Serba-Serbi RKXVII: Awake, My Soul, Awake!

Sejak akhir Agustus tahun lalu, pikiran saya mulai diisi dengan hal-hal terkait persiapan sebuah retreat yang ditujukan untuk para pemimpin PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) di kampus-kampus se-Jakarta dan beberapa daerah lain seperti Bogor, Banten, Bengkulu, Lampung, Pontianak, Ambon, dan Palembang. Sebagai salah satu orang yang juga menikmati banyak kebaikan dari retreat serupa di tahun 2014, dan juga sebagai seseorang yang dianugerahkan Tuhan pertumbuhan rohani melalui pengenalan akan-Nya (terutama) melalui persekutuan mahasiswa di kampus, saya hampir tidak punya alasan untuk menolak untuk memikirkan hal-hal tersebut. Passion itu terasa besar dan kuat, tetapi saya berdoa agar bukan sekadar passion melainkan ada visi ilahi yang saya terima dari Tuhan, tentang kenapa saya harus mempersiapkan retreat ini, untuk apa saya mempersiapkannya, dan apa yang mau disampaikan-Nya melalui retreat ini. Bersama dengan tiga orang rekan terbaik abad ini (Ko Ray, Indra, dan Keke), Allah memberikan anugerah untuk mengarahkan kepanitiaan ini dan kami pun memulai semuanya dengan…pusing.

Dengan pengalaman yang ada ketika mengikuti EARC 2017, kami mulai mendaftarkan hal-hal substansial dan teknis yang baik yang prinsipnya patut kami terapkan untuk retreat ini. Saya pribadi ingat banyak hal yang begitu inspiratif dari penyelenggaraan EARC tahun lalu tersebut dan rasanya bahagia jika bisa menerapkan beberapa halnya di retreat kali ini. Beberapa hal tersebut di antaranya (tentunya) isi/materi yang disampaikan per hari dalam eksposisi dan pleno serta kemasan yang dipakai untuk setiap sesinya. Kami rindu menghadirkan retreat yang sungguh-sungguh menjadi tempat perhentian sementara para mahasiswa ini untuk di dalamnya mereka menikmati perjumpaan secara pribadi dengan Allah yang memanggil mereka dalam pelayanan mahasiswa di kampusnya masing-masing. Kami rindu mengadakan momen retreat yang meskipun ‘penuh’ dengan kegiatan, tapi tetap memberikan kesegaran dan sukacita bagi setiap peserta.

Ketika mulai mempersiapkan retreat ini, salah satu hal yang meneguhkan saya pribadi untuk maju terus memikirkan konsep dan materi apa yang akan disampaikan adalah tuntunan Roh Kudus yang saya dapat melalui perenungan-perenungan saat teduh saya. Saya menggunakan renungan dari Our Daily Bread sebagai penuntun saat teduh saya setiap hari. Pada tanggal 10 Oktober 2017, ODB memberikan perenungan dari Wahyu 3:1-6 yang dapat kamu baca di link ini: https://odb.org/2017/10/10/wake-up-call-4/.

Judulnya Wake-Up Call! Judul yang tidak terpikirkan oleh saya akan menjadi nuansa tema retreat ini nantinya. Sebelumnya, kami sebagai panitia pengarah sudah sepakat untuk membawakan tema yang akan mengangkat mengenai pentingnya spiritualitas rohani yang baik bagi para pemimpin rohani di PMK. Tanpa berlama-lama, Roh Kudus menuntun dalam perenungan di saat teduh ini. Salah satu paragraf di dalam renungan tersebut berkata demikian:

The book of Revelation contains a spiritual wake-up call in the apostle John’s letters to the seven churches in the province of Asia. To the church in Sardis he wrote this message from Jesus Himself: “I know your deeds; you have a reputation of being alive, but you are dead. Wake up! Strengthen what remains and is about to die, for I have found your deeds unfinished in the sight of my God” (Rev. 3:1–2).

Bagian ini sebetulnya membuat saya sedih jika mencoba melihat relevansinya dengan kondisi yang ada di pelayanan mahasiswa saat ini. Dicatatkan bahwa Yesus mengetahui perbuatan-perbuatan jemaat di Sardis, dan bahwa mereka memiliki reputasi sebagai orang-orang yang ‘hidup’, tapi sebenarnya mereka mati. Lalu, kata-Nya, “bangun!”.

Bagian lain yang tidak kalah menuntun persiapan retreat ini bagi saya secara pribadi adalah apa yang dituliskan ODB dalam Insight-nya, sebagai berikut:

The call for the Christ-follower to be spiritually alert rings loud throughout the New Testament. To the sleepy disciples, Jesus bemoaned, “Watch and pray so that you will not fall into temptation” (Matt. 26:41). Peter, writing from his own failure (see Luke 22:31–34), cautioned: “Be alert and of sober mind. Your enemy the devil prowls around like a roaring lion looking for someone to devour. Resist him” (1 Peter 5:8–9). We are reminded to “put on the full armor of God” (Eph. 6:11, 13) and to stand firm with the truth of the gospel (v. 14; see 2 Tim. 3:14–17) and with “the sword of the Spirit, which is the word of God” (Eph. 6:17). Those who have the law of God “in their hearts . . . do not slip” (Ps. 37:31). The spiritually alert “[delights] in the law of the Lord, and . . . meditates on his law day and night” (1:2).

Bagaimana menurut kalian? Benar-benar menuntun, bukan? :”)

Pada waktu itu, saya bilang ke teman-teman, “Sense of adanya ‘temptation’, Iblis yang selalu berkeliling mencari mangsa, dan bahwa Tuhan Yesus akan datang untuk yang kedua kali–menjadi hakim atas semua pekerjaan rohani kita–atau sederhananya, bahwa ini adalah peperangan rohani, seharusnya membuat mahasiswa yang melayani Dia, bisa ‘spiritually alert’. Jadi, mari kita coba peka, apakah memang ada yang missed di hati mahasiswa/i sehingga tidak merasa ada masalah serius di dalam pelayanannya, dan menyulitkan untuk selalu spiritually alert.”

Tidak berhenti di situ, keesokan harinya Roh Kudus juga kembali menuntun melalui renungan saat teduh, juga dari ODB, bisa kamu baca di https://odb.org/2017/10/11/two-winged-sun/. Melalui catatan Insight-nya, saya kembali menemukan istilah yang menolong dan meneguhkan persiapan retreat ini, sebagai berikut:

Hezekiah, whose name means “whom Jehovah has strengthened,” was the son of Ahaz (2 Kings 18:1), one of the worst kings of ancient Judah. Hezekiah succeeded his father on the throne, reigning for twenty-nine years. Ignoring the disastrous example of his father, Hezekiah modeled himself after his great-grandfather, Uzziah. Hezekiah’s primary impact as king was in his role as a spiritual reformer. As part of this reform he destroyed the “bronze serpent” (see Num. 21:4–9). What was once a symbol of healing in Moses’s day had become an object of idolatrous worship. Hezekiah’s reign saw a season of spiritual renewal that had a profound impact on the kingdom (adapted from Easton’s Bible Dictionary).

Raja Hizkia adalah contoh hasil regenerasi yang unik, karena ia tidak mengikuti contoh buruk ayahnya, Ahas. Perannya sebagai pembaharu rohani membawa kerajaan yang dipimpinnya mengalami kebaharuan rohani juga. Dalam refleksi saya, saya memikirkan bahwa para pemimpin rohani di PMK ini kebanyakan baru saja diregenerasikan menggantikan yang terdahulu, dan tanpa bermaksud mengatakan bahwa pemimpin terdahulu bukanlah pembaharu kerohanian di pelayanannya, saya pribadi rindu mereka yang baru diregenerasikan ini sungguh-sungguh mengerjakan teladan yang baik: dalam konteks Raja Hizkia, beribadah hanya kepada Allah dan menolak ilah-ilah lain.

Konsep ‘ilah/berhala’ ini jugalah yang rindu dibukakan di retreat ini, bahwa berhala bukan hanya patung-patung atau benda-benda fisik lain yang disembah, melainkan juga hal-hal baik yang memang terlihat baik, tapi ditempatkan sebagai yang terutama selain Allah, dan jelas, menggantikan posisi Allah sebagai satu-satunya yang patut disembah. Kebayang, nggak? Misalnya nilai, organisasi, kepanitiaan, pelayanan rohani, bahkan, gebetan-gebetanmu yang 11-12 sama Chicco Jerikho itu. Hati-hati, mereka bisa menggantikan Allah di dalam hidup kita. Berhala yang tidak dikenali dan diketahui cara mengatasinya, dan tidak dimohonkan kuasa Roh Allah untuk melawannya, adalah penyebab mati/suam-suam kukunya pelayanan rohani yang kita kerjakan.

Dua bahan saat teduh ini bisa dibilang menguatkan hati saya secara pribadi untuk mempersiapkan retreat ini. Kebenaran firman yang sudah disingkapkan dan ada kondisi yang Allah bukakan, menjadi suatu titik tolak yang kuat untuk melanjutkan persiapan ke depan, ketika kami mulai memikirkan, “kalau begitu, adakah bagian kitab atau tokoh yang spesifik untuk dibahas terkait kehidupan rohani/spiritualitas seorang pemimpin rohani?” 

Saya ingat, ketika memikirkan sendiri pertanyaan ini, saya sedang membaca bagian firman tentang Daud, tidak setiap hari berurutan memang, tapi cukup memberikan saya keyakinan untuk mengusulkan ke teman-teman yang lain. Raja Daud, dalam pengetahuan saya yang terbatas tentangnya, menunjukkan kepada saya sebentuk kehidupan rohani yang ‘hidup’ bersama Allah. Daud bukan Raja yang tanpa dosa, bahkan dosanya mendapat pemaparan yang cukup lengkap di dalam kitab suci, namun justru di bagian itu, saya yakin bahwa tokoh Daud akan menjadi cerminan yang dekat dengan para peserta retreat ini, yakni: di dalam kondisi baik dan buruk, Daud selalu datang kepada Allah. Mazmur-mazmurnya pun menunjukkan betapa ‘dekat’-nya ia dengan Allah, betapa ‘nyata’-nya relasinya dengan Allah, betapa ‘hidup’-nya jiwanya, terhadap Allah. Karena itu jugalah saya mengusulkan agar di retreat ini kita mengekspos jiwa Daud melalui mazmur-mazmurnya.

Rasa syukur memenuhi hati dan pikiran saya ketika dalam pertemuan bersama rekan-rekan terbaik abad ini, kami akhirnya menyepakati pembahasan tentang Raja Daud dan mazmur-mazmurnya sebagai perikop eksposisi, saat teduh, pendalaman Alkitab, dan bahkan nantinya menjadi nuansa yang mewarnai puji-pujian dan pengantar lagu tim ibadah yang melayani di setiap sesi.

Roh Kudus terus memimpin kami, memberi kepekaan kepada tiap-tiap kami, akan apa yang rindu Ia sampaikan kepada anak-anak-Nya, para peserta retreat ini. Masing-masing kami memberikan buah pikiran, imajinasi, dan harapan kami untuk tiap-tiap sesinya. Kami bersyukur Allah menganugerahkan kerendahan hati untuk mendengar satu sama lain dan pada akhirnya bisa melakukan fiksasi susunan acara (meskipun terbilang mundur dari timeline). Saya menyaksikan Allah yang begitu kreatif melalui apa yang disampaikan-Nya kepada setiap kami yang mempersiapkan acara ini. Betul-betul mengagumkan.

Perjuangan mempersiapkan retreat ini tentu tidak berhenti sampai di konsep belaka. Untuk mengeksekusinya, ada banyak lagi perjuangan yang harus ditempuh. Mulai dari persiapan para pembicara, persiapan para pelayan mimbar, persiapan para pemimpin PA, persiapan dana, dan tentunya persiapan pesertanya. Jika ditanya bagaimana rasanya, saya akan bilang, “berat, saya tidak akan kuat, biar bersama Tuhan saja.”

#EA

Saya betul-betul merasakan apa yang namanya di bawah tekanan, dikejar deadline, dan diliputi kekhawatiran, selama mempersiapkan retreat ini. Belum lagi, ada 2 orang panitia divisi acara yang tidak bisa melanjutkan persiapan acara ini dikarenakan panggilan pekerjaan yang mengharuskan mereka mengikuti serangkaian diklat dan bahkan penempatan di luar Jawa sehingga tersisalah 2 orang perempuan tangguh di divisi ini. Pergumulan pun bukan ini saja, kerja sama di internal divisi dan koordinasi seluruh divisi, ditambah lagi pergumulan-pergumulan pribadi setiap panitia, betul-betul membuat saya takut. Tetapi, saya selalu ingat bagaimana Allah memantapkan hati saya pada awal-awal persiapan acara ini. Saya selalu ingat hati-Nya yang sangat mengasihi mahasiswa. Saya selalu ingat Dia yang tidak ingin anak-anaknya ‘tidur’ dan apa lagi mati secara rohani. Saya ingat, karena Dia-lah yang paling peduli dengan kondisi mahasiswa, maka Dia jugalah yang rindu ada pemimpin rohani yang akan menjadi alat-Nya dalam memimpin mahasiswa/i dengan kasih.

Saya ingat, bagaimana hati-Nya terhadap saya, dan apa yang sudah Ia kerjakan untuk menolong saya, membimbing saya, memperlengkapi saya, dan menjadikan saya juga alat-Nya, yang salah satunya melalui retreat serupa di tahun 2014.

Saya bersyukur, ada damai sejahtera hadir di dalam hati saya, melingkupi seluruh keberadaan saya, padahal, ada banyak tekanan pada saat itu, ada beberapa perbedaan pendapat, ada kurang tidur di sana, ada kelelahan fisik, dan sudah pasti, ada banyak air mata di sana. Saya bersyukur, ‘damai sejahtera’ yang dijanjikan Tuhan memang akan di luar pengertian saya. Saya tidak bisa mendefinisikan persisnya bagaimana, yang jelas, justru saya mengalami banyak pembentukan melalui setiap kondisi tadi. Ia mengerjakan di dalam diri saya kerendahan hati, ketangguhan fisik, hati yang berjuang berdoa, otak yang menangkap inspirasi dari-Nya, dan sukacita yang berlimpah meski kami semua lelah.

Saya ingat apa yang diucapkan Ko Ray, “kalau ketemu sama mahasiswa itu memang beda ya, langsung semangat dan kayak lupa sama beban hidup”, kira-kira seperti itu, yang juga disampaikan oleh Keke, dan tentunya yang juga saya rasakan. Itu jelas anugerah. Itu jelas karena Ia yang memimpin persiapan retreat ini. Mana mungkin sekumpulan orang berdosa dan penuh kelelahan sanggup merasakan hal itu, kalau bukan Roh Kudus yang bekerja di dalam mereka?

Akhirnya, tepat seminggu lalu, retreat ini pun berakhir dan seperti biasa, meninggalkan rasa syukur dan haru yang besar. Saya tidak menyangka semuanya Ia cukupkan. Dalam beberapa hal memang ada ketidaksempurnaan, tetapi saya berdoa yang sungguh-sungguh Ia mau sampaikan, tersampaikan dengan kuat kepada setiap hati yang terbuka dan telinga yang mendengar. Rangkaian acara yang dipersiapkan dengan tema “Awake, My Soul, Awake!”, dan berlagu tema “I Want to Serve the Purpose of God” ini telah memberikan berkat tersendiri juga kepada saya. Tidak pernah menyangka, akan seindah ini.

Saya bersyukur mengalami Allah yang bekerja sedari awal sampai sekarang di pelayanan ini. Saya bersyukur diberikan-Nya rekan-rekan sepelayanan yang mau bersama-sama berjuang untuk mengerjakan hal mulia ini. Teruntuk Ko Ray, Keke, Indra, Karina, Ana, Lamhot, Dennis, Geres, Mega, Elka, Xaris, Richard, Pangeran, Ibeth, Talenta, Adit, Hertina, Agnes, David, Yoan, Nana, Timmy, dan beberapa tim kerja yang memberikan doa, daya, bahkan dananya untuk mengerjakan bagiannya masing-masing di kepanitiaan ini, saya bersyukur kepada Tuhan karena kalian. Untuk abang dan kakak staf yang sudah memberi bimbingan dan mengerjakan bagiannya sebagai pembicara ekpsosisi, kelas pembinaan, terima kasih banyak :’)

Tidak lupa untuk para pelayan mimbar, Kak Kitie, Timot, Frans, Lian, Bravo (bukan sepakbola Indonesia), Lukas, Ester, Sadrakh (bukan Mesakh Abednego), Bill (bukan Clinton), Chiyo, Lidya (bukan penjual kain ungu), Kak Agnes, Sammy (bukan Simorangkir), Levy, dan Matheus, terima kasih sudah memberikan talenta kalian untuk melayani di acara ini. Semoga terus giat mengusahakan berapa pun talenta yang dianugerahkan Tuhan buat kalian! Terima kasih untuk 38 Pemimpin PA yang melayani adik-adik manis di sesi PA, terima kasih karena telah menolong mereka menikmati firman :’) Terima kasih juga kepada para donatur yang memberikan doa dan dana untuk menyelenggarakan retreat ini. Tanpa kalian………………………………………..kita nggak jadi retreat di Villa Robinson. :’)

Serta tentunya, sekali lagi, terima kasih kepada Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, Tritunggal yang maha kuasa, maha mengasihi, dan maha inisiatif, atas kesempatan menjadi alat-Mu untuk mengerjakan isi hati-Mu.

Segala pujian bagi Tuhan.

Advertisements

Got a quest on AskFM: kenapa sih banyak orang yang suka nge-judge lewat media sosial? Padahalkan menebarkan kebaikan itu bisa lebih indah?

First of all, being judgmental in general terjadi karena manusia gagal mengenal dirinya sendiri–in deeper sense of recognizing ourselves. Kenal diri sendiri nggak cuma berarti tau bahwa kamu itu seorang yg introvert, koleris, ambivert, pemalu, pendiam, or whatsoever. Mengenal diri sendiri lebih dari itu. Bahkan sampai kepada, “untuk apa/siapa kamu hidup?”, “kenapa kamu (masih) hidup?”, “apa potensimu?”, “why you do certain things?”, “apa yg nge-drive kamu melakukan ini dan itu?” dan banyak pertanyaan mendalam lain.

 And it requires a lifetime journey.

Kenapa orang jadi judgmental karena alasan itu? Yes of course, karena kalau kamu kenal banget sama diri kamu, kamu nggak akan berani menghakimi orang lain–kebanyakan kita pasti melakukan hal yg sama–atau punya potensi melakukan hal yang sama. This behaviour kemudian mendapat ruang yang lebih besar dalam penggunaan sosial media.

What can you interprete from a filtery kind of picture on Instagram? It will never fully describe anything about that person. I mean, ketika kamu yang tidak mengenal dirimu sendiri dengan baik mulai menilai seseorang di sosmed yang tidak kamu kenal dengan baik (people tend to judge someone they barely know, right?) maka jadilah ini double-trouble. What measure will you use to do so?

The good news, the more you understand yourself, the less you judge. The more you understand others, the less you judge. Imagine if these two things combined together. The world will be less judgmental.

The next question is, how could we understand ourselves more each day? 🙂

Bukan Kebetulan

Ini adalah salah satu lagu terbaru Sari Simorangkir dalam album terbarunya “Sovereign” yang sangat memberkatiku–selain “Kuserahkan Segalanya”. Judulnya, “Tuhan yang Besar medley Doa Yabes”.

Lagu ini menceritakan tentang pengakuan seorang manusia akan Allah yang besar–dan bahkan berani meng-klaim-Nya sebagai kepunyaan-Nya.

“Aku punya Tuhan yang besar yang t’lah berjanji dan sanggup menggenapi. Imanku bersepakat percaya kuasa-Nya. Ku’trima s’karang kemenangan dari-Mu.”

Lagu ini berisi keyakinan iman yang kuat dari seseorang yang percaya bahwa pengharapan hanya ada di dalam Allah. Pengharapan ini yang memampukannya untuk berkata bahwa meskipun dalam kesesakan, ia tidak akan menyerah. Allah yang menggenggam seluruh hidupnya.

Ini adalah bagian yang sangat indah. Allah itu setia dan Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya–kabar baik bagi kita. Jadi, hati Allah tidak bergantung pada kita, pada kondisi kita. Bagian ini sangat menguatkanku yang sedang menghadapi pergumulan–terbesar sepanjang hidup, seingatku.

Aku sedang mendengar lagu ini ketika sedang membaca saat teduh dari Our Daily Bread, yang semakin membuatku kuat; renungan yang berbicara juga tentang Tuhan yang besar:

Aku bersyukur selalu merasakan penjagaan-Nya, bahkan di tengah ketidaktaatanku. Seperti saat ini (dan masih banyak lagi saat lainnya), bagaimana Ia tidak pernah meninggalkanku, tidak mau aku salah jalan, dan dengan lembut Ia selalu memimpinku. Dia tahu aku selalu butuh kepastian dan Dia datang dengan segala kepastian yang tidak sanggup disangkal hatiku.

Dan… ya, terima kasih Tuhan untuk kekuatan ini. :”)

It Isn’t Me

When I did my morning devotion about two days ago from Our Daily Bread, I was moved by the insights I got from 1 Corinthians 15:1-11, especially what I learned from Paul’s example.

Paul is the one who never took God’s credits and cheers though he was such an inspiring & influencing apostle in his context & era. His faithfulness, his encouraging words, his firm & sound doctrines, his father-mother kind of love, and his determined & passionate heart to preach & teach, have been blessings to many of Christians now & then. He could boast & be absolutely proud of those qualities but he didn’t.

Not that he underestimated those excellent qualities, but he knew where he got it and realize much where the applause should fly to: God himself.

“But by the grace of God I am what I am: and his grace which was bestowed upon me was not in vain; but I laboured more abundantly than they all: yet not I, but the grace of God which was with me.”

This example is good for anyone especially for those who feel they have done many things for God (call it in a Christian ministry or on a daily basis), for those who sacrifice everything to God, who do their best in everything God called them to, for those who feel that they are spiritually healthy, for those who may see the fruit of their every faithfulness in following Christ.

Paul’s example is balance–uhm I think ‘balance’ is not quite suitable for what I mean. He didn’t stuck on these two extremes: first, being too proud of himself, or the second feeling too inferior (until it frustrates him) because of God’s grace.

I mean, God’s grace that is with us–is truth–and I always believe that truth sets us free. We know we can do many things with God’s grace & strength (I might add) without feeling superior when we’re fruitful, but we also won’t be ashamed & embarrassed if we’re not fruitful yet–by any reasons we could mention. Because our fruitfulness is also according to God’s grace–nothing we can do to decide when or where we could see that.

This is freedom, the true one: I’m just His messenger–yet not I, but the grace of God that is with me. Acknowledging God’s grace in everything is the sign of our spirituality–how we understand and know God in a way He wants us to.

Thus saith the LORD, Let not the wise man glory in his wisdom, neither let the mighty man glory in his might, let not the rich man glory in his riches: But let him that glorieth glory in this, that he understandeth and knoweth me, that I am the LORD which exercise lovingkindness, judgment, and righteousness, in the earth: for in these things I delight, saith the LORD.

Soli Deo Gloria.

Typically Me

Setelah melakukan social media detox yang ke-3 seperti pada post ini, saya memutuskan untuk melakukan social media detox kembali. Detox ini sudah dimulai sejak hari ini (Rabu, 6 Desember 2017) dan akan berlangsung selama 20 hari ke depan. Media sosial yang akan saya detox penggunaannya adalah Facebook, Instagram, WhatsApp Story, dan Twitter.

Cheers & see you!

P.S.:

Saya lagi nonton drama Korea “Two Cops” dan suka banget sama scene ini:

Penting nggak?

#latenightpost

Okay, ini bukan waktu yang cukup bijak untuk menulis sesuatu karena seharusnya saya tidur. Sekarang sudah pukul 12.20 AM, ngomong-ngomong. Tapi, saya belum ngantuk & sayangnya, ada sesuatu yang ingin saya tulis (mumpung saya lagi inget). Jadi, kita mulai saja!

Belakangan ini, saya lagi banyak berpikir tentang “perempuan”. Sebagai orang yang tingkat imajinasinya cukup tinggi (#percayadiri), saya suka membayangkan tentang “perempuan gimana sih yang saya kagumi?” Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Saya termasuk salah satu orang yang suka mengagumi sesuatu/seseorang, meski itu adalah hal yang kelihatannya biasa-biasa saja. Saya juga suka menyusun kriteria “idaman” saya (apa yang dapat membuat saya kagum) akan sesuatu/seseorang agar saya bisa mencari untuk memperolehnya.

Untuk kali ini, kriteria idaman tentang perempuan ini muncul ketika saya membayangkan tentang masa depan. Jika Tuhan berkehendak saya menikah dengan seseorang yg sudah dipastikan-Nya, saya membayangkan, kira-kira pasangan hidup seperti apa yang didambakan dan didoakan oleh pasangan hidup saya, ya? Anyway, saya tidak bicara soal pacaran. Saya bicara soal menikah. Ada lebih dari 1001 perbedaan yang akan kita alami ketika kita pacaran dan menikah. Meski saya belum menikah, saya bisa pastikan itu. Itu cukup logis untuk diperkirakan.

Selanjutnya, saya suka membayangkan, jika Tuhan berkehendak saya memiliki anak, kira-kira ibu seperti apa ya, yang didambakan oleh anak saya?

Mungkin sebagian orang bertanya, “kenapa harus memikirkan apa yang didambakan orang lain?” Pertama, pendekatan ini adalah pendekatan yang sering saya lakukan kepada orang-orang di sekitar saya–pendekatan yang memikirkan apa yang menjadi ekspektasi seseorang terhadap saya. Bukan untuk mengimitasi terang-terangan ekspektasi tersebut, tapi pertama-tama mengujinya dengan firman Tuhan dan menggunakan hasil ujian tersebut dalam menjalin relasi.

Di saat yang bersamaan, tidak dipungkiri, saya tetap rindu berserah kepada Sang Pembentuk kriteria, dihancurkan dan dibentuk kembali, menjadi seperti yang Ia dambakan saja.

Proses ini berjalan beriringan dan tidak seharusnya saling bertentangan–ketika semuanya dilakukan bersama Tuhan & firman-Nya. Semuanya ini saya lakukan demi semata-mata kasih dapat dinyatakan dengan tepat, tidak menimbulkan kecurigaan, kekhawatiran, dan sebagainya.

Karena, kadang-kadang kamu bermaksud mengasihi, namun beberapa orang tidak bisa handle & salah mengerti. It’s important to know your ‘audience’.

Lalu, setelah membayangkan kriteria-kriteria perempuan tersebut, saya tersenyum pada 1 puzzle yang sudah tersusun di kepala dan hati saya. Puzzle itu membentuk sebuah doa, “saya mau menjadi pasangan hidup yang terbaik untuk pasangan saya, menjadi ibu terbaik untuk anak(-anak) saya, demi hormat & kemuliaan Tuhan yang sudah dan selalu membentuk saya, amin.”

Catatan:

Kalau kekaguman pada seseorang membuatmu tidak semakin mengasihi Tuhan & melakukan perintah-Nya, membuatmu jauh dari logika, waspadalah. Kekaguman itu sudah menjadi berhala.