Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Aliran Air

Berbagai pikiran muncul manakala melihat diri maupun orang lain tidak melakukan hal yang berkenan kepada Tuhan. Alih-alih menghakimi orang lain, saya terduduk diam, termenung-menung, menelisik diri sendiri, dan bertanya, “apa penyebabnya?”

Sudah sejak lama saya gelisah dan banyak berpikir apakah pertumbuhan rohani yang Tuhan sedang kerjakan mengalami hambatan karena dosa dan ketidaktaatan saya. Saya lalu terhenti pada ayat firman Tuhan pada Mazmur 1:1-3 yang berbunyi sebagai berikut:

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Dari 150 pasal di kitab Mazmur, pernyataan berkat atas mereka yang suka Firman Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam mengambil posisi pertama untuk disampaikan. Saya suka membayangkan betapa Allah ingin saya dan kamu mengingat hal ini dengan baik. Boro-boro bicara kasih, pengampunan, pengorbanan, dan sebagainya, kalau hal ini saja tidak beres, begitu pikir saya.

Sejak menyadari bisingnya dunia saat ini pun, saya jadi gelisah memikirkan bagaimana suara Tuhan dalam firman-Nya dapat tetap kita dengar dengan jelas. Karena kalau suara-Nya saja tidak jelas kita dengar, bagaimana kita bisa bilang bahwa kita suka pada firman-Nya itu? Lebih tidak masuk akal lagi kalau kita bilang kita bisa merenungkan firman itu siang dan malam.

Suka tanpa mendengar, merenung tanpa mendengar jelas, hm, saya meragukan kebenarannya.

Sekarang, saya akan fokus pada ayat 3 yang berkata, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” 

Ada 3 ciri orang yang suka firman Tuhan & merenungkannya siang dan malam:

  1. menghasilkan buahnya pada musimnya;
  2. tidak layu daunnya;
  3. apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Keren banget ngga, tuh?

Menghasilkan buah pada musimnya. Saya suka memikirkan buah seperti apa yang dimaksud di sini. Lalu saya teringat pada Galatia 5:22-23 yang menyampaikan tentang buah Roh.

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.  Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Orang ini pastilah orang yang kasihnya meluas, menembus lapisan sosial, agama, suku, dan ras apa pun yang ada. Pastilah dia dimampukan mengampuni orang yang bersalah sekalipun tidak pernah meminta maaf–bahkan tidak tahu bahwa ia salah–kepadanya. Dia bukanlah orang yang pemurung & tidak mampu bersyukur. Dalam kesehariannya, kondisi tidak enak tidak bisa merampas sukacita dan damai sejahtera yang dikerjakan Tuhan baginya. Meskipun ada orang-orang yang sangat membuatnya kesal, dia dimampukan untuk bersabar terhadap orang tersebut. Dia tidak pelit bantuan, entah materi atau pun non-materi, ketika dia memang bisa memberikannya. Dia berjuang untuk memberi pertolongan dan kebaikan bagi orang-orang yang memerlukannya. Sekalipun banyak alasan untuk membuatnya tidak setia, namun ia memilih setia, pada Tuhan dan pekerjaan baik yang disiapkan Tuhan baginya. Meski tampaknya taburan benih firman yang dikerjakannya belum berbuah, serta ia tidak tahu apakah dia bisa menuai/tidak, dia tetap setia. Dia tidak tenggelam dan larut dalam kesulitan yang ada, dia tetap berfokus pada Tuhan dan apa yang ingin dikerjakan Tuhan baginya. Kadangkala dia merasa sudah mencapai puncaknya dan ingin marah saja melampiaskan tapi kuhanyalah sendiri di sini (hehe), tetapi dia bisa menguasai diri dan tetap lemah lembut dalam berkata dan bertindak. Sekalipun bisa hidup dengan amburadul, dia memilih menguasai diri. Seperti itulah kira-kira buah yang terlihat dari mereka yang suka pada firman Tuhan serta yang merenungkannya siang dan malam. Tidak ada hukum yang menentang itu. Tidak ada pengadilan yang bisa memutus bersalah atas itu.

Tidak layu daunnya. Kalau membayangkan daun pada bagian ini adalah daun hijau yang memiliki klorofil, kita akan berbicara mengenai fotosintesis yang dilakukan di sana. Ini menarik karena melalui fotosintesis inilah terjadi transformasi air dan karbondioksida dengan pertolongan sinar matahari. Kalau tidak ada fotosintesis, tidak akan ada buah. Saya menghayati mereka yang suka firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam akan mengalami transformasi hidup–karena melalui itulah Roh Kudus dapat bekerja dengan optimal–sehingga orang ini pun berbuah. Mereka yang tidak layu daunnya, menurut saya adalah mereka yang terus mengandalkan Roh Kudus dalam setiap aspek hidupnya.

Apa saja yang diperbuatnya berhasil. Manis dan membangkitkan iman sekali, bukan? Orang ini tidak perlu mengejar keberhasilan; keberhasilan akan menjadi miliknya ketika dia meletakkan kesukaannya pada firman Tuhan dan merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam. Ini tidak bisa dibalik karena kita juga mau meletakkan keberhasilan yang dimaksud sebagai keberhasilan yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Belum tentu mereka yang berhasil adalah berhasil dalam kehendak Tuhan. Iya, kan?

Karena itu, mari mengevaluasi diri sendiri. Sudahkah firman Tuhan menjadi kesukaan kita dan kita mau merenungkan firman itu siang dan malam?

Tambahan:
Persekutuan Besar Penilik yang diselenggarakan oleh Tim Pendamping Pelayanan Mahasiswa juga baru saja membahas mengenai bible movement. Kami menyusun Buku Acara yang di dalamnya terdapat 2 artikel yang membahas mengenai Disiplin Rohani dan Merenungkan Firman Tuhan Siang dan Malam. Silakan download di bawah ini, ya!
Buku Acara PB Penilik Maret 2017
Semoga menjadi berkat!

4995CCB9F53313CFBA768152C9B576B6

30-Day Social Media Detox

30-day-social-media-detox

Saya selalu membayangkan bagaimana hidup saya tanpa sosial media (baca: Twitter, Facebook, Instagram, Path, Snapchat). Saya selalu penasaran, apa yang akan terjadi di dalam diri saya (terutama) tanpa penggunaan sosial media tersebut. Percaya tidak percaya, sekalipun saya terbilang cukup aktif di sosial media, sebenarnya jauh di dalam lubuk hati saya, saya lebih suka tidak menggunakan sosial media. Saya juga belum tahu pasti alasannya. Mungkin alasan terbesar saya adalah karena saya termasuk tipikal orang yang introvert. Alasan berikutnya mungkin karena saya tidak suka ‘dibaca’ oleh siapa pun. Cukup aneh, ya? Ya, saya rasa juga begitu. Maka dari itu, jika saya membagikan apa pun (dan dalam bentuk apa pun) ke sosial media, sebisa mungkin saya mengusahakan bahwa itu bukan tentang saya, atau yang bukan terutama tentang saya, melainkan apa yang saya pelajari, apa yang dilakukan orang kepada saya, apa yang Tuhan lakukan terhadap saya, untuk apa saya melakukan sesuatu, dan sebagainya; hal-hal yang saya pikir dapat memberi perspektif baru yang menginspirasi orang-orang. Sekalipun mau tidak mau, akan ada irisan-irisan ‘tentang saya’ di dalamnya. Seperti tulisan ini, hahaha.

Saya juga tidak terlalu suka berinteraksi di sosial media. Kalau ada di antara kalian yang pernah memerhatikan, kalian akan menemukan fakta bahwa saya jarang like post Instagram following saya, saya juga jarang view Instagram Story following saya, atau left sticker di update-an Path teman-teman saya–saya bahkan jarang menambah teman terlebih dahulu di sosial media apa pun yang saya punya. I prefer doing that after I feel I really close with someone, in real life. Saya tidak sedang ingin menganalisis apakah yang saya lakukan ini benar/salah, baik/tidak, ini hanyalah sebuah kenyataan tentang saya. Saya sering dibilang sombong karena kenyataan ini. -_-

Setelah beberapa hari berpikir, saya ingin mencoba tantangan ini–yang saya dapat ketika iseng-iseng googling dengan keyword “30 days without social media”–dan bertemu dengan sharing dari orang-orang yang pernah melakukan tantangan ini di “https://jasondoesstuff.com/social-media-detox/“, https://stevecorona.com/how-30-days-without-social-media-changed-my-life, dan https://www.elephantjournal.com/2015/08/i-quit-social-media-for-30-days-this-happened/. Saya tertarik dan memutuskan untuk melakukannya juga.

Saya berharap saya dapat belajar banyak hal dari detox ini. Satu hal yang menarik, saya akan mengganti waktu-waktu yang biasa saya lakukan untuk menggunakan sosial media dengan hal lain seperti membaca buku, melakukan pendalaman Alkitab, menelepon orang-orang terkasih, menikmati detik demi detik yang biasanya saya gunakan untuk scrolling down feeds sosial media saya dengan berdiam di hadapan Tuhan. Menikmati sesuatu dalam diam, kapan terakhir kali melakukan ini, ya?

Berdasarkan pengalaman saya dulu (saya pernah tidak menggunakan Path dan Twitter selama hampir setahun karena saya menghapus akun saya dan saya pernah tidak menggunakan Instagram selama sekitar 2 minggu dan sebulan), hal positif yang saya dapatkan adalah saya merasakan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata, hahaha. Terlebih karena, di masa-masa itu saya jadi lebih banyak membaca buku rohani, buku-buku lain kesukaan saya, serta artikel-artikel menarik lainnya, saya juga banyak melakukan pendalaman Alkitab, dan satu lagi, karena ketika itu saya juga sedang menghapus semua lagu di ponsel saya (ya, bahkan sampai sekarang saya hidup tanpa lagu apa pun di ponsel saya) dan saya mulai mencari lagu-lagu rohani baru, saya merasa ‘dipulihkan’ lebih cepat dari yang bisa saya bayangkan atas suatu kondisi yang cukup menguras emosi pada masa itu. Memang saya juga kehilangan update tentang kehidupan teman-teman saya, tapi ya sudahlah. Saat itu saya memang memilih demikian.

Maka dari itu, ketika saya sedang dalam kondisi emosi yang saya rasa ‘cukup baik’ seperti saat ini, saya penasaran apa yang dapat dilakukan tantangan ini terhadap diri saya. Ah ya, saya juga sedang akan mengerjakan beberapa hal yang saya taruh sebagai prioritas saya selama sebulan ke depan, sehingga saya harap detox ini membantu saya untuk fokus pada apa yang harus saya kerjakan–dan tentunya bisa mendengar suara Tuhan dengan jelas tanpa gaungan notifikasi apa pun dari akun sosial media saya–karena waktu untuk berdiam di hadapan Tuhan yang saya nikmati di depan akan bertambah.

Semoga Tuhan beserta saya! 🙂

A Review: Lima Bulan bareng POJK 32/POJK.04/2015

Gue adalah orang bodoh. Gue sadar betul akan hal itu, terkhusus selama 5 bulan ke belakang ketika gue ditunjuk sebagai kapten (aku seorang kapiten mempunyai pedang panjang~) untuk proyek right issue suatu perusahaan terbuka. Bahkan gue sangat tidak familiar dengan apa itu right issue. Apakah itu semacam isu hak? #jeng

Gue mau curhat sedikit. Biasanya kalo gue bilang sedikit, temen-temen gue langsung pasang stopwatch sih. Karena menurut mereka itu hanyalah fiktif belaka ketika gue bilang mau curhat sedikit.

Ya, jadi begini. Waktu gue kuliah dulu, gue pernah ambil mata kuliah Hukum Pasar Modal yang entah kenapa bisa-bisanya digabung dengan Hukum Investasi. Gue excited untuk ambil matkul ini karena menurut gue di sanalah letak kehukuman gue sesungguhnya. Namun apa hendak dikata, gue nggak ngerti banyak hal dari matkul yang bersangkutan. Gue nggak mau nyalahin apa pun kecuali diri gue yang tidak berusaha menerobos sistem dan malah tenang dan cukup dengan pemasukan ilmu yang gue terima. Alhasil, gue hampir pindah negara waktu gue kelar ujian akhir semester Pasar Modal karena gue nggak ngerti apa yang barusan gue jawab. Bayangin, jawabannya aja gue bingung, apalagi pertanyaannya? Imagine that. Gue ngeri.

Waktu itu nilai gue B+ dan itu rasanya kayak magic. Gue pengen langsung nyanyi lagu Rude waktu itu. Gue pasti tampak sangat biasa aja dibanding temen-temen seangkatan gue yang udah malang-melintang di dunia Pasar Modal dan mungkin saat itu mereka sedang protes keras kenapa mereka bisa-bisanya dapet A-.

Oke, sebelum berhadapan dengan right issue ini, gue berurusan dengan IPO (Initial Public Offering) yang secara ajaib tampak sangat nyata dibanding dulu ketika gue kuliah. Bagi gue dulu, IPO itu hanya soal mau ngubah perusahaan tertutup jadi perusahaan terbuka. Tapi gue ngga tau kuncinya di mana dan gimana ngebukanya. Stupid.

Right issue yang gue maksud di sini adalah nama keren dari penawaran umum terbatas (PUT) dengan HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu).

Iya, gue udah bilang gue bodoh dan karena gue nggak mau tetap bodoh, gue memutuskan untuk merangkum beberapa hal penting terkait hubungan gue dengan POJK 32/POJK.04/2015 yang udah berlangsung selama 5 bulan ke belakang. Gue bener-bener berharap, gue nggak stupid lagi dan bisa expert dalam memahami POJK 32/2015 ini. Setidaknya buat gue dululah.

POJK 32/POJK.04/2015 adalah peraturan yang dipakai untuk melaksanakan penambahan modal perusahaan terbuka dengan memberikan HMETD. Kegiatan ini terbatas pada perusahaan-perusahaan yang sudah melakukan penawaran umum (public offering) saja sehingga efek yang dapat dipesan terlebih dahulu yang dimaksud terjadi bagi para pemegang saham yang sudah ada dan yang baru (pembeli siaga atau standby buyer) yang akan membeli sisa efek setelah dipesan oleh pemegang saham lama.

Secara hukum, right issue adalah hak yang melekat pada saham yang memberi kesempatan pemegang saham yang bersangkutan untuk membeli saham dan/atau Efek Bersifat Ekuitas lainnya baik yang dapat dikonversikan menjadi saham atau yang memberikan hak untuk membeli saham, sebelum ditawarkan kepada pihak lain (Pasal 1 angka 1 POJK 32/2015).

Right Issue bisa dilakukan baik dalam setiap klasifikasi saham secara proporsional, maupun hanya pada 1 klasifikasi saham. Juga, pada semua klasifikasi saham namun tidak proporsional atau dilakukan melalui Penawaran Umum atas Efek Bersifat Ekuitas lain, baik yang dapat dikonversi menjadi saham maupun yang memberikan hak untuk membeli saham. Kedua cara ini harus memperoleh persetujuan dari pemegang saham mayoritas dari masing-masing klasifikasi saham yang mengalami penambahan modal. Dalam proyek kemarin, perusahaan yang gue handle hanya melakukan penambahan modal pada 1 klasifikasi saham saja, sehingga menurut pasal 5 POJK 32/2015, pemegang saham wajib diberi HMETD sesuai dengan persentase kepemilikan sahamnya dalam Perusahaan Terbuka tersebut.

Oke, sekarang kita masuk ke persyaratan penambahan modalnya.

Pertama-tama, perusahaan wajib mengadakan RUPS dengan agenda persetujuan penambahan modal dengan memberikan HMETD, termasuk pada klasifikasi saham mana penambahan tersebut akan dilakukan. Berdasarkan pengalaman gue, konsultan hukum akan selalu diminta untuk me-review pengadaan RUPS ini mulai dari pemanggilan, agendanya, sampai ketika akta RUPS-nya udah jadi. Bagaimana pun lo kan sarjana hukum, lo dianggap yang paling bener untuk ngecek apakah pengadaan RUPS ini udah sesuai dengan peraturan yang ada. Untuk perusahaan terbuka lo mesti cek ke POJK tentang Rencana dan Penyelenggaraan RUPS nomor 32/POJK.04/2014. Mudah diinget ya, cuma beda tahun sama POJK HMETD. #penting

Karena dalam right issue menggunakan peraturan yang baru banget diberlakukan pada 22 Desember 2015 kemarin, mungkin beberapa orang masih belum ngeh soal RUPS ini. Sebelum peraturan ini diberlakukan, yakni ketika peraturan yang dipakai masih Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-26/PM/2003 tentang HMETD beserta peraturan nomor IX.D.1 yang merupakan lampirannya, dan Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-08/PM/2000 tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Pernyataan Pendaftaran dalam Rangka Penerbitan HMETD beserta Peraturan Nomor IX.D.2 yang merupakan lampirannya, *hosh* *capek* RUPS dilakukan setelah proses pernyataan pendaftaran ke OJK, sedangkan saat ini, RUPS dapat dilakukan terlebih dahulu baru kemudian diajukan pernyataan pendaftaran ke OJK (Pasal 8 POJK 32/2015). Perubahan mekanisme RUPS ini membuat proses penambahan modal dengan HMETD menjadi lebih fleksibel, sebab, RUPS tidak perlu menunggu-nunggu sampai pernyataan pendaftaran (biasa disebut registrasi) dinyatakan efektif. Dengan demikian, semua proses bisa berjalan secara parallel tanpa harus saling menunggu. Ngadain RUPS lumayan gede juga sih biayanya, apalagi kalau udah diadakan di hotel berbintang lima. Belum lagi kalau misalnya diundur karena proses registrasi yang belum selesai, berarti harus ubah lagi mengenai surat pemberitahuan dan pemanggilan kepada pemegang sahamnya.

Jangka waktu antara tanggal persetujuan RUPS sebagaimana POJK 32/2015 ini sampai dengan efektifnya registrasi OJK tidak adalah 12 bulan (Pasal 8 POJK 32/2015). Jadi jangan bikin RUPS hari ini terus berniat efektif 4 tahun lagi. Emang kuliah…

Perlu dipastikan juga penyetoran saham yang mau ditambahkan sebagai modal tersebut akan dilakukan dalam bentuk apa: bisa dalam bentuk uang, bisa juga dalam bentuk selain dari uang, yang penting terkait dengan penggunaan dana. Apa itu penggunaan dana? Simply, untuk apa penambahan modal dengan memberikan HMETD tersebut dilakukan. Jangan lupa juga jika melakukan penyetoran saham dalam bentuk selain uang, berarti diperlukan Penilai (KJPP) untuk menentukan berapa nilai wajar dari bentuk tersebut, yang mana harus dinilai pada 6 bulan sebelum dilakukannya penyetoran saham dimaksud (Pasal 9 POJK 32/2015). Jangan lupa juga harus disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang mengatur bentuk lain selain uang tersebut. Hal ini penting karena dalam Opini Hukum nanti, OJK mengkehendaki agar Konsultan Hukum memberikan pendapat mengenai bentuk penyetoran saham dalam penambahan modal dengan memberikan HMETD ini.

Sekarang kita akan bicara mengenai penggunaan dana yang sempat disinggung tadi, untung dia nggak tersinggung. Kebanyakan perusahaan akan menggunakan dana hasil penambahan modal dengan memberikan HMETD ini untuk menambah modalnya sendiri atau untuk menambah modal di anak-anak perusahaannya. Emang rata-rata yang ngelakuin aksi korporasi ini bertujuan untuk ‘menyelamatkan’ perekonomian perusahaannya sih. Kalau penggunaan dananya digunakan untuk suatu transaksi yang berafiliasi, maka perusahaan terbuka wajib memenuhi ketentuan POJK dan peraturan perundang-undangan di sektor Pasar Modal yang mengatur mengenai Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu (Pasal 13 POJK 32/2015). Sama halnya dengan ketika penggunaan dana tersebut untuk suatu transaksi yang material, maka perusahaan perlu tunduk kepada peraturan perundang-undangan di sektor pasar modal yang mengatur mengenai Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.

Lo perlu ngecek, apa yang jadi kegiatan usaha utama perusahaan terbuka yang mau right issue. Kalo ternyata transaksi tersebut sama dengan kegiatan usaha utama perusahaan terbuka, maka lo akan mendapat berbagai pengecualian. Contohnya, lo nggak perlu minta persetujuan RUPS atas transaksi afiliasi dan material terkait penggunaan dana lo. Loop-hole-nya, POJK belum mengatur apa yang harus dilakukan ketika RUPS tetap dilakukan . Let’s say lo udah minta persetujuan RUPS karena lo nggak perhatiin ketentuan pengecualian itu, terus proses registrasi juga udah berjalan. Lantas bagaimana? Mungkin ngga terlalu bermasalah kalo jangka waktu laporan keuangan yang dipake dan tanggal efektif masih jauh dari 6 bulan (bandingkan Pasal 19 huruf I POJK 32/2015). Maksudya, lo masih punya banyak waktu untuk batalin RUPS kemarin dan bikin RUPS baru. Intinya, masih ada kekurangan dari POJK ini. Ngga ada yang sempurna di dunia ini.

Hal yang nggak kalah penting untuk diperhatikan adalah mengenai Keterbukaan Informasi (disclosure). Sebenernya lo akan bekerjasama juga sih dengan profesi penunjang lain seperti Financial Advisor dan KJPP dalam membuat Keterbukaan Informasi. Oh iya, KI ini dilakukan di RUPS ya. Lo bisa lihat apa aja prinsip keterbukaan dalam Pasal 15 POJK 32/2015. Dalam hal ini biasanya lo akan diminta untuk review kembali pengumuman KI yang dimaksud yang nantinya akan dilakukan paling sedikit melalui 1 surat kabar harian berbahasa Indonesia atau Situs Web Bursa Efek, dan situs Web Perusahaan Terbuka. Yang perlu lo perhatiin adalah, apakah prinsip-prinsip keterbukaan sudah dicantumkan, apakah hal-hal material terkait penambahan modal dengan memberikan HMETD ini sudah dicantumkan, atau apakah ada informasi-informasi khusus yang berdampak bagi pemegang saham atas transaksi ini yang perlu diketahui oleh mereka. Jangan lupa cek juga redaksi katanya, pilihlah bahasa yang baku, hukum, dan akademis. Ini penting mengingat jarang sekali orang memerhatikan hal seperti itu.

Selanjutnya mengenai pernyataan pendaftaran (registrasi OJK). Sepengelaman gue, ada 3 kali proses registrasi ke OJK sampai akhirnya final untuk dinyatakan efektif. Yang perlu disampaikan dalam registrasi OJK ini adalah surat pengantar pernyataan pendaftaran (formatnya ada di Lampiran POJK 32/2015), prospektus, dan dokumen lain sebagai bagian dari pernyataan pendaftaran. Nah, di sinilah letak dokumen yang lo siapkan sebagai Konsultan Hukum. Lo harus mempersiapkan dokumen Legal Audit dan Legal Opinion serta akta-akta dan dokumen-dokumen penting yang mendukung isi audit dan opini lo. Lo nggak boleh skip bagian ini dan lo perlu baca semua yang dikasih perusahaan ke lo. Lo harus rajin update pending document karena biasanya perusahaan tuh kalo ngga di-push bisa ngga gencar gitu untuk kasih dokumen-dokumen mereka. Kita juga akan terhambat mau bikin audit dan opini. Dalam meng-audit dan membuat opini, lo harus selalu mencantumkan peraturan hukum mana yang lo pakai sebagai dasar. Karena lo nggak sedang curhat atau bikin novel. Lengkapnya, lo bisa cek di Pasal 19 dan 20 POJK 32/2015 untuk tau dokumen pendukung apa yang perlu disiapkan dalam registrasi OJK tersebut. Oh iya, cek juga Pasal 21-nya.

Note: dalam membuat legal audit dan legal opinion, in case perusahaan yang lo handle melakukan perjanjian dengan pihak lain yang mana di dalamnya ada klausul negative covenant, lo mesti cepet-cepet notice apa aja yang dibatasi di sana. Lo harus cek, mana poin yang berpotensi memengaruhi pemegang saham dengan adanya perjanjian tersebut, yang tentunya perjanjian yang masih berlaku ya. Yang lalu biarlah berlalu. Habis lo cek, lo catet poin-poinnya, dan lo sampein ke perusahaan terbuka supaya mereka ambil langkah sigap terhadap negative covenant tersebut. OJK akan sangat tegas mengenai keberadaan negative covenant ini. #curhat


Kurang lebih itulah hal penting yang bisa gue petik (caelah emang cabe) dari berurusan dengan POJK 32/2015 selama 5 bulan ini, terutama dalam kaitannya dengan peran gue sebagai profesi penunjang segi hukum. Gue bersyukur belajar banyak hal dari proyek ini. Gue pernah ngerasa disepelekan di meeting bersama profesi-profesi penunjang lain. Gue sadar diri, gue baru lulus kuliah kurang dari 1 tahun waktu proyek ini dikasih ke gue, dan emang bener, gue bodoh. Tapi gue janji gue akan kasih yang lebih baik lagi dari ini kalo seandainya gue diminta jadi kapten lagi untuk proyek-proyek ke depan. Gue sekarang ngerti krusialnya baca peraturan dengan detil dan punya otak yang logikanya mantep untuk bisa dengan efektif jadi profesi penunjang. Karena kalo nggak, lo hanya akan jadi profesi penghambat.

Oh iya, ini gue jadiin untuk menjawab tantangan hari ini. Awalnya gue berpikir untuk melakukan review drama Korea yang lagi gue tonton, atau buku yang lagi gue baca. Tapi… entah kenapa POJK 32/2015 ini lebih menarik hati dan emang udah dari sebulan lalu pengen ditulis.

Terima kasih Tuhan yang tak henti memberikan pengetahuan kepada hamba. :’)

Some People

Some people take pride in giving help to others. Maybe that’s what makes them forget to help themselves.

Some people take pride in being alone. Maybe that’s what makes them shut everyone out from their lives.

Some people take pride in being known sexy and that’s why they show their body freely on instagram account.

Some people take pride in being the first. Maybe that’s what makes them a very ambitious one.

Some people take pride in being clever. Maybe that’s what makes them crave more knowledges.

Some people take pride in being the one who first knows something new. Maybe that’s what makes them a big mouth.

Some people take pride in having more friends. That’s why they love hanging out.

Some people take pride in giving order. Maybe that’s what makes them a hard one.

Some people take pride in being seen busy and productive. Maybe that’s what makes them have no time for anything else.

Some people take pride in being a good person. That’s why they avoid critics.

Some people take pride in being strong. That’s why they look so stubborn.

Some people take pride in being followed and maybe it makes them a narcissistic one.

Some people take pride in being strict; maybe they look a little bit intolerant.

Some people take pride in reading others, that’s why they tend to be more judgmental.


Well, we have so many things to put our pride in, literally. But, is that good? Deeper than that, is that right?

“If people want to boast, they should boast about this: They should boast that they understand and know me. They should boast that they know and understand that I, the Lord, act out of faithfulness, fairness, and justice in the earth and that I desire people to do these things,” says the Lord.” – Jeremiah 9:24.

Pride is a noun, and boast is a verb that comes from pride. The scripture says that if we want to boast, we should boast that we understand and know the Lord. This is deep and interesting. We will never fully understand and know the Lord. That’s the first. His way is not ours. We can only understand and know the Lord as far as what the Bible tells us. The second thing is, it’s not by ourselves we understand and know the Lord through the Bible. It is definitely His work, through the grace of the Father, the sacrifice of Jesus Christ, and the illumination from the Holy Spirit. Where are we? Just here, seated down, reading. Letting Him work greatly. We really just need to give in, surrender all to Him. The third, as long as we’re still alive, we will walk on the journey of knowing and understanding Him more and more; for He is the one who holds the stir, the Leader, the Commander. So, this boasting process is a long-life process. That’s how we will grow spiritually.

That is deep.

Besides it, this boasting process also produces self-recognizing. The more we know God and understand His will in our lives, the more we know ourselves. The more we know that God is the sovereign One on earth, the more we realize that we are just nothing without Him. This is obviously related.

Finally, we won’t ever take pride anymore in anything but in knowing and understanding Him more day by day. But, this kind of pride is different from the pride we talk above. This pride is a less-of-me-more-of-Him kind of pride. The more we know and understand Him, sure, the more gracious He is to us. This is an amazing grace kind of pride. Not because of us, but Him.

So, we take pride in knowing and understanding the Lord; that’s why we boast from grace to grace.