Hari ke-146: Sedikit Cerita tentang Rasa Syukur

Perlahan tapi pasti, hari-hari yang kulalui terlihat dan terasa semakin baik. Secara luar biasa, Tuhan menyertai dan memberkati proses penyelesaian skripsiku hingga aku bisa mendaftar sidang pada 3 Juli 2015 kemarin. Kamu harus tahu, teman-teman, aku hampir gagal daftar sidang. Namun Tuhan membukakan segala pintu menuju sidang. Dosen pembimbingku, kedua-duanya, baru memberi persetujuan terhadap skripsiku pada awal Juli ini. Ajaibnya, aku tidak terlalu khawatir. Karena aku sudah melihat bagaimana Tuhan bekerja memastikan seluruh ketidakpastianku pada fase analisis di Bab 4 kemarin. Aku bisa mewawancarai seorang mantan direktur utama anak perusahaan Pertamina, yang menurutku, sangat wow. Aku bisa berdiskusi dengan sangat leluasanya dengan beliau melalui email. Bahkan beliau sangat terbuka dan informatif terkait pertanyaan-pertanyaan wawancaraku kemarin. Aku selalu terharu mengingat momen itu. Momen di mana Tuhan menjadikan segala sesuatunya indah dan sungguh amat baik. Kalau bukan Tuhan yang menggerakkan hati nurani beliau, mana mungkin beliau menanggapiku, si upik abu ini? Hahaha. Oh ya, masih ingat ceritaku tentang first impression? Coba klik di sini untuk membacanya lagi. Seratus dua hari yang lalu, aku menuliskan bahwa dosen pembimbingku bersedia menjadi perantara antara aku dan bapak narasumberku ini, dan dia menepatinya, teman-teman. Tidak mungkin ini terjadi, kalau bukan Tuhan yang mengingatkan dan menggerakkan hati sang dosen untuk menepati janjinya. Ingat kan, Paulus bilang kalau hati nurani manusia (untuk mengetahui apa yang baik dan yang buruk) itu pun Tuhan yang izinkan. Same way goes to this, ingatan dan kegerakan hati mereka pun pastilah Tuhan yang izinkan terjadi. Kembali, all praises to the Lord. 

Pada pergantian tanggal 2 dan 3 Juli kemarin aku hanya tidur selama 1 jam, dengan kondisi aku mengerjakan revisi seharian penuh. Mataku lelah sekali memang. Tapi entah kenapa aku merasa perlu terus mengerjakan revisi ini, meskipun sebenarnya aku masih punya banyak waktu sampai sebelum tanggal 6 ini. Aku berjalan dengan iman, ketika dosen pembimbing ke-2 ku baru akan memberikan persetujuannya tanggal 3 Juli pukul 2 siang. Tanggal 3 Juli adalah hari terakhir pendaftaran sidang di mana sebelumnya aku harus mengurus yudisium ke bagian SBA. Sepengetahuanku, SBA Reguler selalu tutup pukul 15.30. Untuk mengurus yudisium ini aku perlu mendapatkan tanda tangan dari kedua dosen pembimbing. Aku berpikir, tidak mungkin prosesnya selesai kalau aku baru menyerahkan persetujuan sidang dari dosen sekitar pukul 2 siang nanti, dengan kondisi mereka akan tutup pukul 15.30. Belum lagi mengurus ke Program Kekhususannya. Namun keajaiban terjadi karena akhirnya aku bisa mengurus yudisium (yang adalah proses paling lama) hanya dengan tanda tangan dari 1 dosen pembimbing saja. Memang aku belum bisa mendaftar sidang ke PK Bisnis dan Ekonomi, dengan kondisi tersebut. Artinya, aku tetap harus menunggu tanda tangan dari dosen pembimbing ke-2. Lalu aku kembali berjalan dengan iman lagi menanyakan kepada pihak SBA, pukul berapakah mereka akan tutup (padahal aku sudah tahu mereka akan tutup pukul 15.30). Kenapa aku menanyakan itu? Karena ketika nanti aku selesai mengurus di PK, aku harus kembali ke SBA untuk mengurus surat pengantar bagi dosen penguji. Juga karena ternyata ketua PK-ku sedang rapat, yang katanya selesai pukul 15.00-16.00. Keajaiban lagi, pihak SBA mengatakan bahwa hari ini mereka akan tutup pukul 18.30, setelah acara buka puasa bersama di kampus. :’) *terima kasih* Benar saja, ketua PK baru datang pukul 16.02, dan baru menyelesaikan proses penentuan tanggal sidang serta dosen penguji sekitar pukul 17.00.

Tanggal 1-3 Juli itu adalah hari paling menakjubkan dalam tahun ini. Hari paling melelahkan yang pernah ada. Tapi semuanya berbuah manis, dan dengan ini, aku dinyatakan akan sidang pada tanggal 10 Juli nanti. Ah, 4 hari lagi!

Aku bersyukur sekali kepada Tuhan yang sejak 146 hari lalu menemaniku memulai perjalanan skripsi ini; yang sejak 146 hari lalu meneguhkan topik apa yang akan kubawa dalam skripsi ini. Sedari mulanya sampai kesudahannya nanti, segala hormat, puji, dan sembah hanya untuk Tuhan. Sedari mulanya sampai kesudahannya nanti, segenap hidupku, segenap skripsiku, adalah kasih karunia Tuhan.

Dan… untuk menguatkan sedikit cerita tentang rasa syukur ini, foto ini buktinya! Lihat, walau berlelah-lelah dan dihimpit banyak beban pikiran, aku masih bisa tersenyum! Semua karena Tuhan. Semua untuk Tuhan.

Terima kasih Tuhan!

Hari ke-146 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

2015_0705_15541900
Thank God, I love the smiling face of mine!
Advertisements

Hari ke-114: Dosen Pembimbing

Yak, tibalah saatnya saya menuliskan satu topik yang sangat sensitif dalam dunia penulisan tugas akhir. Dua kata. Hanya dua kata.

Dosen. Pembimbing.

Ngga usah pakai salah satu katanya saja sudah seram.

Dosen. Sosok yang lebih tinggi dari kita, yang secara hierarkis mengharuskan kita tunduk padanya. Sosok yang secara pengalaman lebih banyak makan asam-garam dibanding kita, membuat kita harus mau-tidak mau mendengarkannya. Sosok yang secara intelektualitas mungkin lebih pintar dari kita, membuat kita harus berharap dia akan mengajari kita.

Man, I mean, ini semua membuat kita akan sadar ngga sadar, bergantung sama dia.

Ditambah lagi dengan kata ‘pembimbing’? Makin seram.

Guys, dia adalah sosok yang membimbing kita. Itu secara implisit mau mengatakan bahwa kita tidak bisa mengerjakan ini sendirian. Kita clueless. Ibaratnya, kayak orang yang lagi outbond, matanya ditutup dengan kain, dan disuruh ngikutin orang yang megangin dia. Well, kita ngga sehitam itu sih ngelihat yang di depan kita, tapi tetep aja, hampir miriplah. Kenapa harus ada pembimbing? Ya karena kita ngga bisa skripsian sendiri.

Seram.

Waktu ujian masuk kemarin kita ngerjainnya sendirian, kenapa keluarnya harus dibimbing? Kurang adil.

Bukankah yang paling susah itu masuknya? Gimana mau keluar kalau belum masuk? -_-

(Tiba-tiba mulai sadar, beberapa kalimat di atas agak absurd).

Jadi, ya begitulah. Fenomena dosen pembimbing memang sudah sangat sering mewarnai dunia skripsi mahasiswa tingkat akhir. Bagi saya sendiri, ini sudah diprediksikan akan terjadi. Kesalahan saya adalah, menaruh harapan kepadanya ketika suara hati mengatakan, ‘do it yourself’. Kalau sudah begini, yang ada tinggal penyesalan, kan?

Saya tidak menyalahkan siapa pun kecuali diri saya sendiri. Ini sudah resiko yang harus saya ambil ketika meminta dosen pembimbing saya yang sangat kredibel dan sibuk tersebut untuk membimbing saya. Saya tidak perlu heran.

Karena itu, di hari minus 30 ini saya harus bekerja lebih keras. Argh, semoga ngga ada halangan untuk lulus semester ini. 😥

Tuhan, kepada Tuhan sajalah aku menaruh harapan. Kepada Tuhan sajalah aku mengutamakan bimbingan. Takut. 😥

Hari ke-114 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Saya Butuh Tuhan Setiap Jam

Ternyata kemarin adalah hari Pentakosta. Saya baru menyadari hal tersebut ketika ibadah minggu di gereja pada puncaknya, ketika pendeta menyebutkannya di doa penutup khotbah. Pada hari itu Firman Tuhan berbicara banyak sekali mengenai hidup yang dipimpin terus oleh Roh. Berbicara mengenai betapa pada awalnya banyak orang yang memulai segala sesuatu di dalam hidupnya dengan motif baik–selfless–namun di tengah jalan, karena pengaruh dunia ini malah melenceng ke arah selfish. Saya mengerti yang disampaikan oleh pendeta itu. Saya bersyukur bahwa Tuhan memberi pengertian tersebut. Banyak komitmen yang saya bisikkan di dalam hati ini, berharap saya tidak hanya mengucapkannya, namun bisa menepatinya. Saya tahu betul, iblis seperti singa yang mengaum-ngaum, mencari terus mangsa yang akan dikorbankannya. Saya paham betul hal tersebut. Bahkan dia bisa menyamar seolah-olah dia adalah sosok yang innocent. 

Ada sesuatu yang mengharukan bagi saya ketika pendeta itu menutup khotbah di dalam doa. Ketika dia mengucapkan “Izinkanlah Roh Kudus memenuhi ruangan ini”, suatu khidmat dan perasaan berbeda hadir. Walaupun harus saya akui bahwa pada saat itu saya merinding, saya tidak ingin mencoba membuat hal ini bak suatu kejadian mistis. Saya percaya, Roh Tuhan hadir di gereja tersebut kemarin. Saya percaya bahwa Dia ingin anak-anak-Nya mengingat kembali kehendak-Nya pada momen Pentakosta ini. Saya percaya bahwa kemarin Tuhan sedang mengingatkan kita untuk mengingat bahwa kita telah memulai semuanya dengan Roh, dan harus mengakhirinya dengan Roh pula.

Saya mengingat beberapa waktu ini saya sudah sangat kacau di dalam hati saya. Dunia, pergaulan, dan iblis telah mengaburkan pandangan saya pada Tuhan. Saya hampir terbiasa berpandangan negatif terhadap orang-orang. Saya hampir saja kembali menjadi orang yang sama dengan saya bertahun-tahun lalu. Saya harus kembali, gumam saya. Saya harus setia sampai akhir.

Karena itulah, saya membutuhkan-Mu, Tuhan. Setiap detik, menit, setiap jam di dalam hidup saya. Pimpinlah anak-Mu ini ya Bapa, melakukan kehendak-Mu, di dalam Roh dan kebenaran. Berbicaralah selalu, ajarlah selalu, didiklah selalu, nyatakanlah selalu kesalahan anak-Mu ini Bapa. Karena saya milik-Mu.

Amin.

Aku milik-Mu, Yesus, Tuhanku; kudengar suara-Mu.
‘Ku merindukan datang mendekat dan diraih oleh-Mu.
Raih daku dan dekatkanlah pada kaki salib-Mu. Raih
daku, raih dan dekatkanlah ke sisi-Mu, Tuhanku.

Late Night Thoughts

There should be one time in our lives we don’t feel like living. I mean, not living in the meaning of breathing air in and out, we still, but we’re not alive. We start questioning why all the things has to happen this way, why we do what we do, why we don’t do what we don’t do, why we feel what we feel, why we keep torturing ourselves thinking things we should not think, and so on. At that time, you want to say something, you feel like you really want to scream out loud, throwing everything that came into your head. You feel like you need to fix something or maybe everything, but you’re too weak and too clueless to do so. You think you absolutely have the right to get angry, drowned in your bad mood, being really quiet about life. You need people to understand you but even you yourself can’t do it well. At that very time, you just want to shut the people out for doing you wrong, for not trying to understand you just a little, for hurting you, for making you cry and miserable. You just want them to understand the way you feel right now. How hurt it does. How deep is the wound. You just want them to see you’re just the weakest person of this century so they feel a bit sympathetic to you. You just want them to do you right. But sadly, you end up keeping your own mouth shut. Not because you can’t open it, but you just don’t want to. Just to take the first step of that already made you tired. At that time, you just avoid everything. You just move forward, close your eyes from everything around you, try to focus on yourself, because you’d never really done it before. You just do things that will make you happy. Make you smile. Help you fix your own indescribable condition. You just want to take care of yourself before anyone does. At that time, you realize something. The further you move, the better you get. The more focus you go, the better you are. Yet, it still hurts. That’s the sad fact.

Hari ke-80: Di mana Ada Niat, Di situ Ada Jalan

Hai, sudah lama sekali ya sejak cerita terakhirku tentang skripsi. Sekarang bahkan sudah hampir 100 hari aku mengerjakannya dan kau tahu, aku masih berada di Bab 3. Aku sedikit heran. Oh tidak, sangat heran. Kenapa harus selama itu ya untuk memproses data-data yang sudah tersedia? Kan, sudah ada buku-buku, artikel, jurnal, kamus, dan semua hal yang dibutuhkan? Masa sih, ngerjain Bab 2 dan 3 itu harus memakan waktu selama ini? Aku ingat lagi, timeline pribadiku tidak lagi berfungsi. Padahal aku berjanji akan menyelesaikan penulisan Bab 2 dan 3 itu dalam waktu 2 minggu sejak Bab 1 dan outline-ku disetujui. Pada waktu itu aku memang berpikir bahwa akan ‘semudah’ itu untuk menepati timeline itu. Ya… gimana ya… aku pernah menyelesaikan tugas makalah berjumlah 20 halaman dalam waktu 2 jam saja. Masakan untuk beberapa puluh halaman lainnya dalam 2 minggu itu tidak bisa? Ya, kan? Logis ngga?

Tapi… masalahnya bukan terletak pada sebanyak apa waktu yang kita miliki untuk mengerjakan skripsi kita tersebut. Namun, sebesar apa niat kita untuk mengerjakannya. Oh ya, satu lagi, sebesar apa ‘tekanan’ yang ada. Jujur saja, karena dosenku tidak memberikan deadline yang strict terhadap 2 bab ini, aku merasa sedikit mager untuk mengerjakannya. Setiap hari hanya berakhir di buka laptop, download jurnal, baca-baca dikit, udah. Buka YouTube, buka Blog, buka Facebook, Twitter, dan berbagai social-sites-yang-kurang-penting-untuk-saat-ini lainnya. Malahan aku menghabiskan waktu membaca hal yang kurang berhubungan dengan skripsi ini. Entah kenapa otakku memang lebih tertarik pada hal yang pada saat itu justru bukan menjadi hal yang prioritas. Seperti dulu waktu SMA, ketika seharusnya aku memberikan fokus dan hatiku pada mata pelajaran ilmu alam, aku malah berpikir untuk banting setir, putar haluan ke mata pelajaran IPS. Kebiasaan ini jauh berbeda dengan aku pada waktu aku masih TK, SD, dan SMP, di mana aku bisa fokus dengan apa pun yang diberikan padaku saat itu.

Hmmm, sejauh ini, memang ada juga hal lain yang membuat 46 hariku ke belakang sepertinya berlalu dengan kurang produktif. Terlalu banyak hal yang mencoba mengganggu pikiran. Sayangnya, aku terganggu. Rasanya ingin meminta kembali hari-hari yang kemarin kulalui dengan sia-sia. See? You will appreciate something when you lose it. Tapi itu bukan jadi pembenaran kalau aku bisa menelantarkan skripsiku. Satu-satunya yang harus disalahkan di sini adalah aku sendiri. Karena keputusan ada di tanganku. Seharusnya aku bisa memilih untuk ‘terganggu’ atau tidak. Ya, buat apa juga nyalah-nyalahin hal lain atau orang lain. Pekerjaan mencari kambing hitam adalah pekerjaan iblis. Selama ada niat, di situ pasti ada jalan. Tinggal milih, mau jalan atau engga.

Jadi, mari kita berjuang lagi. Berjuang untuk setia setiap harinya, setiap detiknya. Mari memperhatikan dengan seksama, bagaimana kita hidup, jadilah bijaksana. Pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat. Jangan sampai menyesalinya di kemudian hari.

Hari ke-80 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Insp #1

Kemarin, aku ngelihat Abby ngepost sesuatu yang mencerminkan rasa syukurnya pada Tuhan di salah satu akun sosial media. Aku memberikan komentar, “DID I MISS SOMETHING?”, seperti yang juga diucapkan oleh sahabatku, Ica. Aku bingung dan ngga tau sama sekali tentang apa postingan itu. Pembelaanku adalah karena belakangan ini aku kurang aktif di sosmed itu mengingat gagal install-nya si aplikasi sosmed. Lalu aku membuka Facebook dan menemukan postingan seperti gambar di atas. Aku pun membacanya dan merinding. Oh iya, jantungku juga semacam berdesir gitu, hahaha. Berlebihankah? Aku rasa engga sih. Ini kan reaksi refleks ya, jadi sistem motorik emang langsung bekerja begitu aja, menandakan itu respon yang… tidak disengaja. Ah, begitulah. Aku udah lupa sistem kerja saraf-saraf manusia dan sejenisnya. Hehehe -_-

Aku bangga. Bangga dan terharu. Aku dan Abby kuliah di universitas berbeda, bahkan berbeda kota. Dia di Bandung, aku di Depok. Aku ngga tau keseharian Abby, ngga tahu detil hidup Abby, ngga tahu perjuangan-perjuangan Abby secara utuh di sana. Kalau kita ketemu, pembicaraan kita jarang sekali mengenai hal berbau akademis seperti itu. Lebih banyak masalah hati dan kawan-kawannya, hahaha. Kalau kita chatting, hal yang dibahas pun jarang sekali mengenai ini. Pantaslah, aku kaget membaca berita bahagia di atas.

Abby adalah orang yang sedari dulu memang salah satu sahabat terhebat yang aku miliki. Nanti aku akan bercerita juga tentang sahabat-sahabatku yang lain (Ica, Odet, Grace, Jovita, Ira dan Niken) di postingan-postingan berikutnya. Waktu SMA, aku terbiasa menyaksikan keberhasilan Abby dalam banyak hal. Biar kukatakan pada kalian, Abby adalah salah satu jenius yang tersisa di abad ini. Aku ngga pernah bisa mengerti betapa orang yang ‘tampaknya biasa-biasa saja’ ini punya potensi yang sangat besar di dalam dirinya. Abby bukan tipikal pinter-hectic yang ada di sekolah. She played too. Dia menghabiskan waktu pulang sekolahnya juga di paduan suara. Dia kelihatannya nggak seserius itu. But again, ini kelihatannya aja lho. Deep inside, aku tahulah Abby adalah salah satu orang yang striving for the best untuk apa pun yang dipercayakan padanya. Ambisius terselubung? Ah, let’s just say, genuinely genius or born to be genius. 😉

Abby bukan tipikal orang yang sombong, even in that ‘good way’ . Cara yang baik di sini maksudku, bukan tipikal orang yang merendah-untuk-diroketkan, atau biasa kusebut dengan humblebrag (cara pamer yang terselubung-red). She is just being real. At least, itu yang kudapatkan dan kuyakini. Dia itu bagaikan quote ini “The sky doesn’t need to explain that it is high above. People know you’re good if you’re good.” Abby nggak pernah merasa ingin membuktikan apa pun kepada khalayak ramai, karena khalayak ramai udah tahu betapa terbuktinya Abby, hahaha.

Kembali ke prestasi ini, sedari awal Abby membuka cerita tentang apa yang ingin dijadikannya sebagai skripsi, aku sudah sangat tertarik. Aku juga bisa melihat passion-nya ketika menceritakan. Seemed like, she really wanted to write about that and I’m glad and motivated to do the same too. Dari awal aku udah ngeh, how unusual her way of thinking is. Kemampuan berpikir mendalamnya memang hebat, kemampuan menganalisisnya jangan diragukan lagi. Kalau belakangan ini aku lagi digilai dengan bacaan mengenai practical wisdom, aku rasa Abby punya itu. Kemampuan framing-nya adalah salah satu hal yang kuacungi jempol. Keempat jempolku kalau bisa. Atau kuminta jempol teman-temanku yang lain. She can turn every puzzle into one good picture. Sebenarnya aku nggak tau sedalam apa dan sememusingkan apa proses penulisan skripsinya. Yang aku tau, dia berjuang keras untuk bertahan. Dia menulisnya sedari tahun lalu. Aku menyaksikan bagaimana dia bolak-balik Jakarta-Bandung demi data-data si skripsi. Aku cuma tahu, Abby sedang menulis sesuatu yang terkait dengan behavioral economics, yang pada saat itu juga sedang menjadi salah satu tema dari kebanyakan bacaan online-ku. Waktu itu aku sering membacanya di HarvardBiz. Lalu tibalah beberapa saat sebelum akhirnya Abby ditetapkan untuk sidang skripsi, aku menemukan foto abstract skripsinya di-post oleh seseorang. Aku pun membacanya dan setelah itu cuma satu kata yang tergumam dari bibirku.

“Awesome.”

She is awesome(ly) awesome.

Kurasa Abby orang pertama yang menulis hal itu (ngga tau sih sebenernya, tapi beneran bukan hal mainstream yang ditulisnya guysso I hope that’s true). 

Pada akhirnya, proses memang tidak pernah mengkhianati hasil. Skripsinya diikutsertakan dalam ajang Singapore Economic Review Conference dan berhasil lolos. They also believe that Abby’s way of thinking is awesomazing. Can’t be any prouder than this. Ini bukan satu-satunya prestasinya, aku yakin. Tapi untuk masa-masa penulisan skripsi seperti ini, prestasi di bidang ini menjadi hal yang sangat berpengaruh buatku dalam menulis skripsiku. Prestasi ini juga sedang menginspirasiku. Kurasa Abby juga bisa berpikir untuk menjadikannya buku. Hahaha.

Jadi, selamat, sahabatku! Selamat untuk setiap upah dari kerja keras dan ketekunanmu. Terima kasih sudah menginspirasi, dulu, sekarang, dan semoga selamanya. 🙂

FIGHTING! >_<