Hari ke-150: Sudah Selesai

Hari Jumat pagi, aku terbangun pada pukul setengah 5. Just had 4 hours of sleeping. Masih belum merasa bahwa hari ini adalah hari eksekusi si solusi. Masih belum ngeh kalau hari ini aku akan segera melepas status sebagai jomblo.. eh maksud saya sebagai mahasiswa. Kondisinya kurang lebih begini: perut mules, lutut lemes, anggota motorik lamban, dan hati hampa. Loh… kok bisa hampa ya. Entahlah. Aku memulai hari dengan saat teduh. Kemudian aku latihan presentasi lagi. Oke, kondisi tambahan: suaraku lebih mirip suara kaleng usang daripada suara manusia.

Pukul 7 aku sudah tiba di Depok. Ini adalah pertanda betapa tingginya insecurity terhadap hari ini. Karena aku belum sempat sarapan di rumah, aku memutuskan untuk makan di restoran rakyat a.k.a warteg untuk mengisi amunisi perang hari ini. Ngga lucu kalau pas lagi sidang jobdesc dosen penguji ditambah dengan menggotong mahasiswa pingsan. Oke, aku tidak selera makan. Bukan karena tidak enak, memang alam bawah sadarku sedang tidak ingin aku menyantap apa pun pagi ini. Tapi tetap kuusahakan untuk menikmati santapan itu. Kemudian datanglah seniorku tercinta, Kak Eta, dengan baju tidurnya (hahaha) menghampiriku di restoran rakyat tersebut untuk mendoakanku. Ckck bahagia banget ya punya kakak seperti ini :’) Berbahagialah dikau, Bang Hardi! :p

Sidangku dimulai sekitar pukul 09.00. Awalnya, bukan aku yang maju duluan. Namun entah mengapa di saat sedang galau-galaunya di toilet, temenku malah teriak-teriak kalau aku akan sidang di urutan pertama. (Heh, jangan mikir kotor ya). Jantungku seperti hendak keluar. Ah, lebay. Tapi begitulah. Aku menggumam… “Me? Ok. Who’s afraid? (Siapa takut, dalam bahasa Indonesia).

Aku pun maju dan menyampaikan presentasi terkait topik ini:

Untitled

Aku bahagia karena akhirnya bisa mempresentasikan hal ini. Aku tidak peduli pada apa pun pertanyaan dari dosen penguji. Aku percaya, aku cukup menguasai apa yang kupresentasikan. Iya, dong. Kan skripsinya bikin sendiri, bukan beli di toko bangunan.

Oke. Sekitar 15 menitan berlalu, tibalah saat-saat keramat tersebut. Tanya-jawab dengan dosen penguji.

Ada 3 orang dosen yang mengujiku, dengan kondisi 2 di antaranya adalah dosen pembimbing. Di luar dugaan, salah satu dosen pembimbingku malah mengujiku lebih banyak. 😦 Ya tidak apalah. Bahkan beliau memintaku menggambar kapal-kapal dan skema asuransinya serta menjelaskan sekali lagi apa yang kumaksud di dalam presentasi tadi. Wah, aku tidak mempersiapkan cara menggambar kapal yang baik. Di saat aku hendak mulai menggambar, terbayang di kepala ini, manakah yang lebih baik untuk digambar, kapal Titanic, ataukah kapal nelayan biasa. Beruntung akal sehat ini kembali ke tempatnya, mengingat aku sedang ujian skripsi dan bukan lomba menggambar tingkat kecamatan, aku pun memutuskan untuk menggambar kapal…kapalan. Ya, you define it lah.

Selesai menggambar dan menjelaskan, mulailah diskusi yang lebih sengit terjadi. Para penguji ini, selain dosen pembimbing utamaku, tidak familiar dengan topik ini. Padahal menurut mereka urgensinya tinggi untuk Indonesia. Karena itu pertanyaan-pertanyaan mereka lebih ke arah.. ingin tahu saja. Tapi, aku bersyukur, ternyata dari sidang ini, banyak hal lagi yang bisa dikaji terkait dengan topik ini. (Kalau ada yang berminat menulis mengenai asuransi kapal, call me! 🙂 I’ll tell you something).

Setelah menunggu 3 orang temanku yang lain selesai sidang, tibalah pengumuman hasil. Tanpa drum roll dan tanpa confetti, kami berempat pun dinyatakan lulus sidang dengan nilai yang baik! Aaaaak, puji Tuhan. Aku bahagia karena eksekusi ini berjalan dengan lancar. Aku bahagia karena aku bisa merasakan betapa Tuhan begitu menenangkan dan membuatku yakin bahwa segalanya akan berjalan lancar. Aku berbahagia karena kita berempat berhasil menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa, bahagia sekali dengan keputusan Tuhan memberikan bapak ini sebagai dosen pembimbing kami.

1436545647525
Sansan, Bebeth, Pak Kornelius ‘keren’ Simanjuntak, Sam, Quin.

Di luar ruangan, sudah ada banyak teman-teman dan sahabat yang menunggu. Aku juga bahagia akan kenyataan ini. :’)

Lihatlah mereka, betapa niatnya mereka memberikan bunga seperti itu untuk menyemarakkan kelulusanku hari ini. :’) Terima kasih Abby, Jojo, dan Odett! Semoga Tuhan memberikan yang terbaik terus untuk kalian! :’)

Abby, Bebeth, Jojo, Odett.
Abby, Bebeth, Jojo, Odett.

Ada juga anak-anak kelompok kecil tercinta yang begitu aku selesai sidang dan belum dinyatakan S.H., langsung meminta foto bersama. :’) Ini adalah langkah iman, guys! Anyway, ternyata itu pipinya emang lebih mirip mochi daripada pipi deh.

IMG-20150710-WA0006
Tria dan Abi

Dan ini… beberapa warga PO FH UI tercinta, yang menjadi saluran kasih Tuhan, saluran semangat dari Tuhan untukku selama di kampus, terkhusus selama penulisan skripsi ini. Ah, bahagia sekali. :’)

IMG-20150710-WA0045
William, Yannes, Winner, Ocep, Mita, Jedev, Friska, Ivo, Pipin, Elka, Irene, Lidya, Ipul, Stefan, Kevin, dan Rama.

Terima kasih sekali lagi, kepada kalian semua. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu, tenaga, dan hati kalian untuk memikirkan dan memedulikanku. Aku hanya serbuk gergaji tanpa kalian. Aku berdoa semoga persaudaraan kita tetap terjalin di dalam Kristus Yesus! Amen.

Inilah akhir dari perjalanan 150 hari penulisan skripsi bersama Tuhan Yesus. Cantik sekali jumlahnya. Seperti jumlah pasal dalam Mazmur. *yayaya* Aku bersyukur karena memang kurasakan bahwa Tuhan berjalan bersamaku dalam setiap suka dan duka penulisan skripsi ini. Dalam setiap kepastian dan ketidakpastian, setiap harapan dan doa, setiap waktunya, setiap lembarnya. Di tengah banyaknya kemelut kehidupan, hahaha, Tuhan menyatakan diri-Nya dengan begitu tak terkatakan.

Inilah akhir dari perjalanan 150 hari penulisan skripsi bersama Tuhan Yesus. Mulai dari bagaimana Dia menempatkan topik ini di hatiku, bagaimana Dia mengingatkanku untuk tidak mengerjakan hal yang ‘ala kadarnya’. Bagaimana Dia menyatakan melalui dosenku bahwa topik ini bagus untuk diteliti, bagaimana Dia memberikan bahan demi bahan yang kuperlukan dalam menulis skripsi ini. Tuhan Yesus juga yang menolongku untuk mengerti tentang menggunakan setiap hari dengan bijaksana, karena hari-hari ini adalah jahat. Dia juga yang ingatkan aku bahwa Pembimbing nomor 1 haruslah Dia. Harapan dan kekuatan haruslah didasarkan pada-Nya. Untuk Dialah skripsi ini dikerjakan. Tuhan juga yang membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil di dalam nama-Nya dengan menggerakkan hati narasumber-narasumber untuk membantu penelitian ini. Bahwa sesibuk dan setenar apa pun mereka, kalau Tuhan sudah bilang bahwa mereka akan memberi waktu untukku, mereka pasti akan memberinya. Sungguh bahagia dengan setiap janji Tuhan yang digenapi-Nya selama khususnya 150 hari ini aku menulis skripsi.

Kalau bukan karena-Mu, Tuhan, mana mungkin semua yang sudah berakhir ini bisa kumulai. Mana mungkin kalau saat ini di belakang namaku telah bertengger gelar sarjana. :’)

Sekali lagi, terima kasih Tuhan. Kiranya Engkau menerima persembahanku ini. Biarlah nama Tuhan saja yang dimuliakan melalui gelar sarjana hukumku ini. Amen.

So, once again, congratulations on your graduation, self! 
IMG-20150710-WA0000 Sudah selesai. 🙂

Hari ke-150 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Hari ke-146: Sedikit Cerita tentang Rasa Syukur

Perlahan tapi pasti, hari-hari yang kulalui terlihat dan terasa semakin baik. Secara luar biasa, Tuhan menyertai dan memberkati proses penyelesaian skripsiku hingga aku bisa mendaftar sidang pada 3 Juli 2015 kemarin. Kamu harus tahu, teman-teman, aku hampir gagal daftar sidang. Namun Tuhan membukakan segala pintu menuju sidang. Dosen pembimbingku, kedua-duanya, baru memberi persetujuan terhadap skripsiku pada awal Juli ini. Ajaibnya, aku tidak terlalu khawatir. Karena aku sudah melihat bagaimana Tuhan bekerja memastikan seluruh ketidakpastianku pada fase analisis di Bab 4 kemarin. Aku bisa mewawancarai seorang mantan direktur utama anak perusahaan Pertamina, yang menurutku, sangat wow. Aku bisa berdiskusi dengan sangat leluasanya dengan beliau melalui email. Bahkan beliau sangat terbuka dan informatif terkait pertanyaan-pertanyaan wawancaraku kemarin. Aku selalu terharu mengingat momen itu. Momen di mana Tuhan menjadikan segala sesuatunya indah dan sungguh amat baik. Kalau bukan Tuhan yang menggerakkan hati nurani beliau, mana mungkin beliau menanggapiku, si upik abu ini? Hahaha. Oh ya, masih ingat ceritaku tentang first impression? Coba klik di sini untuk membacanya lagi. Seratus dua hari yang lalu, aku menuliskan bahwa dosen pembimbingku bersedia menjadi perantara antara aku dan bapak narasumberku ini, dan dia menepatinya, teman-teman. Tidak mungkin ini terjadi, kalau bukan Tuhan yang mengingatkan dan menggerakkan hati sang dosen untuk menepati janjinya. Ingat kan, Paulus bilang kalau hati nurani manusia (untuk mengetahui apa yang baik dan yang buruk) itu pun Tuhan yang izinkan. Same way goes to this, ingatan dan kegerakan hati mereka pun pastilah Tuhan yang izinkan terjadi. Kembali, all praises to the Lord. 

Pada pergantian tanggal 2 dan 3 Juli kemarin aku hanya tidur selama 1 jam, dengan kondisi aku mengerjakan revisi seharian penuh. Mataku lelah sekali memang. Tapi entah kenapa aku merasa perlu terus mengerjakan revisi ini, meskipun sebenarnya aku masih punya banyak waktu sampai sebelum tanggal 6 ini. Aku berjalan dengan iman, ketika dosen pembimbing ke-2 ku baru akan memberikan persetujuannya tanggal 3 Juli pukul 2 siang. Tanggal 3 Juli adalah hari terakhir pendaftaran sidang di mana sebelumnya aku harus mengurus yudisium ke bagian SBA. Sepengetahuanku, SBA Reguler selalu tutup pukul 15.30. Untuk mengurus yudisium ini aku perlu mendapatkan tanda tangan dari kedua dosen pembimbing. Aku berpikir, tidak mungkin prosesnya selesai kalau aku baru menyerahkan persetujuan sidang dari dosen sekitar pukul 2 siang nanti, dengan kondisi mereka akan tutup pukul 15.30. Belum lagi mengurus ke Program Kekhususannya. Namun keajaiban terjadi karena akhirnya aku bisa mengurus yudisium (yang adalah proses paling lama) hanya dengan tanda tangan dari 1 dosen pembimbing saja. Memang aku belum bisa mendaftar sidang ke PK Bisnis dan Ekonomi, dengan kondisi tersebut. Artinya, aku tetap harus menunggu tanda tangan dari dosen pembimbing ke-2. Lalu aku kembali berjalan dengan iman lagi menanyakan kepada pihak SBA, pukul berapakah mereka akan tutup (padahal aku sudah tahu mereka akan tutup pukul 15.30). Kenapa aku menanyakan itu? Karena ketika nanti aku selesai mengurus di PK, aku harus kembali ke SBA untuk mengurus surat pengantar bagi dosen penguji. Juga karena ternyata ketua PK-ku sedang rapat, yang katanya selesai pukul 15.00-16.00. Keajaiban lagi, pihak SBA mengatakan bahwa hari ini mereka akan tutup pukul 18.30, setelah acara buka puasa bersama di kampus. :’) *terima kasih* Benar saja, ketua PK baru datang pukul 16.02, dan baru menyelesaikan proses penentuan tanggal sidang serta dosen penguji sekitar pukul 17.00.

Tanggal 1-3 Juli itu adalah hari paling menakjubkan dalam tahun ini. Hari paling melelahkan yang pernah ada. Tapi semuanya berbuah manis, dan dengan ini, aku dinyatakan akan sidang pada tanggal 10 Juli nanti. Ah, 4 hari lagi!

Aku bersyukur sekali kepada Tuhan yang sejak 146 hari lalu menemaniku memulai perjalanan skripsi ini; yang sejak 146 hari lalu meneguhkan topik apa yang akan kubawa dalam skripsi ini. Sedari mulanya sampai kesudahannya nanti, segala hormat, puji, dan sembah hanya untuk Tuhan. Sedari mulanya sampai kesudahannya nanti, segenap hidupku, segenap skripsiku, adalah kasih karunia Tuhan.

Dan… untuk menguatkan sedikit cerita tentang rasa syukur ini, foto ini buktinya! Lihat, walau berlelah-lelah dan dihimpit banyak beban pikiran, aku masih bisa tersenyum! Semua karena Tuhan. Semua untuk Tuhan.

Terima kasih Tuhan!

Hari ke-146 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

2015_0705_15541900
Thank God, I love the smiling face of mine!

Hari ke-114: Dosen Pembimbing

Yak, tibalah saatnya saya menuliskan satu topik yang sangat sensitif dalam dunia penulisan tugas akhir. Dua kata. Hanya dua kata.

Dosen. Pembimbing.

Ngga usah pakai salah satu katanya saja sudah seram.

Dosen. Sosok yang lebih tinggi dari kita, yang secara hierarkis mengharuskan kita tunduk padanya. Sosok yang secara pengalaman lebih banyak makan asam-garam dibanding kita, membuat kita harus mau-tidak mau mendengarkannya. Sosok yang secara intelektualitas mungkin lebih pintar dari kita, membuat kita harus berharap dia akan mengajari kita.

Man, I mean, ini semua membuat kita akan sadar ngga sadar, bergantung sama dia.

Ditambah lagi dengan kata ‘pembimbing’? Makin seram.

Guys, dia adalah sosok yang membimbing kita. Itu secara implisit mau mengatakan bahwa kita tidak bisa mengerjakan ini sendirian. Kita clueless. Ibaratnya, kayak orang yang lagi outbond, matanya ditutup dengan kain, dan disuruh ngikutin orang yang megangin dia. Well, kita ngga sehitam itu sih ngelihat yang di depan kita, tapi tetep aja, hampir miriplah. Kenapa harus ada pembimbing? Ya karena kita ngga bisa skripsian sendiri.

Seram.

Waktu ujian masuk kemarin kita ngerjainnya sendirian, kenapa keluarnya harus dibimbing? Kurang adil.

Bukankah yang paling susah itu masuknya? Gimana mau keluar kalau belum masuk? -_-

(Tiba-tiba mulai sadar, beberapa kalimat di atas agak absurd).

Jadi, ya begitulah. Fenomena dosen pembimbing memang sudah sangat sering mewarnai dunia skripsi mahasiswa tingkat akhir. Bagi saya sendiri, ini sudah diprediksikan akan terjadi. Kesalahan saya adalah, menaruh harapan kepadanya ketika suara hati mengatakan, ‘do it yourself’. Kalau sudah begini, yang ada tinggal penyesalan, kan?

Saya tidak menyalahkan siapa pun kecuali diri saya sendiri. Ini sudah resiko yang harus saya ambil ketika meminta dosen pembimbing saya yang sangat kredibel dan sibuk tersebut untuk membimbing saya. Saya tidak perlu heran.

Karena itu, di hari minus 30 ini saya harus bekerja lebih keras. Argh, semoga ngga ada halangan untuk lulus semester ini. 😥

Tuhan, kepada Tuhan sajalah aku menaruh harapan. Kepada Tuhan sajalah aku mengutamakan bimbingan. Takut. 😥

Hari ke-114 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Hari ke-80: Di mana Ada Niat, Di situ Ada Jalan

Hai, sudah lama sekali ya sejak cerita terakhirku tentang skripsi. Sekarang bahkan sudah hampir 100 hari aku mengerjakannya dan kau tahu, aku masih berada di Bab 3. Aku sedikit heran. Oh tidak, sangat heran. Kenapa harus selama itu ya untuk memproses data-data yang sudah tersedia? Kan, sudah ada buku-buku, artikel, jurnal, kamus, dan semua hal yang dibutuhkan? Masa sih, ngerjain Bab 2 dan 3 itu harus memakan waktu selama ini? Aku ingat lagi, timeline pribadiku tidak lagi berfungsi. Padahal aku berjanji akan menyelesaikan penulisan Bab 2 dan 3 itu dalam waktu 2 minggu sejak Bab 1 dan outline-ku disetujui. Pada waktu itu aku memang berpikir bahwa akan ‘semudah’ itu untuk menepati timeline itu. Ya… gimana ya… aku pernah menyelesaikan tugas makalah berjumlah 20 halaman dalam waktu 2 jam saja. Masakan untuk beberapa puluh halaman lainnya dalam 2 minggu itu tidak bisa? Ya, kan? Logis ngga?

Tapi… masalahnya bukan terletak pada sebanyak apa waktu yang kita miliki untuk mengerjakan skripsi kita tersebut. Namun, sebesar apa niat kita untuk mengerjakannya. Oh ya, satu lagi, sebesar apa ‘tekanan’ yang ada. Jujur saja, karena dosenku tidak memberikan deadline yang strict terhadap 2 bab ini, aku merasa sedikit mager untuk mengerjakannya. Setiap hari hanya berakhir di buka laptop, download jurnal, baca-baca dikit, udah. Buka YouTube, buka Blog, buka Facebook, Twitter, dan berbagai social-sites-yang-kurang-penting-untuk-saat-ini lainnya. Malahan aku menghabiskan waktu membaca hal yang kurang berhubungan dengan skripsi ini. Entah kenapa otakku memang lebih tertarik pada hal yang pada saat itu justru bukan menjadi hal yang prioritas. Seperti dulu waktu SMA, ketika seharusnya aku memberikan fokus dan hatiku pada mata pelajaran ilmu alam, aku malah berpikir untuk banting setir, putar haluan ke mata pelajaran IPS. Kebiasaan ini jauh berbeda dengan aku pada waktu aku masih TK, SD, dan SMP, di mana aku bisa fokus dengan apa pun yang diberikan padaku saat itu.

Hmmm, sejauh ini, memang ada juga hal lain yang membuat 46 hariku ke belakang sepertinya berlalu dengan kurang produktif. Terlalu banyak hal yang mencoba mengganggu pikiran. Sayangnya, aku terganggu. Rasanya ingin meminta kembali hari-hari yang kemarin kulalui dengan sia-sia. See? You will appreciate something when you lose it. Tapi itu bukan jadi pembenaran kalau aku bisa menelantarkan skripsiku. Satu-satunya yang harus disalahkan di sini adalah aku sendiri. Karena keputusan ada di tanganku. Seharusnya aku bisa memilih untuk ‘terganggu’ atau tidak. Ya, buat apa juga nyalah-nyalahin hal lain atau orang lain. Pekerjaan mencari kambing hitam adalah pekerjaan iblis. Selama ada niat, di situ pasti ada jalan. Tinggal milih, mau jalan atau engga.

Jadi, mari kita berjuang lagi. Berjuang untuk setia setiap harinya, setiap detiknya. Mari memperhatikan dengan seksama, bagaimana kita hidup, jadilah bijaksana. Pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat. Jangan sampai menyesalinya di kemudian hari.

Hari ke-80 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Hari ke-44: First Impression

First impression, dalam Teori Pembentukan Kesan di psikologi sangat penting untuk diperhatikan oleh orang-orang yang pekerjaannya adalah seorang public speaker. Tetapi menurut saya, it’s all about first impression, ngga peduli mau kerjaannya sebagai public speaker atau private speaker (haha). Menurutku, first impression akan bertahan selamanya. A good lasting first impression will benefit us. Ini ngga sekadar general speaking ya, beneran deh. Walaupun, seiring berjalannya waktu, bisa aja banyak hal yang berubah. But, first impression is our start line, our starting point.

So.. yep, I want to share something about ‘creating a good (probably lasting) first impression’ when I visited my lecturer’s office two days ago. 

Here he is, a very outstanding lecturer, I can say. From the very beginning of this thesis thingy, I really wish he could be my adviser. Because, he is the one who masters the things about my under-graduated thesis. And thank God, he can. I remember that he seldom be in my campus, and I probably will find difficulties to meet him. But, even though I have to always go find him myself at his office or wheresoever he might be, I will pay the bill. It doesn’t matter at all because I am sure that it’ll all be paid off, with a very comprehensive writing of mine. 

Two days ago, I visited him at his office, with my friends, who will be advised by him too. We waited him for almost two hours, but at this time, there’s no big problem about waiting, for the very first time in forever, haha.

So he came, and asked my three friends about their proposal. Bla, bla, blah, now that was my turn, I was the last. He read the title of my proposal. 

“Bla..bla..bla… hmm ini topik yang bagus ya, hmm. Topik bagus ini.” Katanya sambil ngangguk-ngangguk.

And I smiled widely. Thank You, Lord. Aku bahagia begitu beliau mengatakan demikian. Bukan perkara karena topikku dipuji oleh seorang yang sangat hebat saja, tetapi lebih kepada… cerita dibalik topik itu.

Malam itu, 44 hari yang lalu, aku hampir putus asa karena ngga nemu juga topik yang sesuai dengan sisi realisku dan realita yang ada di lapangan. Ada sih beberapa topik yang aku dapatkan dari saran teman-temanku. Tapi… aku ngga terlalu suka ngerjain apa yang bukan berasal dari hasil perjuanganku sendiri. Hahaha. Tapi sebenernya kalo aja saat itu aku ngga nemu juga, aku bakalan pakai yang disaranin temen-temenku sih. Empat puluh empat hari yang lalu aku hampir tidur saja sekitar jam 11 malam, padahal berdasarkan timeline pribadiku, esoknya aku harus sudah mendapatkan topik dan memulai riset dan pengerjaan proposal. Apa lagi dalam 2 hari kemudian, selama 4 hari aku akan pergi retreat. Mana mungkin aku mikirin hal-hal beginian saat retreat. Hahaha.

Sudahlah, pasrah saja. Lalu aku mencoba untuk memejamkan mata dan tidur. Sayang sekali, dewi tidur belum berpihak padaku. Selama kurang-lebih 90 menit aku cuma gegulingan di tempat tidur. NGGA BISA TIDUR COY. Aseli. Ini lebih ngegalauin dari pada perkara cinta bertepuk tangan apa pun yang ada di dunia. Eh, bertepuk sebelah tangan maksudnya. Aku berharap bisa menemukan ilham, walaupun sebenernya si Ilham ga ke mana-mana. #hm

Tapi yang ada… aku malah laper… dan ngebayangin makanan apa yang bakalan aku makan di pagi hari nanti. Duh, bener-bener imajinasi yang kurang berguna. Lalu, hatiku bilang, “Beth, bangun gih, riset sekali lagi, kali ini bakalan nemu kok, percaya deh. Tanggung banget coy.” Ya sudah, aku turuti saja. Dan memang, aku ngga ngantuk sama sekali–walaupun aku sedang kelelahan sekali pada saat itu. Bukankan ini sebuah pertanda untuk tetep meleq? Hahaha.

Aku menyalakan laptop dan menyiapkan cokelat panas. (Caelah, sok iye banget). Sebenernya cokelat panas ini berfungsi untuk menetralisir kekosongan yang terjadi di dalam lambung saya a.k.a ngeganjel perut. Kenapa mesti cokelat panas dan ngga kopi saja? Ya simpel sih, karena saya ngga punya kopi saat itu, brosist.

Aku memulainya dengan berdoa. Aku berharap kali ini aku bisa menemukan sesuatu yang lebih penting dari pada imajinasi makanan-makanan lezat yang sedari tadi kupikirkan. Aku tahu, perkara seperti ini cuma hal kecil untuk Tuhan. 🙂

Lima menit berjalan. Aku memulai riset pukul 2 pagi. Memang otakku aktif di jam-jam seperti ini. Bahagianya, semuanya mengalir begitu saja. Ngga ada perasaan ngeluh atau takut. Mau buka website apa aja bebas, ngetik kata kunci apa aja juga bebas. Bener-bener ngerasain kalo saat itu Tuhan lagi pimpin. Hehehe. Ngga sampe 10 menit, aku udah dapet sesuatu yang aku cari-cari itu. Yang ngga hanya sesuai dengan sisi realisku, tapi sesuai juga dengan realita yang ada, dan sangat dibutuhkan untuk dibahas pada saat ini. Bahkan aku menemukan related topics yang banyak sekali dari hal ini. Bahagia ngga? Sepuluh menit doang, loh. :’) Padahal sebelumnya udah hampir seharian aku ngga nemu-nemu juga. Bahkan waktu nemu sesuatu ini, aku langsung hampir nangis. Terharu hahaha. Untung aja aku ngga jadi tidur!

“Hmm.. ini topik yang bagus ya..”

Terngiang selalu di kepalaku first impression yang diberikan beliau atas proposalku saat itu. Tuhan memang baik banget. Mana mungkin bisa dapetin itu kalo bukan karena Tuhan yang pimpin. Tuhan jawab doaku.

First impression will benefit us. 

Apa buktinya?

Beliau bertanya kepadaku apa yang ingin kugali dari topik ini. Aku mencoba menjelaskan sesederhana yang aku bisa. Aku ngga mau berpanjang-panjang ria, untuk menunjukkan kepadanya ‘kemampuanku’. Karena aku yakin, dia udah tau lebih banyak dari pada aku. Ya kan.. Ya udah, aku coba jelasin. Di sinilah aku merasakan berkat lagi atas topik ini. Tanpa tedeng aling-aling, beliau langsung melihat rumusan masalahku, lalu memperbaiki redaksi kata dan menambahi pokok pembahasan yang kuperlukan untuk diigali. Belum selesai, beliau juga menawarkan untuk aku melakukan penelitian empiris saja terkait hal ini, padahal aku ngga berani pada awalnya. Tetapi beliau bilang bahwa beliau bersedia menjadi perantaraku dengan perusahaan-perusahaan yang ‘provide‘ hal seperti ini, dan juga mengantarkan surat-surat yang kubutuhkan kalau aku ingin melakukan penelitian empiris. Baik banget! :”)

Aku ngga berhenti-berhentinya senyum. Dia memang salah satu dosen favoritku, walaupun aku hanya sempat diajar selama 2 kali selama di kampus. Tapi, buku yang ditulis olehnya adalah buku kesukaanku di kampus ini. Dulu aku bahkan bisa menghapal argumen-argumen yang ditulisnya di buku itu dengan baik, karena aku memang menyukai cara beliau menjelaskan di buku itu. Sebenernya dari sini aku mulai merasa bahwa ini adalah pertanda bahwa sebaiknya aku menulis topik ini sebagai skripsiku.

Kesan pertama yang didapat beliau bukanlah kesan yang kubuat-buat pada saat hari H. Kesan pertama itu adalah hasil dari pergumulan dan doa yang berserah kepada Tuhan. Kesan pertama itu adalah karya Tuhan yang memilihkan topik ini untukku. Biarlah segalanya kupersembahkan kembali kepada Tuhan. Aku berjanji akan menuliskan yang terbaik. Percuma dong, kalau aku yang suka nulis dan suka latihan terus soal EYD, suka nganalisis, suka topik ini, dan suka memecahkan masalah ini, ngasih yang setengah-setengah. Semangat, Beth! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Hari ke-44 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.


Hari ke-29: There’s None Like You

There is none like You
No one else can touch my heart like You do
I could search for all eternity long
And find there is none like You

Hanya kesetiaan Tuhan yang menjadi kekuatanku sampai saat ini.

Hanya Dia yang sanggup menyentuh hatiku sampai sebegitu dalamnya.

Terima kasih Tuhan, tadi sore ada kabar gembira terkait skripsi ini.

WAY TO GO!

Hari ke-29 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.