasi karena saya takut mereka tidak memberikan obat bius yang baik, peralatannya tidak steril… atau mereka salah potong. 😥 Bukan underestimate sih, tapi namanya manusia bisa aja salah, kan…

Saya berdoa sama Tuhan dan berharap Tuhan yang lancarkan proses operasi ini dan memberikan dokter terbaik, peralatan terbaik, dan obat bius terbaik untuk membawa kebaikan dan kesembuhan bagi saya. Saya juga berdoa supaya Tuhan memberikan obat anti radang dan antibiotik terbaik untuk saya supaya gusi saya tidak membengkak pasca operasi. Saya tidak tahu proses biologisnya, yang saya tahu dan saya mau, jangan sampai ada pembengkakan dan jangan ada rasa sakit yang terlalu menyedihkan pasca operasi. Tuhan tahu banget saya ngeri membayangkan kalau sampai pembengkakan itu terjadi karena 5 orang yang saya tanya (yang pernah mengalami hal yang sama dengan saya) bilang bahwa mereka selalu mengalami pembengkakan pasca operasi. Sebenarnya adalah hal yang wajar sebagai reaksi dari tubuh.

Pasca Operasi

Efek anestesi masih terasa selama beberapa hari ke depan (disuntikkan cukup banyak karena saya nangis kesakitan mulu katanya) sehingga saya masih bisa makan tanpa keluhan yang cukup berarti. Hanya sedikit perih kalau bagian bekas operasi tadi terkena minuman/makanan. Tapi saya tetap cuma bisa makan yang lembut, dingin, tidak pedas dan tidak asam. Sulit banget untuk nyari makanan yang seperti itu di tengah bulan puasa kemarin. Yang bikin sulit sebenarnya entah kenapa nafsu makan saya tidak berkurang sama sekali. Bahkan meningkat. 😥

Saya terus memerhatikan manakala ada pembengkakan yang tidak diinginkan pasca operasi ini seperti yang teman-teman saya bilang. Ternyata, tidak ada pembengkakan sama sekali sampai saya kembali ke RSGM UI untuk buka jahitan. Saya jadi bingung. Saya bertanya ke dokter yang menangani operasi saya, ke teman-teman FKG saya, dan bahkan ke teman saya yang dokter umum–apakah kondisi yang saya alami ini termasuk wajar atau malah ada sesuatu yang aneh. Saya bersyukur dari jawaban mereka sebenarnya kondisi saya adalah hal yang wajar yang bisa terjadi jika memang peralatan yang digunakan ketika operasi steril, tidak terlalu banyak gusi/tulang yang dipotong–sehingga radangnya sedikit, obat anti radangnya bagus, antibiotiknya bekerja dengan bagus, dan tentunya sanitasi di rongga mulut yang juga bagus (saya jadi ingat sebelumnya saya memutuskan untuk scalling gigi dan saya benar-benar teratur kumur-kumur).

Selain karena hal-hal itu, saya percaya bahwa pemulihan gusi saya terjadi karena Tuhan sendiri yang bekerja bersama segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi saya. Saya masih ingat doa yang saya ucapkan di setiap pagi dan malam pasca operasi,

“Tuhan, buatlah obat anti radang dan antibiotik ini bekerja dengan bagus supaya bekas operasi ini bisa pulih dengan cepat tanpa menimbulkan rasa sakit yang parah. Tuhan, aku takut kalau sampai bengkak, itu pasti sakit banget, kan? Karena itu, sepanjang biusnya masih ada, tolong Tuhan percepat regenerasi tulang dan gusi yang dipotong tadi serta beberapa luka yang disebabkan sepanjang operasi tadi. Berikanlah sel terbaik untuk mengganti apa yang sudah dipotong tadi dan izinkanlah aku mengalami kesembuhan total dengan cepat. Aku percaya, Tuhan yang membentuk setiap sel dalam tubuhku dan Tuhan pasti tahu cara untuk memulihkannya dengan sempurna seperti sedia kala.”

Begitulah kira-kira. Saya memang khawatir sekali pasca operasi kemarin. Mungkin berlebihan bagi sebagian orang–tapi saya bersyukur memiliki Tuhan yang mengerti kekhawatiran saya & memberi kelegaan untuk saya. Tuhanku baik! :’) Puji Tuhan.

Sekarang

Saya makin memerhatikan kebersihan rongga mulut saya. Saya tidak mau lagi membiarkan keluhan/keanehan di gusi/gigi yang mungkin akan saya rasakan di depan nanti. Saya juga makin memerhatikan apa yang saya makan dan minum karena selama ini saya sudah mengabaikan kesehatan gigi dan gusi saya,

…dan kini, saya tidak bisa lagi memandang keripik pisang dengan cara yang sama.

Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

Berbagai pikiran muncul manakala melihat diri maupun orang lain tidak melakukan hal yang berkenan kepada Tuhan. Alih-alih menghakimi orang lain, saya terduduk diam, termenung-menung, menelisik diri sendiri, dan bertanya, “apa penyebabnya?”

Sudah sejak lama saya gelisah dan banyak berpikir apakah pertumbuhan rohani yang Tuhan sedang kerjakan mengalami hambatan karena dosa dan ketidaktaatan saya. Saya lalu terhenti pada ayat firman Tuhan pada Mazmur 1:1-3 yang berbunyi sebagai berikut:

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Dari 150 pasal di kitab Mazmur, pernyataan berkat atas mereka yang suka Firman Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam mengambil posisi pertama untuk disampaikan. Saya suka membayangkan betapa Allah ingin saya dan kamu mengingat hal ini dengan baik. Boro-boro bicara kasih, pengampunan, pengorbanan, dan sebagainya, kalau hal ini saja tidak beres, begitu pikir saya.

Sejak menyadari bisingnya dunia saat ini pun, saya jadi gelisah memikirkan bagaimana suara Tuhan dalam firman-Nya dapat tetap kita dengar dengan jelas. Karena kalau suara-Nya saja tidak jelas kita dengar, bagaimana kita bisa bilang bahwa kita suka pada firman-Nya itu? Lebih tidak masuk akal lagi kalau kita bilang kita bisa merenungkan firman itu siang dan malam.

Suka tanpa mendengar, merenung tanpa mendengar jelas, hm, saya meragukan kebenarannya.

Sekarang, saya akan fokus pada ayat 3 yang berkata, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” 

Ada 3 ciri orang yang suka firman Tuhan & merenungkannya siang dan malam:

  1. menghasilkan buahnya pada musimnya;
  2. tidak layu daunnya;
  3. apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Keren banget ngga, tuh?

Menghasilkan buah pada musimnya. Saya suka memikirkan buah seperti apa yang dimaksud di sini. Lalu saya teringat pada Galatia 5:22-23 yang menyampaikan tentang buah Roh.

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Orang ini pastilah orang yang kasihnya meluas, menembus lapisan sosial, agama, suku, dan ras apa pun yang ada. Pastilah dia dimampukan mengampuni orang yang bersalah sekalipun tidak pernah meminta maaf–bahkan tidak tahu bahwa ia salah–kepadanya. Dia bukanlah orang yang pemurung & tidak mampu bersyukur. Dalam kesehariannya, kondisi tidak enak tidak bisa merampas sukacita dan damai sejahtera yang dikerjakan Tuhan baginya. Meskipun ada orang-orang yang sangat membuatnya kesal, dia dimampukan untuk bersabar terhadap orang tersebut. Dia tidak pelit bantuan, entah materi atau pun non-materi, ketika dia memang bisa memberikannya. Dia berjuang untuk memberi pertolongan dan kebaikan bagi orang-orang yang memerlukannya. Sekalipun banyak alasan untuk membuatnya tidak setia, namun ia memilih setia, pada Tuhan dan pekerjaan baik yang disiapkan Tuhan baginya. Meski tampaknya taburan benih firman yang dikerjakannya belum berbuah, serta ia tidak tahu apakah dia bisa menuai/tidak, dia tetap setia. Dia tidak tenggelam dan larut dalam kesulitan yang ada, dia tetap berfokus pada Tuhan dan apa yang ingin dikerjakan Tuhan baginya. Kadangkala dia merasa sudah mencapai puncaknya dan ingin marah saja melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini (hehe), tetapi dia bisa menguasai diri dan tetap lemah lembut dalam berkata dan bertindak. Sekalipun bisa hidup dengan amburadul, dia memilih menguasai diri. Seperti itulah kira-kira buah yang terlihat dari mereka yang suka pada firman Tuhan serta yang merenungkannya siang dan malam. Tidak ada hukum yang menentang itu. Tidak ada pengadilan yang bisa memutus bersalah atas itu.

Tidak layu daunnya. Kalau membayangkan daun pada bagian ini adalah daun hijau yang memiliki klorofil, kita akan berbicara mengenai fotosintesis yang dilakukan di sana. Ini menarik karena melalui fotosintesis inilah terjadi transformasi air dan karbondioksida dengan pertolongan sinar matahari. Kalau tidak ada fotosintesis, tidak akan ada buah. Saya menghayati mereka yang suka firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam akan mengalami transformasi hidup–karena melalui itulah Roh Kudus dapat bekerja dengan optimal–sehingga orang ini pun berbuah. Mereka yang tidak layu daunnya, menurut saya adalah mereka yang terus mengandalkan Roh Kudus dalam setiap aspek hidupnya.

Apa saja yang diperbuatnya berhasil. Manis dan membangkitkan iman sekali, bukan? Orang ini tidak perlu mengejar keberhasilan; keberhasilan akan menjadi miliknya ketika dia meletakkan kesukaannya pada firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam. Ini tidak bisa dibalik karena kita juga mau meletakkan keberhasilan yang dimaksud sebagai keberhasilan yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Belum tentu mereka yang berhasil adalah berhasil dalam kehendak Tuhan. Iya, kan?

Karena itu, mari mengevaluasi diri sendiri. Sudahkah firman Tuhan menjadi kesukaan kita dan kita mau merenungkan firman itu siang dan malam?

Tambahan:
Persekutuan Besar Penilik yang diselenggarakan oleh Tim Pendamping Pelayanan Mahasiswa juga baru saja membahas mengenai bible movement. Kami menyusun Buku Acara yang di dalamnya terdapat 2 artikel yang membahas mengenai Disiplin Rohani dan Merenungkan Firman Tuhan Siang dan Malam. Silakan download di bawah ini, ya!
Buku Acara PB Penilik Maret 2017
Semoga menjadi berkat!

4995CCB9F53313CFBA768152C9B576B6

30-Day Social Media Detox

30-day-social-media-detox

Saya selalu membayangkan bagaimana hidup saya tanpa sosial media (baca: Twitter, Facebook, Instagram, Path, Snapchat). Saya selalu penasaran, apa yang akan terjadi di dalam diri saya (terutama) tanpa penggunaan sosial media tersebut. Percaya tidak percaya, sekalipun saya terbilang cukup aktif di sosial media, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati saya, saya lebih suka tidak menggunakan sosial media. Saya juga belum tahu pasti alasannya. Mungkin alasan terbesar saya adalah karena saya termasuk tipikal orang yang introvert. Alasan berikutnya mungkin karena saya tidak suka ‘dibaca’ oleh siapa pun. Cukup aneh, ya? Ya, saya rasa juga begitu. Maka dari itu, jika saya membagikan apa pun (dan dalam bentuk apa pun) ke sosial media, sebisa mungkin saya mengusahakan bahwa itu bukan tentang saya, atau yang bukan terutama tentang saya, melainkan apa yang saya pelajari, apa yang dilakukan orang kepada saya, apa yang Tuhan lakukan terhadap saya, untuk apa saya melakukan sesuatu, dan sebagainya; hal-hal yang saya pikir dapat memberi perspektif baru yang menginspirasi orang-orang. Sekalipun mau tidak mau, akan ada irisan-irisan ‘tentang saya’ di dalamnya. Seperti tulisan ini, hahaha.

Saya juga tidak terlalu suka berinteraksi di sosial media. Kalau ada di antara kalian yang pernah memerhatikan, kalian akan menemukan fakta bahwa saya jarang like post Instagram following saya, saya juga jarang view Instagram Story following saya, atau left sticker di update-an Path teman-teman saya–saya bahkan jarang menambah teman terlebih dahulu di sosial media apa pun yang saya punya. I prefer doing that after I feel I really close with someone, in real life. Saya tidak sedang ingin menganalisis apakah yang saya lakukan ini benar/salah, baik/tidak, ini hanyalah sebuah kenyataan tentang saya. Saya sering dibilang sombong karena kenyataan ini. -_-

Setelah beberapa hari berpikir, saya ingin mencoba tantangan ini–yang saya dapat ketika iseng-iseng googling dengan keyword “30 days without social media”–dan bertemu dengan sharing dari orang-orang yang pernah melakukan tantangan ini di “https://jasondoesstuff.com/social-media-detox/“, https://stevecorona.com/how-30-days-without-social-media-changed-my-life, dan https://www.elephantjournal.com/2015/08/i-quit-social-media-for-30-days-this-happened/. Saya tertarik dan memutuskan untuk melakukannya juga.

Saya berharap saya dapat belajar banyak hal dari detox ini. Satu hal yang menarik, saya akan mengganti waktu-waktu yang biasa saya lakukan untuk menggunakan sosial media dengan hal lain seperti membaca buku, melakukan pendalaman Alkitab, menelepon orang-orang terkasih, menikmati detik demi detik yang biasanya saya gunakan untuk scrolling down feeds sosial media saya dengan berdiam di hadapan Tuhan. Menikmati sesuatu dalam diam, kapan terakhir kali melakukan ini, ya?

Berdasarkan pengalaman saya dulu (saya pernah tidak menggunakan Path dan Twitter selama hampir setahun karena saya menghapus akun saya dan saya pernah tidak menggunakan Instagram selama sekitar 2 minggu dan sebulan), hal positif yang saya dapatkan adalah saya merasakan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata, hahaha. Terlebih karena, di masa-masa itu saya jadi lebih banyak membaca buku rohani, buku-buku lain kesukaan saya, serta artikel-artikel menarik lainnya, saya juga banyak melakukan pendalaman Alkitab, dan satu lagi, karena ketika itu saya juga sedang menghapus semua lagu di ponsel saya (ya, bahkan sampai sekarang saya hidup tanpa lagu apa pun di ponsel saya) dan saya mulai mencari lagu-lagu rohani baru, saya merasa ‘dipulihkan’ lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan atas suatu kondisi yang cukup menguras emosi pada masa itu. Memang saya juga kehilangan update tentang kehidupan teman-teman saya, tapi ya sudahlah. Saat itu saya memang memilih demikian.

Maka dari itu, ketika saya sedang dalam kondisi emosi yang saya rasa ‘cukup baik’ seperti saat ini, saya penasaran apa yang dapat dilakukan tantangan ini terhadap diri saya. Ah ya, saya juga sedang akan mengerjakan beberapa hal yang saya taruh sebagai prioritas saya selama sebulan ke depan, sehingga saya harap detox ini membantu saya untuk fokus pada apa yang harus saya kerjakan–dan tentunya bisa mendengar suara Tuhan dengan jelas tanpa gaungan notifikasi apa pun dari akun sosial media saya–karena waktu untuk berdiam di hadapan Tuhan yang saya nikmati di depan akan bertambah.

Semoga Tuhan beserta saya! 🙂