Saya Butuh Tuhan Setiap Jam

Ternyata kemarin adalah hari Pentakosta. Saya baru menyadari hal tersebut ketika ibadah minggu di gereja pada puncaknya, ketika pendeta menyebutkannya di doa penutup khotbah. Pada hari itu Firman Tuhan berbicara banyak sekali mengenai hidup yang dipimpin terus oleh Roh. Berbicara mengenai betapa pada awalnya banyak orang yang memulai segala sesuatu di dalam hidupnya dengan motif baik–selfless–namun di tengah jalan, karena pengaruh dunia ini malah melenceng ke arah selfish. Saya mengerti yang disampaikan oleh pendeta itu. Saya bersyukur bahwa Tuhan memberi pengertian tersebut. Banyak komitmen yang saya bisikkan di dalam hati ini, berharap saya tidak hanya mengucapkannya, namun bisa menepatinya. Saya tahu betul, iblis seperti singa yang mengaum-ngaum, mencari terus mangsa yang akan dikorbankannya. Saya paham betul hal tersebut. Bahkan dia bisa menyamar seolah-olah dia adalah sosok yang innocent. 

Ada sesuatu yang mengharukan bagi saya ketika pendeta itu menutup khotbah di dalam doa. Ketika dia mengucapkan “Izinkanlah Roh Kudus memenuhi ruangan ini”, suatu khidmat dan perasaan berbeda hadir. Walaupun harus saya akui bahwa pada saat itu saya merinding, saya tidak ingin mencoba membuat hal ini bak suatu kejadian mistis. Saya percaya, Roh Tuhan hadir di gereja tersebut kemarin. Saya percaya bahwa Dia ingin anak-anak-Nya mengingat kembali kehendak-Nya pada momen Pentakosta ini. Saya percaya bahwa kemarin Tuhan sedang mengingatkan kita untuk mengingat bahwa kita telah memulai semuanya dengan Roh, dan harus mengakhirinya dengan Roh pula.

Saya mengingat beberapa waktu ini saya sudah sangat kacau di dalam hati saya. Dunia, pergaulan, dan iblis telah mengaburkan pandangan saya pada Tuhan. Saya hampir terbiasa berpandangan negatif terhadap orang-orang. Saya hampir saja kembali menjadi orang yang sama dengan saya bertahun-tahun lalu. Saya harus kembali, gumam saya. Saya harus setia sampai akhir.

Karena itulah, saya membutuhkan-Mu, Tuhan. Setiap detik, menit, setiap jam di dalam hidup saya. Pimpinlah anak-Mu ini ya Bapa, melakukan kehendak-Mu, di dalam Roh dan kebenaran. Berbicaralah selalu, ajarlah selalu, didiklah selalu, nyatakanlah selalu kesalahan anak-Mu ini Bapa. Karena saya milik-Mu.

Amin.

Aku milik-Mu, Yesus, Tuhanku; kudengar suara-Mu.
‘Ku merindukan datang mendekat dan diraih oleh-Mu.
Raih daku dan dekatkanlah pada kaki salib-Mu. Raih
daku, raih dan dekatkanlah ke sisi-Mu, Tuhanku.

Advertisements

Late Night Thoughts

There should be one time in our lives we don’t feel like living. I mean, not living in the meaning of breathing air in and out, we still, but we’re not alive. We start questioning why all the things has to happen this way, why we do what we do, why we don’t do what we don’t do, why we feel what we feel, why we keep torturing ourselves thinking things we should not think, and so on. At that time, you want to say something, you feel like you really want to scream out loud, throwing everything that came into your head. You feel like you need to fix something or maybe everything, but you’re too weak and too clueless to do so. You think you absolutely have the right to get angry, drowned in your bad mood, being really quiet about life. You need people to understand you but even you yourself can’t do it well. At that very time, you just want to shut the people out for doing you wrong, for not trying to understand you just a little, for hurting you, for making you cry and miserable. You just want them to understand the way you feel right now. How hurt it does. How deep is the wound. You just want them to see you’re just the weakest person of this century so they feel a bit sympathetic to you. You just want them to do you right. But sadly, you end up keeping your own mouth shut. Not because you can’t open it, but you just don’t want to. Just to take the first step of that already made you tired. At that time, you just avoid everything. You just move forward, close your eyes from everything around you, try to focus on yourself, because you’d never really done it before. You just do things that will make you happy. Make you smile. Help you fix your own indescribable condition. You just want to take care of yourself before anyone does. At that time, you realize something. The further you move, the better you get. The more focus you go, the better you are. Yet, it still hurts. That’s the sad fact.

Hari ke-80: Di mana Ada Niat, Di situ Ada Jalan

Hai, sudah lama sekali ya sejak cerita terakhirku tentang skripsi. Sekarang bahkan sudah hampir 100 hari aku mengerjakannya dan kau tahu, aku masih berada di Bab 3. Aku sedikit heran. Oh tidak, sangat heran. Kenapa harus selama itu ya untuk memproses data-data yang sudah tersedia? Kan, sudah ada buku-buku, artikel, jurnal, kamus, dan semua hal yang dibutuhkan? Masa sih, ngerjain Bab 2 dan 3 itu harus memakan waktu selama ini? Aku ingat lagi, timeline pribadiku tidak lagi berfungsi. Padahal aku berjanji akan menyelesaikan penulisan Bab 2 dan 3 itu dalam waktu 2 minggu sejak Bab 1 dan outline-ku disetujui. Pada waktu itu aku memang berpikir bahwa akan ‘semudah’ itu untuk menepati timeline itu. Ya… gimana ya… aku pernah menyelesaikan tugas makalah berjumlah 20 halaman dalam waktu 2 jam saja. Masakan untuk beberapa puluh halaman lainnya dalam 2 minggu itu tidak bisa? Ya, kan? Logis ngga?

Tapi… masalahnya bukan terletak pada sebanyak apa waktu yang kita miliki untuk mengerjakan skripsi kita tersebut. Namun, sebesar apa niat kita untuk mengerjakannya. Oh ya, satu lagi, sebesar apa ‘tekanan’ yang ada. Jujur saja, karena dosenku tidak memberikan deadline yang strict terhadap 2 bab ini, aku merasa sedikit mager untuk mengerjakannya. Setiap hari hanya berakhir di buka laptop, download jurnal, baca-baca dikit, udah. Buka YouTube, buka Blog, buka Facebook, Twitter, dan berbagai social-sites-yang-kurang-penting-untuk-saat-ini lainnya. Malahan aku menghabiskan waktu membaca hal yang kurang berhubungan dengan skripsi ini. Entah kenapa otakku memang lebih tertarik pada hal yang pada saat itu justru bukan menjadi hal yang prioritas. Seperti dulu waktu SMA, ketika seharusnya aku memberikan fokus dan hatiku pada mata pelajaran ilmu alam, aku malah berpikir untuk banting setir, putar haluan ke mata pelajaran IPS. Kebiasaan ini jauh berbeda dengan aku pada waktu aku masih TK, SD, dan SMP, di mana aku bisa fokus dengan apa pun yang diberikan padaku saat itu.

Hmmm, sejauh ini, memang ada juga hal lain yang membuat 46 hariku ke belakang sepertinya berlalu dengan kurang produktif. Terlalu banyak hal yang mencoba mengganggu pikiran. Sayangnya, aku terganggu. Rasanya ingin meminta kembali hari-hari yang kemarin kulalui dengan sia-sia. See? You will appreciate something when you lose it. Tapi itu bukan jadi pembenaran kalau aku bisa menelantarkan skripsiku. Satu-satunya yang harus disalahkan di sini adalah aku sendiri. Karena keputusan ada di tanganku. Seharusnya aku bisa memilih untuk ‘terganggu’ atau tidak. Ya, buat apa juga nyalah-nyalahin hal lain atau orang lain. Pekerjaan mencari kambing hitam adalah pekerjaan iblis. Selama ada niat, di situ pasti ada jalan. Tinggal milih, mau jalan atau engga.

Jadi, mari kita berjuang lagi. Berjuang untuk setia setiap harinya, setiap detiknya. Mari memperhatikan dengan seksama, bagaimana kita hidup, jadilah bijaksana. Pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat. Jangan sampai menyesalinya di kemudian hari.

Hari ke-80 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Insp #1

Kemarin, aku ngelihat Abby ngepost sesuatu yang mencerminkan rasa syukurnya pada Tuhan di salah satu akun sosial media. Aku memberikan komentar, “DID I MISS SOMETHING?”, seperti yang juga diucapkan oleh sahabatku, Ica. Aku bingung dan ngga tau sama sekali tentang apa postingan itu. Pembelaanku adalah karena belakangan ini aku kurang aktif di sosmed itu mengingat gagal install-nya si aplikasi sosmed. Lalu aku membuka Facebook dan menemukan postingan seperti gambar di atas. Aku pun membacanya dan merinding. Oh iya, jantungku juga semacam berdesir gitu, hahaha. Berlebihankah? Aku rasa engga sih. Ini kan reaksi refleks ya, jadi sistem motorik emang langsung bekerja begitu aja, menandakan itu respon yang… tidak disengaja. Ah, begitulah. Aku udah lupa sistem kerja saraf-saraf manusia dan sejenisnya. Hehehe -_-

Aku bangga. Bangga dan terharu. Aku dan Abby kuliah di universitas berbeda, bahkan berbeda kota. Dia di Bandung, aku di Depok. Aku ngga tau keseharian Abby, ngga tahu detil hidup Abby, ngga tahu perjuangan-perjuangan Abby secara utuh di sana. Kalau kita ketemu, pembicaraan kita jarang sekali mengenai hal berbau akademis seperti itu. Lebih banyak masalah hati dan kawan-kawannya, hahaha. Kalau kita chatting, hal yang dibahas pun jarang sekali mengenai ini. Pantaslah, aku kaget membaca berita bahagia di atas.

Abby adalah orang yang sedari dulu memang salah satu sahabat terhebat yang aku miliki. Nanti aku akan bercerita juga tentang sahabat-sahabatku yang lain (Ica, Odet, Grace, Jovita, Ira dan Niken) di postingan-postingan berikutnya. Waktu SMA, aku terbiasa menyaksikan keberhasilan Abby dalam banyak hal. Biar kukatakan pada kalian, Abby adalah salah satu jenius yang tersisa di abad ini. Aku ngga pernah bisa mengerti betapa orang yang ‘tampaknya biasa-biasa saja’ ini punya potensi yang sangat besar di dalam dirinya. Abby bukan tipikal pinter-hectic yang ada di sekolah. She played too. Dia menghabiskan waktu pulang sekolahnya juga di paduan suara. Dia kelihatannya nggak seserius itu. But again, ini kelihatannya aja lho. Deep inside, aku tahulah Abby adalah salah satu orang yang striving for the best untuk apa pun yang dipercayakan padanya. Ambisius terselubung? Ah, let’s just say, genuinely genius or born to be genius. 😉

Abby bukan tipikal orang yang sombong, even in that ‘good way’ . Cara yang baik di sini maksudku, bukan tipikal orang yang merendah-untuk-diroketkan, atau biasa kusebut dengan humblebrag (cara pamer yang terselubung-red). She is just being real. At least, itu yang kudapatkan dan kuyakini. Dia itu bagaikan quote ini “The sky doesn’t need to explain that it is high above. People know you’re good if you’re good.” Abby nggak pernah merasa ingin membuktikan apa pun kepada khalayak ramai, karena khalayak ramai udah tahu betapa terbuktinya Abby, hahaha.

Kembali ke prestasi ini, sedari awal Abby membuka cerita tentang apa yang ingin dijadikannya sebagai skripsi, aku sudah sangat tertarik. Aku juga bisa melihat passion-nya ketika menceritakan. Seemed like, she really wanted to write about that and I’m glad and motivated to do the same too. Dari awal aku udah ngeh, how unusual her way of thinking is. Kemampuan berpikir mendalamnya memang hebat, kemampuan menganalisisnya jangan diragukan lagi. Kalau belakangan ini aku lagi digilai dengan bacaan mengenai practical wisdom, aku rasa Abby punya itu. Kemampuan framing-nya adalah salah satu hal yang kuacungi jempol. Keempat jempolku kalau bisa. Atau kuminta jempol teman-temanku yang lain. She can turn every puzzle into one good picture. Sebenarnya aku nggak tau sedalam apa dan sememusingkan apa proses penulisan skripsinya. Yang aku tau, dia berjuang keras untuk bertahan. Dia menulisnya sedari tahun lalu. Aku menyaksikan bagaimana dia bolak-balik Jakarta-Bandung demi data-data si skripsi. Aku cuma tahu, Abby sedang menulis sesuatu yang terkait dengan behavioral economics, yang pada saat itu juga sedang menjadi salah satu tema dari kebanyakan bacaan online-ku. Waktu itu aku sering membacanya di HarvardBiz. Lalu tibalah beberapa saat sebelum akhirnya Abby ditetapkan untuk sidang skripsi, aku menemukan foto abstract skripsinya di-post oleh seseorang. Aku pun membacanya dan setelah itu cuma satu kata yang tergumam dari bibirku.

“Awesome.”

She is awesome(ly) awesome.

Kurasa Abby orang pertama yang menulis hal itu (ngga tau sih sebenernya, tapi beneran bukan hal mainstream yang ditulisnya guysso I hope that’s true). 

Pada akhirnya, proses memang tidak pernah mengkhianati hasil. Skripsinya diikutsertakan dalam ajang Singapore Economic Review Conference dan berhasil lolos. They also believe that Abby’s way of thinking is awesomazing. Can’t be any prouder than this. Ini bukan satu-satunya prestasinya, aku yakin. Tapi untuk masa-masa penulisan skripsi seperti ini, prestasi di bidang ini menjadi hal yang sangat berpengaruh buatku dalam menulis skripsiku. Prestasi ini juga sedang menginspirasiku. Kurasa Abby juga bisa berpikir untuk menjadikannya buku. Hahaha.

Jadi, selamat, sahabatku! Selamat untuk setiap upah dari kerja keras dan ketekunanmu. Terima kasih sudah menginspirasi, dulu, sekarang, dan semoga selamanya. 🙂

FIGHTING! >_<

Hari ke-44: First Impression

First impression, dalam Teori Pembentukan Kesan di psikologi sangat penting untuk diperhatikan oleh orang-orang yang pekerjaannya adalah seorang public speaker. Tetapi menurut saya, it’s all about first impression, ngga peduli mau kerjaannya sebagai public speaker atau private speaker (haha). Menurutku, first impression akan bertahan selamanya. A good lasting first impression will benefit us. Ini ngga sekadar general speaking ya, beneran deh. Walaupun, seiring berjalannya waktu, bisa aja banyak hal yang berubah. But, first impression is our start line, our starting point.

So.. yep, I want to share something about ‘creating a good (probably lasting) first impression’ when I visited my lecturer’s office two days ago. 

Here he is, a very outstanding lecturer, I can say. From the very beginning of this thesis thingy, I really wish he could be my adviser. Because, he is the one who masters the things about my under-graduated thesis. And thank God, he can. I remember that he seldom be in my campus, and I probably will find difficulties to meet him. But, even though I have to always go find him myself at his office or wheresoever he might be, I will pay the bill. It doesn’t matter at all because I am sure that it’ll all be paid off, with a very comprehensive writing of mine. 

Two days ago, I visited him at his office, with my friends, who will be advised by him too. We waited him for almost two hours, but at this time, there’s no big problem about waiting, for the very first time in forever, haha.

So he came, and asked my three friends about their proposal. Bla, bla, blah, now that was my turn, I was the last. He read the title of my proposal. 

“Bla..bla..bla… hmm ini topik yang bagus ya, hmm. Topik bagus ini.” Katanya sambil ngangguk-ngangguk.

And I smiled widely. Thank You, Lord. Aku bahagia begitu beliau mengatakan demikian. Bukan perkara karena topikku dipuji oleh seorang yang sangat hebat saja, tetapi lebih kepada… cerita dibalik topik itu.

Malam itu, 44 hari yang lalu, aku hampir putus asa karena ngga nemu juga topik yang sesuai dengan sisi realisku dan realita yang ada di lapangan. Ada sih beberapa topik yang aku dapatkan dari saran teman-temanku. Tapi… aku ngga terlalu suka ngerjain apa yang bukan berasal dari hasil perjuanganku sendiri. Hahaha. Tapi sebenernya kalo aja saat itu aku ngga nemu juga, aku bakalan pakai yang disaranin temen-temenku sih. Empat puluh empat hari yang lalu aku hampir tidur saja sekitar jam 11 malam, padahal berdasarkan timeline pribadiku, esoknya aku harus sudah mendapatkan topik dan memulai riset dan pengerjaan proposal. Apa lagi dalam 2 hari kemudian, selama 4 hari aku akan pergi retreat. Mana mungkin aku mikirin hal-hal beginian saat retreat. Hahaha.

Sudahlah, pasrah saja. Lalu aku mencoba untuk memejamkan mata dan tidur. Sayang sekali, dewi tidur belum berpihak padaku. Selama kurang-lebih 90 menit aku cuma gegulingan di tempat tidur. NGGA BISA TIDUR COY. Aseli. Ini lebih ngegalauin dari pada perkara cinta bertepuk tangan apa pun yang ada di dunia. Eh, bertepuk sebelah tangan maksudnya. Aku berharap bisa menemukan ilham, walaupun sebenernya si Ilham ga ke mana-mana. #hm

Tapi yang ada… aku malah laper… dan ngebayangin makanan apa yang bakalan aku makan di pagi hari nanti. Duh, bener-bener imajinasi yang kurang berguna. Lalu, hatiku bilang, “Beth, bangun gih, riset sekali lagi, kali ini bakalan nemu kok, percaya deh. Tanggung banget coy.” Ya sudah, aku turuti saja. Dan memang, aku ngga ngantuk sama sekali–walaupun aku sedang kelelahan sekali pada saat itu. Bukankan ini sebuah pertanda untuk tetep meleq? Hahaha.

Aku menyalakan laptop dan menyiapkan cokelat panas. (Caelah, sok iye banget). Sebenernya cokelat panas ini berfungsi untuk menetralisir kekosongan yang terjadi di dalam lambung saya a.k.a ngeganjel perut. Kenapa mesti cokelat panas dan ngga kopi saja? Ya simpel sih, karena saya ngga punya kopi saat itu, brosist.

Aku memulainya dengan berdoa. Aku berharap kali ini aku bisa menemukan sesuatu yang lebih penting dari pada imajinasi makanan-makanan lezat yang sedari tadi kupikirkan. Aku tahu, perkara seperti ini cuma hal kecil untuk Tuhan. 🙂

Lima menit berjalan. Aku memulai riset pukul 2 pagi. Memang otakku aktif di jam-jam seperti ini. Bahagianya, semuanya mengalir begitu saja. Ngga ada perasaan ngeluh atau takut. Mau buka website apa aja bebas, ngetik kata kunci apa aja juga bebas. Bener-bener ngerasain kalo saat itu Tuhan lagi pimpin. Hehehe. Ngga sampe 10 menit, aku udah dapet sesuatu yang aku cari-cari itu. Yang ngga hanya sesuai dengan sisi realisku, tapi sesuai juga dengan realita yang ada, dan sangat dibutuhkan untuk dibahas pada saat ini. Bahkan aku menemukan related topics yang banyak sekali dari hal ini. Bahagia ngga? Sepuluh menit doang, loh. :’) Padahal sebelumnya udah hampir seharian aku ngga nemu-nemu juga. Bahkan waktu nemu sesuatu ini, aku langsung hampir nangis. Terharu hahaha. Untung aja aku ngga jadi tidur!

“Hmm.. ini topik yang bagus ya..”

Terngiang selalu di kepalaku first impression yang diberikan beliau atas proposalku saat itu. Tuhan memang baik banget. Mana mungkin bisa dapetin itu kalo bukan karena Tuhan yang pimpin. Tuhan jawab doaku.

First impression will benefit us. 

Apa buktinya?

Beliau bertanya kepadaku apa yang ingin kugali dari topik ini. Aku mencoba menjelaskan sesederhana yang aku bisa. Aku ngga mau berpanjang-panjang ria, untuk menunjukkan kepadanya ‘kemampuanku’. Karena aku yakin, dia udah tau lebih banyak dari pada aku. Ya kan.. Ya udah, aku coba jelasin. Di sinilah aku merasakan berkat lagi atas topik ini. Tanpa tedeng aling-aling, beliau langsung melihat rumusan masalahku, lalu memperbaiki redaksi kata dan menambahi pokok pembahasan yang kuperlukan untuk diigali. Belum selesai, beliau juga menawarkan untuk aku melakukan penelitian empiris saja terkait hal ini, padahal aku ngga berani pada awalnya. Tetapi beliau bilang bahwa beliau bersedia menjadi perantaraku dengan perusahaan-perusahaan yang ‘provide‘ hal seperti ini, dan juga mengantarkan surat-surat yang kubutuhkan kalau aku ingin melakukan penelitian empiris. Baik banget! :”)

Aku ngga berhenti-berhentinya senyum. Dia memang salah satu dosen favoritku, walaupun aku hanya sempat diajar selama 2 kali selama di kampus. Tapi, buku yang ditulis olehnya adalah buku kesukaanku di kampus ini. Dulu aku bahkan bisa menghapal argumen-argumen yang ditulisnya di buku itu dengan baik, karena aku memang menyukai cara beliau menjelaskan di buku itu. Sebenernya dari sini aku mulai merasa bahwa ini adalah pertanda bahwa sebaiknya aku menulis topik ini sebagai skripsiku.

Kesan pertama yang didapat beliau bukanlah kesan yang kubuat-buat pada saat hari H. Kesan pertama itu adalah hasil dari pergumulan dan doa yang berserah kepada Tuhan. Kesan pertama itu adalah karya Tuhan yang memilihkan topik ini untukku. Biarlah segalanya kupersembahkan kembali kepada Tuhan. Aku berjanji akan menuliskan yang terbaik. Percuma dong, kalau aku yang suka nulis dan suka latihan terus soal EYD, suka nganalisis, suka topik ini, dan suka memecahkan masalah ini, ngasih yang setengah-setengah. Semangat, Beth! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Hari ke-44 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.


Hari ke-29: There’s None Like You

There is none like You
No one else can touch my heart like You do
I could search for all eternity long
And find there is none like You

Hanya kesetiaan Tuhan yang menjadi kekuatanku sampai saat ini.

Hanya Dia yang sanggup menyentuh hatiku sampai sebegitu dalamnya.

Terima kasih Tuhan, tadi sore ada kabar gembira terkait skripsi ini.

WAY TO GO!

Hari ke-29 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus.

Pagi tadi aku berangkat ke gereja dengan suasana hati yang ringan sekali. Walaupun kepalaku sedikit sakit karena tidur terlalu larut, tidak terlintas sedikit pun untuk mengeluh. Apa lagi, itu memang salahku sendiri. Aku bersyukur, pagi tadi aku bisa merasakan hadirat Allah di dalam ruangan gereja. Hari ini sang pemimpin pujian memilihkan lagu-lagu yang baik sekali. Menurutku, Tuhan telah berbicara dengan kuat dan jelas melalui lagu itu. Hatiku diingatkan kembali dengan suatu pergumulan yang entah mengapa terbersit begitu saja. Ada luapan yang begitu nyata tercurah melalui airmataku. Kusadari itu bukan akibat temperamen melankolis semata namun lebih kepada konfirmasi hati yang terdalam, bahwa aku ingin mengambil bagian dalam hal tersebut, apa pun bentuknya. Aku seperti sedang didorong terus untuk ‘memikirkan perkara-perkara yang di atas’. Aku yakin sekali, Tuhan lagi-lagi sedang menguji kesetiaanku. Tuhan selalu ingatkan aku pada hal ini: menghadirkan nilai kekekalan dalam kesementaraan. Titik. Aku ngga pernah bisa menyusun kalimat-kalimat indah untuk mendeskripsikan hatiku pada hal ini. Ngga tau juga mau diindah-indahkan gimana. Semuanya sederhana. Ngga pernah diribet-ribetin. Semuanya nyata. Senyata kutipan Alkitab di atas. Kiranya ini bukan ambisi, melainkan dedikasi–pada Allah yang adalah pemilik seluruh hidupku, yang membimbingku sampai sejauh ini. Tuhan, berkatilah anak-Mu yang lemah dan hina ini. Peganglah selalu tangannya. Amin.