Lesson from Bean Sprouts

20151008_090122

Hi, all! This morning I learned something from removing the bean sprouts’ roots. (Please, do not laugh. Lol. Oops)

What I am saying is, removing the roots can be the second most boring thing in this world (cause we have ‘waiting’ at the first place, no?), and it is a big yes to me who was going to cook this morning. Maybe you ask, why we have to remove them? Is there such a medical research about being dangered by the roots of bean sprouts? Okay, I don’t know. Precisely, do not know about that. I simply removed them because I hated to see its brownish part. I don’t like it. It gave me a sign that it’s not hygienic. So, I removed them.

But, to answer your anxieties, let me ask you first. Do you eat the roots of apple, too?


So, here we go. Leave it to the scientists–the-reason-of-removing-or-not-removing-the-bean-sprouts-roots thingy.

My first impression when I saw the pile of bean sprouts in front of me which needed to be cleaned is… I sighed a bit. Uhm, a lot. I mean….

filepicker-sUCZIgDHQTKreXrg0RxL_ain-t-nobody-got-time-fo-dat-sweet-brown-31241125-480-330

But, then I remembered my mom (and also every dedicated mom in the whole world).

Then I suggested myself to just do it. Because that’s the way I learned these things:

  1. Knowing what you remove for the sake of your own principle. I am not saying this can be done in every state of thinking. I just want to say that I don’t just do something without knowing why. It is important to me.
  2. Patience. Whenever I removed one, I always wish it could be removed automatically. But, no. No such thing like that. Then I had to do it with patience.
  3. Persistence. Hello, if I gave up, we wouldn’t have a delicious soup at all this day.
  4. Eyes of detail. Do you know how tiny the roots are? It is very tiny that I had to remove them carefully. I don’t want to make a soup with beans only, emang ini bubur kacang?
  5. Finish what you’ve started. I prefer to say it just… “let’s get things done!” That’s how I know about being committed to what you’ve begun. It doesn’t mean that we have always ‘finish’ it even we got the wrong way. My definition of finishing is to make it to the clear-end kind of line.
  6. Appreciate things. These bean sprouts only cost 2.000 rupiahs and it’s an easy thing for me to remove the roots just as much as I want and throw the rest of them, cause hey, in this high-valued dollar kind of era, 2.000 rupiahs is just soooo inferior and not “worthy” at all. But you know, there are a lot of people who may need just a half of it.
  7. Thinking about bean sprouts deeply proves myself that I am a real over-thinker kind of person. Tsk.

So, that’s all I got this morning. Hope you can see it through the way I see it. Have a good day! 🙂

Advertisements

Ngomongin Y dalam 2+Y=4

Dari dulu, aku selalu suka cerita tentang mama. Kalau orang-orang nanya, aku bisa dengan detil dan berulang-ulang nyeritain tentang mama. Ngga akan pernah bosan, ngga akan pernah berhenti. Ya, aku rasa sebagian besar anak juga merasakan hal yang sama denganku. Bagiku sendiri, menceritakan tentang mama adalah motivasi yang baik.

Aku tidak akan menceritakan siapa mamaku, seperti… namanya, umurnya, asal kampusnya, pekerjaannya, dan sebagainya. Tidak juga akan kuceritakan tentang bagaimana kepribadiannya. Aku tidak akan menceritakan kelebihan-kelebihan mamaku–karena aku sedang tidak ingin bermegah-megah di sana. Tidak bijak pula jika kuceritakan kelemahan-kelamahan mamaku–yang karenanya mungkin bisa kujadikan dalih sebagai ‘pembentukku’.

Aku hanya akan menceritakan missing-link di antara aku dan mama. Missing-link yang kumaksud di sini bukan semacam yang diungkapkan dalam teori pre-evolusi yang menghasilkan pemikiran bahwa semua makhluk hidup di bumi ini pada dasarnya saling berhubungan. Itu terlalu teoritis, hahaha. Tapi, missing-link yang kumaksud di sini adalah besaran nilai pengaruh mama dalam hidupku. Ah, pernah memikirkan hal ini tidak?

Seseorang dengan identitas lengkap mungkin memiliki tujuh puluh tujuh kali kelebihan. Namun, dia tidak ada pengaruhnya bagimu. Sama sekali. Seseorang dengan identitas lengkap tersebut pun mungkin pula memiliki seribu satu kelemahan. Namun, kau tidak akan pernah memedulikannya. Jadi, jikalau mama adalah “X” dengan nilai 2, dan aku adalah “X + Y” dengan nilai 4, maka yang akan kuceritakan adalah nilai Y tersebut.


Karena hidupku bukanlah jenis-jenis bilangan, maka sulit bagiku memberi nilai angka bagi pengaruh tersebut. Namun yang jelas, keberadaan mama sanggup memberikan rasa aman bagiku; aman dalam banyak hal. Tanpa bermaksud meletakkan keamanan tertinggi pada manusia,  aku rasa aku harus mengakuinya, bahwa keamanan tersebut adalah pengaruh pertama bagiku. Aku tidak pernah merasa terancam jika ada mama di dekatku. Untuk urusan pendidikan, keuangan, makanan-minuman, pakaian (aku telah sampai pada titik memercayakan proses pembuatan kebaya wisuda tanpa rasa kuatir sedikit pun akan ukuran, model, dan segala derivatif lainnya pada mama–tanpa aku beri tahu model kesukaanku, tanpa ada pengukuran ini dan itu, pokoknya aku aman kalau mama sudah ikut campur), sepatu (ah, ini juga, aku sangat terkejut ketika mama selalu membelikan sepatu yang sesuai dengan seleraku dan cocok dari segi ukuran serta warna), tempat tinggal, dan seterusnya. Nilai pertama yang terjadi sebagai salah satu faktor pembentuk Y di atas adalah rasa aman. Dan ini pastilah karena ada kepercayaan di dalam diriku akan diri mama. Ah, ya. Saking amannya, aku bahkan tidak pernah kuatir kalau-kalau di rumah terjadi kerusakan alat elektronik, hubungan arus pendek, guci-guci pecah atau retak–semua akan segera kembali berfungsi karena mama.

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, nilai pertama di atas adalah turunan dari rasa percaya yang kumiliki terhadap mama. Bagiku, ini adalah hal yang penting untuk dirasakan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Kalau tidak ada rasa percaya, maka sia-sialah segala kelebihan orang tua tersebut. Kalau tidak ada rasa percaya, maka terlalu jahatlah setiap kelemahan orang tua. Beberapa anak yang tumbuh dewasa sebagai sosok yang terlalu tertutup mungkin dulunya pernah memiliki trust issue–entah terhadap siapa pun–namun rasanya besar pengaruh dari orang-orang terdekat–termasuklah orang tua. Maka sekali lagi, aku bersyukur aku percaya kepada mama. Aku juga ingat, ada yang berkata bahwa, the best proof of love is trust. Bicara tentang rasa percaya, ada beberapa hal yang kuperhatikan; dia tidak didapat begitu saja, butuh bertahun-tahun untuk menghasilkannya, dan objeknya bukan semata pada perkataan maupun perbuatan, namun pada integrasi keduanya dalam pola berkehidupan seseorang. Singkatnya, rasa percaya timbul ketika kita melihat konsistensi integritas seseorang. Jadi, berbahagialah orang tua yang berhasil memberikan rasa percaya bagi anak-anak mereka. Serta sebaliknya, memiliki rasa percaya kepada anak-anak mereka pula; dan aku pun mengalami hal ini.

Keberadaan mama juga memberikan aku ruang untuk takut. Takut dalam hal ini bukanlah takut karena hal negatif, namun karena aku memiliki rasa hormat terhadap mama. Aku bersyukur diberikan ruang tersebut. Ruang bentukan mama yang aku masuki sendiri–sukarela. Aku bersyukur sejak kecil dididik dengan sedemikian rupa sehingga aku bisa nyaman berada di dalam ruangan ini. Salah satu hasilnya adalah masalah preferensi. Preferensi mama adalah salah satu preferensiku pula, tidak pernah aku berdaya mengabaikan pendapatnya. Namun di saat yang bersamaan, karena mama percaya, aku leluasa untuk tidak setuju pada preferensinya. Satu hal, respect is gained from character. Aku bisa menghormati mama tentu karena aku telah mengenal karakter mama, dan aku bersyukur akan hal tersebut. Mama adalah teladan seorang wanita yang sesungguhnya bagiku, dan itu yang membuatku menghormati teladan mama dengan belajar melakukannya pula di dalam hidupku. 


Aku rasa, ketiga hal di ataslah nilai Y di dalam persamaan 2+Y=4 tadi; rasa aman, rasa percaya, dan rasa hormat. Inilah yang menjadi missing-link-yang-sekarang-sudah-tidak-missed-lagi-hahaha di dalam relasiku dengan mama. Sekali lagi kukatakan, aku bersyukur bisa merasakan hal tersebut terhadap mama. Kalau kata salah satu quote, kesemua hal tersebut akan menghasilkan kesetiaan pada akhirnya. Doaku adalah, semoga aku akan setia sebagai anaknya.

…karena… apa lagi yang paling manis di dalam suatu relasi selain kesetiaan?

2015_0830_14510100
Mama, thank you for who I am. Thanks for being God’s tool to raise me and care for me.

No One Is Perfect

The first time I realized one of some things that is very important to me is when I was at my 2nd degree of Junior High School. That was when I listened to High School Musical’s soundtrack titled “We’re All In This Together”. I highlighted the “everyone is special in their own way, we make each other strong” part. It was a really good lyric to me at that time. Because I was the super perfectionist type of person back then, and when I listened to this song, it was such a deliverance to me, lol. You have to meet the old me so you’ll know that it’s tiring to be me and all my check-listed pieces towards situation and people–the time when I didn’t really realize that no one is perfect.

I disliked (yeah–dislike) mess. I can’t see a room or a table, or a place that is untidy, dirty, and yes, messy. When I was in elementary school, my school held The Best Class competition once a week. It’s not a kind of intellectual competition or something like that. It was about which one of all classrooms that is tidy and clean. They began their research when all the students had their break. So, before me and my classmates went out–you know, had our precious break time–we had to clean up our classroom first. The sad part is, it was finally only…me, fighting for my class. I tidied up all the tables and chairs, arranged the books, pens, pencils, erasers, everything, which were so messy on the tables–I don’t know how that could happen, but I wondered why my friends could leave all their belongings so messy like that. I swept the floor, and then went out for my two or three minutes of break. Actually, it was not a break cause hey, I could only breath during that time. Like, what to do when you’re doing your two minutes of break.

In short, my class won the best classroom ever, all the weeks, and we got such an appreciation at the end of the year. I was really happy and proud of myself, but not of my friends. They didn’t help me. I like to do things alone, but when it’s about a collective purpose, I expect initiative from any other members. And when it didn’t happen the way I expected, back then, I say back then, I could be the most silent person to them. I hate that kind of situation when all people cheering up for something they didn’t put any contribution to.

That was one example of how perfectionist I was and how it could make my class won the best classroom of the year. No tinniest detail I missed from doing that. I wanted my class to be perfect. I wanted all my friends to do the same things with me and it affected my mood and my attitude towards them when they didn’t do the things I expected.

I’d like to tell you guys my another perfectionism thingy but I bet you won’t hear it cause it’s kind of… freak, so I better stop.

But yeah, my perfectionist side grew up constantly until I listened to that song. Actually, not only that part, but also the whole lyric.

No one is perfect. It’s like the lamest quote we might have ever heard. But it’s true. You can’t find someone perfect on earth. For example, if you find a guy who can play all the music instruments, and you think it’s perfect, but you are wrong. He doesn’t like you, that makes him not perfect. LOL.

Ok sorry.

Yep, since all men have sinned and fall short of the glory of God, forget about perfect men or women, friends. Everyone has their own strengths and weaknesses. Hugh Jackman may have the best body ever or the best voice ever, but he also has weaknesses. Maybe he can’t play a recorder like me. Hm. Not significant I know. Bye.

But my point is, we, human, live in our sinned body in our sinned world. As long as we still face human too, we can’t expect anyone to be perfect. Yesterday I listened to Lisa Bevere’s preach in a church. She said that, “if you’re having a relationship now, or you’re a married couple right now, and you have the list of things that your man/woman has to change, forget it.” We can’t change people. We really cannot. If we want to see the good change from our partner, pray for them, and do our part wisely. Let them see God’s love through us.

Because what? For God so loved the world, He gave His only Son, to die on calvary’s tree from sin to set us free. And that’s what makes each of us special; He loves us first.

Because we’re the image of God. That’s what makes us special in our own way. Our imperfect selves are loved by the Creator. Nothing could be more wonderful than this.

And that’s how I learn to see the good in everyone. I am the one who is easily to point-out someone’s weaknesses, so I pray to God to humble myself under His mighty hand, and make me realize that me too, have many weaknesses. I need to see the good in everyone; that our Father creates us with no mistakes. We’re fearfully and wonderfully made. I don’t have to be bothered when something and someone doesn’t meet my so-called standard, because no one, nothing is perfect. All I can do is pray for it, do my part wisely. If it’s possible, let’s talk about each other’s expectation list, lol, in a mature way, in the love of God.

Because, no one is perfect, but everyone is special.

Viewing M2M Song from Another Viewpoint

Just heard a song played in a public transportation when I got back from a place. The title is “Don’t Say You Love Me”, sang by M2M. Actually, I just heard the chorus part of this song which sounded like this, “Don’t say you love me, you don’t even know me. If you really want me, then give me some time”. It was kinda slapping me. Lol. I don’t wanna talk about this, so let’s just move on to the points I want to share to you all.

This song originally talks about someone who is annoyed by the move another person made. She thinks that it’s just too fast to be true, for him to say that he loves her. Why? Because ‘he doesn’t even know her’. It’s kind of funny, at first, because I reflected it to myself. But then, I realized something. Why doesn’t she like being told that she is loved just because he doesn’t even know her?

I think.. it’s true. How can you say you love someone you just met? What is your basic thinking? Love is not just a word. Like John Mayer said, love is a verb. Love requires us to do something out of our comfort zone. Love means being self-less.

Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It does not dishonor others, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres. (1 Corinthians 13:4-8)

For example, how can you be patient to someone whom you just got introduced by a friend? Have you really known whether you’re ready or not to be in patience with him/her all day long? It is a long journey, dear. Don’t say you love her when you’re just able to wait for her doing some make-up before you both are about to date. You don’t even know her.

I’d like to put my analyzing result about all of those love-verbs, but I have to do some kind of preparation before, so I will post it another day. I just want to say that… yes, love shouldn’t be said without understanding. Saying it means you’re ready to do those verbs. That’s why, let’s give it some time, to know each other. To know what kind of person you’re going to love. To ask yourself, ‘Am I ready to love her/him?’

Don’t sale the word ‘love’. It is not merely a word. It’s true that only God who truly loves us. Because He knows us so well. He knows our thoughts, our desires, our hearts. He deeply knows our strengths and weaknesses. He even knows our every single hair. He is ready to love us for He Himself, is love.

So, that’s how we being reminded to ask Him first about anyone we’re going to love. To ask Him, “Father, open my eyes wider to know him/her.”, “Father, I pray to hear her/his heart.”, “Father, am I ready to love this kind of person?” Or even… “Father, let me feel Your love more of each day so I can love this person the way You love me.”

I know, we’re loved to love too, so why thinking too much about this love word? But… have you ever experienced that loving people is not as easy as it sounds? Like… what if you have to face the ones that hurt you the most, then you remember that you have to love them? It’s hard, isn’t it? That’s why… do love with understanding. Love, and don’t bother, even if they don’t ‘love’ you back.

At the end, it’s all because love never fails. 

The Christian’s Three-Fold Enemy – Constable Note

The Christian's Three Fold Enemy

Hidup sebagai seorang Kristen menghasilkan hal-hal besar yang akan terjadi baik di dalam maupun di luar diri kita, yang mana hal-hal tersebut berasal dari komitmen-komitmen kita setiap harinya. Namun komitmen-komitmen tersebut tidaklah dipandang sebagai sesuatu yang membebani kita, melainkan suatu respon ‘logis’ bagi kita umat percaya.

Kenapa kita harus berkomitmen? Karena hidup baru kita tidak semerta-merta bebas dari godaan dan cobaan dari iblis. Dia seperti singa yang mengaum-ngaum yang siap mencari mangsa yang dapat dijeratnya. Sehingga kita perlu berkomitmen untuk tidak ‘menyia-nyiakan’ kasih karunia keselamatan yang sudah diberikan Yesus kepada kita.

Tabel di atas menolong kita untuk memahami apa yang menjadi masalah bagi kita sebagai umat percaya–yang kepadanya kita harus berkomitmen untuk mengatasinya–serta memberikan solusi tentang bagaimana cara mengatasi masalah-masalah tersebut.

(Kita buka Alkitab kita masing-masing yuk! Baca, tandai, pahami, dan mari berjuang melakukannya!) 🙂

P.S.:

Kemarin baru saja teringat pada lagu rohani yang sering dinyanyikan di kebaktian Sabtu di SD tercinta. Judulnya “Bangkit S’rukan Nama Yesus” Pada tahu lagunya, tidak?

Bangkit, s’rukan nama Yesus! Maju, nyatakan kuasa-Nya! Kita buat iblis gemetar. Kalahkan tipu dayanya dengan kuasa nama-Nya. Nama Yesus, menara yang kuat. Nama Yesus, kota benteng yang teguh. Nama Yesus, kalahkan semua musuh. Nama Yesus di atas s’galanya. 

Ketika hari ini mendapatkan firman saat teduh mengenai kemerdekaan dari dosa, lagu ini benar-benar meneguhkanku. Kita harus bangkit terus dan maju menyatakan Yesus melalui perkataan dan perbuatan kita. Terhadap iblis dan segala tipu dayanya, kita harus berani melawan. Kita mungkin jatuh, tapi ingat lagi untuk bangkit.

woman vs devil

Descendants: Where All Your Childhood Memories Back On The Scene

Disneys-Descendants-LOGO

Just like another Disney movie, this movie is a very thoughtful movie on how they show us that we don’t have to be what our parents told us to be, if it’s not for good reasons. Mr. Kenny Ortega, High School Musical director, covers the messages with songs and dance, and to be honest, it sounds like Vanessa Hudgens and Zac Efron and all the East High members doing that. That’s okay, that’s why I said that this movie brings back my childhood memories on the scene. This movie is simple, but when it’s about love, simple is enough.

If you’re a Disney freak–specifically, a Disney princesses freak–do watch this, for your refreshing time.

“Aku tahu kekuatanmu tidak seberapa…”

flower-power-lum

Wahyu 3:7-13

3:7 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di FiladelfiaInilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. 3:8 Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku. 3:9 Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak  demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu  dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau. 3:10 Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. 3:11 Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. 3:12 Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru. 3:13 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

Bagian paling menyedihkan dari perjuangan menuju ketaatan demi ketaatan adalah ketika kita mulai tidak menyadari motivasi awal yang mendorong kita memulainya. Ketika kita mulai dibutakan oleh beratnya perjuangan, tanpa mau menyadari siapa yang mengizinkan kita melakukan perjuangan tersebut. Memangnya, keberdosaan kita mampu membuat kita berpikir untuk berjuang dalam ketaatan? Tidak. Tentu tubuh dosa ini ingin melanggar apa yang menyusahkan dirinya. Tentu hati kotor ini ingin menyenangkan egonya dengan berpaling dari ketaatan. Ketaatan terhadap apa? Tentunya terhadap pimpinan Tuhan.

Siapa yang mengizinkan kita berpikir untuk, “aku harus berjuang taat!”?

Apa yang memotivasi kita untuk taat dalam setiap perjuangan itu?

Kasih karunia dari Allah Bapa melalui Yesus Kristus dan persekutuan kita dengan Roh Kudus, itulah jawabannya. Tidak ada satu manusia pun yang sanggup mereka-reka ketaatannya sendiri. Tidak ada.

Kalau begitu, jalan terbaik untuk tetap taat adalah dengan mengandalkan kasih karunia tersebut hari lepas hari. Karena kita ngga punya kekuatan apa pun untuk menolong diri sendiri. Kita lebih memilih tidur pulas tanpa saat teduh yang berkualitas. Keberdosaan kita cenderung lebih suka berdoa dengan sikap hati yang tidak benar. Kita ini lemah. Seperti firman Tuhan dalam perikop di atas, Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa…” Tidak seberapa, teman-teman. Memang ngga kuat kok kita. Memang ngga sanggup. Tapi ada satu hal yang membuat jemaat Filadelfia pada perikop di atas beroleh pujian dari Tuhan, yakni karena mereka menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama-Nya. Di sanalah terletak apa dan siapa yang menjadi andalan kita dalam setiap hal yang kita alami untuk berjuang taat.

Makanya, kalau mulai merasa lelah dan sedih, istirahatlah. Carilah makanan dan minuman terbaik untuk memuaskan dahagamu dan mengisi tenagamu, firman Tuhan. Carilah firman Tuhan yang adalah jawaban atas semua kelelahanmu sehingga kau bisa berjuang lagi dan lagi. Sehingga kau bisa setia sampai akhir dalam ketaatan yang benar di dalam iman kepada Yesus Kristus.

Lika-liku dalam setiap jalan ketaatan pasti ada. Tapi kaulah yang menjalaninya, dan Bapamulah pemegang kendalinya. Buat apa merebut kendali ketika kau tahu sudah ada Allah yang kuat dan hebat yang memegang kendalimu? Buat apa mengandalkan kekuatan diri sendiri? Karena, sekali lagi, “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa…” kata Tuhan.