Transformasi Digital dari Kacamata Seorang Awam

Di era digitalisasi yang tengah berkembang di dunia (secara umum) dan Indonesia (secara khusus), tampaknya aneh jika kita tidak menaruh perhatian terhadap transformasi digital padahal kita ada di dalam ekosistem yang dibangun (secara sadar atau tidak) oleh transformasi tersebut.

Transformasi digital tidak sesederhana membuat online-shop atau memiliki website perusahaan yang bahkan tidak terlalu dipedulikan. Transformasi digital adalah sebuah ide besar yang sebaiknya tidak disimplifikasi. “Digital transformation is a visible wholesale restructure to avoid a tipping point caused by digital technologies and downstream market effects”, kata Howard King.

Transformasi digital terasa sangat jelas di dunia bisnis. Hal ini terlihat dari produk-produk bisnis yang kita rasakan sehari-hari seperti Go-Jek, Uber, Grab, yang kini memudahkan kita untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bagi kita yang menganggapnya memudahkan.

Tidak hanya itu, Instagram, Path, Facebook, dan bahkan setiap perangkat keras yang kita gunakan adalah produk-produk bisnis yang telah dan akan terus menerapkan transformasi digital dalam pengembangannya.

Karena transformasi digital dekat dengan kehidupan kita, ada baiknya kita mengenal lebih jauh apa yang ditawarkannya kepada kita dan bagaimana kita menyikapinya.

What matters most?

Bagi pebisnis, transformasi digital tidak lain dan tidak bukan akan memberikan manfaat ekonomis bagi mereka. Meski tampaknya dunia bisnis saat ini seperti tengah mewujudkan transformasi digital, sebuah riset menemukan ternyata ada 40% perusahaan yang tidak siap dengan transformasi digital sekalipun 86%-nya berharap transformasi digital akan berperan penting bagi perusahaan mereka di masa depan. Ada 4 pilar utama yang harus ada dalam suatu bisnis untuk dikatakan telah mengalami transformasi digital: engaging customer, empowering employee, optimizing operations, dan transforming product.

Hal pertama yang tentunya mereka harus kuasai adalah pengenalan akan pelanggan/pengguna produk mereka. Cakupannya seperti menganalisis kesukaan, kebiasaan, ketidaksukaan, perilaku, dan karakter customer mereka. Customer mereka: saya.

Saya setuju dengan gagasan yang mengatakan bahwa transformasi/revolusi digital sebenarnya bukan tentang teknologinya yang terutama, melainkan orang-orangnya, entahkah pekerjanya maupun penggunanya. However, as most digital transformation across industries and countries continues to unfold, the people dimension of these transformations has emerged as the key to unlocking value and ensuring the sustainability of the changes.

Pekerja dan pengguna diharapkan memastikan keberlangsungan perubahan yang terwujud melalui transformasi digital tersebut. Inilah poin pembahasan saya yang sebenarnya.

Oke, saya persempit menjadi “pengguna dari transformasi ini muncul sebagai kunci untuk menemukan nilai dan memastikan keberlangsungan perubahan-perubahan yang sudah ada.”

Transformasi digital bisa memberi manfaat maupun mudharat bagi setiap pengguna, tergantung bagaimana si pengguna menyikapinya. Oh ya, definisi manfaat dan mudharat yang saya maksud tentunya berada di tatanan normatif dan spiritual sesuai dengan iman saya.

Ada banyak karakter pengguna yang akhirnya tampak akibat transformasi digital ini. Ada yang narsis, ada yang humoris. Ada yang jaim, ada yang alim. Ada yang seperti Karin Novilda, ada yang seperti Rachel Vennya, dan masih banyak lagi.

Jika pengguna adalah kunci bagi para pebisnis, maka saya asumsikan pemilik Instagram akan terus melakukan inovasi untuk terus mengeksplor karakter-karakter penggunanya. Saya ambil contoh: narsisme. Melihat kesuksesan Snapchat dengan fitur video-chat-nya, Instagram pun melakukan imitasi dengan Instagram Story-nya. Kenapa? Ternyata banyak pengguna yang senang menggunakan fitur-fitur yang membuat pengguna bisa bernarsis-ria. Saat ini, para pekerja di bagian product development Instagram pasti sedang sibuk meng-import data penggunanya dan melakukan analisis: fitur apa lagi ya yang harus kami keluarkan?

Tetapi, siapa sangka, ternyata ada juga pengguna yang menggunakan fitur live (seperti di Facebook) untuk merekam dirinya yang akan bunuh diri atau pun membunuh orang lain? Ya, ternyata ada pengguna yang menggunakan fitur tersebut entah untuk mencari perhatian atau karena dia adalah seorang psikopat. Hal-hal minor seperti ini mungkin tidak pernah mendapat perhatian khusus dari pebisnis.

Okelah, toh tentu itu bukan sepenuhnya miskalkulasi dari pebisnis, melainkan mungkin ketidaksiapan beberapa pengguna untuk menghadapi transformasi digital.

Perubahan akan terjadi juga, siap atau tidak siap. Transformasi digital akan terjadi juga, siap tidak siap. Tidak ada yang sedang berusaha menghentikannya—dan ternyata kita membutuhkannya demi alasan-alasan, misalnya, efisiensi. Karena itu penting bagi pengguna untuk belajar dan beradaptasi dengan transformasi digital agar mereka bisa memanfaatkan sebanyak-banyaknya keuntungan yang lahir dari transformasi ini.

Memanfaatkan Transformasi Digital

Tidak semua produk transformasi digital harus kita gunakan: itu kunci pertamanya. Kenali diri kita dengan baik dan kenali motivasi kita untuk menggunakan produk-produk tersebut. Titik awal inilah yang jarang dipikirkan oleh pengguna. Setiap inovasi yang ada rasanya ingin segera dicicipi. Saya masih ingat betapa impulsifnya saya dan teman-teman sekantor untuk menginstal aplikasi IMO dan melakukan group-call padahal kami berada di ruangan yang sama. Meski tak lama setelah itu, sebagian besar dari kami pun menghapus aplikasi tersebut karena merasa tidak perlu menggunakannya.

Tidak semua aplikasi belanja online, sosial media, atau ojek online perlu di-install. Percaya tidak percaya, ini akan memudahkan kita untuk menentukan pilihan, menghemat biaya, waktu, dan juga tenaga. Pilih satu atau dua aplikasi yang kalian tahu terbaik sesuai dengan spesifikasi yang kalian inginkan.

Selanjutnya, gunakan aplikasi-aplikasi tersebut dengan bijaksana: misalnya aplikasi media sosialmu. Keberadaanmu di sana seharusnya menjadi manfaat untuk orang-orang yang ada di sana. Bila perlu saya tegaskan, kamu harus tetap di sana jika di sanalah kamu bisa menyebarkan sebanyak-banyaknya kebenaran bagi orang banyak. Jangan hapus akunmu, jangan hapus aplikasimu. Imbangi dan bahkan kalahkan pengaruh buruk yang disebarkan (yang sedihnya selalu disebarkan) oleh akun-akun yang tidak bertanggungjawab dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ciptakan konten yang menarik orang-orang untuk terus-menerus menantikan manfaat yang akan kamu tawarkan. Serius. Pikirkan ini baik-baik.

Dunia tempat kita diutus adalah dunia yang jorok. Media sosial di mana kita bersosialisasi adalah media yang telah jatuh dalam dosa. Karena itu, keberadaan kebenaran sangat penting di sana. Tetap tinggal di sana, hanya jangan menjadi sama. Acuhkan saja orang-orang sekitar yang mungkin akan melabeli kamu dengan kata “pencitraan”. Tahu apa sih soal pencitraan? Kalau bisa terus mencitrakan gambar Allah, kenapa harus peduli? Di saat yang bersamaan, uruslah motivasi dan targetmu ketika melakukannya. Itu saja. Jangan jadi takut menyebarkan apa yang benar karena takut dianggap pencitraan.

Menjadi pengguna dalam tranformasi digital adalah peran yang diberi bagi kita di suatu ruang bernama “hikmat”.

Smart City

Transformasi digital juga sedang gencar dilakukan di pemerintahan–tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Konsep “kota pintar” atau smart-city sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kota pintar memerlukan data yang akan diubah menjadi informasi sehingga memberikan pengetahuan bagi penduduknya. Data-data ini nantinya berguna untuk banyak hal, termasuk menyoroti masalah-masalah potensial di kota tersebut bahkan sebelum ia terjadi, seperti kata Tuan Totty, seorang editor berita di The Journal Report, San Fransisco. Baca uraian selengkapnya di sini.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Pak Ahok telah menunjukkan kepeduliannya akan konsep ‘Jakarta Kota Pintar” yang diberi nama Jakarta Smart City. Tidak hanya itu, ada juga aplikasi Qlue yang terintegrasi dengan sistem Jakarta Smart City yang berguna untuk mengumpulkan data demi data yang nantinya sangat bermanfaat bagi kota Jakarta. Salah satu harapan saya pasca kepemimpinan Pak Ahok nanti adalah, konsep Jakarta Smart City ini bisa terus dikembangkan. Jangan diabaikan, please banget. :’

Bagian kita adalah, mari kita gunakan aplikasi Qlue dengan seefektif mungkin. Kita bisa menyampaikan berbagai keluhan/kritik/masukan/saran melalui aplikasi ini. Jangan hanya itu, kita juga bisa menyampaikan apresiasi kepada Jakarta melalui aplikasi ini. Informasi tambahan, saat ini Qlue tidak hanya beroperasi di Jakarta, warga kota Manado pun sudah dapat menggunakan aplikasi ini dengan adanya konsep Manado Smart City. Bahkan sebentar lagi kota Probolinggo dan Cilegon pun akan mengadopsi aplikasi ini. :”

Jadi?

Transformasi digital sedang dan akan terus terjadi dan kita berperan untuk menentukan transformasi seperti apa yang kita harapkan akan terjadi bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita, bahkan bagi kota dan bangsa kita. Kita perlu beradaptasi—ingat ya, beradaptasi—dengan transformasi ini. Jangan sampai transformasi digital hanya memberikan untung bagi pegiat bisnis saja, kita juga bisa mendapatkan manfaat melaluinya.

Advertisements

Selamat Pak Ahok!

Siang yang sangat terik itu menjadi puncak pemberian suara di pemilihan gubernur DKI Jakarta untuk periode jabatan 5 tahun ke depan. Saya sudah menggunakan hak pilih saya sebagai warga DKI Jakarta dan juga sudah mendoakan pilihan saya. Baru kali ini saya mendoakan–sungguh-sungguh mendoakan–calon pemimpin daerah di sepanjang hidup saya. Hal seperti ini tidak pernah terlalu saya pedulikan dulunya, sebelum Pak Jokowi dan Pak Ahok duduk di pemerintahan kota Jakarta sebagai gubernur & wakil gubernur.

Kali ini saya akan menyampaikan isi hati saya terkait Pak Ahok pasca kekalahannya di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Menyaksikan quick count dan menanti-nantikan hasilnya tidak pernah semendebarkan itu. Tidak pernah membuat saya se-lesu itu. Menjelang sore, saya melihat juga langit di luar agak murung. Tak lama kemudian ia menangis. Ah kebetulan yang menyayat hati. Saya sedih sekali. Benar-benar sedih sampai saya menangis mengetahui hasil QC yang menunjukkan kekalahan paslon 2 jagoan saya ini.

Saya mencoba berpikir positif di tengah lontaran-lontaran pertanyaan yang mucul di kepala saya akibat hasil QC tersebut. Apa ya maksud Tuhan mengizinkan kekalahan Pak Ahok ini terjadi? Tentu saya tidak punya jawabannya.

Saya hanya mengira-ngira: kondisi ini ada untuk menunjukkan beberapa hal yang ujungnya adalah kebaikan. Pertama, apakah paslon 3 akan berhasil membuat Jakarta lebih baik dengan cara-cara yang benar? Kedua, apakah kredibilitas paslon 3 akan teruji selama 5 tahun ke depan? Ketiga, apa rencana damai sejahtera yang Tuhan sedang siapkan untuk Pak Ahok?

Lima tahun ini pasti akan menjadi tahun-tahun yang membuat mata pendukung paslon 2 terbuka lebar, jika mereka adalah yang sungguh-sungguh ingin Jakarta lebih baik lagi. Akan ada banyak orang yang mengawasi jalannya kepemimpinan paslon 3. Saya melihat ini sebagai suatu kebaikan: titik tolak pedulinya warga Jakarta akan kota tempat tinggalnya.

Sekalipun semangat saya agak berkurang mengingat kekalahan jagoan saya, saya tetap bersyukur sudah mendapatkan banyak berkat melalui kepemimpinannya selama ini. Seperti ada suatu teladan baik yang dapat saya ikuti kebaikan-kebaikannya dalam berkontribusi bagi Jakarta.

Antusiasme warga DKI Jakarta akan pembangunan kotanya tidak boleh tidur. Matanya harus senantiasa mengawasi. Mulutnya tidak boleh nyinyir. Tidak usahlah lagi nyinyir soal DP-DP paslon 3 itu. (Mental-mental nyinyir ini bahaya banget, loh. Komen-komen kita akhirnya jadi mentok di emosi. Akhirnya minim diskusi yang esensial, minim solusi, dan ya habislah).

Saya setuju sama Pak Ahok bahwa tidak ada kekuasaan yang tanpa seizin Tuhan. Kalau saat ini paslon 3 telah unggul dan akan memimpin Jakarta, jadilah warga yang baik, yang juga tetap bekerja dan berdoa membantu pemerintahan mereka memajukan Jakarta. Doakan mereka agar tidak membawa kemunduran. Kritisi kinerjanya, kasih saran & masukan.

Ah, berat sekali ya mendoakan yang tidak didukung :”

Rencana Tuhan pasti indah untuk Pak Ahok. Orang sebagus beliau pasti bisa dipakai Tuhan dengan signifikan. Karena itu, selamat Pak Ahok! Ladang barumu sedang disiapkan Tuhan.

Selamat bekerja lagi!

Ini Jebakan

0d5e074b-3bd8-4aed-b870-d8382f177ee6
Source: dramafever.com

Cheese In The Trap adalah salah satu drama asal Korea yang dikemas dengan cerita yang tidak biasa (juga dengan ending yang tidak biasa). Tidak seperti drama-drama lain yang pernah saya tonton, ending drama ini bikin saya ingin menangis bahagia ketika di saat yang bersamaan juga ingin cakar-cakar layar laptop saya. Ah, salah satu ending yang bagus yang pernah saya tonton! Kamu pikir kamu masih akan melihat episode selanjutnya padahal itu adalah akhir dari seluruh drama.

Saya mendapat banyak pelajaran dari drama ini yang membuat saya termenung dan tersenyum. Tapi ada satu hal menarik yang saya dapat dari hampir seluruh drama yang saya tonton, termasuk drama ini: l a h a c i a.

Overall, saya suka sekali drama ini dan sedih kenapa harus berakhir secepat ini! :”)

Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

Berbagai pikiran muncul manakala melihat diri maupun orang lain tidak melakukan hal yang berkenan kepada Tuhan. Alih-alih menghakimi orang lain, saya terduduk diam, termenung-menung, menelisik diri sendiri, dan bertanya, “apa penyebabnya?”

Sudah sejak lama saya gelisah dan banyak berpikir apakah pertumbuhan rohani yang Tuhan sedang kerjakan mengalami hambatan karena dosa dan ketidaktaatan saya. Saya lalu terhenti pada ayat firman Tuhan pada Mazmur 1:1-3 yang berbunyi sebagai berikut:

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Dari 150 pasal di kitab Mazmur, pernyataan berkat atas mereka yang suka Firman Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam mengambil posisi pertama untuk disampaikan. Saya suka membayangkan betapa Allah ingin saya dan kamu mengingat hal ini dengan baik. Boro-boro bicara kasih, pengampunan, pengorbanan, dan sebagainya, kalau hal ini saja tidak beres, begitu pikir saya.

Sejak menyadari bisingnya dunia saat ini pun, saya jadi gelisah memikirkan bagaimana suara Tuhan dalam firman-Nya dapat tetap kita dengar dengan jelas. Karena kalau suara-Nya saja tidak jelas kita dengar, bagaimana kita bisa bilang bahwa kita suka pada firman-Nya itu? Lebih tidak masuk akal lagi kalau kita bilang kita bisa merenungkan firman itu siang dan malam.

Suka tanpa mendengar, merenung tanpa mendengar jelas, hm, saya meragukan kebenarannya.

Sekarang, saya akan fokus pada ayat 3 yang berkata, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” 

Ada 3 ciri orang yang suka firman Tuhan & merenungkannya siang dan malam:

  1. menghasilkan buahnya pada musimnya;
  2. tidak layu daunnya;
  3. apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Keren banget ngga, tuh?

Menghasilkan buah pada musimnya. Saya suka memikirkan buah seperti apa yang dimaksud di sini. Lalu saya teringat pada Galatia 5:22-23 yang menyampaikan tentang buah Roh.

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Orang ini pastilah orang yang kasihnya meluas, menembus lapisan sosial, agama, suku, dan ras apa pun yang ada. Pastilah dia dimampukan mengampuni orang yang bersalah sekalipun tidak pernah meminta maaf–bahkan tidak tahu bahwa ia salah–kepadanya. Dia bukanlah orang yang pemurung & tidak mampu bersyukur. Dalam kesehariannya, kondisi tidak enak tidak bisa merampas sukacita dan damai sejahtera yang dikerjakan Tuhan baginya. Meskipun ada orang-orang yang sangat membuatnya kesal, dia dimampukan untuk bersabar terhadap orang tersebut. Dia tidak pelit bantuan, entah materi atau pun non-materi, ketika dia memang bisa memberikannya. Dia berjuang untuk memberi pertolongan dan kebaikan bagi orang-orang yang memerlukannya. Sekalipun banyak alasan untuk membuatnya tidak setia, namun ia memilih setia, pada Tuhan dan pekerjaan baik yang disiapkan Tuhan baginya. Meski tampaknya taburan benih firman yang dikerjakannya belum berbuah, serta ia tidak tahu apakah dia bisa menuai/tidak, dia tetap setia. Dia tidak tenggelam dan larut dalam kesulitan yang ada, dia tetap berfokus pada Tuhan dan apa yang ingin dikerjakan Tuhan baginya. Kadangkala dia merasa sudah mencapai puncaknya dan ingin marah saja melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini (hehe), tetapi dia bisa menguasai diri dan tetap lemah lembut dalam berkata dan bertindak. Sekalipun bisa hidup dengan amburadul, dia memilih menguasai diri. Seperti itulah kira-kira buah yang terlihat dari mereka yang suka pada firman Tuhan serta yang merenungkannya siang dan malam. Tidak ada hukum yang menentang itu. Tidak ada pengadilan yang bisa memutus bersalah atas itu.

Tidak layu daunnya. Kalau membayangkan daun pada bagian ini adalah daun hijau yang memiliki klorofil, kita akan berbicara mengenai fotosintesis yang dilakukan di sana. Ini menarik karena melalui fotosintesis inilah terjadi transformasi air dan karbondioksida dengan pertolongan sinar matahari. Kalau tidak ada fotosintesis, tidak akan ada buah. Saya menghayati mereka yang suka firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam akan mengalami transformasi hidup–karena melalui itulah Roh Kudus dapat bekerja dengan optimal–sehingga orang ini pun berbuah. Mereka yang tidak layu daunnya, menurut saya adalah mereka yang terus mengandalkan Roh Kudus dalam setiap aspek hidupnya.

Apa saja yang diperbuatnya berhasil. Manis dan membangkitkan iman sekali, bukan? Orang ini tidak perlu mengejar keberhasilan; keberhasilan akan menjadi miliknya ketika dia meletakkan kesukaannya pada firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam. Ini tidak bisa dibalik karena kita juga mau meletakkan keberhasilan yang dimaksud sebagai keberhasilan yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Belum tentu mereka yang berhasil adalah berhasil dalam kehendak Tuhan. Iya, kan?

Karena itu, mari mengevaluasi diri sendiri. Sudahkah firman Tuhan menjadi kesukaan kita dan kita mau merenungkan firman itu siang dan malam?

Tambahan:
Persekutuan Besar Penilik yang diselenggarakan oleh Tim Pendamping Pelayanan Mahasiswa juga baru saja membahas mengenai bible movement. Kami menyusun Buku Acara yang di dalamnya terdapat 2 artikel yang membahas mengenai Disiplin Rohani dan Merenungkan Firman Tuhan Siang dan Malam. Silakan download di bawah ini, ya!
Buku Acara PB Penilik Maret 2017
Semoga menjadi berkat!

4995CCB9F53313CFBA768152C9B576B6

30-Day Social Media Detox

30-day-social-media-detox

Saya selalu membayangkan bagaimana hidup saya tanpa sosial media (baca: Twitter, Facebook, Instagram, Path, Snapchat). Saya selalu penasaran, apa yang akan terjadi di dalam diri saya (terutama) tanpa penggunaan sosial media tersebut. Percaya tidak percaya, sekalipun saya terbilang cukup aktif di sosial media, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati saya, saya lebih suka tidak menggunakan sosial media. Saya juga belum tahu pasti alasannya. Mungkin alasan terbesar saya adalah karena saya termasuk tipikal orang yang introvert. Alasan berikutnya mungkin karena saya tidak suka ‘dibaca’ oleh siapa pun. Cukup aneh, ya? Ya, saya rasa juga begitu. Maka dari itu, jika saya membagikan apa pun (dan dalam bentuk apa pun) ke sosial media, sebisa mungkin saya mengusahakan bahwa itu bukan tentang saya, atau yang bukan terutama tentang saya, melainkan apa yang saya pelajari, apa yang dilakukan orang kepada saya, apa yang Tuhan lakukan terhadap saya, untuk apa saya melakukan sesuatu, dan sebagainya; hal-hal yang saya pikir dapat memberi perspektif baru yang menginspirasi orang-orang. Sekalipun mau tidak mau, akan ada irisan-irisan ‘tentang saya’ di dalamnya. Seperti tulisan ini, hahaha.

Saya juga tidak terlalu suka berinteraksi di sosial media. Kalau ada di antara kalian yang pernah memerhatikan, kalian akan menemukan fakta bahwa saya jarang like post Instagram following saya, saya juga jarang view Instagram Story following saya, atau left sticker di update-an Path teman-teman saya–saya bahkan jarang menambah teman terlebih dahulu di sosial media apa pun yang saya punya. I prefer doing that after I feel I really close with someone, in real life. Saya tidak sedang ingin menganalisis apakah yang saya lakukan ini benar/salah, baik/tidak, ini hanyalah sebuah kenyataan tentang saya. Saya sering dibilang sombong karena kenyataan ini. -_-

Setelah beberapa hari berpikir, saya ingin mencoba tantangan ini–yang saya dapat ketika iseng-iseng googling dengan keyword “30 days without social media”–dan bertemu dengan sharing dari orang-orang yang pernah melakukan tantangan ini di “https://jasondoesstuff.com/social-media-detox/“, https://stevecorona.com/how-30-days-without-social-media-changed-my-life, dan https://www.elephantjournal.com/2015/08/i-quit-social-media-for-30-days-this-happened/. Saya tertarik dan memutuskan untuk melakukannya juga.

Saya berharap saya dapat belajar banyak hal dari detox ini. Satu hal yang menarik, saya akan mengganti waktu-waktu yang biasa saya lakukan untuk menggunakan sosial media dengan hal lain seperti membaca buku, melakukan pendalaman Alkitab, menelepon orang-orang terkasih, menikmati detik demi detik yang biasanya saya gunakan untuk scrolling down feeds sosial media saya dengan berdiam di hadapan Tuhan. Menikmati sesuatu dalam diam, kapan terakhir kali melakukan ini, ya?

Berdasarkan pengalaman saya dulu (saya pernah tidak menggunakan Path dan Twitter selama hampir setahun karena saya menghapus akun saya dan saya pernah tidak menggunakan Instagram selama sekitar 2 minggu dan sebulan), hal positif yang saya dapatkan adalah saya merasakan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata, hahaha. Terlebih karena, di masa-masa itu saya jadi lebih banyak membaca buku rohani, buku-buku lain kesukaan saya, serta artikel-artikel menarik lainnya, saya juga banyak melakukan pendalaman Alkitab, dan satu lagi, karena ketika itu saya juga sedang menghapus semua lagu di ponsel saya (ya, bahkan sampai sekarang saya hidup tanpa lagu apa pun di ponsel saya) dan saya mulai mencari lagu-lagu rohani baru, saya merasa ‘dipulihkan’ lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan atas suatu kondisi yang cukup menguras emosi pada masa itu. Memang saya juga kehilangan update tentang kehidupan teman-teman saya, tapi ya sudahlah. Saat itu saya memang memilih demikian.

Maka dari itu, ketika saya sedang dalam kondisi emosi yang saya rasa ‘cukup baik’ seperti saat ini, saya penasaran apa yang dapat dilakukan tantangan ini terhadap diri saya. Ah ya, saya juga sedang akan mengerjakan beberapa hal yang saya taruh sebagai prioritas saya selama sebulan ke depan, sehingga saya harap detox ini membantu saya untuk fokus pada apa yang harus saya kerjakan–dan tentunya bisa mendengar suara Tuhan dengan jelas tanpa gaungan notifikasi apa pun dari akun sosial media saya–karena waktu untuk berdiam di hadapan Tuhan yang saya nikmati di depan akan bertambah.

Semoga Tuhan beserta saya! 🙂

Persembahan Seorang Janda: Kemurahan Hati yang Melampaui Perpuluhan

poor-widow
Source: Pinterest

Saya hampir lupa kapan terakhir kali sharing hasil Pendalaman Alkitab tentang Tokoh Perempuan dalam Perjanjian Baru yang masih tersisa 7 bab lagi ini. Saya tidak tahu apakah saya harus minta maaf karena penundaan ini (seperti yang biasa dilakukan oleh beauty vlogger favorit saya kepada followers atau subscribers-nya) atau berhenti sok-sok terkenal dan langsung saja memulai sharing-nya.

Kalau begitu, saya meminta maaf sama diri sendiri saja karena sudah menunda-nunda pekerjaan baik ini.

Maafin ya, Beth.

Oke, Beth!


Baca Markus 12:38-44.

Cerita tentang Persembahan Janda Miskin adalah salah satu kisah yang sangat terkenal dalam kehidupan kekristenan umat manusia. Saya mendengarnya untuk pertama kali ketika saya masih sangat cilik dan belum gendut, tepatnya ketika saya berusia sekitar 7 tahun. Waktu itu saya merasa kagum ketika Tuhan Yesus memuji sikap si janda miskin dalam memberikan persembahannya–yang sempat membuat saya juga merasa bangga hanya dengan memberi 2 keping uang logam 100 rupiah (ceritanya saya sotoy itu sama dengan 2 peser di kisah Alkitab ini, huft) sewaktu sekolah minggu pada saat itu. Namanya juga anak kecil.

Malam ini saya mau share prinsip apa yang sebenarnya terdapat pada sikap janda miskin tersebut. Sebelum itu, bagi kalian semua yang lagi main ke blog ini, silakan ambil posisi paling enak, ambil cemilannya, ambil Alkitabnya, kemudian ambil buluh sebatang… potong sama panjang, raut dan ikat dengan benang, eh kok kita jadi main layang-layang ya…?

#maaf


Coba ingat dan renungkan kembali suatu waktu ketika seseorang yang kelihatannya lebih membutuhkan daripada kita (secara emosi, kerohanian, fisik, atau bahkan keuangan), tetapi sangat bermurah hati kepada kita! 


Pendalaman Alkitab ini dimulai dengan nasihat Yesus untuk berhati-hati terhadap para ahli Taurat. Ahli Taurat yang bagaimana? Mereka adalah para ahli Taurat yang:

  • suka berjalan-jalan memakai jubah panjang (ih kebayang deh, ini pasti jalannya sambil ngeletakin kedua tangan di belakang badan, lalu langkahnya pelan-pelan biar berwibawa gitu, terus tatapannya angkuh berasa abis juara olimpiade);
  • suka menerima penghormatan di pasar (lah yang begini pasti yang nunggu-nunggu disapa gitu deh, ngga mau nyapa duluan, pura-pura main hape);
  • suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan (bangku yang berada di depan tabut yang berisi gulungan, dan ((karena bangkunya menghadap ke orang-orang)) merupakan lokasi yang sangat diinginkan kalau memang mau dilihat orang);
  • menelan rumah janda-janda (maksudnya menggasak/mengganyang rumah janda-janda. Bagian ini mau ngejelasin bahwa selain sikap angkuh dan pamer di atas, ternyata moralitas mereka juga rusak);
  • mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang (salah satu penafsir berkata bahwa mereka pura-pura doa panjang-panjang supaya dikira sangat mengasihi Allah, padahal mereka kayak gitu supaya jemaat menyukai mereka).

Di bagian ini Tuhan Yesus mau mengingatkan bahwa para ahli Taurat tersebut tidak sedang memberikan teladan yang baik. Bukannya bertindak layaknya pelayan, mereka malah bertingkah seolah tuan. Motivasi mereka adalah kemuliaan diri mereka sendiri.

Membaca bagian ini membuat saya teringat akan bagian firman Tuhan yang lain dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi tentang nasihat untuk bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus:

“dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”

Filipi 2:3

Dengan melihat apa yang Yesus cela, kita dapat melihat nilai-nilai yang Yesus pegang. Dia berkata, mereka yang mencari status dan perhatian orang lain, melahap rumah janda-janda, dan berdoa hanya untuk pamer kerohanian, akan menerima hukuman yang lebih berat. Mereka menyukai kekuasaan, sementara Yesus menyalahkan sifat cinta kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan. Dia juga menyalahkan perbuatan pamer kesalehan mereka padahal dalam kenyataannya mereka menganiaya janda-janda. Kasihan banget ngga sih, para janda ini? Nggak heran kalau di dalam Alkitab, Tuhan sangat concern dengan nasib janda-janda; ternyata ada pihak-pihak yang memang memperlakukan mereka dengan tidak baik seperti para ahli Taurat ini.

Firman ini masih sangat relevan bagi dunia saat ini. Tidak terhitung sudah berapa kali kita sebenarnya sedang ‘berjalan-jalan memakai jubah panjang’ ala kita. Jubah panjang yang bisa berupa ambisi tidak sehat, perasaan benci tanpa alasan atas suatu hal, atau segala bentuk eksklusivisme yang kita bangun. Tidak terhitung sudah berapa kali kita mencari puji-pujian dari sesama kita dan merasa sangat ingin dihargai serta dipandang di masyarakat. Sadar atau tidak, jangan-jangan kita adalah ahli Taurat masa kini dengan beberapa penyesuaian terhadap budaya zaman saja. Ahli-ahli Taurat yang suka main Instagram dan Path, if you get what I mean. Untuk itu kita perlu memohon kepada Allah agar selalu sadar dan memercayai Dia untuk mengevaluasi motivasi kita yang salah. Rasa bertanggung jawab dan berdoa dengan orang lain dalam komunitas Kristen juga akan sangat menolong. Keterbukaan dan merasa hidup ini rapuh sama pentingnya dengan keinginan agar hidup kita termotivasi oleh nilai-nilai kekal Kerajaan Surga.

Terkait pesta demokrasi Jakarta yang sebentar lagi akan diadakan, saya rasa kita juga perlu mendoakan hal yang sama bagi calon gubernur yang akan memimpin ibukota negara ini ke depan. Kita perlu membangun awareness bahwa pilihan adalah bentuk keputusan yang diambil dalam kesadaran penuh–and that’s required pengenalan yang baik akan siapa yang kita pilih. Kita tentu tidak mau dipimpin oleh orang-orang yang cinta kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan, karena bukan masyarakat Jakarta yang akan dilayani, melainkan diri mereka sendiri. Kita juga perlu berdoa agar Tuhan menyatakan otoritas dan cinta-Nya untuk Jakarta dengan memberikan Jakarta pemimpin yang melayani rakyat dengan cara yang benar.

Selanjutnya kita membaca cerita tentang Yesus yang duduk di depan peti persembahan dan memerhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu; banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Di sinilah Yesus juga melihat janda miskin yang memasukkan 2 peser. Perempuan ini bukan hanya seorang janda, namun ia juga miskin. Mungkin itu terlihat jelas dari pakaiannya yang berbeda dengan orang-orang lain pada waktu itu–apalagi dari orang-orang kaya yang memberi banyak itu.

Berbeda dengan kita yang kalau kepo ngga tau mau diapakan hasil keponya, Yesus langsung memanggil murid-murid-Nya dan memberikan suatu pengajaran kepada mereka.

Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Markus 12:43-44

Kisah ahli-ahli Taurat di atas dan janda yang miskin ini memiliki kesamaan. Dalam kisah yang pertama, kita melihat bagaimana para pemimpin yang seharusnya memberi perhatian bagi kebutuhan orang banyak dan memberikan diri untuk memenuhinya, malahan mengambil dari orang miskin untuk kekayaan pribadi dan lebih terobsesi dengan kekayaan, kekuasaan, dan jabatan daripada melayani. Dalam kisah janda ini, kita melihat bahwa perkara memberi berkaitan dengan kepemilikan harta pribadi. Kedua cerita ini berkaitan dengan memberi dan motivasi dalam memberi. Keduanya juga berkaitan dengan hidup berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah, atau sebaliknya, menolak nilai-nilai tersebut. 

Salah satu artikel di desiringgod.com mengatakan:

One way to paraphrase this story would be to say, “The rich took no risk with their money for the cause of God, but the widow did.”

Now why did Jesus point this out? And why did Luke think the story important enough to record it for us? I think the reason is simple: Jesus wants his people to take risks with their money for the cause of God.

When we give our offerings, does it feel risky? 

Mungkin akan ada saat di mana memberi tidak membuat kita merasa ‘kesusahan’, tapi ada juga saat di mana ketika memberi rasanya sulit karena kita pun tidak punya banyak. Saya yakin saat ini Tuhan Yesus sedang mengajarkan sikap hati yang berani memberi dari keterbatasan kita–selama itu adalah apa yang kita miliki, tentunya.

Aplikasinya tidak hanya berkaitan dengan uang, uang, dan uang. Waktu juga bisa, misalnya.

Tahun 2016 adalah tahun di mana Tuhan menganugerahkan saya beberapa pelayanan yang membuat hampir semua weekends saya diisi dengan kegiatan pelayanan tersebut. Saya sangat bersyukur karena memang itulah yang saya doakan pada tahun 2015 ketika saya berada di penghujung tahun. Jujur saja, saya mengalami kelelahan dan ada beberapa hal yang belum bisa saya lakukan karena komitmen pelayanan tersebut. Itu sempat membuat saya berpikir apakah tahun ini saya masih akan mengambil kesempatan pelayanan demi pelayanan yang Tuhan sudah siapkan bagi saya atau tidak. Saya mempertimbangkan beberapa hal yang mostly berkaitan dengan karir dan cita-cita saya…

…sampai kemudian firman ini menampar saya–seolah sedang berkata bahwa saya sudah terlalu GR bahwa Tuhan masih akan mempercayakan pelayanan-Nya bagi saya, itu yang pertama–sehingga saya sok-sok-an langsung curi start untuk berpikir akankah saya mengambil kesempatan itu/tidak. Kedua, firman ini mengajarkan saya untuk memberi waktu saya bagi Tuhan, sekalipun rasanya itu beresiko bahwa saya akan kelelahan lagi dan sulit membagi waktu untuk mengejar cita-cita saya, dan bahkan keluarga saya. Tetapi harusnya saya melihatnya dari perspektif lain. Melayani adalah panggilan hidup setiap orang Kristen–dan melayani dalam pelayanan kristiani adalah panggilan dan janji saya kepada Tuhan jika Dia memberi saya kesempatan untuk berkuliah di UI. Saya tidak berniat untuk meninggalkan apa yang sudah menjadi bagian dari jiwa saya ini. Lalu apa? Hal yang saya harus pelajari adalah bagaimana menjadi perempuan yang berhikmat dalam hidup–khususnya dalam hal time and energy management. 

Saya percaya Tuhan tidak meminta apa yang tidak kita punya–kalau Dia meminta, dan itu yang kita imani, kita mesti percaya juga bahwa pasti ada sesuatu yang kita miliki untuk kita berikan. Maka dari itu, hal memberi dengan motivasi yang benar ini tidak pernah terlepas dari hal mengetahui kehendak Allah. Janda miskin tersebut tahu bahwa Allah mengkehendaki persembahan yang demikian–yang berangkat dari hati yang tulus dan keberserahan penuh kepada Allah (doi pasti yakin Allah akan mencukupkan dia, karena kalau ngga, pasti dia ngga akan mau ngasih dari kekurangannya), maka dia memberi. Dia tahu bahwa Allah yang memeliharanya adalah Pribadi yang murah hati, maka dia pun meneladani-Nya dengan juga bermurah hati. Sedangkan si ahli-ahli Taurat, memiliki banyak–setidaknya lebih banyak dari janda miskin ini, namun masih saja melahap bagian orang lain.


See? 

Giving is not just a state of mind–it’s an action. 

And to remind us, it’s more blessed to give than to receive. (Acts 20:35).

Selamat memberi dengan murah hati!

Gemerlap Natal di Sedihnya Dunia

Aku memulai Desember tahun ini dengan melakukan daily challenge bertagar #capturingdecemberchallenge di Instagram. Aku punya panduannya dari akun Instagram salah satu temanku.

Jujur, sampai hari ke-29 ini, kebanyakan postingan tersebut merepresentasikan Desember yang penuh dengan ornamen dan tradisi Natal. Indah-indah sekali dipandang mata manusia. Kelap-kelip cahaya pohon natal memenuhi feed Instagramku. Pokoknya begitulah.

Beberapa hari menjelang tanggal 25 pun aku sudah menemukan berbagai foto perayaan Natal orang-orang yang dilakukan di hotel-hotel berbintang kejora, restoran-restoran mahal, dengan dress code dan bando-bando rusa. Aku pun termasuk yang melakukan foto-foto berbando rusa tersebut bersama AKK-ku, meski memang kemarin tujuannya bukan ‘merayakan Natal’.

Jujur, beberapa selebrasi Natal yang kuikuti lebih membuatku merenung daripada bersorak.

Tuker kado, is it wrong? Enggak juga. Tetapi apakah sudah memberikan ‘kado’ kepada bayi kudus yang lahir itu? Jika tuker kado adalah respon orang-orang yang telah menyadari ‘kado’ yang Tuhan kasih buat mereka, sehingga mereka rindu membagikan ‘kado’ juga buat sesama, aku lebih setuju itu.

Makan-makan besar, di hotel berbintang kejora (hehe) atau restoran-restoran heboh yang mengakomodir kepentingan #makancantik kita, bagaimana? Perenungannya, apakah setiap harinya sudah datang ke roti hidup itu dan sungguh-sungguh percaya kepada-Nya?

Bagiku secara pribadi dan sebutlah aku ‘kuno’, kalau benar-benar menghayati makna Natal yang sesungguhnya, kita nggak akan merayakannya dengan hedonisme dan narsisme (atau isme-isme lain yang tidak sejalan dengan makna Natal tersebut). Ya kalaupun tetap ada perwujudannya, semoga itu berdasar pada suatu pertimbangan teknis dan logis sehingga isme-isme tersebut tidak sedang menjadi paham yang mendasari perayaan kita. Pertimbangan esensinya tetap terpaut pada ‘bagaimana kita bisa menghayati kelahiran Yesus dengan baik dan memiliki iman serta komitmen nyata atasnya’.

Semacam itulah, ribet juga ngejelasinnya. (Butuh kebijaksanaan tingkat tinggi untuk hal-hal praktis kayak gini).

Intinya, dunia ini sangat gemerlap dengan perayaannya; aku pun tetap mensyukuri itu, karena setidaknya, di dalam keterbatasan kita, ada suatu kesadaran tentang bayi yang lahir ke dunia tersebut. Itu bisa jadi titik awal menuju pembaharuan/kedalaman makna selanjutnya.

Kupikir semuanya baik-baik saja sampai aku mendengar berita pembunuhan di Pulomas dan cerita hari ini, tentang teman lamaku yang mengucapkan selamat Natal namun tidak ber-Natal di hatinya.

Sebenarnya tidak pernah baik-baik saja, sih. Aku ingat peristiwa dugaan penistaan agama sampai saling menista sesama yang dilakukan penduduk dunia ini. (Aku heran, agama itu sesuatu yang ‘abstrak’ kan, tetapi kenapa dia seolah-olah lebih ‘dihargai’ daripada manusia-manusia pemeluknya yang jelas-jelas ‘nyata’ di depan mata seperti ini?)

Listrik dan lampu sudah ditemukan, tetapi kita masih saja tidak melihat. Hehe.

Benarlah bahwa diperlukan mata iman untuk bisa benar-benar melihat. Tidak kabur, tidak pilih kasih, tidak salah.

Dunia ini sedang sangat-sangat bersedih, aku bisa merasakan itu. Kekacauan di berbagai belahan bumi, luka di segala penjuru hati, tangis di negeri, dan ketiadaan kasih kian merajai.

Apakah kita yang merayakannya dengan gemerlap ini mampu melihat dan memberi hati untuk itu? 

Tidak mudah memadukan ‘sukacita’ dan ‘pengendalian diri’ di saat bersamaan, padahal keduanya adalah buah Roh. Maksudnya, tidak mudah untuk merayakan sukacita Natal ini dengan pengendalian diri yang tepat terhadap bagaimana cara merayakannya.

Selama segala sesuatunya dilakukan seperti untuk Tuhan, aku yakin…

Nggak akan berfokus pada baju dan sepatu baru,

Nggak akan berfokus pada make-up christmas tutorial terbaru,

Nggak akan berfokus pada mesti makan di mana,

Karena Tuhan mau lihat hati kita yang pertama; karena dari hati terpancar kehidupan kita.

Maybe our hearts really long for sparks so we celebrate His birth with lots of sparks; it explains much, no?

Apalagi di era digital saat ini yang mana seakan memaksa kita untuk menjadi live, menjadi online, sampai-sampai kita lupa untuk benar-benar ‘hadir’ saat merayakan kelahiran-Nya di dunia. 

Orang majus dan para gembala zaman dulu pastilah menikmati dengan maksimal gegap-gempita sesungguhnya dari kelahiran Sang Bayi itu. Ada takjub, haru, bahagia, takut, di saat bersamaan.

Untunglah mereka ngga punya Instagram atau Path dan ngga sibuk share ke sana. 

Hm, perenungan-perenungan ini yang muncul saat menghayati Natal tahun ini. Aku mesti menjaga hatiku dengan segala kewaspadaan agar aku tidak larut dalam definisi Natal dunia ini, atau definisi-definisi dunia lainnya.

Tuhan, ampunilah sikap hati dan caraku yang salah dalam menyambut hadir-Mu di dunia ini.