PHDT: Pizza Hut Delivery Tips

Saya selalu suka membahas ini. Saya selalu suka berdiskusi tentang ini. Setiap kali orang bertanya kepada saya mengenai hal ini, saya selalu bersyukur karena saya bisa berbagi apa yang saya ketahui, yakini, dan bahkan alami sendiri tentangnya. Setiap kali topik ini dibawa di dalam suatu ibadah, saya selalu berusaha untuk menghadirinya. Kalau ada buku-buku yang bagus tentang hal ini, saya selalu berusaha mendapatkannya, entahkah itu berarti saya harus men-download-nya, meminjamnya, atau membelinya sendiri. Jika ada film yang mengangkat topik ini, saya ingin sekali menyaksikannya. Lagu-lagu yang bertemakan hal ini pun menjadi salah satu kategori pencarian saya di internet.

Pasangan Hidup dalam Tuhan, atau P.H.D.T.

*Maafin judulnya, ya.

*Iya, dimaafin, kok. 

Sebagian besar orang akan mengira saya sebegitu ‘berkeinginan’-nya untuk memiliki pasangan hidup dalam Tuhan. Sebagian lagi akan menyangka bahwa saya sedang ada di titik tergalau sepanjang usia saya. Mungkin hanya sebagian kecil yang memahami bahwa saya sedang mengejar suatu kebenaran mengenai pasangan hidup dalam Tuhan ini. Karena, bagi saya secara personal, memilih pasangan hidup sama halnya dengan memilih dengan siapa kamu akan melayani Tuhan, seumur hidupmu. Maukah memilih tanpa pertimbangan dan nasihat? Tanpa doa dan firman Tuhan? Tanpa kebenaran yang berperan sebagai mata air sekaligus muaranya?

Seperti yang sering ditekankan Salomo dalam Amsal, “kejarlah kebenaran”alasan utama saya terhadap berbagai kesukaan saya di paragraf pertama tadi adalah karena saya takut salah melangkah. Saya juga kuatir ketika kalau pun saya melangkah, saya melangkah tanpa arah dan tujuan. Dan ya, ketakutan dan kekuatiran ini pun terjadi karena saya memiliki pengalaman mengenai hal ini–suatu pengalaman yang sampai detik ini menjadi semacam trauma pelajaran bagi saya. Meskipun banyak orang beranggapan bahwa salah berarti kita telah mencoba–dan mencoba lebih baik daripada duduk-diam-tak melakukan apa pun, saya memilih beranggapan, kalau tahu yang benar, lakukanlah.

Dan kamu bisa bayangkan, ada berapa banyak ‘kebenaran’ yang harus kita ketahui? Banyak sekali; seluruh prinsip kekekalan Allah yang dituangkan-Nya di dalam Alkitab, dari awal sampai akhir. Tidak ada kebenaran sejati mengenai apa pun di dalam buku lain. Hendaklah kita tidak pernah meletakkan dasar terhadap apa pun selain di atas Tuhan Yesus melalui firman-Nya. Karena hikmat yang sejati diperoleh dari firman itu sendiri. Tidak dipungkiri lagi, hikmat itu pulalah yang menuntun kita kepada pemahaman dan pengaplikasian yang tepat dalam memilih pasangan hidup.

Kenapa sih perlu hikmat?

Karena hal mengenai pasangan hidup tidak punya formula yang berlaku sama bagi setiap orang. Tidak ada suatu rumus yang dengan berbagai variabelnya, dapat mengakomodir berbagai cara Tuhan untuk bekerja dalam dua orang yang dikehendaki-Nya untuk bersama selamanya. Dia terlalu kreatif untuk kita batasi dalam mengerjakan rencana-Nya. Semua ini penting untuk kita pahami karena pada hakikatnya tidak ada yang mengetahui dengan pasti setiap rencana Tuhan.

Bahkan, ketika kita salah, hal itu pun berada di dalam kontrol-Nya. Dia akan mengembalikan kita ke pilihan yang benar, yang sesuai dengan rencana besar-Nya bagi kehidupan kita, kalau kita mau membuka hati dan menaati-Nya. Masalahnya, kadang-kadang kita memilih mendengar ‘kata hati’ kita sendiri dan bahkan menaatinya pula.


Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman saya berelasi jenis ini adalah, mengusahakan keutuhan diri sendiri di dalam Tuhan adalah hal yang penting. Definisi utuh ini pun banyak, bahkan interpretasinya bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Saya sendiri, belum berani membahasakan pendapat saya tentang keutuhan ini; sampai di titik mana seseorang dapat dikatakan utuh, apa indikasinya, dan sebagainya.

Tapi, saya memiliki 1 kalimat yang mewakili segala kerumitan pendefinisian kata utuh tersebut; kebergantungan penuh kepada Tuhan. Orang yang utuh di dalam Tuhan adalah orang yang–apa pun kondisinya–selalu melibatkan Tuhan di dalam hidupnya. Melibatkan-Nya dengan sungguh-sungguh sebagai satu-satunya Pribadi yang benar; bukan melibatkan-Nya di dalam tanda kutip. ‘Melibatkan’ untuk mencari ‘pembenaran’ atas hidup yang dijalaninya sendiri.

Untuk bisa bergantung penuh kepada Tuhan, tentu kita harus mengenal dan mengalami Tuhan secara personal terlebih dahulu. Kalau kita tidak kenal dan mengalami Tuhan yang janji-Nya selalu ya dan amin, kita tidak akan mau bergantung pada-Nya. Manusia jarang mau meresikokan hidupnya pada apa yang tidak diyakini dan dipercayainya–dan bagaimana keyakinan dan kepercayaan itu bisa lahir kalau tidak ada pengenalan dan pengalaman bersama Tuhan yang mewarnai? Sebab, iman percaya kita timbul dari pendengaran firman Tuhan (Roma 10:17). Firman inilah yang memberi pengenalan yang benar akan Tuhan kepada kita.

Sehingga menjadi runutlah apa yang ingin saya utarakan di tulisan ini: pengejaran dan pengaplikasian kebenaran yang sejati secara terus-menerus adalah jalan seseorang menemukan pasangan hidup yang benar di hadapan Tuhan. Pasangan hidup yang bersamanya, kamu dan seisi rumahmu akan beribadah kepada Tuhan, seperti kata Yosua. Bersama dengan itu, kebergantunganmu yang penuh kepada Dia adalah jalanmu menjadi pasangan hidup yang benar bagi pasangan hidupmu di dalam Tuhan.


Kalau bisa langsung benar, kenapa harus salah?


Matius 6:33: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.