30-Day Social Media Detox

30-day-social-media-detox

Saya selalu membayangkan bagaimana hidup saya tanpa sosial media (baca: Twitter, Facebook, Instagram, Path, Snapchat). Saya selalu penasaran, apa yang akan terjadi di dalam diri saya (terutama) tanpa penggunaan sosial media tersebut. Percaya tidak percaya, sekalipun saya terbilang cukup aktif di sosial media, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati saya, saya lebih suka tidak menggunakan sosial media. Saya juga belum tahu pasti alasannya. Mungkin alasan terbesar saya adalah karena saya termasuk tipikal orang yang introvert. Alasan berikutnya mungkin karena saya tidak suka ‘dibaca’ oleh siapa pun. Cukup aneh, ya? Ya, saya rasa juga begitu. Maka dari itu, jika saya membagikan apa pun (dan dalam bentuk apa pun) ke sosial media, sebisa mungkin saya mengusahakan bahwa itu bukan tentang saya, atau yang bukan terutama tentang saya, melainkan apa yang saya pelajari, apa yang dilakukan orang kepada saya, apa yang Tuhan lakukan terhadap saya, untuk apa saya melakukan sesuatu, dan sebagainya; hal-hal yang saya pikir dapat memberi perspektif baru yang menginspirasi orang-orang. Sekalipun mau tidak mau, akan ada irisan-irisan ‘tentang saya’ di dalamnya. Seperti tulisan ini, hahaha.

Saya juga tidak terlalu suka berinteraksi di sosial media. Kalau ada di antara kalian yang pernah memerhatikan, kalian akan menemukan fakta bahwa saya jarang like post Instagram following saya, saya juga jarang view Instagram Story following saya, atau left sticker di update-an Path teman-teman saya–saya bahkan jarang menambah teman terlebih dahulu di sosial media apa pun yang saya punya. I prefer doing that after I feel I really close with someone, in real life. Saya tidak sedang ingin menganalisis apakah yang saya lakukan ini benar/salah, baik/tidak, ini hanyalah sebuah kenyataan tentang saya. Saya sering dibilang sombong karena kenyataan ini. -_-

Setelah beberapa hari berpikir, saya ingin mencoba tantangan ini–yang saya dapat ketika iseng-iseng googling dengan keyword “30 days without social media”–dan bertemu dengan sharing dari orang-orang yang pernah melakukan tantangan ini di “https://jasondoesstuff.com/social-media-detox/“, https://stevecorona.com/how-30-days-without-social-media-changed-my-life, dan https://www.elephantjournal.com/2015/08/i-quit-social-media-for-30-days-this-happened/. Saya tertarik dan memutuskan untuk melakukannya juga.

Saya berharap saya dapat belajar banyak hal dari detox ini. Satu hal yang menarik, saya akan mengganti waktu-waktu yang biasa saya lakukan untuk menggunakan sosial media dengan hal lain seperti membaca buku, melakukan pendalaman Alkitab, menelepon orang-orang terkasih, menikmati detik demi detik yang biasanya saya gunakan untuk scrolling down feeds sosial media saya dengan berdiam di hadapan Tuhan. Menikmati sesuatu dalam diam, kapan terakhir kali melakukan ini, ya?

Berdasarkan pengalaman saya dulu (saya pernah tidak menggunakan Path dan Twitter selama hampir setahun karena saya menghapus akun saya dan saya pernah tidak menggunakan Instagram selama sekitar 2 minggu dan sebulan), hal positif yang saya dapatkan adalah saya merasakan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata, hahaha. Terlebih karena, di masa-masa itu saya jadi lebih banyak membaca buku rohani, buku-buku lain kesukaan saya, serta artikel-artikel menarik lainnya, saya juga banyak melakukan pendalaman Alkitab, dan satu lagi, karena ketika itu saya juga sedang menghapus semua lagu di ponsel saya (ya, bahkan sampai sekarang saya hidup tanpa lagu apa pun di ponsel saya) dan saya mulai mencari lagu-lagu rohani baru, saya merasa ‘dipulihkan’ lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan atas suatu kondisi yang cukup menguras emosi pada masa itu. Memang saya juga kehilangan update tentang kehidupan teman-teman saya, tapi ya sudahlah. Saat itu saya memang memilih demikian.

Maka dari itu, ketika saya sedang dalam kondisi emosi yang saya rasa ‘cukup baik’ seperti saat ini, saya penasaran apa yang dapat dilakukan tantangan ini terhadap diri saya. Ah ya, saya juga sedang akan mengerjakan beberapa hal yang saya taruh sebagai prioritas saya selama sebulan ke depan, sehingga saya harap detox ini membantu saya untuk fokus pada apa yang harus saya kerjakan–dan tentunya bisa mendengar suara Tuhan dengan jelas tanpa gaungan notifikasi apa pun dari akun sosial media saya–karena waktu untuk berdiam di hadapan Tuhan yang saya nikmati di depan akan bertambah.

Semoga Tuhan beserta saya! ūüôā

I Am So Not Into Valentine’s Day

Pada dasarnya saya tidak terbiasa dengan perayaan jenis apa pun dan atas dasar apa pun. Saya tidak pernah merayakan ulang tahun saya (di keluarga) dengan definisi perayaan yang coba saya pikirkan telah menjadi kebiasaan di dunia ini. Hal yang paling mungkin saya lakukan bersama keluarga adalah makan bersama di rumah, dengan seluruh masakan yang dibuat oleh ibu saya, dan tentunya ada ikan mas arsik di sana. Cara saya merayakan ulang tahun saya berbeda dengan beberapa orang di sekitar saya. Saya bahkan tidak mengundang siapa pun.

Selain tidak pernah ‘merayakan’ ulang tahun di keluarga saya, saya juga tidak pernah mendapat hadiah ulang tahun dari keluarga saya. Terkait hadiah, saya juga tidak pernah mendapat apa-apa jika saya menjadi juara 1 di sekolah, atau ketika saya mendapatkan beasiswa sejak TK sampai SMP dan berkesempatan menjadi peserta olimpiade fisika di masa itu, atau ketika saya menjadi perwakilan sekolah memenangkan lomba matematika di kota saya, atau ketika saya masuk sekolah swasta terbaik di kota, serta berhasil masuk ke kelas unggulan di sana, atau berbagai prestasi baik lainnya–bahkan ketika saya masuk kampus yang bagus di negeri ini. Bagi saya, hal-hal tersebut adalah pencapaian-pencapaian yang bisa diapresiasi dengan ‘hadiah’ di masa itu, tetapi faktanya, saya tidak pernah mendapatkan apa-apa.

Kebiasaan tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang tidak menganggap satu hari lebih spesial dari hari yang lain, atau pencapaian yang satu menjadi lebih tinggi daripada pencapaian yang lain. Saya menyadari, sekalipun di masa itu saya sedih karena tidak mendapatkan apresiasi seperti teman-teman saya yang bisa dibelikan sepeda ketika dia naik kelas, I just keep going with my life. Saya menjadi orang yang bisa tetap berjuang meski tidak akan “diapresiasi” oleh orang lain. 

Salah satu perwujudan sikap saya terhadap perayaan terlihat ketika Valentine’s Day kemarin. Orang-orang mungkin akan berdebat tentang boleh/tidaknya merayakan Valentine, atau bagaimana seharusnya kita merayakan Valentine jika kita boleh merayakannya, atau mungkin memperdebatkan sejarah Valentine’s Day mana yang benar, yang sebenar-benarnya. I leave all the answers to them, karena sungguh, I don’t really care about it. 

Saya tidak merasakan apa-apa di hari Valentine kemarin; saya tidak merasa harus berbuat apa-apa di hari Valentine kemarin dan saya tidak sadar bahwa ternyata hari itu telah berlalu. Saya juga tidak sedang ingin menekankan bahwa setiap hari adalah Valentine, atau Valentine terbesar adalah ketika Tuhan rela menjadi kutuk demi menebus dosa-dosa umat-Nya. Saya tidak suka mensubstitusi satu budaya dengan makna lain. You got what I mean?

Tetapi saya tenang, karena dulu di setiap malam saya mendengar ibu saya berdoa kepada Tuhan untuk saya dan keluarga saya dengan begitu seriusnya, sampai dia menangis tersedu-sedu. Saya juga tenang karena ibu saya peka dengan memasak makanan kesukaan saya setiap kali saya pulang ke rumah. Saya juga tenang ketika ayah saya percaya kepada saya atas keputusan-keputusan penting yang saya ambil di dalam hidup saya. Saya juga dibentuk menjadi pribadi yang mensyukuri setiap hari dan setiap pencapaian, sebesar/sekecil apa pun dia menurut ukuran dunia ini. Saya juga tenang karena saya merasa tenang dengan keadaan yang seperti ini. 

Saya akui, hal-hal seperti ini yang sekarang membuat saya mudah belajar bersyukur di kondisi apa pun, sparkling or not, membuat saya selalu merasakan kasih sayang (khususnya) orang tua saya setiap harinya, serta membuat saya terbiasa dengan hal-hal sederhana yang tidak se-pinky Valentine’s Day.

I’m so not into Valentine’s day, karena pemaknaan saya pribadi terhadap hari ini tidak berbeda dengan hari-hari lain, dan ya, setiap orang berbeda-beda. Saya tidak sedang memusingkan hal lain selain, “what makes you feel the opposite with me, if that’s the case?” Karena setelah tahu jawabannyalah baru kita bisa memperdebatkan Valentine’s Day lebih jauh dan lebih dalam lagi.

But, don’t get it wrong. I am not an anti towards celebrations or gifts or something, because I personally really love to organize a celebration for my dearest people’s birthdays and I love to appreciate them with gifts, too! 

Persembahan Seorang Janda: Kemurahan Hati yang Melampaui Perpuluhan

poor-widow
Source: Pinterest

Saya hampir lupa kapan terakhir kali sharing hasil Pendalaman Alkitab tentang Tokoh Perempuan dalam Perjanjian Baru yang masih tersisa 7 bab lagi ini. Saya tidak tahu apakah saya harus minta maaf karena penundaan ini (seperti yang biasa dilakukan oleh beauty vlogger favorit saya kepada followers atau subscribers-nya) atau berhenti sok-sok terkenal dan langsung saja memulai sharing-nya.

Kalau begitu, saya meminta maaf sama diri sendiri saja karena sudah menunda-nunda pekerjaan baik ini.

Maafin ya, Beth.

Oke, Beth!


Baca Markus 12:38-44.

Cerita tentang Persembahan Janda Miskin adalah salah satu kisah yang sangat terkenal dalam kehidupan kekristenan umat manusia. Saya mendengarnya untuk pertama kali ketika saya masih sangat cilik dan belum gendut, tepatnya ketika saya berusia sekitar 7 tahun. Waktu itu saya merasa kagum ketika Tuhan Yesus memuji sikap si janda miskin dalam memberikan persembahannya–yang sempat membuat saya juga merasa bangga hanya dengan memberi 2 keping uang logam 100 rupiah (ceritanya saya sotoy itu sama dengan 2 peser di kisah Alkitab ini, huft) sewaktu sekolah minggu pada saat itu. Namanya juga anak kecil.

Malam ini saya mau¬†share¬†prinsip apa yang sebenarnya terdapat pada sikap janda miskin tersebut. Sebelum itu, bagi kalian semua yang lagi main ke blog ini, silakan ambil posisi paling enak, ambil cemilannya, ambil Alkitabnya, kemudian ambil buluh sebatang… potong sama panjang, raut dan ikat dengan benang, eh kok kita jadi main layang-layang ya…?

#maaf


Coba ingat dan renungkan kembali suatu waktu ketika seseorang yang kelihatannya lebih membutuhkan daripada kita (secara emosi, kerohanian, fisik, atau bahkan keuangan), tetapi sangat bermurah hati kepada kita! 


Pendalaman Alkitab ini dimulai dengan nasihat Yesus untuk berhati-hati terhadap para ahli Taurat. Ahli Taurat yang bagaimana? Mereka adalah para ahli Taurat yang:

  • suka berjalan-jalan memakai jubah panjang (ih kebayang deh, ini pasti jalannya sambil ngeletakin kedua tangan di belakang badan, lalu langkahnya pelan-pelan biar berwibawa gitu, terus tatapannya angkuh berasa abis juara olimpiade);
  • suka menerima penghormatan di pasar (lah yang begini pasti yang nunggu-nunggu disapa gitu deh, ngga mau nyapa duluan, pura-pura main hape);
  • suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan (bangku yang berada di depan tabut yang berisi gulungan, dan ((karena bangkunya menghadap ke orang-orang)) merupakan lokasi yang sangat diinginkan kalau memang mau dilihat orang);
  • menelan rumah janda-janda¬†(maksudnya menggasak/mengganyang¬†rumah janda-janda. Bagian ini mau ngejelasin bahwa selain sikap angkuh dan pamer di atas, ternyata moralitas mereka juga rusak);
  • mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang¬†(salah satu penafsir berkata bahwa mereka pura-pura doa panjang-panjang supaya dikira sangat mengasihi Allah, padahal mereka kayak gitu supaya jemaat menyukai mereka).

Di bagian ini Tuhan Yesus mau mengingatkan bahwa para ahli Taurat tersebut tidak sedang memberikan teladan yang baik. Bukannya bertindak layaknya pelayan, mereka malah bertingkah seolah tuan. Motivasi mereka adalah kemuliaan diri mereka sendiri.

Membaca bagian ini membuat saya teringat akan bagian firman Tuhan yang lain dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi tentang nasihat untuk bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus:

“dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”

Filipi 2:3

Dengan melihat apa yang Yesus cela, kita dapat melihat nilai-nilai yang Yesus pegang. Dia berkata, mereka yang mencari status dan perhatian orang lain, melahap rumah janda-janda, dan berdoa hanya untuk pamer kerohanian, akan menerima hukuman yang lebih berat. Mereka menyukai kekuasaan, sementara Yesus menyalahkan sifat cinta kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan. Dia juga menyalahkan perbuatan pamer kesalehan mereka padahal dalam kenyataannya mereka menganiaya janda-janda. Kasihan banget ngga sih, para janda ini? Nggak heran kalau di dalam Alkitab, Tuhan sangat concern dengan nasib janda-janda; ternyata ada pihak-pihak yang memang memperlakukan mereka dengan tidak baik seperti para ahli Taurat ini.

Firman ini masih sangat relevan bagi dunia saat ini. Tidak terhitung sudah berapa kali kita sebenarnya sedang ‘berjalan-jalan memakai jubah panjang’ ala kita. Jubah panjang yang bisa berupa ambisi tidak sehat, perasaan benci tanpa alasan atas suatu hal, atau segala bentuk eksklusivisme yang kita bangun. Tidak terhitung sudah berapa kali kita mencari puji-pujian dari sesama kita dan merasa sangat ingin dihargai serta dipandang di masyarakat. Sadar atau tidak, jangan-jangan kita adalah ahli Taurat masa kini dengan beberapa penyesuaian terhadap budaya zaman saja. Ahli-ahli Taurat yang suka main Instagram dan Path, if you get what I mean.¬†Untuk itu kita perlu memohon kepada Allah agar selalu sadar dan memercayai Dia untuk mengevaluasi motivasi kita yang salah.¬†Rasa bertanggung jawab dan berdoa dengan orang lain dalam komunitas Kristen juga akan sangat menolong.¬†Keterbukaan dan merasa hidup ini rapuh sama pentingnya dengan keinginan agar hidup kita termotivasi oleh nilai-nilai kekal Kerajaan Surga.

Terkait pesta demokrasi Jakarta yang sebentar lagi akan diadakan, saya rasa kita juga perlu mendoakan hal yang sama bagi calon gubernur yang akan memimpin ibukota negara ini ke depan. Kita perlu membangun¬†awareness¬†bahwa pilihan adalah bentuk keputusan yang diambil dalam kesadaran penuh–and that’s required¬†pengenalan yang baik akan siapa yang kita pilih. Kita tentu tidak mau dipimpin oleh orang-orang yang cinta kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan, karena¬†bukan masyarakat Jakarta yang akan dilayani, melainkan diri mereka sendiri.¬†Kita juga perlu berdoa agar Tuhan menyatakan otoritas dan cinta-Nya untuk Jakarta dengan memberikan Jakarta pemimpin yang¬†melayani rakyat dengan cara yang benar.

Selanjutnya¬†kita membaca cerita tentang Yesus yang duduk di depan peti persembahan dan memerhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu; banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Di sinilah Yesus juga melihat janda miskin yang memasukkan 2 peser. Perempuan ini bukan hanya seorang janda,¬†namun ia juga¬†miskin.¬†Mungkin itu terlihat jelas dari pakaiannya yang berbeda dengan orang-orang lain pada waktu itu–apalagi dari orang-orang kaya yang memberi banyak itu.

Berbeda dengan kita yang kalau kepo ngga tau mau diapakan hasil keponya, Yesus langsung memanggil murid-murid-Nya dan memberikan suatu pengajaran kepada mereka.

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.¬†Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Markus 12:43-44

Kisah ahli-ahli Taurat di atas dan janda yang miskin ini memiliki kesamaan. Dalam kisah yang pertama, kita melihat bagaimana para pemimpin yang seharusnya memberi perhatian bagi kebutuhan orang banyak dan memberikan diri untuk memenuhinya, malahan mengambil dari orang miskin untuk kekayaan pribadi dan lebih terobsesi dengan kekayaan, kekuasaan, dan jabatan daripada melayani. Dalam kisah janda ini, kita melihat bahwa perkara memberi berkaitan dengan kepemilikan harta pribadi. Kedua cerita ini berkaitan dengan memberi dan motivasi dalam memberi. Keduanya juga berkaitan dengan hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah, atau sebaliknya, menolak nilai-nilai tersebut. 

Salah satu artikel di desiringgod.com mengatakan:

One way to paraphrase this story would be to say, “The rich took no risk with their money for the cause of God, but the widow did.”

Now why did Jesus point this out? And why did Luke think the story important enough to record it for us? I think the reason is simple: Jesus wants his people to take risks with their money for the cause of God.

When we give our offerings, does it feel risky? 

Mungkin akan ada saat di mana memberi tidak membuat kita merasa ‘kesusahan’, tapi ada juga saat di mana ketika memberi rasanya sulit karena kita pun¬†tidak punya banyak. Saya yakin saat ini Tuhan Yesus sedang mengajarkan sikap hati yang¬†berani¬†memberi dari keterbatasan kita–selama itu adalah apa yang kita miliki, tentunya.

Aplikasinya tidak hanya berkaitan dengan uang, uang, dan uang. Waktu juga bisa, misalnya.

Tahun 2016 adalah tahun di mana Tuhan menganugerahkan saya beberapa pelayanan yang membuat hampir semua¬†weekends¬†saya diisi dengan kegiatan pelayanan tersebut. Saya sangat bersyukur karena memang itulah yang saya doakan pada tahun 2015 ketika saya berada di penghujung tahun. Jujur saja, saya mengalami kelelahan dan ada beberapa hal yang belum bisa saya lakukan karena komitmen pelayanan tersebut. Itu sempat membuat saya berpikir apakah tahun ini saya masih akan mengambil kesempatan pelayanan demi pelayanan yang Tuhan sudah siapkan bagi saya atau tidak. Saya mempertimbangkan beberapa hal yang¬†mostly¬†berkaitan dengan karir dan cita-cita saya…

…sampai kemudian firman ini menampar saya–seolah sedang berkata bahwa saya sudah terlalu GR bahwa Tuhan masih akan mempercayakan pelayanan-Nya bagi saya, itu yang pertama–sehingga saya sok-sok-an langsung curi¬†start¬†untuk berpikir akankah saya mengambil kesempatan itu/tidak. Kedua, firman ini mengajarkan saya untuk memberi waktu saya bagi Tuhan, sekalipun rasanya itu beresiko bahwa saya akan kelelahan lagi dan sulit membagi waktu untuk mengejar cita-cita saya, dan bahkan keluarga saya. Tetapi harusnya saya melihatnya dari perspektif lain. Melayani adalah panggilan hidup setiap orang Kristen–dan melayani dalam pelayanan kristiani adalah panggilan dan janji saya kepada Tuhan jika Dia memberi saya kesempatan untuk berkuliah di UI. Saya tidak berniat untuk meninggalkan apa yang sudah menjadi bagian dari jiwa saya ini. Lalu apa? Hal yang saya harus pelajari adalah bagaimana menjadi perempuan yang berhikmat dalam hidup–khususnya dalam hal¬†time and energy management.¬†

Saya percaya Tuhan tidak meminta apa yang tidak kita punya–kalau Dia meminta, dan itu yang kita imani, kita mesti percaya juga bahwa pasti ada sesuatu yang kita miliki untuk kita berikan. Maka dari itu, hal memberi dengan motivasi yang benar ini tidak pernah terlepas dari hal mengetahui kehendak Allah. Janda miskin tersebut tahu bahwa Allah mengkehendaki persembahan yang demikian–yang berangkat dari hati yang tulus dan keberserahan penuh kepada Allah (doi pasti yakin Allah akan mencukupkan dia, karena kalau ngga, pasti dia ngga akan mau ngasih dari kekurangannya), maka dia memberi. Dia tahu bahwa Allah yang memeliharanya adalah Pribadi yang murah hati, maka dia pun meneladani-Nya dengan juga bermurah hati. Sedangkan si ahli-ahli Taurat, memiliki banyak–setidaknya lebih banyak dari janda miskin ini, namun masih saja melahap bagian orang lain.


See? 

Giving is not just a state of mind–it’s an action.¬†

And to remind us, it’s more blessed to give than to receive. (Acts 20:35).

Selamat memberi dengan murah hati!

Rewind 2016

Tulisan ini dibuat demi menjadi pengingat betapa besarnya penyertaan Tuhan di dalam hidup seorang Elisabeth–yang diwujudkan-Nya dalam berbagai bentuk, baik suka maupun duka. Tulisan ini akan menjadi tulisan yang (cukup) singkat, padat, jelas, dan jujur.

Januari

Saya memulai tahun 2016 dengan suatu perasaan takut; takut karena saya baru sekali di dunia alumni yang kata orang keras. Rengginang keleus, keras.¬†Bulan ini adalah bulan ke-2 saya¬†bekerja¬†and yeah I was still that kind of cheerful newbie in my office.¬†Saya¬†juga sedang mempersiapkan Retreat Koordinator XV bersama teman-teman panitia kesayangan yang juga adalah¬†para fresh-graduated. Ini juga adalah bulan di mana frekuensi pertanyaan “udah punya pacar belum?” mengalahkan pertanyaan “di mana kerjanya sekarang?” atau “gimana kerjaannya?”, yang selalu saya jawab dengan “masih kesasar kayaknya, hehehe” diiringi cengiran sok bahagia a la Elisabeth.

Februari

Semakin sering ditanya “kapan punya pacar?” membuat saya semakin termotivasi untuk mendoakan hal tersebut. “Tuhan, tahun ini punya pacarlah ya, yang terbaik dari Tuhan dan bisa main gitar”. Banyak yang mungkin nggak tau kenapa ‘bisa main gitar’ jadi salah satu permintaan. Mau tau ngga alasannya? Ah sudahlah, biarlah menjadi rahasia di antara langit dan saya #elah. Sebenarnya di bulan ini saya memulai proyek ketaatan “Konsistensi Doa yang Penuh Iman” khusus mendoakan pacar. He he he. Apalagi ceng-cengan punya pacar semakin membabi-buta di perhelatan Retreat Koordinator yang membuat saya semakin sering nyengir “masih kesasar kayaknya, hehehe”. Mendoakan hal perpacaran ini menjadi semakin sensitif dari biasanya buat saya, karena saya¬†pernah mendoakan hal semacam ini beserta objeknya selama¬†2 tahun, yang dijawab-Nya dengan tidak. Akibatnya dibutuhkan iman dan semangat tingkat tinggi untuk mulai mendoakan lagi dengan serius dan konsisten.

Penyertaan Tuhan nyata sekali ketika RK XV selesai diadakan. Saya pribadi bersyukur ada di acara ini, menjadi yang mempersiapkan, terlebih lagi. Banyak berkat rohani dari Surga turun atas saya selama mempersiapkan dan mengikuti retreat ini. Pelayanan ini pun menjadi bukti bahwa bekerja di law firm tidak serta-merta membuat saya tidak bisa melayani di pelayanan mahasiswa. Ini menjadi cara Tuhan mengingatkan saya bahwa saya masih bisa memberikan diri saya untuk menjadi alat-Nya, dalam berbagai keterbatasan saya.

Maret

Saya mengalami perang dingin dengan salah satu rekan saya di kantor. Jika dia membaca ini (karena dia pernah bilang dia suka membaca blog saya) (yang saya yakini agak tipu-tipu wakaka), saya ingin mengingat momen ini sebagai momen terkonyol di 2016 yang nggak mau saya alami lagi di tahun yang baru. Perang dingin ini adalah bukti bahwa saya juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati~ Iya, saya gagal menjadi pembawa damai sebagai komitmen setelah menghadiri salah satu ibadah Natal di tahun 2015.

Saya diangkat menjadi¬†junior associate¬†di kantor dan mengalami kenaikan gaji. Puji Tuhan ūüôā

Maret adalah salah satu bulan paling berkesan di tahun ini. Saya sudah mencatatnya dengan sangat detil di bit.ly/ceritaelisabeth. Ini adalah bulan yang membuat saya tidak berhenti terharu bahagia karena Tuhan menjawab doa dengan begitu detil dan indah.

April

Proyek pertama saya sebagai kapten pun dimulai. Saya juga sudah mencatat rangkumannya di sini. Saya juga memulai pelayanan di HUT salah satu lembaga pelayanan di Jakarta. Peran saya adalah ketua panitia–peran yang sering saya hindari dari dulu karena saya selalu pesimis dengan kapasitas kepemimpinan saya. Tetapi rupanya Tuhan ingin saya keluar dari zona nyaman saya untuk yang ke-sekian kali dan ini membuat saya sangat gentar dalam memulai perjalanan pelayanan ini.

Waktu itu di tanggal 22, seseorang yang pernah saya doakan sejak 22 April 2015 mampir ke rumah saya. Saya tanya, “ngapain ke sini?” Dia cuma ngejawab, “kan mau ngerayain ulang tahun doamu.”

Saya mau pingsan dan mimisan seketika. Aduh ini momen bikin berasa kayak lagi syuting FTV deh.

Mei

Saya terserang batuk setelah saya dibersinin muka-ke-muka oleh seorang ibu di KRL. Saya sedih sama orang-orang kayak gini; kenapa nggak mikirin orang lain sih… mbok ya pakai masker gitu, atau tutup mulutlah. Ini… emang dia pikir muka saya tempat penampungan bersin apa?

Sedihnya, pas banget saya juga lagi nggak pakai masker ūüė¶ Padahal saya biasanya pakai masker ūüė¶ Itu beneran deh,¬†literally¬†besoknya saya langsung sakit ūüė¶

Bulan ini juga menjadi bulan yang manis karena bulan ini saya tidak perlu lagi nyengir “masih kesasar” sama orang-orang. Ehehe, tahulah ya apa.

Juni

Kehidupan di kantor menjadi agak berat karena beberapa hal. Peran sebagai kapten mulai membuat saya capek. Beberapa kali saya tidak tidur karena melanjutkan pekerjaan yang saya bawa dari kantor ke rumah, agar saya tidak perlu lembur di kantor. Buat apa lembur? Toh nggak ada uang lembur? Rumah jauh, pulangnya ribet, sendirian pula, ngapain lembur? Loh kok saya jadi marah? Oke, kalem.

Pokoknya ini bulan yang keras sis.

Pelayanan saya sebagai ketua panitia tadi pun mencapai puncaknya di bulan ini. Ah ya, saya belum pernah curhat tentang betapa mengujinya pelayanan ini ketika beberapa hal membuat saya begitu sedih dan kecewa di dalamnya, entah karena diri saya sendiri, maupun orang lain. Tapi sudahlah, di penghujung bulan ini saya benar-benar cuma bisa merendahkan diri dan memohon pengampunan Tuhan atas kesalahan dan ketidaksetiaan saya yang mungkin Ia dapati selama saya mempersiapkan pelayanan ini.

Juli

Ibadah ulang tahun lembaga pelayanan tadi berlangsung dengan baik, menurut saya :’) Saya terharu bagaimana Tuhan patahkan segala ketakutan saya dan mengubahnya menjadi sorak dan puji yang kembali saya naikkan bagi-Nya. Kalau boleh jujur, ibadah ini adalah ibadah yang puji-pujiannya paling melekat di hati saya dengan segala aransemennya yang rapih dan menarik. Ibadah ini membuat saya nggak ingin berhenti bernyanyi, saking hidupnya puji-pujian itu di dalam jiwa saya. Saya juga bersyukur atas firman yang diberitakan di ibadah ini–meskipun bagi beberapa orang ada evaluasi di sana-sini, tapi puji Tuhan, ada suara Tuhan yang saya tangkap dari firman yang disampaikan.

Driven by Vision, aku merasa sangat disertai Tuhan di sana.

Saya juga bersyukur atas penyertaan Tuhan ketika memakai saya sebagai pemimpin pujian di Konferensi Pengutusan Mahasiswa. Saya merasakan berkat yang banyak karena saya belum pernah hadir di konferensi sejenis yang sebelum-sebelumnya pernah diadakan. Saya ditegur dan dinasihati akan banyak hal, seperti saya sedang menjadi mahasiswa kembali melalui pelayanan saya kali ini.

Agustus

Ulang tahun ke-23 adalah ulang tahun yang sangat berkesan bagi saya. Saya terharu melihat beberapa teman saya meluangkan waktunya untuk bikin kejutan ini-itu untuk saya. Mereka baik sekali. Saya sangat bersyukur memiliki mereka. Ah ya, saya adalah tipikal orang yang akan selalu mengusahakan¬†bond¬†di antara saya dan teman-teman saya; saya sering menjadi inisiator pertemuan-pertemuan dengan teman-teman saya. Namun beberapa waktu ke belakang saya sudah jarang melakukan hal semacam itu–bahkan saya tidak lagi intens menjaga komunikasi saya dengan mereka. Tetapi mereka mau menunjukkan kasih dan kepedulian mereka bagi saya, huhuhu. Manis sekali.

September

Proyek kantor sebagai kapten pun menemui ujungnya. Akhirnya dia terselesaikan juga setelah melalui lika-liku perjuangan yang sebenarnya sampai saat ini masih membuat saya bertanya-tanya. Saya lega, karena kemuakan dan kelelahan saya paid off.¬†Walaupun klien yang bersangkutan tidak mengajak saya¬†gala dinner¬†tapi ya sudahlah :’) yang penting kalian bahagia. :’) Aku senang kalau kalian senang. #apansi

Saya diminta¬†menjadi pemimpin pujian di Natal salah satu lembaga pelayanan di Jakarta. Saya bersyukur sekali karena saya sudah mendoakannya sejak bulan Juli :’) Lagi-lagi Tuhan menjawab doa saya hehehe.

Oktober

Tugas di kantor sedang tidak begitu banyak. Kalau pun ada sifatnya lebih ke perbantuan, hahaha. Ini selalu membuat saya ‘ogah-ogahan’ mengerjakannya. Tidak boleh ditiru. Ternyata setelah cukup termotivasi selama hampir setahun, saya tiba juga di titik ‘jenuh’. Saya menghargai fase ini sebagai bagian dari proses yang harus saya lewati dan pelajari. Saya banyak mengevaluasi kehidupan pasca alumni ini dan beberapa kali tercetuslah rencana ini dan itu yang saya akan doakan di tahun 2017 untuk tidak menjadi wacana.

November

Masih bulan November namun aroma pulang kampung sudah mencuat ke permukaan.

Bulan ini adalah bulan di mana pergumulan hati cukup banyak–khususnya dalam pelayanan saya sebagai pemimpin pujian di Natal nanti. Sejujurnya, saya takut sekali. Tuhanlah yang tau betapa bergumulnya pagi dan malam saya dalam mempersiapkan pelayanan ini. Kalau boleh jujur, baru kali ini saya susah ngejayus di antara orang-orang baru (hehehe). Hm poinnya, baru kali inilah saya merasa susah dapat¬†chemistry¬†di antara rekan sepelayanan. Saya bingung apa yang sedang diajarkan Tuhan sama saya pada waktu itu. Satu hal yang saya imani, kesatuan itu adalah anugerah Tuhan, dan itu sudah ada di antara kami.¬†Chemistry,¬†apa itu¬†chemistry?

Di bulan ini saya juga mengalami salah-paham di keluarga saya, hehehe. Saya sempat nangis sejadi-jadinya sampai saya malah terserang flu karena nangis di Trans-Jakarta. Ada hubungannya nggak? Nggak sih. Sebenarnya inilah yang membuat munculnya tulisan saya mengenai Pilek, Air mata, dan Iman kemarin.

Desember

Pelayanan menjadi pemimpin pujian pun selesai dan saya bersyukur bisa melewatinya karena Tuhan menyertai saya dan teman-teman pelayanan lain dengan…pas aja gitu. Memang saya tetap nggak bisa ngejayus seperti biasa dengan mereka, tetapi kesatuan yang Tuhan anugerahkan dan bagaimana Dia memakai kami untuk saling melengkapi dalam melayani-Nya jelaslah lebih indah dari¬†chemistry¬†apa pun. Kalau boleh jujur, saya ingin mengulang waktu dan berbalik dari keluhan-keluhan saya menuju sukacita demi sukacita.

Pulang kampung setelah 1,5 tahun mengajarkan saya bahwa rumah tetaplah tempat yang istimewa, keluarga adalah yang tidak akan pergi, dan Medan masih penuh dengan makanan enak.


Itulah beberapa peristiwa besar yang saya ingat selama 2016 ini dan saya tahu, beriringan dengan itu semua ada banyak momen kecil yang tetap tidak kalah berartinya karena saya tahu di sana pun Tuhan ada dan menyertai.

Saya bersyukur melewati tahun 2016 ini dengan berbagai ceritanya bersama Tuhan yang membuat saya mengimani bahwa Dia tetap akan menyertai tahun 2017 saya.

Ketika 2015 membuat saya harus menulis ini¬†sebagai bentuk pengakuan diri bahwa saya lemah dan butuh dikuatkan Tuhan–dan Dia membuktikannya, saya pun tetap mengakui hal yang sama di akhir tahun ini, dan berdoa semoga Tuhan selalu menguatkan saya di tahun mendatang.

Amin.

Selamat menyambut tahun 2017!

Gemerlap Natal di Sedihnya Dunia

Aku memulai Desember tahun ini dengan melakukan daily challenge bertagar #capturingdecemberchallenge di Instagram. Aku punya panduannya dari akun Instagram salah satu temanku.

Jujur, sampai hari ke-29 ini, kebanyakan postingan tersebut merepresentasikan Desember yang penuh dengan ornamen dan tradisi Natal. Indah-indah sekali dipandang mata manusia. Kelap-kelip cahaya pohon natal memenuhi feed Instagramku. Pokoknya begitulah.

Beberapa hari menjelang tanggal 25 pun aku sudah menemukan berbagai foto perayaan Natal orang-orang yang dilakukan di hotel-hotel berbintang kejora, restoran-restoran mahal, dengan¬†dress code¬†dan bando-bando rusa. Aku pun termasuk yang melakukan¬†foto-foto berbando rusa tersebut bersama AKK-ku, meski memang kemarin tujuannya bukan ‘merayakan Natal’.

Jujur, beberapa selebrasi Natal yang kuikuti lebih membuatku merenung daripada bersorak.

Tuker kado, is it wrong? Enggak juga. Tetapi apakah sudah memberikan ‘kado’ kepada bayi kudus yang lahir itu? Jika tuker kado adalah respon orang-orang yang telah menyadari ‘kado’ yang Tuhan kasih buat mereka, sehingga mereka rindu membagikan ‘kado’ juga buat sesama, aku lebih setuju itu.

Makan-makan besar, di hotel berbintang kejora (hehe) atau restoran-restoran heboh yang mengakomodir kepentingan #makancantik kita, bagaimana? Perenungannya, apakah setiap harinya sudah datang ke roti hidup itu dan sungguh-sungguh percaya kepada-Nya?

Bagiku secara pribadi dan sebutlah aku ‘kuno’, kalau benar-benar menghayati makna Natal yang sesungguhnya, kita nggak akan merayakannya dengan hedonisme dan narsisme (atau isme-isme lain yang tidak sejalan dengan makna Natal tersebut). Ya kalaupun tetap ada perwujudannya, semoga itu berdasar pada suatu pertimbangan teknis dan logis sehingga isme-isme tersebut tidak sedang menjadi paham yang mendasari perayaan kita.¬†Pertimbangan esensinya tetap terpaut pada ‘bagaimana kita bisa menghayati kelahiran Yesus dengan baik dan memiliki iman serta komitmen nyata atasnya’.

Semacam itulah, ribet juga ngejelasinnya. (Butuh kebijaksanaan tingkat tinggi untuk hal-hal praktis kayak gini).

Intinya, dunia ini sangat gemerlap dengan perayaannya; aku pun tetap mensyukuri itu, karena setidaknya, di dalam keterbatasan kita, ada suatu kesadaran tentang bayi yang lahir ke dunia tersebut. Itu bisa jadi titik awal menuju pembaharuan/kedalaman makna selanjutnya.

Kupikir semuanya baik-baik saja sampai aku mendengar berita pembunuhan di Pulomas dan cerita hari ini, tentang teman lamaku yang mengucapkan selamat Natal namun tidak ber-Natal di hatinya.

Sebenarnya tidak pernah baik-baik saja, sih. Aku ingat peristiwa dugaan penistaan agama sampai saling menista sesama yang dilakukan penduduk dunia ini. (Aku heran, agama itu sesuatu yang ‘abstrak’ kan, tetapi kenapa dia seolah-olah lebih ‘dihargai’ daripada manusia-manusia pemeluknya yang jelas-jelas ‘nyata’ di depan mata seperti ini?)

Listrik dan lampu sudah ditemukan, tetapi kita masih saja tidak melihat. Hehe.

Benarlah bahwa diperlukan mata iman untuk bisa benar-benar melihat. Tidak kabur, tidak pilih kasih, tidak salah.

Dunia ini sedang sangat-sangat bersedih, aku bisa merasakan itu. Kekacauan di berbagai belahan bumi, luka di segala penjuru hati, tangis di negeri, dan ketiadaan kasih kian merajai.

Apakah kita yang merayakannya dengan gemerlap ini mampu melihat dan memberi hati untuk itu? 

Tidak mudah memadukan ‘sukacita’ dan ‘pengendalian diri’ di saat bersamaan, padahal keduanya adalah buah Roh. Maksudnya, tidak mudah untuk merayakan sukacita Natal ini dengan pengendalian diri yang tepat terhadap bagaimana cara merayakannya.

Selama segala sesuatunya dilakukan seperti untuk Tuhan, aku yakin…

Nggak akan berfokus pada baju dan sepatu baru,

Nggak akan berfokus pada make-up christmas tutorial terbaru,

Nggak akan berfokus pada mesti makan di mana,

Karena Tuhan mau lihat hati kita yang pertama; karena dari hati terpancar kehidupan kita.

Maybe our hearts really long for sparks so we celebrate His birth with lots of sparks; it explains much, no?

Apalagi di era digital saat ini yang mana seakan memaksa kita untuk menjadi live, menjadi online, sampai-sampai kita lupa untuk benar-benar ‘hadir’ saat merayakan kelahiran-Nya di dunia.¬†

Orang majus dan para gembala zaman dulu pastilah menikmati dengan maksimal gegap-gempita sesungguhnya dari kelahiran Sang Bayi itu. Ada takjub, haru, bahagia, takut, di saat bersamaan.

Untunglah mereka ngga punya Instagram atau Path dan ngga sibuk share ke sana. 

Hm, perenungan-perenungan ini yang muncul saat menghayati Natal tahun ini. Aku mesti menjaga hatiku dengan segala kewaspadaan agar aku tidak larut dalam definisi Natal dunia ini, atau definisi-definisi dunia lainnya.

Tuhan, ampunilah sikap hati dan caraku yang salah dalam menyambut hadir-Mu di dunia ini.

 

Pilek, Air Mata, dan Iman

Dari sekian banyak doa yang dijawab Tuhan dengan “ya”, doa kemarin malam adalah salah satu yang sangat mengharukan bagi saya. 

Sejak Kamis pagi saya kena flu. Pilek disertai air mata. Saya ngga tau apa kalian pernah mengalami ini/engga, tetapi saya selalu mengalami jenis ini setiap kali flu. Saya sedih sekali karena flu ini bikin saya capek. Ingus saya keluar, mengalir begitu santainya setiap 10 detik sekali. Bahkan saya pun sering ngga sadar, ternyata sudah ada ingus yang keluar. Ditambah, air mata saya pasti ikut juga keluar. Mata saya betul-betul berair dan sayu sekali. 

Saya juga takut flu ini akan berlangsung berminggu-minggu, mengingat yang sebelumnya berlangsung hampir 2 minggu. Kenapa takut? Minggu depan saya ada pelayanan sebagai pemimpin pujian. Saya sudah paham nggak enaknya memimpin pujian dengan kondisi seperti ini karena sebelumnya saya pernah mengalaminya. Suara saya sangat lemah, tenggorokan meradang, serta sakit kepala. 

Saya coba obati dengan minum air hangat selalu ditambah madu dan perasan jeruk nipis. Kali aja cepet sembuh. Tapi, Jumatnya malah makin parah. Saya hampir menyerah saja dan menunggu penyakit ini sembuh dengan sendirinya (katanya sih ini jenis penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya). 

Namun di Jumat malam, saya ingat bahwa saya hampir saja tidur dengan kondisi stress karena sakit ini dan tidak berdoa. Anehnya, suara Tuhan lebih kuat daripada suara setan pada waktu itu, sehingga saya meyakinkan diri untuk bangun dan berdoa. 

Saya mulai melipat tangan, menutup mata, dan mengumpulkan semangat saya. 

“Tuhan, aku tau ada kemungkinan pilek ini bertambah parah besok pagi dan ini akan membuat persiapan pelayanan serta aktivitasku lainnya tetap terganggu. Tapi aku juga tau bahwa lebih besar lagi kemungkinan pilekku akan sembuh besok pagi. Karena Tuhan bahkan sanggup menjadikan apa yang nggak mungkin. Aku bersyukur Tuhan izinkan pilek ini datang saat ini agar aku ingat untuk berserah pada Tuhan. Aku tau, bukan karena kesehatanku semata, aku melayani. Karena dalam sekejap pun, Tuhan bisa ambil itu, kalau Tuhan mau. Namun Tuhan menginginkan hati yang berserah dan mengandalkan Tuhan, untuk Tuhan pakai melayani sesuai kehendak Tuhan. Karena itu Tuhan, jika Tuhan berkenan, sembuhkanlah aku besok pagi. Amin”

Kira-kira begitulah yang saya doakan, lalu saya tidur. 

Tadi pagi, saya bangun dengan kondisi…sembuh. Tidak ada lagi ingus yang mengalir seperti sungai dan air mata yang seperti hujan. Mereka telah mengering! Kondisi yang benar-benar 180 derajat berbeda dari sehari (bahkan beberapa jam) sebelumnya. Ini bikin saya mau nangis :”) Tapi saya tahan, ntar pilek lagi. 

*ceritanya, sehari sebelum pilek, saya habis nangis parah gitu karena suatu hal

Saya bersyukur sekali. Pilek ini justru mengajarkan saya tentang iman dan bagaimana hubungan rohani seorang anak dengan Bapanya yang begitu transparan untuk hal se…ngga-banget pilek. Saya senang.

Saya jadi makin yakin bahwa Tuhan pun sanggup mengadakan kesembuhan-kesembuhan (khususnya) rohani bagi setiap hati yang terluka atau pun sedang merasa jauh dari Tuhan. Saya makin yakin bahwa minggu depan Tuhan BISA berbicara secara pribadi kepada setiap jemaat yang hadir di pelayanan saya. Tuhan BISA mendengar dan menjawab doa mereka, yang mungkin lebih “bermutu” daripada pilek. Saya makin yakin bahwa:

Bukan karena siapa yang melayani, yang terutama.

Bukan karena pakai apa mereka melayani, yang terutama.

Bukan karena sekompleks apa aransemen musik mereka, yang terutama.

Bukan karena seindah apa kata-kata mereka, yang terutama. 

Tapi kalau ada hati yang dipulihkan dan Tuhan yang dimuliakan, itu karena siapa yang memanggil dan apa yang dapat Dia kerjakan untuk menggenapi rencana-Nya, itu yang terutama. 

Di sanalah letak iman kita. 

Segala pujian bagi Tuhan. 

Day 30: Commitment to Self

This is the last day of my tempting 30-day challenge and I promise I will save the best for last. I know I failed to post it daily, but thank God, I acknowledge my ‘limit’ now. But, these past 30 days have taught me much about commitment.

I won’t commit to something without really thinking about it.¬†

I am actually scared of being committed, but commitment is what helps people grow too, so I learn to make some and try to stay committed.

As a reminder to myself, I write them down here:

  1. I commit to keep my relationship with God faithfully. I commit to Saat Teduh in the morning before doing my make-up. I commit like this to prevent me from being so focused with my outer appearence and forget that the true beauty lies within me on how my heart connects with its Creator. I commit to start my morning routine with a prayer, not only for myself, but for others. I know that Satan always tries to disturb me and change my focus, but now, beware, my eyes on God. I commit to end my day with a prayer too, to simply give thanks to God and lay my night upon Him and His angels.
  2. I commit to keep my relationship with Gohan¬†faithfully.¬†Ah, I already smile. :’) I commit to stop thinking about my past yet keep the lessons near my heart. I commit to love him with the love of God. I commit to fight for a peaceful relationship with him. I commit to pray for him every single day to tell God how I want Him to protect him, to tell God how I love him, how grateful I am now. I commit to be a better version of me day by day.
  3. I commit to keep my relationship with my family faithfully.¬†I really miss my mom, dad, sister, and brother. My brother just said that he misses me and my sister because we’re far away from home. I commit to maintain my communication with them, although my sister seems so late-response nowadays :/ I commit to pray for them every morning before going to work.
  4. I commit to use my money well.¬†I commit not to buy things I don’t need, or things that are not my priorities, or those so not important make-up and skincare thingy. I commit to stick to what I have today, enough with that, and use it well. I commit not to feed my desire to buy this and that.
  5. I commit to keep me eating healthy food. I commit not to eat mie instan in any form of that anymore. I commit not to eat any MSG-ful chips again. I commit to lessen my consumption of fabric-produced food/drink. I commit to eat red-rice and vegetables more, and lessen my consumption of meat. BUT AYAM PENYET KANTIN BUMIPUTERA ENAK BANGET TONGSENGNYA JUGA TERUS AKU HARUS APA. Crying.
  6. I commit to keep¬†any updates I make remain posted.¬†I commit to stop deleting updates because my friends keep asking me why I delete this and that and they begin to guess the reasons, meanwhile the truest thing is: I just love deleting old posts. It’s like sweeping your house or cleaning your bedroom. Just want to tidying up some stuff, I say. But nobody accepts that and keeps saying that I delete posts because I’m afraid of being stalked. I thought about it once, but that’s not why I delete posts. Err, am I unusual or what.
  7. I commit to be a reminder of my own happiness as well. Because no one would do that more intentionally than you, yourself. Life is hard, yet you have to get ready and happy.

I think that’s all I could say to accomplish this last challenge. I have started to feel how hard it is to stay committed to what I have wrote above, but let’s try and stay.

Special thanks to:

My fingers, eyes, and brain, you have worked hard, dudes.

My laptop and WordPress application on my phone. 

You, who accidentally or not, come to this page.

To make it easier, you can check bit.ly/30DaysWritingChallenge to read the entire challenge from day-1 to 30.

I am sorry if I have been too funny and you couldn’t resist that. Hehe.

Thank you!