Hari ke-1: Idealis atau Realistis

Hidup menurutku adalah persoalan bagaimana kau menghadapi segala hal dengan realistis. Bagaimana kau membuka mata terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Tentang bagaimana telingamu kau buka lebar-lebar, dengar dengan tajam apa yang sesungguhnya terjadi. Hidup bagiku adalah tentang bagaimana kau berdiri menginjak bumi, menghadapi apa pun yang terjadi di hadapanmu, bukan berlari menjauh dan menjadikan diri bak pecundang yang menunggu waktu untuk menyesal. Hidup bagiku adalah tentang bagaimana jika sakit, kau katakan sakit, jika wajahmu merona dan kau tak mencoba menutup-nutupinya, ketika memang kau sedang berbahagia, kau katakan kau bahagia. Juga tentang bagaimana kau sebenarnya tahu apa yang membuatmu jatuh cinta pada seseorang. Pada sesuatu. Bahwa pasti ada hal dibalik senyummu setiap pagi, yang membuatmu semangat menjalani hari-hari. Juga tentang kau berani mengatakan bahwa kau tidak suka terhadap sesuatu karena alasan tertentu yang mungkin mengganggu prinsipmu. Juga tentang bagaimana kau tidak ingin menjalani sesuatu dengan ala kadarnya. Hidup adalah tentang bagaimana kau mau berjuang bagi sesuatu, bagaimana kau mau memberikan yang terbaik dari hatimu untuk setotal-totalnya kepuasan pribadi, mungkin. Hidup adalah tentang tidak menjadi muluk, hidup adalah tentang ekspresi terdalam dari hatimu yang kau izinkan untuk terlihat oleh dunia. Tentang menjadi jujur kepada dirimu sendiri.

Skripsi. Akhirnya aku memikirkan hal ini dengan serius. Apa sih skripsi? Bukan sejenis makanan ringan, kan? Begitu candaku setiap kali orang-orang bertanya. Pernah juga salah satu temanku yang sudah lulus bertanya seperti ini beberapa hari lalu, “Sudah bab berapa, Beth?” Lalu rasanya aku hendak menggaruk-garuk dinding kost-an mengetahui bahwa aku belum memulai apa pun, saking bingungnya aku terhadap apa yang hendak kutulis. Lalu kujawab saja, “bab…i panggang karo.” Oke itu garing. Yeah I often be like that to make something serious enjoyable. Skripsi, jika kudefinisikan dengan kepala dan hatiku, adalah solusi. Yap, hanya satu kata itu. Solusi, bukan solami (sosis lapis mi), adalah 6 huruf yang akan membuatmu semangat mengerjakannya. Man, lo akan memberikan jalan keluar. That’s why aku berusaha mencari topik yang akan menjadi solusi untuk salah satu atau salah dua permasalahan yang ada di bumi ini. Am I an idealists? Nope, I’m just being realistic. Banyak masalah yang mungkin akan terselesaikan dari skripsi-skripsi kita. Jadi, berusahalah mencari tahu masalah yang ada, agar kau tahu di mana dan bagaimana peranmu dalam penulisan skripsi nanti. Jujurlah pada dirimu, bahwa kau ingin berkontribusi. Jujurlah, kau ngga mau mengerjakan sesuatu yang ala kadarnya dan sudah terpecahkan.

Karena itu, hari ini kudedikasikan malamku untuk satu topik yang kuserahkan kepada Tuhan saja pengerjaannya. Kudedikasikan kopi malam ini untuk penyusunan kerangka berpikir atas topik tersebut. Kudedikasikan keterbatasan otak ini untuk sepenuh-penuhnya memikirkan bagaimana topik ini akan menjadi solusi. Semoga Tuhan menyertai.

Hari ke-1 perjalanan skripsi bersama Tuhan Yesus. 

Gentleness; Power under Control

Who doesn’t want to be called ‘gentle’? Especially for boys, oh okay, and men, isn’t it such a proud thing to be labelled as a gentleman? What does the word ‘gentle’ mean to you? Do you really know its essential meaning?

OR,

Do you keep on picturing gentleness like what our roman novels told?

Let’s have our own definition of gentleness. I won’t try to define mine and destroy yours. Let’s just be clear to ourselves, through this first post of blog. I want to share you things I thought really necessary to be known AND OF COURSE to be practiced in this lovely life God has given. I have thought so many times before about this gentleness thingy. Let me say that this is a hot topic in my head since I face this new year, while in the previous year I thought so much about self-control. Gentleness is one of my 2015’s lessons to learn.

Aristotle used it in a technical sense as the virtue that strikes the mean with regard to anger: being too quick to anger is a vice, but so is being detached in a situation where anger is appropriate; justified and properly focused anger is named mildness or gentleness. I don’t really agree to him. Because God doesn’t want us to be angry in any forms. We have been reminded to be quick to listen, slow to speak, slow to anger, for human anger doesn’t accomplish God’s righteousness. Furthermore, Don Hoser said, “The biblical qualities of meekness and gentleness are misunderstood and undervalued in today’s society of extremes—where all too often people tend to angrily overreact or passively underreact. So, Aristotle may have said stuff, but the best idea among all is to go back to God’s words.

First thing first, gentleness is the fruit of the Holy Spirit. It involves thankfulness toward God, polite and restrained behavior toward others. It is about both state-of-mind and way-of-action. It lies within our heart and soul first. When we are filled with the Spirit’s fruit of gentleness, we will correct others with easiness instead of arguing in resentment and anger. Gentleness is how we strongly transfer what we need to transfer to people, under control.

It takes a strong person to be truly gentle. It takes a long time to be one, too. Why, a strong person? (Hey, we are talking about being spiritually strong).  Because gentleness lesson doesn’t come from nice and ‘safe’ things. Gentleness learning process doesn’t available in comfort zone. It is a product of long perseverance and humility towards God’s directions. And it is pretty hard.

God wants us to give Him control of our lives. Relying on our own logic, we have no impetus to submit to God’s leadership. With the wisdom given to us by the Holy Spirit, however, we begin to see why we should completely submit to God as Lord of our lives. Human power under human control is a half-broken weapon in the hands of a child. But gentleness places our strength under God’s guidance; it is a powerful tool for God’s kingdom. – GotQuestion.

Gentleness also talks about trusting in God’s grand design to us rather than our everlasting assumptions which only lead us to… temptation. To be gentle is to recognize that God’s ways and thoughts are high above our own. By doing this, we will always be thankful, right?

Next thing is, to keep our attitudes and actions gentle, we will need to swim upstream against the culture’s current of rudeness and roughness. God is calling people out of such darkness to be “the light of the world”—to set the right example for others. That’s a tall order. But God is ever ready to help us. Pray earnestly for His help and read His words to transform our way of thinking. Remember that an important part of being that shining light is having godly gentleness. And someday the whole world will be a peaceful and happy place. A lovely place, like He always wants it to be.

Here, I put a very good quote from Sir Max Lucado about gentleness:

“I choose gentleness… Nothing is won by force. I choose to be gentle. If I raise my voice may it be only in praise. If I clench my fist, may it be only in prayer. If I make a demand, may it be only of myself.”

A good thing to learn for a better me and you, for a better world. Let your gentleness be shown to all, be an evident to all, that you’re God’s beloved child; that shining light the world needs.