PHDT: Pizza Hut Delivery Tips – 2

Maafin judulnya, ya.

Setelah pernah menulis tentang PHDT (Pasangan Hidup Dalam Tuhan) pada 2015 lalu (silakan klik di sini untuk membaca), saya merasa perlu menulis lagi versi lanjutannya di blog ini. Alasannya sederhana, saya merasa perlu membebaskan pikiran-pikiran dan perasaan saya mengenai hal ini; menguraikan benang kusut di kepala saya serta berharap setidak-tidaknya saya mengerti dengan lebih jelas apa yang saya tahu dan alami tentang ini. Jadi, mari kita mulai!

Bermula pada obrolan-obrolan yang membangkitkan ingatan saya akan beberapa kesedihan di masa lalu, saya memutuskan untuk membereskan ingatan-ingatan tersebut agar tidak lagi menorehkan luka baru di hati saya saat ini. Inilah cara saya membereskannya:

Dulu saya menganggap bahwa jawaban “tidak” yang berasal dari Tuhan adalah kesedihan yang begitu besar yang implikasinya terhenti pada saya dan diri saya sendiri: tentang bagaimana saya harus menangisi hal tersebut, menjalani hari-hari dengan ketegaran yang dibuat-buat, serta impian-impian agar segera melupakan dan move on. Betapa sempitnya cara saya melihat pekerjaan dan kedaulatan Tuhan pada masa itu. Saya berpikir ini semua tentang saya saja, padahal ini pun adalah tentang Tuhan dan apa yang mau Ia lakukan untuk menggenapkan rencana-Nya.

Ini adalah tentang Tuhan dan apa yang mau Ia lakukan untuk menggenapkan rencana-Nya.

Kalau Tuhan tidak ingin saya berpacaran dengan dia, tentulah itu karena Tuhan ingin menggenapkan rencana-Nya bagi saya–dan rencana-Nya selalulah damai sejahtera, bukan kecelakaan. Di bagian mana saya punya justifikasi untuk terlarut dalam kesedihan? (cie, larut, kayak garam)

Sudah, saya sudah menangis, bahkan, banyak menangis untuk hal itu. Sudah, saya pun sudah lama sekali berhenti menangisinya. Semua itu karena Tuhan menaruh di dalam hati saya damai sejahtera yang Ia maksudkan. Sehingga sekalipun obrolan-obrolan pembangkit cerita itu datang lagi, saya sudah tidak merasakan lagi kesedihan yang sama. Malahan saya bersyukur dan bisa berkata, “memang harus seperti ini ya, Tuhan.”

Oke, kembali ke Tuhan yang mau menggenapkan rencana-Nya, termasuk melalui relasi anak-anak yang dikasihi dan mengasihi-Nya.

Saya tidak tahu dengan kalian, tetapi bagi saya, jauh di dalam lubuk hati saya, saya selalu rindu pada akhirnya nanti akan memiliki pasangan hidup yang juga melayani Tuhan dan sesama–spesifik sekali, yakni menggembalakan sesama. Saya berdoa kepada Tuhan semoga ini bukan ambisi pribadi namun memang respons saya terhadap panggilan Tuhan bagi saya dan pasangan hidup saya nantinya. Terlepas dari apa pun yang kami kerjakan, mandat Injil tetaplah harus kami lakukan. Itulah doa dan kerinduan hati saya. Sepertinya terlalu tidak tahu diri jika saya berhenti meneruskan kasih Tuhan yang menyelamatkan saya dan yang menganugerahkan hidup yang sangat berharga dan kekal ini.

Dengan itu jugalah saya akan menguji calon pasangan hidup yang Tuhan izinkan berlalu-lalang di masa belum menikah ini. Kalau kita mengerti betul hal di atas, saya rasa kita akan lebih objektif dalam menjalani hari-hari dan tidak akan membiarkan perasaan semata (sehidung, setelinga) memimpin kita. Secara individu, kita sebaiknya sudah sadar bahwa kepuasan sejati kita hanya ada di dalam Tuhan, bahwa mengenal Dia secara pribadi dan mengalami kuasa kebangkitan-Nya adalah satu-satunya kemegahan kita, bahwa yang menjadi tempat perlindungan dan sumber kekuatan kita adalah Tuhan saja, serta tidak ada yang kita sembah selain Tuhan. Apa yang membuat berpacaran (dan bahkan menikah) mengubah iman dan pengakuan-pengakuan kita tersebut? Tidak ada. Pasangan yang tidak membuat kita semakin mengimani dan melakukan hal-hal tersebut bukanlah pasangan yang tepat. Hubungan pacaran dan pernikahan nanti haruslah mengarahkan kita untuk semakin mengasihi Tuhan yang terutama dan semakin taat kepada-Nya.

Ini jugalah yang akan menentukan sikap hati dan penundukan kita dalam menetapkan kriteria pasangan hidup. Cantik? Ganteng? Pintar? Berwawasan luas? Banyak uang? Satu suku? Satu Nusa? Satu Bangsa? Satu Bahasa Kita? Apa pun itu, jikalau kita melupakan kriteria yang paling menentukan separuh hidup kita yakni apakah (singkatnya) ia seorang murid yang mau bertumbuh dan yang setia pada Tuhan/tidak–kita akan tertatih-tatih memenuhi panggilan Tuhan dalam hidup kita. Banyak orang menempatkan kriteria-kriteria sekunder sebagai yang utama dan menggampangkan kriteria kerohanian. Bahkan, menyamakan kebaikan-kebaikan moral dengan pertumbuhan rohani di dalam Tuhan.

Ini jugalah yang akan menentukan tindakan, kesabaran dan kewaspadaan kita akan penantian pasangan hidup yang sungguh-sungguh dari Tuhan, bukan dari setan. Kita nggak akan terburu-buru dalam bertindak, tidak akan merasa hopeless kalau di usia segini belum punya pacar, dan bahkan tahu kapan harus memulai lebih dahulu (uhuk! cemangat ea!). Ketika kita menyadari bahwa kita sedang mencari partner untuk mengusahakan berbagai hal dalam mengerjakan panggilan Tuhan, segera saja kita akan menempatkan gengsi dan ego diri sendiri ini di nomor ke-sekian. Ini untuk Tuhan, kan?

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya bahas lagi, tetapi saya hentikan di sini saja. Kalau ada yang ingin bertanya, silakan di kolom comment, ya!

Selamat mencari dan menguji!

Advertisements

PHDT: Pizza Hut Delivery Tips

Saya selalu suka membahas ini. Saya selalu suka berdiskusi tentang ini. Setiap kali orang bertanya kepada saya mengenai hal ini, saya selalu bersyukur karena saya bisa berbagi apa yang saya ketahui, yakini, dan bahkan alami sendiri tentangnya. Setiap kali topik ini dibawa di dalam suatu ibadah, saya selalu berusaha untuk menghadirinya. Kalau ada buku-buku yang bagus tentang hal ini, saya selalu berusaha mendapatkannya, entahkah itu berarti saya harus men-download-nya, meminjamnya, atau membelinya sendiri. Jika ada film yang mengangkat topik ini, saya ingin sekali menyaksikannya. Lagu-lagu yang bertemakan hal ini pun menjadi salah satu kategori pencarian saya di internet.

Pasangan Hidup dalam Tuhan, atau P.H.D.T.

*Maafin judulnya, ya.

*Iya, dimaafin, kok. 

Sebagian besar orang akan mengira saya sebegitu ‘berkeinginan’-nya untuk memiliki pasangan hidup dalam Tuhan. Sebagian lagi akan menyangka bahwa saya sedang ada di titik tergalau sepanjang usia saya. Mungkin hanya sebagian kecil yang memahami bahwa saya sedang mengejar suatu kebenaran mengenai pasangan hidup dalam Tuhan ini. Karena, bagi saya secara personal, memilih pasangan hidup sama halnya dengan memilih dengan siapa kamu akan melayani Tuhan, seumur hidupmu. Maukah memilih tanpa pertimbangan dan nasihat? Tanpa doa dan firman Tuhan? Tanpa kebenaran yang berperan sebagai mata air sekaligus muaranya?

Seperti yang sering ditekankan Salomo dalam Amsal, “kejarlah kebenaran”alasan utama saya terhadap berbagai kesukaan saya di paragraf pertama tadi adalah karena saya takut salah melangkah. Saya juga kuatir ketika kalau pun saya melangkah, saya melangkah tanpa arah dan tujuan. Dan ya, ketakutan dan kekuatiran ini pun terjadi karena saya memiliki pengalaman mengenai hal ini–suatu pengalaman yang sampai detik ini menjadi semacam trauma pelajaran bagi saya. Meskipun banyak orang beranggapan bahwa salah berarti kita telah mencoba–dan mencoba lebih baik daripada duduk-diam-tak melakukan apa pun, saya memilih beranggapan, kalau tahu yang benar, lakukanlah.

Dan kamu bisa bayangkan, ada berapa banyak ‘kebenaran’ yang harus kita ketahui? Banyak sekali; seluruh prinsip kekekalan Allah yang dituangkan-Nya di dalam Alkitab, dari awal sampai akhir. Tidak ada kebenaran sejati mengenai apa pun di dalam buku lain. Hendaklah kita tidak pernah meletakkan dasar terhadap apa pun selain di atas Tuhan Yesus melalui firman-Nya. Karena hikmat yang sejati diperoleh dari firman itu sendiri. Tidak dipungkiri lagi, hikmat itu pulalah yang menuntun kita kepada pemahaman dan pengaplikasian yang tepat dalam memilih pasangan hidup.

Kenapa sih perlu hikmat?

Karena hal mengenai pasangan hidup tidak punya formula yang berlaku sama bagi setiap orang. Tidak ada suatu rumus yang dengan berbagai variabelnya, dapat mengakomodir berbagai cara Tuhan untuk bekerja dalam dua orang yang dikehendaki-Nya untuk bersama selamanya. Dia terlalu kreatif untuk kita batasi dalam mengerjakan rencana-Nya. Semua ini penting untuk kita pahami karena pada hakikatnya tidak ada yang mengetahui dengan pasti setiap rencana Tuhan.

Bahkan, ketika kita salah, hal itu pun berada di dalam kontrol-Nya. Dia akan mengembalikan kita ke pilihan yang benar, yang sesuai dengan rencana besar-Nya bagi kehidupan kita, kalau kita mau membuka hati dan menaati-Nya. Masalahnya, kadang-kadang kita memilih mendengar ‘kata hati’ kita sendiri dan bahkan menaatinya pula.


Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman saya berelasi jenis ini adalah, mengusahakan keutuhan diri sendiri di dalam Tuhan adalah hal yang penting. Definisi utuh ini pun banyak, bahkan interpretasinya bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Saya sendiri, belum berani membahasakan pendapat saya tentang keutuhan ini; sampai di titik mana seseorang dapat dikatakan utuh, apa indikasinya, dan sebagainya.

Tapi, saya memiliki 1 kalimat yang mewakili segala kerumitan pendefinisian kata utuh tersebut; kebergantungan penuh kepada Tuhan. Orang yang utuh di dalam Tuhan adalah orang yang–apa pun kondisinya–selalu melibatkan Tuhan di dalam hidupnya. Melibatkan-Nya dengan sungguh-sungguh sebagai satu-satunya Pribadi yang benar; bukan melibatkan-Nya di dalam tanda kutip. ‘Melibatkan’ untuk mencari ‘pembenaran’ atas hidup yang dijalaninya sendiri.

Untuk bisa bergantung penuh kepada Tuhan, tentu kita harus mengenal dan mengalami Tuhan secara personal terlebih dahulu. Kalau kita tidak kenal dan mengalami Tuhan yang janji-Nya selalu ya dan amin, kita tidak akan mau bergantung pada-Nya. Manusia jarang mau meresikokan hidupnya pada apa yang tidak diyakini dan dipercayainya–dan bagaimana keyakinan dan kepercayaan itu bisa lahir kalau tidak ada pengenalan dan pengalaman bersama Tuhan yang mewarnai? Sebab, iman percaya kita timbul dari pendengaran firman Tuhan (Roma 10:17). Firman inilah yang memberi pengenalan yang benar akan Tuhan kepada kita.

Sehingga menjadi runutlah apa yang ingin saya utarakan di tulisan ini: pengejaran dan pengaplikasian kebenaran yang sejati secara terus-menerus adalah jalan seseorang menemukan pasangan hidup yang benar di hadapan Tuhan. Pasangan hidup yang bersamanya, kamu dan seisi rumahmu akan beribadah kepada Tuhan, seperti kata Yosua. Bersama dengan itu, kebergantunganmu yang penuh kepada Dia adalah jalanmu menjadi pasangan hidup yang benar bagi pasangan hidupmu di dalam Tuhan.


Kalau bisa langsung benar, kenapa harus salah?


Matius 6:33: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.