Istimewa – Tapi Bukan Lagu 

Ketika hari demi hari berlalu dengan berbagai tekanannya, saya merasa istimewa tatkala saya masih meluangkan waktu untuk berlabuh kembali ke ruang ini, bertukar-cerita dengan siapa pun yang secara kebetulan maupun kesengajaan mampir dan menepi ke ruang ini. Istimewa, karena apa yang ingin saya bagikan kepada kalian.

Jadi begini. Memulai hubungan dengan orang yang berada di luar lingkaran pertemanan Anda ternyata tidak sebegitu sulitnya. Setidaknya pemikiran sayalah yang sedang diperbaharui di sini.

Segalanya tampak mungkin, dan memang mungkin. Tiba-tiba saja ternyata gaya komunikasi kalian seirama. Mendadak alur berpikir kalian pun menjadi begitu beriringan. Ternyata ada orang yang melakukan hal-hal yang Anda harapkan untuk dilakukan tanpa Anda minta. Mungkin, tenang yang selama ini Anda dambakan terwujud nyata melalui keberadaan orang tersebut atas seribu satu kebaikan dan anugerah Sang Pencipta.

Saya adalah pendukung gagasan di atas. Banyak yang berkata, “ya namanya juga baru beberapa bulan? Kita lihat saja nanti, masih berbunga atau tidak?”

Bagi saya, respon semacam ini tampak begitu sebelah mata. Tentu saja baru beberapa bulan. Namun, beberapa bulan ini kan apa yang baru saja kita lihat, toh? Jangan lupakan bahwa ada sekian belas bulan yang dipakai untuk bersiap-siap, sendirian. Kupu-kupu yang hinggap di bunga itu tentu tidak lahir dan besar langsung bersayap indah seperti itu. Ada masa-masa metamorfosis yang tidak pernah begitu dipedulikan orang. Sama halnya dengan bunga itu. Dia mengalami masa-masa masih menjadi benih, kecil, dan sedikit diabaikan–sebelum kini kelopaknya begitu cantik.

*mohon maaf jika sejenak terdapat analogi (yang agak) dangdut*

Yang mau saya bilang, masa-masa awal memulai hubungan itu memang sangat–sangat meledak-ledak, biasanya. Nikmati dan kendalikanlah. Toh tidak ada yang menjanjikan ini akan bertahan lama–dan selamanya, kan?

Tetapi kita bisa beriman dan berbuat sesuai dengan iman kita, dong.

Itulah yang selalu saya renungkan dan doakan kepada Dia yang menciptakan hubungan ini. Jujur, saat ini hubungan saya dan pacar saya terbilang begitu manis.

Kami sama-sama punya prinsip bahwa ‘marah-marah’ ngga perlu dengan marah-marah. Maksudnya, segala hal selalu dapat dibicarakan dengan penuh kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan hati, kesetiaan, kelemah-lembutan, serta pengendalian diri. Kami belajar menyampaikan pendapat, masukan, saran, protes, kritik, evaluasi, dengan serius–sekaligus fun. 

Ada rasa syukur tersendiri ketika menyadari bahwa sampai saat ini kami tidak pernah bertengkar–tanpa perlu merasa ada yang ditutup-tutupi, ada masalah yang disembunyikan, dihindari, dan sebagainya.

Kami selalu melakukan evaluasi, sedikitnya 1 kali sebulan. Apa yang perlu kami tingkatkan, kurangi, baik secara pribadi maupun bersama, kami bicarakan di sana. Saya sendiri memutuskan untuk menuliskannya di diary (khusus tentang perjalanan persahabatan dengan pacar) saya.

Selalu ada sukacita setiap kali berbicara dengannya.

Ditambah lagi, kami sangat tidak masalah untuk menceritakan hal-hal apa pun yang (terutama) (mungkin akan) berdampak terhadap hubungan kami. Misalnya tentang masa lalu masing-masing dari kami. Kami sama-sama percaya bahwa Tuhan tidak asal-asalan menempatkan setiap orang di dalam hidup kami–melalui itulah kami dibentuk-Nya hingga sebagaimana adanya kami saat ini. Saya ingat beberapa kali kami bersyukur telah melewati masa-masa seperti itu–karena ternyata, kami telah belajar banyak daripadanya.

Tidak ada baper, sampai saat ini. 

Hidup ini berat dan saya kagum pada kemampuannya menghibur saya–sehingga saya lupa bahwa yang berat adalah tubuh saya, ternyata.

Kami sudah punya banyak sekali internal jokes yang pastinya hanya dapat dimengerti oleh kami sendiri, kecuali kami sangat niat bikin tutorialnya.

Empat bulan ini kami sudah menyelesaikan diskusi buku Sacred Search sampai Bab 4. Banyak ide yang dulu tidak begitu membumi bagi kami, sekarang tampak sangat transparan dan relevan dengan kami. Dengan terang-terangan kami membahas hal-hal yang mungkin dianggap “konyol” atau bahkan “terlalu serius” dalam menjalani suatu hubungan. Syukurlah, sahabat diskusi saya (cukup) lucu, jadi saya bisa saja langsung ngakak lebar setelah pembahasan-penbahasan serius tersebut terjadi.

Sebagai individu bertanggung-jawab atas hidup kami dan apa yang sudah kami terima sampai saat ini, masing-masing dari kami juga punya cita-cita dan mimpi yang (berani-beraninya) begitu besar. Tapi tidak apa, selama siap dengan konsekuensi untuk mengusahakan hal-hal besar pula. Tentu, tanpa mendiskreditkan campur tangan Tuhan di sana.

Setidaknya beberapa hal di ataslah yang dapat saya simpulkan dari beberapa bulan saya memulai hubungan dengan orang yang tidak ada dalam lingkaran pertemanan saya ini. Sangat di luar dugaan, melampaui apa yang pernah saya inginkan dan bahkan doakan. Bagi Tuhanlah segala kemuliaan.

Kami sama-sama “baru” dalam menjalani hubungan (yang kami mulai dengan pertimbangan seserius ini). Kami perlu terus belajar. Kami perlu mengingat bahwa hubungan ini bukanlah #relationshipgoals atau tujuan kami. Sebagaimana pada mulanya kami dicipta untuk memuliakan Tuhan dan menikmati-Nya seumur hidup kami, itu jugalah yang ingin kami capai melalui hubungan ini. Kalau pacaran membuat kami tidak lagi memuliakan Tuhan dan menikmati-Nya–baik pribadi maupun bersama–pasti kami telah memberhalakan kisah ini.

Kepada sahabat baru saya, Gohan, mohon maaf jika ternyata empat bulan ini membuktikan bahwa saya begitu garing dan cerewet. Pasti ngga nyangka, kan? Wakakak!

—–

Ah, karena pekerjaan-Mu dalam persahabatan ini, Tuhan, aku merasa istimewa. Tuhan memang keren. 

Meet Elisabeth’s Blessing

The dearest one

That was when I left all the past behind. That was when I finally could not even remember my last cry. That was when I decided to be strong because I know that life around me goes on and on.

That was when finally love rained on me.

Now I am coming with this undeniable feeling about this guy, to start a new friendship, to share every dream we have (though it sounds a bit crazy), and to make each other laugh with our effortless cuteness and admirable sense of humor. (Err, is it true? I mean, the “cute & humor” part).

I’d never thought I could fall to this guy—this kind of cute rabbit in a guy body, lol, sorry, Goh!

It is true, time revealed (and please, always reveals) that this guy–this handsome guy–is like an answered prayer to me. It is sweet, no?  It is also remarkably incredible how every thing works themselves out and all emotional, also spiritual, once you know what it’s all about.

I see the coming of the sun (err, I mean, it is a bright brand new day!) whenever we are together. He is that funny I can’t even tell. Thank you so much for your lovely and cute heart, Gohan!

*Did I just use the word “cute” to image his heart or what*

P.S.:

This is just a teaser.

Bye, gonna meet my client. :p

(Guess the songs behind this post!)

A Super Busy One

Hidup telah menjadi begitu melelahkan belakangan ini. Tugas-tugas kantor yang sedang banyak–menyita Senin-Jumat, lalu pelayanan yang mengambil Sabtu-Minggu. I am physically tired. Belakangan juga batuk tak henti-henti.

Masih mending kalau fisik aja yang capek. Kalau capek juga secara mental? Err, nggak mau, meski rasanya sedang menuju ke situ. Apalagi, saat ini sedang dihadapkan sama beberapa hal yang ngebuat hati ini berpikir,

“Elah, kenapa sih?”

Susah mengerti.

Udah jarang banget nonton film dibanding dulu. Kalo sekarang ditanya tentang hobi, pasti aku akan bilang, “Hai, aku Elisabeth, hobinya kangen nonton film.” Film terakhir yang ditonton adalah Captain America: Civil War–setelah sebelumnya kayaknya udah jarang juga nonton film. Itu juga karena janjian sama temen-temen. Di samping emang susah nemu waktu yang cocok, perlahan-lahan hasrat nonton film pun memudar. Mungkin udah lelah gitu sama gagasan-gagasan para pembuat film. *songong sih*

Ya abis, film-film sekarang jarang yang datang dengan ide yang fresh. Rata-rata lanjutan cerita pendahulunya semua. Now You See Me 2, serial Marvel yang… Kalau ada kata di atas never-ending, mungkin aku akan pilih itu, AADC 2, dan semua film lain dengan angka di belakang judulnya.

Ya ini mungkin aja sih. Mungkin karena memang lagi capek dan memilih istirahat di rumah aja daripada nonton. Padahal kalo lagi gabut, mungkin aja tetap semangat nonton!

Drama Korea? Udah ngga pernah lagi semenjak 3 bulan yang lalu. Selain emang karena bukan freak Korea gitu, emang lagi ngga minat aja menghabiskan waktu dengan drama demikian. Meski rasanya kalau libur tiba, aku akan segera menuntaskan Reply 1988 yang ngga kunjung ditonton kemarin. 

Puji Tuhan, meski begitu penuhnya hari-hari ini, masih menyisihkan waktu untuk baca. Apalagi semenjak pacaran sama Gohan, bahan bacaan jadi meluas, wakaka! Ini orang emang canggih banget dah. Rasanya kayak keluar dari goa gitu kalo udah ngobrol sama dia–“Aha! Inikah peradaban itu, guru?!”–hahahaha!

Oh iya, salah satu yang ngebuat hasrat nonton berkurang adalah keberadaan Gohan yang lebih menarik daripada mereka semua yang ada di film itu. #ea #err #sa #ae #kamu #centong #es #krim

Oke, kembali ke masalah sibuk.

*kok gue malah sok imut gitu di beberapa paragraf sebelum ini yak*

Penuh bangetlah hari-hari ini. Perjuangan untuk tetap saat teduh setiap pagi rasanya begitu…greget.

Untuk punya waktu pause & ponder rasanya langka banget. Tapi, manusia perlu itu. Elisabeth perlu itu. Kurang piknik, ya, bahasanya?

Semoga Minggu ini bisa terealisasi menikmati waktu yang fokus dan bener-bener hangat, bersama Tuhan!

Semoga Tuhan kabulkan. Amen!

“Sahabat tuh gitu! Menceritakan apa yang dirasakan jiwanya; lagi kesal, cerita, lagi seneng juga cerita.”

Satu kutipan lagi dari agen guling-guling 1. 

PHDT: Pizza Hut Delivery Tips

Saya selalu suka membahas ini. Saya selalu suka berdiskusi tentang ini. Setiap kali orang bertanya kepada saya mengenai hal ini, saya selalu bersyukur karena saya bisa berbagi apa yang saya ketahui, yakini, dan bahkan alami sendiri tentangnya. Setiap kali topik ini dibawa di dalam suatu ibadah, saya selalu berusaha untuk menghadirinya. Kalau ada buku-buku yang bagus tentang hal ini, saya selalu berusaha mendapatkannya, entahkah itu berarti saya harus men-download-nya, meminjamnya, atau membelinya sendiri. Jika ada film yang mengangkat topik ini, saya ingin sekali menyaksikannya. Lagu-lagu yang bertemakan hal ini pun menjadi salah satu kategori pencarian saya di internet.

Pasangan Hidup dalam Tuhan, atau P.H.D.T.

*Maafin judulnya, ya.

*Iya, dimaafin, kok. 

Sebagian besar orang akan mengira saya sebegitu ‘berkeinginan’-nya untuk memiliki pasangan hidup dalam Tuhan. Sebagian lagi akan menyangka bahwa saya sedang ada di titik tergalau sepanjang usia saya. Mungkin hanya sebagian kecil yang memahami bahwa saya sedang mengejar suatu kebenaran mengenai pasangan hidup dalam Tuhan ini. Karena, bagi saya secara personal, memilih pasangan hidup sama halnya dengan memilih dengan siapa kamu akan melayani Tuhan, seumur hidupmu. Maukah memilih tanpa pertimbangan dan nasihat? Tanpa doa dan firman Tuhan? Tanpa kebenaran yang berperan sebagai mata air sekaligus muaranya?

Seperti yang sering ditekankan Salomo dalam Amsal, “kejarlah kebenaran”alasan utama saya terhadap berbagai kesukaan saya di paragraf pertama tadi adalah karena saya takut salah melangkah. Saya juga kuatir ketika kalau pun saya melangkah, saya melangkah tanpa arah dan tujuan. Dan ya, ketakutan dan kekuatiran ini pun terjadi karena saya memiliki pengalaman mengenai hal ini–suatu pengalaman yang sampai detik ini menjadi semacam trauma pelajaran bagi saya. Meskipun banyak orang beranggapan bahwa salah berarti kita telah mencoba–dan mencoba lebih baik daripada duduk-diam-tak melakukan apa pun, saya memilih beranggapan, kalau tahu yang benar, lakukanlah.

Dan kamu bisa bayangkan, ada berapa banyak ‘kebenaran’ yang harus kita ketahui? Banyak sekali; seluruh prinsip kekekalan Allah yang dituangkan-Nya di dalam Alkitab, dari awal sampai akhir. Tidak ada kebenaran sejati mengenai apa pun di dalam buku lain. Hendaklah kita tidak pernah meletakkan dasar terhadap apa pun selain di atas Tuhan Yesus melalui firman-Nya. Karena hikmat yang sejati diperoleh dari firman itu sendiri. Tidak dipungkiri lagi, hikmat itu pulalah yang menuntun kita kepada pemahaman dan pengaplikasian yang tepat dalam memilih pasangan hidup.

Kenapa sih perlu hikmat?

Karena hal mengenai pasangan hidup tidak punya formula yang berlaku sama bagi setiap orang. Tidak ada suatu rumus yang dengan berbagai variabelnya, dapat mengakomodir berbagai cara Tuhan untuk bekerja dalam dua orang yang dikehendaki-Nya untuk bersama selamanya. Dia terlalu kreatif untuk kita batasi dalam mengerjakan rencana-Nya. Semua ini penting untuk kita pahami karena pada hakikatnya tidak ada yang mengetahui dengan pasti setiap rencana Tuhan.

Bahkan, ketika kita salah, hal itu pun berada di dalam kontrol-Nya. Dia akan mengembalikan kita ke pilihan yang benar, yang sesuai dengan rencana besar-Nya bagi kehidupan kita, kalau kita mau membuka hati dan menaati-Nya. Masalahnya, kadang-kadang kita memilih mendengar ‘kata hati’ kita sendiri dan bahkan menaatinya pula.


Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman saya berelasi jenis ini adalah, mengusahakan keutuhan diri sendiri di dalam Tuhan adalah hal yang penting. Definisi utuh ini pun banyak, bahkan interpretasinya bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Saya sendiri, belum berani membahasakan pendapat saya tentang keutuhan ini; sampai di titik mana seseorang dapat dikatakan utuh, apa indikasinya, dan sebagainya.

Tapi, saya memiliki 1 kalimat yang mewakili segala kerumitan pendefinisian kata utuh tersebut; kebergantungan penuh kepada Tuhan. Orang yang utuh di dalam Tuhan adalah orang yang–apa pun kondisinya–selalu melibatkan Tuhan di dalam hidupnya. Melibatkan-Nya dengan sungguh-sungguh sebagai satu-satunya Pribadi yang benar; bukan melibatkan-Nya di dalam tanda kutip. ‘Melibatkan’ untuk mencari ‘pembenaran’ atas hidup yang dijalaninya sendiri.

Untuk bisa bergantung penuh kepada Tuhan, tentu kita harus mengenal dan mengalami Tuhan secara personal terlebih dahulu. Kalau kita tidak kenal dan mengalami Tuhan yang janji-Nya selalu ya dan amin, kita tidak akan mau bergantung pada-Nya. Manusia jarang mau meresikokan hidupnya pada apa yang tidak diyakini dan dipercayainya–dan bagaimana keyakinan dan kepercayaan itu bisa lahir kalau tidak ada pengenalan dan pengalaman bersama Tuhan yang mewarnai? Sebab, iman percaya kita timbul dari pendengaran firman Tuhan (Roma 10:17). Firman inilah yang memberi pengenalan yang benar akan Tuhan kepada kita.

Sehingga menjadi runutlah apa yang ingin saya utarakan di tulisan ini: pengejaran dan pengaplikasian kebenaran yang sejati secara terus-menerus adalah jalan seseorang menemukan pasangan hidup yang benar di hadapan Tuhan. Pasangan hidup yang bersamanya, kamu dan seisi rumahmu akan beribadah kepada Tuhan, seperti kata Yosua. Bersama dengan itu, kebergantunganmu yang penuh kepada Dia adalah jalanmu menjadi pasangan hidup yang benar bagi pasangan hidupmu di dalam Tuhan.


Kalau bisa langsung benar, kenapa harus salah?


Matius 6:33: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.