Categories
Life

Ditemukan

Kupikir salah satu efek yang sangat nyata dari ‘keterhilangan manusia’ karena dosa adalah dorongan yang kuat–sekalipun jarang disadari–untuk ditemukan. Tentu saja, harus ada yang mencari. Terlebih lagi, pada hakikatnya, manusia tidak menyadari bahwa dia perlu dicari dan ditemukan.

Aku perlu ditemukan.

Kusebut Dia Tuhan. Namanya Yesus Kristus. Nama yang belakangan ini seringkali dijadikan bahan bercandaan oleh segelintir orang. Nama yang sering disandingkan dengan kata-kata lain untuk mengumpat. Nama yang dapat menimbulkan rasa jijik tak tertahankan bagi sebagian orang. Sosok yang, bahkan, kayu tempat mati-Nya saja bisa menggegerkan 1 negara. *jengjeng!

Kupikir cukup bagiku untuk berhenti pada 1 momen di masa lalu ketika aku sangat yakin bahwa aku sudah ditemukan oleh Tuhanku. Kupikir, mengandalkan nostalgia itu cukup untuk membekali perjalanan hidupku setelahnya. Ternyata aku salah.

Untuk sesaat rasanya tidak ada lagi hal yang dapat menggoyahkanku, jika kualami lagi perasaan-perasaan yang intimidatif yang menggempurku dengan pertanyaan-pertanyaan, “kamu siapa?”, “memangnya apa gunamu di dunia ini?”. Termasuk jika pertanyaan seperti ini muncul, “apa sih istimewanya kamu?”. Pertanyaan-pertanyaan yang mengakar dari ketidakyakinan seseorang bahwa ia sebenarnya tidak lagi terhilang.

Seringkali aku mencari acknowledgment dari segala sesuatu yang tidak akan pernah melakukannya dengan sempurna. Aku mencarinya dari sahabat-sahabatku. Aku mencarinya dari keluargaku. Aku mencarinya dari pekerjaanku. Aku mencarinya dari pencapaianku. Aku mencarinya dari diriku.

Acknowledgment atau secara singkat berarti penerimaan/pengakuan atas keberadaan sesuatu/kebenaran suatu hal merupakan kebutuhan mendasar manusia. Seperti kukatakan tadi, rasanya ini adalah dampak keterhilangan manusia. Tapi ternyata, sekalipun ia sudah ditemukan, ia tetap membutuhkan hal itu setiap hari. Ia, sederhananya, perlu terus mengingat dan mengatakan kepada dirinya, “hei, tenang, Tuhan sudah mencari dan menemukanmu.”

“Tenang, Dia mencarimu bukan hanya karena Ia menerima dan mengakui keberadaanmu pada saat ini saja. Dia mengasihimu dan menginginkanmu hidup kekal.”

Biar kuceritakan sedikit beberapa kesedihan yang muncul jika aku lupa akan hal itu.

Pernah beberapa kali aku tertegun pada absennya orang-orang yang kuanggap begitu mengasihi dan memerhatikanku. Kulalui hari-hari itu dengan merasa sendirian. Kusalahkan orang-orang tersebut. Kutimpakan seluruh tuduhan kepada mereka yang hanya datang jika memerlukanku. “Mereka pikir aku call center?”, begitu kataku.

Jika tidak ada yang mengapresiasi apa yang sudah kulakukan, tidak ada yang memerhatikan bahwa aku sudah sangat berjuang untuk sesuatu, aku menjadi lemah. Terlebih jika mereka yang, mungkin karena sudah terlalu mengenalku, akhirnya menganggap biasa saja setiap usahaku terhadap mereka. Padahal, aku telah menghabiskan malam-malam bercucuran air mata dan hari-hari berpeluh untuk mereka.

Bagiku itu belum yang paling menyedihkan. Justru titik terlemahku adalah ketika aku memutuskan berhenti melakukan semua upaya kasih itu kepada beberapa orang.

Sebenarnya ini pernah terjadi ketika aku masih duduk di bangku kuliah. Keyakinanku untuk terus setia dalam menunjukkan kasih dan pelayanan yang terbaik ternyata tidak selalu berakhir dengan pengakuan dan perlakuan yang sama dari orang lain. Namun saat itu, aku ingat bahwa aku bisa berkata, “tidak masalah, lakukan semuanya karena Tuhan sudah sangat mengasihimu.” Sepertinya itu bukan mantra penenang sementara, melainkan sebuah keyakinan iman pada kebenaran firman.

Buktinya, saat itu tidak banyak yang tahu bahwa aku berbeban berat. Beberapa orang bahkan bingung setelah waktu berlalu, ternyata banyak sekali yang sedang kupikul. Setidaknya, cukup banyak untuk ukuran anak kuliah yang hidup sendiri, jauh dari keluarga, dan mengandalkan beasiswa demi beasiswa untuk uang saku, uang gaul, dan tentunya, uang untuk ‘mengasihi dan melayani orang lain’-nya.

Memang, aku juga tidak seterbuka itu, pada dasarnya. Aku bahkan tidak ingat apakah ada 1 orang saja yang tahu dengan detail semua yang sedang kualami.

Tapi tentu saja, selalu ada Tuhan. Mungkin beberapa orang masih meragukan apakah, misalnya, kesehatan mental dan jiwa bisa betul-betul terpelihara jika dan hanya jika mengandalkan Tuhan dan relasi dengan-Nya. Beberapa orang bahkan merasa harus melengkapi relasi itu dengan tips-tips psikologi yang baik. Yang kutahu, saat itu tidak ada lagi yang bisa kuandalkan, termasuk diriku sendiri. Aku menyerah, semenyerah-menyerahnya kepada Tuhan.

Aku tidak meragukan itu, dulu, dan kuharap juga sekarang. Terlalu radikalkah? Entahlah. Yang jelas, aku mengalami sendiri ketenangan dan damai sejahtera yang melampaui segala akal yang Ia berikan bahkan di tengah pergumulan.

Kurasa kelekatan sang ranting pada pokoknya adalah analogi yang sangat baik untuk menggambarkan betapa mendasarnya relasiku dengan Yesus. Bukan hanya menggambarkan kesatuanku dengan-Nya yang sudah mencari dan menemukanku, namun juga menggambarkan bahwa setiap hari, hidup dan pertumbuhanku, kesehatan jiwaku, bersumber dari-Nya. Aku tidak boleh hanya bernostalgia bahwa aku sudah tidak lagi terhilang. That’s not a memory or merely a history alone.

Sekarang, aku sedang terus mencerna apa yang sedang terjadi sampai di usiaku yang ke-27 ini. Satu-satunya output yang tidak kuinginkan dari proses ini adalah sibuk menyalahkan keadaan dan orang lain. This is so yesterday. Tentu ini bukan berarti menutup mata terhadap hal-hal yang perlu diperingatkan dan ditegur. Hanya saja, ada perbedaan besar antara menginginkan evaluasi yang sehat dan simply marah/sinis saja. Untuk yang terakhir ini, aku berdoa jauhlah kiranya daripadaku.

Sehingga, sekalipun aku mengalami lagi hal-hal yang berpotensi membuatku berpikir ulang tentang acknowledgment dari orang-orang di sekitarku, aku tahu jawabannya.

“Tidak masalah, kok. Ketidaksempurnaan orang-orang untuk sesederhana melihat, mengakui, dan menunjukkan perhatiannya kepadamu seharusnya memperjelas bahwa benarlah adanya, ada Tuhan yang sudah menemukanmu. Hanya Dia yang sanggup berbicara pada jiwamu, bahwa kamu dan keberadaanmu diketahui dan dikenal-Nya.”

Tuhan juga melihat setiap kesetiaan dan perjuangan kasihmu–even those whom you have done unnoticed. Dia memerhatikan dan menyukai itu. :’)

Akhirnya, instead of being a cynical human being, I learn to love anyway. Inilah yang menguatkanku untuk terus belajar menunjukkan kepada orang lain, semengecewakan apa pun mereka menurut preferensiku, kehadiranku bukanlah for the sake of being a friend only to them. Aku di sini adalah seorang sahabat yang hadir untuk menunjuk kepada Sang Sahabat Sejati, Tuhan Yesus. Satu-satunya Sahabat yang memberikan definisi dan bukti ‘acknowledgment’ terbaik bagi mereka.

Karena kita, manusia, akan saling mengecewakan satu sama lain, pada saatnya masing-masing. Akan ada masa di mana kita, tidak peduli dengan keberadaan masing-masing.

Kita, akan saling melupakan, mungkin.