#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – #1

Konsep keadilan yang murah hati seperti yang diulas di dalam buku ini merupakan hal yang tidak terlalu asing, namun juga tidak terlalu familiar dengan pemikiran saya. Karena tampaknya natur dari kata ‘adil’ dan ‘murah hati’ sedikit bertentangan. Jika ‘adil’ adalah seorang manusia, maka saya akan langsung berimajinasi bahwa dia adalah sosok yang kaku, sedikit kejam, dan suka mengernyitkan dahi. Sebaliknya, si ‘murah hati’ adalah dia yang selalu tersenyum dan tidak pernah marah kepada dunia sekalipun kelingking kakinya kepentok kaki meja. Mereka bagaikan 2 orang yang aneh jika ditemukan berjalan dan tertawa bersama. 

Belum lagi kalau membaca tulisan-tulisan filsuf ternama. Keadilan adalah sesuatu yang abstrak bagi kebanyakan orang. Konon lagi ingin disandingkan dengan kemurahan hati. Namun, sebagai seseorang yang perlu berpihak dan menentukan sikap, maka saya memutuskan untuk membaca buku ini dan (mencoba) menuangkan apa yang menurut saya patut dipikirkan lebih lanjut. 

Ada empat kategori pembaca yang disasar oleh penulis:

  1. Orang-orang yang menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap isu keadilan, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi kehidupan pribadi mereka, seperti penggunaan uang, memilih karir, hidup bersesama, dan termasuk, siapa yang mereka cari sebagai teman. Menurut penulis, orang-orang di dalam kategori ini belum memiliki motivasi yang diperlukan untuk mendorongnya konsisten dalam antusiasme terhadap isu-isu keadilan di sekitarnya. 
  2. Orang-orang yang melihat usaha-usaha untuk mewujudkan keadilan dengan penuh kecurigaan. 
  3. Orang-orang yang berpikir bahwa perubahan pendekatan terhadap doktrin-doktrin agama diperlukan jika manusia ingin terlibat di dalam penegakan keadilan.
  4. Orang-orang yang menganggap agama menjadi racun bagi segala sesuatu, terutama agama Kristen. Orang-orang di kategori ini biasanya menganggap bahwa agamalah yang justru menyebabkan maraknya ketidakadilan dan kekerasan di dunia ini.

Keempat kategori ini sebetulnya memiliki kesamaan, yakni, sama-sama gagal pada level tertentu untuk melihat bahwa ada suatu peristiwa historis yang memiliki daya luar biasa untuk mendorong seseorang (yang percaya pada peristiwa tersebut) begitu bergairah untuk mewujudkan keadilan di dunia ini, yakni karya keselamatan kekal melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. 

Penulis juga menegaskan bahwa Alkitab ialah buku yang sangat berkomitmen bagi penegakan keadilan di tengah dunia ini, dari awal sampai akhir. Alkitab tidak hanya memberikan pembacanya panggilan untuk peduli terhadap keadilan, melainkan juga memberikan segala yang diperlukan untuk mewujudkannya: motivasi, tuntunan, sukacita, dan kuasa. Ternyata, dibutuhkan sukacita untuk konsisten mewujudkan kehidupan yang adil. 

Penulis juga menjelaskan bahwa ada pengalaman pribadi yang membuatnya telah sangat serius mempelajari isu keadilan dan bahkan menuliskannya menjadi sebuah buku. Ia pernah menjauhi seorang teman yang menurutnya sangat miskin—kemiskinan yang tidak dapat didefinisikan atau dikategorikan—saking miskinnya. Hal tersebut dilakukannya karena ia tidak ingin diasosiasikan terhadap temannya itu. Di saat yang bersamaan, penulis juga ingin meningkatkan statusnya di tengah pergaulan. Beranjak dewasa, penulis juga menyaksikan kekerasan sistematis yang dilakukan oleh orang-orang berkulit putih terhadap ras kulit hitam di sekitarnya. Persoalannya, meskipun penulis dibesarkan secara ‘Kristen’, tetapi kekristenan kehilangan daya tariknya karena justru orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristuslah yang lebih passionate terhadap isu-isu keadilan yang ditemukan oleh penulis. Gereja ortodoks malah menganggap bahwa terlalu berharga energi yang dibuang untuk membahas isu-isu keadilan semacam itu. Bahkan, tokoh seperti Martin Luther King, Jr. pun dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat oleh gereja-gereja tersebut. 

Ketika penulis berkuliah, ia bertemu dengan sekelompok orang yang sangat bersemangat mengintegrasikan iman mereka dengan upaya-upaya untuk mewujudkan keadilan. Mereka berada pada suatu kelompok studi Alkitab di kampus. Ketika baru bergabung dengan kelompok tersebut, penulis hanya semacam memasukkan pemahamannya tentang keadilan dan menambahkannya kepada teologi yang dimilikinya. Barulah beberapa waktu kemudian penulis menyadari bahwa Alkitablah yang menyediakan dasar-dasar utama yang penting untuk mewujudkan keadilan. Contoh, kisah penciptaan di Alkitab merupakan ide awal dari hak asasi manusia di Barat, tulisan-tulisan nubuatan di dalam kitab nabi-nabi menggaungkan dengan jelas panggilan untuk melakukan keadilan. Bahkan, Civil Rights Movement pada tahun 1950-1960-an jauh lebih didasarkan pada pandangan kekristenan terhadap dosa dan keselamatan daripada pandangan sekularisme. 

Menurut pengamatan dan kesaksian yang didengarnya, orang-orang yang betul-betul mengalami dan meyakini karya keselamatan oleh Injil Yesus Kristus sebagai anugerah di dalam hidupnya adalah mereka yang paling sensitif terhadap ketidaksetaraan di sekitar mereka.

“I have observed over the decades that when people see the beauty of God’s grace in Christ, it leads them powerfully toward justice.” 

#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Apa yang Dimaksud dengan Keadilan? #2

Tidak seperti kelas filsafat hukum semasa kuliah dulu, buku ini langsung menegaskan apa yang dimaksud dengan ‘melakukan keadilan’. Justice is care for the vulnerable (keadilan adalah kepedulian terhadap mereka yang rentan). Itulah arti keadilan yang disimpulkan oleh penulis berdasarkan Mikha 6:8 yang berbunyi, 

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Bagi penulis, ayat ini menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara hidup yang mengenal Allah dan perjuangan untuk mewujudkan keadilan. Keterkaitan seperti itulah yang dikehendaki Yang Mahakuasa untuk dialami dan dilakukan oleh manusia. 

Di dalam Bahasa Inggris, ayat ini berbunyi demikian, 

“He has shown you, O mortal, what is good. 

And what does the Lord require of you? 

To act justly and to love mercy 

and to walk humbly with your God.

Kata ‘mercy’ di dalam Bahasa Ibrani adalah ‘chesedh’ yang artinya kasih karunia dan belas kasih Allah yang tanpa syarat. Sedangkan ‘justice’ atau ‘mishpat’ adalah memperlakukan setiap orang dengan setara atau memberikan apa yang harus diterima oleh seseorang; apakah itu hukuman ataukah perlindungan dan kepedulian.

Sehingga, untuk hidup di hadapan Allah, seseorang seharusnya merupakan pribadi yang berjuang untuk keadilan yang didorong oleh kemurahan hati Allah di dalam hidupnya. 

“To walk with God, then, we must do justice, out of merciful love.” 

Yang menarik dari hal ini, penulis langsung mengajak pembaca fokus kepada siapa yang kemudian menjadi sasaran perhatian jika mereka memang ingin memperjuangkan keadilan. Sasarannya adalah janda-janda, anak yatim, imigran, dan orang-orang miskin. Merekalah yang sering disebut sebagai ‘the quartet of the vulnerable’. 

Alkitab menunjukkan bahwa keadilan seringkali diuji atau dievaluasi dari bagaimana cara seseorang dan masyarakat dalam memperlakukan kelompok rentan tersebut. Di dalam buku ini, penulis lebih fokus kepada orang-orang miskin sebagai sasaran perhatian pembaca. Karena itu, absennya kepedulian atas kebutuhan dan kepentingan mereka bukan sekadar berarti kurangnya belas kasihan, melainkan suatu perkosaan terhadap keadilan. Sebab Alkitab menyatakan bahwa karena Allah mencintai dan membela mereka yang paling lemah baik secara ekonomi maupun status sosial, manusia pun harus demikian.

 Justice reflects the character of God. He identifies with the powerless, He takes up their cause. He is a God on the side of justice for the poor. 

Karena, di dalam banyak situasi, orang-orang yang paling rentan ditindas oleh penguasa dengan sewenang-wenang ialah mereka yang sejak awal tidak memiliki kekuatan apa-apa, khususnya, karena kemiskinannya. Inilah yang membedakan Allah yang dinyatakan di dalam Alkitab dengan allah-allah lain di dunia kuno yang mengidentifikasi dirinya dengan kalangan elit, bangsawan, dan penguasa. Sehingga, kalau keadilan adalah refleksi atas karakter Allah, maka siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya. Sedangkan siapa yang menaruh belas kasih kepada orang miskin, memuliakan Dia.

Selain merupakan refleksi atas karakter Allah, keadilan tampak melalui hidup dengan relasi yang benar dengan sesama manusia. Boom! Hidup menjadi manusia yang benar itu tidak sesempit hidup suci dalam disiplin-disiplin rohani saja, melainkan juga bagaimana kehidupan hari lepas hari di mana seseorang berelasi dengan satu sama lain (keluarga, teman, masyarakat) dengan menunjukkan kesetaraan dan kemurahan hati.

Penulis mengambil contoh dari kehidupan Ayub untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang yang benar pada praktiknya (Ayub 29:12-17 dan Ayub 31:13-28). Perbuatan-perbuatan Ayub menunjukkan bahwa dia bukan hanya sekadar memberikan handouts kepada orang-orang yang membutuhkan tentang bagaimana keluar dari situasi mereka. Ayub bahkan menyerahkan dirinya sendiri untuk membawa mereka keluar dari situasi itu. Ayub tidak ingin menganggap bahwa kondisi orang-orang tersebut merupakan hal yang permanen sehingga tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk mereka. Dia betul-betul ingin memenuhi kebutuhan mereka agar mereka tidak lagi berada pada kategori kelompok rentan. 

Itulah ulasan awal penulis untuk menunjukkan bahwa kekristenan sangat mendukung upaya-upaya perwujudan keadilan sosial, lebih dalam daripada konsep apa pun yang dapat dijelaskan oleh doktrin-doktrin lain terkait hal yang sama. 

“The just person lives a life of honesty, equity, and generosity, in every aspect of his/her life.” 

#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Justice in the Old and New Testament #3

Kekristenan memiliki kitab yang secara konsisten menunjukkan bahwa Allah sangat mencintai keadilan sosial. Beberapa peraturan yang disampaikan di dalam firman-Nya justru bertujuan untuk menghasilkan suatu komunitas yang adil. Perhatian-Nya sangat serius terhadap hal ini sehingga jika firman tersebut dipegang dan dilakukan oleh manusia yang menerimanya, maka jumlah kelompok-kelompok rentan pun akan berangsur-angsur berkurang. Tidak akan ada kemiskinan yang berkepanjangan di tengah-tengah mereka karena Allah menyediakan hukum yang berisi kewajiban-kewajiban tertentu untuk memenuhi hak-hak tertentu di pihak lain. Contoh: hukum tentang memungut hasil tuaian (Imamat 19:9-10), hukum tentang perpuluhan (Ulangan 14:28), dan tahun Yobel (Imamat 25:8-55).

Berbicara tentang kemiskinan yang merupakan fokus sasaran penulis di dalam buku ini, ia merujuk ke Alkitab untuk melihat apa saja yang menjadi penyebabnya. Faktornya bermacam-macam, antara lain: penindasan, bencana, dan kegagalan moral pribadi. Ketiganya pun saling berkaitan. Beragamnya faktor penyebab kemiskinan ini sering membuat kita skeptis untuk mempedulikan dan memperhatikan mereka. Kita mungkin akan berkelit, “itu kan kesalahannya!” atau, “bagaimana kalau dia menyalahgunakan pertolongan yang kita berikan?”, dan sebagainya. 

Karena itulah, penulis meyakinkan pembaca bahwa mustahil memang mencari dorongan yang kuat dari dalam diri untuk tetap membantu orang-orang miskin jika percaya bahwa itulah yang harus dilakukan untuk mewujudkan keadilan sosial. Hal yang sama juga terjadi jika kita berusaha menilai layak/tidak layaknya mereka yang miskin menerima pertolongan kita berdasarkan siapa diri mereka dan apa yang telah mereka lakukan di dalam hidupnya—khusunya yang mungkin menyebabkan kemiskinan itu menimpa mereka.

Dengan demikian, jawabannya tidak terletak di dalam diri kita yang skeptis maupun pada mereka yang mungkin saja bersalah dan mendatangkan kemiskinan tersebut. Jawabannya ada di dalam kasih karunia Kristus. Itulah kunci dari segalanya. Sama seperti apa yang dicatat dalam Imamat 5:11-13, bukan kurban terbaik kita yang membuat Allah mengampuni dosa, melainkan kemurahan hati-Nya. Di dalam keadilan-Nya, Ia bermurah hati agar orang-orang miskin dapat tetap datang ke hadapan-Nya. Karena itulah, mereka yang miskin pun sama diterimanya di hadapan Allah dengan mereka yang kaya. Sehingga, jika Allah saja berlaku demikian terhadap manusia, masakan kita tidak? Kemurahan hati Allah, betapa cuma-cumanya keselamatan dari-Nya, itulah yang membangun dasar bagi perwujudan keadilan bagi seluruh masyarakat, securiga apa pun kita.

Bukan hanya di dalam perjanjian lama, di dalam perjanjian baru pun kita melihat dengan jelas betapa pedulinya Allah terhadap orang-orang yang rentan dan lemah. He really has an intense interest in and love for the same kinds of vulnerable people (Matius 11:4-5). Kesimpulan terbaik untuk menjelaskan hal tersebut dapat kita lihat dari perkataan Rasul Paulus di dalam Kisah Para Rasul 20:35, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

Masih berkaitan dengan upaya menjawab beberapa keengganan manusia untuk memperhatikan orang miskin, penulis mengajak pembaca untuk memikirkan ulang siapa yang mereka sebut sebagai sesama manusia—karena itulah ajaran yang sangat sentral di dalam kekristenan (kasihilah sesamamu manusia). Penulis menyarankan untuk melihat perumpamaan tentang Orang Samaria yang murah hati untuk mengetahui siapa yang menjadi sesama kita manusia. 

Melalui perumpamaan tersebut Yesus menunjukkan kepada ahli Taurat hidup seperti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah (what kind of perfect righteousness) sehingga ia akan melihat bahwa ia tidak akan berdaya untuk memenuhi hukum tersebut dengan kekuatannya sendiri. Ketika ahli Taurat itu mencoba membenarkan dirinya, dia kemudian bertanya, “siapakah sesamaku manusia?”. Maksudnya ialah untuk mengetahui apakah dia bisa memenuhi hukum tersebut dengan semakin spesifik. Yesus menjawab pertanyaan itu dengan mengisahkan bagaimana orang Samaria tersebut menolong orang Yahudi yang sedang sekarat di tengah jalan. Dia memenuhi kebutuhan yang riil diperlukan oleh orang tersebut pada saat itu. 

Melalui perumpamaan ini Yesus ingin menegaskan bahwa tidak ada batasan apa pun untuk menunjukkan siapa yang menjadi sesama kita manusia. Tidak ada syarat agama, suku, ras, atau apapun untuk menyatakan belas kasih kepada manusia. Ini penting untuk dipahami karena manusia seringkali membuat batasannya sendiri tentang bagaimana menolong orang miskin atau yang membutuhkan. Ada yang sering menolak memberikan bantuan kepada mereka karena merasa mereka belum semiskin atau semenderita itu. Tetapi kenapa kita harus menunggu sampai orang semenderita itu baru kita menolong mereka? Berikutnya, kita tidak mau menolong orang lain tanpa membebani diri kita sendiri. Kita juga hanya ingin menolong orang miskin yang baik moralitasnya serta yang bukan mengalami kemiskinan ini karena kesalahan atau kebodohannya sendiri. Namun hal seperti ini sangat sulit untuk ditemukan mengingat penyebab kemiskinan itu ada banyak dan saling berkaitan satu sama lain. 

Penulis merujuk pada cara Jonathan Edwards menjawab beberapa penolakan di atas di mana Edwards menjadikan Injil sebagai dasar jawabannya“Christ loved us and was kind to us and was willing to relieve us, though we were very hateful persons, of an evil disposition, not deserving of any good… so we should be willing to be kind to those who are… very undeserving.”

Manusia perlu terlebih dahulu menerima belas kasih yang seperti itu agar dia dapat mengasihi sesamanya manusia tanpa batasan apapun. Hanya ketika kita melihat bahwa kita telah diselamatkan oleh kasih karunia yang begitu besar dari Kristuslah kita dapat melakukannya. 

Once we receive this ultimate, radical neighbor-love through Jesus, we can start to be the neighbors that the Bible calls us to be.”

#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Why and How Should We Do Justice? #4

Why Should We Do Justice?

Alasan manusia untuk melakukan keadilan ialah kasih karunia Kristus. Itulah yang mengubah sikap serta motivasi manusia bahkan sebelum manusia itu berjumpa dengan kasus nyata. Bagi penulis, motivasi adalah hal yang krusial. Karena kebanyakan masalah yang ada di masyarakat bukanlah persoalan tahu/tidak tahu atau percaya/tidak percaya bahwa mereka perlu berbelas kasih secara khusus kepada orang miskin/yang membutuhkan. Persoalannya adalah mereka tidak memiliki motivasi yang cukup dan tepat untuk melakukannya. 

Salah satu alasannya adalah karena kita hidup di dunia yang menjunjung tinggi relativisme. Sulit bagi kita untuk berkata bahwa seseorang harus melakukan ini dan itu berdasarkan sebuah standar kebenaran yang kita percaya. Alhasil, kita mencoba mendorong manusia untuk berbuat baik hanya berdasarkan alasan-alasan superfisial dan praktis. Faktanya, hal itu tidak pernah cukup untuk memotivasi seseorang. 

Penulis berkata bahwa Alkitab memberikan orang percaya 2 motivasi mendasar untuk melakukan keadilan yakni kekaguman yang penuh sukacita atas kebaikan ciptaan Allah dan pengalaman akan kasih karunia di dalam penebusan Allah. Melihat kembali kepada karya penciptaan Allah yang menciptakan manusia seturut gambar dan rupa Allah memberikan kita alasan untuk memperlakukan setiap manusia sebagai pribadi yang bermartabat. 

“So, we must treasure each and every human being as a way of showing due respect for the majesty of their owner and Creator.”

Ada 1 kutipan yang tidak sanggup saya terjemahkan ke Bahasa Indonesia, mengingat saya tidak ingin kehilangan kepenuhan dan kesungguhan makna aslinya. Kali ini berbicara tentang gambar Allah dan hak asasi manusia. Berikut saya kutip langsung:

“The load, or weight, or burden of my neighbor’s glory should be laid daily on my back, a load so heavy that only humility can carry it, and the backs of the proud will be broken… This does not mean that we are to be perpetually solemn. We must play. But our merriment must be of that kind (and it is, in fact, the merriest kind) which exists between people who have, from the outset, taken each other seriously–no flippancy, no superiority, no presumption. And our charity must be a real and costly love, with deep feeling for the sins despite which we love the sinner–no mere tolerance or indulgence which parodies love as flippancy parodies merriment…”

Selain itu penulis juga mengajak pembaca untuk melihat bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan. Kita bukan pemilik, melainkan pengelola. Karena itu orang yang adil akan hidup bermurah hati kepada sesamanya/komunitasnya. 

A lack of generosity refuses to acknowledge that your assets are not really yours, but God’s. Therefore, if you have been assigned the goods of this world by God and you don’t share them with others, it isn’t just stinginess, it’s injustice.”

Melalui ayat-ayat di dalam Ulangan 10:16-19 kita melihat bahwa hidup yang memenuhi kebutuhan para yatim, janda, serta pendatang yang miskin adalah tanda relasi Israel sebagai umat Allah dengan Allah. Grace should make you just. Hal yang sama juga tercermin dalam Yakobus 2:15-16 bahwa, “…life poured out in deeds of service to the poor is the inevitable sign of any real, true, justifying, gospel-faith. Grace makes you just. If you are not just, you’ve not truly been justified by faith.”

Beberapa perubahan cara pandang akan terjadi di dalam diri orang-orang yang mengalami pembenaran Allah melalui kasih karunia di dalam Injil, di antaranya:

  1. A higher view of God’s law. People who believe strongly in the doctrine of justification by faith alone will have this high regard for God’s law and justice. They will be passionate about seeing God’s justice honored in the world.
  2. A new attitude towards the poor, dan
  3. A new attitude for the poor.

Penulis meyakini bahwa sebetulnya concern terhadap orang miskin dan terlantar seperti ini sedang ‘tertidur’ di dalam hati setiap orang percaya. Dia berkata bahwa tampaknya kesalahannya terletak pada para pendeta dan pemimpin-pemimpin rohani yang merasa sanggup membangunkan kesadaran masyarakat akan perlunya keadilan melalui cara-cara yang dunia ini lakukan yakni guilt atau menimbulkan rasa bersalah di dalam diri orang percaya. Sebab, manusia memiliki mekanisme pertahanan diri terhadap pendekatan seperti itu. Karena itu jika keadilan bagi orang miskin dikaitkan dengan kasih karunia dan Injil, maka kesadaran tersebut pun dapat dibangunkan. 

How Should We Do Justice? 

Pertama: selalu memikirkan keadilan (Ayub 29:14). Allah tidak ingin kita sekadar memberikan bantuan kepada orang miskin, melainkan merenungkan dan berpikir sedemikian rupa tentang bagaimana memperbaiki keadaan mereka seutuhnya. 

Kedua: memahami bahwa ada tingkatan-tingkatan pertolongan yang perlu kita perjuangkan bersama-sama (levels of help): 

  1. Reliefbantuan langsung yang sesuai dengan kebutuhan fisik, materi, maupun ekonomi. 
  2. Development: membawa mereka yang dibantu berpindah dari dependency ke self-sufficiency. Artinya, orang-orang yang berada di dalam komunitas yang dibantu haruslah menjadi pelaku utama dari perubahan yang diinginkan. Orang-orang yang bertempat tinggal di komunitas tersebut haruslah menjadi tempat analisis dan perencanaan utama dari perubahaan yang diinginkan dan mereka memiliki kendali atas jenis dan kecepatan perubahan yang akan mempengaruhi mereka, keluarganya, kehidupan pribadi, serta perekonomiannya. 
  3. Social reform: jenis pertolongan ini bergerak dari relief dan development kepada suatu perubahan kondisi dan struktur sosial yang dapat menyebabkan kebergantungan awal. Pendekatan ini lebih dari sekadar menolong individu per individu. Pendekatan ini betul-betul menargetkan perubahan kehidupan sosial dan institusi-instusi di dalamnya. Bahkan dalam beberapa kasus, ini juga berarti mengubah hukum yang berlaku. 

Penulis kemudian mencoba melihat isu tentang pemberitaan Injil dan melakukan keadilan sosial yang seringkali dipandang secara terpisah oleh gereja. Ada yang mengatakan bahwa gereja melakukan keadilan sosial sebagai alat untuk pemberitaan Injil. Hal ini tidak sesuai dengan firman Tuhan terutama yang telah diumpamakan melalui kisah orang Samaria yang murah hati. Sebab, itu berarti kita melakukan keadilan karena ada maksud tertentu yakni menambah jumlah orang percaya. Padahal, pada intinya, perumpamaan tersebut sedang menunjukkan bahwa berlaku adillah dengan kemurahan hati tanpa menuntut balas. Di sisi lain ada juga yang berpikir bahwa usaha-usaha melakukan keadilan sosial itu sendiri adalah pemberitaan Injil. Ini jelas sekali pemikiran yang fatal. Karena itu penulis mengusulkan pendekatan yang berbeda, yakni dengan melihat bahwa penginjilan dan keadilan sosial harus ada dalam keterkaitan yang meski tidak simetris namun tidak terpisahkan. Apa maksudnya?

Penginjilan ialah pelayanan yang paling mendasar dan radikal terhadap umat manusia. Bukan karena spiritual lebih penting daripada fisik, melainkan karena yang kekal lebih penting daripada yang sementara. Sebab, jika benar ada Allah dan jika hidup bersama-Nya di dalam kekekalan didasarkan pada relasi dengan-Nya, maka, hal yang paling penuh kasih yang dapat dilakukan seseorang kepada sesamanya ialah menolongnya melihat kepada iman yang menyelamatkan di dalam Allah yang demikian, yakni Yesus Kristus. 

Namun sebagaimana yang telah kita lihat, melakukan keadilan tidak terpisahkan dengan memberitakan kasih karunia. Karena kasih karunia itulah yang menghasilkan kepedulian terhadap orang miskin, dan keadilan sosial yang diperjuangkan oleh seseorang berarti akan memberikan kredibilitas terhadap pemberitaan Injil tersebut. 

In other words, justification by faith leads to doing justice, and doing justice can make many seek to be justified by faith.”

#daribuku Generous Justice (Tim Keller) – Closing #5

Doing Justice in the Public Square

Penulis mengajak pembaca untuk terlebih dahulu melihat konteks public square di zaman modern di mana definisi keadilan sudah hampir rusak sama sekali. Pemahaman orang akan ‘kebebasan/kemerdekaan’ berbeda-beda. Makanya ada para ahli yang mengatakan bahwa ‘freedom is an empty concept’ seperti Klarman dan Peter Westen dari Harvard Law School. “We all agree that freedom should be curtailed if it harms people, but we can’t agree on what harm is, because we have different views of what healthy, flourishing human life looks like.” 

Ada 3 pandangan utama tentang keadilan menurut Sandel: maximizing welfare (greatest good to the greatest number of people), respecting freedom (menghargai pilihan hidup individu-individu) dan promoting virtue (adil adalah bertindak sesuai moralitas dan kebajikan). Kenapa sih ada macam-macam hambatan untuk mewujudkan keadilan? Karena ternyata di balik setiap pengertian tersebut terdapat asumsi-asumsi iman yang religius tetapi jarang diakui. Ini yang banyak diungkapkan oleh para profesor dan filsuf. Contohnya terkait martabat manusia. Tidak ada penemuan sains yang dapat membuktikan hal tersebut. Sehingga penegakan keadilan berdasarkan martabat manusia adalah kebodohan karena sebetulnya itu asumsi iman berdasarkan kepercayaan tertentu. “The rules of secular discourse led us to smuggle moral value judgments into our reasoning about justice without admitting it to others or even to ourselves. And so the deeper discussions over the true points of difference never happen.”

Sandel says, justice is always judgmental. Di balik setiap hal yang berkaitan dengan keadilan adalah asumsi-asumsi yang secara esensial religius dan dilarang untuk didiskusikan, serta karena itulah masyarakat tetap berada di deadlock terhadap isu-isu tersebut. We can’t agree on what justice is because we can’t talk about our underlying beliefs.

Kemudian penulis memberikan pembaca cara pandang yang tepat dalam menghadapi pelbagai perbedaan tentang asumsi-asumsi atas keadilan yang akan mereka temukan di ruang-ruang publik dan menjadi diskusi mendalam. Orang percaya harus melihat bahwa karena adanya kasih karunia umum dari Allah kepada tiap-tiap manusia ciptaan-Nya, maka mereka perlu rendah hati untuk mempertimbangkan beragam cara pandang terhadap keadilan. Cara-cara pandang tersebut sebagiannya benar. Namun perlu juga menantang dengan penuh hormat karena sebagiannya lagi salah di luar hikmat dari Injil.

Memang di dalam realitasnya, justice is inescapably judgmental. Setiap diskusi tentang keadilan menghilangkan referensi apapun ke moralitas dan kepercayaan agama sehingga kita tidak bisa berbicara tentang kenapa kita berpikir sesuatu itu benar dan adil. Ini berbahaya dalam jangka panjang bagi masyarakat. Liberal neutrality sebenarnya adalah suatu kemustahilan dalam mewujudkan keadilan. Sandel berkata, “justice is not only about the right way to distribute things. It is also about the right way to value things.”–dan untuk itulah akan selalu berdasarkan pada keyakinan-keyakinan akan tujuan hidup, natur manusia, benar dan salah—dan semuanya adalah moral dan religius.

Filsuf Yunani berkata kalau tidak tahu tujuan sesuatu, nggak akan bisa membuat judgment yang tepat apakah sesuatu itu baik atau buruk. Bagaimana caranya menentukan mana sikap/perilaku yang baik atau buruk dari manusia? Aristoteles dan pengikutnya menjawab: kalau kamu nggak tahu untuk apa manusia ada, maka kamu nggak akan bisa menjawab hal tersebut.

Penulis memberikan contoh tentang hak asasi manusia. Banyak yang mengatakan bahwa ide/concern terhadap hak asasi manusia muncul oleh pemikir-pemikir Enlightenment seperti Hobbes dan Locke. Padahal, menurut Brian Tierney dari Cornell University, kekristenanlah yang pertama kali memulai pemikiran tersebut; mengakar secara khusus dalam doktrin kristiani bahwa seluruh manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, dan karena itu memiliki martabat pada dirinya sendiri. 

Penulis menyebutkan pandangan Stephen Hawking, Stephen Pinker, dan John Gray, yang berkata bahwa tidak ada dasar yang netral dan ilmiah untuk menunjukkan bahwa manusia tanpa memandang apapun, memiliki nilai pada dirinya sendiri. Menurut mereka dan para filsuf ateis serta agnostik lain, konsep tentang hak asasi manusia menuntut adanya dimensi religius. Akan ada perbedaan besar terhadap bagaimana kita hidup di tengah-tengah dunia ini jika kita melihat manusia sebagai makhluk yang kehadirannya sekadar ‘accidental’  dibanding dengan karena dia merupakan ciptaan mulia dan pemberian dari Allah. 

Penulis menutup bagian ini dengan penegasan bahwa manusia harus mulai lagi berbicara tentang keyakinan moral serta kepercayaannya secara publik. Memang betul bahwa aturan-aturan sekuler tidak mengizinkan pembicaraan seperti itu terjadi karena ketakutan akan adanya pertentangan tanpa akhir. Padahal kita sesungguhnya sudah berada di pertentangan tanpa akhir tersebut dengan mempercayai bahwa kita bisa bersikap netral terhadap hal-hal moral dan religius.

“The pursuit of justice in society is never morally neutral but is always based on understandings of reality that are essentially religious in nature. Christians should not be strident and condemning in their language or attitude, but neither should they be silent about the biblical roots of their passion for justice.”

Peace, Beauty, and Justice

Penulis memulai bagian ini dengan menjelaskan bahwa pandangan Alkitab tentang keadilan adalah komprehensif dan praktikal, tinggi dan menakjubkan. Sebab keadilan berkaitan dengan apa yang Allah sedang lakukan di dalam sejarah. Dia membawa pembaca kembali ke tujuan Allah untuk memperdamaikan manusia dengan diri-Nya–dan dengan demikian memperdamaikan segala sesuatu dengan-Nya. Allah sedang membawa setiap hal di bumi dan di surga kepada Kristus (Kolose 1:20; Efesus 1:10). Karena itu dia mengawali dengan melihat The Artwork of God sejak penciptaan. Berbeda dengan kisah penciptaan berdasarkan mitos-mitos yang ada yang mengatakan bahwa alam semesta ini merupakan hasil dari konflik dan perebutan kekuasaan, Alkitab menunjukkan kisah penciptaan sebagai karya Allah tanpa satu pun pesaing. God is a craftsman, an artist. 

Penulis menggambarkan alam semesta ciptaan Allah dengan 2 gambaran: rumah/kediaman dan pakaian. Kedua gambaran ini merujuk pada apa yang Alkitab nyatakan ketika Allah menyebut alam ciptaan-Nya. Sebuah rumah karena ada fondasi/dasar dan dibangun bukan hanya sebagai tempat tinggal manusia melainkan juga kediaman Allah (Yesaya 66:1). Di dalam kitab Mazmur dikatakan bahwa ketika Allah menciptakan dunia ini, harus ada dasarnya, sama seperti rumah. Dasar tersebut ialah kebenaran dan keadilan. Melalui gambaran ini, dia menjelaskan bahwa karya penciptaan menunjukkan Allah yang menyusun hal-hal yang tadinya tidak beraturan, sama seperti ketika seseorang ingin membangun sebuah rumah dengan menempatkan segala alat dan bahan yang diperlukan agar tersusun dengan rapi dan kokoh. 

Demikian juga dengan pakaian sebagai gambaran kedua dari penulis. Alkitab sering menyebutkan bahwa laut, awan-awan, langit yang terang, dan segala kekuatan alam sebagai pakaian yang ditenun dan sekarang dikenakan oleh Allah. Penulis juga menyoroti tentang pentingnya relasi/kebergantungan melalui penggambaran ini. Sama seperti pakaian yang tercipta karena benang-benang dan seluruh material yang terjalin dengan rapi, demikian juga seluruh ciptaan. Jalinan inilah yang disebut Alkitab dengan shalom atau harmonous peace. 

Kata ‘shalom’ biasanya hanya diartikan sebagai ‘peace’ atau ‘damai sejahtera’. Tetapi makna sesungguhnya lebih daripada itu. “It means complete reconciliation, a state of the fullest flourishing in every dimension–physical, emotional, social, and spiritual–because all relationships are right, perfect, and filled with joy. 

Namun dunia telah kehilangan shalom karena relasi yang rusak dengan Allah. Dengan demikian semakin jelaslah definisi ‘justice’menurut Alkitab. Secara umum, melakukan keadilan adalah hidup dengan cara yang akan memperkuat komunitas di mana manusia akan terus berkembang. Secara khusus, melakukan keadilan berarti pergi ke tempat-tempat di mana jalinan damai sejahtera tersebut telah rusak, ke tempat di mana orang-orang yang paling lemah di masyarakat berada, dan berusaha memperbaikinya. Penulis berkata bahwa hal ini dapat terjadi jika kita fokus dan memenuhi kebutuhan orang-orang miskin. Bagaimana caranya? Ini yang saya juga tidak sanggup untuk terjemahkan. 

“The only way to reweave and strengthen the fabric is by weaving yourself into it. Reweaving shalom means to sacrificially thread, lace, and press your time, goods, power, and resources into the lives and needs of others. The strong must disadvantage themselves for the weak, the majority for the minority, or the community frays and the fabric breaks.”

Selanjutnya, penulis menjelaskan tentang Justice and Beauty dengan melihat pendapat dari 2 tokoh: Elaine Scarry dan Jonathan Edwards. Scarry berkata di dalam tulisannya ‘On Beauty and on Being Just’ bahwa keindahan dapat membawa manusia pada hidup yang lebih adil. Dia berargumen ada 2 hal yang terjadi jika seseorang melihat sesuatu yang indah yakni 1) tergerak untuk membagikan hal tersebut kepada orang lain dan 2) berhenti fokus terhadap dirinya dan mulai mengalihkan perhatian dari dirinya kepada hal lain. Scarry sendiri mendasarkan argumen kedua tersebut pada pendapat Iris Murdoch yang berkata bahwa ada seseorang yang tadinya diliputi oleh anxiety dan self-pity, namun emosinya berubah ketika dia melihat ke luar jendela dan menemukan burung-burung berterbangan dengan indah. 

Jonathan Edwards di dalam bukunya, ‘The Nature of True Virtue’, mengatakan bahwa, “human beings will only be drawn out of themselves into unselfish acts to others when they see God as supremely beautiful.” 

Berdasarkan kedua hal ini maka penulis melihat bahwa akan ada hambatan yang besar dalam melakukan keadilan yang tidak dapat dihilangkan serta merta melalui pendidikan, argumen, dan bahkan persuasi. “It takes an experience of beauty to knock out of our self-centeredness and induce us to become just”, katanya. Keindahan itulah yang ditunjukkan melalui kasih karunia dan kemurahan Allah di dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus—sekalipun di dalam gugurnya keadilan pada persidangan-Nya di Sanhedrin.

In all these ways, Jesus identifies with the millions of nameless people who have been wrongfully imprisoned, robbed of their possessions, tortured, and slaughtered. Yesus Kristus sangat tahu apa artinya menjadi korban atas ketidakadilan dan adanya sistem yang rusak, dan bahkan dibunuh karenanya. Penulis mengutip John Stott yang berkata, “I could never see myself believe in God if it were not for the Cross. In the real world of pain, how could one worship a god who was immune to it?”

Ayat penutup:

Matius 25:35-40:

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

“He not only became one of the actually poor and marginalized, but he also stood in the place of all of us in spiritual poverty and bankruptcy (Mat 5:3) and paid our debt. Now that is a thing of beauty. To take that into the center of your heart will make you one of the just. A life poured out in doing justice for the poor is the inevitable sign of any real, true gospel faith.”