Descendants: Where All Your Childhood Memories Back On The Scene


Just like another Disney movie, this movie is a very thoughtful movie on how they show us that we don’t have to be what our parents told us to be, if it’s not for good reasons. Mr. Kenny Ortega, High School Musical director, covers the messages with songs and dance, and to be honest, it sounds like Vanessa Hudgens and Zac Efron and all the East High members doing that. That’s okay, that’s why I said that this movie brings back my childhood memories on the scene. This movie is simple, but when it’s about love, simple is enough.

If you’re a Disney freak–specifically, a Disney princesses freak–do watch this, for your refreshing time.


“Aku tahu kekuatanmu tidak seberapa…”


Wahyu 3:7-13

3:7 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di FiladelfiaInilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. 3:8 Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku. 3:9 Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak  demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu  dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau. 3:10 Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. 3:11 Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. 3:12 Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru. 3:13 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

Bagian paling menyedihkan dari perjuangan menuju ketaatan demi ketaatan adalah ketika kita mulai tidak menyadari motivasi awal yang mendorong kita memulainya. Ketika kita mulai dibutakan oleh beratnya perjuangan, tanpa mau menyadari siapa yang mengizinkan kita melakukan perjuangan tersebut. Memangnya, keberdosaan kita mampu membuat kita berpikir untuk berjuang dalam ketaatan? Tidak. Tentu tubuh dosa ini ingin melanggar apa yang menyusahkan dirinya. Tentu hati kotor ini ingin menyenangkan egonya dengan berpaling dari ketaatan. Ketaatan terhadap apa? Tentunya terhadap pimpinan Tuhan.

Siapa yang mengizinkan kita berpikir untuk, “aku harus berjuang taat!”?

Apa yang memotivasi kita untuk taat dalam setiap perjuangan itu?

Kasih karunia dari Allah Bapa melalui Yesus Kristus dan persekutuan kita dengan Roh Kudus, itulah jawabannya. Tidak ada satu manusia pun yang sanggup mereka-reka ketaatannya sendiri. Tidak ada.

Kalau begitu, jalan terbaik untuk tetap taat adalah dengan mengandalkan kasih karunia tersebut hari lepas hari. Karena kita ngga punya kekuatan apa pun untuk menolong diri sendiri. Kita lebih memilih tidur pulas tanpa saat teduh yang berkualitas. Keberdosaan kita cenderung lebih suka berdoa dengan sikap hati yang tidak benar. Kita ini lemah. Seperti firman Tuhan dalam perikop di atas, Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa…” Tidak seberapa, teman-teman. Memang ngga kuat kok kita. Memang ngga sanggup. Tapi ada satu hal yang membuat jemaat Filadelfia pada perikop di atas beroleh pujian dari Tuhan, yakni karena mereka menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama-Nya. Di sanalah terletak apa dan siapa yang menjadi andalan kita dalam setiap hal yang kita alami untuk berjuang taat.

Makanya, kalau mulai merasa lelah dan sedih, istirahatlah. Carilah makanan dan minuman terbaik untuk memuaskan dahagamu dan mengisi tenagamu, firman Tuhan. Carilah firman Tuhan yang adalah jawaban atas semua kelelahanmu sehingga kau bisa berjuang lagi dan lagi. Sehingga kau bisa setia sampai akhir dalam ketaatan yang benar di dalam iman kepada Yesus Kristus.

Lika-liku dalam setiap jalan ketaatan pasti ada. Tapi kaulah yang menjalaninya, dan Bapamulah pemegang kendalinya. Buat apa merebut kendali ketika kau tahu sudah ada Allah yang kuat dan hebat yang memegang kendalimu? Buat apa mengandalkan kekuatan diri sendiri? Karena, sekali lagi, “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa…” kata Tuhan.

Turning Aside to Myths

2 Timothy 4:1-8 I solemnly charge you before God and Christ Jesus, who is going to judge the living and the dead, and by his appearing and his kingdom. Preach the message,  be ready whether it is convenient or not, reprove, rebuke, exhort with complete patience and instruction. For there will be a time when people will not tolerate sound teaching. Instead, following their own desires, they will accumulate teachers for themselves, because they have an insatiable curiosity to hear new things. And they will turn away from hearing the truth, but on the other hand they will turn aside to myths. You, however, be self-controlled in all things, endure hardship, do an evangelist’s work, fulfill your ministry. For I am already being poured out as an offering, and the time for me to depart  is at hand. I have competed well; I have finished the race; I have kept the faith! Finally the crown of righteousness is reserved for me. The Lord, the righteous Judge, will award it to me in that day – and not to me only, but also to all who have set their affection on his appearing.

This passage slaps me on my face when I read the “they will turn away from hearing the truth… turn aside to myths” part. I should admit that this is happening now on how people seek not the righteousness but their own justification. Me too, sometimes doing this. It is easier to seek what pleases our ears than to seek what pleases God’s heart. And what surprises me is, why Paul said that people will turn aside to myths.

What is myth? An on-line dictionary gives me this definition: a traditional or legendary story, usually concerning some being or hero or event, with or without a determinable basis of fact or a natural explanation, especially one that is concerned with deities or demigods and explains some practice, rite, or phenomenon of nature. Myths were used to teach humans behavior that helped people live in concert with one another. Mythical gods certainly had some strange and not acceptable behavior yet stories often demonstrated such topics as the need for hospitality (tale of Philemon and Baucis) or the need to keep pride in check (Narcissus). In the eyes of the gods, excessive pride, or hubris, was the worst offense and deserved the worst punishment. (Niobe story). 

To me, myth is as simple as other stories, other words, other beliefs that are not Christ-centered, that are not in-line with the Gospel, that are not in-line with the Bible. I must say, our scientific knowledges may also include in my so-called definition, if it’s the opposite to God’s words.

Seems so lame to me. Even with my logical thinking I can’t accept that people prefer turning aside to myth to turning back to the truth. Is such story that doesn’t have a certain determinable basis of fact more acceptable than the truth of God? Hm, I know this is a faith kind of question, too. Just… really?

But that is happening. What kind of myth you hear today? You hear about your zodiac compatibility? Or your Myers-Briggs 16 personalities? Or about your sanguine-melancholic-phlegmatic-choleric? Or about eating in front of your door will move away your true love? (Lol that’s what I heard in Bataknese myth).

Our psychological human being prefer hearing what pleases us to seeking what pleases others, what pleases God. But friends, no such thing is greater and more powerful and more truthful than God’s words. Don’t spend your life reading more of earthy words than God’s words. Spend more time to seek the truth of God’s kingdom (Mat 6:33), and all will be given to you: the wisdom to distinguish the right from the wrong, the strength to do the right one, the healing when you’re broken doing what is right, also, the ability to be self-controlled in all things, endure hardship, do an evangelist’s work, and fulfill your ministry.

Don’t forget to preach what you’ve been seeking in the Bible to other people. Don’t forget to reprove, rebuke, and exhort with complete patience and instruction. Let us not giving our ears to myth. Let us open our ears wider for the truth so that we can follow Paul’s model and say that we also have competed well, have finished the race, and have kept the faith.

P.S.: Ask God’s help to do so, of course.

May God bless us.

And I think the core of that message — you’re not alone, we love you — has to be at every level of how we respond to addicts, socially, politically and individually. For 100 years now, we’ve been singing war songs about addicts. I think all along we should have been singing love songs to them, because the opposite of addiction is not sobriety. The opposite of addiction is connection.

Johann Hari on TEDTalks: Everything you think you know about addiction is wrong 🙂

That’s how I was reminded again that all we need is love. God’s love, for sure, which is shown concretely by us, His children. Thank God for enabling me see this thing and please help me show Your love to anyone You give around me. Amen.

Hari ke-150: Sudah Selesai

Hari Jumat pagi, aku terbangun pada pukul setengah 5. Just had 4 hours of sleeping. Masih belum merasa bahwa hari ini adalah hari eksekusi si solusi. Masih belum ngeh kalau hari ini aku akan segera melepas status sebagai jomblo.. eh maksud saya sebagai mahasiswa. Kondisinya kurang lebih begini: perut mules, lutut lemes, anggota motorik lamban, dan hati hampa. Loh… kok bisa hampa ya. Entahlah. Aku memulai hari dengan saat teduh. Kemudian aku latihan presentasi lagi. Oke, kondisi tambahan: suaraku lebih mirip suara kaleng usang daripada suara manusia.

Pukul 7 aku sudah tiba di Depok. Ini adalah pertanda betapa tingginya insecurity terhadap hari ini. Karena aku belum sempat sarapan di rumah, aku memutuskan untuk makan di restoran rakyat a.k.a warteg untuk mengisi amunisi perang hari ini. Ngga lucu kalau pas lagi sidang jobdesc dosen penguji ditambah dengan menggotong mahasiswa pingsan. Oke, aku tidak selera makan. Bukan karena tidak enak, memang alam bawah sadarku sedang tidak ingin aku menyantap apa pun pagi ini. Tapi tetap kuusahakan untuk menikmati santapan itu. Kemudian datanglah seniorku tercinta, Kak Eta, dengan baju tidurnya (hahaha) menghampiriku di restoran rakyat tersebut untuk mendoakanku. Ckck bahagia banget ya punya kakak seperti ini :’) Berbahagialah dikau, Bang Hardi! :p

Sidangku dimulai sekitar pukul 09.00. Awalnya, bukan aku yang maju duluan. Namun entah mengapa di saat sedang galau-galaunya di toilet, temenku malah teriak-teriak kalau aku akan sidang di urutan pertama. (Heh, jangan mikir kotor ya). Jantungku seperti hendak keluar. Ah, lebay. Tapi begitulah. Aku menggumam… “Me? Ok. Who’s afraid? (Siapa takut, dalam bahasa Indonesia).

Aku pun maju dan menyampaikan presentasi terkait topik ini:


Aku bahagia karena akhirnya bisa mempresentasikan hal ini. Aku tidak peduli pada apa pun pertanyaan dari dosen penguji. Aku percaya, aku cukup menguasai apa yang kupresentasikan. Iya, dong. Kan skripsinya bikin sendiri, bukan beli di toko bangunan.

Oke. Sekitar 15 menitan berlalu, tibalah saat-saat keramat tersebut. Tanya-jawab dengan dosen penguji.

Ada 3 orang dosen yang mengujiku, dengan kondisi 2 di antaranya adalah dosen pembimbing. Di luar dugaan, salah satu dosen pembimbingku malah mengujiku lebih banyak. 😦 Ya tidak apalah. Bahkan beliau memintaku menggambar kapal-kapal dan skema asuransinya serta menjelaskan sekali lagi apa yang kumaksud di dalam presentasi tadi. Wah, aku tidak mempersiapkan cara menggambar kapal yang baik. Di saat aku hendak mulai menggambar, terbayang di kepala ini, manakah yang lebih baik untuk digambar, kapal Titanic, ataukah kapal nelayan biasa. Beruntung akal sehat ini kembali ke tempatnya, mengingat aku sedang ujian skripsi dan bukan lomba menggambar tingkat kecamatan, aku pun memutuskan untuk menggambar kapal…kapalan. Ya, you define it lah.

Selesai menggambar dan menjelaskan, mulailah diskusi yang lebih sengit terjadi. Para penguji ini, selain dosen pembimbing utamaku, tidak familiar dengan topik ini. Padahal menurut mereka urgensinya tinggi untuk Indonesia. Karena itu pertanyaan-pertanyaan mereka lebih ke arah.. ingin tahu saja. Tapi, aku bersyukur, ternyata dari sidang ini, banyak hal lagi yang bisa dikaji terkait dengan topik ini. (Kalau ada yang berminat menulis mengenai asuransi kapal, call me! 🙂 I’ll tell you something).

Setelah menunggu 3 orang temanku yang lain selesai sidang, tibalah pengumuman hasil. Tanpa drum roll dan tanpa confetti, kami berempat pun dinyatakan lulus sidang dengan nilai yang baik! Aaaaak, puji Tuhan. Aku bahagia karena eksekusi ini berjalan dengan lancar. Aku bahagia karena aku bisa merasakan betapa Tuhan begitu menenangkan dan membuatku yakin bahwa segalanya akan berjalan lancar. Aku berbahagia karena kita berempat berhasil menyelesaikannya dengan baik. Tidak lupa, bahagia sekali dengan keputusan Tuhan memberikan bapak ini sebagai dosen pembimbing kami.

Sansan, Bebeth, Pak Kornelius ‘keren’ Simanjuntak, Sam, Quin.

Di luar ruangan, sudah ada banyak teman-teman dan sahabat yang menunggu. Aku juga bahagia akan kenyataan ini. :’)

Lihatlah mereka, betapa niatnya mereka memberikan bunga seperti itu untuk menyemarakkan kelulusanku hari ini. :’) Terima kasih Abby, Jojo, dan Odett! Semoga Tuhan memberikan yang terbaik terus untuk kalian! :’)

Abby, Bebeth, Jojo, Odett.
Abby, Bebeth, Jojo, Odett.

Ada juga anak-anak kelompok kecil tercinta yang begitu aku selesai sidang dan belum dinyatakan S.H., langsung meminta foto bersama. :’) Ini adalah langkah iman, guys! Anyway, ternyata itu pipinya emang lebih mirip mochi daripada pipi deh.

Tria dan Abi

Dan ini… beberapa warga PO FH UI tercinta, yang menjadi saluran kasih Tuhan, saluran semangat dari Tuhan untukku selama di kampus, terkhusus selama penulisan skripsi ini. Ah, bahagia sekali. :’)

William, Yannes, Winner, Ocep, Mita, Jedev, Friska, Ivo, Pipin, Elka, Irene, Lidya, Ipul, Stefan, Kevin, dan Rama.

Terima kasih sekali lagi, kepada kalian semua. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu, tenaga, dan hati kalian untuk memikirkan dan memedulikanku. Aku hanya serbuk gergaji tanpa kalian. Aku berdoa semoga persaudaraan kita tetap terjalin di dalam Kristus Yesus! Amen.

Inilah akhir dari perjalanan 150 hari penulisan skripsi bersama Tuhan Yesus. Cantik sekali jumlahnya. Seperti jumlah pasal dalam Mazmur. *yayaya* Aku bersyukur karena memang kurasakan bahwa Tuhan berjalan bersamaku dalam setiap suka dan duka penulisan skripsi ini. Dalam setiap kepastian dan ketidakpastian, setiap harapan dan doa, setiap waktunya, setiap lembarnya. Di tengah banyaknya kemelut kehidupan, hahaha, Tuhan menyatakan diri-Nya dengan begitu tak terkatakan.

Inilah akhir dari perjalanan 150 hari penulisan skripsi bersama Tuhan Yesus. Mulai dari bagaimana Dia menempatkan topik ini di hatiku, bagaimana Dia mengingatkanku untuk tidak mengerjakan hal yang ‘ala kadarnya’. Bagaimana Dia menyatakan melalui dosenku bahwa topik ini bagus untuk diteliti, bagaimana Dia memberikan bahan demi bahan yang kuperlukan dalam menulis skripsi ini. Tuhan Yesus juga yang menolongku untuk mengerti tentang menggunakan setiap hari dengan bijaksana, karena hari-hari ini adalah jahat. Dia juga yang ingatkan aku bahwa Pembimbing nomor 1 haruslah Dia. Harapan dan kekuatan haruslah didasarkan pada-Nya. Untuk Dialah skripsi ini dikerjakan. Tuhan juga yang membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil di dalam nama-Nya dengan menggerakkan hati narasumber-narasumber untuk membantu penelitian ini. Bahwa sesibuk dan setenar apa pun mereka, kalau Tuhan sudah bilang bahwa mereka akan memberi waktu untukku, mereka pasti akan memberinya. Sungguh bahagia dengan setiap janji Tuhan yang digenapi-Nya selama khususnya 150 hari ini aku menulis skripsi.

Kalau bukan karena-Mu, Tuhan, mana mungkin semua yang sudah berakhir ini bisa kumulai. Mana mungkin kalau saat ini di belakang namaku telah bertengger gelar sarjana. :’)

Sekali lagi, terima kasih Tuhan. Kiranya Engkau menerima persembahanku ini. Biarlah nama Tuhan saja yang dimuliakan melalui gelar sarjana hukumku ini. Amen.

So, once again, congratulations on your graduation, self! 
IMG-20150710-WA0000 Sudah selesai. 🙂

Hari ke-150 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Hari ke-146: Sedikit Cerita tentang Rasa Syukur

Perlahan tapi pasti, hari-hari yang kulalui terlihat dan terasa semakin baik. Secara luar biasa, Tuhan menyertai dan memberkati proses penyelesaian skripsiku hingga aku bisa mendaftar sidang pada 3 Juli 2015 kemarin. Kamu harus tahu, teman-teman, aku hampir gagal daftar sidang. Namun Tuhan membukakan segala pintu menuju sidang. Dosen pembimbingku, kedua-duanya, baru memberi persetujuan terhadap skripsiku pada awal Juli ini. Ajaibnya, aku tidak terlalu khawatir. Karena aku sudah melihat bagaimana Tuhan bekerja memastikan seluruh ketidakpastianku pada fase analisis di Bab 4 kemarin. Aku bisa mewawancarai seorang mantan direktur utama anak perusahaan Pertamina, yang menurutku, sangat wow. Aku bisa berdiskusi dengan sangat leluasanya dengan beliau melalui email. Bahkan beliau sangat terbuka dan informatif terkait pertanyaan-pertanyaan wawancaraku kemarin. Aku selalu terharu mengingat momen itu. Momen di mana Tuhan menjadikan segala sesuatunya indah dan sungguh amat baik. Kalau bukan Tuhan yang menggerakkan hati nurani beliau, mana mungkin beliau menanggapiku, si upik abu ini? Hahaha. Oh ya, masih ingat ceritaku tentang first impression? Coba klik di sini untuk membacanya lagi. Seratus dua hari yang lalu, aku menuliskan bahwa dosen pembimbingku bersedia menjadi perantara antara aku dan bapak narasumberku ini, dan dia menepatinya, teman-teman. Tidak mungkin ini terjadi, kalau bukan Tuhan yang mengingatkan dan menggerakkan hati sang dosen untuk menepati janjinya. Ingat kan, Paulus bilang kalau hati nurani manusia (untuk mengetahui apa yang baik dan yang buruk) itu pun Tuhan yang izinkan. Same way goes to this, ingatan dan kegerakan hati mereka pun pastilah Tuhan yang izinkan terjadi. Kembali, all praises to the Lord. 

Pada pergantian tanggal 2 dan 3 Juli kemarin aku hanya tidur selama 1 jam, dengan kondisi aku mengerjakan revisi seharian penuh. Mataku lelah sekali memang. Tapi entah kenapa aku merasa perlu terus mengerjakan revisi ini, meskipun sebenarnya aku masih punya banyak waktu sampai sebelum tanggal 6 ini. Aku berjalan dengan iman, ketika dosen pembimbing ke-2 ku baru akan memberikan persetujuannya tanggal 3 Juli pukul 2 siang. Tanggal 3 Juli adalah hari terakhir pendaftaran sidang di mana sebelumnya aku harus mengurus yudisium ke bagian SBA. Sepengetahuanku, SBA Reguler selalu tutup pukul 15.30. Untuk mengurus yudisium ini aku perlu mendapatkan tanda tangan dari kedua dosen pembimbing. Aku berpikir, tidak mungkin prosesnya selesai kalau aku baru menyerahkan persetujuan sidang dari dosen sekitar pukul 2 siang nanti, dengan kondisi mereka akan tutup pukul 15.30. Belum lagi mengurus ke Program Kekhususannya. Namun keajaiban terjadi karena akhirnya aku bisa mengurus yudisium (yang adalah proses paling lama) hanya dengan tanda tangan dari 1 dosen pembimbing saja. Memang aku belum bisa mendaftar sidang ke PK Bisnis dan Ekonomi, dengan kondisi tersebut. Artinya, aku tetap harus menunggu tanda tangan dari dosen pembimbing ke-2. Lalu aku kembali berjalan dengan iman lagi menanyakan kepada pihak SBA, pukul berapakah mereka akan tutup (padahal aku sudah tahu mereka akan tutup pukul 15.30). Kenapa aku menanyakan itu? Karena ketika nanti aku selesai mengurus di PK, aku harus kembali ke SBA untuk mengurus surat pengantar bagi dosen penguji. Juga karena ternyata ketua PK-ku sedang rapat, yang katanya selesai pukul 15.00-16.00. Keajaiban lagi, pihak SBA mengatakan bahwa hari ini mereka akan tutup pukul 18.30, setelah acara buka puasa bersama di kampus. :’) *terima kasih* Benar saja, ketua PK baru datang pukul 16.02, dan baru menyelesaikan proses penentuan tanggal sidang serta dosen penguji sekitar pukul 17.00.

Tanggal 1-3 Juli itu adalah hari paling menakjubkan dalam tahun ini. Hari paling melelahkan yang pernah ada. Tapi semuanya berbuah manis, dan dengan ini, aku dinyatakan akan sidang pada tanggal 10 Juli nanti. Ah, 4 hari lagi!

Aku bersyukur sekali kepada Tuhan yang sejak 146 hari lalu menemaniku memulai perjalanan skripsi ini; yang sejak 146 hari lalu meneguhkan topik apa yang akan kubawa dalam skripsi ini. Sedari mulanya sampai kesudahannya nanti, segala hormat, puji, dan sembah hanya untuk Tuhan. Sedari mulanya sampai kesudahannya nanti, segenap hidupku, segenap skripsiku, adalah kasih karunia Tuhan.

Dan… untuk menguatkan sedikit cerita tentang rasa syukur ini, foto ini buktinya! Lihat, walau berlelah-lelah dan dihimpit banyak beban pikiran, aku masih bisa tersenyum! Semua karena Tuhan. Semua untuk Tuhan.

Terima kasih Tuhan!

Hari ke-146 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Thank God, I love the smiling face of mine!